Thursday, April 28

Mentraktir Zine


Ada Apa Dengan Cinta 2 rilis hari ini. Pagi tadi, Blink 182 merilis single terbaru mereka yang akhirnya saya ulang-ulang tanpa henti.  Buku komik yang saya pesan di online shop sejak minggu lalu sampai siang tadi. Sorenya, saya mendapat telpon ajakan untuk gabung ke sebuah proyek yang nyenengin. Malamnya, di luar kantor, saya mendapati seorang karyawan yang mengejar atasannya, memberi selamat atas umurnya yang bertambah.

Dan hari ini saya sedang merayakan 28 April yang ke-28 kalinya sudah saya lewati. Saya berulang tahun. 

Bahagia tanpa tapi! :D

Dan saya ingin melipatgandakan kebahagiaan. Ingin membagi zine kepada kalian. Ini zine mini, sudah direncanakan sejak bulan lalu, dan baru dikerjakan malam tadi. 


Jangan tanya isinya tentang apa, bukankah ulang tahun, tuh, seru kalau ada kejutan? Hehe. 


Yang mau isi formulir ini yah: 



Friday, April 22

Menyelesaikan Hari

Angin malam yang selalu tidur buru-buru dan terbangun sebelum subuh, 

Tidakkah ada lelah yang perlu diasuh, atau gelisah yang perlu dibasuh? Kamu punya senyum penyembuh, aku punya cerita yang bisa diseduh.Tidakkah ada butuh yang mulai tumbuh?

Wednesday, April 13

Membatasi Notifikasi




Hidup bisa sedemikian mudahnya berubah hanya karena satu setelan fungsi di WhatsApp diganti. Percayalah. Saya sudah membuktikannya.

Jadi, saya mematikan notifikasi keterbacaan pesan. Ketika pesan yang saya kirim sudah dibaca oleh penerima, tanda centrang dua nggak lagi akan berubah biru. Sebagai konsekuensinya, pengirim pesan pun nggak tau apakah pesannya sudah saya baca atau belum. Adil lahir batin.

Saya perlu melakukan ini karena kerap merasa cemas bin nggak enakan. Sebagai pengirim, bukankah nggak enak ketika kita mengirim pesan ke seseorang, kita tahu dia sudah menerima dan membacanya, namun nggak langsung dibalas. Sepasif-pasifnya, menunggu itu kata kerja, ada daya yang dihabiskan, apalagi manusia adalah makhluk pembenci ketidakpastian, pesan yang sudah ditangkap tapi lama ditanggap, bikin kita menunggu penuh harap.

Sementara di sisi penerima, sudah membuat orang tahu kalau kita sudah menerima pesannya membuat kita diburu-buru, harus segera balas. Betapapun kita sedang melakukan kegiatan lain. Sadarlah, membalas pesan itu nggak seenteng membuka dan membacanya.

Masalahnya lagi adalah, budaya komunikasi digital yang sangat mudah ini jadi seolah mempersilakan kita ngajak orang ngobrol kapan pun dan di mana pun. Pasti kalian pernah merasakan juga kan  dapet chat soal kerjaan atau ajakan kerja sama di atas pukul 22.00. Huh hah.

Daripada terus-terusan berada di situasi serba salah itu, lebih baik saya matikan saja notifikasinya.
Terbukti, hidup lebih tenang. Saya jadi menghargai prioritas, baik prioritas orang-orang yang menerima pesan saya, atau pun prioritas saya.

Ketika  mengirim pesan tapi tak langsung dibalas, misalnya, anggap saja si penerima sedang punya prioritas lain yang tak baik jika terdistraksi. Tak ada salahnya kan sekedar membacanya, dan memikirkannya sambil tetap melakukan kegiatan. Toh, kita sama-sama tahu, bahwa nggak jarang kan dalam satu waktu ada banyak sekali orang yang menghubungi kita.

Merasa dikacangin itu wajar, tapi kan banyak tuh kegiatan lain yang bisa dilakukan sambil makan kacang. Betul nggak?

...

Jeanett adalah teman yang pertama kali mendapati saya menonaktifkan notifikasi keterbacaan pesan di WhatsApp ini. Kepadanya saya bilang, "Asik, Jn. Lebih tenang. Hehe."

"Gue juga dulu pernah nyoba. Tapi disuruh ubah lagi sama cowok gue," katanya.

Saya senyum dalam hati.

:)







Thursday, April 7

Awak Kapal Yang Merindukan Ombak

Pada Rabu (30/03) kemarin, Eta minta tolong saya untuk memfoto dirinya berpose dengan majalah HAI edisi terbaru yang berhalaman sampul foto Zayn Malik. Di tengah remang-remangnya ruang redaksi yang kalau pukul 18.00 teng lampunya dimatikan, Eta berpose di sebelah lampu meja.

Saya memfotonya tanpa kecurigaan barang seupil pun. Paling-paling hanya dugaan bahwa Zayn Malik adalah idola mamah bayi 8 bulan ini, atau pengerjaan edisi itu bikin ibu Art Director yang udah kerja di HAI bertahun-tahun ini berapi-api.

Keesokan harinya, hape saya kedapatan notifikasi dari Instagram yang menyebutkan kalau Eta menyebut (mention) saya di keterangan foto terbarunya. Dan itu adalah foto Eta bersama majalah HAI tadi. Saya membacai keterangan dan komentar-komentar di bawahnya. Nadanya haru.  Mengisaratkan kalau Eta akan ciao dari majalah HAI.

"Ah, tau lu mau resign gini, gue jadi nyesel kemaren motoin," kata saya ke Eta pada Jumat (31/03) sore saat saya menemui Eta di lantai dasar yang dikelilingi banyak sekali bungkusan  yang kemudian disuguhkan kepada kami. Eta membeli sebakul besar es doger agar di hari perpisahannya ini kami bisa melakukan sesuatu yang Eta sebut  Ice Danger Party.

Perpisahan itu menyedihkan, kawan. Karena itulah kita dibiasakan untuk membuatkan pestanya, ritual tipikal di hari terakhir ngantor. Menyuguhkan makanan, agar semua teman kerja berkumpul di mengeliling meja, lalu menyayangkan kepergian sambil menguyah nikmatnya sajian. Ngilu di hati dikelabui lezat di mulut.

Dan tahukah kamu, sejak Oktober kemarin,  redaksi HAI sudah ditinggal 5 awaknya: Rama, wartawan film, pada September; disusul Zaki si hobit yang wartawan musik pada Oktober.

Bursa perpisahan paling ramai pada Maret ini: tiga sekaligus! Pertama, Satria, wartawan satu desk dengan saya, desk sekolah, diikuti Adhie wartawan multitalenta (ia paling bisa diandalkan di banyak desk, bahkan saat resign ia sedang berada di desk sosmed, ya, dia jadi admin sosmed!), dan yang paling "wah" adalah perginya Eta ini. Eta sudah bertahun-tahun kerja di HAI, itulah mengapa di acara perpisahannya, teman-teman alumni HAI berdatangan.

Coba bayangkan jika kamu sedang di atas sebuah kapal, lalu menyaksikan banyak penumpangnya yang tiba-tiba memboyong skoci yang sudah mereka siapkan diam-diam lalu melipir keluar kapal, tidakkah kamu akan mengira bahwa akan ada bahaya di depan sana, atau jangan-jangan kapal yang kalian tumpangi itu akan memilih untuk menenggelamkan diri? Apa pula yang membuat kamu tetap ikut terombang-ambing dalam kapal? Makan tuh loyalitas! 

Selain ngilu di hati, gelisah di kepala pun mana mungkin bisa dihindari kalau segitu banyak kepergian mesti dihadapi.

Dan ini bukan satu-dua kali saya merasakannya, di kantor-kantor sebelumnya, kepergian massal-yang-walaupun-satu-persatu-dan-diam-diam ini juga pernah terjadi. Bahkan saya pernah menjadi salah satu pesertanya.

Seharusnya saya terbiasa, tapi nyatanya tetap tak mudah.

Saya percaya, bagi sebuah kapal, ada yang lebih menyedihkan daripada ditinggal awak, yaitu ketika nahkodanya membiarkan kapal lama-lama berada di atas perairan tak berombak, dan malah mengajak para awaknya meniup-meniup segala layar sekuat tenaga alih-alih belajar mengendalikan angin yang belakangan ini tak bisa diajak main.

Barangkali saya bukan awak baik untuk kapal-kapal manapun yang setia pada nahkoda, tapi kan saya tetap ingin mengarungi samudera betapapun samudera tak cukup dimasukkan ke dalam karung di peta saya sendiri

Tiap keadaan seperti ini terjadi, saya selalu bertanya pada diri:

Bukankah kita bisa bergerak mencari ombak agar kita bisa berlayar lebih jauh, walaupun itu mengharuskan kita berpindah kapal atau berenang sendiri, daripada sekedar diam asal selamat?


:):


Jalan Panjang semakin lapang
Hanya dahan kering yang terpanggang
Tak ada teman telah terpencar
Namun waktu terus berputar
Peduli apa terjadi
Terus berlari tak terhenti
Untuk raih harapan