Sunday, December 13

Dari Kelas Menulis Puisi Bersama Sapardi Djoko Damono


Katanya, 

Puisi, sebermulanya adalah bunyi, bukan aksara. Membuat puisi diiringi dengan membunyikannya. Puisi harus dibayangkan bisa dibunyikan atau tidak. 

Tapi puisi juga penggambaran. Penggambaran suasana barangkali maksudnya. 

Menjadi (sangat) peka dengan apapun yang terjadi adalah modal awal untuk memperkaya referensi metafora. 

Puisi untuk dihayati bukan untuk dipahami, 


-Indonesian Reading Festival, Sabtu 5 Desember 2015-



Di akhir sesi, kami diminta membuat puisi lalu peserta yang berani dipersilakan membacakannya di depan, untuk kemudian dinilai oleh Pak Sapardi. 

Wednesday, December 9

LAB dan Proses-Proses Yang Diselesaikannya




Pagi itu, sebelum menuju kantor masing-masing, kami berempat janjian bertemu di sebuah toko kertas bilangan Kebayoran Lama. Kami mau nyari kertas paling pas untuk buku foto yang kami buat: edisi spesial The Future of The Past, yaitu LAB: First Process. 

Beruntung, saat itu toko belum rame. Kami berempat masih bisa duduk persis di depan si mbak pelayan toko. (Ini penting, mengingat pelayannya cuma satu, mejanya cuma satu. Kalau nggak dapet duduk di depan mbaknya persis kemungkinan diprioritaskannya kecil). Satu persatu katalog kertas dikeluarkan si mbak. Dari yang kertas lokal, kertas fancy, sampai jenis kertas "rahasia", yang nggak ada di kedua katalog tersebut.

Kami datang sudah dengan kriteria kertas sebenarnya: kertas yang kasar (bukan licin) dan agak bertesktur.  Referensi kami: kertas bluish white, book paper, HVS, coronado, atau linen.Tapi bukan berarti itu bikin kami bisa cepet di sana.

Bukan perkara mudah ternyata untuk memilih kertas yang pas. Pilihan di katalog terlalu banyak. Tapi anehnya, itu nggak membuat kami merasa cukup: masih perlu mencoba-coba memegang, mengelus-elus dan melihat kertas-kertas kasar lainnya, andaikan ada. Ternyata, banyak variabel dalam sebuah kertas yang memengaruhi sensasi ketika meraba dan melihatnya: bentuk teksturnya--ada yang teksturnya berupa garis-garis tertata, ada yang acak; pilihan gramatur, ukuran, dst.

Setelah selesai menentukan pilihan, kalkulator keluar. Jeng jeng jeng jeng. Kami melupakan variabel penting lainnya: harga! Astaga. Setelah dihitung, harga kertas untuk bikin satu eksemplar buku itu mencapai 80% dari harga cetaknya. Dan masalahnya adalah, ongkos cetak di digital printing itu nggak berkurang walaupun kertas yang dipakai adalah kertas kami sendiri, bukan kertas dari mereka. Setelah dihitung, kalau kami ngotot pake kertas pilihan kami, ongkos cetaknya aja udah hampir mencapai angka yang ingin kami jadikan harga jual. Lah kalau gitu, gimana untungnya, kitah?!

Bagi kami--senggaknya saat belum sadar kalau harganya akan melangit--kertas sangat penting! Kertas itu memengaruhi mood ketika menyimak buku, kami percaya itu. Sadar nggak sadar sensasi yang diterima tangan ketika memegang kertas bakal bertautan dengan resepsi mata akan materi visual yang ada di buku. Coba aja inget, bukankah kita sering mengusap-usap foto di buku ketika merasa kalau foto itu berkesan? Dan kita nggak mengusap monitor ketika melihat foto digital.


Kami kalah oleh harga. Rencana meningkatkan kualitas buku foto kami simpan dulu untuk proyek-proyek lainnya. Kertas tetap kami beli, tapi sekadar untuk bikin satu eksemplar. Sekalian untuk proof reading. Eksemplar-eksemplar lain edisi ini memakai kertas terbaik yang paling biasa kami pakai saja: matte paper untuk halaman isi, dan linen untuk halaman sampul.

Menyunting itu Penting

Seperti yang udah disebut, edisi ini memang ingin kami spesialkan. Urusan pilih memilih kertas itu cuma salah satu usahanya saja. Usaha lainnya, kami mengajak seorang editor untuk turut menyunting karya kami ini. Pasalnya, kami sadar, jika dibiarkan tanpa saringan, kami akan sangat semaunya mengikuti ego dan mood dalam memilih foto yang ingin ditampilkan. Kalau begitu, kan, jadi terlalu narsis. Karena itulah kami mengajak Ridzki Noviansyah untuk membantu mengasah kekuatan tema, mengurasi foto, menentukan susunan foto dan tentu, membuatkan tulisan pengantar.

Bagi saya (mungkin bagi Astrid, Enad, dan Irin juga) ini adalah kali pertama mengalami pembuatan proyek foto dengan melibatkan editor. Biasanya, bener-bener indie. Pokoknya, foto aing kumaha aing, lah! Tapi kali ini saya memercayakan kekayaan referensi Ridzki dalam menentukan penyajian foto.

Kira-kira, langkah yang kami lakukan bersama Ridzki adalah pertama, mengumpulkan foto-foto analog terbaik yang kami punya. Berapa pun jumlahnya. Di tahap ini, niat awal saya adalah menyajikan foto-foto yang mengedepankan ajaibnya momen-momen kebetulan ala street photography, tapi setelah saya kumpulkan foto, dan lihat baik-baik, ternyata street photo saya nggak segitu kuatnya ketika dibuat dengan kamera analog. Justru, yang kuat adalah foto-foto yang cenderung melankolis bin sentimentil. Jadi sadar, kalau teknologi itu disebut sebagai perpanjangan manusia, maka fotografi analog ini sudah sebegitu pasnya jadi perpanjangan suasana hati melankolis saya. Ketika melihat-lihat lagi foto analog saya, saya jadi tersentuh dan terbawa ke situasi melankolis. Hahaha!

Tahap kedua, foto-foto itu kami cetak seukuran kartu. Ridzki yang meminta. Ketiga, kami berlima bertemu di sebuah kafe. Di sebuah meja panjang kami ngariung. Kami berempat duduk di sisi yang sama menghadap ke Ridzki seorang yang ada di sisi seberang. Yap, kami seperti di sidang. Ridzki pun sibuk sendiri, sambil kelihatan bingung sesekali, resah sesekali, tapi untungnya, tetap terlihat antusias selalu.

Ridzki memulai dari foto-foto Irin. Satu-persatu foto Irin yang jumlahnya puluhan itu, Ridzki lihat, berkali-kali, sampai akhirnya ia mulai menyusun. Membuat barisan foto horisontal. Lima belas foto disusun, ia mulai melihat ulang pelan-pelan. Satu, dua, tiga... lima foto ia ubah lagi urutannya, tak jarang juga ia mengambil lagi foto baru dari stok foto puluhan tadi. Entah apa yang ada di pikirannya. Kami berempat cuma menebak-nebak.  "Foto Irin yang traveling banget ini disusun dari yang kuning (tonal warnanya), ke yang agak hijau, lalu membiru di akhir," Ridzki akhirnya bersuara.

Ridzki juga bilang, "alur penyajian foto kami ia susun dari yang bernuansa netral, yaitu foto Irin, lalu mulai menurun ke foto ekspolrasi objek-objek dan cahaya ruangnya Astrid, terus menurun drastis mood-nya ke foto-foto galaunya Kiram, dan menanjak lagi dengan foto-foto cewek-cewek hepinya Enad."

Setelah Irin, foto Astrid yang disunting, lalu saya, dan ditutup Enad. Prosesnya sama persis.

Selesai memilih-milih foto, proses berikutnya adalah menempel foto pilihan tadi di kertas. Ridzki ikut menentukan foto mana yang dipajang spread dua halaman penuh, mana foto yang dipajang kecil  sendiri di dua halaman, dan mana foto yang dibuat berdampingan. Proses pilih-pilih ini dilakukan Ridzki berkali-kali. Susun ulang pun pernah dilakukannya. Bahkan hingga tahap akhir sebelum benar-benar cetak banyak. Saya jadi ingat, dalam proses menulis pun, kami mengenal semboyan "Writing is about rewriting, rewriting, rewriting, and so on". Intinya, menyimak ulang karya itu penting, demi memantapkan karakter kualitas isi,  dan membuatnya semakin asik dilihat.

...

Kalau nggak salah ingat, proses pengerjaan buku ini adalah satu bulan setengah. Dimulai dari ide Enad, "November besok, kan, gue mau bikin Lowlight Bazaar (bazar kamera analog, RED) lagi. Mendingan kita bikin edisi khusus dulu, deh, yang isinya foto-foto kita semua."

Yap, edisi keenam yang harusnya digarap, kami tunda dulu.

"Betul, tuh, biar nyokap gue nggak nanya lagi, 'ini majalah kamu yang bikin, tapi kok, foto kamu nggak ada di sini'," sahut Astrid disambut tawa

Setelahnya ada sesi menggodok tema foto. Lab: First Process adalah sebuah pengukuhan kami berempat, yang selalu ada di lab-nya Tfotp zine, di fotografi analog. Kami ingin mengatakan, foto-foto di buku ini adalah rangkuman perjalanan kefotografian analog kami. Betapapun kami diterpa banyak referensi, termasuk dari ratusan akun Instagram penyuguh foto-foto #35mm yang likeable, foto-foto di buku ini adalah menandakan karakter kami.

Seperti apakah itu?

Ah, yang satu ini agak sulit untuk diceritakan lewat teks. Bagaimana kalau kamu miliki dulu bukunya, lalu simak satu persatu fotonya, dan ceritakan kepada kami kesan yang kamu rasakan? Dijamin seru, kok. Bahkan, kalau mengutip kata pengantar Ridzki di buku kami ini, rasanya kayak nonton Doraemon di Minggu pagi.

(Klik www.thefutureofthepast.com )

Untuk teman-teman yang sudah memiliki dan sudah menyimaknya, jangan ragu, lho, kalau mau berbagi komentar. Harga film udah tinggi, jangan bikin sharing demi meningkatkan kualitas karya juga jadi mahal. Hehey









Sunday, December 6

Jiper Adalah....

Di Indonesian Reading Festival (IRF) kemarin, saya kenalan sama seseorang yang ternyata masih SMA. Namanya Angie, kelas XII SMA bilangan Jakarta Barat. Dan terjadilah percakapan ini:

R: Lu beneran masih SMA?

A: Iya.

R: Emang suka sama buku atau puisi? (saat itu kami baru selesai ikut kelas menulis puisi Sapardi Djoko Damono)

A: Iya, suka buku dan puisi. gue pun udah dateng ke IRF ini sejak tiga tahun lalu.

R: Kenapa dan sejak kapan suka buku?

A: Sejak kecil, orangtua gue suka ngebeliin buku yang temanya diatas umur gue. Misalnya, di umur 9-10 tahun, gue dibeliin NH Dini, dan buku-bukunya Pramoedya. Dari kecil juga udah baca Laura Ingalls Wilder. Itu, kan, membuka imajinasi banget. Makanya gue suka banget baca buku. 

R: Kesenanagan apa yang lo dapet dari baca buku? 

A:  Gue tipe orang rumahan yah. Bukan tipe yang suka keluar, travelling. Jadi. Kalau misalnya gue baca buku gue nggak perlu keluar rumah untuk tau sesuatu. Apalgsi sekarang kan ada internet. Bisa dapet pengetahuan dari buku. Dapet kesenangan dari buku.

R: Cara lo baca buku gimana, di tengah kesibukan lo sekolah?

A: Gue baca buku, tuh, kalau nggak malam hari atau weekend, pas siang. Biasanya kalau malam, 2-3 bab. Kalau weekend bisa satu hari satu buku.


R: sekarang buku yang lo baca apa aja? 

A; Banyak. gue lagi baca Umberto Eco, Karl May, Jules Verne,  Laura Ingalls Wilder. 

R: Hah. lu udah baca Umberto Eco?! keren. 

A:  Nih liat aja, ini buku yang gue dapet dari book swap tadi. 

R: Terus, buku yang tadi mau lu minta tanda tangannya Sapardi, itu buku apa? 

A: Oh, itu buku kumpulan tulisan dari rubrik Bahasa di Tempo. Sapardi ikut nulis. Ini bukunya Perpus sekolah sih sebenernya.

.... 

A: Kalau kakak bacanya apa?

R: Duh, gue jadi jiper sih kalau gini. Nggak usah tau deh gue baca apa aja. Hahaha. 

A: Pramoedya suka juga? 

R: iya suka. terus terus. Paling banyak, satu hari ngabisin seberapa banyak bacaan? 

A: Hmmm.. gue baca Inferno-nya Dan Brown, sehari abis tuh. 

R: waaaaaaaaaw.
...

R: lu berencana jadi penulis? 

A: Nggak sih, gue lebih pengen jadi sejarawan. Pengen kuliah Sejarah nanti. Tapi nggak dibolehin, nih, kak. 

....
.....
......





Monday, November 30

BersaTOE Kita Luruh


“Gue dateng ke sini cuma untuk TOE,” ujar seorang pengunjung.

“Iya, kita juga nih,” dua teman yang ia temui tanpa sengaja, menyahuti.

Para penggemar musik instrumental TOE di Jakarta mendapat kesempatan kedua untuk bisa menyaksikan idolanya perform langsung. Di Monkeylada Festival yang dihelat di Krida Loka Park, Senayan pada Sabtu (28/11) kemarin, TOE jadi salah satu penampil andalan.

Berbeda dengan konser di Jakarta pertamanya pada 2012, di Monkeylada Fest. TOE mesti berbagi atensi pengunjung dengan 23 pengisi line up lainnya. Namun, bagi para penggemar band asal Jepang ini, goyang ngawang berjamaaah diimami TOE tetap jadi menu utama festival ini.

TOE tampil tepat waktu. Pukul 20.30, Mino Takaaki (gitar), Kashikura Takashi (drum),  Yamane Satoshi (bass), dan Yamazaki Hirokazu (gitar) sudah menempati posisinya masing-masing di Promise Land stage, satu dari tiga panggung penyuguh musik di festival itu.

Nggak menyapa dengan perkataan, TOE justru tampil komunikatif  dengan petikan gitar akustik dengan melodi-melodi sederhana dan cenderung monoton, yang diiringi latar bebunyian musik elektronik. Premonition (Beginning Of A Desert Of Human), singel album terbaru mereka, dimainkan disambung dengan tiga lagu “dingin” lainnya. Sebagai pemanasan.

TOE ingin mengajak pemirsanya memuncak sejak awal. Bahkan, Goodbye, lagu TOE yang paling anthemic—karena memuat lirik berbahasa dominan Inggris yang asik untuk dinyanyikan—dimainkan di giliran keempat, bukan sebagai encore sebagaimana banyak diduga.

“There is no one can understand me truly. I don't go out, I will keep silence (…)”


Lagu tentang pengasingan diri itu membuat penonton makin menyatu, kompak ikut bernyanyi. Ponsel dan kamera yang sebelumnya dikeluarkan banyak penonton untuk merekam dan ber-selfie ria mulai ditaruh lagi, tanda kalau mereka sepakat untuk khusyuk menikmati musik.

Musik math-rock ala TOE banyak digemari karena emosional. Petikan gitar yang sederhana namun diulang-ulang disahuti gebukan drum yang bergemuruh.Di tengah-tengah lagu, petikan gitar tadi hilang, diganti chord yang digeber kencang. Selama di panggung, para personel seperti asik dengan dirinya sendiri, menikmati musik yang mereka mainkan sendiri. Mereka menggeleng-gelengkan kepala, memejamkan mata, berteriak tanpa suara dan sesekali melompat. Kalau sudah disuguhi pertunjukan emosional sederas itu, mana mungkin penonton nggak ikut hanyut

Kurang lebih satu jam TOE pentas.  Beberapa nomor lainnya yang dibawakan adalah After Image, Run For Work, Song Silly dan I Dance Alone. Total 10 lagu dimainkan TOE sebelum akhirnya mereka menjeda penampilan, membiarkan penonton berteriak memanggil mereka kembali, lalu menutup konser dengan satu lagu terakhir.

Keempat personel TOE tampil sebagaimana biasanya. Bercelana jins, berkaos polos, dan sneakers. Begitu pula dengan Yamazaki Hirokazu, memakai pelindung lutut sebagaimana ciri khasnya. TOE malam itu memang tak semaksimal TOE pada 2012 di halaman Gedung Arsip Jakarta. Beberapa penonton bahkan mendapati kalau ada yang janggal dari tata suara panggung. Tapi bolehlah itu dikesempingkan dan kita tetap mensyukuri hajatan malam Minggu itu. Toh, konser kemarin terasa akrab (bahkan walau TOE jarang menyapa) dan TOE tetap total beraksi di atas panggung. Untuk hal itu, penggemar TOE mesti berterima kasih atas tak begitu ramainya festival, mereka tak perlu repot berdesak-desakan untuk bisa berdiri tak jauh dari panggung.

Menyaksikan antusiasme massa terhadap musik TOE, semoga promotor konser lainnya jadi tertarik untuk mendatangkan band-band post-rock/math-rock asal Jepang lainnya. Sekalian dibuat festival musik post-rock  pun, kenapa nggak. Daripada mesti dipadupadakan dengan musisi-musisi lain yang terlalu jauh berbeda warna musiknya, ya kan?!

Pelajaran Membaca


Ayo diperhatikan,

Jika mata adalah huruf, maka tatapannya adalah kata.
Jika wajah adalah kalimat panjang, maka kepala adalah paragraf padat.
Jika tingkah laku adalah daftar isi, maka ucapan adalah kata pengantar.

Tapi ingat, manusia adalah buku tanpa urutan halaman.
Pelajaran membacanya adalah juga pelajaran mengarang.
Kita bisa menemukan cerita, tetapi bisa juga tersesat di halaman tanpa catatan kaki.

Jangan sungkan mengunjungi daftar pustaka jika perlu membaca juga teman-temannya.
Jangan sungkan juga untuk mengaku menyerah bingung, tapi setidaknya, cobalah bingung dengan anggun.



Saturday, October 31

Ditinggal Pak Raden



Kamis (29/10) malam kemarin, Sundea (Dea) dan saya ngobrol di WhatsApp. Dea meminta kontak manajernya Pak Raden, Mas Chus namanya. Ada kawan Dea yang ingin mengajak Pak Raden gabung di suatu program. Setelahnya, saya dan Dea membahas soal unyil, arsip filmnya, PFN, dan dilanjut cerita Dea tentang masa kecilnya yang tinggal nggak jauh dari kawasan PFN berada, Kampung Melayu.

Jum'at (30/10) malam kemarin, saya dapat kabar dari Bob, kawan ngekos dulu di Jatinangor. Udah lama kami nggak bertukar kabar. Dan tak disangka, sekali-kalinya berkabar, kabar yang dibagi Bob kali itu adalah kabar meninggalnya Pak Raden. Saya nggak percaya. Mana mungkin bisa seajaib ini, baru semalam saya membahasnya, kini beliau sudah tiada. Kepada Bob, saya tanyakan sumber informasinya. Katanya, ia dapat dari redakturnya yang ikut menjenguk ke RS Pelni. Kabar duka ini memang benar adanya.

Saya langsung mengabari Dea. Tak bisa panjang-panjang. Cuma satu kalimat dan satu emoticon penanda sedih. Menyampaikan duka itu nggak gampang ternyata.

Saya jadi mengenang-kenang. Kisaran 2011-2012, cukup sering 'main' bareng Pak Raden dan mas Chus, yang paling diingat ada empat. Pertama, saat pak Raden merayakan ulang tahunnya yang ke-79. Saya dan teman-teman FAR magazine datang mengunjunginya, atas undangan dari Mas Chus.

Kedua, saat menemani Dea mewawancara pak Raden untuk blognya, Salamatahari. Ketiga, saat pak Raden ikut serta mengisi acara di acaranya Card to Post. Beliau jadi pembicara. Pun Beliau turut menggambar kartu pos. Dengan kursi roda, ia datang. Tetap terlihat gagah dengan kostumnya. Keempat, saat Pak Raden diajak main ke ruangrupa untuk nimbrung corat-coret bareng teman-teman Gambar Selaw (Galaw). Saya nggak bisa gambar, tapi melihat beliau menggambar dari dekat adalah suatu kesenangan tersendiri. Bener deh, bikin seneng banget. Tiap kali muncul ke publik, pria bernama asli Drs Suyadi ini selalu totalitas menjadi Pak Raden. Bahkan, ketika sedang berpakaian biasa dan ada seseorang mengajaknya berfoto, beliau menawarkan diri untuk berbusana dulu, atau seenggaknya berpose persis seperti gaya pak Raden. Seolah lupa dengan kondisi fisiknya yang tua.

Saya kian mengidolainya. Sosok dengan karya melangit dan pribadi membumi kayak beliau adalah sosok yang udah pasti jadi idola saya, sih. Semacem ngingetin, gue pengen harus bisa jadi orang yang kayak gitu. 

Di pertemuan pertama saya dan beliau, saat perayaan ultahnya ke-79, beliau sempat bercerita kepada kami tentang perasaannya ketika ada yang membeli karyanya. Katanya, "Tiap kali lukisan laku rasanya itu seperti lagunya Anang, Separuh Jiwaku Pergi. Perasaan senangnya itu cuma saat dapet uang saja, selebihnya sedih. Lukisan yang biasanya tiap hari bisa saya lihat di rumah tiba-tiba nggak ada," begitulah ungkap pria yang bercita-cita ingin memiliki studio kartu seperti idolanya, Walt Disney, ini. 

Mengharukan sekali, pemirsa! Betapa dekatnya dia dengan karya-karyanya. Dan betapa sepenuh hatinya dia dalam berkesenian.

Kini, tak cuma separuh jiwanya yang pergi, jiwa Pak Raden sudah meninggalkan kita seutuhnya.

Selamat jalan, Pak. Terima kasih sudah berkarya, menghibur anak-anak, menularkan semangat berkarya.  Terima kasih untuk semua-mua-mua-mua-muanya. Salam ceria selalu! :(:







Monday, October 26

Berjualan Buku Murah



(foto ilustrasi)

Mengapa saya jadi berjualan buku? Simpel alasannya: pertama karena saya suka buku. Kedua saya sering bertemu gelaran obral buku, baik sengaja atau nggak. Di sana, saya selalu dibuat kaget. Ada buku-buku yang tampak tampak seru, dijual dengan harga sangat murah. Beginilah seharusnya harga buku, pikir saya sumringah. Bukan maksud nggak pengin mengapresiasi para kreator buku, tapi saya belum bisa maksimal mengapresiasinya dengan harga yang tinggi. Semoga mengoleksi, dan membaca buku murahnya tetap bisa para kreatornya terjunjung. :p

Dari situlah muncul ide untuk memborong buku-buku seru dengan harga rendah lalu menjualnya lagi dengan harga yang masih jauh lebih murah dari harga aslinya. Pasti ada satu-dua teman yang sedang mencarinya juga. Apalagi kondisi bukunya masih baru semua. Pun original.

Kalau ada teman yang tahu berapa untung yang saya dapat, pasti heran lalu berujung marah. Selisih harga beli dan harga jual kecil. Ya, mau gimana lagi. Misinya kan biar banyak orang bisa ngerasain buku murah, biar orang nggak segan sama buku--terutama buku tebal--karena harganya yang tinggi.

Seringnya, hasil penjualan ini pun nggak kerasa. Karena tiba-tiba sudah berwujud menjadi buku lagi, yang kemudian mejeng di rak. Mau gimana lagi, saya suka buku (suka buku belum berarti suka baca, lho. :p ). Suka gatel kalau ngeliat buku yang tampak seru dan perlu di toko. Walau belum pasti akan langsung dibaca habis, tapi saya yakin suatu saat pasti diperlukan juga. Jadi, beli aja dulu. Hehehe.

Segitu aja dulu intronya. Mari disimak daftar buku jualan saya. Akan selalu diupdate ketersedian dan pasokan buru barunya.

Yuk, ah, jangan ragu untuk dipesan, dibeli, dan dikoleksi. Untuk pesan, langsung sebutkan judul buku, nama, dan alamat kirimnya saja ke 0856 9971122

==FIKSI==


Casual Vacancy - Jk Rowling   


Harga jual: Rp 70.000
Harga penerbit: Rp 179.000


Conspiracy in Death - JD Robb   

Harga jual: Rp 15000
Harga Penerbit: Rp 30.000



Blues Merbabu - Gitanyali   

Harga jual: Rp 25000
Harga Penerbit: Rp 40.000



Mantra Dies Irae - Clara Ng  

harga jual: Rp 20.000
harga penerbit: Rp 58.000



9 Summers 10 Autumn - Iwan Setyawan   

harga jual: Rp 25000
Harga penerbit: Rp


Pintu Terlarang - Sekar Ayu Asmara  


harga jual: Rp. 10.000


86 - Okky Madasari   


Harga Jual: RP 25.000
Harga Penerbit: Rp 45.000



Entrok - Okky Madasari   


harga jual: Rp 25000
Harga penerbit: Rp 45.000



Maryam - Okky Madasari (bonus CD)   


Harga jual: Rp 35000
HArga penerbit: Rp 78.000


Cerita Cinta Enrico - Ayu Utami    

harga jual: Rp 25000
Harga Penerbit: Rp 50.000


Albert Camus - Wong Njaba   (berbahasa jawa)


harga jual: Rp 20000






Lelaki yang Membelah Bulan - Noviana Kusumawardhani   


Harga jual: Rp 20000



Rindu Dendam - Pinkgirlgowild  

Harga jual: Rp 20000
Harga Penerbit: Rp 40.000



PR Buat Presiden - Benny Rachmadi   

Harga jual: Rp 30000  
Harga penerbit     Rp 50.000


Tiga Manula jalan ke Pantura: Benny Rachmadi   

Harga Jual: Rp 30.000  
Harga penerbit: Rp 50.000  
  
 
Seri Lat: Kampung Boy   
Harga Jual: Rp 30.000  
Harga penerbit: Rp 50.000  




   
Rampokan Jawa Selebes - Peter van Dongen   
Harga Jual: Rp 85.000  
Harga penerbit: Rp 150.000  
   
The Cuckoo's Calling - JK Rowling   
Harga Jual: Rp 70.000  
Harga Penerbit: Rp 99.000  
  

Perempuan yang Melukis Hujan   
Harga jual: Rp 20.000  
Harga penerbit: Rp 38.000  
  

Imung Edektif Cilik 2  
harga jual: Rp 20.000  
Harga penerbit: Rp 44.000  
   
Imung Edektif Cilik 3  
harga jual: Rp 20.000  
Harga penerbit: Rp 44.000  
   
Imung Edektif Cilik 4  
harga jual: Rp 20.000  
Harga penerbit: Rp 40.000  
  
 
Sepuluh anak Negro - Agatha Christie   
Harga jual: Rp 15.000  
Harga penerbit: Rp 30.000  
   
Hotel Prodeo - Remy Sylado   
Harga jual: Rp 80.000  
Harga penerbit: Rp 200.000  


Balada Si Roy 1-5 (book set)

Harga jual: Rp 120.000
Harga penerbit: Rp 198.000



==NON FIKSI==




Seni dan Mengoleksi Seni - Dr Oei Hong Ojien
Harga jual: Rp 60.000
Harga Penerbit:  Rp 150.000


City of Fiction - Andre Syahreza


Harga jual: Rp 20.000
Harga Penerbit: Rp 35.000


Do - Handoko Hendroyono
Harga Jual: Rp 30.000
Harga penerbit: Rp 65.000


Soegija - Ayu Utami

Harga jual: Rp 30.000
Harga penerbit: Rp 60.000



Demokreatif - Kisah Blusukan Jokowi - Hari Pras, cs.

Harga jual: Rp 50.000
Harga penerbit: Rp 85.000


Paket Kartun Sains: Fisika, biologi genetika, kimia.

Harga Jual: Rp 85.000
HArga penerbit: Rp 150.000






Filsuf Jagoan (komik) - Fred van Lente


harga jual: Rp 20.000
Harga penerbit: Rp 40.000


Jangan tulis kami Teroris - Linda Christanty

harga jual: Rp 30.000
harga penerbit: Rp 50.000



Seri Lawasan - Potret

harga jual: Rp 25.000
Harga penerbit: Rp 45.000



Perempuan-Perempuan Kramat Tunggak


Harga jual: Rp 35.000
harga penerbit: Rp 50.000

Sinema Dalam Sejarah: LAga dan Petualangan

Harga jual: Rp 20.000



Blink - Malcolm Gladwell

Harga jual: Rp 35.000
Harga penerbit: Rp 65.000
  

Dangdut: Musik, Identitas dan BUdaya Indonesia - Andrew N. W.
Harga jual: Rp 30.000
hArga penerbit: Rp 60.000


Paket Mode Dalam Sejarah (Box set)

Harga jual: Rp 80.000


Pucuk Es di Ujung Dunia: dokumentasi foto pendakian 7 puncak dunia 
harga jual: Rp 100.000 
harga penerbit: Rp 225.000  

 

Sunday, October 25

Kecil Diri Boleh, Diam Terinjak Jangan.



Tumblr menyuguhkan pepatah di tiap sample post-nya: "It does not matter how slow you go so long as you do not stop." Konon, pepatah itu dinukil dari gagasan Confusius. 

Saya suka pepatah itu. Semacam memberi semangat: bahwa perlahan bukanlah masalah. Bahwa si pelan pun tetap bisa punya pencapaian, asalkan nggak berhenti. Terus berjalan. Terus bergerak. 

Entah mengacu ke pepatah Confusius entah nggak, di Yogya saya bertemu dengan sebuah komunitas (atau gerakan) yang namanya punya nuansa semangat yang sama. Ketjilbergerak. Kalau disama-samakan dengan pola pepatah Confusius itu, nama komunitas itu terdengar seperti ini di kepala saya: kecil bukanlah masalah, asalkan kamu tetap bergerak. 

Saya suka sekali dengan komunitas ini. Vanie dan Greg adalah salah dua pelopornya. Kini mereka berdua--setelah sepuluh tahun pacaran--menikah. "Rumah kami sekaligus jadi markasnya teman-teman Ketjil," kata Vanie. 

Ketjilbergerak (kemudian disingkat Ketjil) dimulai pada 2006, wujud awalnya adalah zine dengan tema punk. Ketjil lalu bertranformasi menjadi gerakan. Dengan senjata seni, mereka menunjukkan perlawanan terhadap ketidakberesan di sekitarnya. 

“Kami adalah anak-anak nakal yang pengin eksperimen dan belajar tentang diri sendiri dan permasalahan di sekitar,” begitulah Vani mendeskripsikan komunitasnya. 

Seluruh semangat gerakan ketjilbergerak ini terangkum dalam namanya. Penulisannya yang tanpa kapital adalah perwujudan dari misi mereka untuk menanggapi dan menyelesaikan masalah-masalah terkecil yang ditemui anak muda. Efek yang besar akan menjadi hasil dari gerakan-gerakan kecil yang intens dilakukan tersebut. 

“Kenapa ‘ketjil’nya  menggunakan ejaan lama,yaitu untuk  menandakan bahwa kami harus belajar dari masa lalu untuk memahami masa sekarang dan kemudian terus bergerak ke depan. Kami  juga ingin mengajak teman-teman untuk terus bergerak dan menghidupi hidup yang otentik, yang cerah ceria dan paham mau ngapain,” tegas Vani

Ketjil sudah menginisiasi banyak sekali gerakan. Ketjil punya Kelas Melamun, semacam sharing sesion antara para pemuda dengan tokoh budaya dan kesenian. Ada juga Ben Prigel, kelas pelatihan keterampilan. 

Mei lalu, Ketjil menggelar Sambung Rasa, sebuah program silaturahmi seni antara ketjilbergerak dan warga Tegalgendu yang diwakili oleh Tegalgendu Youngsters bersama Unit Seni Rupa UGM. Tiga unit seni tersebut bersama-sama membuat sebuah mural yang merespon anggapan negatif tentang seni jalanan di Yogyakarta. 

Di lain waktu, ketjilbergerak juga pernah menggagas Bocah Jogja Nagih Janji. Sebuah happening art di titik 0 KM guna mengkritisi maraknya pembangunan hotel di Yogyakarta yang berimbas pada berkurangnya ruang publik di perkampungan sekitarnya. 

Guna menyuarakan provokasi positifnya, ketjilbergerak juga mendirikan sebuah band virtual. Seperti grup band Gorillaz, band ketjilbergerak ini ditampakkan hanya dalam wujud karakter rekaan saja. Menggandeng musisi-musisi setempat, seperti Freddy ‘Armada Racun” dan Belkastrelka, ketjilbergerak menciptakan lagu anthemic yang kemudian disebar di media sosialnya. 

Seluruh gerakan ketjilbergerak ini memang selalu berlandaskan pada seni kolaboratif. Alasannya, “Seni itu cair. Seni berhubungan dengan kemajuan, kebebasan, eksperimen dan hal-hal yang belum pakem. Nah, kita anak muda suka banget kan yang begituan.”

Yang paling terkini, ketjil sedang mempersiapkan diri untuk Jogja Bienalle XIII. 

Saat tulisan ini dibuat, mereka sedang dipanggil KPK! 

Mereka bukan ditangkap tangan karena korupsi. Melainkan karena mereka terlalu kreatif, nyeleneh dan inspiratif sekaligus. Divisi kampanye serta divisi pendidikan dan layanan masyarakat KPK memanggil Ketjil untuk bersama-sama menggagas Anti-Corruption Youth Camp 2015, sebuah lokakarya bertema peruabahan sosial dan pencegahan korupsi. 

Digelar sepuluh hari dan melibatkan 47 pemuda dari segala penjuru Indonesia, acara ini menghadirkan sejumlah pemateri yang keren bukan main. Seluruh orang penting KPK datang: Johan Budi, Bambang Widjajanto dan Sujanarko. SElain itu ada pakar pergerakan dipanggil juga. Bukan yang berasal dari arusutama, melainkan mereka yang dikenal berpengaruh di arus pinggir. Beberapa di antaranya adalah  Gustaff dari Bandung, Rudolf Dethu dari Bali dan Marzuki 'Kill the Dj' dari Jogja. 

Di acara inilah, saya bertemu untuk kedua kalinya dengan Greg dan Vanie. Lalu menyempatkan berfoto bertiga. Terlihat kinyis-kinyis sekali yah. 


Salut selalu untuk kalian! semoga cabang yang sudah kalian rencanakan: kimcilbergerak dan ketjilbergetar juga bisa tercipta juga. :p 




Sunday, October 18

Perokok yang Mati Dibakar Es


Sejak kecil, Es menelan bibit api. Satu-dua kali dalam seminggu. Tanpa sengaja: bibit api terselip di bubur yang menjadi sarapan, makan siang, atau makan malam Es.

 Ia tak memuntahkannya, panasnya saru dengan hangat bubur yang ia emut.

 Merah darah yang sewarna dengan bibit api menjadi pupuk yang baik untuk merawatnya tumbuh, di dalam dekaman tubuh, bibit api hidup.

 Es adalah si dingin. Sebagaimana siapapun tahu. Seringnya, ia menyejukkan. Ia pohon rindang  di siang menjelang sore yang digemari siapa pun yang sedang jatuh cinta untuk berteduh. Atau bercumbu. Sesekali, ia bikin menggigil. Kata-katanya menyengat. Siapa pun, entah yang berjaket atau yang bertelanjang bisa tertusuk dinginnya. Beku parsial. Sekali sentuh, bagian tubuh beku itu bisa patah.

 Tak ada sesiapapun yang tahu kalau Es memelihara bibit api, hingga akhirnya seorang  perokok lusuh, ingusan, nan bau, menyembur bara setelah asap rokok ia telan, dan busa filter-nya ia kunya. Dengan penuh kesengajaan tentu. Biasanya ia sembur ke arah asal. Serampangan, persis seperti hidupnya. Tapi, ketika Es datang--barangkali karena ia terganggu dengan dinginnya--semburannya diarahkan pada Es.

 Satu-dua bara masih tak apa. Sekepul asap masih bisa dihadang, pikir Es. Namun yang si Perokok lakukan kian brutal. Ia memaksa Es menelan asap, dan menjetikkan rokoknya di tangan Es.

 Udara pun  menjadi bensin. Menyulut bibit api berkobar meminta keluar. Ia ingin menendang si perokok. Membenturkan kepalanya ke ujung meja, menarik kursinya lalu membanting ke badannya, mengambil patung budha di mejanya lalu menusukkannya ke mulutnya.

 "Selamat merokok!" kata bibit api dalam tubuh Es kelak, sambil menjilat si perokok. Membakarnya.

 Bara api terpercik lagi, kali itu tak menyisakan abu dan bau tembakau, melainkan bau daging terbakar.

Thursday, October 15

Embun Pagi Tak Jadi Diinjak Rumah.



"Pantas kau disebut kediaman," kata angin malam kepada rumah. "Kau biarkan orang keluar masuk, sementara kau diam tak beranjak. Ketika penghuni tercela mengacak-acak isimu, kau tak mengelak. Ketika penghuni bajik pergi, kau sekadar tenang menunggu."

"Kau membangun pos keamanan, pagar besi mengelilingi, dan menaruh kamera pengintai. Kau begitu awas. Sekecil apapun gerakan kau anggap serangan. Apa yang bisa dibanggakan kalau cuma pandai bertahan?" Angin malam berkata. Pelan. Sambil meneguk teh hangatnya.

Besoknya, si rumah angkat kaki. Ia meninggalkan penghuninya. Berangkat kerja.

Angin malam menjelma embun pagi pekarangan depan. Dengan anggun si rumah melangkahinya.

Tuesday, September 15

Nikahan Nyoe-Decky


Saat itu adalah November 2014. Senggaknya ada dua perubahan pada Decky yang saya tangkap. Pertama, Decky jadi rajin solat. Jika biasanya ia selalu bersepatu, saat itu Decky jadi sering bersendal. Agar mudah wudhu jika waktu solat tiba ternyata. Tiap kali Mada, yang lebih dulu jadi rajin solat, turun ke mushola, Decky kerap minta ditunggu. Agar bisa berjamaah

Kedua, Decky yang (sangat) hobi browsing dan menonton film, terutama setelah jam kantor usai--pukul 18.00--jadi sering pulang tenggo. Pokoknya, nggak sampai pukul tujuh, kami sudah mendapat pamit dari Decky. Lepas dari kebiasaan sebelumnya Decky bisa mantengin komputernya sampai batas maksimal waktu ngantor, 21:00. 

Tak lama setelah itu, di kantin sebuah SMA, saat kami berdua turut membantu event kantor, Decky bercerita. "Sabtu ini gue lamaran, Ram," 

Pantes, pikir saya tegas.

Tanpa saya banyak tanya, Decky menghamburkan ceritanya. Dia dan Ayu alias Nyoe sudah pacaran lima tahun. Sejak mereka kuliah di Unpad. Nyoe yang anak tunggal, Decky bontot dari tiga bersaudara. "Apa lagi yang ditunggu gitu. Nikah aja,"kata Decky

Sunday, September 13

(Toko Terlalu) Tas Selempang Mini



Tas ini saya yang merancang, saya yang beli bahan-bahannya di Cipadu, lalu dijahit oleh adik saya. Awalnya untuk saya pakai sendiri.

Semacem mini totebag yang tali selempangnya lebih panjang, itulah tujuan awalnya. Maklum, saya sering ogah menaruh perintilan di kantong--termasuk ponsel dan dompet, jadi selalu butuh tas kantung kayak gini. Totebag bisa saja, tapi kadang terasa terlalu besar dan sulit ditenteng di bahu.

Hingga akhirnya, iseng memperbanyak jumlah produksi. Siapa tahu ada juga teman yang perlu.





  • Harganya Rp 35.000
  • Detil: Panjang 22 cm // Lebar 28 cm 
  • Menggunakan bahan utama twill yang sudah teruji kuat 
  • Terdapat resleting untuk menjaga barang tidak keluar tas


Saturday, September 12

Kapten Bebek Hijau karangan Eka Kurniawan



Di kaki bukit, tinggallah Emak Bebek dengan bulu berwarna kuning cermerlang. Tak banyak bebek dilahirkan kuning di dunia ini, mungkin hanya dua atau tiga bebek di satu pegunungan. Dan, di pegunungan itu hanya Emak Bebek yang berwarna kuning. Ia sangat bangga dengan warna bulunya. Lalu, ketika ia bertelur dan telur-telur itu menetas menjadi empat anak bebek, semua anaknya berbulu kuning. Mereka menjadi keluarga bebek paling bahagia di pegunungan tersebut. 

Hingga suatu hari, salah seekor anak bebek memakan buah mogita yang sangat beracun. Beruntung si anak bebek tidak sampai mati karena ia baru memakan buah itu sedikit saja. Rasanya saja tidak enak meskipun penampilannya memang sangat menarik. Emak Bebek lupa mengajarkan anak-anaknya bahwa di bukit itu terlarang bagi mereka untuk makan buah mogita. Itu makanan ular. Walaupun begitu, akibat makan buah tersebut meskipun sedikit saja, bulu si anak bebek berubah menjadi hijau. 

Hijau! Bahkan, para bebek tak pernah tahu ada bebek berwarna hijau di muka bumi ini. Dan, warna itu, seekor bebek pengembara berkata, merupakan warna paling buruk untuk bulu seekor bebek. 

Tentu saja si anak bebek langsung memperoleh julukan yang menyedihkan hati, "Bebek Hijau". 

Meskipun Emak Bebek dan ketiga saudaranya berusaha menghibur, Bebek Hijau menjadi murung. Ia tak mau makan, tak mau main. Bersembunyi saja di dalam sarang. Saudara-saudarnya bahkan harus berbohong bahwa warna hijau juga sebenarnya menarik. 

"Lihat saja, sebagian besar bebek berwarna cokelat menjijikkan. Beberapa putih gading yang membosankan. Ada juga yang hitam, seperti jelaga. Tapi, hijau? Hanya kamu yang berbulu hijau, sebab kamu istimewa. Hijau seperti pasukan perang, sebab kamu Kapten Bebek Hijau. Ya, mulai sekarang namamu Kapten Bebek Hijau." 

Itu tak berhasil membuat Bebek Hijau, maksudnya Kapten Bebek Hijau, terhibur. Bagaimanapun, menjadi bebek satu-satunya yang berwarna hijau tak hanya unik, tapi juga aneh. Ia tahu itu, saudara-saudaranya juga tahu, dan Emak Bebek juga tahu. 

Kapten Bebek Hijau sudah mencoba melunturkan warna hijau dari bulunya. Selama beberapa hari ia berendam di danau kecil tak jauh dari sarang mereka, menggosokkan bulunya ke bebatuan, tapi tak memperlihatkan hasil sama sekali. Malahan jatuh sakit karena itu. Pernah juga ia merontokkan semua bulunya sehingga ia menjadi bebek tanpa bulu, dan butuh beberapa minggu sebelum bulu-bulu baru tumbuh. Ia menjadi kedingingan sehinga Emak Bebek dan ketiga saudaranya harus selalu memeluknya. Ketika bulu-bulu baru mulai tumbuh, warnanya tak kembali seperti sediakala. Bulu-bulunya tetap berwarna hijau. 

Kapten Bebek Hijau semakin sedih. 

Emak Bebek, dengan berat hati akhirnya berkata, "Sebenarnya, ada satu cara untuk membuat bulumu kembali kuning seperti semula. Tapi, kamu harus melalui perjalanan yang sangat berbahaya." 

"Aku akan melakukan apa pun demi kembali menjadi bebek kuning. Aku tak takut apa pun." 

"Ah, ya, benar. Bukankah kamu Kapten Bebek Hijau si pemberani?" 

Emak Bebek pun memberi tahu rahasia tersebut: di puncak bukit, tumbuh kunir raja yang jika ia memakannya, warna bulunya akan kembali menjadi kuning. Tapi, dari kaki bukit ke puncak bukit, banyak pemangsa yang jahat, yang bisa mengancamnya. Emak Bebek tak bisa menemainya karena ia harus menunggui ketiga anaknya yang lain. Sementara jika mereka pergi bersama-sama, sema saja mereka menyerahkan hidup satu keluarga kepada pemangsa jahat.

Kapten Bebek Hijau pun bertekad untuk pergi sendiri ke puncak bukit. 

...

Suatu pagi, berangkatlah Kapten Bebek Hijau menaiki bukit untuk mencari kunir raja. Emak Bebek dan ketiga saudaranya melepas kepergiannya dengan berat hati. Mereka menangis karena tak bisa menemani. Kapten Bebek Hijau mencoba menghibur mereka, berkata bahwa ia akan menjaga diri baik-baik, dan akan kembali ke sarang mereka sebagai bebek kuning sebagaimana sebelumnya. Kembali dengan kemenangan. 

Ia belum pernah bepergian sejauh itu. Maka, ia seusungguhnya tak tahu bahaya semacam apa yang akan mengadangnya. Emak Bebek juga belum pernah bepergian sejauh itu, sehingga Emak Bebek tak bisa memberi tahu bahaya seperti apa yang mungkin terjadi. Mereka hanya  memberi tahu bahaya seperti apa yang mungkin terjadi. Mereka hanya tahu, banyak pemangsa yang jahat dan tidak bersahabat. 

"Berhati-hatilah terhadap serigala, ular, dan rubah. Mereka sangat menyukai daging bebek kecil sepertimu." 

Kapten Bebek Hijau belum pernah melihat serigala, ular, maupun rubah. Tak pernah ada binatang jahat di tempat mereka tinggal selama ini. Walaupun begitu, ia berjanji tak akan berteman dengan binatang-binatang sperti itu. Dan, Emak Bebek mengingatkan, sebaiknya ia tak bertemu dan bercakap-cakap dengan binatang asing mana pun. 

"Terus saja naik ke puncak bukit, cari kunir raja, dan setelah itu segera pulang." 

Kapten Bebek Hijau mengingat dengan baik pesan Emak Bebek. 

Hari pertama perjalannya berlangsung tanpa ada gangguan apa pun. Ia melihat pemandangan yang selama ini tak diketahunya. Ada deretan pohon-pohon bambu yang sangat indah sepanjang tepian sungai. Di kejauhan ia melihat satu air terjun dengan suara yang bergemuruh. Bunga-bunga dahlia liar bermekaran di satu gerombol. Begitu menyenangkannya semua itu hingga Kapten Bebek Hijau ingin menari-nari dan bernyanyi-nyanyi, hingga ia teringat pesan Emak untuk tidak menarik perhatian binatang lain. 

Maka, ia pun harus berjalan secara diam-diam. Dan, ketika malam datang, ia bersembunyi di balik satu bongkah batu. 

Hari kedua, ia bertemu dengan seekor serigala. Ketika ia melihatnya, Kapten Bebek Hijau segera tahu itu seekor serigala. Ia sedang berjalan di setapak ketika di kejauhan dilihatnya seekor binatang berkaki empat dengan moncong panjang dan bulu kelabu. Emak Bebek pernah menggambarkan, serupa itulah serigala. Kapten Bebek Hijau tak sempat bersembunyi, serigala itu telah melihatnya. Emak Bebek sudah mengatakan bahwa sebenarnya serigala tak begitu suka memakan bebek. Mereka lebih suka makan kelinci atau kancil. Namun, jika sedang lapar, serigala bisa memakan apa pun, terutama bebek kecil. Dan, serigala di depannya itu tampak sekali sedang kelaparan. 

Serigala menggeram dan lari ke arahnya. Kapten Bebek Hijau terkejut, melompat ke gerombol bambu dan meringkuk di sana, menggigil. Serigala muncul, menggeram-geram mengelilingi gerombol bambu. Bebek Hijau diam saja, tubuhnya makin menggigil. Ia ingin menangis. Serigala terus berkeliling mencarinya. Kapten Bebek Hijau mulai bingung, kenapa serigala tak juga menangkapnya. Ia persis ada di depan matanya. Namun, serigala terus mencarinya, hingga merasa putus asa, dan segera pergi. 

Kapten Bebek Hijau bingung, tapi sekaligus lega. Ia melihat ke sekelilingnya, dan bertanya-tanya kenapa serigala ak melihatnya. Hingga ia menemukan jawabannya: 

"Ah, bambu-bambu ini sangat hijau, dan tubuhku juga hijau. Serigala tak melihat seekor bebek hijau di tengah batang-batang bambu berwarna hijau." 

Kapten Bebek Hijau pun memutuskan untuk bermalam dan berisitirahat di tengah gerombol bambu. 

...

Perjalanan ke puncak bukit mencari kunir raja ternyata bukanlah perjalanan yang gampang, bukan pula perjalanan cepat yang bisa ditempuh dalam satu-dua hari saja. Dan, benar apa yang dikatakan Emak Bebek, banyak makhluk jahat berkeliaran sepanjang jalan. 

Kapten Bebek Hijau, kini ia sangat bangga dengan namanya, pernah bertemu ular jahat yang hendak memangsanya. Ia sedang  menyeberang sungai, berenang, dan mengayuh dengan sayap mungilnya, ketika dari arah hulu meluncur seekor ular belang. Sangat jelas ular itu meluncur ke arahnya, hendak memangsanya. Kapten Bebek Hijau mempercepat kayuhan sayapnya. Hup, hup, hup.

Gerakannya sangat lambat. Arus sungai yang sedikit kencang agak susah ditaklukkan Kapten Bebek Hijau. Ia mulai cemas. Hari-hariku berakhir di sini, pikirnya. Berakhir di perut seekor ular belang. 

Ia ingin menangis. Jangan cengeng, pikirnya, kamu seekor kapten. Kamu Kapten Bebek Hijau. Kamu akan menjadi satu-satunya bebek yang berhasil menjelajah seorang diri naik dan turun bukit. Ia teringat kepada Emak Bebek dan saudara-saudaranya, dan itu membuatnya tambah ingin menangis. Ayo, Kapten, semangat, Kapten! Kamu pergi ke puncak bukit bukan untuk dimangsa ular belang. Kamu pergi untuk menemukan kunir raja dan pulang dengan kemenangan. 

Saat itulah ia melihat gumpalan lumut hijau melayang-layang di permukaan air. Ia tak punya waktu untuk terus berenang ke tepian. Lagi pula, melompat ke darat tidak berarti ia terbebas dari ancaman ular belang. Ular itu sangat cepat, bisa memangsanya di air maupun di darat. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah menyeruak ke tengah gumpalan lumut dan diam di sana, dan itulah yang ia lakukan. 

Ular belang telah sampai di tepian lumut dan terdengar ia bergumam, "Sialan, di mana bebek kecil itu?

Ingin sekali Kapten Bebek Hijau menjawab, Bebek itu tak ada di sini. Ia pergi ke arah hilir. Namun, tentu saja ia tak mengatakannya. Itu akan terdengar sangat bodoh. 

Ular belang terus mencari-carinya, sementara Kapten Bebek Hijau menggigil dengan jantung bergemuruh karena ketakutan. Ular itu sangat dekat dengannya, ia bahkan bisa mencium aroma napasnya yang bau bangkai. 

"Sialan, sialan. Bebek kecil itu menghilang." Kembali terdengar keluhan si ular belang, sebelum akhirnya ia meluncur ke arah hilir bersama arus sungai. Barangkali mencari mangsa yang lebih besar dan lebih enak untuk dimakan, dan lebih mudah untuk ditangkap. 

Untuk kali kesekian, Kapten Bebek Hijau terbebas dari mara bahaya. Hari-hariku belum berakhir, pikirnya. Dan, ia tahu kenapa. 

Sudah agak lama, selama dalam perjalanan itu, Kapten Bebek Hijau menyadari bulunya yang hijau menyelamatkan hidupnya. Ia bisa bersembunyi di gerombolan dededaunan yang hijau, di tengah belukar anak bambu, dan seperti barusan terjadi, di atas gumpalan lumut. Warna hijau tubuhnya menyatu dengan warna hijau dendaunan, dan itu membuat para pemangsa selalu tak berhasil menemukannya. 

Walaupun begitu, ia tetap ingin kembali menjadi bebek kuning. Ia tetap meneruskan perlajanan untuk menemukan kunir raja. Ia menginginkan warna bulunya yang sejati.

Begitulah setelah berhari-hari, Kapten Bebek Hijau akhirnya tiba di puncak bukit. Di sana ada hamparan padang rumput yang luas, dengan rumput yang hijau beriak. Di sana sini, dengan mudah ia menemukan pohon kunir raja. Tanpa menunggu lebih lama, ia mencerabut satu pohon dan memakan ubinya, dan benar apa yang dikatakan Emak Bebek, hanya dalam waktu singkat warna bulunya berubah. Si hijau yang buruk itu perlahan-lahan luntur, seperti lumpur basah, dan warna kuning cemerlangnya muncul. 

Kapten Bebek Hijau girang bukan main. Ia menari-nari dan bernyanyi-nyanyi, di bawah limpahan cahaya matahari yang cerah ceria. 

"Oh, bukan, aku bukan lagi Kapten Bebek Hijau. Aku Kapten Bebek Kuning, yang telah menaklukkan bukit dan akan pulang dengan kemenangan. Aku Kapten Bebek Kuning, aku Kapten Bebek Kuning!" 

Ia terus bernyanyi dan ia terus menari. 

... 

Di angkasa, seekor burung elang sedang sangat lapar. Sudah dua hari ia belum makan. Ia melihat ke bawah, mencari mangsa. Ia hanya melihat hamparan rumput hijau. Di mana-mana hijau. Ia menoleh ke kiri. Padang rumput hijau. Ke kanan. Padang rumput hijau. Hijau yang membosankan. 

Tunggu, pikirnya, apa itu yang berwarna kuning cemerlang? Kuning di tengah hamparan rumput hijau? Warna kunging yang bergerak-gerak riang? Ah, seekor anak bebek. 

Dengan cepat burung elang menukik dan menyambar Kapten Bebek Kuning. Bebek berwarna kuning terkenal karena rasanya yang enak. Akhirnya, aku memperoleh makan siang, pikir burung elang dengan bahagia.




-Tulisan ke-8 30 Hari Bercerita-

=========================================

Cerita pendek karya penulis favorit saya, Eka Kurniawan, ini dimuat dalam buku kumpulan cerpennya, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. 

Saya suka sekali dengan isinya. Bikin senyum manis lalu manyun miris. Rasanya tak ada satu pun kata mutiara yang bisa dikutip dari cerita ringan kekanak-kanakan ini, tapi banyak sekali kesan dan pelajaran yang saya temui menjejak pada diri: tentang celakanya memikirkan pikiran orang-orang, tentang zona nyaman-luar nyaman, dan juga tentang takdir yang tak pandang ambisi.

Saya membayangkan, akan asyik sekali jika cerpen ini didongengkan. Ada yang ingin mencoba, kepada adiknya, kawan, atau pacar mungkin. Atau, kepada saya? Ah, dengan sangat senang hati saya mendengarkannya. Di ulang berkali-kali pun saya nggak akan pura-pura tuli. 


nb: tegur saya jika kalian menemukan kesalahan penyalinan tulisan. 
nb 2: cerita-cerita pendek lainnya dalam buku kumcer ini juga asyik untuk ditelisik, lho. Mari dibeli, baca dan dikoleksi.