Tuesday, April 28

Merilis Zine Foto "Ada Harap di Balik Parah"



Kawan, 

Mumpung sekarang adalah 28 April saya mau mengumumkan sesuatu nih

AKAN DIRILIS: 

Kumpulan foto "Ada Harap di Balik Parah"

Pernahkah kamu bertanya, seberapa besarkah ukuran karung sampai banyak anak muda yang merasa sanggup mengarungi samudera kehidupan ini? Mungkin, pertanyaan itu tidak terjawab di zine foto ini. Tetapi melalui 28 foto saya ingin mengajak teman-teman untuk menyimak kisah muda-mudi kayak saya ini mengarungi samudera kehidupan yang penuh gejolak: berhadapan dengan situasi yang parah, membuatnya harus pandai menemukan harap di baliknya. #aww

Akan sangat senang jika ada dari kawan-kawan yang ingin memiliki, menikmati dan mengoleksinya









* Ukuran 14,8cm x 21 cm 
* Dibuat di percetakan digital, bersampul lunak, jilid stepless
* Harga: Rp 65.000

Jika tertarik, isi formulir ini yah. 


Terima kasih, kawan. :D 

#zinefotoAHDBP #visualmemorisk

Sunday, April 12

KARTU UCAPAN (cerpen dari serial Lupus: Sendal Jepit karangan Hilman)



MENJELANG Hari Valentine Gusur punya kesibukan baru. Setiap hari, sepulang sekolah dia selalu bikin sajak cinta. Kadang-kadang sampe larut malam. Sambil nongkrong di gardu ronda di depan gangnya, sambil menatap sinar bulan, dan sambil sesekali mencomot kue pancong bekal dari engkongnya, lahirlah berbiji-biji sajak cintanya. 

Besoknya Gusur mulai memasarkannya ke teman-teman di sekolah. 

Teman-teman banyak yang bingung. 

“Ini apa, Sur?” tanya Gito. 

“Ini sajak, Gito. Belilah. Murah meriah, kok. Lagi pula ini paten sajakku. Sajak cinta yang pantas kauberikan buat pacarmu di Hari Valentine ini.” 

Gusur memang jagoan berpromosi. Engkongnya dulu kan mantan penjual obat. Buktinya Gito termakan rayuan Gusur. Dan dengan khilaf lalu membeli sajak Gusur. 

Gusur kesenangan sampe rumah. Kemudian bikin sajak lagi. Sampe larut malam. Sampe engkongnya khawatir Gusur sakit. Kalo sakit kasian anak ini. dokter-dokter pada menolak untuk merawatnya. 

Waktu dibawa ke dokter umum, ada dokter umum yang segitu marahnya sama engkongnya Gusur. 

“Bapak menghina saya ya, saya kan bukan dokter hewan!” 

Tragisnya waktu dibawa ke dokter hewan, para dokter hewan pun minta maaf. 

“Wah, maaf sekali, Pak. Bukannya saya menolak. Tapi saya belum pernah menangani dinosaurus.” 

Akhirnya Gusur diobati dengan ramu-ramuan tradisional oleh engkongnya sendiri. Untung sembuh. 

Tapi kalo sakit lagi gimana? Itu makanya engkongnya Gusur ketakutan setengah mati, lalu membujuk-bujuk Gusur supaya lekas tidur. Tapi Gusur menolak dengan alasan demi kemajuan karier. Begitu juga di sekolah. Waktu Lupus secara basa-basi menasihati Gusur agar jangan tidur terlalu malam, eh, Lupus malah diajak kerja sama. 

“Pokoknya asyiklah, Pus, kita bakal mengeruk untung besar. Aku melihat prospek cerah dari usaha ini,” bujuk Gusur segitu semangatnya. 

Lupus cuma diam. Dan bagi Gusur diam berarti setuju. Gusur langsung menyusun pembagian kerja. 

“Aku bertugas bikin sajak, dan kamu ilustrasinya ya, Pus.” 

Lupus manggut-manggut. 

Gusur ternyata punya selera dagang yang lumayan. Kalo lagi kepepet, dia suka jual-jual barang. Tapi kali ini Gusur punya rencana membuat kartu Valentine. Makanya dia ngajak kerja sama Lupus. Soalnya udah berapa lama ini lupus lagi getol-getolnya belajar ngegambar. Eh, nggak dikira bakat gambar lupus lumayan juga. Gambarnya bagus-bagus. Terutama dalam hal menggambar yang rumit-rumit. Misalnya, benang kusut. 

Apa salahnya kalo bakat gambar itu dimanfaatkan oleh Gusur. Apalagi setelah tau maksudnya, Lupus juga kelihatan senang. Wah, pasti bakalan klop deh. Soalnya sajak Gusur butut banget. Jangan ada orang yang ngerti. Abis suka ngaco-ngaco gitu. Sementara cara gambar lupus juga suka seenaknya. Pokoknya lumayan jelek deh. 

Jadilah mereka bekerja sama.