Tuesday, November 29

Selamat Ulangtahun Pak Raden

"Terima kasih untuk ucapannya. Saya tersanjung. Terharu karena masih ada yang ingat sama saya," Ucap Bapak itu kepada kerabatnya lewat telepon. Mendengar ucapan itu, saya pun ikut terharu. Bagaimana tidak, orang yang pada dekade 90an menjadi idola anak-anak seantero Indonesia kini harus merasa tidak banyak yang mengingatnya. Walau saya sadar ungkapan itu hanyalah buah dari pribadinya yang low profile, tapi saya jadi tersentuh, saya malu, saya  termasuk orang yang melupakannya

Dulu, tiap Minggu pagi, program TV gubahannya menjadi tontonan nomor satu yang paling dinanti-nanti tiap anak. Aksi mendongeng sambil menggambarnya pun selalu sukses menyirap perhatian kami, para anak-anak di era 80' dan 90an. Ya, beliau adalah sosok yang selalu tampil dengan kumis tebal, blankon, busana beskap lengkap dan suara berat. Beliau adalah orang dibalik kisah kehidupan yang asri dari Unyil, Usro, Cuplis, Pa Ogah,  dll.  Beliau adalah Drs. Suyadi atau lebih kita kenal dengan nama panggungnya, Pak Raden. 

Friday, November 18

Mencari Ulang Esensi Berkomunikasi Lewat Kartu Pos


Kehadiran media sosial di dekade ini membawa perubahan yang sungguh signifikan pada kehidupan kita. Selayaknya bedol desa, kita semua bertransmigrasi ke dunia maya. Hehe,  nggak sepenuhnya pindah sih,  tapi kita selalu menyempatkan diri  untuk berada di media sosial yang maya itu. Kita seolah menggandakan diri.

Tahun demi tahun kita lewati dengan cara baru bersosialisasi ini. Pak De Marshall McLuhhan, seorang pakar komunikasi, pernah berkata lewat bukunya yang nggak usah kalian tahu lah apa judulnya, saya juga lupa. “Manusia mencipta alat (teknologi), lalu alat itu balik mencipta manusia,”. Awalnya, manusia mencipta media-media sosial ini tapi coba lihat sekarang, yang terjadi adalah media-media sosial itu lah yang membentuk gaya hidup baru manusia.

Konsep telepati antar dua orang yang bagi masyarakat dekade-dekade silam hanya imajinasi, kini nyaris terwujud. 144 karakter status di Twitter seolah menjadi perpanjangan suara hati dan pikiran kita. Bahkan reseptornya bukan hitungan individu lagi melainkan massal. Kita mambawa privasi ke ranah publik. Banyak orang bisa mengetahui apa yang sedang kita pikirkan, dimana kita sedang berada dan apa yang kita sedang lakukan. Pertanyaan-pertanyaan “Hai, kamu lagi apa, dimana sama siapa?” menjadi pertanyaan yang harus dihindari, karena mungkin saja si lawan bicara menjawab “Kan aku udah update di Twitter, pliis deh, kamu nggakfollow aku yah.. Huh dasar, nggak perhatian!”