Wednesday, June 22

Layang-layang

Di depanku entah ada apa
mataku nyangkut di meja. 

Pikiranku bersayap.
Mulutku bernyanyi, telingaku tak mendengarnya. 

Dan masih saja ada yang iseng bertanya, "Jika yang menangis adalah hati, apakah air yang dikeluarkannya tetap disebut air mata?"

Dua sendok Yogyakarta dua sendok Banda Neira
diaduk pada air Jakarta: porak poranda.

Gelas yang penuh kekosongan itu kuangkat.

Bersulang,
kita ambruk. 

Penonton berdiri dan bertepuk dada. 


Saturday, June 11

Penemuan Penting


Karena kelewat sering membuka URL itu, tiap kali berusaha membuka Twitter, maka address bar di peramban laptop ini akan mengantar saya pada akun yang menempel satu twit di "pintunya". Katanya:
"Not all who wander are lost." 
Terjemahan bebasnya, mereka yang pergi belum tentu hilang.

Semester pertama 2016 masih menjadi masa kehilangan bagi saya ternyata. Membuat saya jadi terbiasa menganggap segala sesuatu yang sudah nggak pada tempat seharusnya, pasti lenyap.

Kartu ATM saya nggak ada di dompet. Saya anggap hilang. Lalu, ketika ingin mengurus penggantiannya ke Bank, syarat terpenting kedua setelah KTP, yaitu buku tabungan, nggak ada di laci tempat saya biasa menaruh seluruh buku bank. Oke, sepasang kakak-adik perbankan itu hilang.

Ketika flash disk biru saya nggak ada di saku tas saat saya membutuhkannya, saya udah punya firasat kalau benda kesayangan saya itu akan hilang. Saya mencoba mencari dengan kepasrahan, di saku jaket nggak ada, di percetakan yang terakhir saya kunjungi pun ternyata nggak tertinggal. Ya sudah, saya nyatakan hilang.

Kalian pasti tahu bahwa wireless mouse itu seperti laut tanpa garam jika kehilangan konektornya. celakanya, benda superkecil itu nggak menempel di laptop sebagaimana biasanya. Saya mencoba mencari ke tiap selipan di kamar, nggak ketemu. Baiklah, saya harus beli mouse baru.

Saya juga punya--duh yang satu ini agak bikin baper bin sebel--dua buku yang belum sempat saya baca tuntas tapi saya nggak bisa menemukannya lagi di mana-mana.  Dia nggak menampakkan diri barang sehuruf pun di rak buku ruang tengah, rak buku kamar, di tas-tas yang biasa pakai, maupun di meja kantor. Ahhh, harus banget kehilangan lagi nih?, pikir saya. Fine!. 

Dan kita sama-sama tahu, tak seperti di jagad digital, kita tak bisa menggunakan mesin pencarian untuk menemukan barang-barang yang hilang di dunia nyata ini.


Bertahun-tahun sekolah, kita hanya diajarkan untuk fasih menghapal dan mengingat. Sementara untuk melupakan, adakah gurunya? Karena itu, saya perlu membiasakan diri untuk enteng terhadap kehilangan, dimulai dari kehilangan-kehilangan kecil itu.

Nyatanya, nasib berkata lain. Tuhan memang iseng. Satu per satu benda yang saya anggap sudah minggat pergi angkat kaki dari kehidupan saya yang fana ini malah menampakkan diri.

Flash disk biru saya ditemukan, nyelip di saku jaket lainnya. Konektor mouse saya ternyata ada di meja ruang tengah, tertimbun taplak dan benda-benda lainnya. Entah siapa yang bikin dia ada di situ. Lalu, kedua buku saya juga, buku pertama ternyata nyempil dijepit dua buku di bagian bawah rak, buku kedua ditemukan ada di meja kerja teman saya, tertutup kertas-kertas. Kayaknya saya pernah bawa-bawa buku itu ke sana saat baca, lalu meninggalkannya.  O ya, buku tabungan dan ATM pun akhirnya tetap bisa digantikan yang baru oleh bank dengan mudah

Betapa oh betapa. Kehilangan-kehilangan itu, ketika saya sudah siap menerima, saya malah menemukannya.

:)


Friday, June 3

Setiap Malam


Kita saling menjadi 

abcdefghijklmnopqrstuvwxy

yang mengantar sampai

Zzz....

Setiap malam, 

setiap hari.