Friday, March 21

Mata Eropa si Fotografer Pribumi Pertama


Tak butuh waktu lama untuk fotografi datang ke Indonesia. Tak lebih dari dua tahun setelah dipatenkan, Daguerretype—kamera pertama yang diciptakan oleh seorang Perancis, Louis Daguerre—datang ke Indonesia. Seorang Belanda bernama Jurrian Munich-lah yang membawa kamera pertama kali ke tanah Jawa. Saat itu adalah tahun 1840 ketika Munich ditugaskan untuk melakukan pemotretan flora dan peninggalan bersejarah di Hindia Belanda.

Namun, baru setelah dua puluh tahun sejak kedatangannya, kamera baru benar-benar dioperasikan oleh pribumi, yaitu oleh Kassian Cephas, nama yang pastinya sudah kita banyak kenal sebagai fotografer pribumi pertama. Kassian berusia 20an tahun ketika itu. Sebagai salah satu pekerja di kesultanan ia berkesempatan untuk berlatih fotografi kepada jurufoto pemerintah Hindia Belanda yang ditugaskan di kesultanan Yogyakarta, Simon Willem Camerik.

Tak ada catatan pasti kapan Kassian pertama kali berlatih fotografi, tapi jika dilihat dari waktu tinggal Simon di Yogyakarta, maka Kassian mulai menggeluti fotografi pada kisaran 1861-1871.

Kassian tak salah jika kita anggap istimewa. Pertama, Kassian berkesempatan memiliki suatu alat penanda modernitas yang saat itu begitu mahal harganya dan hanya biasa dimiliki oleh warga negara asing. Kedua, Kassian  adalah penanda pertama kali dimulainya eksplorasi fotografis Indonesia oleh pribumi. Tapi coba lihat foto-fotonya, mungkin kalian akan punya kegelisahan yang sama seperti RA Kartini.
”Kerap kali benar saya ingin memiliki alat foto dan dapat memotretnya kalau kami melihat hal-hal yang aneh pada bangsa kami, yang tidak difahami oleh orang Eropah. Banyak benar yang ingin kami tulis disertai gambar-gambar, yang kiranya dapat memberi gambaran yang murni kepada orang Eropah tentang kami, bangsa Jawa,” 
Itu adalah sepotong tulisan Kartini dalam dalam suratnya yang ditujukan untuk Mr. J.h. Abendanon tanggal 1 Januari 1903. Saat itu sudah lebih dari tiga puluh tahun Kassian memotret dan pastinya foto-fotonya pun sudah menyebar luas, termasuk (mungkin) ke daerah tempat Kartini tinggal. Yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa Kartini masih merasa perlu membuat foto yang memberi gambaran murni tentang bangsa Jawa? Padahal sudah ada Kassian, pribumi yang membuat foto Tanah Airnya sendiri.

Dari situ, bisa muncul sebuah jawaban bahwa memang Kassian tidak melihat Indonesia secara kritis. Indonesia dalam foto-foto Kassian selalu terlihat sangat indah, kebanyakan merupakan foto pictorial – fotografi yang mengedepankan nilai estetika. Kassian memotret Sultan dengan busana kesultanannya yang megah dan tak jarang dilengkapi atribut-atribut keeropaan, perempuan-perempuan Jawa yang didandani hingga terlihat begitu eksotis, kelompok yang sedang membawakan tarian tradisional, foto arsitektural bangunan-bangunan bersejarah Indonesia dan foto-foto lainnya, seperti foto potret di studio foto komersilnya.

Representasi Indonesia dalam foto-fotonya Kassian adalah baku, mewah, eksotis, dan Jawa sekali. Pemandangan keseharian masyarakat Yogya, seperti apa masyarakat bekerja, apa yang terjadi di rumah rakyat kelas bawah atau suasana penindasan oleh para penjajah tak akan kita tahu dalam foto-foto dari kamera  Kassian.

Tentu, fotografi itu tak bisa lepas dari subjektivitas. Fotografer bebas menentukan bagaimana, apa, dan siapa yang akan difotonya Tapi, sebagai pemirsa, kita juga juga tak salah mempertanyakan asal-usul subjektivitas Kassian. Mari kita telusuri

Pribumi Rasa Eropa

Kassian lahir di Yogyakarta pada 15 Januari 1845. Cephas adalah nama baptisnya yang mulai ditambahkan pada namanya sejak 1860. Sudah sejak kecil Kassian dekat dengan  Belanda. Ia pernah tinggal bersama keluarga Philips Steven, seorang Belanda yang menjadi guru agama Kassian di Purworejo. Selain itu, sebagai seorang Kristen, Kassian juga kian mudah lekat dengan pergaulan Belanda.

Pada 1860an Kassian kembali ke Yogya dan bekerja di lingkungan Keraton. Di sanalah ia belajar fotografi kepada Simon. Setelah paham pengoprasian kamera, Kassian ditunjuk menjadi jurufoto pemerintah oleh Sultan Hamengkubuwono VI pada kisaran 1877. Hingga pada kepemimpinan Sultan Hamengkubuwana VII Kassian mulai banyak berkarya.

Karier fotografi Cephas pun berjalan dalam naungan Belanda. Kassian banyak bekerja untuk Isaac Groneman, seorang dokter kebangsaan Belanda yang juga memiliki minat besar pada sejarah dan budaya Jawa. Bersama Isaac Groneman, Kassian kerap melakukan penelitian. Kassian membantu pendokumentasian objek-objek penelitian Isaac. Sejak itu, foto-foto Kassian banyak bermunculan di sejumlah publikasi seperti surat kabar, buku-buku kebudayaan, dan dokumen arsip yang dipesan oleh pemerintah Hindia Belanda.

Untuk pekerjaan arkeologi dan kebudayaannya itu Kassian memotret bangunan-bangunan bersejarah seperti istana air Taman Sari, Candi Borobudur, Komplek Candi Loro Jonggrang di Prambanan dan kumpulan adegan tari-tari tradisional yang ada di Jawa.  Dalam beberapa proyek, Sem Cephas, anak Kassian juga ikut membantu pemotretan.

Tak lama setelah banyak bekerja memotret untuk Belanda, Kassian pun menjadi bukan orang Jawa biasa lagi. Apalagi jika kita tahu bahwa sejak 1891 pun Kasian bersama dua anaknya, Sem dan Fares berhasil mendapatkan pengakuan status hukum sebagai orang Eropa oleh Gubernur Jendral. Tentu, status barunya itu membuat Kassian tidak diperlakukan berdasarkan hukum pribumi lagi melainkan hukum Eropa.

Di luar pekerjaan penelitianya itu, Kassian juga sebenarnya memotret atas namanya sendiri. Dengan mengandalkan Daguerrotype-nya, Kassian juga ikut bersaing dengan fotografer-fotografer Belanda lainnya dengan membuka studio foto di rumahnya di Lodji Ketjil Wetan yang kini menjadi Jalan Mayor Suryotomo. Kassian tak tanggung-tanggung mempromosikan usahanya. Saat di Yogya pertama kali terbit surat kabar yang bernama Mataram, Cephas memasang iklan penawaran jasa fotonya di edisi pertama surat kabar itu. Orang-orang pun berdatangan untuk dibuatkan foto potret, baik itu potret sendiri atau pun bersama keluarganya. Di luar studionya, Cephas juga sering membuat foto bangunan, jalanan dan monumen kuno.

Setelah sekian lama menggunakan Daguerrotype, akhirnya pada 1886 Kassian pun punya mainan baru, yaitu apa yang disebut photographie instantanee, kamera yang lebih ringkas yang mampu mencuplik cahaya dengan kecepatan 1/400 detik. Dengan begitu foto, terutama foto potret, lebih mudah dibuat. Tidak seperti sebelumnya yang mengharuskan objek yang difoto tak boleh bergerak untuk beberapa detik. Sejak teknologi fotografi mulai berkemang saat itu, foto-foto Kassian juga mulai direproduksi bukan hanya untuk arsip saja, tetapi juga untuk dijadikan official merchandise Kesultanan dan dijual dalam bentuk kartu pos ataupun album kumpulan foto.

Keterlibatan Kassian dalam proyek-proyek dari pemerintah Belanda ditambah dengan kedekatannya dengan Kesultanan Yogya kian melambungkan reputasi Kassian. Buktinya, Kassian ditunjuk sebagai anggota luar biasa oleh Masyarakat Seni dan Ilmiah Batavia. Kemudian, Saat Raja Chulangkorn dari Thailand  yang pernah berkunjung ke Yogya tahun 1896 dan menghadiahinya tiga buah kancing permata. Lalu, Ratu Wilhelmina dari Kerajaan Belanda memberi penghargaan medali emas untuk Kassian atas kerjanya melestarikan peninggalan arkeologis dan budaya Jawa.

Kita boleh berbangga hati mendengar reputasi serta prestasi Kassian dalam merekam Indonesia. Tapi kita juga perlu tahu, bahwa saat itu, fotografi juga didominasi oleh kepentingan politik, komersial selain juga ilmu pengetahuan. Bangsa Eropa yang menjajah suatu negara menggunakan fotografi untuk mengumpulkan inventaris visual atas daerah jajahannya. Foto-fotonya sengaja dibuat untuk menunjukkan eksotisme, keindahan dan keunikan budaya daerah jajahannya.

Kassian yang sudah begitu akrab dengan budaya Eropa dan memang berada dilingkungan masyarakat kelas atas pun mengikuti perspektif tersebut dalam memotret Jawa. Tak salah rasanya jika kita simpulkan bahwa sejak awal motivasi Kassian memotret adalah untuk kepentingan Eropa. Kassian mengenalkan Jawa kepada mata Eropa dan masyarakat kelas atas lainnya. Jawa yang dipotret Kassian adalah Jawa sebagai objek, Jawa yang dibuat dengan setting, tidak melihat Jawa  bukan sebagai subjek yang juga memiliki kuasa, yang bisa bebas dan tidak dipaksakan nilai-nilai, seperti keluguan, kecantikan dan eksotisme.

Barangkali juga karena ongkos pemotretan saat itu sangat mahal, Kassian pun mau tak mau mengedepankan nalar ekonominya ketimbang jiwa kritisnya. Jadi, Kassian hanya melakukan pemotretan atas sesuatu yang kiranya dapat menggantikan biaya pemotretan dan menghasilkan keuntungan. Karena itu sasaran pemirsa karya-karya fotonya adalah mereka yang Eropa dan masyarakat kelas atas yang memiliki cukup uang, bukan untuk rakyat Indonesia dari kelas bawah, dan kalangan-kalangan menengah yang nasionalis, seperti ibu kita Kartini.

***

Tulisan ini merupakan versi belum diedit untuk zine The Future of The Past. Perlu saya sebutkan juga sepertinya bahwa saya ini penulis yang baru belajar. Penulusuran serta analisis foto-foto Kassian Cephas di sini juga salah satu bentuk pembelajaran saya. Jadi kalau menemukan kejanggalan, ketidaktepatan analisis atau kesalahan menyebut nama, tahun, atau tempat, mohon beri tahu saya yah. Terima kasih.  :D

sumber rujukan: 
Artikel“Kassian Cephas, Juru foto Pribumi Pertama” oleh Budi Darmawan (www.seribukata.com)
Artikel “Kassian Cephas Hanya Membuat Foto-foto Indah” OlehNurainiJuliastutipada
Buku “Membaca Fotografi Potret: Teori, Wacana, dan Praktik” oleh Irwandi dan M. FajarApriyanto

*** 
Penampakan di The Future of The Past edisi 2: 





Thursday, March 20

Long Live Print!

Paper is here to stay. Indeed, paper is hard to compete with precisely because it has so many wonderful qualities: it looks beautiful, with many choices of smoothness, brilliance of white, depth of black, and richness of color. It feels luxurious as you turn a page or sense the bite of the granularity as you scribe or sketch. It's amazingly light and protable and an excellent storage medium. It even smells good--don't you enjoy the smell of new paper and fresh ink as you browse the bookstore? 
Bill Moggridge - Designing Media  
Persis seperti yang saya rasakan ketika menikmati kartu pos yang dikirimkan kawan-kawan.

Persis seperti yang saya rasakan ketika pergi ke percetakan, memilih-milih kertas yang sangat beragam sekali kontur, ketebalan, rasa sentuh, daya serap tinta dan hasil cetaknya, lalu melihat operator mencetak-memotong-menjilid zine hingga akhirnya sampai ke tangan saya.

Saya tak berani berkata bahwa era media cetak tidak akan mati. Yang saya yakin, media cetak akan selalu hidup setidaknya dalam dunia saya.

Saya juga tak berani berkata bahwa penggunaan kertas tidak akan mengurangi jumlah pohon di lingkungan. Yang saya yakin, menggunakan kampanye antikertas untuk mengalihkan media ke elektronik tak membuat media elektronik bisa menjamin kebaikan pada lingkungan.