Monday, June 28

The Sun Did a Two Way Monologue


Coba liat, itu ada dua "matahari" sedang sibuk-sibuknya menyinari aktivitas pagi. Saya yang sedang penasaran-penasarannya dengan yang namanya "no flash corner" jadi tertarik untuk mencari spotnya. Ini adalah di jalan Sudirman, tepat di depannya Ex.

Ternyata menarik juga yah, bayangan objek yang dijatuhi kedua sinar itu jadi ada dua. Nggak peduli deh ini NFC atau bukan, yang jelas saya sangat terpukau. hehe, Thx God.





Saturday, June 26

Polos bukan berarti tanpa rasa.






kadang saya masih menganggap bahwa saya ialah seorang anak kecil berusia 22 tahun. 
Polos, tapi bukan berarti tanpa rasa. 

Wednesday, June 16

Sabtu yang sungguh terlalu












Ini adalah foto-foto yang saya ambil saat Sabtu lalu. Mungkin tidak ada yang begitu istimewa hasil foto saya. Tapi yang bagi saya yang istimewa adalah orang-orang yang hunting bersama saya. Adalah mereka-mereka sesama pecinta, penikmat serta pegiat street photography yang saya kenal melalui forum-forum fotografi itu.

Ada Om Affandi Agoes, pegiat street photography yang saya kagumi. Beliau sedang pulang dari Hongkong katanya. Ada juga Mbak Santi alias Fransisca Ria Susanti, yang juga datang dari Hongkong. Dan juga beberapa orang lainnya yang sedang ada di Jakarta seperti Om Ben, Mas Pakih, Victor, Krishna, Yoyok, Andi, Rian.


Senayan, Pasar Baru, serta Monas menjadi tempat kami berjalan sambil terus berwacana. Rasanya kamera tidak pernah bisa lepas dari tangan walau pun mati gaya mau motret apa. ahahah

Pokoknya terima tengkyu kawan-kawan, khususnya untuk Om Fandi dan Mbak Santi atas jamuannya. Juga untuk amunisi Tri-X 400 nya, sungguh menggunakannya harus diperhitungkan matang-matang terlebih dulu.  Kalian membuat Sabtu ku menjadi sungguh terlalu.

Semoga kalian bisa bertanggung jawab atas rasa penasaran saya dengan kawan-kawan lainnya yang biasa jumpa hanya di dunia maya.


yang ini Fotonya Om Ben. 


yang ini fotonya Krishna, pinjem ya gua. 

Tuesday, June 8

Bagai Ojeg Merindukan Bulan

Hahaha. Entah kenapa saya jadi inget humor satu ini. Humor yang cerdas dilontarkan oleh tukang ojeg kepada seorang calon penumpangnya. Adalah kawan saya bernama Kindi yang beruntung bisa mendengar siaran langsung nya tersebut. Dan untungnya, dia adalah pencerita yang baik dan memang dia senang bercerita. Jadilah saya juga tahu. Kira-kira begini percakapannya:

Ibu-ibu calon penumpang: "Bang ojeg bang ke komplek situ"
abang Ojeg: "Oh ayo"
Ibu-ibu calon penumpang: "3000 ribu yah bang" (saya nggak inget pasti berapa nominalnya)
abang ojeg: "wah, masa segitu bu, 5000 biasanya"
ibu-ibu: "ye itu deket bang, dari sini keliatan"
Abang ojeg: "Ya bu, BULAN juga keliatan bu dari sini" Kali ini tukang ojeg berkata dengan intonasi tinggi sambil menunjuk bulan.


Hahahaha. Saya yakin si Ibu langsung nunduk malu lalu naik ke boncengan si abang dan rela dibawa kemana pun si abang pergi, termasuk ke bulan.

Betapa saya salut dengan spontanitas nan cerdas dari tukang ojeg itu. Betapa saya memang senang mengamati, mendengar kan orang-orang berbicara dan mengambil hal-hal yang unik dari sana.
Lalu kita juga bisa mengambil pelajaran dari dialog itu, tapi nggak usah lah, tar jadi terkesan serius, kan ini niatnya pengen becanda.

Tuesday, June 1

Dashboard Confessional: Siapa Bilang Cuma Tiga-Lima Lagu


Band asal Florida ini  memanjakan para penggemarnya dengan hits-hits dari album lawas hingga album terbaru. Lengkap dengan bulan purnama sebagai lightingnya.
Yap, gosip kalau Dashboard Confessional cuma aji mumpung doang mampir ke Indonesia ditepis dengan performance semalam, Sabtu (29/05).  Belasan lagu digeber Chris Caraba dkk dengan sangat memukau. Nggak mau membuat para fansnya menunngu sekitar pukul 21.30 DC membuka aksinya dengan lagu Don’t Wait.
Pada awalnya saya mengira konser ini akan didominasi dengan lagu-lagu dari album terbarunya, Alter The Ending. Tapi ternyata hits-hits dari album awal seperti A Place That You Have Come To  Fear The Most, Again I Go Unoticed, Saint and Sailor,  Screaming Infidilities, hingga Swiss Army Romance pun dimainkan dengan baiknya.  

Mungkin karena konser ini nggak butuh banyak uang untuk tiket masuknya, jadi banyak orang yang kurang tahu tentang DC pun ikut nonton. Alhasil dibanyak lagu tidak terdengar banyak anak yang ikut bernyanyi. Dari awal sampai akhir konser yang mereka nantikan cuma Hands Down saja. Berbeda dengan saya dan Ajeng yang terlihat nyentrik nyanyi dengan intonasi tinggi.  Nggak peduli deh mau dibilang anak emo kek, nyang penting gua nonton nih band. :D
Tenyata Chris Caraba sang vokalis nggak cuma terlihat charming mukanya saja, Chris selalu melemparkan sapaan hangat kepada para penonton. Tak jarang ucapan terimakasih dan pujian juga diucapkan.   Selain Chris Caraba, John, sang gitaris juga terlihat terintaktif dengan para penonton.
Di sela-sela lagu Chris bercerita tentang seorang teman yang merekomendasikannya untuk datang ke Jakarta, dan untuk itu ia menyanyikan lagu yang didedikasikan untuk temannya tersebut, El Scorcho, lagu milik Weezer. Yeah, saya yang memang doyan lagu tersebut pun nggak mau ketinggalan satu bait pun untuk dinyanyikan bareng DC.  Para Weezerian lain pun mengacungkan kedua tangannya membentuk lambang Weezer.

Sepertinya, DC doyan dipanggil-panggil sama penggemarnya. Buktinya, mereka turun panggunng menutup acara sampai dua kali. Kontan teriakan We Want More bergema disana. Beda lagi dengan seorang cewek bernama Ajeng yang malah berterikan “Cu Ran Mor, Cu Ran Mor!” Tak mau kalah, saya pun membalasnya “Man Dy Moore, Man Dy Moore!”
Yap, seperti yang semua penonton tebak, lagu Hands Downs didaulat menjadi penutup konser malam itu.