Monday, December 28

Cukup Hujan


"cukup hujan, jangan badai.
cukup marah, jangan darah bertumpah"

Sunday, December 27

Curicullum Vitae punya sayae

       bersama dengan postingan ini, maka saya Rizki Ramadan, mahasiswa Universitas Ungpad, yang insya Allah semester 9 lulus ingin mencoba memperlihatkan apa yang menjadi syarat daripada apa yang disebut dengan melamar kerja.

       Saya bertekad untuk mendapatkan kesempatan Job Training di instansi majalah berbasis anak muda kreatip. Sudah menjadi rencana hidup bahwa pekerjaan yang saya inginkan ialah bekerja di majalah (jadi Reporter), di Agensi Iklan as a copywriter pastinja, dan menjadi seorang wartawan foto.

      Walau saya belum memiliki pengalaman bekerja di kangtoran. tapi karena ketertarikan saya dengan dunia kreatif media maka saya akan memaksimalkeun potensi yang saya miliki. Saya juga sadar jika nanti selama minggu-minggu awal saya pasti bengong ga tau mau ngapain, tapi saya siap. Saya juga tau, suatu saat bapak suruh saya melakukan sesuatu tapi saya ga bisa bapak akan kecewa. Tapi saya juga siap, saya punya amunisi, amunisi itu ialah ambisi. saya yakin dengan ambisi semua akan mungkin terlaksana.

      untuk iseng-iseng aja saya juga melampirkan Curicullum vitae dan portfolio saya..
  
      nah ini dia yang dari tadi saya pengen kasih liat..

Bismillahirahmanirahim, semoga saya tidak jadi sombong dengan memamerkan ini..

 
 

CV ini sudah saya persembahkan untuk tiga perusahaan yang jadi Inceran saya sejak lama, yaitu:
Majalah HAI, Provoke! Magazine, Juara Idea Agency.
Tapi sampai sekarang belum juga ada yang memanggil, bolehkah saya sedih, sepertinya lebih baik terus berusaha yah.
Bolehkah saya minta doa dan bantuan kawan-kawan jika ada lowongan yang tepat untuk saya tolong diberitahu ya. hehe. Terima tengkyu.

Wednesday, December 23

MALU dan Pencapaian Hidup


Im a magazine boy…

Hati saya selalu terenyuh setiap kali bisa menyelesaikan MALU. Rasanya ada satu harapan yang terbebas setiap kali gua bisa nerbitin majalah kecil ini.

Yah sepertinya kalian udah tahu bahwa MALU ialah majalah fotografi yang saya buat bersama Allan, kawan se atap kosan. Awal kami menerbitkan MALU ialah agar bisa mengekspose karya-karya fotografi sendiri, namun kami melihat bahwa kawan-kawan megiat fotografi juga butuh wadah, maka di edisi terbaru ini MALU sudah benar-benar menjadi majalah yang menampilkan beberapa karya fotografer muda.

Mudah-mudahan kalian tahu, dan jika kalian belum tahu berarti saya ingin kalian menjadi tahu, (menjadi temannya tempe,) bahwa untuk bisa menerbitkan majalah sendiri ialah salah satu harapan besar yang mulai saya kukuhkan sejak menginjak kuliah. Berawal dari ketertarikan dengan majalah-majalah indiependen, sejak SMA saya selalu mengumpulkan, hingga sekarang jumlahnya hampir memenuhi lemari. Saya sangat kagum dengan pemikiran, idealism, serta semangat para pembuatnya. Terasa benar ruh nya di dalam tiap eksemplar. Lalu pelan-pelan saya memelihara mimpi untuk bisa menjadi bekerja di suatu majalah lalu menerbitkan majalah sendiri.

Parade Penutupan Hellarfest 2009

Pada tanggal 13 nya Desember rangkain acara Hellarfest ditutup dengan sangat meriah. Ada parade komunitas-komunitas kreatif Bandung, dengan berbusana nyentrik dan fantastis mereka berarak-arak dari Jalan Tirtayasa hingga Jalan Cikapundung.

Selain karnaval tersebut ada juga acara Braga Bike Fest. Para Biker Broterhood menyabotase jalan Braga, memajang motor-motor mereka yang super keren. Motor-motor tua sih kebanyakan.


DSC_7764_1024679_800530
DSC_7776_1024679_800530
DSC_7772_1024679_800530

Perayaan Hari Hak Asasi Manusia, FH Unpad




saya sangat suka dengan dekorasi origami bangau ini, perlambang harapan bagi orang-orang jepang..




Angsa dan Serigala.. irama musiknya sangat menarik, dipadu dengan efek gitar yang khas, diisi oleh banyak instrumen...


CARAKA FESTIVAL KREATIF: "Tidak Menang Bukan Berarti Kalah"

Toh saya bisa sangat terpuaskan walau tidak membawa piala, bisa bergabung dengan belasan anak muda yang memiliki talenta dibidang kreatif membuat saya bisa merasakan aura yang sangat berbeda dengan keseharian dikampus sana, ada perasaan yang membuat hati ini rasanya tak mau diam berdetak, serta percikan-percikan hasrat kegirangan, “suasana, lingkungan seperti ini lah yang saya inginkan, teman-teman seperti inilah yang saya harapkan”ujar saya. 

Kami semua berada dalam satu wisma, bisa dengan leluasa membuat lingkaran di ruang tengah, lalu memulai suatu obrolan panjang lebar, membahas pengalaman serta pemikiran-pemikiran. Walau saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman yang saya ajak, namun saya bisa tahu sedikit tentang apa yang diulas setiap perbincanganya.

Tukang Palak Yang Bijak

Kalau lagi membicarakan tindak kriminal yang pernah dialami, gua selalu teringat dengan aksiden yang sungguh konyol bukan kepalang, kejadiannya dulu sekali,(bukan dua kali), ketika gua masih seumuran anak SD kelas 3 kalau tidak salah (berarti bener).

Alkisah, sewaktu SD dulu memang gua suka pulang sekolah jalan kaki sama temen-temen gua yang satu komplek, karena memang jarak sekolah ke rumah ga jauh-jauh amat, dulu juga kalau naik angkot cuma bayar cepe. Biar lebih seru memang kita biasa memilih lewat jalan yang melewati perkampungan gitu, ga lewat jalan raya.

Suatu hari ketika jalan pulang sama kurang lebih 4 orang temen gua, ditengah-tengah jalan diperkampungan itu ada seorang laki-laki yang kami duga sebagai preman, dan ternyata begitulah dia, ketika kami lewat sih dia lagi duduk di saung, lalu dia menghampiri dan menutupi jalan. Dengan gaya yang bengis dia memalak kita, mintanya sih seratus perak, (mungkin saat itu seratus bisa dapet rokok kali atau mungkin sekedar coklat yang berbentuk rokok itu.haha), kan lumayan tuh dari lima orang bisa dapet lima ratus perak.

Lihat Ke bawah


kata Ibu, kalau hidup itu jangan terlalu sering lihat ke atas, lihat juga kehidupan dibawah, agar kita tahu betapa beruntungnya kita, agar kita peduli dengan kehidupan orang lain, agar kita ingat bahwa mungkin saja suatu saat kita berada dibawah, sejajar dengan tanah, tidak dipedulikan oleh orang yang lewat sekalipun.

kata Ibu, kehidupan diatas berlimpah harta memburamkan kita dari rasa sukur. Kehidupan diatas membuat kita lupa segalanya, juga tentang dari mana asal kita.




Pantaskah Indonesia menghujat-hujat Malaysia?

Tiba-tiba kepikiran untuk memikirkan hujatan masyarakat indonesia kepada malaysia terkait masalah pengakuan batik sebagai produk asli malaysia.
Apa pantes y orang2 dsini berkoar2 masalah hak cipta sementara kita sendiri aja masih nonton dvd bajakan, untuk film dalam negri juga bahkan.
Memang perbandinganya tlalu jauh, namun menurut gua tetep aja serasa ngejilat ludah sendiri, menjilat ludah rame-rame lebih tepat nya.
Film pun tak bedanya dengan batik, film juga suatu karya seni, dan seni pun bagian dari budaya, sama kaya batik.
Mungkin kejadian ini u mengingatkan indonesia kalau karya atau bahkan warisan budaya dibajak itu tidak enak rasanya,,

hihi..maap kalau terkesan kosong tulisanya, sekedar menuangkan pikiran pengantar tidur..

...Juni 09

Bersusah-susah Dahulu?

Pepatah mengatakan, "bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian."
Pa Guru mengatakan, "kerjakan yang gampang dulu yang susah belakangan."

Itu adalah selentingan yang dilontarkan oleh adik gue saat disuruh belajar sama nyokap untuk ujian besok. Saat itu nyokap ngingetin untuk mengurangi main dan harus belajar keras baru deh setelah ujian selesai boleh main sepuasnya..

Kalau dipikir-pikir lucu juga yah, gue nggak ngerti deh kenapa adik gua bisa ngomong kayak gitu. Mungkin dia bertanya-tanya mana yang harus ditaati, apalagi saat ujian, apalagi untuk anak yang males kaya dia, pasti bakal lebih milih perkataan si Pa Guru itu, karena lebih baik ngerjain yang gampang dulu, yang susah mah dipikirin entar aja atau bahkan ga usah dipikirin

,.....May 09

Butuh.. Untuk

"Butuh banyak membaca untuk bisa menulis, butuh banyak mendengar untuk bisa bersuara, butuh banyak melihat untuk bisa merupa, butuh banyak coba untuk bisa berkarya, untuk siap malu untuk bisa maju."

Ada Udang Dibalik Ngadu

Jangan kamu membalik batu
karena tiada udang yang dibalik batu
karena bergitulah udang, menjadi ngadu kalau dibalik

tapi jangan kamu coba-coba membalik perahu
karena ada kura-kura di dalam situ
kura-kura yang selalu pura-pura tidak tahu
bahkan kalau dia sedang berada dalam perahu.

jadi silahkan kamu ambil itu batu
boleh kamu lempar ke laut yang sedang rindu,
asal jangan sembunyikan tanganmu
ketika Tuhan bertamu

silahkan tendang jadi gunung itu perahu,
asalkan kau membuat kura-kura itu tahu,
sebelum tenggelam di hidup yang paling sendu.

April 08

Tau Tau Tahun Baru

baru tahun lalu aku tahu
bahwa aku harus begini begitu
tahu tahu sudah tahun baru

menyesali yang itu melulu,
aku masih terlalu lugu,
masih saja abu-abu.

diantara merah dan biru aku mencari ungu,
sungguh nyaru.

aku bertemu orang-orang yang hidupnya baku,
punya hati sekeras batu,
mereka bilang aku harus begini begitu,
sementara aku tidak setuju.
tapi aku pura-pura mau.

Pemikiran jadi bisu,
aksi jadi kaku,
asa jadi abu.
telingaku jadi akrab dengan lagu sendu.

untung masih ada kamu
yang selalu tahu
kalau aku suka warna biru
dan mengingatkanku
kalau langit itu berwarna biru

untung masih ada kamu
yang membuktikan pelangi itu mejiku hibiniu
bukan abu-abu.


buat apa tahu tahun baru
kalau yang dulu belum bisa berlalu.


Januari 08

Cerita Lama

Sinar binar membangunkanku yang masih saja terlalu lugu.

Bukan air mata kok, hanya sekedar tetesan kata, maukah kau mendengarkannya?, kemudian kencangkan bahumu biar ku bersandar, buka bibirmu, biar kucium lembut.

bukan menyesal, hanya sekedar memperhitungkan lagi.

Bertumpu tangan pada dinding bumi, merendam setengah muka. dan aku tidak menangis, hanya sekedar tetesan kata.

Wahai kebisuan saksi, sekedar uluran tangan pasti kau punya.

Sekedar telinga pasti kau pun punya.

lalu aku akan berkata, pasrah dalam pangkuanmu, menutup mata.

teruslah bisu, tidak seperti keramaian yang sok tahu tentang ku.

Apa kalian akan membiarkanku hancur berantakan di bawah jembatan.

Lebih baik nyeri sekalian mati, daripada sedih tapi tak punya air mata.

Tapi sebelum mati berteman tanah, aku ingin berteriak namamu, bahkan bukan nama Tuhan, hingga buntu tenggorokanku.

dibelakang Semua

Coba, apa lagi yang ingin kau katakan...

Benamkan suaramu itu di udara.

matikan sekalian kicau burung,

pudarkan siluet senja di hadapanku.



Majulah selangkah lagi,

di ujung bayanganku berdirilah.

Coba kibarkan nyalimu barusan.

Cih, mana mungkin kau berani.



Coba masuk kedalam bayangku selangkah lagi,

Mata seringaiku pasti membuatmu ciut,

seciut jiwamu seumur hidup ini.





kamu mau bilang aku apa?

Pecundang, sok Pahlawan,
coba saja katakan, semoga aku peduli

ditulis pada Januari 09

Berbicara Tentang Kalau Tidak Salah

“Bener ga sih, kalau ga salah itu berarti bener?”
“mmm, iya juga yah”
“iya kan, setuju kan lu, tapi kenapa orang-orang pada sering ngomong itu.”
“eh tapi kan itu pake kalau ki”
“kalau, mmm,, kalau in the dark?”
“yeh, itu mah Galauw (glow)?
“oh iya bener yah.”
“jadi kalau itu menunjukan sesuatu yang tidak pasti yah.”
“betul.”
“jadi gw udah ga mungkin untuk ngomong “ye, kalau ga salah mah bener.”
“iya ki, jangan lah, kasian sama dirilu sendiri, dibilang aneh loh.”
“ah, kalau dibilang aneh mah ga apa apa”
“udah lah ganti topik yu”
“yuk, tadi elu pake topik bundar, sekarang mau ganti topik atau kupluk.”
“kupluk aja deh,”,”mpo ame-ame, belanglang kupluk-kupluk.siang makan nasi, malamnya minum sluk-sluk”
“ck ck ck.”
“CalvinKlein CalvinKlein CalvinKlein?”
“hahahahah, bego lu ah.”

Ga Tau Mau Ngapain?

Bener-bener gatau mau ngapain.
Bener-bener udah seharian, dua harian bahkan. 
Udah dijabarkan semua jadwal, tetep aja kelabakan. 

“Mana dulu”, 
“yang ini dulu saja, sepertinya menarik.”, 
“oke.”
“mm, ga deh, yang ini aja dulu, sebentar kok.” 

Lalu lupa, lupa yang berlarut-larut. 
Berlarut-larut dalam lupa. 

“Oh iya, tadi kan lagi itu”
“mmm oke, lanjut” 
“Setel lagu ini dulu ah”

Lagu sendu, lagu rindu, lagu bingar, lagu liar, lagu riang, lagu hampa.


Lagu berlalu-lalu, lalu berlagu-lagu, hingga lupa waktu, hingga waktu berlalu.

Sedikit teriakan kecil, Sedikit termenung, sedikit bingung.

Pergi kecewa, kecewa lalu pergi, pergi berlalu, lari keluar pintu.

Padahal tadi lagi itu, tiba-tiba mau ini diitukan, yang begini mau dibegitukan, yang disini mau dikesanakan, diseperti inikan. Jadilah semua dikesampingkan. 

Bener-bener ga tau mau ngapain. 
Bener-bener udah seharian, dua harian bahkan.
Udah dijabarkan semua penyesalan, tetap aja GA TAU MAU NGAPAIN.



Desember 2007 

Thursday, December 17

Absent Ke Tukang Pulsa..

tertanggal pada hari juma'at 12 bulan 12...
 

 Pagi menjelang siang saat itu gua mendadak kalang kabut mengurusi pikiran2 tentang pikiran orang lain. mengirim marah dalam hati kepada instansi percetakan yang telat janji..
saat itu pulsa abis. padahal gua lagi butuh untuk nelpon itu orang percetakan. nah karena jumlah tukang pulsa lebih banyak dari jumlah telepon umum jadi lah saya menyinggahi tukang print dikampus yang mengaku jual pulsa.


Lalu saya menyapa "A' ada pulsa m3 yang sepuluh Ribu." "ada" jawabnya. Lalu dia menyodorkan kertas yang berisi tabel-tabel yang banyak angka2 nomor telepon orang yang sebelumnya pernah isi pulsa disitu.
 

Monday, December 14

Pinasthika 2008, Better Luck Lain Next Time



Ini adalah karya yang saya ciptakan bersama Kindi, teman saya, untuk dipersembahkan kepada lomba iklan tingkat nasional tahunan, Phinastika Awards 2008. Lumayan juga loh, untuk membuat karya segini aja kami butuh waktu 2 minggu, termasuk nanya-nanya ke orang-orang yang tahu tentang digital imaging.

Sebelum menjelaskan landasan pemikiran, proses kreatif dan produksinya, mungkin kalian ingin tahu lebih tentang lombanya. Oke, sip. Ini linknya, http://www.pinasthikaward.com/adstudent.html . kesimpulanya, tema dari lomba yang kami ikuti ialah meningkatkan kesadaran para mahasiswa akan pentingnya berpikir kritis (berpikir dengan cara yang berbeda dari “aturan-aturan” ataupun “pendapat-pendapat” yang sudah baku) selain mendapatkan prestasi akademik yang baik, we must menyakinkan para mahasiswa bahwa berpikir dengan kritis penting untuk menunjang keberhasilan karir mereka di masa depan.

Hadiah dari Lomba ini tidaklah sangat besar, Cuma di kasih kesempatan mengikuti seminar periklanan dan akomodasi ke Jogja sana, yang sangat besar dari lomba ini ialah tingkat kebanggaan jika memenagkannya, karna acara ini ialah acara tahunan berskala nasional.

Nah, sekarang dijelasin deh proses kreatif dan segala macemnya tentang iklan ini. inti yang Kindi ambil untuk dijadikan landasan ialah bahwa kita, anak muda harus berpikir peka dan peka berpikir dalam segala hal, peka terhadap hal-hal kecil sekalipun guna kesuksesan kita didunia profesi nanti.

Kami menggunakan perbandingan dua lembar uang kertas dengan pecahan yang sama, dikedua uang tersebut gambar pahlawannya sengaja kami bedakan dengan maksud menantang para audiens untuk menebak gambar mana yang benar, untuk mengecoh, gambar pahlawan dikedua uang tidaklah ada yang benar. Gambar yang kami tampilkan ialah gambar W.T Haryono dan S. Parman. padahal gambar yang benar ialah gambar I Gusti Ngurah Rai. Lalu Copy yang kami bubuhkan ialah " Katanya uang adalah segalanya, Nyatanya Kita Tidak Tahu Apa-apa, Jadikan Kepekaan Sebagai Garis Awal Kesuksesan". maksudnya, langkah awal untuk sukses ialah peka. Bagaimana kita mau sukses kalau uang, sebagai patokan sukses, saja kita tidak tahu detailnya, bisa-bisa kita dikasih uang gambar Dora pun mau-mau aja, yang penting ada tulisan pecahanya.

Untuk mendapatkan gambar pahlawan itu kami mencarinya di poster-poster yang biasa dijual abang-abang di depan SD. Ternyata di era gambaran Avatar dan Naruto ini, poster pahlawan-pahlawan masih dijual. mudah-mudahan saja ga di jadikan anak-anak untuk maen tepokan.hehe.
setelah diseleksi, gambar W.R Supratman dan S.Parman lah yang paling mirip dengan gambar I Gusti Ngurah Rai, jadilah kedua gambar itu discan. Setelah gambar itu berubah digital, itulah bagian saya yang harus mendandankan biar mirip kaya I Gusti Ngurah Rai di uang. Mulai dari penyamaan tone warna biru, sampai pemberian garis-garis disekujur muka dengan Tools stamp.
Setelah jadi, pindahlah saya ke corel draw, untuk menyelesaikan layoutnya, saya menggunakan gradai biru ke putih sebagai warna latarnya, maksudya biar mirip kaya warna uangnya, lalu kami menyusun tata letak Copy dan gambarnya, hingga jadilah seperti ini.

tapi sayang lima puluh ribu sayang, karya kami ini batal lolos ke babak berikutnya, padahal saya sudah menaruh harap yang besar untuk sekedar bisa jadi finalis saja. "Surat Dari Ayah dijadikan judul untuk pengumuman lolos tidaknya karya yang ditulis oleh Djito Kasilo, surat berwujud elektronik itu sungguh membuat saya bergemetar beberapa menit saat membaca dan memahaminya. dan setelah dipahami, surat tersebut ternyata berisi semacam motivasi untuk para peserta yang belum beruntung di Pinasthika ini.

Oke lah, saya ga apa-apa, saya akan coba peruntungan lagi, toh saya ga nyesel udah ngikut, kalau ga, saya ga bakal punya karya untuk beberapa bulan ini, seengaknya liburan gw udah lumayang menghasilkan. Kan saya udah tahu kalau hidup ini sungguh terlalu…hehehe..

Saturday, December 12

Menangkis Bulu, Indonesia Menangkap Emas.

Seindah-indahnya wanita, tak ada yang seindah medali emas Indonesia. Yap, tim ganda putra bulutangkis Indonesia berhasil meraih medali emas pertama di Olympiade setelah mengalahkan China.

Pertandingan berlangsung sangat seru, di game pertama Indonesia berhasil dikalah jauhkan oleh sepasang lawanya, 21-11 kalau tidak salah (kalau tidak salah berarti benar, tapi kalau loh). Melainkan Indonesia semangat dibabak berikutnya sehingga bisa mencapai skor 21 lebih dulu dari Cina. Begitu juga dibabak terakhir. Sempat terjadi kegemasan untuk menang saat game point, Kido terlalu semangat menangkis bulu, jadilah Cina menyusul pelan-pelan. Smash kencang Setiawan akhirnya membawa Indonesia ke garis finish dan membuat Kido melempar raketnya ke atas. membuat saya dan sekian juta penonton setia TVRI malam itu tertawa lepas, teriak gemas, melompat lemas, mendapat emas. "Tangkislah Bulu, Tangkaplah Emas"


Ditulis 16 Agustus 08 

Friday, December 11

Perjalanan Panjang Perpanjang KTP


Sebenernya ga panjang-panjang amat sih panjangnya, sekilo dua kilo lah, apalagi saya berkendara motor, jadi makin ga berasa aje jalanya. Tapi yang bikin perjalanan perpanjang KTP barusan terasa panjang ialah kurang tahunya saya dimana letak kecamatan yang harus gw hinggapi untuk, ternyata, sekedar pas foto. 

    
Setelah kemarin Senin, yailah kemarin Senin, kan sekarang Selasa, saya ke Kelurahan deket tukang bakso 1 kilo lah dari rumah naik sepeda, gara-gara motor lagi dipake. Saya kira ngurus KTP tuh cukup disitu aja, tapi ternyata enggak, di kelurahan saya cuma nulis biodata dan ngasihin KTP lama, seharusnya saya menyertakan surat keterangan dari RT, tapi saya ga bikin, jadi ga apa-apa. 
  
Setelah menyelesaikan isi-isi biodata dan menyelesaikan administrasi sejumlah 20 ribu, siaplah saya mengeluarkan kemeja dari tas untuk di Foto, eh ternyata si Embanya bilang bahwa fotonya bukan di sini tapi di kecamatan. Bertanyalah saya "kecamatanya di mana sih mba". "dirawa kambing de" jawab si emba...rawa kambing yah, berarti harus besok, karena lumyan cape kalo kudu naek sepeda kesono.
   

.


Seperti halnya terlalu manis, terlalurisky pun bisa diartikan sebagai kadar rizki yang banyak. Semacam rizki banget lah kalau kata anak jaman sekarang. Karena inilah hidup saya. Saya bernama Rizki, masih muda dan sedang norak-noraknya sama kehidupan. Menjalani berbagai macam resiko yang ada untuk tetap hidup menjadi seorang Rizki. Walau kadang resiko (baca: masalah) itu justru saya ciptakan sendiri dengan sadar atau tidak sadar.

Saya senang menghabiskan waktu dengan diri sendiri, menyelami pikiran-pikiran hingga ke pelosok lalu tersesat, tapi saya menikmati ketersesatan itu. sayangnya, saat saya berhasil mendapatkan harta hasil penggalian saya kadang enggan pulang dan pengumumkan penemuan dengan lantang.
 

Mungkin karena dunia luar terlalu kompleks, interaksi yang langsung banyak terhalang norma-norma sehingga lalu timbul kekakuan. maka saya lari ke dunia tak tersentuh ini, dunia maya ini. Disini saya lebih nyaman untuk berkoar, mempublish karya tanpa harus melihat langsung ekspresi pasif audiences. Disini saya bisa menciptakan dunia sendiri. Disini, di dunia online ini, saya adalah seorang Ekstrovert.
 

Saya selalu mencoba menjadi diri sendiri. Polos. Tapi bukan berarta tanpa rasa, tanpa warna. Saya selalu mengekspresikan diri dengan berkarya walah dengan kemampuan yang seadanya.
Yah, inilah bentuk dokumentasi terhadap pengalaman-pengalaman yang saya lalui, juga tentang pemikiran-pemikiran yang terlintas dan rasanya sayang kalau dibiarkan berlalu hingga terlupa. Mulai dari foto. catatan-catatan ringan tentang perasaan, pemikiran ataupun pengalaman, dan segala hasil karya yang ingin saya publish. This is Me Magazine.