Wednesday, August 31

Lemari Baru

Sudah berapa minggu ini kamar saya di rumah penuh dengan barang –barang pindahan dari kamar kosan. Kamar saya yang berukuran 3,5x 3,5 m ini hanya tersisa ruang kosong seperempatnya saja. Nggak cuma bikin penuh, tapi juga bikin kamar berantakan. Sebutan kapal pecah sepertinya masih kurang, ‘kota sehabis tsunami’ mungkin sedikit lebih tepat untuk mendeskripsikan keadaan di sini. Seperti sampah yang terbawa ombak dan terhempas di pantai, barang-barang di kamar saya berserakan begitu saja.
Saya merasakan jelas sebuah ironi dalam berpindah. Ada duka dan cita yang lengket tidak bisa dipisahkan, seperti dua sisi  uang kepingan. Di satu sisi perpindahan ini adalah sesuatu yang patut dibanggakan,  saya berpindah karena saya telah menyelesaikan satu misi besar. Satu jenjang tantangan hidup sudah saya lewati. Akhir  Mei kemarin, saya diwisuda. Itu artinya dengan resmi saya dinyatakan lulus dari segala macam urusan kuliah.    Misi di bidang akademi selesai. Hmm, setidaknya saya sudah sampai ke tingkatan dasar dan yang paling umum. Saya akhirnya mendapat gelar sarjana. Bapak, ibu, kakak, adik, semua terlihat senang, memberi selamat. Lalu, seperti halnya  sekolah, ketika kita berhasil menyelasaikan suatu tingkat, kita berhak untuk naik kelas. Hore!!

Upacara wisuda tadi itu sekaligus menjadi aba-aba untuk saya segera hengkang dari tanah pasundan (Bandung-Jatinangor tepatnya). Di saat bersamaan, bapak kos juga mengingatkan kalau sewa kos saya jatuh tempo pada Agustus 2011. Semakin tegas lah perpindahan ini pasti terjadi. Tapi tunggu dulu, di antara Mei menuju  Agustus ada 30 hari milik bulan Juni dan 31 hari milik bulan Juli. Saya punya waktu  dua bulan  hingga saya  kamar kos yang sudah saya huni lima tahun itu benar-benar bukan atas nama saya lagi. Oke, saya manfaatkan rentang waktu itu dengan berpuas-puas main di sana, sambil sedikit menyicil pindahan barang. Kata sedikit di sini perlu ditekankan. Karena begitu lah adanya. Sebenarnya bisa saja saya pindahan dalam satu waktu. Tapi saya memilih untuk pelan-pelan saja. Tidak sekaligus semua barang langsung saya bawa ke rumah.

Wednesday, August 3

Permohonan Maaf Untuk Bottlesmoker

Rasanya saya patut sungkem minta ampun sama Indonesia. Pasalnya, setelah sekian lama hidup di sini, banyak karya-karya keren besutan orang indonesia yang baru saya tau. Setelah minggu kemaren saya baru terpesona sama novel  pertama dari tetralogi buruh yang legendaris itu, Boemi Manusia, minggu ini saya dibuat kagum sama duo Angkuy- Nobie di Bottlesmoker.

Berawal dari melihat begitu banyaknya orang yang share info konser tunggalnya via Twitter, saya jadi teringat akan seorang kawan yang menempel stiker Bottlesmoker di laptopnya. Katanya dia suka banget sama Bottlesmoker.

Tidak memakai kelamaan (haha, nggak enak gini ‘nggak pake lama’ ditulis dengan baku), saya pun menelusuri internet, mencari-cari hal yang bisa saya dengar untuk referensi. Lagu Slow-Mo Smile adalah lagu pertama, berputar dengan manisnya di Youtube, garis merah petanda laju streaming yang menari lambat saat itu tidak jadi soal, malah terlihat jadi memukau. Ah, ini lagu saya sekali. Nge-beat tapi slow. Fun!

Temporary Post Used For Theme Detection (56bd5bbc-a04d-4150-8d8b-b85f9575f4d0 - 3bfe001a-32de-4114-a6b4-4005b770f6d7)

This is a temporary post that was not deleted. Please delete this manually. (395d810b-5efa-4285-af4c-60762a6e9112 - 3bfe001a-32de-4114-a6b4-4005b770f6d7)