analog
Tampilkan postingan dengan label analog. Tampilkan semua postingan

09 Desember 2015

LAB dan Proses-Proses Yang Diselesaikannya




Pagi itu, sebelum menuju kantor masing-masing, kami berempat janjian bertemu di sebuah toko kertas bilangan Kebayoran Lama. Kami mau nyari kertas paling pas untuk buku foto yang kami buat: edisi spesial The Future of The Past, yaitu LAB: First Process. 

Beruntung, saat itu toko belum rame. Kami berempat masih bisa duduk persis di depan si mbak pelayan toko. (Ini penting, mengingat pelayannya cuma satu, mejanya cuma satu. Kalau nggak dapet duduk di depan mbaknya persis kemungkinan diprioritaskannya kecil). Satu persatu katalog kertas dikeluarkan si mbak. Dari yang kertas lokal, kertas fancy, sampai jenis kertas "rahasia", yang nggak ada di kedua katalog tersebut.

Kami datang sudah dengan kriteria kertas sebenarnya: kertas yang kasar (bukan licin) dan agak bertesktur.  Referensi kami: kertas bluish white, book paper, HVS, coronado, atau linen.Tapi bukan berarti itu bikin kami bisa cepet di sana.

Bukan perkara mudah ternyata untuk memilih kertas yang pas. Pilihan di katalog terlalu banyak. Tapi anehnya, itu nggak membuat kami merasa cukup: masih perlu mencoba-coba memegang, mengelus-elus dan melihat kertas-kertas kasar lainnya, andaikan ada. Ternyata, banyak variabel dalam sebuah kertas yang memengaruhi sensasi ketika meraba dan melihatnya: bentuk teksturnya--ada yang teksturnya berupa garis-garis tertata, ada yang acak; pilihan gramatur, ukuran, dst.

Setelah selesai menentukan pilihan, kalkulator keluar. Jeng jeng jeng jeng. Kami melupakan variabel penting lainnya: harga! Astaga. Setelah dihitung, harga kertas untuk bikin satu eksemplar buku itu mencapai 80% dari harga cetaknya. Dan masalahnya adalah, ongkos cetak di digital printing itu nggak berkurang walaupun kertas yang dipakai adalah kertas kami sendiri, bukan kertas dari mereka. Setelah dihitung, kalau kami ngotot pake kertas pilihan kami, ongkos cetaknya aja udah hampir mencapai angka yang ingin kami jadikan harga jual. Lah kalau gitu, gimana untungnya, kitah?!

Bagi kami--senggaknya saat belum sadar kalau harganya akan melangit--kertas sangat penting! Kertas itu memengaruhi mood ketika menyimak buku, kami percaya itu. Sadar nggak sadar sensasi yang diterima tangan ketika memegang kertas bakal bertautan dengan resepsi mata akan materi visual yang ada di buku. Coba aja inget, bukankah kita sering mengusap-usap foto di buku ketika merasa kalau foto itu berkesan? Dan kita nggak mengusap monitor ketika melihat foto digital.


Kami kalah oleh harga. Rencana meningkatkan kualitas buku foto kami simpan dulu untuk proyek-proyek lainnya. Kertas tetap kami beli, tapi sekadar untuk bikin satu eksemplar. Sekalian untuk proof reading. Eksemplar-eksemplar lain edisi ini memakai kertas terbaik yang paling biasa kami pakai saja: matte paper untuk halaman isi, dan linen untuk halaman sampul.

Menyunting itu Penting

Seperti yang udah disebut, edisi ini memang ingin kami spesialkan. Urusan pilih memilih kertas itu cuma salah satu usahanya saja. Usaha lainnya, kami mengajak seorang editor untuk turut menyunting karya kami ini. Pasalnya, kami sadar, jika dibiarkan tanpa saringan, kami akan sangat semaunya mengikuti ego dan mood dalam memilih foto yang ingin ditampilkan. Kalau begitu, kan, jadi terlalu narsis. Karena itulah kami mengajak Ridzki Noviansyah untuk membantu mengasah kekuatan tema, mengurasi foto, menentukan susunan foto dan tentu, membuatkan tulisan pengantar.

Bagi saya (mungkin bagi Astrid, Enad, dan Irin juga) ini adalah kali pertama mengalami pembuatan proyek foto dengan melibatkan editor. Biasanya, bener-bener indie. Pokoknya, foto aing kumaha aing, lah! Tapi kali ini saya memercayakan kekayaan referensi Ridzki dalam menentukan penyajian foto.

Kira-kira, langkah yang kami lakukan bersama Ridzki adalah pertama, mengumpulkan foto-foto analog terbaik yang kami punya. Berapa pun jumlahnya. Di tahap ini, niat awal saya adalah menyajikan foto-foto yang mengedepankan ajaibnya momen-momen kebetulan ala street photography, tapi setelah saya kumpulkan foto, dan lihat baik-baik, ternyata street photo saya nggak segitu kuatnya ketika dibuat dengan kamera analog. Justru, yang kuat adalah foto-foto yang cenderung melankolis bin sentimentil. Jadi sadar, kalau teknologi itu disebut sebagai perpanjangan manusia, maka fotografi analog ini sudah sebegitu pasnya jadi perpanjangan suasana hati melankolis saya. Ketika melihat-lihat lagi foto analog saya, saya jadi tersentuh dan terbawa ke situasi melankolis. Hahaha!

Tahap kedua, foto-foto itu kami cetak seukuran kartu. Ridzki yang meminta. Ketiga, kami berlima bertemu di sebuah kafe. Di sebuah meja panjang kami ngariung. Kami berempat duduk di sisi yang sama menghadap ke Ridzki seorang yang ada di sisi seberang. Yap, kami seperti di sidang. Ridzki pun sibuk sendiri, sambil kelihatan bingung sesekali, resah sesekali, tapi untungnya, tetap terlihat antusias selalu.

Ridzki memulai dari foto-foto Irin. Satu-persatu foto Irin yang jumlahnya puluhan itu, Ridzki lihat, berkali-kali, sampai akhirnya ia mulai menyusun. Membuat barisan foto horisontal. Lima belas foto disusun, ia mulai melihat ulang pelan-pelan. Satu, dua, tiga... lima foto ia ubah lagi urutannya, tak jarang juga ia mengambil lagi foto baru dari stok foto puluhan tadi. Entah apa yang ada di pikirannya. Kami berempat cuma menebak-nebak.  "Foto Irin yang traveling banget ini disusun dari yang kuning (tonal warnanya), ke yang agak hijau, lalu membiru di akhir," Ridzki akhirnya bersuara.

Ridzki juga bilang, "alur penyajian foto kami ia susun dari yang bernuansa netral, yaitu foto Irin, lalu mulai menurun ke foto ekspolrasi objek-objek dan cahaya ruangnya Astrid, terus menurun drastis mood-nya ke foto-foto galaunya Kiram, dan menanjak lagi dengan foto-foto cewek-cewek hepinya Enad."

Setelah Irin, foto Astrid yang disunting, lalu saya, dan ditutup Enad. Prosesnya sama persis.

Selesai memilih-milih foto, proses berikutnya adalah menempel foto pilihan tadi di kertas. Ridzki ikut menentukan foto mana yang dipajang spread dua halaman penuh, mana foto yang dipajang kecil  sendiri di dua halaman, dan mana foto yang dibuat berdampingan. Proses pilih-pilih ini dilakukan Ridzki berkali-kali. Susun ulang pun pernah dilakukannya. Bahkan hingga tahap akhir sebelum benar-benar cetak banyak. Saya jadi ingat, dalam proses menulis pun, kami mengenal semboyan "Writing is about rewriting, rewriting, rewriting, and so on". Intinya, menyimak ulang karya itu penting, demi memantapkan karakter kualitas isi,  dan membuatnya semakin asik dilihat.

...

Kalau nggak salah ingat, proses pengerjaan buku ini adalah satu bulan setengah. Dimulai dari ide Enad, "November besok, kan, gue mau bikin Lowlight Bazaar (bazar kamera analog, RED) lagi. Mendingan kita bikin edisi khusus dulu, deh, yang isinya foto-foto kita semua."

Yap, edisi keenam yang harusnya digarap, kami tunda dulu.

"Betul, tuh, biar nyokap gue nggak nanya lagi, 'ini majalah kamu yang bikin, tapi kok, foto kamu nggak ada di sini'," sahut Astrid disambut tawa

Setelahnya ada sesi menggodok tema foto. Lab: First Process adalah sebuah pengukuhan kami berempat, yang selalu ada di lab-nya Tfotp zine, di fotografi analog. Kami ingin mengatakan, foto-foto di buku ini adalah rangkuman perjalanan kefotografian analog kami. Betapapun kami diterpa banyak referensi, termasuk dari ratusan akun Instagram penyuguh foto-foto #35mm yang likeable, foto-foto di buku ini adalah menandakan karakter kami.

Seperti apakah itu?

Ah, yang satu ini agak sulit untuk diceritakan lewat teks. Bagaimana kalau kamu miliki dulu bukunya, lalu simak satu persatu fotonya, dan ceritakan kepada kami kesan yang kamu rasakan? Dijamin seru, kok. Bahkan, kalau mengutip kata pengantar Ridzki di buku kami ini, rasanya kayak nonton Doraemon di Minggu pagi.

(Klik www.thefutureofthepast.com )

Untuk teman-teman yang sudah memiliki dan sudah menyimaknya, jangan ragu, lho, kalau mau berbagi komentar. Harga film udah tinggi, jangan bikin sharing demi meningkatkan kualitas karya juga jadi mahal. Hehey









04 September 2014

Yang Buru-Buru Datang


Kamu Belum Pergi 
Tapi 
Rindu Sudah Datang 

16 Agustus 2014

Lebaran 2014. Lebaran Serba Pertama



Lebaran tahun ini serba pertama. Karena keluarga kami belum lagi punya mobil maka kami naik kereta. Ya, sepanjang sejarah berlebaran sejak saya lahir, tahun ini adalah kali pertama saya merasakan mudik naik kereta.

Sebenarnya bisa saja kami menumpang bus atau menumpang kendaraan pribadi milik saudara. Tapi karena si papah sebelumnya udah nyoba naik kereta ke kampung kami, Maja, Rangkas Bitung, dan papah sangat terkesan sekali dengan kenikmatan berkereta maka kami pun digoda untuk menjajalnya juga. Bukan cuma keluarga saya ternyata, dua keluarga lain yang tinggal di Jakarta pun ikut menjajal naik kereta. Mobil mereka titipkan di stasiun Palmerah. Sementara keluarga saya naik dari stasiun Sudimara, sekitar 15 KM dari rumah. 

Untuk sampai ke stasiun Maja, tak perlu waktu lebih dari sejam. Asiknya, turun dari stasiun Maja kami cukup berjalan kaki saja untuk mencapai rumah Abah dan Ibu (kakek-Nenek saya yang sudah almarhum). Asiknya lagi, kereta lowong sekali. Kami tak perlu merasakan bersesak-sesakan seperti yang kerap diberitakan tv di kereta-kereta mudik. 

Seperti tahun-tahun sebelumnya ritual lebaran di Maja adalah makan siang bersama-ziarah ke makam abah dan Ibu, makan-makan lagi, main petasan, saweran dan bagi-bagi 'persenan'. Tak banyak waktu yang kami habiskan di halal bihalal hari pertama lebaran itu. Sampai di Maja pukul 11.00, pukul 15.30 kami sudah  menumpang mobil Uwa'berangkat menuju Serang, ke kampung halamannya Mamah. 

Mamah dan Rinda, adik saya duduk di bangku kereta menuju Maja. Kereta yang berharga tiket Rp 8.000 ini sepi. Enak deh pokoknya. Sekadar perbandingan, jika kami naik bus. Ongkos yang dikeluarkan bisa mencapai Rp 30.000 per kepala


Suasana stasiun Maja setibanya kami di sana. O ya, saya baru tahu  loh ternyata saudara saya yang lain menumpang kereta yang sama. Hanya beda gerbong.  



Rumah Abah dan Ibu ini luas sekali. Dulu, rumah ini lebih panjang dan luas, tapi bangunan yang dulu membentuk huruf U itu sekarang ditebas salah satu sisinya. Di belakang rumah itu masih ada kebun yang luasnya selapangan futsal deh kira-kira. Karena (sangat) dekat stasiun, lahan rumah kami ini akan dijadikan tempat penitipan motor. Maklum, Maja dan masyarakatnya sekarang mulai banyak yang bekerja di Jakarta. 


Secuplik bagian dalam rumah. Masih terpajang kumpulan foto keluarga dari tahun ke tahun.


Mang Atip. Salah satu orang kepercayaan keluarga. Ia sedang memantau kebun belakang rumah sambil bercerita tentang sumur yang dulu biasa kami gunakan, serta pohon-pohon rambutan yang dulu begitu lebat dan menghasilkan


Keponakan saya (anak sepupu) ini bernama Pian. Sejak melihat saya memegang kamera dia antusias sekali bertanya gimana caranya memotret. Sejak itu, kamera digital saya disandera oleh si Spiderboy ini.


Dan ya, kemudian kamera saya pun digilir oleh krucil-krucil ini. 




Lebaran tanpa anak kecil dan petasan itu hambar rasanya. Setidaknya di keluarga kami. Dua hal itulah yang bikin lebaran jadi meriah. Dengan begitu pun, para orang dewasa macam saya bisa ikut mencicipi bermain-main. Tanpa ada anak kecil, ya kita gengsi lah. Haha. 



Di lebaran kemarin, ada banyak keluarga yang nggak hadir. Tapi kalau dilihat difoto udah kayak foto keluarga lengkap yah. Haha. Keluarga Papah memang keluarga besar. Delapan bersaudara dan salah satu kakaknya ada yang punya 11 anak. 

Plastik yang entah gimana ceritanya bisa berbentuk hati. Terselip di pagar rumah. Semoga rumah ini selalu diselipkan cinta di setiap sudutnya, bagaimana pun jadinya nanti. 


bersambung.... 


---
Di posting ini, seluruh foto diambil dengan kamera analog. #cieanalog 


01 Februari 2014

In Public Babies









-


-


Berkunjung Ke Bandung - Desember 2013



Perlu disyukuri sepertinya, bahwasannya dalam setahun kemarin saya masih diberi kesempatan untuk selalu bisa mengunjungi Bandung, setidaknya sebulan sekali. Betapa pun berubahnya Bandung, kota ini tetap bisa menjadi pelarian. Ah, apa jangan-jangan Bandung memang diciptakan untuk menjadi katarsis bagi penduduk kota panas macam Jakarta. 

Akhir Desember tahun lalu, saya berkunjung ke Bandung. Kali ini bersama keluarga. Lengkap. Sudah sangat jarang kami sekeluarga ini pergi berlibur bersama, apalagi keluar kota, apalagi naik mobil. Tak lama kami singgah, hanya dua hari satu malam kami memBandung. Tapi ternyata di waktu yang singkat itu saya tetap bisa melahap banyak sensasi-sensasi kota ini. 

Saya menjajaki daerah Pasar Baru, berkunjung ke Braga untuk memborong film 35mm yang harganya jauh lebih murah dari harga Jakarta, mengajak adik meninjau ITB agar ia bisa punya harapan untuk kuliah di situ, ikut meramaikan Car Free Day ala Bandung yang semarak itu, dan tetap, di akhir kunjungan, kami sekeluarga bisa berbelanja ke outlet-outlet. Hehehe. 























09 Januari 2014

Menyapa Ragunan


Bersama geng The Future of The Past, saya menggelar Analog's Day Out. Kami mengajak temen-teman lain untuk membawa main kamera analognya untuk melahap momen-momen yang menarik di suatu tempat. Di kali pertama itu,  Kebun binatang Ragunan adalah tempat yang kami pilih. 

Saya cukup suka motret di kebun binatang. Banyak sekali yang bisa didapat. Selain foto-foto hewan dan pepohonan di sana, saya juga senang mengamati para pengunjungnya. Ya, emang dasar aja saya suka mengamati orang kalau lagi di ruang publik. Walau begitu, di sesi foto kali ini, saya lebih banyak motret hewannya sih. Entah gimana chemistry-nya tapi tonal warna foto film itu cocok banget yah untuk foto hewan dan pepohonan. Ada nuansa tersendiri yang dihadirkan. 

Selamat enjoy. :D



















© blogrr
Maira Gall