Thursday, May 17

Antara Nikah dan Jual-Beli


Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata akad? saya yakin kumpulan orang yang memakai baju adat, penghulu, dan pengantin menjadi gambaran yang muncul. Begitu pula lah saya. Tapi lagi-lagi, selalu ada kemungkinan lain yang terjadi. Lain di pikiran lain di kenyataan. Saya, mungkin juga kita, sudah terlalu dimanja oleh pemaknaan kata berdasarkan konstruksi sosialnya, bukan berdasar arti aslinya. Haha

Sebenarnya ini adalah cerita lama banget. Karena seorang kawan tiba-tiba mengungkitnya lagi, saya merasa jadi kepingin betul untuk mendokumentasikannya di blog. Satu alasan besarnya adalah ternyata bukan saya saja yang pernah terkecoh mentah-mentah dengan kata 'akad'. Hira, kawan saya yang sebenernya nggak perlu disebut namanya itu, juga pernah mengalami hal serupa. Haha.

Kira-kira beginilah ceritanya:

Saturday, May 5

Tak Kenal maka Ta' Sayang



Dalam sebuah obrolan, seorang kawan menceritakan ide untuk cerita pendeknya, yaitu tentang seseorang yang suka mengirimkan surat secara acak ke alamat-alamat yang dicatatnya dari Infomedia, buku penyedia alamat dan nomor telpon.

Tanpa mengingat hal serupa (tapi tak sama) yang pernah saya lakukan, saya mengira bahwa itu adalah ide yang gila sekaligus nyeleneh. Sepertinya, tak mungkin ada yang sampai segitu terobsesi untuk berkenalan dengan strangers.

Hmm. Tapi tunggu dulu, cerita kawan saya itu bikin saya berpikir dan mengingat-ingat. Rasa-rasanya kisah berkirim surat kepada orang yang dikenal dari infomedia itu pernah ada. Ahaa! Cerita itu ada di film Mary and Max. Tak lama setelahnya, saya pun mengunduh film dan melahapnya lagi, kali ini saya menguyahnya secara perlahan.