keseharian
Tampilkan postingan dengan label keseharian. Tampilkan semua postingan
03 Juni 2016
Setiap Malam
Kita saling menjadi
abcdefghijklmnopqrstuvwxy
yang mengantar sampai
Zzz....
Setiap malam,
setiap hari.
23 Mei 2016
Ada Bayi di Rumah (2)
Tapi kali ini si bayi sudah beda rumah dengan saya. Ia ikut ibu dan bapaknya pindah ke rumah baru. Rumah saya kini menjadi kampung halaman, yang hanya ia akan dikunjungi satu-dua minggu sekali.
"Ini udah hari ke-20 tinggal di sini. Nggak terasa yah," kata ibunya, kakak saya. Ia mencatat baik tanggal ternyata.
Pun, si bayi ini sudah bukan bayi lagi. Usianya sudah satu tahun setengah. Udah lihai berjalan, udah bisa makan banyak cemilan (terutama kerupuk, tahu, buah, biskuit, dan coki-coki), udah bisa nunjuk-nunjukin arah ketika lagi digendong, udah bisa selalu milih Yakult yang ada di kulkas berkaca kalau diajak ke warung depan rumah, udah bisa salam cium tangan, udah bisa diminta kecup dengan bilang,"sun dulu dong", udah bisa membedakan orang berdasarkan namanya, udah bisa joged-joged kalau disetel lagu anak, dan udah bisa minta nyalain laptop kalau lagi pengen nonton Youtube. Dan yang paling penting, sekarang ini parasnya berubah, apalagi setelah potong rambut, jadi nggak keliatan kayak bayi. Dia udah termasuk golongan balita dewasa kayaknya. Haha.
![]() |
| lagi asik nonton video musik anak di Youtube |
Siang tadi adalah kali pertama saya main ke rumah barunya itu. Nggak jauh dari rumah sih sebenernya. Cuma butuh 40 menit paling lama. Tapi tetap saja, dia dan saya nggak ada di rumah yang sama. Saya, mamah, papah, dan adik udah nggak bisa melihat dan merasakan kehadirannya tiap saat. Paling-paling cuma dari update grup WhatsApp keluarga. Kakak cukup rajin memberitakan kegiatan anaknya.
"Nih, lihat. Si Akang punya temen baru," kata kakak suatu hari. Setelahnya ia mengirim foto si akang lagi melakukan sesuatu dengan seorang anak cowok lainnya. Anak tetangga sepertinya.
Itu kabar baik! Dia punya teman. Di perumahan kakak yang cluster itu, memang banyak orang tua muda. Jadi, si akang punya beberapa teman sepantaran. "Makin lucu. Kalau siang bobo, kalau sore main dia," kata kakak lagi. Saat masih tinggal di rumah saya, jam tidurnya adalah pukul 8-10 pagi. Jam mainnya berubah.
"Akang lagi mandorin kerja bakti nih," kali ini kakak ipar saya nyahut di grup. Setelahnya ada foto akang lagi berdiri di depan sekumpulan ibu-ibu yang memegang sapu dan perkakas
O ya, Akang adalah nama panggilan si bayi ini. Panggilan untuk kakak laki-laki dalam bahasa Sunda. Oke, karena udah dikenalin, maka selanjutnya si bayi saya sebut si Akang aja yah.
Awalnya, saya ragu kalau si Akang akan betah di rumah barunya. Takut kesepian. Kalau di rumah saya kan, pagi bisa main sama neneknya, siang kalau bosen bisa minta digendong kakeknya. Sore hingga malam bisa diajak becanda lagi oleh om dan tantenya. Tapi ternyata di rumah barunya, ia lebih seru berkembangnya.
Bagaimana pun, kejadian ini bikin nggak enak kami yang di rumah. Bikin kangen mulu. Mamah dan papah suka memanggil-manggil nama Akang tiap pagi sebagaimana biasa. Tiap malam juga, "manah nih si Akang. Malam ini tidur di kamar Enin yah," kata Mamah tidak kepada siapa-siapa. Biasanya mamah selalu ngajak main Akang sepulang kerja. Adik saya nggak kalah, dia sering banget minta dikirimin foto si Akang di grup WA.
Rumah jadi berasa sepinya. Kalau seharusnya dihuni oleh 8 orang, kini hanya sisa 4. Selain kakak, kakak ipar dan si akang, yang nggak di rumah lagi adalah adik bungsu saya. Ia kuliah di luar kota.
Betapa oh betapa, yah. Anak kecil bisa bikin keluarga jadi "besar"...
:D
--
Cerita Ada Bayi Di Rumah sebelumnya bisa di baca di link ini <- font="" klik="">->
06 Maret 2016
Janji Televisi
Gini ceritanya, suatu hari, saya liputan di sebuah kantor kementerian. Ada narasumber yang perlu saya kejar, dan dia akan mengisi materi di seminar di kantor itu. Nggak banyak media yang meliput, sepantauan saya, hanya ada tiga wartawan. Saya, seorang wartawan TV, dan seorang ibu yang katanya wartawan organisasi penyelenggara seminar tersebut
Narasumber saya datang. Saya pun menghampirinya. Dua wartawan lain tadi ikut juga. Kami mewawancara si pejabat itu secara door stop, sebelum dia masuk ke ruang seminar, dan mengisi materi. Kami bertiga mewawancara barengan
Dan di sinilah menariknya. Saat itu, karena ada wartawan televisi, si narasumber nggak berdiri sendiri di depan kamera. Para petinggi organisasi ikut nempel, berdiri menghadap kamera. Betapapun yang diwawancara cuma satu orang
Sambil konsentrasi memerhatikan jawaban dan menyiapkan pertanyaan, mata saya memerhatikan, jumlah orang yang nempel makin banyak. Tadinya hanya satu, lalu datang dua pria lagi berdiri di belakangnya. Lalu pria muda ikut datang juga, berdiri di samping si bapak. Bahkan, si pria muda ini sempat meminta difotokan dalam pose (seolah) sedang mendampingi pejabat diwawancara televisi. Ya, masuk tivi saja nggak cukup!
Itu belum seberapa mengagetkan dibanding ulah si ibu wartawan organisasi. Ketika wawancara baru berjalan sekitar dua menit, ponsel perekam yang tadinya ia pegang, ia SELIPKAN ke jari-jari tangan saya yang padahal ia tahu bahwa di tangan saya sedang memengang ponsel perekam juga. "nitip ya dek,"katanya singkat dan tak sempat saya jawab
Dalam keheranan campur sebal yang menyeruak memecah konsentrasi saya yang sedang mewawancara, mata saya mengikuti kemana si ibu pergi. Tahukah kamu si ibu melipir dari hadapan narsum menuju rombongan orang-orang yang mendampingi wawancara itu. Dia ikut berpose lalu minta difoto juga oleh temannya
Astaga
Betapa oh betapa, televisi adalah bingkai realita, dan masyarakat kita tahu betul kalau bisa masuk ke dalam siarannya bikin dunia tahu kalau kita ada. kesempatan menciptakan citra lewatnya, adalah cara kita jadi manusia bahagia.
---
Pertama kali ditulis pada 17 Januari 2016 untuk program #30haribercerita
Gini ceritanya, suatu hari, saya liputan di sebuah kantor kementerian. Ada narasumber yang perlu saya kejar, dan dia akan mengisi materi di seminar di kantor itu. Nggak banyak media yang meliput, sepantauan saya, hanya ada tiga wartawan. Saya, seorang wartawan TV, dan seorang ibu yang katanya wartawan organisasi penyelenggara seminar tersebut
Narasumber saya datang. Saya pun menghampirinya. Dua wartawan lain tadi ikut juga. Kami mewawancara si pejabat itu secara door stop, sebelum dia masuk ke ruang seminar, dan mengisi materi. Kami bertiga mewawancara barengan
Dan di sinilah menariknya. Saat itu, karena ada wartawan televisi, si narasumber nggak berdiri sendiri di depan kamera. Para petinggi organisasi ikut nempel, berdiri menghadap kamera. Betapapun yang diwawancara cuma satu orang
Sambil konsentrasi memerhatikan jawaban dan menyiapkan pertanyaan, mata saya memerhatikan, jumlah orang yang nempel makin banyak. Tadinya hanya satu, lalu datang dua pria lagi berdiri di belakangnya. Lalu pria muda ikut datang juga, berdiri di samping si bapak. Bahkan, si pria muda ini sempat meminta difotokan dalam pose (seolah) sedang mendampingi pejabat diwawancara televisi. Ya, masuk tivi saja nggak cukup!
Itu belum seberapa mengagetkan dibanding ulah si ibu wartawan organisasi. Ketika wawancara baru berjalan sekitar dua menit, ponsel perekam yang tadinya ia pegang, ia SELIPKAN ke jari-jari tangan saya yang padahal ia tahu bahwa di tangan saya sedang memengang ponsel perekam juga. "nitip ya dek,"katanya singkat dan tak sempat saya jawab
Dalam keheranan campur sebal yang menyeruak memecah konsentrasi saya yang sedang mewawancara, mata saya mengikuti kemana si ibu pergi. Tahukah kamu si ibu melipir dari hadapan narsum menuju rombongan orang-orang yang mendampingi wawancara itu. Dia ikut berpose lalu minta difoto juga oleh temannya
Astaga
Betapa oh betapa, televisi adalah bingkai realita, dan masyarakat kita tahu betul kalau bisa masuk ke dalam siarannya bikin dunia tahu kalau kita ada. kesempatan menciptakan citra lewatnya, adalah cara kita jadi manusia bahagia.
13 Desember 2015
Dari Kelas Menulis Puisi Bersama Sapardi Djoko Damono
Katanya,
Puisi, sebermulanya adalah bunyi, bukan aksara. Membuat puisi diiringi dengan membunyikannya. Puisi harus dibayangkan bisa dibunyikan atau tidak.
Tapi puisi juga penggambaran. Penggambaran suasana barangkali maksudnya.
Menjadi (sangat) peka dengan apapun yang terjadi adalah modal awal untuk memperkaya referensi metafora.
Puisi untuk dihayati bukan untuk dipahami,
-Indonesian Reading Festival, Sabtu 5 Desember 2015-
Di akhir sesi, kami diminta membuat puisi lalu peserta yang berani dipersilakan membacakannya di depan, untuk kemudian dinilai oleh Pak Sapardi.
06 Desember 2015
Jiper Adalah....
Di Indonesian Reading Festival (IRF) kemarin, saya kenalan sama seseorang yang ternyata masih SMA. Namanya Angie, kelas XII SMA bilangan Jakarta Barat. Dan terjadilah percakapan ini:
R: Lu beneran masih SMA?
A: Iya.
R: Emang suka sama buku atau puisi? (saat itu kami baru selesai ikut kelas menulis puisi Sapardi Djoko Damono)
A: Iya, suka buku dan puisi. gue pun udah dateng ke IRF ini sejak tiga tahun lalu.
R: Kenapa dan sejak kapan suka buku?
A: Sejak kecil, orangtua gue suka ngebeliin buku yang temanya diatas umur gue. Misalnya, di umur 9-10 tahun, gue dibeliin NH Dini, dan buku-bukunya Pramoedya. Dari kecil juga udah baca Laura Ingalls Wilder. Itu, kan, membuka imajinasi banget. Makanya gue suka banget baca buku.
R: Kesenanagan apa yang lo dapet dari baca buku?
A: Gue tipe orang rumahan yah. Bukan tipe yang suka keluar, travelling. Jadi. Kalau misalnya gue baca buku gue nggak perlu keluar rumah untuk tau sesuatu. Apalgsi sekarang kan ada internet. Bisa dapet pengetahuan dari buku. Dapet kesenangan dari buku.
R: Cara lo baca buku gimana, di tengah kesibukan lo sekolah?
A: Gue baca buku, tuh, kalau nggak malam hari atau weekend, pas siang. Biasanya kalau malam, 2-3 bab. Kalau weekend bisa satu hari satu buku.
A; Banyak. gue lagi baca Umberto Eco, Karl May, Jules Verne, Laura Ingalls Wilder.
R: Hah. lu udah baca Umberto Eco?! keren.
R: Terus, buku yang tadi mau lu minta tanda tangannya Sapardi, itu buku apa?
A: Oh, itu buku kumpulan tulisan dari rubrik Bahasa di Tempo. Sapardi ikut nulis. Ini bukunya Perpus sekolah sih sebenernya.
A: Kalau kakak bacanya apa?
R: Duh, gue jadi jiper sih kalau gini. Nggak usah tau deh gue baca apa aja. Hahaha.
A: Pramoedya suka juga?
R: iya suka. terus terus. Paling banyak, satu hari ngabisin seberapa banyak bacaan?
A: Hmmm.. gue baca Inferno-nya Dan Brown, sehari abis tuh.
R: waaaaaaaaaw.
R: lu berencana jadi penulis?
A: Nggak sih, gue lebih pengen jadi sejarawan. Pengen kuliah Sejarah nanti. Tapi nggak dibolehin, nih, kak.
R: Lu beneran masih SMA?
A: Iya.
R: Emang suka sama buku atau puisi? (saat itu kami baru selesai ikut kelas menulis puisi Sapardi Djoko Damono)
A: Iya, suka buku dan puisi. gue pun udah dateng ke IRF ini sejak tiga tahun lalu.
R: Kenapa dan sejak kapan suka buku?
A: Sejak kecil, orangtua gue suka ngebeliin buku yang temanya diatas umur gue. Misalnya, di umur 9-10 tahun, gue dibeliin NH Dini, dan buku-bukunya Pramoedya. Dari kecil juga udah baca Laura Ingalls Wilder. Itu, kan, membuka imajinasi banget. Makanya gue suka banget baca buku.
R: Kesenanagan apa yang lo dapet dari baca buku?
A: Gue tipe orang rumahan yah. Bukan tipe yang suka keluar, travelling. Jadi. Kalau misalnya gue baca buku gue nggak perlu keluar rumah untuk tau sesuatu. Apalgsi sekarang kan ada internet. Bisa dapet pengetahuan dari buku. Dapet kesenangan dari buku.
R: Cara lo baca buku gimana, di tengah kesibukan lo sekolah?
A: Gue baca buku, tuh, kalau nggak malam hari atau weekend, pas siang. Biasanya kalau malam, 2-3 bab. Kalau weekend bisa satu hari satu buku.
R: sekarang buku yang lo baca apa aja?
A; Banyak. gue lagi baca Umberto Eco, Karl May, Jules Verne, Laura Ingalls Wilder.
R: Hah. lu udah baca Umberto Eco?! keren.
A: Nih liat aja, ini buku yang gue dapet dari book swap tadi.
R: Terus, buku yang tadi mau lu minta tanda tangannya Sapardi, itu buku apa?
A: Oh, itu buku kumpulan tulisan dari rubrik Bahasa di Tempo. Sapardi ikut nulis. Ini bukunya Perpus sekolah sih sebenernya.
....
A: Kalau kakak bacanya apa?
R: Duh, gue jadi jiper sih kalau gini. Nggak usah tau deh gue baca apa aja. Hahaha.
A: Pramoedya suka juga?
R: iya suka. terus terus. Paling banyak, satu hari ngabisin seberapa banyak bacaan?
A: Hmmm.. gue baca Inferno-nya Dan Brown, sehari abis tuh.
R: waaaaaaaaaw.
...
R: lu berencana jadi penulis?
A: Nggak sih, gue lebih pengen jadi sejarawan. Pengen kuliah Sejarah nanti. Tapi nggak dibolehin, nih, kak.
....
.....
......
30 November 2015
Pelajaran Membaca
Ayo diperhatikan,
Jika mata adalah huruf, maka tatapannya adalah kata.
Jika wajah adalah kalimat panjang, maka kepala adalah paragraf padat.
Jika tingkah laku adalah daftar isi, maka ucapan adalah kata pengantar.
Tapi ingat, manusia adalah buku tanpa urutan halaman.
Pelajaran membacanya adalah juga pelajaran mengarang.
Kita bisa menemukan cerita, tetapi bisa juga tersesat di halaman tanpa catatan kaki.
Jangan sungkan mengunjungi daftar pustaka jika perlu membaca juga teman-temannya.
Jangan sungkan juga untuk mengaku menyerah bingung, tapi setidaknya, cobalah bingung dengan anggun.
31 Oktober 2015
Ditinggal Pak Raden
Kamis (29/10) malam kemarin, Sundea (Dea) dan saya ngobrol di WhatsApp. Dea meminta kontak manajernya Pak Raden, Mas Chus namanya. Ada kawan Dea yang ingin mengajak Pak Raden gabung di suatu program. Setelahnya, saya dan Dea membahas soal unyil, arsip filmnya, PFN, dan dilanjut cerita Dea tentang masa kecilnya yang tinggal nggak jauh dari kawasan PFN berada, Kampung Melayu.
Jum'at (30/10) malam kemarin, saya dapat kabar dari Bob, kawan ngekos dulu di Jatinangor. Udah lama kami nggak bertukar kabar. Dan tak disangka, sekali-kalinya berkabar, kabar yang dibagi Bob kali itu adalah kabar meninggalnya Pak Raden. Saya nggak percaya. Mana mungkin bisa seajaib ini, baru semalam saya membahasnya, kini beliau sudah tiada. Kepada Bob, saya tanyakan sumber informasinya. Katanya, ia dapat dari redakturnya yang ikut menjenguk ke RS Pelni. Kabar duka ini memang benar adanya.
Saya langsung mengabari Dea. Tak bisa panjang-panjang. Cuma satu kalimat dan satu emoticon penanda sedih. Menyampaikan duka itu nggak gampang ternyata.
Saya jadi mengenang-kenang. Kisaran 2011-2012, cukup sering 'main' bareng Pak Raden dan mas Chus, yang paling diingat ada empat. Pertama, saat pak Raden merayakan ulang tahunnya yang ke-79. Saya dan teman-teman FAR magazine datang mengunjunginya, atas undangan dari Mas Chus.
Kedua, saat menemani Dea mewawancara pak Raden untuk blognya, Salamatahari. Ketiga, saat pak Raden ikut serta mengisi acara di acaranya Card to Post. Beliau jadi pembicara. Pun Beliau turut menggambar kartu pos. Dengan kursi roda, ia datang. Tetap terlihat gagah dengan kostumnya. Keempat, saat Pak Raden diajak main ke ruangrupa untuk nimbrung corat-coret bareng teman-teman Gambar Selaw (Galaw). Saya nggak bisa gambar, tapi melihat beliau menggambar dari dekat adalah suatu kesenangan tersendiri. Bener deh, bikin seneng banget. Tiap kali muncul ke publik, pria bernama asli Drs Suyadi ini selalu totalitas menjadi Pak Raden. Bahkan, ketika sedang berpakaian biasa dan ada seseorang mengajaknya berfoto, beliau menawarkan diri untuk berbusana dulu, atau seenggaknya berpose persis seperti gaya pak Raden. Seolah lupa dengan kondisi fisiknya yang tua.
Saya kian mengidolainya. Sosok dengan karya melangit dan pribadi membumi kayak beliau adalah sosok yang udah pasti jadi idola saya, sih. Semacem ngingetin, gue pengen harus bisa jadi orang yang kayak gitu.
Di pertemuan pertama saya dan beliau, saat perayaan ultahnya ke-79, beliau sempat bercerita kepada kami tentang perasaannya ketika ada yang membeli karyanya. Katanya, "Tiap kali lukisan laku rasanya itu seperti lagunya Anang, Separuh Jiwaku Pergi. Perasaan
senangnya itu cuma saat dapet uang saja, selebihnya sedih. Lukisan yang
biasanya tiap hari bisa saya lihat di rumah tiba-tiba nggak ada,"
begitulah ungkap pria yang bercita-cita ingin memiliki studio kartu seperti idolanya, Walt Disney, ini.
Mengharukan sekali, pemirsa! Betapa dekatnya dia dengan karya-karyanya. Dan betapa sepenuh hatinya dia dalam berkesenian.
Kini, tak cuma separuh jiwanya yang pergi, jiwa Pak Raden sudah meninggalkan kita seutuhnya.
Selamat jalan, Pak. Terima kasih sudah berkarya, menghibur anak-anak, menularkan semangat berkarya. Terima kasih untuk semua-mua-mua-mua-muanya. Salam ceria selalu! :(:
25 Oktober 2015
Kecil Diri Boleh, Diam Terinjak Jangan.
Tumblr menyuguhkan pepatah di tiap sample post-nya: "It does not matter how slow you go so long as you do not stop." Konon, pepatah itu dinukil dari gagasan Confusius.
Saya suka pepatah itu. Semacam memberi semangat: bahwa perlahan bukanlah masalah. Bahwa si pelan pun tetap bisa punya pencapaian, asalkan nggak berhenti. Terus berjalan. Terus bergerak.
Entah mengacu ke pepatah Confusius entah nggak, di Yogya saya bertemu dengan sebuah komunitas (atau gerakan) yang namanya punya nuansa semangat yang sama. Ketjilbergerak. Kalau disama-samakan dengan pola pepatah Confusius itu, nama komunitas itu terdengar seperti ini di kepala saya: kecil bukanlah masalah, asalkan kamu tetap bergerak.
Saya suka sekali dengan komunitas ini. Vanie dan Greg adalah salah dua pelopornya. Kini mereka berdua--setelah sepuluh tahun pacaran--menikah. "Rumah kami sekaligus jadi markasnya teman-teman Ketjil," kata Vanie.
Ketjilbergerak (kemudian disingkat Ketjil) dimulai pada 2006, wujud awalnya adalah zine dengan tema punk. Ketjil lalu bertranformasi menjadi gerakan. Dengan senjata seni, mereka menunjukkan perlawanan terhadap ketidakberesan di sekitarnya.
“Kami adalah anak-anak nakal yang pengin eksperimen dan belajar tentang diri sendiri dan permasalahan di sekitar,” begitulah Vani mendeskripsikan komunitasnya.
Seluruh semangat gerakan ketjilbergerak ini terangkum dalam namanya. Penulisannya yang tanpa kapital adalah perwujudan dari misi mereka untuk menanggapi dan menyelesaikan masalah-masalah terkecil yang ditemui anak muda. Efek yang besar akan menjadi hasil dari gerakan-gerakan kecil yang intens dilakukan tersebut.
“Kenapa ‘ketjil’nya menggunakan ejaan lama,yaitu untuk menandakan bahwa kami harus belajar dari masa lalu untuk memahami masa sekarang dan kemudian terus bergerak ke depan. Kami juga ingin mengajak teman-teman untuk terus bergerak dan menghidupi hidup yang otentik, yang cerah ceria dan paham mau ngapain,” tegas Vani
Ketjil sudah menginisiasi banyak sekali gerakan. Ketjil punya Kelas Melamun, semacam sharing sesion antara para pemuda dengan tokoh budaya dan kesenian. Ada juga Ben Prigel, kelas pelatihan keterampilan.
Mei lalu, Ketjil menggelar Sambung Rasa, sebuah program silaturahmi seni antara ketjilbergerak dan warga Tegalgendu yang diwakili oleh Tegalgendu Youngsters bersama Unit Seni Rupa UGM. Tiga unit seni tersebut bersama-sama membuat sebuah mural yang merespon anggapan negatif tentang seni jalanan di Yogyakarta.
Di lain waktu, ketjilbergerak juga pernah menggagas Bocah Jogja Nagih Janji. Sebuah happening art di titik 0 KM guna mengkritisi maraknya pembangunan hotel di Yogyakarta yang berimbas pada berkurangnya ruang publik di perkampungan sekitarnya.
Guna menyuarakan provokasi positifnya, ketjilbergerak juga mendirikan sebuah band virtual. Seperti grup band Gorillaz, band ketjilbergerak ini ditampakkan hanya dalam wujud karakter rekaan saja. Menggandeng musisi-musisi setempat, seperti Freddy ‘Armada Racun” dan Belkastrelka, ketjilbergerak menciptakan lagu anthemic yang kemudian disebar di media sosialnya.
Seluruh gerakan ketjilbergerak ini memang selalu berlandaskan pada seni kolaboratif. Alasannya, “Seni itu cair. Seni berhubungan dengan kemajuan, kebebasan, eksperimen dan hal-hal yang belum pakem. Nah, kita anak muda suka banget kan yang begituan.”
Yang paling terkini, ketjil sedang mempersiapkan diri untuk Jogja Bienalle XIII.
Saat tulisan ini dibuat, mereka sedang dipanggil KPK!
Mereka bukan ditangkap tangan karena korupsi. Melainkan karena mereka terlalu kreatif, nyeleneh dan inspiratif sekaligus. Divisi kampanye serta divisi pendidikan dan layanan masyarakat KPK memanggil Ketjil untuk bersama-sama menggagas Anti-Corruption Youth Camp 2015, sebuah lokakarya bertema peruabahan sosial dan pencegahan korupsi.
Digelar sepuluh hari dan melibatkan 47 pemuda dari segala penjuru Indonesia, acara ini menghadirkan sejumlah pemateri yang keren bukan main. Seluruh orang penting KPK datang: Johan Budi, Bambang Widjajanto dan Sujanarko. SElain itu ada pakar pergerakan dipanggil juga. Bukan yang berasal dari arusutama, melainkan mereka yang dikenal berpengaruh di arus pinggir. Beberapa di antaranya adalah Gustaff dari Bandung, Rudolf Dethu dari Bali dan Marzuki 'Kill the Dj' dari Jogja.
Di acara inilah, saya bertemu untuk kedua kalinya dengan Greg dan Vanie. Lalu menyempatkan berfoto bertiga. Terlihat kinyis-kinyis sekali yah.
Salut selalu untuk kalian! semoga cabang yang sudah kalian rencanakan: kimcilbergerak dan ketjilbergetar juga bisa tercipta juga. :p
18 Oktober 2015
Perokok yang Mati Dibakar Es
Sejak kecil, Es menelan bibit api. Satu-dua kali dalam seminggu. Tanpa sengaja: bibit api terselip di bubur yang menjadi sarapan, makan siang, atau makan malam Es.
Ia tak memuntahkannya, panasnya saru dengan hangat bubur yang ia emut.
Merah darah yang sewarna dengan bibit api menjadi pupuk yang baik untuk merawatnya tumbuh, di dalam dekaman tubuh, bibit api hidup.
Es adalah si dingin. Sebagaimana siapapun tahu. Seringnya, ia menyejukkan. Ia pohon rindang di siang menjelang sore yang digemari siapa pun yang sedang jatuh cinta untuk berteduh. Atau bercumbu. Sesekali, ia bikin menggigil. Kata-katanya menyengat. Siapa pun, entah yang berjaket atau yang bertelanjang bisa tertusuk dinginnya. Beku parsial. Sekali sentuh, bagian tubuh beku itu bisa patah.
Tak ada sesiapapun yang tahu kalau Es memelihara bibit api, hingga akhirnya seorang perokok lusuh, ingusan, nan bau, menyembur bara setelah asap rokok ia telan, dan busa filter-nya ia kunya. Dengan penuh kesengajaan tentu. Biasanya ia sembur ke arah asal. Serampangan, persis seperti hidupnya. Tapi, ketika Es datang--barangkali karena ia terganggu dengan dinginnya--semburannya diarahkan pada Es.
Satu-dua bara masih tak apa. Sekepul asap masih bisa dihadang, pikir Es. Namun yang si Perokok lakukan kian brutal. Ia memaksa Es menelan asap, dan menjetikkan rokoknya di tangan Es.
Udara pun menjadi bensin. Menyulut bibit api berkobar meminta keluar. Ia ingin menendang si perokok. Membenturkan kepalanya ke ujung meja, menarik kursinya lalu membanting ke badannya, mengambil patung budha di mejanya lalu menusukkannya ke mulutnya.
"Selamat merokok!" kata bibit api dalam tubuh Es kelak, sambil menjilat si perokok. Membakarnya.
Bara api terpercik lagi, kali itu tak menyisakan abu dan bau tembakau, melainkan bau daging terbakar.
15 Oktober 2015
Embun Pagi Tak Jadi Diinjak Rumah.
"Pantas kau disebut kediaman," kata angin malam kepada rumah. "Kau biarkan orang keluar masuk, sementara kau diam tak beranjak. Ketika penghuni tercela mengacak-acak isimu, kau tak mengelak. Ketika penghuni bajik pergi, kau sekadar tenang menunggu."
"Kau membangun pos keamanan, pagar besi mengelilingi, dan menaruh kamera pengintai. Kau begitu awas. Sekecil apapun gerakan kau anggap serangan. Apa yang bisa dibanggakan kalau cuma pandai bertahan?" Angin malam berkata. Pelan. Sambil meneguk teh hangatnya.
Besoknya, si rumah angkat kaki. Ia meninggalkan penghuninya. Berangkat kerja.
Angin malam menjelma embun pagi pekarangan depan. Dengan anggun si rumah melangkahinya.
15 September 2015
Nikahan Nyoe-Decky
Saat itu adalah November 2014. Senggaknya ada dua perubahan pada Decky yang saya tangkap. Pertama, Decky jadi rajin solat. Jika biasanya ia selalu bersepatu, saat itu Decky jadi sering bersendal. Agar mudah wudhu jika waktu solat tiba ternyata. Tiap kali Mada, yang lebih dulu jadi rajin solat, turun ke mushola, Decky kerap minta ditunggu. Agar bisa berjamaah
Kedua, Decky yang (sangat) hobi browsing dan menonton film, terutama setelah jam kantor usai--pukul 18.00--jadi sering pulang tenggo. Pokoknya, nggak sampai pukul tujuh, kami sudah mendapat pamit dari Decky. Lepas dari kebiasaan sebelumnya Decky bisa mantengin komputernya sampai batas maksimal waktu ngantor, 21:00.
Tak lama setelah itu, di kantin sebuah SMA, saat kami berdua turut membantu event kantor, Decky bercerita. "Sabtu ini gue lamaran, Ram,"
Pantes, pikir saya tegas.
Tanpa saya banyak tanya, Decky menghamburkan ceritanya. Dia dan Ayu alias Nyoe sudah pacaran lima tahun. Sejak mereka kuliah di Unpad. Nyoe yang anak tunggal, Decky bontot dari tiga bersaudara. "Apa lagi yang ditunggu gitu. Nikah aja,"kata Decky
06 September 2015
Ayam Kuning Asep Coklat
Saya tahu bahwa nama pedagang ayam keliling yang sering mampir ke rumah adalah Asep. Tiap kali dia datang dan bersahut,"Bu, ayam, bu!!!" Mamah mengutus saya, "Ki, itu ada mang Asep. Bilang beli ayamnya delapan potong aja." atau, "Ki bilangin ke mang Asep. Libur dulu. Ayam kemarin masih ada."
Tapi saya baru tahu kalau mang Asep yang memang bermuka-berlogat Tasik dan selalu berpenampilan bak koboi di film Benyamin ini ternyata bernama panjang Asep Coklat. Suatu hari, setelah memberikan bungkusan ayamnya, ia menyodorkan kartu nama. Tak hanya ingin terkesan gagah dengan tampilan koboinya, mang Asep ingin terkesan profesional ternyata. Sambil menerimanya saya senyum, tanda salut dan respek.
Membaca kartu nama itu, senyum saya makin memanjang menjadi tawa. Seluruh elemen dalam kartu nama itu menarik. Sebagai penanda, satu elemen dan elemen lainnya unik dan berbenturan citranya.
Kegemasan pertama, ya karena nama Asep Coklatnya itu: gemas karena ingin merevisi. 'Coklat' seharusnya ditulis "Cokelat"; serta gemas karena bertanya-tanya, kenapa Coklat. Dari mana ia dapatkan nama yang berbenturan dengan kesan gagahnya.
Kegemasan pertama, ya karena nama Asep Coklatnya itu: gemas karena ingin merevisi. 'Coklat' seharusnya ditulis "Cokelat"; serta gemas karena bertanya-tanya, kenapa Coklat. Dari mana ia dapatkan nama yang berbenturan dengan kesan gagahnya.
Di bawah nama ia tercantum "Batu Akik". Ah, barang kali dia ingin menunjukkan bahwa ia pegiat (bukan sekadar pehobi) batu akik. Ya, di bawah label usaha Ayam Bumbu Kuning yang kemudian ia terjemahkan sebagai Yellow Chicken itu ia tetap ingin dikenal sebagai pegiat batu akik. Agaknya, itu adalah identitas yang sudah sangat mantap ia perankan dalam kesehariannya. Barangkali juga, ini adalah caranya memperluas relasi. Siapa tahu, pembeli ayamnya punya keluarga yang pegiat batu akik juga.
Lalu, di kartu nama berwarna tema reggae ini Asep Coklat juga mempertegas bahwa usaha jualan ayamnya adalah usaha halal. Sudah banyak yang tahu kalau ayam adalah halal (kecuali mungkin ayam yang selingkuh dengan babi lalu mengandung anak babi :p ) Tapi barangkali Asep Coklat ingin menunjukkan bahwa ia peduli dengan syarat-syarat kehalalan dalam memotong ayam, dan mungkin juga ia ingin menunjukkan ia ingin menjalin relasi dengan pelanggan muslim.
Sayang saja, ia tak lengkap mencantumkan alamatnya. Di manakah letak persisi Jl H. Jiran Rt 003/001? Mungkin kita tak perlu tahu, karena Asep Coklat, pedagang ayam keliling berpenampilan koboi cum pegiat batu akik ini tak ingin membuat pelanggannya repot. Biar ia saja yang menghampiri Anda.
Sukses terus, maaaang!
-Hari ke-7 30 hari bercerita-
26 Agustus 2015
Ikut Wisuda atau Nggak, Yah?
Wisuda Universitas Indonesia ternyata cukup merepotkan. Gimana nggak, wisudanya dibagi menjadi dua sesi. Tak apalah kalau dua sesi itu ada di hari yang sama, lah, ini, ada di dua hari yang berbeda. Jadi, kami, para wisudawan dituntut untuk meluangkan waktu dua hari hanya untuk merayakan kelulusan. Bisa saja kami memilih untuk ikut salah satunya, tapi, apa siap rugi?
Sesi pertama adalah gladi resik, dijadwalkan hari ini, Rabu (26/08). Ya, betul hari kerja! Jangan kira ini adalah gladi resik yang sekadar formalitas, yang tak apa jika tak dihadiri. Nyatanya, nama gladi resik ini hanya embel-embel. Sebenarnya, ini adalah wisuda sesi 1. Pasalnya, ada prosesi penting, yaitu pemanggilan tiap wisudawan untuk naik ke panggung dan bersalaman dengan rektor dan yang paling pentingnya, berfoto dengan rektor.
Sesi keduanya adalah sesi upacara yang bisa dihadiri undangan, dijadwalkan pada Sabtu (29/08). Di sesi ini seperti wisuda pada biasanya. Orangtua hadir, upacara, dan pidato dari rektor. Sudah terasa kan gimana membosankannya?
Saya dilema. Apakah mesti saya ikuti kedua sesinya? inginnya sih ikut salah satunya saja. Apalagi di hari ini, Rabu, saya mesti kerja. Bisa aja sih ijin, tapi saya yakin jika ijin maka saya sendiri yang kemudian akan repot karena waktu menunda pekerjaan.
Dateng aja, Ki. Sayang, lho, foto-foto! Nggak pengen banget punya foto sama rektor untuk dipajang?!
Ah, gue nggak obsesi banget kok punya foto lagi wisuda. Waktu kuliah sebelumnya aja foto wisudanya nggak ada satu pun yang dipajang. Gue biarin aja menumpuk di laci.
Temen-temen pada dateng, lho, nanti. Bahkan mereka aja pada bela-belain cuti. Pasti bakal seru. Foto rame-rame!
Nah, iya. Gue nggak mau kelewatan momen sama temen-temennya sih. Tapi, tetep males, ah, kalau orientasinya cuma untuk foto-foto.
Lagi pula, nih, yah. Kalau gue foto-foto, nanti bakal muncul kecenderungan gue bakal ikutan publis ke media sosial. Gue masih belum nerima kalau kami, para akademisi semangat banget mempublis foto-foto saat wisuda, tapi malu-malu, bahkan merasa nggak perlu mempublis karya-karya tulis selama kuliah, termasuk tugas akhirnya. Menampilkan citra, menyembunyikan isi. Hmmm
Ah! Sok idealis. Emangnya kalau nggak ikut wisuda pun lu akan mempublis paper hasil kuliah lo? Tapi, kan, bokap nyokap lo pasti suka, ki. Lagian kan lo udah bayar. Masa nggak ikut semua sesinya, sih. Kan rugi?
Berencana! tapi masih belum, aja. Tunggu waktu yang tepat. Haha. Alesan banget yah?!
Iya, sih. Pasti diomelin sih kalau mamah tau gue nggak ikutan foto. Tapi tapi tapi. kan pas hari Sabtu juga bisa foto-foto. Walau cuma foto di depan danau UI. Nggak apa-apa lah. Yah, yah?!
Ya ya ya. Jadi gimana?!
Balik ke tujuan awal deh. Gue kan ikut wisuda utamanya karena mamah. Biar kami punya momen untuk merayakan anaknya lulus dari kuliah yang ia bayari. Jadi, ikut yang Sabtu aja deh. Hehe
Tetep usahain aja. Kalau siang nanti bisa melipir ke Depok, maka lakukanlah!
Deal!...... eh, tapi kan gue nanti ada liputan.
*Tepok jidat. Jidat nyamuk. Patahin toga*
-Tulisan ke-6 30 hari bercerita-
25 Agustus 2015
Berbahasa Inggris
Saya punya dua ratus tiga puluh juta ribu delapan milyar ratus alasan mengapa saya nggak membiasakan diri berbahasa Inggris. Salah satu alasan yang paling sering saya ucapkan--senggaknya pada diri saya sendiri--adalah karena saya lebih ekspresif dengan bahasa Indonesia: saya bisa memainkan kata-katanya, saya lebih bisa mengeksplor kosa kata, saya lebih bisa merangkai kalimatnya. Alasan itu diperkuat karena memang saya bekerja menulis. Terus menerus menulis bahasa Indonesia ya sekalian jadi ajang latihan, kan?
“Buat apa jago bahasa asing, kalau nulis bahasa Indonesia aja nggak gape.” Saya juga kerap berkilah begitu. Apalagi kalau mengingat betapa kita sangat hati-hati dengan grammar ketika berbahasa Inggris, namun selalu abai dengan EYD ketika berbaha Indonesia. Kita hati-hati dengan ketepatan penggunaan was, were; have, had; atau in, on, misalnya; namun bisa dengan sangat enteng menulis ‘dijakarta’ atau ‘di buang’, dan membiarkan kesalahan logika kalimat “ngambil ATM” begitu saja. Mana boleh (mesin) ATM diambil. Kita bisa dipenjara. Kalau ngambil uang di ATM, itu baru dipersilakan.
Ya, betul, saya terlihat seperti menjadikan kesetiaan bahasa Indonesia (dan penggunaan EYD) sebagai tameng untuk urung berbahasa Inggris
Tuntutan bahasa Inggris adalah konsekuensi dari globalisasi. Apalagi sekarang ini internet sudah jadi pintu kemana saja, bisa membawa kita bertemu siapa saja dari penjuru dunia. Bahasa Inggris adalah modal utama kita untuk nggak merasa asing.
Benar saja, kini muncul kalangan anak-anak yang berbahasa pertama bahasa Inggris. Mereka disekolahkan di tempat yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Bahkan sejak TK (atau malah Playgroup?) Di rumah, di acara kumpul keluarga, di taman bermain, atau di mal, mereka cas cis cus berbahasa Inggris.
Tak perlu tepat grammar, yang penting fasih, itu sudah membuat orangtua mereka bangga. Pertama, bangga karena yakin anak-anaknya akan sukses berkiprah di kancah dunia yang serba terbuka ini kelak. Kedua, ya karena anaknya berbahasa Inggris. Elit.
Saya pun kemudian menemukan fakta bahwa ada kalangan remaja yang urung membaca majalah lokal hanya karena majalahnya berbahasa Indonesia. “Lebih terbiasa dengan bahasa Inggris. Kadang suka nggak nangkep sepenuhnya maksud isi tulisan,” kata kawan saya, seorang siswa SMA Internasional.
Pada titik tertentu temuan-temuan itu bikin saya malah nyinyir sama bahasa Inggris dan bikin tambah merasa perlu untuk mendalami bahasa Indonesia saja. Menjadi penjaga bahasa Indonesia. Menjadi pahlawan bahasa Indonesia. Duileh!
Tapi, setelah dipikir-pikir, bukan kemampuan berbahasa Inggrisnya yang perlu saya hindari. Melainkan kesadaran-kesadaran semu yang menggiring saya pada perasaan ekskulif ketika pandai berbahasa Inggris dan kesadaran mantap menganggap bahwa Eropa dan negara-negara barat lainnya adalah panutan sejati.
Selain itu, saya juga menyadari adanya satu alasan lagi mengapa saya urung berbahasa Inggris. Kalau alasan-alasan di atas terkesan idealis, yang satu ini realistis: saya malas berlatih yang juga beriringan dengan ketakutan (baca: malu) kalau salah grammar. Haha!
Sungguh saya pasti akan merugi membiarkan kemalasan dan ketakutan berlatih ini mengurung saya. Apalagi sekarang ini saya punya cita-cita baru yang mensyaratkan kecakapan berbahasa internasional. Saya perlu belajar, dan tak mungkin saya ikut kursus. Sudah terlalu sering saya menghamburkan uang untuk kursus bahasa Inggris. Kali ini saya memilih jalur otodidak.
Tahukah kamu langkah yang saya untuk membiasakan diri berbahasa Inggris? Sejauh ini sudah dua yang saya coba. Pertama, ikut mengucapakan dialog pada film yang naskahnya bisa say abaca lewat subtitle, dan daftar Postcrossing. Walau hanya lewat kartu pos, saya pasti akan terbiasa berinteraksi dengan orang asing, dengan bahasa Inggris. Semoga harus berhasil
-Hari ke-5 30 Hari Bercerita-
Merekomendasikan kalian untuk membaca artikel ini:
15 Agustus 2015
Ada 'Isu' di Dalam 'Tisu'
"Pilih mana: jadi orang yang sakit hati terus atau nggak pernah sakit hati sama sekali?"
"Ahh. Pertanyaan sulit. Hahaha.
"Jawaban gue, gue tulis di tisu, deh."
...
"Ah... Kenapa?"
"Hmm. lebih baik nyoba atau nggak? lebih baik tau atau nggak tau?"
:)
-Hari Ke-4 30 Hari Bercerita-
11 Agustus 2015
Konsekuensi Menghilang
Ngerasa sendiri nggak punya temen itu pasti terjadi dalam satu waktu hidupmu. Biasanya, kita menyalahkan semesta yang bikin temen-temen kita itu menjauh dari kita. Ay, kawan saya, pada suatu malam, bercerita tentang pengalaman kehilangan teman-temannya.
"Kenapa orang-orang datang dan pergi gini sih?!" suatu kali, Ay mengeluh kepada kawannya.
"Ini bukan soal mereka datang dan pergi, tapi emang lonya aja yang pergi." Bukannya malah mengasihani, kawannya itu malah bikin Ay menelan pertanyaannya itu.
Nah! Persis seperti yang disebut kawannya Ay, ternyata kehilangan teman itu tak melulu menempatkan kita sebagai objek. Pasalnya, seperti pada kasus Ay, kita kerap juga menjadi subjek yang membuat teman-teman kita hilang dari peredaran keseharian kita: dengan menjauhi atau pindah orbit keseharian misalnya.
Keesokan hari setelah cerita itu, hari ini, sayalah yang dibuat menelan kenyataan bahwa saya telah menyebabkan kehilangan. Saya dinyatakan hilang dari peredaran pertemanan taman Kunang-Kunang. Sukri, kawan saya yang menyatakan hal itu. Tadi pagi.
"Kenapa orang-orang datang dan pergi gini sih?!" suatu kali, Ay mengeluh kepada kawannya.
"Ini bukan soal mereka datang dan pergi, tapi emang lonya aja yang pergi." Bukannya malah mengasihani, kawannya itu malah bikin Ay menelan pertanyaannya itu.
Nah! Persis seperti yang disebut kawannya Ay, ternyata kehilangan teman itu tak melulu menempatkan kita sebagai objek. Pasalnya, seperti pada kasus Ay, kita kerap juga menjadi subjek yang membuat teman-teman kita hilang dari peredaran keseharian kita: dengan menjauhi atau pindah orbit keseharian misalnya.
Keesokan hari setelah cerita itu, hari ini, sayalah yang dibuat menelan kenyataan bahwa saya telah menyebabkan kehilangan. Saya dinyatakan hilang dari peredaran pertemanan taman Kunang-Kunang. Sukri, kawan saya yang menyatakan hal itu. Tadi pagi.
"Cuma lu doang, Ki, temen gue yang ilang."
10 Agustus 2015
Memilih Jembatan "Menulis"
Ada yang suka nonton film serial Chibi Maruko Chan? Saya adalah penyuka barunya. Baru satu episode saya menonton, langsung dibuat naksir berat sama cerita Maruko dan dunianya. Apalagi, episode pertamanya itu bercerita tentang penulisan. Seolah semesta mengingatkan saya dengan cara yang paling imutnya, agar saya rajin menulis lagi. Haha!
Ceritanya begini: Maruko dan teman-teman sekelasnya dapat tugas membuat tulisan bertema keluarga. Pak Guru menjelaskan bahwa tulisan tugas itu nantinya akan diseleksi untuk diikutsertakan ke lomba tingkat propinsi selain dapat kesempatan tulisan dimuat di majalah sekolah.
Maruko senang sekali dengan pengumuman tersebut. Di antara teman-teman sekelasnya, Maruko terlihat jadi satu-satunya siswa yang sumringah banget.
Tapi kemudian ia merasa minder. Ia sadar, keluarganya yang sederhana itu nggak punya cerita yang bisa jadi menggugah kalau dituliskan. Beda dengan teman-temannya yang bersama keluarganya bisa sering liburan atau dihadiahi mainan kesukaan di hari ulang tahunnya.
Maruko tak patah arang. Di rumah, Maruko mengamat-amati tingkah laku tiap anggota keluarganya dan memancing orang tua serta kakeknya untuk mengajaknya jalan-jalan, agar mendapat bahan tulisan. Tentu, tetap tak banyak hal fantastis yang ia tangkap.
06 Juli 2015
Lawan Kata 'Rindu'
Aku perlu tahu, apakah lawan kata 'rindu'
Selama ini aku diserangnya tanpa ba bi bu.
Kutelusuri kamus, nggak ketemu
Aku makin yakin, kata yang melawan 'rindu' cuma ada di kamu
Katakanlah kalau memang benar begitu
Biar kita bertemu
23 Juni 2015
Cerita Tentang Mimpi
Saya sering bermimpi tentu. Tapi bermimpi yang benar-benar berkesan--entah itu karena buruk, menegangkan, indah atau basah--sehingga membuat saya mencatat mimpi tersebut sebangunnya dari tidur, jumlahnya hanya hitungan jari. Yang paling saya ingat, saya pernah bermimpi saya akan mati dalam hitungan jam. Setelah mimpi itu saya bahkan sampai menset diri untuk siap mati.
Nah, belum lama lalu, saya mengalami mimpi yang tak kalah menegangkannya lagi. Terasa sekali itu nyata. Saya lupa kalau saat itu saya bermimpi.
Begini ceritanya:
Begini ceritanya:
16 Juni 2015
"Hidup Juga Butuh Misteri!"
Dua-tiga kawan mengajukan pertanyaan bertema sama pada saya, "Ram, kok lo sekarang anaknya Path banget?!", "Wuih, Kiram tiba-tiba jadi rame di timeline Path gini sekarang."
Intinya, temen-temen--terutama yang di kantor--pada heran. Saya yang nyaris nggak pernah ngoceh di Path selama satu-dua tahun ke belakang, tiba-tiba giat beredar di timeline. Memang betul, tiap muncul kesan tertentu tentang suatu peristiwa, otak saya lalu merangkai kalimat untuk mengindahkan cerita yang akan saya unggah ke Path. Begitu pula tiap kali muncul ide atau gagasan kecil.
"Biasanya lo kalau ngupdate-ngupdate emang di mana, Ram?" tanya seorang teman.
"Di LINE. Haha!"
Ada teman yang kaget, ada juga yang balik menanggapi. "Oh iya sih, tiap gue buka LINE, pasti ada Kiram."
Kalian pegiat media sosial pasti tahu kalau timeline LINE itu sepi adanya. LINE lebih kerap digunakan sekadar untuk chatting yang lebih ekspresif, karena adanya stiker. Sementara untuk micro blogging, Path yang banyak digunakan.
Kalian pegiat media sosial pasti tahu kalau timeline LINE itu sepi adanya. LINE lebih kerap digunakan sekadar untuk chatting yang lebih ekspresif, karena adanya stiker. Sementara untuk micro blogging, Path yang banyak digunakan.
Langganan:
Postingan (Atom)

















