Catatan
Tampilkan postingan dengan label Catatan. Tampilkan semua postingan

09 Juni 2012

Mimpi mencipta Street Photography Rasa Indonesia.


Saya sepakat dengan apa yang ditulis oleh Arief Adityawan dalam bukunya yang berjudul Tinjauan Desain Grafis. Pada subbab Perkembangan Fotografi ia menyebutkan bahwa setelah di tahun 1888 George Eastman menciptakan kamera Kodak  yang sangat mudah dibawa, masyarakat pun mulai membiasakan diri membawa kameranya kemana mereka pergi. Adityawan menyebutkan bahwa  sejak saat itu pendekatan orang dalam memotret pun setidaknya ada dua yaitu fotografi dokumentasi dan fotografi pictorial – fotografi yang mengedepankan nilai estetika.

Lantas, masih menurut Adityawan, di ranah dokumentasi pun ada beberapa motivasi ketika orang ingin memotret. Pertama, untuk memenuhi rasa ingin tahunya: seperti apakah realita yang ia alaminya jika dipotret. Kedua merekam secara kritis kondisi sosial masyarakat.

05 Mei 2012

Tak Kenal maka Ta' Sayang



Dalam sebuah obrolan, seorang kawan menceritakan ide untuk cerita pendeknya, yaitu tentang seseorang yang suka mengirimkan surat secara acak ke alamat-alamat yang dicatatnya dari Infomedia, buku penyedia alamat dan nomor telpon.

Tanpa mengingat hal serupa (tapi tak sama) yang pernah saya lakukan, saya mengira bahwa itu adalah ide yang gila sekaligus nyeleneh. Sepertinya, tak mungkin ada yang sampai segitu terobsesi untuk berkenalan dengan strangers.

Hmm. Tapi tunggu dulu, cerita kawan saya itu bikin saya berpikir dan mengingat-ingat. Rasa-rasanya kisah berkirim surat kepada orang yang dikenal dari infomedia itu pernah ada. Ahaa! Cerita itu ada di film Mary and Max. Tak lama setelahnya, saya pun mengunduh film dan melahapnya lagi, kali ini saya menguyahnya secara perlahan.

27 April 2012

Authentic Experience Oriented + 20 Seconds of Insane Courage = “We Bought a Zoo!”


Maret lalu, saya berkesempatan menonton film Postcard From The Zoo. Film yang kurang lebih berkisah tentang seorang gadis yang menghabiskan hidupnya di kebun binatang lalu tertantang untuk keluar memasuki kehidupan manusia. Bisa jadi karena film itulah kata ‘kebun binatang’ terus menggentayangi pikiran saya.

Singkat cerita, saya pun terdorong untuk menonton satu film lagi yang memasang kata 'kebun binatang' di bagian judulnya. We Bought a Zoo pun menjadi pilihannya. Berbeda dengan Postcard From The Zoo yang alurnya absurd dan susah untuk diinterpretasikan, film We Bought a Zoo ini terasa begitu hangat. Sebuah drama keluarga yang sentimentil.

11 Maret 2012

Cara Tintin Belajar Terbang


 
Rasanya karakter Tintin itu sudah tidak asing lagi di benak kita, apalagi belum lama ini dia hadir di bioskop. Saya adalah salah satu orang yang mengenal Tintin dari film gubahan Steven Spielberg itu. Bahkan yang nggak pernah baca atau nonton langsung kisahnya pasti tahu siapakah Tintin itu.

Hmm, tapi nggak ada salahnya saya berbagi persepsi. Tintin, di pikiran saya adalah seorang petualang sekaligus wartawan. Yap, profesi petualangnya lebih pantas disebut di awal mengingat cerita petualangannya lebih dominan dibanding kisahnya menjadikan petualangan serunya sebagai berita. Betul kan? Bahkan kita hanya dibiarkan tahu kalau dia wartawan dari pernyataannya saja. Tanpa itu kita hanya akan mengira ia hanya pemburu harta karun belaka.
 
Tapi, alih-alih terkesan dengan petualangannya, hingga kini justru cerita tentang kewartawanannya yang saya kenang. Ada satu hal yang melekat erat di benak saya sejak menonton Tintin di bioskop Desember lalu, yaitu adegan ketika Tintin berhasil merebut pesawat musuh yang hendak menyerangnya saat ia terdampar di lautan. Setelah semua awak naik ke kapal Kapten Haddock sedikit heran dan bertanya.
 

21 Oktober 2011

Idola





Halah, sampe bingung gini mau mulai ceritanya dari mana. Pokoknya ini lah dia, tokoh fotografi Indonesia idola saya, Firman Ichsan. Dia adalah penulis dan pegiat kajian fotografi serta kurator foto. Kini beliau menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta. Tadi saya bertemu dengan dia di Galeri Salihara dalam acara pembukaan sekaligus launching buku Indonesia: A Suprise. 

Walau nggak banyak, saya cukup senang baca tulisan dia yang tentang fotografi, dari mulai artikel atau esai sampai catatan kuratorial atau kata pengantar buku fotografi. Bahasa yang digunakan ramah dan tidak ngejelimet.  Pun kajiannya selalu kaya dan edukatif

Singkat cerita, saya nekat minta tolong teman untuk memfoto saya dan dia. Saya menyalami tangannya, sambil menyapa "Permisi Pak, saya boleh foto bareng nggak, saya suka baca tulisan-tulisan Bapak," Sebenernya prosesi foto itu saya jadikan sebagai teaser aja. Intinya mah saya mau coba ngobrol-ngobrol sama dia.

20 Oktober 2011

Ke Bandung Ku Kan Kembali

Kunjungan terakhir saya ke Bandung pada awal Oktober kemarin mengoleh-olehkan sebuah pikiran yang selalu saja minta diladenin: Saya mau tinggal di Bandung lagi! Pokoknya, entah ini cuma lagi labil aja atau beneran kepingin,  sekarang ini saya sering merencanakan untuk tinggal di Bandung lagi. .. 

Saya banyak menemukan hal-hal yang menarik di Bandung. Bandung nggak terlalu luas kayak Jakarta. Asal tempat tinggal kita tepat, maka ke mana-mana jadi gampang. Pun lalu lintasnya nggak terlalu macet. Angkutan umum masih menjadi pilihan banyak penduduk. Udaranya yang adem juga jadi salah satu faktor utama yang menarik saya. Saya percaya salah satu faktor yang mempengaruhi termperatur emosi kita adalah iklim lingkungannya. haha. Liat aja tuh di Jakarta, orang-orang di Jalanan pada nyureng-nyureng semua matanya karena kepanasan, udah gitu, udara panas bikin semua orang jadi ngeluh mulu. Fiuh.

19 Oktober 2011

Keisengan Tuhan

Tuhan memang suka iseng. Entah kenapa. Mentang-mentang Dia Tuhan. Dia bisa melakukan segalanya, bisa mengetahui segalanya, dan Dia adalah penguasa alam ini, Dia adalah entitas yang Maha paling deh pokoknya. Jadi, kalau pun Dia iseng, keisengan itu nggak bisa disebut sebagai kesalahan. Itu adalah hak Tuhan yang paling istimewa.

Tuhan memang iseng. Apalagi Dia punya malaikat yang bisa diutus ke bumi dengan wujud apa pun. Dia menyuruh kita beriman kepadaNya, walau Dia Maha Gaib. termasuk mengimani bahwa apa pun hal pemberianNya adalah selalu berujung berkah.

Salah satu keisengan Tuhan ialah Dia sering sekali mengirimi kita bingkisan yang misterius. Pun mendadak. Malaikat yang mewujud dalam bentuk keseharian kita diutus menjadi aktor-aktor yang memainkan skenarioNya dalam proses penerimaan bingkisan itu.

09 Oktober 2011

Berkecamuk dalam Tenang

Ada suatu waktu ketika kita merasa diri sudah terlalu penuh. Perasaan gundah imbas perjalanan aktivitas sehari-hari, pikiran tentang misteri masa depan, serta hal-hal kalut lainnya bertumpuk, berjejal di dalam. Ketika saat itu datang maka hal yang paling tepat untuk dilakukan adalah membuka ruang untuk dunia luar. Membersihkan ventilasi pikiran yang sudah terlalu berdebu, sehingga respirasi udara menjadi lancar adanya. Atau sekalian kita berlari berhamburan keluar. 

Melalui EP yang bertajuk Room For The Outside ini, Lipstik Lipsing menawarkan pertunjukan musikal yang siap membuat penontonnya tenang sekaligus berkecamuk. Sebuah ironi dalam penyembuhan diri.  Menutup mata sepertinya akan menjadi pilihan selain memasang pandangan kosong, membiarkan diri hidup dalam dunia di dalam alam pikiran. Gelap namun bisa saja penuh warna, tergantung bagaimana imajinasi.

05 Oktober 2011

Galau Berjamaah bersama Polyester Embassy

Malam minggu pertama milik bulan Oktober (1/10) didaulat sebagai hari bagi para jemaah Polyester Embassy untuk bersenandung bersama di Dago Tea House, Bandung dalam acara konser tunggal mereka yang diberi tajuk “Silent Yellow Ensemble”.


21 September 2011

“Tunjukkan Lah Saya Jalan Yang Seru!”

Ini sangat sering terjadi. Saya kesasar di perjalanan. Tapi ada beberapa hal sih yang menyebabkan semua ini bisa terjadi. Pertama, karena memang saya ingin mencoba jalan baru. Kedua karena tidak sengaja. Yang sering terjadi adalah gabungan dari keduanya, saya memilih untuk mencoba jalan baru lalu tidak sengaja tersasar. haha. 

Sebelumnya, perlu dicatat juga kalau sebenarnya memori saya tentang rute ke tempat-tempat yang jarang saya kunjungi memang rada payah. Apalagi untuk menuju tempat-tempat di kawasan yang memiliki suasana yang nyaris sama di setiap jalannya. Daerah Menteng dan daerah Pasar Baru, Bandung, misalnya. Ditambah lagi kalau tempat yang saya tuju itu berada di jalan satu arah. Beuh. Hampir selalu pasti, saya butuh satu-dua kali untuk muter-muter. Menuju ke Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, contohnya. Walau saya sudah beberapa kali ke situ sejak SMA. Sampai sekarang saya nggak pernah menuju ke situ dengan jalan yang sama. Selalu beda-beda karena lupa.  haha… 

16 September 2011

Plat Nomor dan Kepedulian

Ada hal yang sedikit berbeda dengan perjalanan pergi-pulang kantor dua hari ini. Beberapa kali ada pengendara motor  yang menyapa saya. Kami tidak saling mengenal. Dia hanyalah orang yang sempat berada di belakang saya. Lalu, entah memang sengaja mengejar menghampiri saya atau memang dia jalan lebih cepat, pokoknya si pengendara motor itu menyapa saya. Dan siapa lah yang tidak senang kalau ada yang menyapa di jalan. 

Awalnya saya kaget, apalagi orang yang pertama menyapa saya cukup terburu-buru, dia menyapa dengan bahasa tangan, pun sambil nyalip saya. Jadi saya nggak ngerti maksud sapaan dia. Beberapa kilometer setelah sapaan pertama, ada satu lagi pengendara motor yang menghampiri saya. Kali ini dia lebih jelas, saya pun jadi tahu gerangan apa yang membuat orang tadi menyapa saya, yaitu plat nomor belakang motor saya sudah mau lepas dari tempatnya. Bautnya yang seharusnya ada dua tinggal satu. Jadilah ia seperti tubuh yang bergelantung di tebing dengan hanya satu tangan.

Tapi untungnya saya tahu kalau ternyata si baut yang satunya lagi itu cukup kencang, jadi saya anggap dia bisa mempertahankan plat motor itu. Ditambah rasa malas untuk mencarikan baut, saya pun membiarkan keadaan itu. Bahkan sampai dua hari. Dasar Rizki..

15 September 2011

PuiSkip

Bener-bener gatau mau ngapain.
Bener-bener udah seharian, dua harian bahkan.
Udah dijabarkan semua jadwal, tetep aja kelabakan.

“Mana dulu”,
“yang ini dulu saja, sepertinya menarik.”,
“oke.”
“mm, ga deh, yang ini aja dulu, sebentar kok.”

Lalu lupa, lupa yang berlarut-larut.
Berlarut-larut dalam lupa.

“Oh iya, tadi kan lagi itu”
“mmm oke, lanjut”
“Setel lagu ini dulu ah”

Lagu sendu, lagu rindu, lagu bingar, lagu liar, lagu riang, lagu hampa.


Lagu berlalu-lalu, lalu berlagu-lagu, hingga lupa waktu, hingga waktu berlalu.

Sedikit teriakan kecil, Sedikit termenung, sedikit bingung.

Pergi kecewa, kecewa lalu pergi, pergi berlalu, lari keluar pintu.

Padahal tadi lagi itu, tiba-tiba mau ini diitukan, yang begini mau dibegitukan, yang disini mau dikesanakan, diseperti inikan. Jadilah semua dikesampingkan.

Bener-bener ga tau mau ngapain.
Bener-bener udah seharian, dua harian bahkan.
Udah dijabarkan semua penyesalan, tetap aja GA TAU MAU NGAPAIN.

08 September 2011

Mengusut Dunia Absurd @Rindut

Perkenalkan, ini dia salah satu akun twitter favorit saya, @Rindut. Ah, untung saja kamu itu akun twitter bukan akun tansi atau akun punktur. Jadi saya semakin suka. Pokoknya ni yah, hampir tiap kali papasan sama @rindut di timeline, saya berhenti sejenak, trus menyempatkan diri untuk mampir ke halaman profilnya, membaca twit-twitnya dan kadang tanpa disangka saya sudah sampe ke halaman 17 (versi m..tweete.net). Haha.

   Saya yakin saya bukan lah satu-satunya orang yang suka ngakak tapi bingung mau ngakak gaya apa, ketika membaca twit-twit dari si kakak pemilik nama asli Rina Dwi Utami ini. Twit-twitnya kak @Rindut ini apa adanya banget, saya sedikit curiga kalau-kalau dia punya alat penghubung antara twitter dan suara hati.

Selain itu, membaca twit @rindut ini, kita akan merasa seperti sedang ngobrol hadap-hadapan, batas-batas antara dunia maya dan nyata jadi bias, dia seolah nyata di dunia maya. Apalagi di beberapa twit dia sering mengakhirinya dengan sebuah tanda keterangan misalnya, *matiin mic turun panggung, atau *joget di koridor. Membacanya, kita pasti membayangkan Rindut seolah hidup dan bergerak-gerak di dalam linimasa twitter itu. Pokoknya baca twitnya dia sekaligus kita diajak ber-theater of mind. Haha..

Dan walau pun followernya sudah segambreng, dia tetep aja lah begitu. Tetep menjadi apa adanya. Menceritakan keseharian dengan caranya sendiri dengan cara yang sederhana. Tapi liat hasilnya, banyak orang yang ikut menikmatinya.

Ah, betapa kita terlalu susah payah mencoba jadi istimewa padahal menjadi sederhana dan apa adanya itu lebih mengasyikkan. .

 Nah, beruntungnya, email saya dibales sama si kakak ini. Beberapa pertanyaan pun saya ajukan. Haha. Silahkan disimak..


31 Agustus 2011

Lemari Baru

Sudah berapa minggu ini kamar saya di rumah penuh dengan barang –barang pindahan dari kamar kosan. Kamar saya yang berukuran 3,5x 3,5 m ini hanya tersisa ruang kosong seperempatnya saja. Nggak cuma bikin penuh, tapi juga bikin kamar berantakan. Sebutan kapal pecah sepertinya masih kurang, ‘kota sehabis tsunami’ mungkin sedikit lebih tepat untuk mendeskripsikan keadaan di sini. Seperti sampah yang terbawa ombak dan terhempas di pantai, barang-barang di kamar saya berserakan begitu saja.
Saya merasakan jelas sebuah ironi dalam berpindah. Ada duka dan cita yang lengket tidak bisa dipisahkan, seperti dua sisi  uang kepingan. Di satu sisi perpindahan ini adalah sesuatu yang patut dibanggakan,  saya berpindah karena saya telah menyelesaikan satu misi besar. Satu jenjang tantangan hidup sudah saya lewati. Akhir  Mei kemarin, saya diwisuda. Itu artinya dengan resmi saya dinyatakan lulus dari segala macam urusan kuliah.    Misi di bidang akademi selesai. Hmm, setidaknya saya sudah sampai ke tingkatan dasar dan yang paling umum. Saya akhirnya mendapat gelar sarjana. Bapak, ibu, kakak, adik, semua terlihat senang, memberi selamat. Lalu, seperti halnya  sekolah, ketika kita berhasil menyelasaikan suatu tingkat, kita berhak untuk naik kelas. Hore!!

Upacara wisuda tadi itu sekaligus menjadi aba-aba untuk saya segera hengkang dari tanah pasundan (Bandung-Jatinangor tepatnya). Di saat bersamaan, bapak kos juga mengingatkan kalau sewa kos saya jatuh tempo pada Agustus 2011. Semakin tegas lah perpindahan ini pasti terjadi. Tapi tunggu dulu, di antara Mei menuju  Agustus ada 30 hari milik bulan Juni dan 31 hari milik bulan Juli. Saya punya waktu  dua bulan  hingga saya  kamar kos yang sudah saya huni lima tahun itu benar-benar bukan atas nama saya lagi. Oke, saya manfaatkan rentang waktu itu dengan berpuas-puas main di sana, sambil sedikit menyicil pindahan barang. Kata sedikit di sini perlu ditekankan. Karena begitu lah adanya. Sebenarnya bisa saja saya pindahan dalam satu waktu. Tapi saya memilih untuk pelan-pelan saja. Tidak sekaligus semua barang langsung saya bawa ke rumah.

06 Juli 2011

This is how it _ _ _



hufft

04 Juli 2011

Mari belajar hidup tanpa rencana!

Pagi tadi saya membaca sebuah artikel mengenai Benyamin Sueb. Artikel tersebut mengulas secara singkat profil dan perjalanan karirnya di jagat kesenian betawi. Ada kutipan yang menarik dari cerita bang Ben disitu. Konon, saat ditanya mengenai apa cita-citanya saat hidup dia menjawab “tergantung kondisi,”. Hmm, membaca tulisan itu mengingatkan saya pada perenungan yang saya lahirkan tiap kali banyak cita-cita saya yang selalu bentrok dengan situasi, tidak sejalan dengan realita. Perenungan saya menghasilkan sebuah pemikiran yang berbau tantangan yaitu untuk hidup tanpa rencana.

Pernyataan ini berdasarkan berbagai macam pengalaman yang saya alami. Mulai dari hal yang remeh hingga yang besar, terlalu berrencana itu tidak baik. Merencanakan liburan misalnya, ini adalah polemik yang kerap terjadi. Berkali-kali saya dan teman saya membuat rencana berlibur. Kita sudah survey tempat menginap, rute dan waktu perjalanan, serta hal-hal yang bisa dilakukan. Tanggal juga sudah ditetapkan. Dua tiga bulan ke depan biasanya.  Tapi saat tanggal mulai mendekat selalu timbul pertanyaan. “Jadi nggak nih?” lalu dijawab “Hm, tau deh, kayaknya jangan sekarang deh. Gue harus ini. Harus itu". Yak, rencana gagal.

Saya pun berkesimpulan bahwa liburan yang spontan itu pasti lebih uhuy. Tidak mesti dadakan banget, sih. Intinya, jangan berrencana dari jauh hari. Ajak temen liburan. Tentukan tujuan. Besok pagi berangkat. Waktu pulang ditentukan kemudian. hal-hal yang mengejutkan pasti banyak ditemukan diperjalanan. Dan pastinya akan lebih gemas untuk diceritakan.

19 Oktober 2010

Buzz!! Malam Nan BUZZ!! uk itu menabrak George Double Yu BUZZ!!

#aduplesetan bersama @alnrnld
buzz 11
buzz 1
dan berlanjut di twitter.

25 Mei 2010

Lupa Bagaimana Menjadi Rizki



Seperti harus segera memuntahkan semua kejenuhan. Melepaskan diri dari rutinitas yang nihil. 

Ada semacam belenggu yang memenjarakan. Semu. Selalu merayu untuk duduk manis mengikuti.

Atas nama waktu senggang. Tidak terikat satu pun institusi. Inilah saatnya untuk mengosongkan diri. 
Berleha-leha, menghindari kerja atau aktivitas apapun yang akan menyita waktu. 
Mencari cara lain untuk bahagia. Menjadi orang malas seutuhnya. Padahal bukan itu, tidak dengan cara itu biasanya kepuasaan digenggam. 

Sial! Jadi lupa bagaiamana menjadi Rizki. Hidup tidak lagi sungguh terlalu, melainkan hanya sekejap berlalu. 


 


04 Mei 2010

Saddest Song


hal yang paling menyedihkan dalam hidup ini adalah ketika melihat orangtua 
saya sedih namun saya tidak bisa berbuat apa-apa.
.

02 Mei 2010

Sebuah Tribut Untuk My Self





Nggak perlu jadi orang lain untuk bisa nikmatin hidup, menjadi seorang Rizki adalah berkah terbesar dari hidup ini. Mari kita bersyukur dan terus berusaha berkarya untuk hidup ini.


hidup ini sungguh terlalu kawan, jangan hidup sekedar berlalu.
© blogrr
Maira Gall