kartu pos
Tampilkan postingan dengan label kartu pos. Tampilkan semua postingan

09 Mei 2021

Truk Lebaran di Antara Lapang-Sempitnya Jalan


Lebaran ini gue kepikiran untuk bikin project iseng-iseng berhadiah. Gue seneng banget bisa melakukan ini. Jadi keinget masa-masa gue aktif berkirim kartu pos. 

Ya, jadi gue menyiapkan hampers untuk temen-temen deket gue di tim kantor. Awalnya cuma kepikiran untuk kirim kue buatan nyokap aja. Tapi, kok, gue ngerasa kurang personal. Gue pengin nambahin sesuatu yang bener-bener buatan gue. Dari gue untuk mereka. 

26 Februari 2016

(Cerpen) Kartu Pos dari Seberang



Ini hari ketiga Yusuf ke rumah bertembok kuning berpagar kayu yang berhadapan dengan kavling dengan bangunan rumah yang sudah hancur setengah. Ia tetap tak mendapatkan seseorang pun yang keluar pintu dan membalas sapaannya

“Permisi! Pos!” sahut Yusuf

Sudah delapan setengah kali ia menyapa. Yang terakhir tak selesai karena ia dikagetkan sebuah mangga menimpa kepalanya, jatuh dari pohon yang rantingnya melintang di atas pagar

Di hari pertama kunjungan, Yusuf bingung bukan main. Alamat yang dituliskan tak hanya sulit dibaca, tetapi juga tak menampilkan nomor rumah. Nama gang pun baru Yusuf bisa baca setelah minta petunjuk istrinya, dua temannya, dan satu penjaga tempat fotokopi. Selebihnya, pengirim menyebutkan patokan rumah. “Depan rumah kosong, yang ada pohon mangga.” Untuk kiriman satu itu, Yusuf juga menjadi detektif pos

Kartu pos ia masukkan ke saku kemeja. Mangga tadi ia masukkan ke tas

Andai saja Yusuf tidak membaca isi pesan pada kartu pos itu, ia tak akan berusaha sekeras ini mengantar. Tapi Yusuf sudah terlanjur membaca surat telanjang itu, dan membuat Yusuf membayangkan kalau dirinya adalah si penerima pesan manis itu. Bahkan, Yusuf sampai punya ide untuk mengganti nama pengirim dengan nama istrinya, lalu mengalamatkan ke dirinya sendiri. Ia kirim lewat kantor pos lain yang agak jauh dari tempat kerjanya

Pak Gun, penjaga fotokopi tempat Yusuf menanyakan alamat di hari kedua, yang mendapati Yusuf begitu melempar pecinya. “Senyum sendirian aja, lu, Suf. Ajak peci gue, tuh. Kasian dari tadi dia bengong mulu.” Yusuf cengegesan

Di hari kelima Yusuf baru bisa balik ke alamat itu. Di ujung gang Yusuf berhenti, tak seperti biasa kali itu portal mengadang. Yusuf melihat, di rumah tujuannya ramai orang, sampai-sampai ada tenda dan banyak kursi

Di tepi portal ada janur kuning melintang. Yusuf membaca nama yang tertulis di situ. Satu nama persis dengan nama yang ada di kolom alamat kartu pos itu. Yusuf tersenyum

Sementara satu nama lagi, ternyata tak sama seperti nama pengirim kartu, tidak seperi yang Yusuf bayangkan. “Astaga naga,” Yusuf mengelus dadanya

(ilustrasi oleh: Made Wiryawan)
----
Pertama kali ditulis pada 15 Januari 2016 untuk program #30haribercerita

12 April 2015

KARTU UCAPAN (cerpen dari serial Lupus: Sendal Jepit karangan Hilman)



MENJELANG Hari Valentine Gusur punya kesibukan baru. Setiap hari, sepulang sekolah dia selalu bikin sajak cinta. Kadang-kadang sampe larut malam. Sambil nongkrong di gardu ronda di depan gangnya, sambil menatap sinar bulan, dan sambil sesekali mencomot kue pancong bekal dari engkongnya, lahirlah berbiji-biji sajak cintanya. 

Besoknya Gusur mulai memasarkannya ke teman-teman di sekolah. 

Teman-teman banyak yang bingung. 

“Ini apa, Sur?” tanya Gito. 

“Ini sajak, Gito. Belilah. Murah meriah, kok. Lagi pula ini paten sajakku. Sajak cinta yang pantas kauberikan buat pacarmu di Hari Valentine ini.” 

Gusur memang jagoan berpromosi. Engkongnya dulu kan mantan penjual obat. Buktinya Gito termakan rayuan Gusur. Dan dengan khilaf lalu membeli sajak Gusur. 

Gusur kesenangan sampe rumah. Kemudian bikin sajak lagi. Sampe larut malam. Sampe engkongnya khawatir Gusur sakit. Kalo sakit kasian anak ini. dokter-dokter pada menolak untuk merawatnya. 

Waktu dibawa ke dokter umum, ada dokter umum yang segitu marahnya sama engkongnya Gusur. 

“Bapak menghina saya ya, saya kan bukan dokter hewan!” 

Tragisnya waktu dibawa ke dokter hewan, para dokter hewan pun minta maaf. 

“Wah, maaf sekali, Pak. Bukannya saya menolak. Tapi saya belum pernah menangani dinosaurus.” 

Akhirnya Gusur diobati dengan ramu-ramuan tradisional oleh engkongnya sendiri. Untung sembuh. 

Tapi kalo sakit lagi gimana? Itu makanya engkongnya Gusur ketakutan setengah mati, lalu membujuk-bujuk Gusur supaya lekas tidur. Tapi Gusur menolak dengan alasan demi kemajuan karier. Begitu juga di sekolah. Waktu Lupus secara basa-basi menasihati Gusur agar jangan tidur terlalu malam, eh, Lupus malah diajak kerja sama. 

“Pokoknya asyiklah, Pus, kita bakal mengeruk untung besar. Aku melihat prospek cerah dari usaha ini,” bujuk Gusur segitu semangatnya. 

Lupus cuma diam. Dan bagi Gusur diam berarti setuju. Gusur langsung menyusun pembagian kerja. 

“Aku bertugas bikin sajak, dan kamu ilustrasinya ya, Pus.” 

Lupus manggut-manggut. 

Gusur ternyata punya selera dagang yang lumayan. Kalo lagi kepepet, dia suka jual-jual barang. Tapi kali ini Gusur punya rencana membuat kartu Valentine. Makanya dia ngajak kerja sama Lupus. Soalnya udah berapa lama ini lupus lagi getol-getolnya belajar ngegambar. Eh, nggak dikira bakat gambar lupus lumayan juga. Gambarnya bagus-bagus. Terutama dalam hal menggambar yang rumit-rumit. Misalnya, benang kusut. 

Apa salahnya kalo bakat gambar itu dimanfaatkan oleh Gusur. Apalagi setelah tau maksudnya, Lupus juga kelihatan senang. Wah, pasti bakalan klop deh. Soalnya sajak Gusur butut banget. Jangan ada orang yang ngerti. Abis suka ngaco-ngaco gitu. Sementara cara gambar lupus juga suka seenaknya. Pokoknya lumayan jelek deh. 

Jadilah mereka bekerja sama.

22 Januari 2015

Target Yang Melampaui Hasil

Lernen hat nicht immer ein Ziel, Aber immer ein Ergebnis
Ini adalah kartu pos yang dikirimkan Fertina. Saya terima minggu lalu. Munchner Volkschochschule adalah nama tempat Fertina kursus bahasa di Munchen sana.

Intinya, pepatah itu bilang kalau belajar itu bukan soal target, melainkan hasil.

Sesaat setelah menerima kartu pos ini saya kirim pesan ke Fertina, "quote di kartu posnya menohok!"

Kenapa menohok?

Ya karena bikin saya tersindir. Dalam proses belajar yang saya sedang jalani ini, saya belum menghasilkan sesuatu yang berarti. Paper tugas pun akhirnya cuma jadi tugas, saya nggak membuatnya jadi layak untuk dipublis. Masa iya, akhirnya, nanti, hasil kuliah yang saya bangga untuk dipublis hanyalah foto wisudaan? nggak mau!

Mari kita lihat. Akankah, mulai sekarang seorang Rizki akan jadi giat?

"SEMANGAT!"


30 Juni 2014

#pencermat Kartu Poster dan Ulang Tahun Ke-26



29 April 2011 adalah Kamis, saat saya untuk pertama dan terakhir kalinya datang ke kampus memakai setelan jas. Saya sidang skripsi! Di hari setelah hari ulangtahun saya yang ke-24 itu, saya mendapatkan hadiah yang bukan main berkesannya: kelulusan sidang skripsi yang begitu juga membawa saya ke kelulusan kuliah S1. Nilai skripsinya? aduh, saya nggak mau menyebutnya. Pokoknya saya seneng banget deh. Pokoknya lagi, karena saya sepenuh hati mengerjakan skripsi, saya merasa bahwa skripsi adalah hadiah yang saya dapatkan dari diri saya sendiri. Semacam persembahan untuk hidup saya sendiri. 

Bukan saya yang membuat jadwal skripsi itu menjadi dekat dengan ulangtahun saya. Semua diatur Jurusan. Hanya kebetulan saja. Tapi, karena kebetulan itu saya jadi bertekad setiap saya ulangtahun, saya ingin menghadiahi diri saya sendiri. Asumsinya begini, 'saya' adalah subjek sekaligus objek (the 'i' and the 'me'). Saya menjalani hidup ini, saya juga yang menikmatinya. Jadi, yang paling pantas untuk memberi selamat, syukur, doa, dan hadiah atas perayaan hidup saya ya saya sendiri.   

Ya intinya, setiap ulang tahun saya ingin bikin seneng hidup saya ini dengan sesuatu yang saya bikin sendiri. 

Nah, di tahun ini, saya membuat Kartu Poster. Dari kata majemuk itu, ada tiga kata tunggal: kartu, pos, dan poster. Ya, dalam satu bentuk, tiga hal itulah yang saya buat. Sebenarnya karya ini saya pilih karena ada terlalu banyak ide yang berseliweran minta diwujudkan. Pertama, saya ingin membuat kartu pos agar bisa dikirimkan dan menjadi kenang-kenangan untuk teman-teman. Apalagi beberapa bulan ini saya sudah jarang sekali berkirim kartu pos. Kedua, saya juga kepikiran untuk membuat serial foto lalu diterbitkan. Ketiga, sebulan ke belakang saya sedang sering-sering dirubung hasrat untuk membuat zine/newsletter personal yang isinya gagasan, cerita, atau karya saya.

Sulit sekali memilih ide mana yang mau diwujudkan. Untungnya Tuhan baik. Dia kasih saya bisik. Katanya, "bikin aja semua dalam satu bentuk". Taraa!! Hasilnya, ketiga ide dasar tersebut saya buat dalam satu platform. Jadilah Kartu Poster ini. Sebuah kartu pos yang sekaligus bisa menjadi poster bergambar foto-foto saya dan dibaliknya saya imbuhi satu artikel yang merangkum cita-rasa saya selama setahun kebelakang menjalani usia ke-25. Kartu pos ada, foto ada, newsletter pun ada. Alhamdulillah. 

Kartu Poster ini tentu saya beri tema tapi saya biarkan samar saja. Biar teman-teman yang merasakan dan menebak sendiri makna utuhnya.

Bagian pertama yang saya susun adalah artikel di bagian belakang poster. Tulisan itu merupakan sebuah pengejawantahan asa, rasa, pengalaman serta pembelajaran yang saya dapat selama setahun ke belakang menjalani usia ke-25, sebuah fase yang mempertemukan saya setumpuk padat realita hidup yang cukup mencekam dan satir. Banyak yang menyebut masa-masa tersebut adalah masanya quarter life crisis. (saya akan publish tulisannya di posting berikutnya). 

Soal foto, saya kemudian mengumpulkan foto-foto saya yang kira-kira bernuansa sama dengan isi tulisan di bagian belakang. Kalau dirasa-rasanya sih nuansanya gloomy semua. Hehe. Tapi ya memang begitulah yang sekiranya sesuai dengan yang saya rasakan. Kesemuanya adalah foto lama, bukan foto baru. Bukan pula foto yang saya buat khusus untuk Kartu Poster ini. Lantas soal kartu pos, saya imbuhkan kertas Coronado, kertas favorit saya seukuran kartu pos di bagian poster fotonya. Kertas yang aslinya berukuran A3 itu kemudian dilipat mengikuti bentuk kartu pos yang ada di tengah sehingga menjadi seukuran kartu pos tersebut.  

Karya sudah siap. Dan pasti, saya nggak mau menikmatinya sendiri. "Happiness is real only when shared" begitu kalau kata pepatah. Maka dari pada itulah, saya membuat Kartu Poster ini tak hanya satu, melainkan banyak. Lalu saya kirim-kirimkan ke teman-teman. Pertama, teman-teman yang punya peranan penting dalam hidup saya selama setahun ke belakang--termasuk pacar tentunya. Kedua, teman-teman Card to Post. Ketiga, teman-teman di Instagram, saya sengaja ngupload penawaran. Siapa yang mau akan saya kirimi. 








Ada empat varian gambar Kartu Poster yang saya buat. Jadi, kartu poster ini kalau pertama kali kita terima dalam ukuran kartu pos. Tapi setelah dibuka akan menjadi poster.


Saya menggunaka dua jenis kertas. Kertas HVS untuk bagian posternya. Kertas Coronado di bagian kartu posnya. Saya sengaja memilih kertas bertekstur seperti coronado biar saat dipegang, kita akan merasakan kontur serta tekstur berbeda. Semacam memberikan interaksi lewat kartu pos itu. 

Alhamdulillah, dari 15 kartu poster yang saya kirim, hampir kesemuanya sampai dengan selamat. Ada beberapa yang belum mengabari sih. Tapi ya semoga saja semuanya bener-bener menerima.

Sebagai arsip, saya juga akan menampilkan kesan-kesan para penerima kartu poster ini. Nggak bermaksud riya, sombong, atau membanding-bandingkan. Sungguh. Semoga bisa dinikmati yah:













---
Harusnya tulisan ini dipublis nggak jauh setelah 28 April. Tapi berhubung kemarin lalu saya kerap dirubung rasa malas akhirnya baru sempat saya ceritakan sekarang. Untung ada program #Pencermat jadi saya mau memaksa diri untuk menulis.
---
Sedikit cerita tentang #Pencermat. Ini adalah program yang digagas demi mengembalikan semangat menulis di blog lagi. Karena berbagai alasan super klise imbas keseharian, saya, LodraAndraTito dan Dimas punya keresahan yang sama: kami jadi jarang nulis dan merasa butuh kembali rutin menulis. Alasannya beragam: biar nggak tumpul, agar bisa 'hidup', memenuhi hasrat berbagi dan tentunya, mengalahkan rasa malas.

Satu kali dalam seminggu, kami berkomitmen untuk menulis dan memublisnya di blog masing-masing. Jika ada yang telat atau absen menulis, maka ia wajib mentraktir kami makan. Hehe. Karena kami memilih Jumat sebagai hari terbitnya tulisan, maka program ini pun kami beri nama Pencermat, yang merupakan kependekan dari pencerita Jumat.

Posting ini adalah tulisan keempat. Dan saya sudah telat publis tulisan dua kali. Haha. #pengakuan


23 Agustus 2013

Memikirkan Pikiran


Setelah saya sadari, saya adalah tipe orang pemikir. Bukan pemikir macam filsuf begitu sih. Saya sering banget memikirkan sesuatu secara mendalam dan saya sendiri nggak nyadar kenapa bisa-bisanya saya mikir sejauh itu. Misalnya saja, ketika melihat iklan bergambar Nadia Hutagalung di billboard, yang saya pikirkan bukan lagi sosok Nadia Hutagalung yang cakep banget itu. Tetapi mikirin gimana perlakukan suaminya ke dia, apakah si Nadia nyaman kalau kecantikannya itu dikonsumsi massa. Lalu biasanya wanita cantik itu senang dipuja tapi mengapa ogah kalau digoda? Soalnya, udah pasti kan semua cowok suka wanita cantik. Terus apakah wanita cantik seperti Nadia Hutagalung itu merasa dirinya cantik. Pokoknya panjang deh, dan pikiran itu timbul begitu saja ketika saya sedang naik motor. 

Tapi itu cuma contoh kecilnya saja. Saya juga mikirin kira-kira berapa kali bulak-balikkah angkutan umum dalam sehari, mikirin apa alasan orang memilih baju yang dipakainya, mikirin sifat-sifat orang yang saya temui, mikirin nanti beli rumah yang seperti apa, di mana, barang apa dulu yang akan dibeli dan gimana cara bayarnya, ketika memikirkan apa yang akan saya lakukan saya juga memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi dan bagaimana saya harus menghadapinya. 

Nah, dari sekian banyak pikiran yang ada itu ada satu yang kadang cukup mengganggu saya, yaitu memikirkan pikiran orang lain tentang saya. Jadi, ketika saya akan melakukan sesuatu terutama sesuatu yang besar) saya akan coba mikirin kira-kira apa yang bakal orang-orang pikirin tentang saya kalau melakukan sesuatu itu. Ribet kan?! Misalnya gini, ketika saya membuat tulisan (termasuk tulisan ini pastinya) saya memikirkan bagaimanakah kira-kira reaksi orang-orang.

Contoh besarnya adalah kemarin, ketika ingin memutuskan ingin kuliah lagi. Salah satu pertimbangan saya adalah bagaimanakah reaksi/komentar orang-orang kalau tahu saya kuliah lagi. Saya mikirin gimana pikiran teman saya yang intelek tapi nggak kuliah, teman saya yang berpikir kuliah tidak penting, dan teman saya yang ingin kuliah lagi tapi terbentur urusan dana. Saya nggak mau orang salah kira dengan maksud saya berkuliah. Saya menceritakan ini ke pacar saya dan ia memarahi saya. Haha.

Nah, sesiapa saja yang pikiriannya saya pikirkan juga adalah mereka yang sering ngomentarin, ngegosip atau mencela orang. Tentunya orang-orang itu punya karakter pikiran yang berbeda. Tambah runyamlah persoalan.

Gambar di atas itu adalah sebuah karya dari Nisrinah yang dikirimkan kepada saya. Nisrinah adalah kawan baru yang saya kenal lewat kartu pos. Kami tak pernah berinteraksi sebelumnya, hanya saja secara  kebetulan, quote yang disebut Nisrinah di karyanya itu begitu pas bagi saya. Mungkin Nisrinah pernah atau sedang mengalami hal yang sama

"When you start to think about what everybody think about you, you'll start losing yourself"
Sebenarnya pikiran-pikiran itu adalah wajar adanya, asal kita tak begitu saja hanyut dan meladeninya. Kalau itu sudah terjadi, saya jadi bingung mau gimana dan nggak jarang jadinya malah nggak ngapa-ngapain. Haha. Nah, saat kita sedang berkarya, menulis, menggambar atau apa pun tapi kita terlalu memikirkan respon orang-orang, maka yang terjadi adalah seperti yang disebut Nisrinah, kita bakal kehilangan karakter diri kita dan berkarya hanya untuk mengikuti selera atau pikiran orang-orang. Sungguh tidak enaklah situasi seperti itu.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mewawancara Dwika Putra, seorang musisi yang populer di jagad dunia maya. Ia banyak sekali berkarya, pun bidangnya beragam. selain bermusik, dia juga sering stand up comedian, menulis buku, memotret dan bekerja harian. Dwika bercerita bahwa ia juga sempat mengalami krisis kepercayaan diri dan terpengaruh sama keraguan teman-temannya saat akan merilis album pertamanya. Dwika butuh lima bulan setelah materinya siap untuk rekaman karena ia harus menyakinkan dirinya dulu. Lalu, apakah yang akhirnya membuat Dwika kemudian mantap melakukannya?

do something to express. not to impress

Begitu katanya.

--------------------------


Sekedar cerita, ini adalah paket kirimannya Nisrina lainya. :D Keren yah?!

10 Januari 2013

Hari ke-9: Po Box yang Sepi dan Kartu Pos Tahun Baru


i send therefore i receive

Begitulah Postcrossing.com memberikan motto untuk gerakan berkirim/bertukar kartu pos yang diusungnya. Kalimatnya sangat simpel, tapi tepat sasaran. Pasalnya, ketika mendengar kegiatan berkirim kartu pos, nyaris seluruh orang bakal meresponnya dengan ungkapan yang sama: “Mau dong dikirimin kartu pos”. Kita memang curang, ingin dikirimi tanpa mengirim terlebih dahulu. 

Tim Postcrossing.com pasti sadar, kalau pola pikir seperti itu adalah salah satu kendala nggak suksesnya proses bertukar kartu pos. Pasti sering kejadian, seseorang yang sudah menerima kartu pos enggan mengirim balik.  Untuk itulah, mereka membangun sebuah sistem yang menjanjikan alamat anggota yang sudah mengirimkan kartu pos akan diberikan ke orang yang berniat untuk mengirim.  

Ya, menerima kartu pos itu menyenangkan. Kita nggak butuh usaha banyak untuk merasakan kesenangannya. 

30 April 2012

kunci jawaban Kartu Pos Teka-Teki


Minggu lalu saya mengirim 13 kartu pos yang isinya teka-teki silang. Bhaha. Sadar karena isi pertanyaan dan jawabannya nggak melulu relevan dan masuk akal, maka saya menyediakan kunci jawabannya. Toh memang saya nggak mengharapkan kalian bisa menjawab semuanya sendiri. Esensi yang saya maksud dari kartu pos teka-teki ini adalah diperuntukkan untuk hiburan dan sapaan. Syukur-syukur sih bisa meninggalkan kesan positif. Yihaa..

 Ini semua adalah karena saya sayang kalian semua dan nggak mau membiarkan kalian bertanya-tanya pada rumput yang bergoyang dan atau membiarkan waktu yang menjawab. Waktu tidak bisa mengisi TTS, ia hanya bisa mengisi detik demi detik dalam putaran jam.

© blogrr
Maira Gall