Wednesday, March 16

Desain sebagai Motor Gerakan Sosial


(ditulis untuk Nirmana Award, dimuat di Market Plus Magz)

Penggunaan desain dalam komunikasi  ditandai dengan munculnya mesin cetak Guttenberg pada pertengahan abad 15. Setelah itu,  revolusi industri pun membuat perkembangan teknik cetak dan duplikasi semakin genjar. Alhasil, media komunikasi non-verbal seperti poster dan selebaran  digandrungi. Dari situlah kebutuhan akan desain grafis pun kian dirasakan guna menciptakan bentuk komunikasi visual yang efektif dan tepat sasaran. 

Hingga pada awal abad 19 Perang Dunia pecah menjadi muara konflik kepentingan masyarakat dari revolusi industri. Di situasi Perang Dunia ini lah desain grafis mulai banyak digunakan untuk oleh para penguasa untuk menyebarkan doktrin-doktrin kepada masyarakatnya. Ya, selain senapan dan dinamit, desain pun menjadi senjata. Peluru yang dilontarkannya berupa poster-poster propaganda yang menyerang serta memanipulasi ruang pikiran rakyat luas.  

Salah satu poster propaganda yang terkenal di era itu adalah poster karya James Montgomery Flagg. Poster tersebut bergambar diri James tengah menunjuk ke arah depan. Ia  memakai pakaian khas Presiden Abraham Lincoln serta memakai topi bercorak bendera Amerika Serikat. Headline pada poster itu adalah “I Want You For U.S Army”. Isi poster itu adalah seruan kepada pemuda-pemuda Amerika Serikat untuk bergabung di pasukan militer. Dari poster itu pun akhirnya banyak pemuda yang mendaftarkan diri untuk gabung di militer. 

Wednesday, March 9

Ode Buat Kota by Bangkutaman - Pujian Satire Untuk Jakarta

09032011913_800_600
Jakarta, ibukota yang hiruk-pikuk dan lagi norak-noraknya berkembang ini memang selalu meninggalkan kesan tersendiri bagi setiap warganya, tak terkecuali bagi Bangkutaman, yang baru saja datang kembali ke Jakarta setelah lama tinggal di kota seasri Jogja.

Melalui album Ode Buat Kota ini, Bangkutaman menumpahkan segala perasaan serta pemikirannya tentang Jakarta. Jika dilihat dari arti kamusnya, ode itu berarti sebuah pujian. Namun coba dengarkan dulu album ini atau minimal lagu hitsnya saja, Ode Buat Kota, kita akan tahu kalau maksud pujian itu ialah pujian atas kehebatan tiap elemen kota untuk bertahan di tengah Jakarta yang penuh dengan polemik. Sebuah pujian yang satire.

Bahasan lagu-lagu di album ini datang dari kehidupan sehari-hari yang di alami para personil. Mulai dari perjalanan pulang menggunakan kereta api, situasi politik, keadaan lingkungan Jakarta, para pekerja malam, sampai tentang acara-acara di televisi. Dan Saya tertarik dengan potongan lirik dari lagu tentang televisi itu, judulnya Penat: "Terus dan terus otak digerus berita palsu Jejal mataku Jenuhkanku Pusingkanku Maya dan nyata tiada berbeda (…) cela dan dosa dibungkus tawa."

Monday, March 7

Car Junkyard, Jakarta, 260211

click to enlarge
                     


. Some cars junkyard located in TB Simatupang, Jakarta. Thanks to my friend, Kindi (showed in the last photo) to bring me there. And you know what? this is my first shot with DSLR after about 2 month.