gagasan
Tampilkan postingan dengan label gagasan. Tampilkan semua postingan

13 April 2016

Membatasi Notifikasi




Hidup bisa sedemikian mudahnya berubah hanya karena satu setelan fungsi di WhatsApp diganti. Percayalah. Saya sudah membuktikannya.

Jadi, saya mematikan notifikasi keterbacaan pesan. Ketika pesan yang saya kirim sudah dibaca oleh penerima, tanda centrang dua nggak lagi akan berubah biru. Sebagai konsekuensinya, pengirim pesan pun nggak tau apakah pesannya sudah saya baca atau belum. Adil lahir batin.

Saya perlu melakukan ini karena kerap merasa cemas bin nggak enakan. Sebagai pengirim, bukankah nggak enak ketika kita mengirim pesan ke seseorang, kita tahu dia sudah menerima dan membacanya, namun nggak langsung dibalas. Sepasif-pasifnya, menunggu itu kata kerja, ada daya yang dihabiskan, apalagi manusia adalah makhluk pembenci ketidakpastian, pesan yang sudah ditangkap tapi lama ditanggap, bikin kita menunggu penuh harap.

Sementara di sisi penerima, sudah membuat orang tahu kalau kita sudah menerima pesannya membuat kita diburu-buru, harus segera balas. Betapapun kita sedang melakukan kegiatan lain. Sadarlah, membalas pesan itu nggak seenteng membuka dan membacanya.

Masalahnya lagi adalah, budaya komunikasi digital yang sangat mudah ini jadi seolah mempersilakan kita ngajak orang ngobrol kapan pun dan di mana pun. Pasti kalian pernah merasakan juga kan  dapet chat soal kerjaan atau ajakan kerja sama di atas pukul 22.00. Huh hah.

Daripada terus-terusan berada di situasi serba salah itu, lebih baik saya matikan saja notifikasinya.
Terbukti, hidup lebih tenang. Saya jadi menghargai prioritas, baik prioritas orang-orang yang menerima pesan saya, atau pun prioritas saya.

Ketika  mengirim pesan tapi tak langsung dibalas, misalnya, anggap saja si penerima sedang punya prioritas lain yang tak baik jika terdistraksi. Tak ada salahnya kan sekedar membacanya, dan memikirkannya sambil tetap melakukan kegiatan. Toh, kita sama-sama tahu, bahwa nggak jarang kan dalam satu waktu ada banyak sekali orang yang menghubungi kita.

Merasa dikacangin itu wajar, tapi kan banyak tuh kegiatan lain yang bisa dilakukan sambil makan kacang. Betul nggak?

...

Jeanett adalah teman yang pertama kali mendapati saya menonaktifkan notifikasi keterbacaan pesan di WhatsApp ini. Kepadanya saya bilang, "Asik, Jn. Lebih tenang. Hehe."

"Gue juga dulu pernah nyoba. Tapi disuruh ubah lagi sama cowok gue," katanya.

Saya senyum dalam hati.

:)







12 Agustus 2015

Menjadi Manusia 'Bank'

Selasa (13/08) kemarin, saya mewawancara Melanie Subono, musisi, pengusaha cum aktivis. Dia bercerita, gerakan-gerakan yang ia gagas adalah anak dari kegelisahannya yang tak pernah surut mengalir dalam pikirannya. Nah, ada salah satu kegelisahannya yang saya suka banget. Yaitu tentang konsep utang budi yang membudaya dalam kita:

"Kita punya konsep utang budi yang buruk banget. Pada saat orang nolongin lo, mereka akan somehow entah kapan akan ngegali itu. Kalau gue, sih, akan gue bentak 'Lo nolong adalah keputusan lo untuk nolong gue. Gue terima kasih tapi gue nggak berutang'.

Ampe sekarang kalau lo ketemu orang yang ketangkep korup, biasanya bukan karena mereka sendiri. "gue dimintain waktu itu. pernah nolongin, ya gue kerjain."

Sekarang tinggi banget angka penjualan anak atau pernikahan di bawah umur. Coba lo tanya ke bapak mereka. "Itu saya yang ijinin. Nggak enaklah dulu saya pernah dibantu sama keluarga itu." konsep utang budi itu bener-bener menjatuhkan.

Itu konyol banget. Kalau lo merasa berterima kasih ya bilang, 'Thank you.' Tapi kalau lo nolong gue dan suatu hari gue ditagih utang, oh nggak deh. Lo nolong atas keputusan lo. gue pasti nolong lu kalau ada apa-apa. tapi kalau lo nganggepnya sebagai utang dan gue mesti ngerjain hal yang bahkan itu kriminal, untuk nolong lo, nggak deh.

'Mamah kan udah ngasih makan aku. Kamu berutang.'

'Mamah kan emang harus ngasih makan aku, kan, Mah?

Akhirnya jadi lah generasi Wani piro. 'Kalau gue bisa bantu, lo bisa ngasih apa?'"


Terlalu naif kah jika saya menganggap bahwa kita tetap bisa hidup dengan melepas logika transaksional, terutama dalam memberi kebaikan?

Kita memang mencipta bank, tapi haruskah kemudian kita  menjadi manusia bank yaitu dengan menjadikan kebaikan adalah kredit yang bisa menguntungkan di kemudian hari?


- Hari Ke-3 30 Hari Bercerita -

28 Juni 2015

Menggugu KOMPAS (Minggu)


Hari ini harian Kompas genap berusia 50 tahun. Saya ingin turut merayakannya. Pasalnya, saya sangat suka koran ini. Apalagi Kompas Minggu. Selalu saya tunggu. Membeli Kompas Minggu adalah rutinitas yang saya lakukan sepaket dengan bangun tidur dan sarapan. Persis di seberang rumah ada kios koran. Sangat mudah untuk saya membelinya. Bahkan kadang tanpa keluar pagar, yaitu dengan memanggil penjualnya dan memintanya menyeberang. Saking gampangnya beli koran, saya juga sering ngutang, yaitu ketika tiba-tiba pengin beli koran, tapi dompet ada di kamar, lantai atas.

Kompas sudah 50 tahun, tapi kesadaran untuk membacanya baru muncul pada saya sekitar tiga tahun lalu. Selulus kuliah saya mengikuti workhop penulisan kritik seni rupa di ruangrupa. Para pemateri kerap merekomendasikan rubrik Seni di Kompas Minggu untuk dibaca. Ulasan pameran dan kritik seninya bernas, katanya. Sejak itu saya membiasakan diri membeli Kompas Minggu. Baca Kompas selalu sukses bikin saya nambah wawasan dan nemu inspirasi.

Tentu, akhirnya tak hanya rubrik seni yang saya gugu. Perhatian saya juga menjelajahi sekujur tulisan yang ada di berkas Kompas Minggu. Jika Kompas adalah sekolah maka Kompas Minggu adalah jurusan yang saya pilih. Saya senang duduk menyimak materi-materinya dan diam-diam mempelajari cara penulisan tiap artikelnya.

16 Juni 2015

"Hidup Juga Butuh Misteri!"

Dua-tiga kawan mengajukan pertanyaan bertema sama pada saya, "Ram, kok lo sekarang anaknya Path banget?!", "Wuih, Kiram tiba-tiba jadi rame di timeline Path gini sekarang."

Intinya, temen-temen--terutama yang di kantor--pada heran. Saya yang nyaris nggak pernah ngoceh  di Path selama satu-dua tahun ke belakang, tiba-tiba giat beredar di timeline. Memang betul, tiap muncul kesan tertentu tentang suatu peristiwa, otak saya lalu merangkai kalimat untuk mengindahkan cerita yang akan saya unggah ke Path. Begitu pula tiap kali muncul ide atau gagasan kecil.

"Biasanya lo kalau ngupdate-ngupdate emang di mana, Ram?" tanya seorang teman.

"Di LINE. Haha!"

Ada teman yang kaget, ada juga yang balik menanggapi. "Oh iya sih, tiap gue buka LINE, pasti ada Kiram."

Kalian pegiat media sosial pasti tahu kalau timeline LINE itu sepi adanya. LINE lebih kerap digunakan sekadar untuk chatting yang lebih ekspresif, karena adanya stiker. Sementara untuk micro blogging, Path yang banyak digunakan.

25 Januari 2015

Menjadi Fotografer Konflik


Terhadap foto-foto konflik: ada yang acuh, ada juga yang pesimis. Di film ini, seorang fotografer konflik mencoba melawan pesimisme itu sambil menghadapi pertempuran hatinya sendiri.

Di tulisan ini saya ingin menceritakan kesan saya atas film A Thousand Times Goodnight. Disutradarai dan ditulis oleh Eric Poppe, diperankan oleh Julliete Binoche. Rilis pada 2013 lalu.

Alkisah, seorang pewarta foto wanita, Rebecca, memiliki renjana terhadap peliputan di daerah konflik. Demi mendapatkan foto yang kuat berkesan ia siap masuk ke area yang sangat berbahaya sekalipun. 

Ketika di Kabul, Afganistan, ia mengikuti prosesi perencanaan hingga peledakan bom bunuh diri oleh seorang warga perempuan setempat. Ia terus memotret hingga akhirnya bom pun diledakkan. Walau sudah menghindar beberapa meter dari si pelaku, kena juga ia imbasnya. Rebecca terluka hingga tak sadarkan diri.

Ia pun dipulangkan ke rumah. Awalnya sambutan keluarga terkesan ramah. Tapi, tak lama ia tahu bahwa anak dan suaminya menyimpan marah.

01 Desember 2014

Membuat Zine Itu Meningkatkan Daya Tarik (?)

Hahaha. belum juga menulis tapi saya sudah tertawa. Maklum, ini sungguh lucu. Bikin geli, tapi ya emang nyata. Ini adalah soal zine, yang ternyata ada kesepakatan umum di antara para pegiat zine, bahwa membuat zine bisa meningkatkan daya tarik  di hadapan siapa pun yang kita menaruh hati padanya.

Kemarin, di sesi Ngomongin Zine, ada sejumlah pegiat zine yang berseloroh kalau zine  cukup ampuh untuk memikat hati seseorang. Motivasi (baca: ceng-cengan) untuk temen yang single kerap diberikan, "Tuh tuh, manis tuh, coba lu samperin, pura-puranya ngasihin zine dulu. terus kenalan deh."

Selain itu, sesi woro-woroin zine, via media sosial atau bagi-bagiin di gigs misalnya, sedikit-banyak bikin kita jadi pusat atensi. "ih apaan tuh. apaan tuh. Mau doong. Ini lu yang bikin? Waaaa! ini gratis? beneran gue boleh bawa? Waaaaa"

Haha!

06 Oktober 2014

25 dan Kekosongan



Kosong!

Itulah yang didapati oleh Walter Mitty di frame urutan ke-25 dari sheet film kiriman  Sean O'Connell, sang fotografer lepas langganan majalah LIFE, tempat Walter bekerja. Padahal, foto ke-25 itulah yang Sean inginkan untuk dijadikan cover edisi terakhir Life. Mengikuti arus zaman, LIFE memilih untuk melakukan transisi. Pindah dunia, dari bentuk yang berwujud menjadi maya alias online. Karena itulah foto ke-25 itu bukan hanya penting, tetapi akan menjadi fenomenal. Bahkan Sean sendiri menyebut foto ke-25 itu adalah The quintessence of Life.

Semua awak LIFE jelas kecewa dengan transisi besar-besaran dan mendadak itu. Namun, hanya satu yang paling kena imbasnya, yaitu Walter. Sebagai penanggung jawab arsip film-film negatif, Walter mesti menemukan foto di frame ke-25 itu. Mencari intisari “hidup”.

Cerita serupa tapi tak sama juga dialami lebih dulu oleh Biksu Tong dan Kera Sakti. Terbalik dengan Walter Mitty, mereka justru menemukan kekosongan setelah melakukan perjalanan sangat jauh. Bahkan harus berhadapan banyak siluman. Setibanya di tempat bertahtanya Sang Budha di India sana, Biksu Tong akhirnya mendapatkan anugerah yang selama ini ia cari, yaitu kitab suci. Tapi betapa kagetnya Biksu Tong ketika membuka lembar demi lembar kitab tersebut. Kosong melompong. Tanpa satu aksara pun.

Menemukan kekosongan selalu membuat kita kecewa. Seperti Walter, Biksu Tong juga kecewa bukan main. Sang Buddha malah tersenyum melihat ekspresi Biksu Tong, ia pun menjelaskan. “Kitab tanpa aksara itulah kitab yang sejati,” katanya.

Kekosongan adalah kesejatian.

Dalam buku Titik Nol—sumber saya membaca kisah Biksu Tong tersebut—si penulis, Agustinus Wibowo, menyimpulkan kekosongan seperti yang ditemukan oleh Biksu Tong itu adalah alasan untuk kita mencari. Bahwa dalam hidup ini memang ada “sesuatu” yang tak bisa dijelaskan dengan bahasa atau pun berjuta-juta aksara, tidak dapat dinalar dengan berlaksa bahasa. Sesuatu yang agung. Sesuatu yang menyimpan segala misteri.

Bagi Agustinus, perjalanan adalah jawabannya. Karena dengan perjalanan, kita akan mengalami, merasakan, dan menemukan. Terus begitu. Bisa jadi, karena terinspirasi dari filosofi itu, Agustinus Wibowo memilih menjadi musafir selulusnya ia kuliah. Ia berkelana dari Cina menuju Nepal, Tibet, lalu pindah ke India, Pakistan dan Afganistan. Semua ia lakukan lewat jalur darat dan sendirian.           

Tak beda dengan Agustinus, Walter pun nekat berangkat demi mencari pengisi kekosongan frame ke-25 itu. Petualangan akbar yang nekat dan spontan... dan ekstrem pun ia amalkan. Ia menyebrangi benua, naik helikopter yang dikemudikan oleh pilot mabuk, lompat ke laut lepas lalu diserang hiu, menyusuri Islandia dengan longboard dan lari menghindari abu vulkanik Eyjafjallajökull. Namun itu rupanya belum bisa membuat  Walter menemukan Sean.

Walter pulang ke Amerika. Menyerah.

Petinggi LIFE pun memecat Walter, seperti karyawan-karyawan lainnya. Kegagalan Walter dilengkapi lagi dengan kesedihan. Di kepulangannya itu pula, ketika Walter berharap bisa mendapatkan secercah bahagia dari Cheryl, wanita yang ia suka, Walter kembali dikecewakan. Saat mengunjungi rumah Cheryl, Walter disambut oleh mantan suaminya. Pikirnya Cheryl sudah rujuk lagi dengan suaminya. Kian kandaslah Walter. 

Namun, ternyata semesta tak ingin Walter berhenti. Intisari Life mesti terus dicari. Di rumahnya, Walter mendapati satu lagi petunjuk penting. Ternyata Sean pernah berkunjung ke rumahnya dan berbincang panjang dengan Ibunya Walter. Dari situlah diketahui bahwa Sean kini sedang berada di Himalaya untuk memotret macan tutul salju. Kontan Walter pun bergegas. Tas ransel serta notebook pemberian almarhum ayahnya disiapkan beserta perlengkapan lainnya. Untuk kedua kalinya perjalanan akbar yang nekat dan spontan... dan ekstrem diamalkannya. Karena kekosongan di angka 25 itu. Demi mencari intisari hidup itu.

Kembali Walter menyebrangi benua. Bus yang penuh sesak dan hiruk pikuk ia tumpangi, bersama dua pendaki lainnya, Walter menapaki Himalaya yang (sangat) dingin itu. Hingga akhirnya, seperti yang disangka, Walter pun menemui Sean di ujung pendakiannya. Ia benar sedang membidikkan kameranya, menunggu munculnya si macan tutul salju. Walter terpana dan terkejut ketika menemui Sean, apalagi ketika mendengar jawaban Sean soal keberadaan foto di frame ke-25 itu.

Ternyata foto di frame ke-25 itu disisipkan oleh Sean di sebuah benda yang belakangan itu selalu di bawa-bawa oleh Walter, termasuk ketika dalam petualangannya mencari Sean ke Islandia. Astaga!

Kekosongan di angka 25 itu akhirnya menemukan isinya. Setelah berbagai petaka dan nestapa, akhirnya yang disebut sebagai The quintessence of Life itu berhasil dicari. Saya tak ingin memberikan spoiler untuk yang belum menonton film ini, namun, singkatnya, apa yang dicari oleh Walter adalah dirinya sendiri. Kekosongan yang menjadi krisis di masa transisi besar-besaran Life membawanya ke petualangan yang ternyata adalah petualangan untuk menemukan dirinya sendiri.

Kekosongan pada kitab hidup ini sesungguhnya adalah panduan yang agung. Kekosongan membuat kita mencari. Pencarian membuat kita berjalan. Perjalanan menawarkan kita untuk bertualang. Petualangan menuntut kita untuk berjuang. Perjuangan akan menghadiahkan kemenangan.

“Bukan kitabnya yang penting, tetapi hakikat kehidupan yang ditemukan dari perjuangan perjalanan.” Itulah kesimpulan Agustinus

Sementara dalam film The Secret Life Of Walter Mitty, Perjalanan, pencarian, petualangan dan perjuangan mengisi kekosongan frame ke-25 yang begitu penting untuk sebuah transisi besar-besaran disimpulkan sebagai suatu usaha untuk mencapai tujuan hidup. Kesimpulan tersebut persis seperti moto majalah LIFE, “to see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other, and to feel. That is the purpose of life.”

Jadi, sudah seberapa banyak dunia yang kita lihat? Sudah cukupkah rasa yang kita cicip? Sudah sedekat apakah kita dengan hidup? Sudahkah kita mendapati makna dan menemukan diri kita yang sejati?

Mari kita berdoa, semoga kita selalu diberi semangat untuk mengisi dan memaknai kitab kosong kehidupan ini, dan tentunya punya stok kesabaran untuk menghadapi berbagai krisis masa transisi. Semoga Tuhan dan semestanya menujukkan kita ke jalan yang lurus seru.


-Rizki Ramadan

Yang setahun kebelakang sudah menjalani usia ke-25, menghadapi krisis masa transisi, dan di umurnya ke-26  ini berharap bisa terus mencari dan menemukan The quintessence of Life-nya. Selamat 28 April.

....

Tulisan ini dibuat untuk merayakan ulang tahun saya yang ke-25 kemarin. Tulisan ini juga saya cantumkan di KARTU POSTer yang saya kirimkan ke beberapa teman dekat saya. Terima kasih sudah mau baca celotehan (yang mungkin terasa klise) ini. :D




21 September 2014

#Artikel - Self-Published Your Photobook and Be Happy



Di era kemajuan teknologi, industri percetakan dan sosial media ini, rasanya tiap pehobi fotografi perlu menjadikan penerbitan buku fotonya sendiri sebagai pencapaian. Selain akan membahagiakan diri sendiri, ini penting untuk memperkaya referensi fotografi.


Kalau kita berkunjung ke toko buku dan melihat rak koleksi buku-buku fotografi, pasti yang banyak kita temui adalah buku-buku panduan teknik fotografi. Mulai dari panduan fotografi dasar, teknik pencahayaan, hingga panduan menguasai digital imaging dalam waktu singkat. Sementara buku fotografi yang berisi kumpulan karya foto dengan tema tertentu dari seorang fotografer sedikit sekali mengisi rak. Kalau pun ada pasti harganya mengejutkan. Kebanyakan harganya di atas Rp 300 ribu. Niat untuk mengoleksi buku foto, memperkaya referensi foto, dan mengapresiasi karya fotografer pun mau tak mau harus ditunda. 

21 Juni 2014

#Pencermat: Media Baru adalah Media Personal

Ada banyak definisi, pemahaman serta konsep tentang media baru yang ditawarkan buku dan para ahli media massa. Tapi penjelasan Paul Saffo, si futurist bidang teknologi yang bermarkas di Sillicon Valley, menurut saya yang paling asik. Saya menemukan pembahasan Paul Saffo ini di buku Designing Media  yang ditulis oleh Bill Morridge. Bill mewawancara Paul Saffo lalu memuat hasilnya di bab Here to Stay: tentang media yang bertahan dalam format lama. 

Pertama, Paul bercerita tentang bentuk media yang old-fashion. Sebagai seorang yang memilih menggunakan buku catatan ketimbang iPad untuk menulis temuan serta pemikirannya, Paul berpendapat bahwa notebook  itu lebih mudah di buka, dan langsung menuliskan catatan ketimbang dengan di iPad. Selain lebih fleksibel, ia bisa dengan mudah menggabungkan catatan dalam bentuk gambar atau teks atau malah menempelkan gambar. 

Pengurangan penggunaan kertas, kata Paul, sama persis kejadiannya seperti saat kita tak lagi menggunakan kuda. Semenjak perkembangan mesin, terutama dalam transportasi, kuda tak lagi banyak digunakan masyarakat untuk berpindah tempat. Namun, kuda sampai sekarang tidak punah dan dikesampingkan begitu saja. Begitu pula dengan media lama. Ia hanya akan mengalami perubahan fungsi dan cara penggunaannya. 


Kita sudah melewati jaman media massanya McLuhan selama lebih dari setengah abad dan sekarang dunia ini sedang mengalami revolusi bentuk media yang berbeda dari sebelumnya. Bedanya, pada media lama, seperti televisi, kita hanya bisa menyimak, tidak bisa berpartisipasi. Dengan begitu, bentuk partisipasi kita adalah mengonsumsi. Kita menonton tivi beserta iklannya lalu kita keluar rumah dan membeli produk yang kita lihat iklannya di TV. Sebenarnya kita bisa juga mengirimkan surat pembaca atau ikut beropini di program jajak pendapat tivi. Tapi, biasanya itu penuh filter dari editornya. 

Sementara di era personal media ini, merespon dan berinteraksi justru bukanlah pilihan, tetapi kewajiban. Contohnya saja, untuk menggunakan Google, kita bukan mesti menyimak Google begitu saja, kita harus aktif menggerakkan Google, dengan mengisi kolom pencarian dan memilih tautan mana yang ingin kita baca. 

Kita juga pasti tau apa perbedaan Wikipedia dan buku Encyclopedia. Buku Encyclopedia ditulis oleh sekelompok tim penulis tertentu yang pasti sangat berpengetahuan, semenentara personal media seperti Wikipedia semua orang bisa terlibat dalam penulisan. Ketika kita menemukan informasi dan data baru tentang suatu hal yang sudah dituliskan sebelumnya di Wikipedia, kita bisa mengusulkan penambahan data. Kita juga bisa turut mengoreksi kesalahan penulisan, jika ada. Dan ya, aksi perseorangan itu bisa dikonsumsi siapa pun di dunia. 

 Dari uraian Paul Saffo itu bisa dirangkum bahwa media baru ada dan digerakkan karena adanya interaksi, dan rumus interaksi dalam media baru adalah semakin kecil aksi yang diminta, semakin menimbulkan keinginan untuk berpartisipasi. Dan seperti yang kita tahu partisipasi di dunia maya memang kebanyakan sangat kecil syaratnya: Twitter hanya meminta kita untuk bercecuit tak lebih dari 140 karakter, kita sudah bisa mendukung gerakan kemanusian di halaman Facebook hanya dengan memencet tombol ‘Like’ dan kita bisa membantu meningkatkan popularitas sebuah brand hanya dengan mengklik iklannya. 

Singkatnya, menurut Paul, ada tiga karakteristik pembeda antara media massa dan media personal. Pertama, interaktivitas. Di media massa, kita hanya menyaksikan, sementara di media personal, kita berpartisipasi. Kedua, lokasi. Media massa penempatannya terbatas. Personal media bisa kita genggam kemanapun kita pergi. Dan ketiga, dominasi pelaku. Media massa adalah dominasinya sekelompok kecil yang mempunyai jaringan luas (dan modal banyak), sementara media personal adalah dominasi orang banyak yang berkekuatan (modal) kecil. 

......



Sedikit cerita tentang #Pencermat. Ini adalah program yang digagas demi mengembalikan semangat menulis di blog lagi. Karena berbagai alasan super klise imbas keseharian, saya, LodraAndraTito dan Dimas punya keresahan yang sama: kami jadi jarang nulis dan merasa butuh kembali rutin menulis. Alasannya beragam: biar nggak tumpul, agar bisa 'hidup', memenuhi hasrat berbagi dan tentunya, mengalahkan rasa malas.

Satu kali dalam seminggu, kami berkomitmen untuk menulis dan mempublish-nya di blog masing-masing. Jika ada yang telat atau absen menulis, maka ia wajib mentraktir kami makan. Hehe. Karena kami memilih Jumat sebagai hari terbitnya tulisan, maka program ini pun kami beri nama Pencermat, yang merupakan kependekan dari pencerita Jumat.

13 Juni 2014

#Pencermat: Laki-Laki Tidak Boleh Meminta: Tanda Tanya atau Tanda Seru?


"Laki-laki itu tidak boleh menuntut," tegas Pidi Baiq yang sedang berbicara mengenai novel terbarunya di sebuah acara bedah buku, Dilan. Dia adalah Dilanku Tahun 90an. Lewat novel yang bercerita tentang kisah cinta masa SMA antara laki-laki gagah tetapi nyeleneh bernama Dilan dengan Milea, seorang siswi baru di sekolahnya Dilan itu  Pidi Baiq memang terasa betul ingin turut mengonstruksi karakter cowok ideal, terutama cowok dewasa muda, dalam keseharian. 

Saya suka sekali dengan novel Dilan ini. Saya juga setuju dengan konsep laki-laki ideal yang dikejawantahkan Pidi Baiq pada tokoh Dilan: berjiwa rebel, kritis, cerdas, pembela keadilan, penyayang wanita, dan punya kadar romantisme yang pas sekaligus unik. Tapi kok ucapan Pidi Baiq yang juga merujuk ke tokoh Dilan satu itu terasa janggal yah. Bikin tertegun. Apa iya, laki-laki tidak boleh menuntut? kenapa? apa yang salah jika laki-laki menuntut (wanita)? Masa sih, Pidi Baiq yang melalui tokoh Dilang sekaligus saya anggap memperjuangkan kesetaraan gender itu tetap memelihara pemikiran bahwa laki-laki itu hanya boleh memberi, tak baik jika menerima? 

Kata-kata Pidi Baiq itu mau tak mau mengingatkan saya pada novel Pengakuan Eks Parasit Lajang gubahan Ayu Utami. Di novel yang berisi tentang gagasan serta pengalaman seksualitas Ayu Utami itu ada bagian cerita yang mengandung pemikirian persis seperti pemikiran Pidi Baiq tadi. Dalam suatu scene, tokoh utama yang bernama A (wanita) sedang berbelanja di sebuah supermarket bersama pacarnya, Nik. Di sana, Nik iseng minta dibelikan cokelat oleh A. Tapi A justru memarahi permintaa simpel tersebut. Kata A, laki-laki itu tidak boleh meminta. Perempuan boleh memberi, tapi laki-laki tidak boleh meminta. Sebenernya saya lupa-lupa ingat sih, tapi seingat saya, di scene itu tokoh A serius betul berkata seperti itu. Seperti ungkapan dari hati yang paling dalam. 

Padahal, tokoh A itu diceritakan sangat benci dengan pemarjinalan wanita karena budaya patriarki. Ia juga sebal dengan pengekangan seksualitas wanita, terutama pemikiran bahwa keperawanan wanita harus dijaga sementara keperjakaan pria tidak (setidaknya jarang dipermasalahkan di masyarakat). 

"Ada yang tidak beres dengan nilai-nilai masyarakat. Lelaki dibebani tuntutan tidak proporsional untuk menjadi lebih dari perempuan. Dan perempuan diberi tuntutan tak adil untuk merendahkan diri demi menjaga ego lelaki. Sampai hari ini aku masih mengatakannya: itu sungguh tidak benar dan tidak adil.” tulis Ayu Utami sebagai suara dari tokoh A. Dari situ, yang saya tangkap adalah bahwa tokoh A adalah si pejuang kesetaraan gender. 

Nah, saya bingung. Mengapa bagi si pejuang kesetaraan gender pun masih ada pemikiran bahwa laki-laki tidak boleh meminta dan menuntut kepada wanita. Apakah dengan begitu laki-laki memarjinalkan wanita juga? Atau ini hanyalah pengecualian, bahwa walaupun pria harus menggagap dirinya sejajar dengan wanita, tetapi pria harus terus menjadi si kuat yang bisa terus memberi dan tak boleh membuat wanita berjuang untuk memenuhi keinginannya?  

Kalau begitu, hubungan pria-wanita itu mestinya bersifat satu arah dong? pria mesti mencinta tanpa pamrih. 

Saya masih belum bisa menemukan jawaban yang bisa saya ecamkan. Tapi setidaknya semasih mencari, saya anggap saja tawaran gagasan dari Pidi Baiq dan Ayu Utami itu satu pola dengan rumus mencintai negara dari John F Kennedy: Jangan tanya apa yang negara sudah berikan padamu, tapi tanyalah apa yang sudah kamu berikan untuk negara. (kata negara bisa kita ganti dengan subjek yang kita cinta). Kalau begitu sih, saya setuju, asalkan saya sudah yakin bahwa negara saya itu sudah punya cinta yang sama besar, minimal sebesar cinta saya atasnya. Hehe.

Menurut kalian gimana? ungkapan 'laki-laki tidak boleh meminta' perlu diberi tanda tanya, tanda seru... Hmm atau malah dicoret? 

......
Sedikit cerita tentang #Pencermat. Ini adalah program yang digagas demi mengembalikan semangat menulis di blog lagi. Karena berbagai alasan super klise imbas keseharian, saya, LodraAndraTito dan Dimas punya keresahan yang sama: kami jadi jarang nulis dan merasa butuh kembali rutin menulis. Alasannya beragam: biar nggak tumpul, agar bisa 'hidup', memenuhi hasrat berbagi dan tentunya, mengalahkan rasa malas.

Satu kali dalam seminggu, kami berkomitmen untuk menulis dan mempublish-nya di blog masing-masing. Jika ada yang telat atau absen menulis, maka ia wajib mentraktir kami makan. Hehe. Karena kami memilih Jumat sebagai hari terbitnya tulisan, maka program ini pun kami beri nama Pencermat, yang merupakan kependekan dari pencerita Jumat.


(gambar: huffingtonpost.fr )

06 Juni 2014

#Pencermat: Inikah 4 Alasan Mengapa Judul dengan Angka Lebih Diminati?


Sebenarnya, ada konspirasi macam apa sih antara angka dan media daring? Sejak saya mulai nyemplung di jagad ini menjadi penulis, rasanya angka selalu menjadi kata kunci dalam tiap obrolan kesuksesan media daring.

Pertama, tiap penulis mesti dibebani target capaian artikelnya: jumlah visitor, jumlah komentar, dan ranking website di Alexa setelah artikel itu pamor. Kedua, menyematkan angka dalam judul artikel di media daring itu akan jauh lebih memikat pemirsa. Ya, ternyata untuk mencapai angka keterbacaan yang tinggi, artikel kita juga mesti menggunakan angka!

Kalau diingat-ingat, pertama kali saya mulai menulis untuk media daring itu adalah di 2010, hingga dua tahun setelahnya pun saya hanya dibiasakan untuk menulis judul artikel dengan pola standar: sekadar merangkum tulisan dengan usaha kreatif meracik kata, kalau bisa yang sensasional. Nah, tren judul berangka ini baru saya temui di 2013.

Seorang petinggi kantor saya saat 2013 itu menegaskan dalam sesi rapat. Pada slide presentasi yang bertuliskan Magic Number itu dia berkata, “Kita harus mulai penggunakan angka dalam judul.” Setelahnya, kami tak lagi bersusah payah memikirkan judul yang kreatif. Artikel selalu dibuat dengan gaya ‘poin-poin’, bukan gaya bercerita. Judul dibuat begitu gamblang saja dan langsung menyebut jumlah poin yang kami bahas.

Terbukti, capaian keterbacaan kami meningkat. Seorang blogger yang pernah membandingkan statistik jumlah pembacanya, juga mengaku bahwa ketika ia menggunakan angka dalam judul postingnya, traffic blognya melejit 2,5 hingga 8 kali lebih banyak. Wow!

Angka menjadi trigger netizen untuk mengklik link lalu masuk ke website, membaca artikel, lalu lompat ke artikel-artikel lainnya. Kalau diamati, memang website untuk anak muda lah yang lebih banyak menggunakan strategi judul berangka ini.

Nah, setelah beberapa lama ini menggarap strategi konten dengan judul berangka saya pun mulai tahu kenapa itu bisa mujarab memikat pemirsa:

1. Angka Mengurangi Ketidakpastian

Coba ingat-ingat bagaimana rasanya berhenti dan berdiam menunggu lampu merah saat ini dan dua-tiga tahun lalu. Pasti kita sepakat bahwa berhenti di lampu merah sekarang ini lebih tak membuat kita cemas. Karena dari tampilan hitungan mundurnya kita  jadi tahu berapa lama kita harus menunggu.

Dalam kasus tulisan, judul berangka membuat pembaca mudah memperkirakan apa-apa saja yang akan didapatkan dalam artikel.

2. Bicara Angka Bicara Fakta 

Angka itu bisa didapat dari perhitungan. Perhitungan didapat dari penelitian. Penelitian didapat dari fakta. Bisa jadi karena itulah angka selalu menggugah kita. Tulisan berangka akan membuat kita semakin yakin kalau tulisan itu penting dan akurat. Apalagi kalau angka yang ditampilkan nilainya besar. Efek kejutnya akan meningkat.

3. Mempermudah Pembacaan

Beda media, beda pula habbit-nya. Di media daring, banyak ahli yang berkata bahwa pembaca media daring itu tak suka berlama-lama membaca. Mereka cenderung mencari poin-pon pentingnya saja. Karena itulah, gaya artikel yang langsung menyajikan poin-poin akan lebih dicerna. Dengan sekali skimming saja, pembaca sudah bisa mengetahui inti tulisan.

4. Number is an eye candy

Situs Mediasocialtoday.com bahkan menyebut bahwa “number is brain porn”. Angka selalu bikin otak kita terpikat. Selain angka kerap diasosiakan dengan fakta, angka juga bikin penasaran. Menemukan judul artikel “7 Alasan Bekas Kerokan Itu Trendi” dan “Alasan Bekas Kerokan Itu Trendi” pasti punya efek berbeda. Diluar topiknya yang memang bikin penasaran, judul berangka sih bikin saya jadi lebih penasaran. “Haha. Ada tujuh? Ada-ada aja. Apaan aja tuh?”

grafik persentase pencapaian jumlah viewer berbagai teknik penulisan judul (sumber: bufferapp )

Namun, rasanya penting untuk dicermati juga bahwa walaupun punya daya tarik yang ‘wah’, kita tak bisa terus-terusan menggunakan angka dalam judul artikel. Pertama, konten kita akan sangat monoton. Kedua, kurang melatih kreativitas dalam merangkai kata. Maklum strategi judul berangka itu diikuti dengan penyebutan topik tulisan secara gamblang ditulisan. Biar semakin mudah dicerna pembaca. Ketiga, jika terlalu banyak, kayaknya pembaca kita pun akan memelihara mindset numerical belaka, selalu inget to the point, selalu ingin dimudahkan, dan tak terbiasa dengan tulisan yang sastrawi. Tulisan yang mengutamakan unsur estetika bercerita.

O ya, saya baru kepikiran. Kenapa tren judul berangka ini justru dimulai oleh program TV yah ketimbang media online. Betul kan? Program On The Spot contohnya.

...
Sedikit cerita tentang #Pencermat. Ini adalah program yang digagas demi mengembalikan semangat menulis di blog lagi. Karena berbagai alasan super klise imbas keseharian, saya, Lodra, Andra dan Tito punya keresahan yang sama: kami jadi jarang nulis dan merasa butuh kembali rutin menulis. Alasannya beragam: biar nggak tumpul, agar bisa 'hidup', memenuhi hasrat berbagi dan tentunya, mengalahkan rasa malas.

Satu kali dalam seminggu, kami berkomitmen untuk menulis dan mempublish-nya di blog masing-masing. Jika ada yang telat atau absen menulis, maka ia wajib mentraktir kami makan. Hehe. Karena kami memilih Jumat sebagai hari terbitnya tulisan, maka program ini pun kami beri nama Pencermat, yang merupakan kependekan dari pencerita Jumat.



24 Mei 2014

Pesona Tulisan



Dan seorang dosen saya membuktikan, lewat tulisan ia bisa memesona wanita lalu mengajaknya menikah. 

Saya selalu menaruh apresiasi lebih kepada sesiapun yang menulis. Begitu juga atas dosen. Ketika saya tahu dosen itu menulis, dan tulisannya bagus, maka menghadiri kelasnya bukan lagi sekadar menyimak kuliahnya, tetapi membaca pemikiran serta karakter yang membangun tulisannya itu. Ya bisa jadi ini karena saya juga penulis, jadi tahu betul seperti apa kualitas seseorang yang menulis.

Pernah ada dosen yang sebenarnya saya nggak begitu suka caranya mengajar di kelas, tapi ketika saya dengar kabar bahwa beliau menulis artikel di sebuah majalah dan ternyata tulisannya bagus, maka persepsi saya atas pengajarannya di kelas berubah. Lebih positif.

Di sini, saya mau bercerita tentang dosen yang sering banget menulis untuk kolom Opini di Kompas atau Tempo. Kadang, dia menyebut rubrik  tersebut bukan dengan namanya, melainkan dengan menyebut nomor halamannya. Kompas halaman 7.

Berawal dari mengikuti dan membaca tulisan-tulisan beliau, saya malah jadi gemar membaca rubrik Opini di Kompas. Bahkan, tiap baca Kompas di kantor yang saya baca pertama kali bukan halaman depan, melainkan rubrik Opini tersebut. Tentu, diam-diam saya juga menanti kapan beliau atau dosen-dosen saya di kampus lainnya nongol di rubrik ini.

O ya, perlu di ketahui juga. Dosen satu itu tulisannya sangat menggugah dan berpengaruh. Contoh yang beberapa kali beliau ceritakan adalah tulisannya yang dimuat Kompas sehari sebelum Megawati memberi mandate kepada Jokowi untuk maju jadi Capres. Artinya, sedikit banyak, tulisan beliau yang meman berisi opininya tentang Megawati dan partainya tersebut mempengaruhi keputusan besar yang juga berpengaruh pada politik nasional. Sedaap!!!

Nah, yang paling bikin memukau, dia yang udah rajin banget nulis sejak kuliah ini pernah menjadikan artikel buatannya sebagai ajang pernyataan cinta ke pacarnya (sekarang jadi istri). Kok bisa?

Istrinya sendiri yang bercerita kepada kami, para mahasiswa. Suatu waktu Pak Dosen ini mengajak istrinya untuk masuk ke kelas. Materi saat itu adalah 'media dan politik'. Singkatnya, kami membahas bagaimana peran serta fungsi media dalam dinamika politik dari masa ke masa di Indonesia.

Di akhir kuliah, si istri yang duduk di bagian belakang itu bersuara ikut menambahkan fungsi media. Katanya “Media juga berfungsi untuk menyatakan cinta juga loh.”

“Hah?!” kami bingung. Topik yang dari tadi serius tiba-tiba mengarah ke cinta.

“Tanya sendiri saja ke Bapak!” si istri menjawab.

Kami menengok ke si bapak dosen. Tapi beliau hanya cengegesan.

Akhirnya si istri malah menceritakannya sendiri, “Iya, jadi dulu waktu mau melamar saya dia bikin tulisan dan dimuat di koran. Huruf pertama tiap paragraph yang ada di tulisan itu kalau disusun jadi kata ‘I LOVE YOU’.”

Saya terkesima. Keren! Tiada tara. Memukau. Dahsyat. Loh jinawi. Maha!

Saya membayangkan adegan saat tulisan itu terbit. Si Bapak mesti menghubungi istrinya itu lalu berkata “Kamu udah baca tulisan aku di Kompas? Kalau udah baca sekali lagi deh. Tulisan itu aku buat untuk kamu. Perhatiin awal tiap paragragnya yah.”

Duh. Betapa saya ingin mengistimewakan pacar saya dengan cara sesederhana, implisit tapi memukau begitu juga. Dan tentu berkaitan dengan tulisan.





13 April 2014

Bersiasat dengan Perangkat.


Kita sudah dikuasai smart-phone. Kesehariaan kita dikeliling kabel dan listrik. Kita adalah si gardu listrik berjalan (merujuk ke budaya menenteng power bank). Kita adalah si haus koneksi. Kita adalah si penggenggam dunia. Kita adalah si sungai yang dialiri pesan yang begitu deras, debitnya kencang, volumenya besar dan jenisnya pun beragam: cecuit Twitter, berita, artikel, chat, SMS, email, meme, update status kawan-kawan, dsb. Coba bayangkan jika ada sungai yang dialiri lebih dari dua-tiga zat cair. Jika tak pandai diolah, muara hanya berisi limbah.

“I fear the day when the technology overlaps with our humanity. The world will only have a generation of idiots.”

Mungkin kalian sering juga melihat quote yang banyak sekali menyebar di dunia maya ini. Quote bernuansa kritik ini dihakimi netizen sebagai quote dari Albert Einstein, walau berdasarkan sebuah penelusuran, Kakek Einstein tak pernah mengatakan atau menuliskan kalimat tersebut. Tapi tak apalah, toh, quote ini bagus dan sedikit-banyak membawa kebaikan atau setidaknya menyadarkan kita: bahwa bukan tak mungkin, teknologi yang awalnya dibuat untuk memudahkan serta mencerdaskan kita, berpotensi juga membuat kita bodoh. Karena candu akan gadget, tak lihai menjadi makhluk yang hidup di dua dunia sekaligus, tak pandai mengelola terpaan pesan yang deras mengalir dan urung mengulik teknologi, mencari aplikasi yang tepat digunakan sehari-hari.

Oke. Tulisan melantur terlalu jauh sepertinya. Haha. Betapa saya sedang dirubung kekisruhan akibat gadget. Di posting kali ini saya ingin berbagi rekomendasi tentang aplikasi-aplikasi apa yang saya pasang di smart-phone Android saya. Karena merasa sering dibodohi sama si ponsel pintar ini, saya merasa perlu bersiasat. Mencari perangkat-perangkat yang bisa memudahkan saya untuk selamat membagi diri di dunia maya dan dunia nyata.

Teknologi bisa menjadi candu yang membuat kita take no logic. Karena itu kita perlu bersiasat, agar selamat dan tak tersesat. Sikaat:

1. Aviate 


“The intelligent homescreen that simplifies your phone.” itulah Aviate. Aplikasi theme-launcher ini meringkas kecanggihan Android, dan menjernihkan tampilan. Begitu menjajal Aviate berdasarkan rekomendasi Jodi, kawan saya yang seorang programmer, saya merasa Android saya ini jadi lebih ramah pikiran (sejenis ramah lingkungan gitu. :p )


Andaikan saja rajin sedikit lagi, fungsi Aviate ini akan maksimal. Saya belum optimal memanfaatkan fitur penyesuaian susunan aplikasi pendukung berdasarkan lokasi dan waktu. Padahal dengan begitu, saat pagi hari misalnya, aplikasi-aplikasi yang dimunculkan di atas layar utama adalah aplikasi cuaca, email, dan aplikasi News.

Unduh di sini

2. Dropbox


Dropbox adalah survival kit untuk hidup di budaya terus terhubung ini. Karena nyatanya, kita tak hanya perlu terhubung dengan orang, tetapi juga data pribadi kita. Mempunyai dropbox itu sama rasanya seperti memiliki gudang dan agen distribusi di dunia maya. Jadi, ketika kita membuka cabang koneksi di berbagai perangkat, kita bisa dengan mudah mengakses data-data kita. Saya bisa membuat tulisan di laptop lalu membacanya di hape kalau file dokumennya saya save di dropbox. Guna meng-update Instagram misalnya, saya juga sangat memanfaatkan Dropbox: gambar yang ada di laptop saya pindah kan ke Dropbox, setelah ter-sync saya tinggal export gambar itu saja ke hape. Begitu juga sebaliknya, ketika sehabis memotret dari hape, jika ingin mengeditnya di komputer saya tak lagi tranfer data dengan kabel, tetapi dengan upload via Dropbox. 

Asiknya, Dropbox juga memungkinkan sharing folder dengan orang-orang. Sungguh ini membantu saya yang punya beberapa proyek dengan teman. Jadi, folder di dropbox menjadi markas kami. Seluruh file mesti kami taruh di situ biar bisa diakses teman-teman yang lain juga. Menurut saya, Dropbox adalah aplikasi yang paling signifikan fungsinya di era smartphone ini.

unduh di sini

3. Google Keep




Hidup di network society membuat kita banyak menemukan sekaligus mudah kehilangan. Kita bisa banyak menemukan inspirasi, menemukan acara keren yang asik untuk didatangi, dsb. Tapi seperti anak kecil yang terlepas dari orangtuanya di mall, kita juga mudah hilang! Google Keep membantu kita menjaga temuan-temuan penting, serta hal-hal yang perlu kita lakukan. Google Keep adalah pencatat sekaligus pengingat.

Sebenarnya  ada banyak sekali aplikasi to do list dan reminder di Play Store. Namun, Google Keep adalah yang paling cocok. Pertama, tampilannya simpel. Kedua, catatan to do list kita bisa ditempel di layar utama seperti post it. Cara menset reminder atau alarmnya pun mudah sekali. Ketiga, seperti namanya, aplikasi ini membantu kita meng-keep hal-hal penting lainnya di luar to do list, yaitu notes, foto.

Keempat, Google Keep juga tersedia versi desktopnya. Bisa diakses dengan menggunakan Google Chrome Launcher. Tentunya Google Keep juga bisa sync lintas gadget. Ini yang bikin asik, selama ada Google Keep saya mencatat ide-ide atau menuliskan hasil liputan di sini. Menulis di hape, lalu diteruskan di laptop. Semenjak ada Google Keep, saya melupakan Evernote.

unduh versi Chrome-nya di sini dan versi Androidnya di sini 


4. WhatApp Plus



Saya gagap dalam mencerna banyak informasi dalam waktu yang sama. Begitu juga ketika melihat notifikasi pesan WhatsApp yang masuk. Bisa-bisa lebih dari 100 conversation yang diumumkan di status bar.

Keberadaan messenger semacam WhatsApp ini membuat kita menganggap obrolan massal bisa mudah terjadi. Hasilnya, kelompok-kelompok pun sepakat menjadikan groupchat di Whatsapp sebagai tempat nongkrong. Konsekuensinya adalah chat bisa masuk kapan pun, tak mengenal waktu, dan karena anggota grup banyak, maka jumlah chat yang masuk pun sangat banyak. Sebuah distraksi yang absolut.

Saya menyebut WhatsApp + adalah WhatsApp yang manusiawi. Mengapa? Karena memungkinkan untuk menyembunyikan notifikasi pesan, entah itu dari grup atau dari perseorangan. Dengan begitu kita terlindung dari terpaan chat yang tiba-tiba deras. Distraksi bisa berkurang. Jadi, notifikasi yang dimunculkan hanya dari perseorangan. Selama ini saya menganggap chat dari perseorangan lah yang perlu diprioritaskan.

Permasalahan kedua dari WhatsApp adalah adanya jejak informasi kapan kita sedang online dan kapan terakhir kita membuka WhatsApp. Karena itu, tak jarang kita menerima complain “Last seen-nya baru beberapa menit lalu, kok chat saya sejam lalu belum dibales yah.” Atau “tadi udah writing tapi kok nggak ada balesannya sih.”

Padahal kadang kita butuh waktu untuk mencerna pesan yang masuk dan mempertimbangkan apa balasannya. Tak langsung membalasnya. Nah, WhatsApp "biru" ini memungkinkan kita menyembunyikan jejak online dan last seen kita.

WhatsApp + nggak mungkin kalian temui di Play Store, melainkan mesti di unduh dari sini 

5. Pocket



Begitu banyak temuan konten menarik saat kita sedang berselancar di internet atau di media sosial. Saya perlu bersiasat agar temuan penting dari selancar sekilas di internet bisa saya nikmati dengan utuh, tak hanya baca judulnya, lead, atau sekadar skimming.

Pocket adalah jurusnya. Aplikasi ini membuat kita bisa menyimpan konten dari tautan yang kita temui lalu dibaca kemudian ketika sudah senggang dan dengan tampilan lebih menarik. Sebutlah ini aplikasi penampung bookmark di web.

Selain itu, menurut saya membaca konten di Pocket jauh lebih enak dibanding membacanya di web aslinya. Layoutnya bersih, font-nya pun bikin tulisan lebih enak dibaca. Selain itu kita juga bisa membuat kategorisasi konten dengan sistem tag. Dengan begitu saya pun juga menjadikan Pocket sebagai wadah penampung artikel-artikel yang saya suka dari web.

Biar lebih asik, pasang juga extension Pocket di Chrome. Jadi, ketika menemukan konten menarik kita saat browsing via PC atau laptop, kita bisa melanjutkan atau membacanya lagi di ponsel. Waktu sebelum tidur dan saat sedang di perjalanan (kalau naik angkot) adalah waktu yang biasa saya pakai untuk membuka Pocket.

Pocket untuk Chrome bisa diunduh di sini
Pocket untuk Android bisa diunduh di sini

Tentu saya tak hanya menggunkan lima aplikasi ini di Android saya, tapi lima aplikasi ini lah yang paling terasa manfaatnya.




03 April 2014

Penulis yang baik adalah

Penulis yang tulisannya selesai.
Bukan yang sekadar berkata, "Saya suka menulis." atau "Saya punya ide bagus untuk menulis."

-catatan untuk diri

21 Maret 2014

#Artikel - Mata Eropa si Fotografer Pribumi Pertama


Tak butuh waktu lama untuk fotografi datang ke Indonesia. Tak lebih dari dua tahun setelah dipatenkan, Daguerretype—kamera pertama yang diciptakan oleh seorang Perancis, Louis Daguerre—datang ke Indonesia. Seorang Belanda bernama Jurrian Munich-lah yang membawa kamera pertama kali ke tanah Jawa. Saat itu adalah tahun 1840 ketika Munich ditugaskan untuk melakukan pemotretan flora dan peninggalan bersejarah di Hindia Belanda.

Namun, baru setelah dua puluh tahun sejak kedatangannya, kamera baru benar-benar dioperasikan oleh pribumi, yaitu oleh Kassian Cephas, nama yang pastinya sudah kita banyak kenal sebagai fotografer pribumi pertama. Kassian berusia 20an tahun ketika itu. Sebagai salah satu pekerja di kesultanan ia berkesempatan untuk berlatih fotografi kepada jurufoto pemerintah Hindia Belanda yang ditugaskan di kesultanan Yogyakarta, Simon Willem Camerik.

20 Maret 2014

Long Live Print!

Paper is here to stay. Indeed, paper is hard to compete with precisely because it has so many wonderful qualities: it looks beautiful, with many choices of smoothness, brilliance of white, depth of black, and richness of color. It feels luxurious as you turn a page or sense the bite of the granularity as you scribe or sketch. It's amazingly light and protable and an excellent storage medium. It even smells good--don't you enjoy the smell of new paper and fresh ink as you browse the bookstore? 
Bill Moggridge - Designing Media  
Persis seperti yang saya rasakan ketika menikmati kartu pos yang dikirimkan kawan-kawan.

Persis seperti yang saya rasakan ketika pergi ke percetakan, memilih-milih kertas yang sangat beragam sekali kontur, ketebalan, rasa sentuh, daya serap tinta dan hasil cetaknya, lalu melihat operator mencetak-memotong-menjilid zine hingga akhirnya sampai ke tangan saya.

Saya tak berani berkata bahwa era media cetak tidak akan mati. Yang saya yakin, media cetak akan selalu hidup setidaknya dalam dunia saya.

Saya juga tak berani berkata bahwa penggunaan kertas tidak akan mengurangi jumlah pohon di lingkungan. Yang saya yakin, menggunakan kampanye antikertas untuk mengalihkan media ke elektronik tak membuat media elektronik bisa menjamin kebaikan pada lingkungan.

05 Januari 2014

How Slow Can You Go


Mengapakah kita  manusia ini begitu terobsesi dengan kecepatan? Semua hal selalu ingin disegerakan. Lambat, pelan, dan berhenti serta merta jadi negatif konotasinya.  Beginikah yang diinginkan modernitas? Tak cukuplah semua orang dibuat punya hasrat tanpa batas, pemenuhannya pun mesti juga dibuat ringkas.

Teknologi menjadi anak kesayangan jaman ini. Teknologi dibuat untuk selalu muncul di tengah kerumunan keluhan kita atas hidup dan hasrat kita untuk bercepat-cepat. Lucunya, jaman dan teknologi ini agaknya jadi seperti ayam dan telur. Mana yang duluan lahir dan siapa yang membentuk kehidupan jadi terasa rancu.

We shape our tools, and thereafter our tools shape us.” begitu kalau kata John Culkin, merujuk atas pemikiran koleganya, Marshall McLuhan. 

Manusia mencipta teknologi, kemudian teknologi itu balik menciptakan budaya manusia. Dan kita sama-sama tahu, pencapaian yang selalu ada di tiap teknologi adalah kecepatan. Manusia mencipta kamera untuk mempercepat penggambaran realitas yang sebelumnya harus dilukis. Manusia mencipta kereta, mobil, dan pesawat untuk mempercepat perjalanan. Meringkas jarak. Manusia menciptakan media, ponsel, internet untuk mempercepat proses kita untuk mempercepat proses komunikasi. 

Ah internet. Rasanya inovasi satu ini yang paling merajai peradaban manusia sekarang ini. Dalam pidato kebudayaan yang digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta, Karlina Supeli sebagai pembicara juga menyinggung soal budaya internet hari ini. Saya sungguh tertohok membacanya. Rasanya, beliau menuliskan bagian itu merujuk ke saya seorang. Menurutnya, budaya dari teknologi digital yang ditandai dengan hasrat untuk selalu cepat-cepat terhubung--bahkan dengan banyak orang sekaligus--hasrat untuk cepat-cepat berkomentar dan  kecenderungan untuk selalu bercepat-cepat berbagi rasa, gagasan serta pengalaman itu membawa kita ke situasi paradox.

“Sementara kita kita menyadari bahwa masalah-masalah yang mendera semkain membutuhkan pemikiran yang mendalam, kita menciptakan budaya berkomunikasi yang justru mengurangi waktu kita untuk berpikir tanpa tersela. Di bawah godaan untuk bersegera melontar komentar,  kita tidak lagi punya cukup waktu untuk memikirkan problem-problem yang rumit,” begitulah yang diucapkan beliau.
          
Dalam 15 menit saja, kita bisa kedapatan lebih dari 100 angka notifikasi pesan masuk di ponsel. Entah itu dari Groupchat, Akun email yang pastinya tak hanya satu yang kita daftarkan, serta aplikasi-aplikasi sosial media yang selalu menggedik kita tiap kali ada update yang tak jarang remeh. Kita tak ingin ketinggalan, kita ingin tahu banyak tapi apa yang akhirnya terjadi? saya tak tahu apakah kalian merasakan hal yang sama, tetapi saya sering kali merasa bingung harus mendahulukan pesan yang mana, pesan saya baca seadanya dan saya respon hanya dengan kepekaan atau insting, tak jarang tanpa pemikiran yang mendalam. Kita jadi patuh terhadap notifikasi., Yang nyata--yang sedang saya kerjakan--bisa dijeda tiap kali ada pesan maya alias digital.  Kita kebanjiran pesan, baru saja kita membaca berita tentang kecelakaan kereta sekian detik kemudian rasa iba kita digantikan tawa setelah tweet akun lawak berada di atas tweet berita kecelakaan kereta tersebut.  

“Hasrat untuk segera berkomentar atau menyimak komentar orang lain tentang kita,” lanjut beliau, “menjadikan kita mahkluk yang pauseable, bisa dijeda, seperti tape atau video recorder.” Ah, dampak yang menurut saya mengenaskan yang saya rasakan adalah saya juga jadi mudah meladeni hasrat yang baru tebersit, persis seperti ketika saya  sedang membaca artikel di internet dan menemukan link lalu saya mengklik open in new tab. Ada begitu banyak bookmark dalam pikiran saya dan kesemuanya belum habis saya cerna isinya. Kebiasaan multitasking dan sulit fokus ini pun membuat saya senang memilih pekerjaan keenam ketika saya memiliki lima pekerjaan yang perlu diselesaikan.

Belum lagi soal karier dan pencapaian hidup. Saya merasa selalu diburu-buru sekali oleh sesuatu yang kadang ilusif. Saya yang baru memulai karier ini mudah sekali gelisah. Apalagi sekarang ini kita seperti diharuskan untuk memajang perkembangan hidupnya di linimasa sosialmedia (baca: di linimasa pikiran orang lain). "astaga, dia udah naik lagi jabatannya.", "dia ganti kamera lagi yah?", "wah, dia setahun ini udah jalan-jalan ke luar negeri berapa kali yah? asik bener." "Keren, tulisan dia udah di muat di media besar. Gue kapan?","Tahun ini gue harus bisa nyicil mobil, tahun depan cari-cari rumah sambil hunting gedung untuk resepsi." Apapun caption yang menyertainya, setiap cerita itu kadang senada bunyinya, "my life is better than yours. Go get it too. Quickly" Selanjutnya kita akan menjadi iri, merasa harus buru-buru mencapai hidup yang sama dengan temen-teman kita itu. Kita jadi ingin punya rumput yang setidaknya setara hijaunya dengan rumput tetangga padahal awalnya kita ingin membuat kolam berenang di halaman rumah kita. 

si kapitalisme juga ikut-ikutan mendukung pencapain kolektif kita itu. Dia selalu datang sok jadi pahlawan. Kita mau apa? pengen cepet-cepet punya smartphone yang bisa membuat hidup terasa indah dan mudah? ada program cicilan 0 %. Pengin punya rumah sendiri tapi nggak kuat bayar DPnya? Pantengin terus aja billboard-billboard di pinggir jalan, dia bakal ngasih buaian beli tanpa DP, atau cicilan 1 juta tapi bertahun-tahun. Apalagi? Pengin memakai baju-baju trendi merk global tapi ? semangat enterpreneur sudah disusupkan ke anak-anak muda yang ngaku kreatif nasionalis. Nilai-nilai nasionalis dan dukungan terhadap produk lokal bisa membuat kita mengabaikan harga produknya yang padahal sama aja kayak produk internasional.  Pokoknya apapun yang kita inginkan? kapitalisme akan selalu membantu kita untuk bisa memilikinya dengan cepat. Dia juga membantu kita untuk merencanakan keuangan kita. Betapa seringnya di saat tanggal gajian datang yang terpikirkan oleh kita adalah menyisihkan uang untuk berbelanja.  Hasilnya, jadi banyak sekali yang ingin kita capai. Hasrat terus memiliki kadang membuat kita lupa apa yang sebenarnya kita butuhkan. 

Time is money. Karena uang adalah pencapaian utama kita, dan uang pun menjadi alat untuk mendapatkan pencapaian-pencapaian lainnya kita juga jadi percaya dengan petuah itu. Kita harus bisa bekerja cepat. Media-media menargetkan  tiap wartawannya untuk mendapatkan minimal tujuh berita, agensi iklan mendorong tim kreatifnya untuk bisa menyelesaikan naskah iklan dalam satu malam dan besok paginya sudah bisa di-pitching lagi ke klien. Penerbit mendorong penulisnya untuk bisa menyelesaikan naskah tak lebih dari sebulan. Semua dilakukan agar kita semakin banyak mendapat uang dan tidak kalah cepat dengan pesaing. Padahal kita sama-sama tahulah bagaimana hasilnya pekerjaan yang dibuat buru-buru.

Betapa gagapnya saya menghadapi hidup bercepat-cepat ini, ternyata. 2013 saya terlambat karena ingin bercepat-cepat. tak ada salah seharusnya soal kecepatan asalkan kita punya kapasitas mesin yang kuat dan sabuk pengaman yang ketat. Nyatanya, saya masih gagap menghadapi hidup yang bercepat-cepat ini. Banyak yang terlambat saya dapat di 2013 karena saya ingin bercepat-cepat. Saya seperti pendaki yang  kalau sekadar yang penting cepat pencapai puncak lalu turun lagi tanpa mengkhayati pemandangannya dan menikmati obrolan-obrolan bersama kawan lainnya. 

Kepada tahun 2014 ini saya ingin membisikkan tantangan dalam berrevolusi "how slow you can go?"

25 November 2013

Perihal Kreatifitas

"Kreatifitas itu sederhana, keinginan menjadi kerenlah yang membuatnya menjadi rumit," Pidi Baiq

Saya sebal menghadapi kenyataan bahwa  kreatifitas itu menjadi sia-sia kalau kita tak punya kemampuan manajemen dan apalah itu yang disebut sense of bussiness. Katanya, hasil kreasi kita akan nggak akan bisa bertahan lama kalau nggak dilengkapi dengan dua unsur itu.

Saya juga sebal sama tren start up, yang selalu mengajak semua orang untuk jadi pengusaha. Segala bentuk kreatifitas itu harus menjadi bisnis, harus bisa mendapatkan iklan, menggaet investor dan harus bersaing dengan usaha yang lain.Kita harus bisa membuat orang mengeluarkan uang untuk kita. Dan tak dipedulikan apalah jadinya kalau semua orang jadi pengusaha, tak ada yang ingin jadi pekerja biasa. 

Terus, saya juga sebal mengetahui bahwa kreatif dan nyeni itu punya kecenderungan yang beda. Kreatif berarti ide kita komersil, nyeni berarti ide kita nyeleneh, personal sekali dan cenderung butuh usaha lebih untuk dimengerti. Padahal keduanya merupakan bentuk gagasan, hasrat untuk berekspresi, dan daya untuk mencipta.

Apapula itu creativepreneur? kenapa tiba-tiba pelaku kreatif seolah harus mengubah identitasnya menjadi itu? biar lebih profesional? biar terlihat punya motivasi kuat di bidang bisnis? biar keren kalau ditanya sama mamah-papahnya?. 

Siapa pula itu yang membuat seolah-olah orang-orang kreatif yang tak pandai bicara, tak lihai presentasi di depan umum, selalu gugup jika ditanya orang yang tak diakrabi, tidak bisa berhasil? 

dan yang paling menyebalkan adalah ketika kini, saya merasa perlu mempelajari hal-hal yang saya sebali itu untuk melengkapi kreatifitas.

Yasudahlah. 

24 Juni 2013

#6 Menceritakan Cita-Cita


“Dengerin nih, Ki, gue punya cita-cita. Gue pengin pergi ke Amerika.” 

Walau sudah terjadi setahun lalu, tepatnya April 2012, percakapan saya dengan Lodra, seorang kawan, itu masih saya ingat. Saat itu sudah cukup lama kami tak berjumpa. Kalau nggak salah ingat, itu adalah pertemuan pertama kami setelah Lodra lulus kuliah dan lanjut kerja jadi wartawan. 

Lodra punya cita-cita untuk hengkang ke Amerika. Kebetulan ia punya famili di sana. Nantinya, ia berencana melanjutkan sekolah dan menjajal pengalaman bekerja. Alasan kecil lainnya adalah Lodra pengin belajar bahasa Inggris. Dia yakin, satu-satunya cara agar kita bisa fasih lahir batin untuk berkomunikasi dengan bahasa internasional itu adalah dengan tinggal menetap di negara menggunakan bahasa tersebut. 

Saya menyimak dengan seksama “wasiat” Lodra tersebut. Bukan hanya tentang apa yang dicita-citakan Lodra, melainkan juga bagaimana ia menceritakannya.  Seperti biasa, Lodra bercerita dengan santai, topik pembicaraannya memang tinggi, tapi intonasi suaranya tenang. Ia berusaha untuk tetap merendah. 

Saya lupa, entah karena saya memintanya atau atas kesadarannya sendiri, Lodra pun menjelaskan kenapa ia memilih untuk menceritakan cita-citanya itu.

“Nyeritain cita-cita kita itu bikin kita ingat terus sama cita-cita kita itu. Selain itu, semakin banyak yang tau cita-cita kita, semakin banyak yang doain.” Kira-kira begitulah penjelasan Lodra. 

Selang berapa bulan sejak percakapan dengan Lodra itu, saya berkenalan dengan Fertina. Di obrolan panjang pertama kami, Fertina menanyakan apa cita-cita saya. Dengan cukup kewalahan saya menjawab. Hahaha. Ternyata, saking banyak maunya saya jadi bingung apa yang saya cita-citakan.  Bagaimana pun juga, akhirnya saya jawab pertanyaan Fertina itu. 

Agar obrolan lebih interaktif, saya balik bertanya. Pastinya, sebagaimana orang yang bertanya lainnya, Fertina sepertinya sudah menyiapkan jawaban. Dengan mantap dia menjawab, “Gue punya cita-cita yang pengin gue wujudin setelah gue lulus kuliah, sebelum mulai kerja.”

“Ya apa tuh cita-citanya?” 

“Cukup gue sama Tuhan yang tahu. Hahaha” 

Walau cukup gondok tapi saya menghargai jawabannya. Saya yakin, cita-cita itu adalah cita-cita yang besar untuknya. Dan mungkin terlalu besar untuk bisa diceritakan. Untungnya, obrolan panjang itu jadi bibit yang hingga kini selalu membuahkan obrolan-obrolan baru yang seru. Saya pun banyak mengulik Fertina, termasuk sikapnya terhadap cita-cita itu. Suatu kali, saya bertanya apa alasannya urung menceritakan cita-citanya. 

“Gue nggak pengin gue udah diceritain, tapi cita-cita gue itu malah nggak terwujud. Kalau udah cerita, dan gue gagal meraihnya bebannya makin terasa.” Bisa jadi, Fertina adalah penganut teori talk less do more. 

Baik pendapat Lodra ataupun Fertina sama-sama selalu saya ingat, selalu saya pikirkan dan selalu saya jadikan bahan pertimbangan untuk memilih sikap. Kedua pendapat itu berlawanan, tapi keduanya ada benarnya. Tak ada yang salah malah. Lodra menceritakan cita-citanya sebelum ia meraihnya, sementara Fertina akan menceritakan apa cita-citanya ketika ia sudah mencapainya. Alasan kedua pendapat itu sama, agar memotivasi diri mereka untuk giat mewujudkannya. 

Sudah sejak kecil, kita diajarkan untuk punya cita-cita. Tiap kali berjumpa dengan kerabatnya orangtua misalnya, tak jarang hal yang mereka tanyakan setelah nama adalah cita-cita. “Kalau sudah besar pengin jadi apa?” Orangtua kita pun selalu jadi perantara. Segala jenis nama profesi yang punya prospek baik dan bergengsi jadi pilihannya. Saya ingat, saat kecil, orangtua saya memilihkan jawaban ABRI  sebagai cita-cita saya. Saat itu, ya pasti saya nggak tahu persis apa itu ABRI, bagaimana pekerjaannya, dan apa keuntungannya. Yang jelas, punya cita-cita membuat saya merasa hebat, bikin saya mudah mengenalkan diri. “Saya adalah Rizki yang cita-citanya mau jadi ABRI.” Berbeda dengan (mungkin) Rizki yang lain. 

Cita-cita adalah harta karun yang kita buat sendiri, yang kita taruh bukan di langit, melainkan di dalam kehidupan kita sendiri. Sebagaimana harta karun, cita-cita akan membuat begitu berharga, layak untuk diperjuangan dan sayang untuk disiaka-siakan.  Saya menyimpulkan, bagaimanapun caranya, cita-cita memang perlu diceritakan, setidaknya kepada diri kita sendiri, agar kita selalu ingat dan selalu yakin kalau kita punya sesuatu yang sangat berharga dalam diri kita dan kita akan meraihnya. 

Minggu lalu saya bercakap-cakap lagi dengan Lodra, membicarakan lagi tentang cita-cita. Di sela-sela percakapan, saya berkata kepadanya, “jangan cerita-cerita dulu ke teman-teman ya, Dar. Biar gue aja yang cerita sendiri.” 

Dan kali ini cita-cita saya dan Lodra sama. Beberapa hari ke belakang kami bantu membantu mempelajari peta. Beberapa hari ke depan, kami, secara terpisah, akan melakukan perjalanan. Menyusuri dua ratus macam persoalan untuk mencapai cita-cita kami itu. 

Doakan 

© blogrr
Maira Gall