menulis
Tampilkan postingan dengan label menulis. Tampilkan semua postingan

10 Agustus 2015

Memilih Jembatan "Menulis"


Ada yang suka nonton film serial Chibi Maruko Chan? Saya adalah penyuka barunya. Baru satu episode saya menonton, langsung dibuat naksir berat sama cerita Maruko dan dunianya. Apalagi, episode pertamanya itu bercerita tentang penulisan. Seolah semesta mengingatkan saya dengan cara yang paling imutnya, agar saya rajin menulis lagi. Haha!

Ceritanya begini: Maruko dan teman-teman sekelasnya dapat tugas membuat tulisan bertema keluarga. Pak Guru menjelaskan bahwa tulisan tugas itu nantinya akan diseleksi untuk diikutsertakan ke lomba tingkat propinsi selain dapat kesempatan tulisan dimuat di majalah sekolah. 

Maruko senang sekali dengan pengumuman tersebut. Di antara teman-teman sekelasnya, Maruko terlihat jadi satu-satunya siswa yang sumringah banget. 

Tapi kemudian ia merasa minder. Ia sadar, keluarganya yang sederhana itu nggak punya cerita yang bisa jadi  menggugah kalau dituliskan. Beda dengan teman-temannya yang bersama keluarganya bisa sering liburan atau dihadiahi mainan kesukaan di hari ulang tahunnya. 

Maruko tak patah arang. Di rumah, Maruko mengamat-amati tingkah laku tiap anggota keluarganya dan memancing orang tua serta kakeknya untuk mengajaknya jalan-jalan, agar mendapat bahan tulisan. Tentu, tetap tak banyak hal fantastis yang ia tangkap.

24 Mei 2014

Pesona Tulisan



Dan seorang dosen saya membuktikan, lewat tulisan ia bisa memesona wanita lalu mengajaknya menikah. 

Saya selalu menaruh apresiasi lebih kepada sesiapun yang menulis. Begitu juga atas dosen. Ketika saya tahu dosen itu menulis, dan tulisannya bagus, maka menghadiri kelasnya bukan lagi sekadar menyimak kuliahnya, tetapi membaca pemikiran serta karakter yang membangun tulisannya itu. Ya bisa jadi ini karena saya juga penulis, jadi tahu betul seperti apa kualitas seseorang yang menulis.

Pernah ada dosen yang sebenarnya saya nggak begitu suka caranya mengajar di kelas, tapi ketika saya dengar kabar bahwa beliau menulis artikel di sebuah majalah dan ternyata tulisannya bagus, maka persepsi saya atas pengajarannya di kelas berubah. Lebih positif.

Di sini, saya mau bercerita tentang dosen yang sering banget menulis untuk kolom Opini di Kompas atau Tempo. Kadang, dia menyebut rubrik  tersebut bukan dengan namanya, melainkan dengan menyebut nomor halamannya. Kompas halaman 7.

Berawal dari mengikuti dan membaca tulisan-tulisan beliau, saya malah jadi gemar membaca rubrik Opini di Kompas. Bahkan, tiap baca Kompas di kantor yang saya baca pertama kali bukan halaman depan, melainkan rubrik Opini tersebut. Tentu, diam-diam saya juga menanti kapan beliau atau dosen-dosen saya di kampus lainnya nongol di rubrik ini.

O ya, perlu di ketahui juga. Dosen satu itu tulisannya sangat menggugah dan berpengaruh. Contoh yang beberapa kali beliau ceritakan adalah tulisannya yang dimuat Kompas sehari sebelum Megawati memberi mandate kepada Jokowi untuk maju jadi Capres. Artinya, sedikit banyak, tulisan beliau yang meman berisi opininya tentang Megawati dan partainya tersebut mempengaruhi keputusan besar yang juga berpengaruh pada politik nasional. Sedaap!!!

Nah, yang paling bikin memukau, dia yang udah rajin banget nulis sejak kuliah ini pernah menjadikan artikel buatannya sebagai ajang pernyataan cinta ke pacarnya (sekarang jadi istri). Kok bisa?

Istrinya sendiri yang bercerita kepada kami, para mahasiswa. Suatu waktu Pak Dosen ini mengajak istrinya untuk masuk ke kelas. Materi saat itu adalah 'media dan politik'. Singkatnya, kami membahas bagaimana peran serta fungsi media dalam dinamika politik dari masa ke masa di Indonesia.

Di akhir kuliah, si istri yang duduk di bagian belakang itu bersuara ikut menambahkan fungsi media. Katanya “Media juga berfungsi untuk menyatakan cinta juga loh.”

“Hah?!” kami bingung. Topik yang dari tadi serius tiba-tiba mengarah ke cinta.

“Tanya sendiri saja ke Bapak!” si istri menjawab.

Kami menengok ke si bapak dosen. Tapi beliau hanya cengegesan.

Akhirnya si istri malah menceritakannya sendiri, “Iya, jadi dulu waktu mau melamar saya dia bikin tulisan dan dimuat di koran. Huruf pertama tiap paragraph yang ada di tulisan itu kalau disusun jadi kata ‘I LOVE YOU’.”

Saya terkesima. Keren! Tiada tara. Memukau. Dahsyat. Loh jinawi. Maha!

Saya membayangkan adegan saat tulisan itu terbit. Si Bapak mesti menghubungi istrinya itu lalu berkata “Kamu udah baca tulisan aku di Kompas? Kalau udah baca sekali lagi deh. Tulisan itu aku buat untuk kamu. Perhatiin awal tiap paragragnya yah.”

Duh. Betapa saya ingin mengistimewakan pacar saya dengan cara sesederhana, implisit tapi memukau begitu juga. Dan tentu berkaitan dengan tulisan.





03 April 2014

Penulis yang baik adalah

Penulis yang tulisannya selesai.
Bukan yang sekadar berkata, "Saya suka menulis." atau "Saya punya ide bagus untuk menulis."

-catatan untuk diri
© blogrr
Maira Gall