Friday, December 16

Same Street Different Way


Haha. Melihat gambar denah yang saya lampirkan pasti kalian udah bisa nebak saya mau cerita soal apa. Ya, Rabu minggu lalu, 7 November 2011, saya mempunyai sebuah pengalaman yang sedikit absurd.Saya memang sering nyasar dalam menuju ke suatu tempat. Tapi kali ini berbeda rasanya, saya sepenuhnya merasa jalan yang saya lalui benar, tapi tata letak ruang mengecoh saya.

Hari itu sebelum datang ke kantor saya menyempatkan diri untuk mampir ke Harco Manggadua. Tempat servis resmi laptop Dell adalah tujuan utama saya. Karena saya tidak mau menyita banyak waktu, sebelum saya berangkat saya menghapal alamat tempatnya sekenanya dan mencatat nomor telpon tempat tujuan.

Singkat cerita sampailah saya di Harco Mangga Dua. Tanpa basa-basi, saya pun menelpon tempat servis itu. Dan di sini lah semua peristiwa super absurd itu berlangsung.

Sunday, December 11

Parkour: Seni Gerak Yang Kaya Nilai


Far magazine edisi 16, Desember 2011

Berawal dari ikut ayahnya yang seorang pemadam kebakaran latihan melewati halang rintang, David Belle kemudian mengaplikasikan teknik-teknik tersebut di lingkungan sehari-hari di Prancis sana. Dari situ lah, Parkour sebagai seni berpindah tempat yang mengutamakan efisiensi dan efektifitas berkembang. Hingga kini, disiplin ini sudah ditularkan nyaris ke semua negara, termasuk di Indonesia. 
Parkour mulai dikenal Indonesia mulai masuk di tahun 2007. Di tahun pertamanya Malang, Bandung, Yogya, Surabaya dan Jakarta menjadi lima kota pertama yang mulai menggeluti kegiatan Parkour ini. Melalui obrol-obrol lewat forum di dunia maya akhirnya mereka bersatu membentuk Parkour Indonesia. Dari situ lah 17 Juli 2007 pun dimantapkan sebagai hari jadi Parkour Indonesia. Kini, nyaris disetiap kota-kota besar di Indonesia memiliki organisasi parkournya.   

Di Jakarta sendiri, komunitas Parkour-nya dimulai oleh segelintir orang saja. Di antaranya  adalah Fadli dan Daniel. Dari segelintir orang tersebut, kini mereka sudah menarik peminat lebih banyak. Menurut pendataan yang dilakukan pada Mei kemarin, ada sekitar 60 anggota tetap yang tergabung. Kalau dihitung jumlah orang ikut berlatih, Daniel menyatakan jumlahnya bisa lebih dari seribu orang. Menariknya lagi, para anggota ini tidak dibatasi umur dan jenis kelaminnya. Bahkan anak kelas 1 SD pun pernah gabung latihan. 

Ironi Kondisi Pangan di Tanah Surga.

Far Magazine edisi 16, Desember 2011


Di tahun 70-an Koes Plus menciptakan lagu Kolam Susu. Sebuah lagu manis yang bercerita tentang kemakmuran Tanah Air Indonesia. “Orang bilang tanah kita tanah Surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman,” begitulah salah satu bait liriknya. Kini, 30 tahun setelahnya, saya mendengarkan lagu itu. Masih manis terdengar memang, namun, jika bait-bait liriknya  saya hubungkan dengan situasi sekarang kok seperti ada yang mengganjal. Sebutan sebagai negara agraris sepertinya belum lepas dari Indonesia, tapi mengapa isu-isu tentang kelaparan, kekurangan gizi dan kemiskin selalu ramai menjadi berita?

Ketika saya menuliskan ini, belum genap sebulan kita menyudahi bulan Ramadhan. Tak ayal jika nuansa serta memorinya masih lengket hinggap di kesaharian kita. Isu kuliner seolah menjadi selebritis yang kerap dibicarakandi bulan yang katanya penuh berkah itu. Dari mulai makanan sahur, kolak untuk buka puasa, sirup rasa buah, kue lebaran, opor ayam, hingga beras untuk zakat kerap bulak-balik dalam pikiran. Sejumlah ritual makan bersama pun tidak pernah luput mewarnai gaya hidup kita masyarakat perkotaan. Makanan menjadi medium untuk kita berkumpul mengatasnamakan silaturahmi. Buka puasa bersama di restoran mewah, acara sahur on the road, hingga open house  saat lebaran. 

Tuesday, December 6

Indonesia Meleleh





The Proses adalah satu dari empat karya Aditya Novali yang tergabung dalam seri Identifiying Indonesia. Karya ini berupa peta Indonesia yang dibentuk dari logam ditampilkan pada sebuah kotak. Awalnya, di sekujur tubuh Indonesia di situ dibalut oleh lilin merah. Para pengunjung tidak akan menerka bahwa karya ini spesial sampai akhirnya lilin merah itu luntur secara perlahan. Ternyata permukaan 'tubuh' Indonesia itu dipanaskan oleh aliran listrik. Tetes demi tetes lilin meleleh. Ya, Indonesia meleleh. Warna merah yang kita anggap sebagai lambang dari keberanian luntur perlahan dari tubuh negeri ini. Keberanian Indonesia meleleh, tidak kuat  menahan sengatan-sengatan elektris persoalan bangsa yang kian memanas. Ah, semoga kita tidak benar-benar menyerah.

Tuesday, November 29

Selamat Ulangtahun Pak Raden

"Terima kasih untuk ucapannya. Saya tersanjung. Terharu karena masih ada yang ingat sama saya," Ucap Bapak itu kepada kerabatnya lewat telepon. Mendengar ucapan itu, saya pun ikut terharu. Bagaimana tidak, orang yang pada dekade 90an menjadi idola anak-anak seantero Indonesia kini harus merasa tidak banyak yang mengingatnya. Walau saya sadar ungkapan itu hanyalah buah dari pribadinya yang low profile, tapi saya jadi tersentuh, saya malu, saya  termasuk orang yang melupakannya

Dulu, tiap Minggu pagi, program TV gubahannya menjadi tontonan nomor satu yang paling dinanti-nanti tiap anak. Aksi mendongeng sambil menggambarnya pun selalu sukses menyirap perhatian kami, para anak-anak di era 80' dan 90an. Ya, beliau adalah sosok yang selalu tampil dengan kumis tebal, blankon, busana beskap lengkap dan suara berat. Beliau adalah orang dibalik kisah kehidupan yang asri dari Unyil, Usro, Cuplis, Pa Ogah,  dll.  Beliau adalah Drs. Suyadi atau lebih kita kenal dengan nama panggungnya, Pak Raden. 

Friday, November 18

Mencari Ulang Esensi Berkomunikasi Lewat Kartu Pos


Kehadiran media sosial di dekade ini membawa perubahan yang sungguh signifikan pada kehidupan kita. Selayaknya bedol desa, kita semua bertransmigrasi ke dunia maya. Hehe,  nggak sepenuhnya pindah sih,  tapi kita selalu menyempatkan diri  untuk berada di media sosial yang maya itu. Kita seolah menggandakan diri.

Tahun demi tahun kita lewati dengan cara baru bersosialisasi ini. Pak De Marshall McLuhhan, seorang pakar komunikasi, pernah berkata lewat bukunya yang nggak usah kalian tahu lah apa judulnya, saya juga lupa. “Manusia mencipta alat (teknologi), lalu alat itu balik mencipta manusia,”. Awalnya, manusia mencipta media-media sosial ini tapi coba lihat sekarang, yang terjadi adalah media-media sosial itu lah yang membentuk gaya hidup baru manusia.

Konsep telepati antar dua orang yang bagi masyarakat dekade-dekade silam hanya imajinasi, kini nyaris terwujud. 144 karakter status di Twitter seolah menjadi perpanjangan suara hati dan pikiran kita. Bahkan reseptornya bukan hitungan individu lagi melainkan massal. Kita mambawa privasi ke ranah publik. Banyak orang bisa mengetahui apa yang sedang kita pikirkan, dimana kita sedang berada dan apa yang kita sedang lakukan. Pertanyaan-pertanyaan “Hai, kamu lagi apa, dimana sama siapa?” menjadi pertanyaan yang harus dihindari, karena mungkin saja si lawan bicara menjawab “Kan aku udah update di Twitter, pliis deh, kamu nggakfollow aku yah.. Huh dasar, nggak perhatian!”


Friday, October 21

Idola





Halah, sampe bingung gini mau mulai ceritanya dari mana. Pokoknya ini lah dia, tokoh fotografi Indonesia idola saya, Firman Ichsan. Dia adalah penulis dan pegiat kajian fotografi serta kurator foto. Kini beliau menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta. Tadi saya bertemu dengan dia di Galeri Salihara dalam acara pembukaan sekaligus launching buku Indonesia: A Suprise. 

Walau nggak banyak, saya cukup senang baca tulisan dia yang tentang fotografi, dari mulai artikel atau esai sampai catatan kuratorial atau kata pengantar buku fotografi. Bahasa yang digunakan ramah dan tidak ngejelimet.  Pun kajiannya selalu kaya dan edukatif

Singkat cerita, saya nekat minta tolong teman untuk memfoto saya dan dia. Saya menyalami tangannya, sambil menyapa "Permisi Pak, saya boleh foto bareng nggak, saya suka baca tulisan-tulisan Bapak," Sebenernya prosesi foto itu saya jadikan sebagai teaser aja. Intinya mah saya mau coba ngobrol-ngobrol sama dia.

Thursday, October 20

Ke Bandung Ku Kan Kembali

Kunjungan terakhir saya ke Bandung pada awal Oktober kemarin mengoleh-olehkan sebuah pikiran yang selalu saja minta diladenin: Saya mau tinggal di Bandung lagi! Pokoknya, entah ini cuma lagi labil aja atau beneran kepingin,  sekarang ini saya sering merencanakan untuk tinggal di Bandung lagi. .. 

Saya banyak menemukan hal-hal yang menarik di Bandung. Bandung nggak terlalu luas kayak Jakarta. Asal tempat tinggal kita tepat, maka ke mana-mana jadi gampang. Pun lalu lintasnya nggak terlalu macet. Angkutan umum masih menjadi pilihan banyak penduduk. Udaranya yang adem juga jadi salah satu faktor utama yang menarik saya. Saya percaya salah satu faktor yang mempengaruhi termperatur emosi kita adalah iklim lingkungannya. haha. Liat aja tuh di Jakarta, orang-orang di Jalanan pada nyureng-nyureng semua matanya karena kepanasan, udah gitu, udara panas bikin semua orang jadi ngeluh mulu. Fiuh.

Ke Bandung Ku Kembali




Wednesday, October 19

Keisengan Tuhan

Tuhan memang suka iseng. Entah kenapa. Mentang-mentang Dia Tuhan. Dia bisa melakukan segalanya, bisa mengetahui segalanya, dan Dia adalah penguasa alam ini, Dia adalah entitas yang Maha paling deh pokoknya. Jadi, kalau pun Dia iseng, keisengan itu nggak bisa disebut sebagai kesalahan. Itu adalah hak Tuhan yang paling istimewa.

Tuhan memang iseng. Apalagi Dia punya malaikat yang bisa diutus ke bumi dengan wujud apa pun. Dia menyuruh kita beriman kepadaNya, walau Dia Maha Gaib. termasuk mengimani bahwa apa pun hal pemberianNya adalah selalu berujung berkah.

Salah satu keisengan Tuhan ialah Dia sering sekali mengirimi kita bingkisan yang misterius. Pun mendadak. Malaikat yang mewujud dalam bentuk keseharian kita diutus menjadi aktor-aktor yang memainkan skenarioNya dalam proses penerimaan bingkisan itu.

Sunday, October 9

Berkecamuk dalam Tenang

Ada suatu waktu ketika kita merasa diri sudah terlalu penuh. Perasaan gundah imbas perjalanan aktivitas sehari-hari, pikiran tentang misteri masa depan, serta hal-hal kalut lainnya bertumpuk, berjejal di dalam. Ketika saat itu datang maka hal yang paling tepat untuk dilakukan adalah membuka ruang untuk dunia luar. Membersihkan ventilasi pikiran yang sudah terlalu berdebu, sehingga respirasi udara menjadi lancar adanya. Atau sekalian kita berlari berhamburan keluar. 

Melalui EP yang bertajuk Room For The Outside ini, Lipstik Lipsing menawarkan pertunjukan musikal yang siap membuat penontonnya tenang sekaligus berkecamuk. Sebuah ironi dalam penyembuhan diri.  Menutup mata sepertinya akan menjadi pilihan selain memasang pandangan kosong, membiarkan diri hidup dalam dunia di dalam alam pikiran. Gelap namun bisa saja penuh warna, tergantung bagaimana imajinasi.

Wednesday, October 5

Galau Berjamaah bersama Polyester Embassy

Malam minggu pertama milik bulan Oktober (1/10) didaulat sebagai hari bagi para jemaah Polyester Embassy untuk bersenandung bersama di Dago Tea House, Bandung dalam acara konser tunggal mereka yang diberi tajuk “Silent Yellow Ensemble”.


Kereta Api Indonesia: Melaju (Pelan) Melintasi Zaman

Far magazine edisi 15, Oktober 2011


Alat Transportasi sepanjang masa. Sepertinya istilah itu cocok diberikan kepada kereta api. Bagaimana tidak, kereta api bukan saja memobilasi manusia dan barang, tetapi juga membawa peradabadan bangsa. Begitu banyak sejarah dan kenangan yang tersimpan di setiap lajunya. Awalnya, kereta api menjadi alat transportasi yang utama masyarakat Indonesia, namun kini, lajunya pelan. Dibanding transportasi darat lainnya, kereta api dianaktirikan. 

Dari penjajah untuk penjajah.

Penemuan kereta api terjadi di awal tahun 1815, di Inggris. Penemuan mesin uap oleh James Watt lah yang mendasari terciptanya kereta api ini. 30 tahun setelah itu, barulah kereta api masuk ke Indonesia. Pembangunan kereta api di Indonesia adalah cikal bakal pemerintah Hindia Belanda.   Adalah Kolonel Jhr. Van Der Wijk, orang pertama yang mengusulkan gagasan ini di tahun 15 Agustus 1840. Tentu saja, motif awalnya adalah untuk kepentingan penjajahan. Saat itu Belanda menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel), sehingga hasil bumi semakin meningkat.  Kereta akan menjadi solusi bagi Belanda untuk mengangkut hasil bumi tersebut ke pelabuhan untuk kemudian di ekspor ke Eropa. Selain itu, kereta api membawa keuntungan di bidang pertahanan. 

Wednesday, September 21

“Tunjukkan Lah Saya Jalan Yang Seru!”

Ini sangat sering terjadi. Saya kesasar di perjalanan. Tapi ada beberapa hal sih yang menyebabkan semua ini bisa terjadi. Pertama, karena memang saya ingin mencoba jalan baru. Kedua karena tidak sengaja. Yang sering terjadi adalah gabungan dari keduanya, saya memilih untuk mencoba jalan baru lalu tidak sengaja tersasar. haha. 

Sebelumnya, perlu dicatat juga kalau sebenarnya memori saya tentang rute ke tempat-tempat yang jarang saya kunjungi memang rada payah. Apalagi untuk menuju tempat-tempat di kawasan yang memiliki suasana yang nyaris sama di setiap jalannya. Daerah Menteng dan daerah Pasar Baru, Bandung, misalnya. Ditambah lagi kalau tempat yang saya tuju itu berada di jalan satu arah. Beuh. Hampir selalu pasti, saya butuh satu-dua kali untuk muter-muter. Menuju ke Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, contohnya. Walau saya sudah beberapa kali ke situ sejak SMA. Sampai sekarang saya nggak pernah menuju ke situ dengan jalan yang sama. Selalu beda-beda karena lupa.  haha… 

Friday, September 16

Plat Nomor dan Kepedulian

Ada hal yang sedikit berbeda dengan perjalanan pergi-pulang kantor dua hari ini. Beberapa kali ada pengendara motor  yang menyapa saya. Kami tidak saling mengenal. Dia hanyalah orang yang sempat berada di belakang saya. Lalu, entah memang sengaja mengejar menghampiri saya atau memang dia jalan lebih cepat, pokoknya si pengendara motor itu menyapa saya. Dan siapa lah yang tidak senang kalau ada yang menyapa di jalan. 

Awalnya saya kaget, apalagi orang yang pertama menyapa saya cukup terburu-buru, dia menyapa dengan bahasa tangan, pun sambil nyalip saya. Jadi saya nggak ngerti maksud sapaan dia. Beberapa kilometer setelah sapaan pertama, ada satu lagi pengendara motor yang menghampiri saya. Kali ini dia lebih jelas, saya pun jadi tahu gerangan apa yang membuat orang tadi menyapa saya, yaitu plat nomor belakang motor saya sudah mau lepas dari tempatnya. Bautnya yang seharusnya ada dua tinggal satu. Jadilah ia seperti tubuh yang bergelantung di tebing dengan hanya satu tangan.

Tapi untungnya saya tahu kalau ternyata si baut yang satunya lagi itu cukup kencang, jadi saya anggap dia bisa mempertahankan plat motor itu. Ditambah rasa malas untuk mencarikan baut, saya pun membiarkan keadaan itu. Bahkan sampai dua hari. Dasar Rizki..

Thursday, September 15

PuiSkip

Bener-bener gatau mau ngapain.
Bener-bener udah seharian, dua harian bahkan.
Udah dijabarkan semua jadwal, tetep aja kelabakan.

“Mana dulu”,
“yang ini dulu saja, sepertinya menarik.”,
“oke.”
“mm, ga deh, yang ini aja dulu, sebentar kok.”

Lalu lupa, lupa yang berlarut-larut.
Berlarut-larut dalam lupa.

“Oh iya, tadi kan lagi itu”
“mmm oke, lanjut”
“Setel lagu ini dulu ah”

Lagu sendu, lagu rindu, lagu bingar, lagu liar, lagu riang, lagu hampa.


Lagu berlalu-lalu, lalu berlagu-lagu, hingga lupa waktu, hingga waktu berlalu.

Sedikit teriakan kecil, Sedikit termenung, sedikit bingung.

Pergi kecewa, kecewa lalu pergi, pergi berlalu, lari keluar pintu.

Padahal tadi lagi itu, tiba-tiba mau ini diitukan, yang begini mau dibegitukan, yang disini mau dikesanakan, diseperti inikan. Jadilah semua dikesampingkan.

Bener-bener ga tau mau ngapain.
Bener-bener udah seharian, dua harian bahkan.
Udah dijabarkan semua penyesalan, tetap aja GA TAU MAU NGAPAIN.

Thursday, September 8

Mengusut Dunia Absurd @Rindut

Perkenalkan, ini dia salah satu akun twitter favorit saya, @Rindut. Ah, untung saja kamu itu akun twitter bukan akun tansi atau akun punktur. Jadi saya semakin suka. Pokoknya ni yah, hampir tiap kali papasan sama @rindut di timeline, saya berhenti sejenak, trus menyempatkan diri untuk mampir ke halaman profilnya, membaca twit-twitnya dan kadang tanpa disangka saya sudah sampe ke halaman 17 (versi m..tweete.net). Haha.

   Saya yakin saya bukan lah satu-satunya orang yang suka ngakak tapi bingung mau ngakak gaya apa, ketika membaca twit-twit dari si kakak pemilik nama asli Rina Dwi Utami ini. Twit-twitnya kak @Rindut ini apa adanya banget, saya sedikit curiga kalau-kalau dia punya alat penghubung antara twitter dan suara hati.

Selain itu, membaca twit @rindut ini, kita akan merasa seperti sedang ngobrol hadap-hadapan, batas-batas antara dunia maya dan nyata jadi bias, dia seolah nyata di dunia maya. Apalagi di beberapa twit dia sering mengakhirinya dengan sebuah tanda keterangan misalnya, *matiin mic turun panggung, atau *joget di koridor. Membacanya, kita pasti membayangkan Rindut seolah hidup dan bergerak-gerak di dalam linimasa twitter itu. Pokoknya baca twitnya dia sekaligus kita diajak ber-theater of mind. Haha..

Dan walau pun followernya sudah segambreng, dia tetep aja lah begitu. Tetep menjadi apa adanya. Menceritakan keseharian dengan caranya sendiri dengan cara yang sederhana. Tapi liat hasilnya, banyak orang yang ikut menikmatinya.

Ah, betapa kita terlalu susah payah mencoba jadi istimewa padahal menjadi sederhana dan apa adanya itu lebih mengasyikkan. .

 Nah, beruntungnya, email saya dibales sama si kakak ini. Beberapa pertanyaan pun saya ajukan. Haha. Silahkan disimak..


Wednesday, August 31

Lemari Baru

Sudah berapa minggu ini kamar saya di rumah penuh dengan barang –barang pindahan dari kamar kosan. Kamar saya yang berukuran 3,5x 3,5 m ini hanya tersisa ruang kosong seperempatnya saja. Nggak cuma bikin penuh, tapi juga bikin kamar berantakan. Sebutan kapal pecah sepertinya masih kurang, ‘kota sehabis tsunami’ mungkin sedikit lebih tepat untuk mendeskripsikan keadaan di sini. Seperti sampah yang terbawa ombak dan terhempas di pantai, barang-barang di kamar saya berserakan begitu saja.
Saya merasakan jelas sebuah ironi dalam berpindah. Ada duka dan cita yang lengket tidak bisa dipisahkan, seperti dua sisi  uang kepingan. Di satu sisi perpindahan ini adalah sesuatu yang patut dibanggakan,  saya berpindah karena saya telah menyelesaikan satu misi besar. Satu jenjang tantangan hidup sudah saya lewati. Akhir  Mei kemarin, saya diwisuda. Itu artinya dengan resmi saya dinyatakan lulus dari segala macam urusan kuliah.    Misi di bidang akademi selesai. Hmm, setidaknya saya sudah sampai ke tingkatan dasar dan yang paling umum. Saya akhirnya mendapat gelar sarjana. Bapak, ibu, kakak, adik, semua terlihat senang, memberi selamat. Lalu, seperti halnya  sekolah, ketika kita berhasil menyelasaikan suatu tingkat, kita berhak untuk naik kelas. Hore!!

Upacara wisuda tadi itu sekaligus menjadi aba-aba untuk saya segera hengkang dari tanah pasundan (Bandung-Jatinangor tepatnya). Di saat bersamaan, bapak kos juga mengingatkan kalau sewa kos saya jatuh tempo pada Agustus 2011. Semakin tegas lah perpindahan ini pasti terjadi. Tapi tunggu dulu, di antara Mei menuju  Agustus ada 30 hari milik bulan Juni dan 31 hari milik bulan Juli. Saya punya waktu  dua bulan  hingga saya  kamar kos yang sudah saya huni lima tahun itu benar-benar bukan atas nama saya lagi. Oke, saya manfaatkan rentang waktu itu dengan berpuas-puas main di sana, sambil sedikit menyicil pindahan barang. Kata sedikit di sini perlu ditekankan. Karena begitu lah adanya. Sebenarnya bisa saja saya pindahan dalam satu waktu. Tapi saya memilih untuk pelan-pelan saja. Tidak sekaligus semua barang langsung saya bawa ke rumah.

Wednesday, August 3

Permohonan Maaf Untuk Bottlesmoker

Rasanya saya patut sungkem minta ampun sama Indonesia. Pasalnya, setelah sekian lama hidup di sini, banyak karya-karya keren besutan orang indonesia yang baru saya tau. Setelah minggu kemaren saya baru terpesona sama novel  pertama dari tetralogi buruh yang legendaris itu, Boemi Manusia, minggu ini saya dibuat kagum sama duo Angkuy- Nobie di Bottlesmoker.

Berawal dari melihat begitu banyaknya orang yang share info konser tunggalnya via Twitter, saya jadi teringat akan seorang kawan yang menempel stiker Bottlesmoker di laptopnya. Katanya dia suka banget sama Bottlesmoker.

Tidak memakai kelamaan (haha, nggak enak gini ‘nggak pake lama’ ditulis dengan baku), saya pun menelusuri internet, mencari-cari hal yang bisa saya dengar untuk referensi. Lagu Slow-Mo Smile adalah lagu pertama, berputar dengan manisnya di Youtube, garis merah petanda laju streaming yang menari lambat saat itu tidak jadi soal, malah terlihat jadi memukau. Ah, ini lagu saya sekali. Nge-beat tapi slow. Fun!

Temporary Post Used For Theme Detection (56bd5bbc-a04d-4150-8d8b-b85f9575f4d0 - 3bfe001a-32de-4114-a6b4-4005b770f6d7)

This is a temporary post that was not deleted. Please delete this manually. (395d810b-5efa-4285-af4c-60762a6e9112 - 3bfe001a-32de-4114-a6b4-4005b770f6d7)

Wednesday, July 27

Ketika Penderitaan Menjadi Objek Wisata Pehobi Fotografi


Seorang ibu dan anak yang masih balita sedang terduduk di trotoar dengan pakaian yang lusuh tanpa alas kaki. Botol susu dan sebuah tas ada di sekitarnya.  Si anak terlihat sedang asik dengan benda yang dipegangnya, sepertinya sebuah plastik. Ia maju ke tepi trotoar menjauh dari jangkauan ibunya. Sementara sang Ibu mencoba meraihnya. Dalam foto yang berlatar waktu malam ini trotoar ditempati di kanan, mengisi setengah komposisi. Di luar trotoar adalah jalan raya. Terlihat beberapa pasang kaki wanita berjalan di jalan. Juga seorang pengendara motor yang sedang menepi. Mereka berpakaian rapih. Kontras dengan keadaan si Ibu dan anak yang menyedihkan.

Kira-kira begitulah keadaan perkotaan yang dibingkai oleh Prasetyo Utomo dalam fotonya yang diberi judul “Sabar ya nak, sebentar lagi kita dapet duit kok..”.  Sebuah representasi kemiskinan di perkotaan. Foto ini saya temukan di halaman depan situs Fotografer.net, sebuah forum fotografi  yang terbesar di Asia Tenggara. Terpampang di kolom Foto Pilihan Editor hari itu, 27 Juni 2011. Melihat foto ini, saya jadi bertanya-tanya. Mengapa banyak sekali bertebaran foto-foto yang menampilkan kemiskinan, keterpinggiran serta penderitaan manusia? Apakah benar foto dapat membantu mereka yang dipotret? Apakah benar kita bersimpati dengannya? Atau malah sekedar menjadikannya selayaknya objek wisata yang menarik untuk dibagi.

Hobi fotografi ala Fotografer.net

Perkembangan fotografi di Indonesia sangatlah dinamis. Fotografi bukan lagi milik para professional saja. Animo masyarakat meningkat seiring perusahaan kamera besar dunia berlomba-lomba menciptakan inovasi untuk menjadikan kamera bisa digunakan siapa pun dengan cara yang menyenangkan. Alhasil, hobi fotografi pun mulai menjamur di mana-mana. Beriringan dengan itu, komunitas-komunitas fotografi online pun berkembang.

Salah satu komunitas yang cukup fenomenal adalah situs Fotografer.net (FN). FN adalah forum fotografi online yang sudah berdiri sejak 30 Desember 2002. Setiap orang, dari berbagai kalangan dapat mendaftarkan diri menjadi anggota. Baik yang sebatas pehobi hingga yang professional. Hingga tulisan ini dibuat, jumlah anggotanya ialah 158506[i]. Tak ayal, jika FN didaulat sebagai forum fotografi terbesar se-Asia Tenggara.

FN menyediakan forum bagi para pegiat fotografi untuk saling berbagi. Forum diskusi, forum jual beli, dan pastinya galeri. Secara khusus, FN menyediakan galeri dimana para anggotanya bisa mengunggah karya fotografinya untuk kemudian dipamerkan dan diberi penilaian oleh anggota lainnya.

Sebagai forum yang besar tak ayal FN membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap fotografi di Indonesia. Sistem penilaian misalnya, menimbulkan tren di kalangan anggotanya untuk berlomba-lomba mendapatkan nilai tinggi. Administrator pun menyediakan kolom Foto Pilihan Editor. Tiap harinya ditampilkan enam foto yang terbaik pilihan editor. Walau pun sudah menjadi rahasia umum bahwa pemilihan Foto Pilihan Editor merupakan hasil perhitungan matematis yang  sudah terprogram, tetap saja hal ini menjadi sesuatu yang dikejar oleh para anggotanya.

Atas nama apresiasi

Situasi kompetisi ini sekilas memang ada baiknya, tiap orang termotivasi untuk terus meningkatkan kemampuan fotografinya. Namun celakanya justru motif perolehan atensi dan penilaian audiens ini yang lebih diutamakan. Tak jarang ada anggota yang memamerkan foto-foto yang sensasional dan atau dramatis agar mendapat banyak kunjungan. Foto-foto pada kategori manusia (human interest) misalnya, terlihat banyak sekali foto-foto yang menampilkan kemiskinan – entah itu pengemis, anak jalanan, pemulung, kehidupan di pemukiman kumuh – dan penderitaan, foto-foto bencana misalnya. Foto-foto itu memang membuat hati pemirsanya tersentuh. Foto milik Prasetyo Utomo ini adalah satu contohnya,  dan sialnya ini jadi foto pilihan editor.

Miris memang melihat situasi dalam foto itu. Sebuah kontradiksi antara keadaan si ibu dan anak dengan orang-orang yang berlalu lalang di Jalanan. Ibu dan anak itu adalah manusia-manusia yang terpinggirkan. Mereka berada di lingkungan yang serba ada, serba mampu, serba modern. Terlihat jelas bagaimana kesenjangan antara orang-orang berada dengan keadaan ibu dan anak. Mereka, si miskin hanya bisa terpaku meminta belas kasihan, tidak berdaya, sementara orang-orang lain begitu acuh, terus berjalan tanpa menghiraukan.

Tapi apakah mereka benar-benar menderita. Apa jangan-jangan ini adalah hasil dramatisasi sebuah kenyataan. Sebuah cara untuk meraih perhatian massa dengan tampilan foto yang humanis dan (pura-pura) mengerti penderitaan.

Foto dapat dikatakan sebagai sebuah representasi dari realitas. Oleh karena itu, adalah salah jika menganggap apa yang terlihat di foto adalah realitas yang ‘seutuhnya’. Fotografer sangat berperan dalam merepresentasikan realitas. Proses membingkai realitas – memilah potongan ruang dan waktu mana yang akan ditampilkan – lalu proses editing hingga pemberian judul dan caption menjadi unsur-unsur yang ikut menciptakan realitas baru dalam foto. Dalam foto ini, saya melihat bahwa si fotografer  lah yang membuat ibu dan anak itu menjadi menderita. Apalagi dengan judulnya itu. menunjukkan seolah-olah mereka tidak berdaya, tidak bisa mendapatkan uang. Dan hanya bisa terduduk tanpa daya usaha di pinggir trotoar. Kontras dengan mereka yang berlalu lalang di jalanan: aktif dan dinamis.

Jika dilihat dari tampilan fisik si Ibu. Saya menerka ia masih berusia muda. Belum ada kerut di wajahnya. Apalagi jika benar bayi yang ada di dekatnya ialah anaknya, maka ia belum terlalu tua. (Apakah seorang tua masih terpikir untuk memiliki anak? Sepertinya tidak). Jadi bisa diartikan bahwa si ibu itu sebenarnya masih mempunyai daya untuk bekerja yang layak. Bukan mengemis. Mengais rasa belas kasihan orang-orang yang berlalu lalang.

Lalu, bagaimana si fotografer bisa tahu kalau ibu itu sedang mencari uang di jalan seperti yang disebutkan dalam judul. Melihat keterangan pada foto, foto ini diambil dengan kecepatan rana 1/50 dan pada focal length 85mm. Saya tidak yakin dengan waktu sepersekian detik itu si fotografer bisa mengerti benar keadaan subjek dalam foto. Apalagi dengan focal length 85mm, berarti foto ini diambil dari jarak jauh. Tidak ada kedekatan dengan objek foto. Fotografer hanya ‘mencuri’ sepotong waktu lalu di’dandani’ kemudian.  Foto itu jadi terasa sangat dingin dan berjarak.

Kalau pun saya salah, dan ternyata si fotografer sudah melakukan pendekatan terhadap ibu dan anak itu – dengan mengobrol misalnya – tapi mengapa tidak diceritakan barang sedikit. Nama pun tidak ada. Di keterangan foto hanya ditulis keterangan teknis mengenai komposisi serta sapaan kepada para pengunjung foto tersebut.

Mengenai ibu dan anak dalam foto tersebut saya teringat berita-berita mengenai pengemis dan anak bayi. Para pengemis kerap menyewa anak kecil, biasanya balita, untuk diajak mengemis di jalan guna mendongkrak rasa belas kasihan orang-orang, sehingga lebih cepat dan mungkin lebih banyak memberikan uang[ii].

Saya melihat suatu komodifikasi bertingkat di sini. Si ibu dalam foto mengeksploitasi ketidakberdayaan bayi untuk menimbulkan rasa kasihan orang-orang yang lewat di depannya. Kemudian si fotografer menggunakan keadaan ibu dan anak itu untuk menimbulkan simpati para pengunjung forum, sehingga ia dipuji, diberi apresiasi dan bahkan foto ini menjadi foto pilihan editor. Sehingga foto ditampilkan di halaman depan selama sehari penuh. Pastinya hal ini menimbulkan kebanggaan bagi si fotografer. Menimbulkan rasa senang. Rasa senang akibat penderitaan orang.

Komodifikasi dapat diartikan sebagai suatu bentuk transformasi dari hubungan, yang awalnya terbebas dari hal-hal yang sifatnya diperdagangkan, menjadi hubungan yang sifatnya komersil[iii]. Dalam hal ini, kemiskinan menjadi sesuatu yang digunakan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Entah itu yang bersifat materi atau pun yang psikologis, misalnya penghargaan, pengakuan atau reputasi.

Di negara yang sedang berkembang ini, dimana jurang pemisah antar kelas sosial begitu jelas terlihat, kemiskinan sepertinya sudah tidak ayal lagi jika dijadikan komoditas bagi beberapa pihak. Acara-acara reality show di televisi yang menampilkan kemiskinan, misalnya, tiba-tiba banyak bermunculan dan sialnya mendapat perhatian banyak pemirsa. Kemiskinan dikemas sedemikian rupa sehingga bisa menumbuhkan iba pemirsa sehingga rating meningkat. Si miskin dikerjai, diberi sejumlah uang lalu harus dihabiskan pada waktu tertentu. Si miskin dipaksa bertukar peran dengan keluarga kelas menengah ke atas, mencicipi kehidupan yang serba ada lengkap dengan gaya hidup yang serba modern. Kemiskinan menjadi objek kreasi media untuk dijadikan ladang uangnya.

Wisata ‘berburu’ derita

Tak lengkap rasanya jika berkumpul dengan sesama pegiat fotografi namun tidak pernah motret bareng. Untuk itu, acara-acara ‘hunting’ foto bersama pun kerap diselenggarakan oleh para anggota. Dari mulai motret model di studio atau di tempat-tempat khusus, motret keliling pemandangan hingga motret berkeliling kota. Sebagai salah satu anggota di forum ini sejak tahun 2007, tak jarang saya mengikuti acara tersebut, terutama sesi foto keliling kota.

Ternyata benar adanya, dari sekian banyak objek perkotaan, beberapa fotografer selalu tertarik untuk menghampiri pengemis atau anak jalanan untuk sekedar mengambil fotonya. Dari yang saya amati, mereka memang hanya menghabiskan waktu sebentar, secepat satu-dua frame diambil. Melihat kejadian ini saya jadi seperti sedang melihat orang yang tengah berwisata di kebun binatang, menghampiri binatang yang mereka suka lalu memotretnya, tanpa interaksi (karena tidak mungkin kita berinteraksi dengan binatang). Selain itu, istilah ‘hunting’ atau ‘berburu’ yang kerap digunakan lebih merujuk pada suatu pencarian, pengejaran, dan biasa dipakai jika binatang menjadi objeknya dan hutan menjadi tempatnya.

Pengemis atau pun pemulung sepertinya juga sudah terbiasa dengan tingkah para fotografer ini, bahkan di seputaran Kota Tua, Jakarta, ada sepasang suami-istri pemulung yang kerap menawarkan diri untuk difoto. Hal ini jelas menjadi berkah bagi para pehobi foto. Mereka tidak perlu repot-repot mencari, bahkan mereka bisa meminta kedua pemulung tersebut untuk berpose, sebagaimana memotret model di studio.

Tak hanya itu, bagi para pehobi foto, bencana ialah saat yang tepat untuk ‘berburu’ foto.  Saya pernah melihat kebakaran rumah tidak jauh dari tempat saya tinggal. Disana terlihat begitu banyak orang datang, berkerumunan, untuk menyaksikan kebakaran ini. Di antara orang-orang itu adalah beberapa anak muda, rata-rata gondrong, maju mendekat ke tempat api dan memotret. Ya, mereka memotret peristiwa kebakaran itu. Mereka memotret seperti sedang memotret sebuah festival. Begitu semangat.

Seorang kawan juga pernah mengajak saya pergi ke Jogja saat Gunung Merapi meletus. Selain untuk sekedar berjalan-jalan, alasan lain ia ingin ke sana adalah memotret situasi pasca bencana tersebut. Bencana adalah momen yang baik untuk memotret, mendapatkan foto yang humanis dan dramatis.

Foto bisa merubah keadaan?

Riset kecil-kecilan saya lakukan dengan mewawancarai beberapa fotografer yang memiliki foto bertema kemiskinan. Alasan mereka nyaris serupaa yaitu untuk memberi tahu publik, bahwa ada penderitaan di luar sana. Lebih jauh lagi mereka berharap bisa membangkitkan rasa kemanusiaan lalu mendorong orang untuk kemudian membantu penderitaan subjek yang di foto tersebut..

Susan Sontag dalam buku terakhirnya, Regarding the Pain of the Others memiliki kegelisahan yang sama. Ia menuliskan tentang foto-foto perang yang banyak tersebar di media massa. Awalnya, fotografi diharapkan bisa ikut menghentikan perang, dengan pendistribusian citra kekejaman perang kepada publik sehingga menyulut rasa kemanusiaan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, fotografi  (dalam media massa) justru menumpang hidup pada perang. “If it bleeds, it leads” begitulah ungkapan yang diberikan Sontag untuk fenomena ini[iv]. Fotografer berburu foto-foto peristwa berdarah yang tragis nan dramatis untuk bisa merebut perhatian massa. Untuk meningkatkan penjualan medianya.

Menghadapi penderitaan manusia memang membawa keadaan dilematis bagi fotografer, terutama pewarta foto. Di satu sisi, memotret peristiwa penuh derita itu diperlukan untuk kemudian diinformasikan kepada publik. Mengabarkan bahwa di luar sini ada kejadian. Kita tidak bisa diam begitu saja. Namun di lain sisi, memotret justru menunjukkan ketidak berdayaan fotografer untuk membantu secara langsung.

Kondisi seperti itu  pernah dirasakan oleh Kevin Carter, pewarta foto yang memenangkan penghargaan Pulitzer di tahun 1994 atas fotonya yang berlatar di Sudan pada 1993. Foto tersebut menampilkan seorang anak yang kering kerontang terpuruk di tanah, tidak jauh dari situ ada burung pemakan bangkai yang seolah sedang menunggu anak tersebut meninggal. Suatu keadaan yang mengharukan. Foto tersebut menuai banyak kritik. Mengapa Kevin tidak menolong anak itu,  mengusir burung lalu membantu anak itu ke camp penampungan PBB (diketahui bahwa sebenarnya si anak sedang berusaha untuk menuju ke camp tersebut). Kevin pun dihantui rasa bersalah. Dua bulan setelah menerima Pulitzer, ia bunuh diri dengan menggunakan karbon monoksida. “I’m really, really sorry. The pain of life overrides the joy to the point that joy does not exist.” Tulis Kevin dalam sebuah kertas yang ditemukan di kursi mobilnya. Sebuah penyesalan yang sangat mendalam[v].

Bayangkan, seorang pewarta foto kelas dunia saja merasa gelisah dan bersalah sedemikian rupa dengan apa yang dilakukan terhadap penderitaan manusia. Ia bersenang-senang di atas penderitaan si anak itu atas penghargaan Pulitzer yang diterimanya.  Padahal ia bisa dan sudah berhasil menyulut rasa kemanusiaan para pemirsa foto itu. Sementara kita, para fotografer yang masih berada pada tahap hobi, foto-foto kita hanya sampai di galeri online komunitas, bukan media massa. Begitu senangnya, kita menjadikan penderitaan sebagai objek kita dalam bermain-main atas nama seni, dengan alasan untuk belajar fotografi.

Perkembangan teknologi membuat distribusi foto menjadi sangat mudah dan cepat. Foto sanggup disebarkan secara real time ke seluruh penjuru dunia melalui media massa, internet misalnya. Sekali foto diunggah di dunia maya, maka foto  – beserta manusia-manusia yang menjadi subjek dalam foto tersebut -  dapat dilihat oleh massa. Penderitaan manusia-manusia tersebut pun dipertontonkan.

Melihat komentar-komentar yang diberikan pada foto-foto kategori human interest di FN ini  pun saya jadi ragu kalau foto seperti ini membangkitkan rasa  kemanusiaan. Bahkan tak jarang, yang justru mengomentari foto tersebut sebagai foto. Mengomentari perihal teknisnya. Seperti sebuah lukisan yang fiktif. Padahal foto menyimpan, merekam kenyataan yang sesungguhnya pernah terjadi.  Pada foto Prasetyo Utomo misalnya, hingga tulisan ini dibuat, foto tersebut memperoleh nilai 733 dan telah dilihat 894 kali. Jika dilihat dari komentar-komentar yang diberikan, kebanyakan hanya seadanya. “Mantab”,”Keren”,”nice picture”, “Sangat menyentuh, saya suka fotonya”. Tidak lebih dari 10 kata bahkan. Ya, foto penderitaan seperti ini dibilang bagus, keren, dan mantap. Sebuah kontradiksi.  Terlihat juga beberapa yang menyatakan diri benar-benar tersentuh melihat keadaan dalam foto tersebut. Namun hanya sedikit. Sisanya, jika dilihat dari panjang komentar yang diberikan, hanya menghabiskan beberapa detik untuk melihat foto ini. Alih-alih mengurangi penderitaan, dengan fotografi kita malah memunculkan penderitaan lain. Semakin sering kita melihat suatu hal semakin mudah kita terbiasa atau bahkan bosan dengan hal tersebut. Itulah hal yang saya takutkan, kita menjadi kebas, mati rasa terhadap penderitaan yang kerap dipertontonkan melalui fotografi. Menganggap ihwal penderitaan ialah hal yang sudah biasa dan nanti berlalu.

Dibutuhkan mata yang mendengarkan

Foto adalah sebuah pesan tanpa kode[vi]. Foto hanyalah sepotong kecil dari realita. Foto tak mungkin bisa memberikan informasi yang banyak mengenai suatu peristiwa. Foto tidak bisa menceritakan apa yang terjadi sebelum dan sesudah kejadian pada foto tersebut. Oleh karena itu,  citra fotografis sangat ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuan dari orang yang memandanginya. Pengetahuan dan pengalaman serta daya serap itu lah yang memungkinkan orang menggali lapisan makna yang tersimpan dalam tiap objek dan subjek yang ditampilkan pada foto. Melihat komentar-komentar yang diberikan pada foto-foto penderitaan tersebut. Dapat disimpulkann bahwa kebanyakan dari kita, manusia, tidak memiliki literasi visual yang cukup. Kita hanya tertarik untuk mencerna citra umum foto, tanpa mencoba menguak hubungan-hubungan antar objek dengan konteks sosial.

Dalam kajian modernitas kapitalistis-konsumeristis, seperti yang dituliskan oleh F. Budi Hardiman, penderitaan menjadi sebuah objek yang disajikan, menjadi sebuah komoditas yang dapat dikonsumsi, dijual dan dinikmati massa. Para konsumen pun melihat foto-foto tersebut dalam literasi visual yang seadanya. Hanya sekedar melihat tidak menjadi merasa ingin ‘dekat’ dengan penderitaan. “Melihat, bukan untuk memahami yang dilihat, melainkan hanya untuk melihat” begitulah ungkap Heidegger yang dikutip oleh Hardiman[vii].

Hardiman pun menambahkan pentingnya “mata yang mendengarkan” untuk bisa memahami penderitaan orang lain tersebut. Penglihatan yang digerakkan oleh hati. Dengan begitu kita tidak akan menikmatinya, tidak mengintipnya, dan tidak sekedar melihat untuk melihat, melainkan membiarkan subjek dalam foto tersebut berbicara.

Oleh karena itu, internalisasi dengan keadaan sekitar serta pada subjek yang menderita menjadi hal yang sangat penting.  Melalukan riset atau pendekatan terlebih dahulu terhadap subjek yang akan difoto akan menjadi lebih baik. Sejatinya, karya seni rupa yang dibuat untuk merespon suatu fenomenan akan terasa hambar jika tidak didahului sebuah pengamatan mendalam, keterlibatan, dan internalisasi.   Dengan melakukan pengamatan kita bisa lebih tahu hal-hal apa yang perlu diekpos dan hal yang tidak perlu, sehingga kita dapat memanusiakan manusia, bukan sekedar menjadikannya sebagai unsur simbolis pelengkap estetika.
Beberapa bulan lalu, saya menghadiri seminar fotografi yang diisi oleh salah satu pegiat serta pemikir fotografi, Yudhi Soerjoatmodjo, ia mengatakan bahwa foto itu adalah medium dua dimensi. ‘Kehadiran’ atau keterlibatan sang fotografer dalam foto lah yang  menjadi dimensi ketiga yang membuat foto menjadi hidup. Hal ini tidak akan kita dapatkan jika hanya menghabiskan waktu secepat rana menangkap cahaya.

Ketika kita tidak yakin untuk bisa benar-benar merasakan penderitaan, lebih baik simpan kembali kamera kita.

________________________________________
[i] http://www.fotografer.net/isi/anggota/ , diakses  pada 8 Juli 2011.
[ii] Soebijoto, Hertanto. Dari Baju Dinas Sampai Sewa Balita. Kompas.com, Senin, 6 September 2010.  http://megapolitan.kompas.com/read/2010/09/06/09393154/Dari.Baju.Dinas.sampai.Sewa.Bayi. diakses pada 8 Juli 2011
[iii] http://www.marxists.org/glossary/terms/c/o.htm. Diakses pada 8 Juli 2010
[iv] Sontag, Susan. 2003. Regarding The Pain of The Others. United State: Farrar, Straus and Giroux.
[v] Macleod, Scott. Johhannesburg. The Life and Death of Kevin Carter . http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,981431,00.html#ixzz1RS2iSgQ1. Diakses pada 9 Juli 2011
[vi] Barthes, Roland.2010.  Imaji, musik, teks. Yogyakarta: Jalasutra

[vii] Hardiman, Budi. F. 2007. Nafsu Mata Atas Derita.  Jurnal Kalam, 23


---
Tulisan ini dibuat sebagai tugas akhir Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual yang diadakan oleh Ruangrupa di tahun 2011. Pertama kali dimuat di situs Jarakpandang.net . Di-pubslish di blog ini atas nama pengarsipan