Monday, April 30

kunci jawaban Kartu Pos Teka-Teki


Minggu lalu saya mengirim 13 kartu pos yang isinya teka-teki silang. Bhaha. Sadar karena isi pertanyaan dan jawabannya nggak melulu relevan dan masuk akal, maka saya menyediakan kunci jawabannya. Toh memang saya nggak mengharapkan kalian bisa menjawab semuanya sendiri. Esensi yang saya maksud dari kartu pos teka-teki ini adalah diperuntukkan untuk hiburan dan sapaan. Syukur-syukur sih bisa meninggalkan kesan positif. Yihaa..

 Ini semua adalah karena saya sayang kalian semua dan nggak mau membiarkan kalian bertanya-tanya pada rumput yang bergoyang dan atau membiarkan waktu yang menjawab. Waktu tidak bisa mengisi TTS, ia hanya bisa mengisi detik demi detik dalam putaran jam.

Sunday, April 29

Segera diwisuda: Buku Kumpulan Foto terlalurisky !!




Hari ini, 29 April, tahun lalu, saya sukses melewati sidang skripsi. Momen itu pun sekaligus menandakan bahwa skripsi menjadi buku pertama saya. Nah, di tanggal yang sama tahun ini, saya tertantang untuk mengulang kebahagian yang sama itu. Saya ingin menghadiahi diri saya. Saya mau nekat menerbitkan lagi sebuah buku.

Tidak Sengaja Tapi Terrencana adalah kumpulan foto-foto yang saya karyakan. Isinya ya adalah foto-foto dokumentasi keseharian. Dari keseharian yang penuh dengan ketidaksengajaan ini saya merencanakan sebuah cerita, bisa jadi berupa drama, humor, atau sekedar permainan-permainan estetika yang tersaji.

Dari Warteg 24 jam jadi mixtape 2 x 12=24: Sebuah ucapan Selamat






Bagi sebuah warteg, membuka layanan selama 24 jam adalah sebuah dedikasi. Pasti, selain pertimbangan mencari keuntungan sang pemilik juga bermaksud untuk memfasilitasi para manusia yang aktif di malam hari. Ia begitu sadar, bahwa warteg adalah penyedia kebutuhan utama manusia, yaitu makanan. 

Bisa jadi dari terjemahan bebas tentang warteg 24 jam itulah Sundea - sohib saya - membuat mixtape 2 x 12 ini. Lewat 12 lagu yang ditanamnya dalam mixtape Dea memberi pesan kepada kita untuk selalu tulus berdikasi  berkarya dan bekerja untuk kehidupan sekitar kita semaksimal mungkin walau dengan kesederhanaan.

Saturday, April 28

Metal Gothic: Kegelapan yang Elegan

(dimuat di Hai edisi 17, edisi khusus metal, April 2012)


Pertama kali mendengar kata gothic pasti yang terbayang di benak kita adalah situasi yang gelap, dan menyeramkan. Nah ketika kata itu disandingkan dengan metal, hasilnya adalah musik keras, berdistorsi dengan nuansa kelam dan muram. 

“Ya, gothic itu kan berasal dari kata goth yang kurang lebih artinya kepercayaan tentang kegelapan,” jelas Bowo, Gitaris band Dreamer, salah satu punggawa musik metal gothic di Indonesia. 

Nah, menurut Yani, sang frontman sekaligus gitaris Dreamer, suasana kelam dan gelap itu dibangun dengan musik-musik yang lebih mengedepankan simfoni, “Metal gothic bisa dengan mudah dicirikan dari musiknya yang sering menggunakan gitar melodi, piano atau kibor dengan nada-nada simfoni yang panjang serta suara vokal cewek yang soprano,”. Itulah mengapa dibalik kegelapannya, musik metal gothic ini punya citra yang elegan. 

Friday, April 27

Authentic Experience Oriented + 20 Seconds of Insane Courage = “We Bought a Zoo!”


Maret lalu, saya berkesempatan menonton film Postcard From The Zoo. Film yang kurang lebih berkisah tentang seorang gadis yang menghabiskan hidupnya di kebun binatang lalu tertantang untuk keluar memasuki kehidupan manusia. Bisa jadi karena film itulah kata ‘kebun binatang’ terus menggentayangi pikiran saya.

Singkat cerita, saya pun terdorong untuk menonton satu film lagi yang memasang kata 'kebun binatang' di bagian judulnya. We Bought a Zoo pun menjadi pilihannya. Berbeda dengan Postcard From The Zoo yang alurnya absurd dan susah untuk diinterpretasikan, film We Bought a Zoo ini terasa begitu hangat. Sebuah drama keluarga yang sentimentil.

Wednesday, April 25

Pedagang Pecel Lele pun Desainer.

ditulis untuk Nirmana Award, dimuat di Malesbanget.com April 2012, http://mlsbgt.de/JAwLNF
Gambar ayam jago dengan warna keemasan, lele yang sedang meliukkan tubuhnya, dan seekor bebek. Lalu disekelilingnya terdapat tulisan-tulisan penjelas dari gambar “Pecel Lele, Ayam Goreng, Nasik Uduk dan Tahu Tempe,” Tak jarang juga, nama penjualnya dibubuhi lebih besar sebagai penanda. Jenis hurufnya selalu besar dan warnanya eksentrik, biasanya kemerahan.

Coba visualisasikan kalimat tersebut dalam benak kalian, dan sebut hal apa yang muncul. Pasti gambaran warung tenda dipinggir jalan dengan kursi plastik dan suara gemuruh minyak yang tengah mengepung lele dan ayam yang akan muncul. Ya, itu adalah warung tenda Pecel Lele. 

Entah siapa yang memulai, tapi tata spanduk semua warung tenda pecel lele di seluruh penjuru Indonesia selalu begitu bentuknya. Kalau kita amati, spanduk sederhana itu sudah memuat unsur-unsur dalam desain grafis: tipografi dalam bentuk dan warna huruf-huruf; ilustrasi untuk menggambarkan apa yang dijualnya dan layout alias tata letak unsur-unsur tersebut.  Walau terlihat terlalu ramai dengan penggunaan banyaknya jenis huruf tapi desain spanduk seperti ini sudah tertanam di benak masyarakat sebagai bagian dari brand pecel lele. 

Ini adalah bukti bahwa desain grafis itu tidak melulu dilakukan oleh para pekerja di perusahaan kreatif saja, tetapi juga oleh semua orang termasuk kita. Untuk bisa menemukan karya-karya desain pun kita tidak mesti mencarinya di situs-situs dan majalah yang seni dan desain. Cukup lihat sekeliling, kita akan dengan mudah menemukannya. 

Monday, April 16

Oase itu Bernama Prestasi Desainer Indonesia


(ditulis untuk Nirmana Award, April 2012)

Jika kita menyaksikan berita di media massa, rasanya tak henti-hentinya kabar miring tentang negeri ini disiarkan. Entah itu aksi premanisme, perkara korupsi yang tidak berujung, serta kejanggalan-kejanggalan lain yang terjadi pada pemerintah. Tak ayal kalau anggapan negatif tentang negara ini makin pekat dan laten, tidak hanya di mata bangsa lain tetapi juga di mata rakyatnya sendiri. “Ah Indonesia payah, kapan mau majunya,” kira-kira begitulah umpatan yang biasa terdengar

Tapi tunggu dulu, tidak adil rasanya kalau buru-buru men-judge bahwa Indonesia itu payah dengan hanya melihat dari berita-berita negatif yang biasa diumbar media saja. Sayang rasanya jika optimisme kita luntur hanya karena pandangan bencana hasil pantauan sebelah mata saja. Kita  perlu membuka mata untuk melihat Indonesia dari sudut pandang lain. 

Daripada sibuk mencaci pemerintah, lebih baik kita mencari lalu mendukung serta menyemangati orang-orang yang memiliki passion besar di bidangnya dan giat berkarya membawa nama bangsa. Pasalnya, kini banyak pelaku desain asal Indonesia yang diam-diam mengukir prestasi di tingkat internasional. Siap-siap lah untuk terpukau dengan karya-karya berkelas 

Friday, April 6

Kucin(g)ta Kau


"Melihara binatang itu melatih kita kita untuk tanggung jawab, Ki" 

Itu adalah ucapan Lodar, salah satu sohib, saat saya berkunjung ke kosnya. Saat itu - 2011 awal - Lodar memelihara kucing muda yang kalau saya nggak salah inget adalah pemberian dari temannya. Ia sengaja meminta kucing itu agar bisa dipelihara.

Mungkin Lodar jadi bicara itu karena melihat saya risih dengan kucingnya yang nggak bisa diam berlari-lari di kamarnya yang sempit dan bertaburan barang di mana-mana. Ya, saya memang sedikit risih kalau ada kucing, bukan berarti nggak suka atau takut, cuma belum bisa terbiasa digigit dan dicakar aja, jadi kadang mendadak panik. Haha.  

Mendengar ucapan itu pun membuat saya mengingat beberapa waktu ke belakang. Pantas Lodar sering kukuh untuk pulang saat di ajak bermalam di kos saya untuk main. Bisa jadi itu karena ia harus mengurus kucingnya tersebut. Walau akhirnya kucing itu memilih untuk bebas, tapi pasti sudah meninggalkan pelajaran tanggung jawab untuk Lodar. 

Akhir-akhir ini, tiba-tiba saya teringat lagi dengan perkataan Lodar itu. Satu alasan besarnya adalah secara tidak langsung saya memelihara kucing. Kenapa secara nggak langsung? karena saya tidak merencanakannya, melainkan kucing itu sendiri yang memilih untuk menetap di halaman rumah sejak (kurang lebih) November tahun lalu. 

Thursday, April 5

Akademisi Desain untuk Semua


(ditulis untuk Nirmana Award, April 2012)

Jika desain itu dituntut untuk bisa memberikan solusi dan menghadirkan estetika di segala bidang, maka begitu jugalah para akademisinya, bukan hanya berorientasi pada industri semata. 

Satu hingga dua dekade lalu, mengeyam pendidikan desain adalah hal yang tabu. Tak jarang orangtua yang ragu tiap kali ada anaknya yang mengajukan desain sebagai jurusan tempat ia melanjutkan studinya di perguruan tinggi. Ada yang bilang masa depannya tidak jelas, ada yang mengira perkuliahannya yang lebih mengedepankan praktik daripada teori membuat anaknya turun derajat, tak jarang juga yang khawatir kalau anaknya jadi memiliki pemikiran yang nyeleneh selayaknya seniman.

Tapi sekarang keadaan pun berbalik. Jika pada dekade lalu Indonesia hanya memiliki sekitar lima perguruan tinggi yang menawarkan pendidikan desain. Kini jumlahnya pun berkembang drastis, pendidikan desain seolah menjadi program studi yang wajib dihadirkan seperti halnya Ekonomi, Hukum, Kedokteran atau pun Ilmu Komunikasi. 

Sunday, April 1

Bandung 100312





Sabtu, 10 Maret lalu saya bersama tim Card to Post menyambangi Warung Imajinasi di Bandung. Kepada para penghuni komunitas dengan markas yang super asri dan bersahaja itu kami bersama-sama menggambar Kartu Pos untuk Presiden. Tidak lebih dari 3 jam kami bermain di situ, tapi keasrian hawanya masih terbawa sampai sekarang.Tertarik untuk melihat dokumentasi acaranya? kunjungi tautan ini