Monday, December 29

Menyelamatkan Ikan Yang Tenggelam di Lautan


...hanya karena kita khawatir ikan lupa caranya berenang

































...
Dinukil dari momen-momen saat ke Pulau Pari, Mei 2014 lalu, bersama kawan-kawan kantor. 

Wednesday, December 3

Menolak Ciut

Sekarang ini, hidup adalah perkara menakut-takuti ketakutan, agar ia takut bergelayut, agar diri mantap bergelut menolak ciut.  

Monday, December 1

Membuat Zine Itu Meningkatkan Daya Tarik (?)

Hahaha. belum juga menulis tapi saya sudah tertawa. Maklum, ini sungguh lucu. Bikin geli, tapi ya emang nyata. Ini adalah soal zine, yang ternyata ada kesepakatan umum di antara para pegiat zine, bahwa membuat zine bisa meningkatkan daya tarik  di hadapan siapa pun yang kita menaruh hati padanya.

Kemarin, di sesi Ngomongin Zine, ada sejumlah pegiat zine yang berseloroh kalau zine  cukup ampuh untuk memikat hati seseorang. Motivasi (baca: ceng-cengan) untuk temen yang single kerap diberikan, "Tuh tuh, manis tuh, coba lu samperin, pura-puranya ngasihin zine dulu. terus kenalan deh."

Selain itu, sesi woro-woroin zine, via media sosial atau bagi-bagiin di gigs misalnya, sedikit-banyak bikin kita jadi pusat atensi. "ih apaan tuh. apaan tuh. Mau doong. Ini lu yang bikin? Waaaa! ini gratis? beneran gue boleh bawa? Waaaaa"

Haha!

Friday, October 17

Satu Waktu



...Terpaksa menunggu hingga satu waktu kita bertemu...
Kan ku ceritakan semuanya padamu gelisah itu...

Pulih nanti... Pulih nanti...


Belum lama lalu, saya menonton lagi film Janji Joni. Suka banget dengan seluruh isi film ini: ceritanya yang ringan dan ajaib; para cameo dan pemain utama; dan tentunya soundtracks-nya. Seluruh lagu-lagu band indie di film ini hip di masa akhir saya SMA. Saya termasuk pendengarnya. Selain lagu Sajama Cut yang Less Afraid, lagu Satu Waktu di atas adalah lagu yang paling berkesan. Semacem nancep di hati. Seolah diciptakan untuk mengerti saya yang emang sedang  menunggu 'satu waktu' sambil dirubung gelisah. Haha. 

Menurut penelusuran lagu yang di film dinyanyikan oleh band-nya Rachel Maryam, Fedi Nuril, Imam Fatah, dan Henry Foundation itu ternyata aslinya dibawakan oleh Rebecca Theodora, yang pada masa film itu dibuat dikenal sebagai vokalisnya Goodnight Electric dan The Upstairs. 

Selamat menikmati 

Monday, October 6

25 dan Kekosongan



Kosong!

Itulah yang didapati oleh Walter Mitty di frame urutan ke-25 dari sheet film kiriman  Sean O'Connell, sang fotografer lepas langganan majalah LIFE, tempat Walter bekerja. Padahal, foto ke-25 itulah yang Sean inginkan untuk dijadikan cover edisi terakhir Life. Mengikuti arus zaman, LIFE memilih untuk melakukan transisi. Pindah dunia, dari bentuk yang berwujud menjadi maya alias online. Karena itulah foto ke-25 itu bukan hanya penting, tetapi akan menjadi fenomenal. Bahkan Sean sendiri menyebut foto ke-25 itu adalah The quintessence of Life.

Semua awak LIFE jelas kecewa dengan transisi besar-besaran dan mendadak itu. Namun, hanya satu yang paling kena imbasnya, yaitu Walter. Sebagai penanggung jawab arsip film-film negatif, Walter mesti menemukan foto di frame ke-25 itu. Mencari intisari “hidup”.

Cerita serupa tapi tak sama juga dialami lebih dulu oleh Biksu Tong dan Kera Sakti. Terbalik dengan Walter Mitty, mereka justru menemukan kekosongan setelah melakukan perjalanan sangat jauh. Bahkan harus berhadapan banyak siluman. Setibanya di tempat bertahtanya Sang Budha di India sana, Biksu Tong akhirnya mendapatkan anugerah yang selama ini ia cari, yaitu kitab suci. Tapi betapa kagetnya Biksu Tong ketika membuka lembar demi lembar kitab tersebut. Kosong melompong. Tanpa satu aksara pun.

Menemukan kekosongan selalu membuat kita kecewa. Seperti Walter, Biksu Tong juga kecewa bukan main. Sang Buddha malah tersenyum melihat ekspresi Biksu Tong, ia pun menjelaskan. “Kitab tanpa aksara itulah kitab yang sejati,” katanya.

Kekosongan adalah kesejatian.

Dalam buku Titik Nol—sumber saya membaca kisah Biksu Tong tersebut—si penulis, Agustinus Wibowo, menyimpulkan kekosongan seperti yang ditemukan oleh Biksu Tong itu adalah alasan untuk kita mencari. Bahwa dalam hidup ini memang ada “sesuatu” yang tak bisa dijelaskan dengan bahasa atau pun berjuta-juta aksara, tidak dapat dinalar dengan berlaksa bahasa. Sesuatu yang agung. Sesuatu yang menyimpan segala misteri.

Bagi Agustinus, perjalanan adalah jawabannya. Karena dengan perjalanan, kita akan mengalami, merasakan, dan menemukan. Terus begitu. Bisa jadi, karena terinspirasi dari filosofi itu, Agustinus Wibowo memilih menjadi musafir selulusnya ia kuliah. Ia berkelana dari Cina menuju Nepal, Tibet, lalu pindah ke India, Pakistan dan Afganistan. Semua ia lakukan lewat jalur darat dan sendirian.           

Tak beda dengan Agustinus, Walter pun nekat berangkat demi mencari pengisi kekosongan frame ke-25 itu. Petualangan akbar yang nekat dan spontan... dan ekstrem pun ia amalkan. Ia menyebrangi benua, naik helikopter yang dikemudikan oleh pilot mabuk, lompat ke laut lepas lalu diserang hiu, menyusuri Islandia dengan longboard dan lari menghindari abu vulkanik Eyjafjallajökull. Namun itu rupanya belum bisa membuat  Walter menemukan Sean.

Walter pulang ke Amerika. Menyerah.

Petinggi LIFE pun memecat Walter, seperti karyawan-karyawan lainnya. Kegagalan Walter dilengkapi lagi dengan kesedihan. Di kepulangannya itu pula, ketika Walter berharap bisa mendapatkan secercah bahagia dari Cheryl, wanita yang ia suka, Walter kembali dikecewakan. Saat mengunjungi rumah Cheryl, Walter disambut oleh mantan suaminya. Pikirnya Cheryl sudah rujuk lagi dengan suaminya. Kian kandaslah Walter. 

Namun, ternyata semesta tak ingin Walter berhenti. Intisari Life mesti terus dicari. Di rumahnya, Walter mendapati satu lagi petunjuk penting. Ternyata Sean pernah berkunjung ke rumahnya dan berbincang panjang dengan Ibunya Walter. Dari situlah diketahui bahwa Sean kini sedang berada di Himalaya untuk memotret macan tutul salju. Kontan Walter pun bergegas. Tas ransel serta notebook pemberian almarhum ayahnya disiapkan beserta perlengkapan lainnya. Untuk kedua kalinya perjalanan akbar yang nekat dan spontan... dan ekstrem diamalkannya. Karena kekosongan di angka 25 itu. Demi mencari intisari hidup itu.

Kembali Walter menyebrangi benua. Bus yang penuh sesak dan hiruk pikuk ia tumpangi, bersama dua pendaki lainnya, Walter menapaki Himalaya yang (sangat) dingin itu. Hingga akhirnya, seperti yang disangka, Walter pun menemui Sean di ujung pendakiannya. Ia benar sedang membidikkan kameranya, menunggu munculnya si macan tutul salju. Walter terpana dan terkejut ketika menemui Sean, apalagi ketika mendengar jawaban Sean soal keberadaan foto di frame ke-25 itu.

Ternyata foto di frame ke-25 itu disisipkan oleh Sean di sebuah benda yang belakangan itu selalu di bawa-bawa oleh Walter, termasuk ketika dalam petualangannya mencari Sean ke Islandia. Astaga!

Kekosongan di angka 25 itu akhirnya menemukan isinya. Setelah berbagai petaka dan nestapa, akhirnya yang disebut sebagai The quintessence of Life itu berhasil dicari. Saya tak ingin memberikan spoiler untuk yang belum menonton film ini, namun, singkatnya, apa yang dicari oleh Walter adalah dirinya sendiri. Kekosongan yang menjadi krisis di masa transisi besar-besaran Life membawanya ke petualangan yang ternyata adalah petualangan untuk menemukan dirinya sendiri.

Kekosongan pada kitab hidup ini sesungguhnya adalah panduan yang agung. Kekosongan membuat kita mencari. Pencarian membuat kita berjalan. Perjalanan menawarkan kita untuk bertualang. Petualangan menuntut kita untuk berjuang. Perjuangan akan menghadiahkan kemenangan.

“Bukan kitabnya yang penting, tetapi hakikat kehidupan yang ditemukan dari perjuangan perjalanan.” Itulah kesimpulan Agustinus

Sementara dalam film The Secret Life Of Walter Mitty, Perjalanan, pencarian, petualangan dan perjuangan mengisi kekosongan frame ke-25 yang begitu penting untuk sebuah transisi besar-besaran disimpulkan sebagai suatu usaha untuk mencapai tujuan hidup. Kesimpulan tersebut persis seperti moto majalah LIFE, “to see the world, things dangerous to come to, to see behind walls, draw closer, to find each other, and to feel. That is the purpose of life.”

Jadi, sudah seberapa banyak dunia yang kita lihat? Sudah cukupkah rasa yang kita cicip? Sudah sedekat apakah kita dengan hidup? Sudahkah kita mendapati makna dan menemukan diri kita yang sejati?

Mari kita berdoa, semoga kita selalu diberi semangat untuk mengisi dan memaknai kitab kosong kehidupan ini, dan tentunya punya stok kesabaran untuk menghadapi berbagai krisis masa transisi. Semoga Tuhan dan semestanya menujukkan kita ke jalan yang lurus seru.


-Rizki Ramadan

Yang setahun kebelakang sudah menjalani usia ke-25, menghadapi krisis masa transisi, dan di umurnya ke-26  ini berharap bisa terus mencari dan menemukan The quintessence of Life-nya. Selamat 28 April.

....

Tulisan ini dibuat untuk merayakan ulang tahun saya yang ke-25 kemarin. Tulisan ini juga saya cantumkan di KARTU POSTer yang saya kirimkan ke beberapa teman dekat saya. Terima kasih sudah mau baca celotehan (yang mungkin terasa klise) ini. :D




Thursday, October 2

Bisnis Plesetan (nan Slengean) a la Kamengski



Dengan plesetan visual, Kamengski membuat pemuda urban gemar dengan Firdaus Oil, Meggy Z dan Nike Ardila

Kita tentu sepakat, bahwa di kalangan pemuda kelas menengah macam kita-kita ini, produk bermerk Firdaus Oil pasti ditampik. Kita menyadari keberadaannya sebagai minyak penumbuh bulu, tapi sangat jarang sekali menggunakannya. Begitu juga Meggy Z. Agaknya, jarang ada pemuda kekinian yang peduli dengan pedangdut Anggur Merah tersebut. Sebenarnya, Firdaus Oil dan Meggy Z tak beda dengan Pomade dan Elvis Presley. Semuanya bagian dari budaya popular. Hanya saja, mereka ngepop di dua kelas masyarakat yang berbeda. 

Hingga hadirlah Kamengski, lini usaha yang dalam konten baju dagangannya melakukan culture jamming bergaya plesetan visual. Dengan bahasa visual, Kamengski mencampur-adukkan budaya popular lintas kelas dan lintas regional—budaya pop global dicampur dengan yang lokal. Gambar pria brewok pada logo Firdaus Oil dibuang, diganti dengan rupa wajah tokoh yang sama-sama berbulu, tetapi datang dari budaya popular kelas berbeda. Diambillah gambar Chewbecca, karakter di Star Wars yang tubuhnya dipenuhi rambut, untuk menjelaskan merk Firdaus Oil. Begitu juga dengan Meggy Z. Kamengski menyematkan gambarnya di artwork untuk lagu "Holy War… The Punisment Due" milik Megadeth. Bukankah Meggy Z dan Megadeth nyaris sama bunyinya jika dilafalkan? 

“Anjr*t, kepikiran aja nih yang bikin. Hahaha,” komentar saya ketika pertama kali melihat produk  Kamengski. Saya yakin, kekaguman pemuda-pemuda lain akan Kamengski dimulai dengan ekspresi yang tak jauh beda seperti saya itu. 

Dimulai Dari Hasrat Berkarya dan Bercanda

Bendera Kamengski berkibar sejak 2009. Penggagasnya adalah Sulaiman Said dan Aditya Fachrizal (Godit). Tapi sekarang, Said menjadi satu-satunya biang keladi Kamengski. Pemuda 26 tahun lulusan Desain Komunikasi Visual, IKJ ini punya misi sederhana saat mendirikan Kamengski, “gue pengin karya gue bisa dijadiin kaus dan dipakai banyak orang.”

Ingin tahu asal nama Kamengski? siap-siap heran. Saat Said dan Godit memikirkan nama brand, lewatlah seniornya di kampus yang bernama Meang. Said biasa memanggilnya Ka Meang. "Biar lebih asik, ditambahin imbuhan -ski deh," kata Said. Jadilah Kamengski. 

Walau mengangkat becandaan di karyanya, Said tak main-main dengan motivasi berkayanya itu. Ia pun serius mengumpulkan modal. Lulus kuliah, Said pun bekerja menjadi desainer grafis kantoran. Bukan untuk menetap, melainkan sekadar untuk mengumpulkan modal. Sambil bekerja, sambil ia terus jalani Kamengski. Satu persatu ide plesetan visual diproduksinya dan diperlihatkan ke teman-teman.

Mendulang respon yang baik, Said kian gencar membesarkan usaha. Ia pun nekat meminjam uang ke bank untuk modalnya membeli mesin cetak direct to garmen (DTG) seharga Rp 15 juta agar bisa memproduksi kaus satuan dengan mudah. Daya produksi pun meningkat sejalan dengan meningkat pula permintaan pasar. Tak disangka, pinjaman bank yang seharusnya diangsur setahun sudah bisa dilunasi Said hanya dalam jangka enam bulan. “Waktu itu, gara-gara lebaranan, kaus laku banyak banget. Pinjaman pun gue lunasin terus gue resign dari kantor,” kenang Said. 

Sudah sangat banyak sekali rupa culture jamming yang turut  meramaikan pergaulan muda-mudi perkotaan gara-gara ulah Kamengski. Selain Chewbecca di logo Firdaus Oil dan Meggy Z di album Megadeth, beberapa produk pamor dari Kamengski lainnya adalah baju bergambar cupang slayer yang disandingkan dengan logo band Slayers, tokoh fiksi Detektif Conan disandingkan dengan logo kamera Canon, dan logo sepatu Nike yang ditambahkan tulisan ‘Ardila’. 

Laku keras, kaus-kaus plesetan Kamengski pun viral di ranah online. Hingga tulisan ini dibuat, Kamengski memiliki 3750 pengikut di Twitter, 2573 di Facebook, dan  12397 di Instagram. Kini, Kamengski juga sudah punya markas. Di sebuah rumah mini daerah Lenteng Agung, Said bermukim. Di sana pulalah ia sendiri bekerja mengurusi produksi sekaligus penjualan Kamengski. Modal utamanya: mesin cetak DTG, dua unit PC, koneksi internet dan smartphone. Tak jauh dari tempat tinggalnya, Said juga menyewa toko. Kamengski pun menjadi distro. 

Soal omzet, jangan ditanya. Tiap bulan, kaus Kamengski yang dihargai Rp 115-150 ribu ini bisa terjual setidaknya seratus potong. Belum lagi jika Kamengski ikut buka lapak di bazar. "Minimal empat juta gue kantongin tiap bazar. Paling heboh sih waktu Holy Market di ruangrupa. Belasan juta deh gue dapet," cerita Said senang. 

Sederhana Dalam Pemasaran. Santai dalam Penjualan


Said memilih untuk sederhana dalam pemasaran dan santai dalam penjualan. Untuk pemasaran, dia hanya mengandalkan akun-akun media sosialnya, itu pun bentuk promosinya sederhana dan tetap bernada bercanda. Di kolom bio Instagramnya saja, Kamengski mencantumkan deskripsi yang nyeleneh bukan main. "Rajin Ibadah, Ramah Tamah, Baik Hati, Murah Senyum, dan Tidak Sombong, mau curhat hubungi 081317722721."

Etalase digitalnya di Instagram pun tak mewah, hanya berupa foto kaus, tanpa model,  itu pun difoto dengan kamera hape. Tidak seperti kebanyakan online shop yang tampil elegan dan tak jarang berhamburan hashtag.

Andalan promosi Kamengski lainnya adalah jaringan pertemanan. Berada di scene seni Jakarta juga membawa keuntungan bagi Said. Beberapa koleganya yang lebih dulu diikuti banyak followers, kerap mempost foto dirinya memakai baju Kamengski. Dari situ, plesetan visual khas Kamengski kian viral. 
 "Gue juga pernah coba ajak kerja sama akun humor di Instagram. Gue isi konten di situ. Lumayan. Sekali post, bisa nambah follower sampai 500," cerita Said. 

Soal penjualan, sebenarnya, bisa saja Kamengski diikutkan ke bazar-bazar akbar seperti Jakcloth atau Brightspot. Tapi Said memilih untuk pelan-pelan. "Gue nggak mau agresif gitu ah. Lagian kalau gitu jadi nggak lux lagi produknya," katanya. Beberapa temen yang ingin berinvenstasi juga pernah datang ke Said. Tapi lagi-lagi, Said belum menggubris satu pun tawarannya.  

 


"Plesetan nggak ada matinya"

Untuk pengikut brand Kamengski sejak awal berdiri, pasti akan tahu bahwa di awal pendiriannya, gambar-gambar di kausnya lebih nyeni dengan menampilkan berbagai karya buatannya dan beberapa teman kampusnya. Namun, tak lama sejak itu akhirnya berbelok arah, dan memilih mengangkat plesetan visual saja hingga sekarang. 

Kenapa plesetan?

"Karena gue susah serius. Gue mau keliatan keren tapi udah pasti kalah keren. Jadi, mending katro aja deh. Jadi nggak mutu aja. Eh, malah banyak yang senang," ujar Said enteng. 

Selain itu, menurut Said, bisnis parodi seperti yang dilakukannya itu tak akan pernah mati. Project Pop dan grup lawak Warkop saja, sebut Said, hingga kini masih terasa lucunya jika kita menyaksikan karya-karyanya. 

"Parodi, apalagi dalam bentuk visual pasti nggak gampang basi," ujar pemuda yang juga merilis novel grafis Munir, Juli lalu. 

Ekspansi Dengan Berkolaborasi

Belum lama ini, Kamengski merilis kaus yang sama sekali tak mengandung unsur plesetannya. Gambarnya adalah sekolah anak punk sedang menyalami tangan ibunya. Di produk itu, Kamengski mengajak  Mufti Priyanka, ilustrator yang lebih dikenal dengan nama Amenkcoy. 

Amenkcoy, adalah satu dari beberapa nama seniman muda yang pernah diajak Kamengski untuk berkolaborasi. Bagi Said, Kamengski sangat terbuka dengan kolaborasi. Bahkan ia membutuhkannya agar menambah variasi produknya. "Kolaborasi penting biar kita bisa bersinergi dan saling bantu. Mau kolaborasi di media apa pun ayo-ayo aja," jelas Said. 

Selain Kaus, Kamengski juga akan menambah jenis produknya.Selain pernah membuat gantungan baju berbentuk senapan, Kamengski juga berencana mengeluarkan casing smartphone dalam waktu dekat ini. Tentu, dengan desain yang khas dan unik.

"Gue nggak nyangka juga sih Kamengski udah segede ini. Apalagi gue nggak ada basic bisnis. Gue cuma menjalani ya karena gue suka dan gue senang," tutup Said. 

Kunjungi: www.instagram.com/kamengski , www.twitter.com/kamengski, www.facebook.com/kamengski. 

...
Tulisan ini dimuat di rubrik Sidewalks di Things Magazine edisi Oktober. Terima kasih atas kesempatannya. Semoga bermanfaat. :D  Berikut inilah bukti penampakannya: 



(foto: Dok. Kamengski )

Sunday, September 21

Self-Published Your Photobook and Be Happy



Di era kemajuan teknologi, industri percetakan dan sosial media ini, rasanya tiap pehobi fotografi perlu menjadikan penerbitan buku fotonya sendiri sebagai pencapaian. Selain akan membahagiakan diri sendiri, ini penting untuk memperkaya referensi fotografi.


Kalau kita berkunjung ke toko buku dan melihat rak koleksi buku-buku fotografi, pasti yang banyak kita temui adalah buku-buku panduan teknik fotografi. Mulai dari panduan fotografi dasar, teknik pencahayaan, hingga panduan menguasai digital imaging dalam waktu singkat. Sementara buku fotografi yang berisi kumpulan karya foto dengan tema tertentu dari seorang fotografer sedikit sekali mengisi rak. Kalau pun ada pasti harganya mengejutkan. Kebanyakan harganya di atas Rp 300 ribu. Niat untuk mengoleksi buku foto, memperkaya referensi foto, dan mengapresiasi karya fotografer pun mau tak mau harus ditunda. 


Ridzki Noviansyah, seorang penikmat sekaligus pengamat fotografi cum co-founder Jakarta Photobook Club bahkan bercerita bahwa scene buku foto di Indonesia itu belum begitu hidup. “Sejak tahun 50-an, photobook Indonesia itu paling cuma ada 150-an buku. Sementara di Jerman setiap tahun bisa ada 150-an photobook yang terbit,” ujarnya. Data Ridzki tersebut mengacu dari pameran pemenang dan nominasi Penghargaan Buku Fotografi Terbaik Jerman 2013 yang digelar oleh Goethe Institute. 

Kalau melihat animo masyarakat akan fotografi yang terus meningkat, penerbitan buku foto itu perlu digalakkan demi menyeimbangkan semangat berfotografi masyarakat. Jika selama ini aspek produksi  dan distribusi (baca: pamer) foto yang paling sering digembar-gemborkan, maka penerbitan buku foto akan memicu semangat mengonsumsi serta mengapresiasi foto. Jika siklus produksi-konsumsi dalam ekosistem fotografi ini seimbang, geliat fotografi Indonesia pasti akan terus tumbuh dan semakin seru.

Untungnya, beberapa fotografer, baik dari kalangan hobi atau profesional, mulai memanfaatkan peluang dari perkembangan teknologi, media sosial dan industri percetakan. Satu persatu fotografer kemudian merancang, mendesain, mencetak lalu menjual buku fotonya secara independen, tanpa menunggu 'ajakan' dari penerbit besar. Tanpa mengandalkan penjualan di toko buku mayor. Kini, jika  rajin berjejaring di forum maya para pecinta fotografi, kita akan sering sekali disuguhi posting seorang fotografer yang sedang memperkenalkan buku fotonya. 

Aji Susanto Anom misalnya, fotografer muda asal kota Solo ini pada 13 September 2013 lalu merilis buku fotonya secara independen. Aji mengumpulkan foto-fotonya yang menggunakan pendekatan street photography merespon kejadian-kejadian sehari-hari di kota tempat tinggalnya. Buku berukuran sedikit lebih besar dari kartu pos itu kemudian ia beri judul Nothing Personal.

“Aku pengin menerbitkan buku karena aku pengin nyumbang karya dalam bentuk yang lebih nyata buat scene fotografi Indonesia,” tegas Aji yang juga menganggap menerbitkan buku foto dengan semangat Do It Yourself itu lebih mengasyikkan karena kita bisa menunjukkan idealisme dan cara berekspresi dengan sangat bebas. 

Selain Aji, ada juga Rian Afriadi, fotografer hobyist yang menggeluti fotografi pendekatan dokumenter subjektif yang  kini sedang merencanakan penerbitan buku fotonya. Bagi Rian, menerbitkan buku foto itu adalah  art statement. “Kalau gue lebih sebagai art statement dan doing it for love. Bukan demi uang. Apalagi hitung-hitungan profit bagi fotografer indie tentunya tidak terlalu wow,” ungkap Rian.

Bermodal Konsep dan Tekad

Berbicara soal langkah penerbitan buku foto, Ridzki menegaskan bahwa ketika kita ingin menerbitkan buku foto, maka yang paling perlu lakukan adalah mematangkan konsep dari foto-foto kita itu. “Jangan terlalu buru-buru apalagi merasa dikejar untuk menerbitkan photobook. Pematangan konsep dan tema foto itu lebih dibutuhkan,” ungkap Ridzki yang juga merekomendasikan kita untuk melihat sebuah photobook independen tentang joki cilik di pacuan kuda di NTB yang pengumpulan fotonya digarap oleh Romi Perbawa selama empat tahun. 

Matang di konsep dan tema, langkah selanjutnya adalah mendesain dan mencetak buku. Untuk tahap ini, kita bisa mengerjakan sendiri seluruh alur pengerjaan buku sendiri seperti yang dilakukan oleh Aji. Lulusan jurusan Desain Grafis ini mengerjakan sendiri desain tata letak, penulisan, pemilihan kertas dan pencetakan hingga penjilidan buku. 

proses pembuatan buku Nothing Personal. (foto dicomot dari FB Aji Susanto Anom)

Namun, jika belum menguasai teknik produksi buku, tak perlu risau. Dengan modal tekad yang kuat, kita pasti tetap bisa membuatnya, dengan menggunakan bantuan kawan misalnya, seperti yang dilakukan oleh Rian. Ia banyak berkonsultasi dengan desainer, teman-temannya yang sudah pernah berurusan dengan pencetakan buku, penulis dan editor.

O ya, metode kolaborasi juga bisa jadi opsi. Terutama jika kita punya kawan yang pendekatan fotografinya sama. Astrid Prasestianti dan Renaldy Fernando misalnya, yang pada 2012 lalu merilis buku berisi kumpulan foto-foto terbaiknya dari kamera analog. Buku yang diberi judul 88 itu dikerjakan secara kolaboratif. Setelah foto-foto dipilih bersama, Astrid yang sehari-harinya bekerja sebagai desainer mengerjakan urusan desain buku, sementara Renaldy banyak berperan di urusan promosi dan penjualan.

Satu hal lagi yang mesti diperhatikan dalam penerbitan buku foto adalah penyuntingan yang mencakup pemilihan foto, penentuan alur dan urutan penempatan foto. Dalam tahap ini, menurut Ridzki, fotografer memerlukan second opinion agar penyuntingan foto tak melulu mengikuti ego fotografer.

Pendapat Rian juga senada dengan Ridzki, katanya, “Si fotografer cenderung punya bias terhadap foto-fotonya. Ada kalanya kita ingin mempertahankan foto favorit padahal di mata viewer, foto itu malah dianggap merusak alur photobook.

Nah, soal pencetakan, seperti yang sudah kita tahu, kini jasa digital printing sudah menjamur. Semua pasti menyanggupi layanan cetak buku foto. Harga produksinya pun tak akan begitu mahal, apalagi jika kita langsung cetak banyak. Cukup siapkan file siap cetak, pilihan kertas dan jilidnya, selanjutnya kita serahkan ke para petugas percetakan.

Promosi dan Penjualan Bisa Tanpa Modal

Lewat media sosial kita bisa sangat mudah memperkenalkan buku foto kita dan menjualnya. Syaratnya pun simpel, cukup rajin berjejaring dengan forum-forum (group) pehobi fotografer dan pecinta buku foto. Setelahnya, cukup dengan membuat posting promosi yang menarik, kita sudah bisa mendapatkan peminat. 

Enaknya lagi, kita bahkan tak butuh banyak modal banyak untuk menerbitkan buku foto. Seperti yang dilakukan oleh Aji, dan duo Astrid-Renaldy yang menerapkan sistem pre-order. Jadi, kita hanya perlu modal untuk mencetak dummy, lalu kita promosikan via media sosial dan mengajak teman-teman yang berminat membeli untuk membayar uang mukanya terlebih dahulu. Uang muka itulah yang menjadi modal kita mencetak buku. Aji dan duo Astrid-Renaldy pun bisa mencapai target penjualan seperti yang diharapkannya. 

"Aku pertama cuma berencana bikin 100 buku, tapi ternyata permintaannya sampai 150 buku. Lumayan lah," cerita Aji. 

Tentu, keberhasilan penjualan buku foto ini juga berbanding lurus dengan seberapa besar jaringan pecinta fotografi yang sudah dibangun si fotografer. "Pasar photobook itu sebenernya kecil. Tapi tergantung dengan networking si fotografernya juga," ujar Ridzki. 

Perlunya Meningkatkan Pencapaian

Tren photobook ini jelas menjadi kabar baik bagi scene fotografi Indonesia. Namun, walau begitu, seperti yang disebutkan Ridzki, kita masih perlu juga meningkatkan pencapaiannya. Pertama, buku foto independen baiknya tak hanya disasar ke lingkup jaringan pertemanan di media sosial saja, melainkan ke segmen yang lebih luas lagi. "Para penerbit buku foto independen di luar negeri, seperti Malaysia dan Singapura itu perhitungan pasarnya sudah nyebar ke negeri-negeri lainnya," ungkap Ridzki. 

Selain itu, sekali lagi Ridzki mengingatkan jika kita ingin menjual buku foto, kita perlu mematangkan konsep atau setidaknya punya alasan kenapa khalayak mau membeli buku kita tersebut. "Karena itu, artist talks setelah buku foto dirilis perlu digelar sebagai sarana bedah buku dan ajang sharing cerita di balik pembuatan buku foto tersebut," tambah Ridzki lagi. 

Nah, biar makin semangat, selalu ingatlah juga ungkapan "foto yang baik adalah foto yang dicetak." Walau pun sekarang kita bisa mudah melihat foto di layar gadget, tetapi sensasi melihat foto kita tercetak dengan baik di kertas pilihan, apalagi dalam bentuk buku itu tak akan ada yang bisa menggantikannya. Selalu membahagiakan. Karena itulah, Mari kita cetak buku foto kita sendiri, seperti saran Aji jika kita ingin  menerbitkan buku foto maka, "Just do it! aja."

Selamat mencoba. :D



=======

Tulisan ini dimuat di rubrik Sidewalks di Things Magazine edisi Juli. Terima kasih atas kesempatannya. Semoga bermanfaat. :D  


Monday, September 15

15 September 2014



Jerman menang. Jokowi unggul
Sekarang kamu terbang. Nanti aku nyusul. (Amiiiin)





Doa dan cinta selalu menyertaimu
Be strong and Viël gluck, F. :D

Saturday, August 16

Lebaran 2014. Lebaran Serba Pertama



Lebaran tahun ini serba pertama. Karena keluarga kami belum lagi punya mobil maka kami naik kereta. Ya, sepanjang sejarah berlebaran sejak saya lahir, tahun ini adalah kali pertama saya merasakan mudik naik kereta.

Sebenarnya bisa saja kami menumpang bus atau menumpang kendaraan pribadi milik saudara. Tapi karena si papah sebelumnya udah nyoba naik kereta ke kampung kami, Maja, Rangkas Bitung, dan papah sangat terkesan sekali dengan kenikmatan berkereta maka kami pun digoda untuk menjajalnya juga. Bukan cuma keluarga saya ternyata, dua keluarga lain yang tinggal di Jakarta pun ikut menjajal naik kereta. Mobil mereka titipkan di stasiun Palmerah. Sementara keluarga saya naik dari stasiun Sudimara, sekitar 15 KM dari rumah. 

Untuk sampai ke stasiun Maja, tak perlu waktu lebih dari sejam. Asiknya, turun dari stasiun Maja kami cukup berjalan kaki saja untuk mencapai rumah Abah dan Ibu (kakek-Nenek saya yang sudah almarhum). Asiknya lagi, kereta lowong sekali. Kami tak perlu merasakan bersesak-sesakan seperti yang kerap diberitakan tv di kereta-kereta mudik. 

Seperti tahun-tahun sebelumnya ritual lebaran di Maja adalah makan siang bersama-ziarah ke makam abah dan Ibu, makan-makan lagi, main petasan, saweran dan bagi-bagi 'persenan'. Tak banyak waktu yang kami habiskan di halal bihalal hari pertama lebaran itu. Sampai di Maja pukul 11.00, pukul 15.30 kami sudah  menumpang mobil Uwa'berangkat menuju Serang, ke kampung halamannya Mamah. 

Mamah dan Rinda, adik saya duduk di bangku kereta menuju Maja. Kereta yang berharga tiket Rp 8.000 ini sepi. Enak deh pokoknya. Sekadar perbandingan, jika kami naik bus. Ongkos yang dikeluarkan bisa mencapai Rp 30.000 per kepala


Suasana stasiun Maja setibanya kami di sana. O ya, saya baru tahu  loh ternyata saudara saya yang lain menumpang kereta yang sama. Hanya beda gerbong.  



Rumah Abah dan Ibu ini luas sekali. Dulu, rumah ini lebih panjang dan luas, tapi bangunan yang dulu membentuk huruf U itu sekarang ditebas salah satu sisinya. Di belakang rumah itu masih ada kebun yang luasnya selapangan futsal deh kira-kira. Karena (sangat) dekat stasiun, lahan rumah kami ini akan dijadikan tempat penitipan motor. Maklum, Maja dan masyarakatnya sekarang mulai banyak yang bekerja di Jakarta. 


Secuplik bagian dalam rumah. Masih terpajang kumpulan foto keluarga dari tahun ke tahun.


Mang Atip. Salah satu orang kepercayaan keluarga. Ia sedang memantau kebun belakang rumah sambil bercerita tentang sumur yang dulu biasa kami gunakan, serta pohon-pohon rambutan yang dulu begitu lebat dan menghasilkan


Keponakan saya (anak sepupu) ini bernama Pian. Sejak melihat saya memegang kamera dia antusias sekali bertanya gimana caranya memotret. Sejak itu, kamera digital saya disandera oleh si Spiderboy ini.


Dan ya, kemudian kamera saya pun digilir oleh krucil-krucil ini. 




Lebaran tanpa anak kecil dan petasan itu hambar rasanya. Setidaknya di keluarga kami. Dua hal itulah yang bikin lebaran jadi meriah. Dengan begitu pun, para orang dewasa macam saya bisa ikut mencicipi bermain-main. Tanpa ada anak kecil, ya kita gengsi lah. Haha. 



Di lebaran kemarin, ada banyak keluarga yang nggak hadir. Tapi kalau dilihat difoto udah kayak foto keluarga lengkap yah. Haha. Keluarga Papah memang keluarga besar. Delapan bersaudara dan salah satu kakaknya ada yang punya 11 anak. 

Plastik yang entah gimana ceritanya bisa berbentuk hati. Terselip di pagar rumah. Semoga rumah ini selalu diselipkan cinta di setiap sudutnya, bagaimana pun jadinya nanti. 


bersambung.... 


---
Di posting ini, seluruh foto diambil dengan kamera analog. #cieanalog