Sunday, February 22

Setahun di Provoke!



Februari ini saya genap setahun menulis untuk Provoke!, majalah yang proses menulis untuknya memacu saya untuk menjadi tengil walau pun merasa ‘kecil’, agar bisa meracik pengalaman kolektif menjadi tulisan kreatif, nyelipin makna dalam kemasan jenaka, dan memercik pemikiran kritis dengan seruan manis tanpa sinis.

Awalnya terasa gampang, lama-lama jadi menantang

Katanya, Provoke! harus ditulis dengan tanda seru. Semoga saja, apa yang udah saya lakukan seenggaknya bisa jadi titik yang menopang tanda serunya Provoke!

Semangat dulu, ah.

Friday, February 20

Setelah Membaca Novel-Novel Okky Madasari

Pasung Jiwa adalah buku Okky yang baru saja selesai saya baca. 


Membaca bukunya Okky Madasari itu selalu seru. Tragedi yang mendera para tokoh tak disangka-sangka alurnya, dan seringnya, ekstrim dari yang saya duga. Duh.

Kadang, saya merasa sebal sama Okky, betapa teganya ia menyeret para tokoh ke tragedi begitu mendalam dan menyiksa. Padahal, hampir semua tokohnya adalah mereka yang terpinggirkan: entah itu karena keluguan, keadaan ekonomi, kepercayaan yang berbeda dari mayoritas, dan ketakberdayaan melawan kekuasaan serta belenggu semu tapi kuat yang tercipta dari lingkungan sosialnya. Mereka butuh pertolongan.

Saya juga sebal kepada Okky, yang sesekali harapan diberikan pada tokohnya, tapi belum lama diajak terbang, para tokoh sudah ditenggelamkan lagi pada permasalahan. 

Tapi saya tahu bahwa kesebalan saya itu tak perlu dikasihani. Saya memang perlu dibuat sebal. Saya harus sebal dan kalau bisa, benci dan terpercik hasrat untuk berontak. Mungkin, itulah yang diharapkan Okky. Pasalnya, tragedi ekstrim yang dialami para tokoh itu begitu nyata, dan memang benar-benar terjadi, dialami oleh beberapa manusia-manusia yang ada di Indonesia ini. Beritanya pun sering saya saksikan di media. Mungkin, karena berita media terlalu riuh, saya pun jadi acuh tak acuh. Tapi, Okky, melalui novel-novel fiksi tapi fakta yang dikemas dengan cerita narasi yang sangat apik ini, memberikan saya pengalaman sastrawi terhadap tragedi-tragedi itu. Saya jadi merasa akrab dengan para tokoh yang menjadi korban, bahkan saya bisa mengenalnya hingga suara hatinya. Ketika mereka geram, saya pun geram. Ketika mereka sedih, saya pun sedih. Ketika mereka tertindas dan berani merencanakan perlawanan, saya pun ikut berani menjadi pasukannya. 

Novel-novel Okky, kerap berakhir kurang menyenangkan. Sekalipun happy ending, kisah bahagia di akhir ceritanya dibuat singkat dan cenderung buram.

Sekali lagi, barangkali, itu maunya Okky, yaitu agar saya seusai membaca bukunya, jadi melanjutkan harapan para tokohnya dan memperjuangkannya dengan modal keberanian dan kegigihan yang mereka warisi dari cerita. 

Tiap kali rampung membaca novel Okky, pertanyaan (baca: perenungan) dalam kepala saya pun dimulai: sudah seberapa besarkah pengabdian saya terhadap kemanusiaan. Huhu. Maafkan saya, semesta.

berkesempatan menyapa mbak Okky dan minta foto bareng setelah menyaksikan talkshow-nya di acara Peluncuran ID Writers 29 Januari lalu di Goethe Haus.  Di sana, saya juga minta tanda tangannya ke tiga bukunya yang saya punya saat itu. Komentar mbak Okky, "berarti kamu tinggal Pasung Jiwa nih yang belum baca." Sekarang saya sudah membacanya, mbak. Hehe. Di belakang kami, ada poster bergambar mbak Okky dan Pramoedya Ananta Toer. Momen ini juga bikin saya ingin melanjutkan baca Tetralogi Buru-nya Pram. Bersamaan dengan pembelian buku Pasung Jiwa, saya juga memesan Jejak Langkah, akan saya baca bulan ini juga. Terima kasih, para penulis hebat Indonesia, atas inspirasinya.