Wednesday, January 30

Hari ke-25: Mengulang-ulang ulang tahun


Sebelum cerita dimulai, saya mau kasih tahu, kalau kelakuan saya ini memang nggak salah sih kalau disebut iseng, mendekati norak dan sedikit loser banget. Hehehe. Tapi nggak apa-apalah, untuk kenang-kenangan, kisah ini perlu didokumentasikan. Toh sebenarnya, kelakuan saya ini sekaligus dilakukan untuk penelitian. *pembenaran* hahaha.... 

Berulangtahun itu menyenangkan, itulah mengapa pada 2011 lalu, saya sampai berulang tahun dua kali. Kok bisa? Ya bisa, kesenangan ulangtahun itu ternyata nggak cuma bisa dirasakan setahun sekali, melainkan bisa setiap hari, bahkan. Caranya, ya ubah saja tanggal lahir di biodata Facebook. Serta merta, orang kita akan dianggap sedang berulangtahun. Hehehe… 

Awalnya saya memang iseng, saya ingin ngetes apakah sebenarnya teman-teman saya itu tahu persis kapan tanggal lahir saya. Hahaha. Saat itu, saya mengubah tanggal lahir ke tanggal yang nggak jauh dari hari itu. Misalnya saat ini tanggal 29 Oktober, maka saya menset ulangtahun saya di tanggal 31 Oktober. Dan tarra!! apa yang terjadi, Wall di facebook saya penuh dengan ucapan selamat dari teman-teman. Terbukti, nggak banyak yang tahu kalau sebenarnya saya lahir di bulan April. 

Monday, January 28

Hari ke-24: 69 Terkutuk


Kemacetan memang sudah pasti membosankan dan menyebalkan. Tapi, lalulintas macet hari ini berbeda, sudah mendekati brengsek dan bedebah, setidaknya bagi saya. Saya yang di sudah menghabiskan waktu dua jam di pagi hari, dua jam di malam hari ditambah bonus naik Metromini yang menipu, mereka nggak ‘narik’ sampe tujuan akhir, bahkan belum ada setengah perjalanan, sang kondektur sudah mengumumkan kalau trayek sudah ‘habis’. Saya dan penumpang lain harus turun. 
               Jadi begini ceritanya, saya naik bis Metromini 69 jurusan Blok M – Ciledug dari terminal Blok M. saat di terminal memang saya mendengar kalau si kenek kerap menyebut-sebut Seskoal—daerah yang nggak  kebayoran lama. Seskoal adalah titik yang memang dilewati rute bus ini. Tanpa menghiraukannya saya pun naik, dan duduk manis di belakang supir sambil mendengarkan lagu.

Sunday, January 27

Hari ke-23: Indie yang Tak Selalu Independen


Ada yang menarik dari term indie yang hidup di budaya kita kini, terutama di kalangan anak muda. Setahu saya—dan ternyata dibenarkan oleh penjelasan dari Wikipedia—indie adalah bentuk pendek dari independence atau independent alias kemandirian. Kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan daya sendiri, tanpa atau minim bantuan dari pihak lain. Tapi, nyatanya, sekarang istilah indie itu sudah bergeser pemaknaannya. Indie selalu merujuk kepada gerakan atau kelompok yang seolah mengandung selera seni tersendiri, bergaya eksentrik, dan pastinya tidak mainstream. Padahal, sebenarnya ada istilah yang merangkum semua ketidakbiasaan dan atau resistensi itu, yaitu alternatif.    

Kira-kira, apakah penyebabnya? 

Saturday, January 26

Hari ke-22: Antara Hujan dan Madu Rasa


Minggu lalu, Jakarta dan beberapa kota sekitarnya lagi rajin-rajinnya mandi. Tuhan ingin kota kita bisa bersih. Daki-daki berwujud plastik, botol, dan kekotoran lainnya yang tersembunyi digilas hingga menyeruak tampak.  Selayaknya mandi, kita nyaris tak mungkin melakukan aktifitas lain secara beriringan. Kita tak mungkin mengetik sambil mandi. Kita tak mungkin rapat sambil mandi. Sementara waktu terus berjalan, mobilitas keruangan kita terhenti saat mandi.

Mandi membuat kita basah, dan terlalu lama basah ternyata bisa membuat kita lembek dan lemah. Penyakit pun ikut mewabah. Bukannya ingin tak bersemangat, tapi memang menggerak-gerakkan konstruksi yang lembek bisa saja menghancurkan, malah.

Hujan pada alam juga bisa menimbulkan hujan-hujan yang lain, di antaranya adalah hujan psikologis dan hujan ingus. Hujan psikologis berawal dari permasalahan-permasalahan hidup-seperti tekanan di kantor, atau judul skripsi yang lagi-lagi ditolak-dan memori serta perasaan melankolis yang menguap dari permukaan laut kehidupan menuju langit kejiwaan. Cuaca mood jadi mendung dan tak jarang jadi kelam berpetir. Untuk kita yang punya pawang, bisa saja hanya cuaca mendung itu saja yang terjadi, rintik air yang turun dari awan mata tidak serta-merta turun. Tapi, ketika kita tak punya acara-acara yang superpenting, pawang memang tak dibutuhkan, hujan airmata memang kadang harus dibiarkan turun. 

Hari ke-21: Parade Film Pendek Dunia Maya (Putaran 1)


Walau jumlahnya banyak, tapi mungkin kita sering yang nggak menyadarinya. Di jejaring sosial berbasis video – Youtube, Vimeo, dll - kita bisa menemukan banyak film-film pendek yang menarik. Nggak hanya yang dari luar negeri saja tetapi juga yang lokal punya ada di sana. Ceritanya beragam dan nggak jarang temanya unik. 

Selama setahun ke belakang, saya cukup rajin menelususi film-film tersebut. Nah, lewat posting ini saya mau sajikan beberapa film pilihan untuk kita tonton bersama. Lumayan, untuk mengisi waktu luang yang singkat di sela-sela aktivitas. 

Matikan lampu, pasang headset, dan maksimalkan kecepatan internet!


1. TICK TOCK: Lima menit penuh sensasi 



Apa jadinya kalau kita hanya memiliki waktu lima menit untuk bertahan hidup? Menghubungi orang yang paling kita sayangi pasti jadi yang pertama kita lakukan. Begitu juga lah Emit, cowok yang nggak sengaja menelan pil morfin milik temannya. Emit pun berlari keluar menuju rumah pacarnya sambil menelpon orangtua di rumah untuk minta maaf.

Cerita dari film yang dibuat dengan kamera Canon 5D Mark ini memang sangat sederhana, tapi lewat tangan Ien Chi film ini menjadi sangat keren. Alur yang disajukan mundur, akhir cerita justru ditaruh di awal. Lalu dalam durasi 4 menit 50 detik kita tak henti-henti dibuat untuk menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi pada Emit. Apalagi backsound yang berisi repetisi intens serta bunyi detak jantung yang dipakai di film ini pasti bikin kita semakin tegang. 

Dijamin, menyimaknya sekali pasti nggak cukup. Butuh dua-tiga kali untuk kita bisa benar-benar mengetahui permasalahan yang terjadi dalam film. Seru!

Friday, January 25

Hari ke-20: Cara Baru Berkereta Api


     Hmmm... kayaknya sih, tulisan ini nggak bakal berguna untuk kalian yang mengonsumsi mobilitas Kereta Api pada intensitas tinggi. Hehehe... tapi nggak apa-apa lah, saya cuma mau share  kesan-kesan saya tentang kereta api sekarang. Soalnya saya nggak cukup sering berkereta api ke luar kota - paling, setahun hanya 1-2 kali PP - jadi tiap kali berkereta api ada saja layanannya yang berubah dan baru saya sadari. Tentunya, sejauh ini, perubahan itu membawa efek yang positif, sih, bagi saya.  Oke, saya akan ulas satu persatu informasinya. 

1. Pemesanan tiket yang lebih praktis
Jangan kira membeli tiket kereta api itu harus lewat loket di stasiun atau di biro-biro perjalanan. Sekarang tiket kereta api bisa kita dapatkan lewat beberapa medium. Untuk yang mobilitasnya tinggi atau males gerak keluar, kita bisa pesan tiket lewat telepon.  Caranya, hubungi nomor (021) 121. dan ikuti langkah-langkahnya. Nggak susah, kok, prosedrunya. Kita hanya perlu menetapkan jadwal keberangkatan dan kelas kereta api yang kita inginkan. Operator akan mencarikannya. Setelahnya, operator akan memberikan kode pembayaran dan kode penukaran tiket. Kedua kode itulah yang perlu kita simpan/catat baik-baik. 

Thursday, January 24

Hari ke-19: Pernikahan Indie dan Artsy ala Putri dan Fikrie




Kenal Putri Fitria? Ah, pasti kalian kenal. Kalau belum, sini saya kenalin. Dia adalah sohib yang pertama saya kenal pada medio 2011. Cewek penulis dan peneliti yang punya bakat besar menjadi seorang mandor. Hehehe…. Tapi ini dalam arti yang positif, lho. Putri andal banget motor penggerak, nggak Cuma bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi beberapa gerakan dan organisasi terutama yang erat kaitannya dengan seni, sesuai dengan ketertarikannya. Card to Post tercatat sebagai salah satunya. Kalau ada yang setuju kalau pergerakan Card to Post itu signifikan dan menawan, berarti kalian juga harus setuju kalau Putri Fitria lah yang punya andil besar di situ.  Pokoknya, Putri itu keren.

Lalu apa jadinya kalau cewek tangguh, bersahaja, intelek sekaligus kontemporer ini menikah? Keren dan menakjubkan pastinya. Bukti pertamanya adalah Putri yang sebelumnya sering bercerita kalau dirinya ogah terikat dalam institusi pernikahan ini merencanakan pernikahannya nggak lebih dari setengah tahun. Muammar Fikrie adalah pasangannya.  Nggak berbeda dengan gerakan –gerakan yang dimotorinya, pesta pernikahan Putri dan Fikrie sangatlah keren, otentik dan pastinya, kekinian. Hahaha…

Saya sampai bingung mau mulai bercerita dari mana. Pokoknya, pesta digelar pada 20 Januari 2013 di Rumah Seni Eloprogo yang terletak  di Magelang. Nggak jauh dari Candi Borobudur. Eloprogo memiliki lahan yang superluas dengan tata arsitektur yang artistik. Nah, pesta digelar di bagian belakang Eloprogo.  Sebuah ruang terbuka beralas hamparan rumput, beberapa pohon yang menjulang tinggi, bebatuan, ornamen-ornamen seni dan sungai besar yang berada jauh di bawah lahan lokasi pesta. Konon, sungai tersebut adalah sungai pertemuan Sungai Elo dan Sungai Progo. Filosofi pertemuan yang abadi itu juga dijadikan doa dalam pesta ini. 

Tuesday, January 22

Hari Ke-18: Jogyakarta, Jokes a Kata

Nggak panjang jalan pagi itu yang saya tapaki di Jogja, tapi, begitu banyak kata dan tanda yang menghibur saya temui. Jogja memang penuh Jokes, ya.. 
 



Monday, January 21

Hari ke-17: Membaca Kepribadian lewat Tulisan Tangan



Karena sistem syaraf di otak yang menggerakkan tangan untuk menulis dipengaruhi keadaan psikologis kita, tulisan tangan pun bisa mengungkap banyak tentang kepribadian kita.  

Tulisan adalah salah satu medium kita untuk berkomunikasi. Nah, dari situlah, ketika sudah jadi, tulisan dianggap merepresentasikan diri seseorang. Nggak heran deh, kalau saat kita ingin mengetahui (baca: stalk) seseorang, tulisan seolah jadi jendela untuk mengintip isi hatinya. Tak jarang kita menguntit tweet, membaca blognya, atau menelusuri tulisan-tulisan lainnya yang tersebar di web. Nah, menariknya, dibanding yang berbentuk digital, tulisan tangan seseroang itu ternyata bisa menjadi cara ampuhnya. Asal, kita sudah menguasai ilmu membaca tulisan tangan yang disebut dengan grafologi. 

Ilmu ini pertama kali digagas oleh seorang kebangsaan Perancis bernama Abbe J.H. Michon di tahun 1875. Ia memulai pengelompokan ciri grafis tulisan dan dihubungkan dengan sifat-sifat manusia. 

Hari ke-16: Lewati 100 Kata, Imajinasi pun Dibuka



Dalam pembuatan sebuah cerita, ternyata nggak melulu harus dimulai dengan modal ide tema, melainkan juga teknik pembuatannya. Itulah yang ditawarkan oleh buku Kumpulan Cerita 100 Kata ini. 

Seperti judulnya, buku kecil terbitan Antipasti ini, mengajak para penulis untuk bereksperimen, menuliskan satu cerita yang hanya terdiri dari 100 kata. Nggak kurang nggak lebih. Jelas, ini sangatlah menarik, apapun tema cerita, ia tetap harus menimbulkan kesan walau dalam ruang yang ringkas. Hasilnya, hampir seluruh cerita langsung menampilkan premisnya saja, tanpa basa-basi, langsung menuju konflik. 

Thursday, January 17

Hari ke-15: Risky in Randomland


Selasa 15 Januari 2013 Hujan menularkan secara deras salah satu sifat utamanya ke Jakarta dan pastinya, hidup saya: penuh ketakterdugaan. Sulit disangka-sangka. Sudah sejak dini harinya, diri jadi begitu tak menentu. Awalnya saya senang hujan turun, karena udara sejuknya bisa ngelonin saya tidur nyenyak. Tapi, paginya, hujan justru melabrak saya. Mengharuskan saya bangun jauh lebih awal dan berangkat jam enam pagi, menggunakan mobil agar bisa bareng dengan kakak, adik dan ibu saya. 

Seperti yang bisa ditebak, hujan di Jakarta itu tak pernah sespesial yang dituliskan para penyair. Ada beberapa petaka yang dibawa. Kali ini adalah banjir hebat di beberapa titik. Sialnya, konsentrasi banjir kali ini berada di sekeliling Ciledug, daerah rumah saya. Seluruh jalur untuk menuju sentra Jakarta dikepung banjir. 

Monday, January 14

Hari ke-14: Secuil Liburan di Kalimantan. Episode Pontianak



Nggak banyak informasi yang saya tahu tentang kota Pontianak ini. Paling hanya sebatas Singkawang, masakan cina yang aduhai, serta Tugu Khatulistiwa yang dibangga-banggakan itu. Hingga pada Rabu, 11 November 2012 saya menginjakkan kaki di sana, setelah sebelumnya berangkat dari Banjarmasin dan terlebih dahulu transit di Jakarta. Ya, betul sekali, berpindah ke satu provinsi yang masih berada di Kalimantan mengharuskan kita nyebrang dulu ke pulau Lain. “Menarik!”

Kalau di Banjarmasin saya kecewa dengan situasi perkotaannya, di Pontianaklah saya mendapatkan bayarannya. Saya suka dengan dinamika kota ini. jauh lebih ramai dan hidup disbanding Banjarmasin. Apalagi saat itu saat tinggal di Hotel yang terletak di kawasan sentral, dekat dengan pasar, di tepi jalanan besar. Interaksi antara manusia dan kotanya sangat terasa. Pokoknya, Kota Pontianak, saat itu,  selalu menggoda untuk ditapaki sambil memotret satu dua kali. 

Wahai, Pontianak tertanggal 11 November 2012 sore hari, maafkan saya yang mencuri potongan-potongan ruang dan waktumu. 

Sunday, January 13

Hari ke-13: Ketika Kedatangan Ide Menjadi Ancaman


Hahaha … ironis, yah, biasanya ide itu selalu dinanti-nantikan kedatangannya. Apalagi, seringkali, kebutuhan akan ide itu suka mendadak. Kita ingin mendapatkan ide secara cepat. Tapi, ternyata, ada kalanya, kemunculan ide juga diiringi teman-temannya yang tak teduga: kecemasan dan kegelisahan mendadak nan berkepanjangan. Belum lagi kalau ide  nggak datang satu doang, tapi bergerombol dengan jenisnya yang beragam. Pasukan ide itu siap menyerang otak dan jiwa. 

“Gue, tuh, sampe suka takut tau nggak, tiap kali punya ide baru.” Seorang teman, co-founder dari sebuah instusi kreatif, mengatakan itu pada saya di sebuah obrolan.  

Kunjungan ide menjadi sebuah petaka. Kok bisa? 

hari ke-12: Kekuatan Pak Pos

Halo Pak Pos,
kali ini kekuatanmu akan diuji.

 Pada selembar kartu pos, 
kutitipkan rindu yang begitu besar. 

Semoga tidak keberatan.


:)

Saturday, January 12

Hari ke11: Sebuah Kafe dan Tujuh Romansa Birunya



Saya belum tahu bagaimana awalnya, tapi di antara minuman keseharian lainnya, kopi seperti punya posisi tersendiri dalam budaya kita. Nilainya seolah ditinggikan. Coba pikir saja, kayaknya nggak banyak ragam minuman yang secara spesifisik dikedepankan nilainya seperti kopi. Bahkan saking bersahabatnya kita dengan kopi beserta nilai dan filosofinya, akhirnya banyak dibangun kedai-kedai kopi yang besar. Istilah yang digunakan adalah kafé. Walau menu makanan dan minuman juga disajikan pada daftar menu, namun nilai dan filosofi kopi lah yang dijadikan tema besarnya. Setelah itu pun, kafé tumbuh berkembang menciptakan nilai-nilai serta tradisi baru. 
Lalu, kenapa tiba-tiba saya membahas kopi dan kafe?  

Friday, January 11

Hari ke-10: Secuil Liburan di Kalimantan. Episode Banrjarmasin




Kalender saya bulan November 2012 kemaren cukup penuh dengan catatan-catatan yang menyenangkan. Sejumlah momen penting dan seru terjadi di sana. Selain bisa ikut merayakan ulangtahun pacar dan  ulangtahun Card to Post, saat itu saya juga mendapatkan hadiah besar, yaitu kesempatan untuk menapaki pulau Kalimantan. Walau tujuan utamanya adalah urusan liputan, tapi bukan berarti saya nggak bisa meluangkan waktu untuk berkeliling, berkenalan dengan Pulau Borneo itu, kan. 

Karena saya adalah pembaca baru novel serial Supernova, maka ketika akan tiba di Kalimantan yang saya ingat adalah tokoh Zarah di novel Partikel dan petualangan spontannya bertahun-tahun di hutan Kalimantan. Jadi, saya seolah dirasuki Zarah. Selalu ingin mencari petualangan – walau pun kecil – menjelajah Kalimantan. 

Thursday, January 10

Hari ke-9: Po Box yang Sepi dan Kartu Pos Tahun Baru


i send therefore i receive

Begitulah Postcrossing.com memberikan motto untuk gerakan berkirim/bertukar kartu pos yang diusungnya. Kalimatnya sangat simpel, tapi tepat sasaran. Pasalnya, ketika mendengar kegiatan berkirim kartu pos, nyaris seluruh orang bakal meresponnya dengan ungkapan yang sama: “Mau dong dikirimin kartu pos”. Kita memang curang, ingin dikirimi tanpa mengirim terlebih dahulu. 

Tim Postcrossing.com pasti sadar, kalau pola pikir seperti itu adalah salah satu kendala nggak suksesnya proses bertukar kartu pos. Pasti sering kejadian, seseorang yang sudah menerima kartu pos enggan mengirim balik.  Untuk itulah, mereka membangun sebuah sistem yang menjanjikan alamat anggota yang sudah mengirimkan kartu pos akan diberikan ke orang yang berniat untuk mengirim.  

Ya, menerima kartu pos itu menyenangkan. Kita nggak butuh usaha banyak untuk merasakan kesenangannya. 

Tuesday, January 8

Hari Ke-8: The Red: The Raid versi Komedi



Mendengar judul film The Raid, pasti yang kebayang adalah adegan-adegan action yang keras dan sadis. Nggak heran deh kalau ada dari kita yang lebih milih nggak nonton karena ketakutan. Eits, jangan buru-buru urung untuk nonton, karena sekarang ada juga The Raid yang anti adegan sadis, bahkan The Raid yang ini bisa bikin ketawa terpingkal-pingal. 

Ya, di awal bulan Juni lalu, situs Youtube kedatangan sebuah film yang mengejutkan.Film dengan judul The Red itu dengan gamblang menyebutkan kalau film itu merupakan versi parodi dari The Raid.

Sekilas, nuansa dan adegannya memang mirip banget sama film The Raid, tapi ada banyak hal janggal dan konyol yang terjadi. Contohnya aja, rombongan polisi yang menggunakan angkutan umum untuk menuju TKP (Tempat Kejadian Perkara), dan pisang yang digunakan sebagai senjata. Pokoknya, untuk yang udah nonton The Raid, film ini bakal jadi penuh kejutan-kejutan konyol. 

Penasaran siapa yang ada dibalik proyek film ini? jangan kaget yah, mereka yang menggarap adalah teman-teman kita dari SMAN 29, Jakarta Selatan. Inspirasi untuk membuat film ini muncul selepas 20 cowok dari satu angkatan menonton The Raid bersama demi menyegarkan diri sebelum Ujian Akhir Nasional dimulai.  

 Disutradarai oleh Ratta Bill Abaggi, film ini dibuat lebih ringkas dari The Raid, yaitu hanya 49 menit. Hebatnya lagi, film yang dibuat sebagai proyek hiburan setelah menghadapi ujian nasional ini dibuat tanpa ada pengalaman bikin film sebelumnya. 

Beruntung, saya pun berkesempatan untuk kenal dengan Ratta. Nah, sambil menyimak filmnya, simak hasil obrolan saya dengan Ratta Bill tentang penggarapan film pertamanya yang melibatkan 30 orang ini. 

Hari ke-7: Antara Buddy Holly dan Google Doodle



Besok saya bakal menyaksikan konser band idola saya, Weezer. Hal itu membuat saya beberapa hari ke belakang ini memutar terus lagu-lagunya. Nah, entah gimana proses berpikirnya, saat mendengar lagu Buddy Holly saya jadi teringat Google Doodle. Hehehe. bisa jadi karena susunan kedua katanya itu mirip polanya. Oleh karena itulah, di posting hari ke-7 30 Hari Bercerita ini saya mau menampilkan cerita tentang Google Doodle yang saya tulis untuk majalah berinisial tiga huruf. H.A dan I. Kenapa tiba-tiba saya ingin menulis ini? bisa jadi, tak hanya karena excited besok akan nonton Weezer tetapi juga karena lagi kepikiran majalah itu. :)

Seni dan Teknologi dibalik Google Doodle 
Dari sekedar coretan iseng, hingga lukisan berkelas dan aplikasi canggih menghiasi halaman depan Google. Ini dia cerita di balik layarnya


Menelusuri informasi dan data di dunia maya dengan menggunakan search engine itu terkadang membosankan. Apalagi kalau data yang kita butuhkan susah banget dilacak. Tapi, permasalahan itu nggak terasa lagi saat kita memulai penelusurannya di Google. Saat pertama kali sampai di home page-nya saja, kita sudah dihibur dengan Google Doodle, kreasi pada logo Google yang selalu tampil beda hampir di setiap harinya. 

Monday, January 7

Hari ke-6: HAI yang Selalu Menyapa Pria untuk Merayakan Masa Mudanya


Dalam serial cerita Lupus terbitan 1995 yang berjudul Interview Duran-Duran, dikisahkan, Lupus SMA yang jadi kontributor Majalah HAI, diberi tawaran untuk hengkang ke Hongkong menyaksikan konser band idolanya, Duran Duran. Tawaran itu diberikan oleh mas Iwan, Wakil Pemred majalah Hai saat itu, karena ia tahu Lupus sudah paham betul seluk-beluk band tersebut. Maklum, majalah Hai dapet kesempatan eksklusif untuk mewawancara band yang cukup nge-hip di era 90-an itu, jadi Lupus bakal jadi garda depan majalah Hai untuk memburu cerita langsung dari para personilnya.

Sontak Lupus pun girang. Tanpa babibu, ia menerima tawaran itu. Walau mas Iwan nggak menggratiskan ongkos pesawat, Lupus nggak patah arang, bersikeras ia berusaha untuk cari tambahan uang untuk beli tiket pesawat, yang saat itu, menurut bukunya, seharga USD 600. Bantuin Maminya bikin kue bahkan sampai ikut kerja di bengkel abangnya Boim.  Tak lama, berangkatlah Lupus bersama dua orang awak Hai, Denny, wartawan Hai yang merasa minder untuk wawancara Duran Duran dan Sute sang fotografer.

Sunday, January 6

Hari ke-5: Pada Sebuah Kediaman


Diam adalah ambulans 
yang selalu dipanggil ketika kita berdua ternyata tidak bisa saling mengobati. 

Diam adalah brankas 
yang selalu diambil ketika kita berdua ternyata tidak bisa saling percaya menjaga cerita masing-masing.

Diam adalah penerjemah
Yang selalu dipakai ketika kita berdua ternyata tidak bisa saling memahami bahasa masing-masing

Diam adalah hakim 
yang selalu ditunjuk ketika kita berdua ternyata tidak bisa saling memutuskan. 

Saturday, January 5

Hari ke-4: Menyaksikan Pentas Mini Teater Boneka.



Pernah mendengar nama Papermoon Puppet? Pasti pernah. Pasalnya, nama teater boneka asal Yogykarta ini sudah santer banget terdengar. Apalagi, 17-19 Desember 2012 lalu, mereka jadi penyelenggara sebuah ajang keren, Pesta Boneka #3 di Yogyakarta. Walau cukup kesal karena saya nggak bisa berkunjung ke sana, tetapi saya beruntung, tetap berkesempatan menyaksikan pertunjukkan mini mereka.

Thursday, January 3

Hari ke-3: Meneguk Seni dan Merasakan Intimasi di Sekeliling Kopi



Meneguk Seni dan Merasakan Intimasi di Sekeliling Kopi
Semacam ulasan hasil kunjungan ke Kopi Keliling: Volume 6 

Pada suatu pagi di awal Desember lalu, saya ngobrol ngalor-ngidul dengan Dea lewat sambungan SLJJ yang difasilitasi pesawat Whatsapp. Kami membicarakan beberapa gerakan dan komunitas yang sedang berkembang saat ini. Dari sekian banyak nama yang kami sebut, Kopi Keliling adalah yang paling santer kami bahas. Saya dan Dea sangat tertarik dengan gerakan para seniman muda ini. Bahkan sudah sejak awal dimulainya, Dea ikut berkontribusi di snaa. Cukup panjang sekaligus panas obrolan kami saat itu.  Menariknya, kami nggak menyindir sedikit pun tentang gelaran Kopling Vol 6 yang pada 16 Desembernya. Walau saya yakin, Dea pun tahu banget tentang jadwal penyelenggaraannya itu.  
                            
Hingga pada Minggu, 16 Desember 2012, sore, selepas rapat di kantor, saya meluncur ke daerah Gandaria, menuju 1/15 Coffee, tempat Kopling Vol 6 digelar. Gelaran ketiga Kopling yang saya kunjungi

Wednesday, January 2

#harike2 Wahai Wanita, Simaklah Ajaran "Yuki'' Untuk Melawan Pelecehan Seksual




Ada salah satu karya yang cukup berkesan dari pameran Jakarta 32 C-nya ruangrupa  yang dihelat Oktober lalu, yaitu sebuah film pendek berjudul Yuki garapan salah satu mahasiswa Jurusan Film Binus Universtity bernama Citra Melati. 

Bagi saya, daya tarik utama film tersebut adalah karena pada sesi film karya-karya film pendek, nama kampus Binus University mendominasi, seinget saya, ada tiga dudul. Dan dua di antaranya adalah milik Citra Melati. Selain Yuki, Citra Melati juga punya  Mama, Anak Perempuanmu Bertato. Keduanya kental berisi isu tentang wanita. Kalau pada film kedua kita bisa dengan mudah menebak isi filmnya dengan melihat judul, pada Yuki  pasti kita tak punya asumsi apa-apa sebelum film dimulai.

Tuesday, January 1

Hari ke1: Hidup Itu Riskan Tapi Menyenangkan.



Hidup Itu Riskan Tapi Menyenangkan: Secuil catatan di pergantian tahun 

Waktu adalah sesuatu yang terus bergulir, tanpa pernah berhenti, itulah mengapa akhirnya manusia membuatkan satuannya. Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan dan tahun. Selain untuk menandakan perjalanan kita, satuan itu juga kita gunakan untuk mengelompokkan perjalanan waktu. Coba bayangkan, ketika satuan waktu itu tidak dibuat. Bisa jadi kita menyebutkan waktu berdasarkan situasi alam belaka. Mengukur letak matahari, pergantian warna langit atau bahkan menghitung kemunculan bulan purnama. Sungguh menyulitkan. Dan satuan tahun, menjadi salah satu satuan yang besar. Ketika waktu sudah berlalu selama 365 hari  dalam 12 bulan, kita butuh menyegarkannya, mengganti angkanya, dan mengulang lagi hitungan bulannya. Jadi, tak ayal kita, manusia modern, dibiasakan untuk merayakan pergantian tahun. Pergantian tahun adalah checkpoint. Titik untuk kita memeriksa apa-apa saja yang sudah kita lakukan di tahun yang akan ditinggalkan dan merencanakan serta bergegas untuk menghadapi kehidupan di tahun yang akan datang. 

Lalu, apa nih hasil pemeriksaan di pergantian tahunmu ini, Rizki?