Friday, October 21

Idola





Halah, sampe bingung gini mau mulai ceritanya dari mana. Pokoknya ini lah dia, tokoh fotografi Indonesia idola saya, Firman Ichsan. Dia adalah penulis dan pegiat kajian fotografi serta kurator foto. Kini beliau menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta. Tadi saya bertemu dengan dia di Galeri Salihara dalam acara pembukaan sekaligus launching buku Indonesia: A Suprise. 

Walau nggak banyak, saya cukup senang baca tulisan dia yang tentang fotografi, dari mulai artikel atau esai sampai catatan kuratorial atau kata pengantar buku fotografi. Bahasa yang digunakan ramah dan tidak ngejelimet.  Pun kajiannya selalu kaya dan edukatif

Singkat cerita, saya nekat minta tolong teman untuk memfoto saya dan dia. Saya menyalami tangannya, sambil menyapa "Permisi Pak, saya boleh foto bareng nggak, saya suka baca tulisan-tulisan Bapak," Sebenernya prosesi foto itu saya jadikan sebagai teaser aja. Intinya mah saya mau coba ngobrol-ngobrol sama dia.

Thursday, October 20

Ke Bandung Ku Kan Kembali

Kunjungan terakhir saya ke Bandung pada awal Oktober kemarin mengoleh-olehkan sebuah pikiran yang selalu saja minta diladenin: Saya mau tinggal di Bandung lagi! Pokoknya, entah ini cuma lagi labil aja atau beneran kepingin,  sekarang ini saya sering merencanakan untuk tinggal di Bandung lagi. .. 

Saya banyak menemukan hal-hal yang menarik di Bandung. Bandung nggak terlalu luas kayak Jakarta. Asal tempat tinggal kita tepat, maka ke mana-mana jadi gampang. Pun lalu lintasnya nggak terlalu macet. Angkutan umum masih menjadi pilihan banyak penduduk. Udaranya yang adem juga jadi salah satu faktor utama yang menarik saya. Saya percaya salah satu faktor yang mempengaruhi termperatur emosi kita adalah iklim lingkungannya. haha. Liat aja tuh di Jakarta, orang-orang di Jalanan pada nyureng-nyureng semua matanya karena kepanasan, udah gitu, udara panas bikin semua orang jadi ngeluh mulu. Fiuh.

Ke Bandung Ku Kembali




Wednesday, October 19

Keisengan Tuhan

Tuhan memang suka iseng. Entah kenapa. Mentang-mentang Dia Tuhan. Dia bisa melakukan segalanya, bisa mengetahui segalanya, dan Dia adalah penguasa alam ini, Dia adalah entitas yang Maha paling deh pokoknya. Jadi, kalau pun Dia iseng, keisengan itu nggak bisa disebut sebagai kesalahan. Itu adalah hak Tuhan yang paling istimewa.

Tuhan memang iseng. Apalagi Dia punya malaikat yang bisa diutus ke bumi dengan wujud apa pun. Dia menyuruh kita beriman kepadaNya, walau Dia Maha Gaib. termasuk mengimani bahwa apa pun hal pemberianNya adalah selalu berujung berkah.

Salah satu keisengan Tuhan ialah Dia sering sekali mengirimi kita bingkisan yang misterius. Pun mendadak. Malaikat yang mewujud dalam bentuk keseharian kita diutus menjadi aktor-aktor yang memainkan skenarioNya dalam proses penerimaan bingkisan itu.

Sunday, October 9

Berkecamuk dalam Tenang

Ada suatu waktu ketika kita merasa diri sudah terlalu penuh. Perasaan gundah imbas perjalanan aktivitas sehari-hari, pikiran tentang misteri masa depan, serta hal-hal kalut lainnya bertumpuk, berjejal di dalam. Ketika saat itu datang maka hal yang paling tepat untuk dilakukan adalah membuka ruang untuk dunia luar. Membersihkan ventilasi pikiran yang sudah terlalu berdebu, sehingga respirasi udara menjadi lancar adanya. Atau sekalian kita berlari berhamburan keluar. 

Melalui EP yang bertajuk Room For The Outside ini, Lipstik Lipsing menawarkan pertunjukan musikal yang siap membuat penontonnya tenang sekaligus berkecamuk. Sebuah ironi dalam penyembuhan diri.  Menutup mata sepertinya akan menjadi pilihan selain memasang pandangan kosong, membiarkan diri hidup dalam dunia di dalam alam pikiran. Gelap namun bisa saja penuh warna, tergantung bagaimana imajinasi.

Wednesday, October 5

Galau Berjamaah bersama Polyester Embassy

Malam minggu pertama milik bulan Oktober (1/10) didaulat sebagai hari bagi para jemaah Polyester Embassy untuk bersenandung bersama di Dago Tea House, Bandung dalam acara konser tunggal mereka yang diberi tajuk “Silent Yellow Ensemble”.


Kereta Api Indonesia: Melaju (Pelan) Melintasi Zaman

Far magazine edisi 15, Oktober 2011


Alat Transportasi sepanjang masa. Sepertinya istilah itu cocok diberikan kepada kereta api. Bagaimana tidak, kereta api bukan saja memobilasi manusia dan barang, tetapi juga membawa peradabadan bangsa. Begitu banyak sejarah dan kenangan yang tersimpan di setiap lajunya. Awalnya, kereta api menjadi alat transportasi yang utama masyarakat Indonesia, namun kini, lajunya pelan. Dibanding transportasi darat lainnya, kereta api dianaktirikan. 

Dari penjajah untuk penjajah.

Penemuan kereta api terjadi di awal tahun 1815, di Inggris. Penemuan mesin uap oleh James Watt lah yang mendasari terciptanya kereta api ini. 30 tahun setelah itu, barulah kereta api masuk ke Indonesia. Pembangunan kereta api di Indonesia adalah cikal bakal pemerintah Hindia Belanda.   Adalah Kolonel Jhr. Van Der Wijk, orang pertama yang mengusulkan gagasan ini di tahun 15 Agustus 1840. Tentu saja, motif awalnya adalah untuk kepentingan penjajahan. Saat itu Belanda menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel), sehingga hasil bumi semakin meningkat.  Kereta akan menjadi solusi bagi Belanda untuk mengangkut hasil bumi tersebut ke pelabuhan untuk kemudian di ekspor ke Eropa. Selain itu, kereta api membawa keuntungan di bidang pertahanan.