Wednesday, July 27

Ketika Penderitaan Menjadi Objek Wisata Pehobi Fotografi


Seorang ibu dan anak yang masih balita sedang terduduk di trotoar dengan pakaian yang lusuh tanpa alas kaki. Botol susu dan sebuah tas ada di sekitarnya.  Si anak terlihat sedang asik dengan benda yang dipegangnya, sepertinya sebuah plastik. Ia maju ke tepi trotoar menjauh dari jangkauan ibunya. Sementara sang Ibu mencoba meraihnya. Dalam foto yang berlatar waktu malam ini trotoar ditempati di kanan, mengisi setengah komposisi. Di luar trotoar adalah jalan raya. Terlihat beberapa pasang kaki wanita berjalan di jalan. Juga seorang pengendara motor yang sedang menepi. Mereka berpakaian rapih. Kontras dengan keadaan si Ibu dan anak yang menyedihkan.

Kira-kira begitulah keadaan perkotaan yang dibingkai oleh Prasetyo Utomo dalam fotonya yang diberi judul “Sabar ya nak, sebentar lagi kita dapet duit kok..”.  Sebuah representasi kemiskinan di perkotaan. Foto ini saya temukan di halaman depan situs Fotografer.net, sebuah forum fotografi  yang terbesar di Asia Tenggara. Terpampang di kolom Foto Pilihan Editor hari itu, 27 Juni 2011. Melihat foto ini, saya jadi bertanya-tanya. Mengapa banyak sekali bertebaran foto-foto yang menampilkan kemiskinan, keterpinggiran serta penderitaan manusia? Apakah benar foto dapat membantu mereka yang dipotret? Apakah benar kita bersimpati dengannya? Atau malah sekedar menjadikannya selayaknya objek wisata yang menarik untuk dibagi.

Hobi fotografi ala Fotografer.net

Perkembangan fotografi di Indonesia sangatlah dinamis. Fotografi bukan lagi milik para professional saja. Animo masyarakat meningkat seiring perusahaan kamera besar dunia berlomba-lomba menciptakan inovasi untuk menjadikan kamera bisa digunakan siapa pun dengan cara yang menyenangkan. Alhasil, hobi fotografi pun mulai menjamur di mana-mana. Beriringan dengan itu, komunitas-komunitas fotografi online pun berkembang.

Salah satu komunitas yang cukup fenomenal adalah situs Fotografer.net (FN). FN adalah forum fotografi online yang sudah berdiri sejak 30 Desember 2002. Setiap orang, dari berbagai kalangan dapat mendaftarkan diri menjadi anggota. Baik yang sebatas pehobi hingga yang professional. Hingga tulisan ini dibuat, jumlah anggotanya ialah 158506[i]. Tak ayal, jika FN didaulat sebagai forum fotografi terbesar se-Asia Tenggara.

FN menyediakan forum bagi para pegiat fotografi untuk saling berbagi. Forum diskusi, forum jual beli, dan pastinya galeri. Secara khusus, FN menyediakan galeri dimana para anggotanya bisa mengunggah karya fotografinya untuk kemudian dipamerkan dan diberi penilaian oleh anggota lainnya.

Sebagai forum yang besar tak ayal FN membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap fotografi di Indonesia. Sistem penilaian misalnya, menimbulkan tren di kalangan anggotanya untuk berlomba-lomba mendapatkan nilai tinggi. Administrator pun menyediakan kolom Foto Pilihan Editor. Tiap harinya ditampilkan enam foto yang terbaik pilihan editor. Walau pun sudah menjadi rahasia umum bahwa pemilihan Foto Pilihan Editor merupakan hasil perhitungan matematis yang  sudah terprogram, tetap saja hal ini menjadi sesuatu yang dikejar oleh para anggotanya.

Atas nama apresiasi

Situasi kompetisi ini sekilas memang ada baiknya, tiap orang termotivasi untuk terus meningkatkan kemampuan fotografinya. Namun celakanya justru motif perolehan atensi dan penilaian audiens ini yang lebih diutamakan. Tak jarang ada anggota yang memamerkan foto-foto yang sensasional dan atau dramatis agar mendapat banyak kunjungan. Foto-foto pada kategori manusia (human interest) misalnya, terlihat banyak sekali foto-foto yang menampilkan kemiskinan – entah itu pengemis, anak jalanan, pemulung, kehidupan di pemukiman kumuh – dan penderitaan, foto-foto bencana misalnya. Foto-foto itu memang membuat hati pemirsanya tersentuh. Foto milik Prasetyo Utomo ini adalah satu contohnya,  dan sialnya ini jadi foto pilihan editor.

Miris memang melihat situasi dalam foto itu. Sebuah kontradiksi antara keadaan si ibu dan anak dengan orang-orang yang berlalu lalang di Jalanan. Ibu dan anak itu adalah manusia-manusia yang terpinggirkan. Mereka berada di lingkungan yang serba ada, serba mampu, serba modern. Terlihat jelas bagaimana kesenjangan antara orang-orang berada dengan keadaan ibu dan anak. Mereka, si miskin hanya bisa terpaku meminta belas kasihan, tidak berdaya, sementara orang-orang lain begitu acuh, terus berjalan tanpa menghiraukan.

Tapi apakah mereka benar-benar menderita. Apa jangan-jangan ini adalah hasil dramatisasi sebuah kenyataan. Sebuah cara untuk meraih perhatian massa dengan tampilan foto yang humanis dan (pura-pura) mengerti penderitaan.

Foto dapat dikatakan sebagai sebuah representasi dari realitas. Oleh karena itu, adalah salah jika menganggap apa yang terlihat di foto adalah realitas yang ‘seutuhnya’. Fotografer sangat berperan dalam merepresentasikan realitas. Proses membingkai realitas – memilah potongan ruang dan waktu mana yang akan ditampilkan – lalu proses editing hingga pemberian judul dan caption menjadi unsur-unsur yang ikut menciptakan realitas baru dalam foto. Dalam foto ini, saya melihat bahwa si fotografer  lah yang membuat ibu dan anak itu menjadi menderita. Apalagi dengan judulnya itu. menunjukkan seolah-olah mereka tidak berdaya, tidak bisa mendapatkan uang. Dan hanya bisa terduduk tanpa daya usaha di pinggir trotoar. Kontras dengan mereka yang berlalu lalang di jalanan: aktif dan dinamis.

Jika dilihat dari tampilan fisik si Ibu. Saya menerka ia masih berusia muda. Belum ada kerut di wajahnya. Apalagi jika benar bayi yang ada di dekatnya ialah anaknya, maka ia belum terlalu tua. (Apakah seorang tua masih terpikir untuk memiliki anak? Sepertinya tidak). Jadi bisa diartikan bahwa si ibu itu sebenarnya masih mempunyai daya untuk bekerja yang layak. Bukan mengemis. Mengais rasa belas kasihan orang-orang yang berlalu lalang.

Lalu, bagaimana si fotografer bisa tahu kalau ibu itu sedang mencari uang di jalan seperti yang disebutkan dalam judul. Melihat keterangan pada foto, foto ini diambil dengan kecepatan rana 1/50 dan pada focal length 85mm. Saya tidak yakin dengan waktu sepersekian detik itu si fotografer bisa mengerti benar keadaan subjek dalam foto. Apalagi dengan focal length 85mm, berarti foto ini diambil dari jarak jauh. Tidak ada kedekatan dengan objek foto. Fotografer hanya ‘mencuri’ sepotong waktu lalu di’dandani’ kemudian.  Foto itu jadi terasa sangat dingin dan berjarak.

Kalau pun saya salah, dan ternyata si fotografer sudah melakukan pendekatan terhadap ibu dan anak itu – dengan mengobrol misalnya – tapi mengapa tidak diceritakan barang sedikit. Nama pun tidak ada. Di keterangan foto hanya ditulis keterangan teknis mengenai komposisi serta sapaan kepada para pengunjung foto tersebut.

Mengenai ibu dan anak dalam foto tersebut saya teringat berita-berita mengenai pengemis dan anak bayi. Para pengemis kerap menyewa anak kecil, biasanya balita, untuk diajak mengemis di jalan guna mendongkrak rasa belas kasihan orang-orang, sehingga lebih cepat dan mungkin lebih banyak memberikan uang[ii].

Saya melihat suatu komodifikasi bertingkat di sini. Si ibu dalam foto mengeksploitasi ketidakberdayaan bayi untuk menimbulkan rasa kasihan orang-orang yang lewat di depannya. Kemudian si fotografer menggunakan keadaan ibu dan anak itu untuk menimbulkan simpati para pengunjung forum, sehingga ia dipuji, diberi apresiasi dan bahkan foto ini menjadi foto pilihan editor. Sehingga foto ditampilkan di halaman depan selama sehari penuh. Pastinya hal ini menimbulkan kebanggaan bagi si fotografer. Menimbulkan rasa senang. Rasa senang akibat penderitaan orang.

Komodifikasi dapat diartikan sebagai suatu bentuk transformasi dari hubungan, yang awalnya terbebas dari hal-hal yang sifatnya diperdagangkan, menjadi hubungan yang sifatnya komersil[iii]. Dalam hal ini, kemiskinan menjadi sesuatu yang digunakan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Entah itu yang bersifat materi atau pun yang psikologis, misalnya penghargaan, pengakuan atau reputasi.

Di negara yang sedang berkembang ini, dimana jurang pemisah antar kelas sosial begitu jelas terlihat, kemiskinan sepertinya sudah tidak ayal lagi jika dijadikan komoditas bagi beberapa pihak. Acara-acara reality show di televisi yang menampilkan kemiskinan, misalnya, tiba-tiba banyak bermunculan dan sialnya mendapat perhatian banyak pemirsa. Kemiskinan dikemas sedemikian rupa sehingga bisa menumbuhkan iba pemirsa sehingga rating meningkat. Si miskin dikerjai, diberi sejumlah uang lalu harus dihabiskan pada waktu tertentu. Si miskin dipaksa bertukar peran dengan keluarga kelas menengah ke atas, mencicipi kehidupan yang serba ada lengkap dengan gaya hidup yang serba modern. Kemiskinan menjadi objek kreasi media untuk dijadikan ladang uangnya.

Wisata ‘berburu’ derita

Tak lengkap rasanya jika berkumpul dengan sesama pegiat fotografi namun tidak pernah motret bareng. Untuk itu, acara-acara ‘hunting’ foto bersama pun kerap diselenggarakan oleh para anggota. Dari mulai motret model di studio atau di tempat-tempat khusus, motret keliling pemandangan hingga motret berkeliling kota. Sebagai salah satu anggota di forum ini sejak tahun 2007, tak jarang saya mengikuti acara tersebut, terutama sesi foto keliling kota.

Ternyata benar adanya, dari sekian banyak objek perkotaan, beberapa fotografer selalu tertarik untuk menghampiri pengemis atau anak jalanan untuk sekedar mengambil fotonya. Dari yang saya amati, mereka memang hanya menghabiskan waktu sebentar, secepat satu-dua frame diambil. Melihat kejadian ini saya jadi seperti sedang melihat orang yang tengah berwisata di kebun binatang, menghampiri binatang yang mereka suka lalu memotretnya, tanpa interaksi (karena tidak mungkin kita berinteraksi dengan binatang). Selain itu, istilah ‘hunting’ atau ‘berburu’ yang kerap digunakan lebih merujuk pada suatu pencarian, pengejaran, dan biasa dipakai jika binatang menjadi objeknya dan hutan menjadi tempatnya.

Pengemis atau pun pemulung sepertinya juga sudah terbiasa dengan tingkah para fotografer ini, bahkan di seputaran Kota Tua, Jakarta, ada sepasang suami-istri pemulung yang kerap menawarkan diri untuk difoto. Hal ini jelas menjadi berkah bagi para pehobi foto. Mereka tidak perlu repot-repot mencari, bahkan mereka bisa meminta kedua pemulung tersebut untuk berpose, sebagaimana memotret model di studio.

Tak hanya itu, bagi para pehobi foto, bencana ialah saat yang tepat untuk ‘berburu’ foto.  Saya pernah melihat kebakaran rumah tidak jauh dari tempat saya tinggal. Disana terlihat begitu banyak orang datang, berkerumunan, untuk menyaksikan kebakaran ini. Di antara orang-orang itu adalah beberapa anak muda, rata-rata gondrong, maju mendekat ke tempat api dan memotret. Ya, mereka memotret peristiwa kebakaran itu. Mereka memotret seperti sedang memotret sebuah festival. Begitu semangat.

Seorang kawan juga pernah mengajak saya pergi ke Jogja saat Gunung Merapi meletus. Selain untuk sekedar berjalan-jalan, alasan lain ia ingin ke sana adalah memotret situasi pasca bencana tersebut. Bencana adalah momen yang baik untuk memotret, mendapatkan foto yang humanis dan dramatis.

Foto bisa merubah keadaan?

Riset kecil-kecilan saya lakukan dengan mewawancarai beberapa fotografer yang memiliki foto bertema kemiskinan. Alasan mereka nyaris serupaa yaitu untuk memberi tahu publik, bahwa ada penderitaan di luar sana. Lebih jauh lagi mereka berharap bisa membangkitkan rasa kemanusiaan lalu mendorong orang untuk kemudian membantu penderitaan subjek yang di foto tersebut..

Susan Sontag dalam buku terakhirnya, Regarding the Pain of the Others memiliki kegelisahan yang sama. Ia menuliskan tentang foto-foto perang yang banyak tersebar di media massa. Awalnya, fotografi diharapkan bisa ikut menghentikan perang, dengan pendistribusian citra kekejaman perang kepada publik sehingga menyulut rasa kemanusiaan. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, fotografi  (dalam media massa) justru menumpang hidup pada perang. “If it bleeds, it leads” begitulah ungkapan yang diberikan Sontag untuk fenomena ini[iv]. Fotografer berburu foto-foto peristwa berdarah yang tragis nan dramatis untuk bisa merebut perhatian massa. Untuk meningkatkan penjualan medianya.

Menghadapi penderitaan manusia memang membawa keadaan dilematis bagi fotografer, terutama pewarta foto. Di satu sisi, memotret peristiwa penuh derita itu diperlukan untuk kemudian diinformasikan kepada publik. Mengabarkan bahwa di luar sini ada kejadian. Kita tidak bisa diam begitu saja. Namun di lain sisi, memotret justru menunjukkan ketidak berdayaan fotografer untuk membantu secara langsung.

Kondisi seperti itu  pernah dirasakan oleh Kevin Carter, pewarta foto yang memenangkan penghargaan Pulitzer di tahun 1994 atas fotonya yang berlatar di Sudan pada 1993. Foto tersebut menampilkan seorang anak yang kering kerontang terpuruk di tanah, tidak jauh dari situ ada burung pemakan bangkai yang seolah sedang menunggu anak tersebut meninggal. Suatu keadaan yang mengharukan. Foto tersebut menuai banyak kritik. Mengapa Kevin tidak menolong anak itu,  mengusir burung lalu membantu anak itu ke camp penampungan PBB (diketahui bahwa sebenarnya si anak sedang berusaha untuk menuju ke camp tersebut). Kevin pun dihantui rasa bersalah. Dua bulan setelah menerima Pulitzer, ia bunuh diri dengan menggunakan karbon monoksida. “I’m really, really sorry. The pain of life overrides the joy to the point that joy does not exist.” Tulis Kevin dalam sebuah kertas yang ditemukan di kursi mobilnya. Sebuah penyesalan yang sangat mendalam[v].

Bayangkan, seorang pewarta foto kelas dunia saja merasa gelisah dan bersalah sedemikian rupa dengan apa yang dilakukan terhadap penderitaan manusia. Ia bersenang-senang di atas penderitaan si anak itu atas penghargaan Pulitzer yang diterimanya.  Padahal ia bisa dan sudah berhasil menyulut rasa kemanusiaan para pemirsa foto itu. Sementara kita, para fotografer yang masih berada pada tahap hobi, foto-foto kita hanya sampai di galeri online komunitas, bukan media massa. Begitu senangnya, kita menjadikan penderitaan sebagai objek kita dalam bermain-main atas nama seni, dengan alasan untuk belajar fotografi.

Perkembangan teknologi membuat distribusi foto menjadi sangat mudah dan cepat. Foto sanggup disebarkan secara real time ke seluruh penjuru dunia melalui media massa, internet misalnya. Sekali foto diunggah di dunia maya, maka foto  – beserta manusia-manusia yang menjadi subjek dalam foto tersebut -  dapat dilihat oleh massa. Penderitaan manusia-manusia tersebut pun dipertontonkan.

Melihat komentar-komentar yang diberikan pada foto-foto kategori human interest di FN ini  pun saya jadi ragu kalau foto seperti ini membangkitkan rasa  kemanusiaan. Bahkan tak jarang, yang justru mengomentari foto tersebut sebagai foto. Mengomentari perihal teknisnya. Seperti sebuah lukisan yang fiktif. Padahal foto menyimpan, merekam kenyataan yang sesungguhnya pernah terjadi.  Pada foto Prasetyo Utomo misalnya, hingga tulisan ini dibuat, foto tersebut memperoleh nilai 733 dan telah dilihat 894 kali. Jika dilihat dari komentar-komentar yang diberikan, kebanyakan hanya seadanya. “Mantab”,”Keren”,”nice picture”, “Sangat menyentuh, saya suka fotonya”. Tidak lebih dari 10 kata bahkan. Ya, foto penderitaan seperti ini dibilang bagus, keren, dan mantap. Sebuah kontradiksi.  Terlihat juga beberapa yang menyatakan diri benar-benar tersentuh melihat keadaan dalam foto tersebut. Namun hanya sedikit. Sisanya, jika dilihat dari panjang komentar yang diberikan, hanya menghabiskan beberapa detik untuk melihat foto ini. Alih-alih mengurangi penderitaan, dengan fotografi kita malah memunculkan penderitaan lain. Semakin sering kita melihat suatu hal semakin mudah kita terbiasa atau bahkan bosan dengan hal tersebut. Itulah hal yang saya takutkan, kita menjadi kebas, mati rasa terhadap penderitaan yang kerap dipertontonkan melalui fotografi. Menganggap ihwal penderitaan ialah hal yang sudah biasa dan nanti berlalu.

Dibutuhkan mata yang mendengarkan

Foto adalah sebuah pesan tanpa kode[vi]. Foto hanyalah sepotong kecil dari realita. Foto tak mungkin bisa memberikan informasi yang banyak mengenai suatu peristiwa. Foto tidak bisa menceritakan apa yang terjadi sebelum dan sesudah kejadian pada foto tersebut. Oleh karena itu,  citra fotografis sangat ditentukan oleh pengalaman dan pengetahuan dari orang yang memandanginya. Pengetahuan dan pengalaman serta daya serap itu lah yang memungkinkan orang menggali lapisan makna yang tersimpan dalam tiap objek dan subjek yang ditampilkan pada foto. Melihat komentar-komentar yang diberikan pada foto-foto penderitaan tersebut. Dapat disimpulkann bahwa kebanyakan dari kita, manusia, tidak memiliki literasi visual yang cukup. Kita hanya tertarik untuk mencerna citra umum foto, tanpa mencoba menguak hubungan-hubungan antar objek dengan konteks sosial.

Dalam kajian modernitas kapitalistis-konsumeristis, seperti yang dituliskan oleh F. Budi Hardiman, penderitaan menjadi sebuah objek yang disajikan, menjadi sebuah komoditas yang dapat dikonsumsi, dijual dan dinikmati massa. Para konsumen pun melihat foto-foto tersebut dalam literasi visual yang seadanya. Hanya sekedar melihat tidak menjadi merasa ingin ‘dekat’ dengan penderitaan. “Melihat, bukan untuk memahami yang dilihat, melainkan hanya untuk melihat” begitulah ungkap Heidegger yang dikutip oleh Hardiman[vii].

Hardiman pun menambahkan pentingnya “mata yang mendengarkan” untuk bisa memahami penderitaan orang lain tersebut. Penglihatan yang digerakkan oleh hati. Dengan begitu kita tidak akan menikmatinya, tidak mengintipnya, dan tidak sekedar melihat untuk melihat, melainkan membiarkan subjek dalam foto tersebut berbicara.

Oleh karena itu, internalisasi dengan keadaan sekitar serta pada subjek yang menderita menjadi hal yang sangat penting.  Melalukan riset atau pendekatan terlebih dahulu terhadap subjek yang akan difoto akan menjadi lebih baik. Sejatinya, karya seni rupa yang dibuat untuk merespon suatu fenomenan akan terasa hambar jika tidak didahului sebuah pengamatan mendalam, keterlibatan, dan internalisasi.   Dengan melakukan pengamatan kita bisa lebih tahu hal-hal apa yang perlu diekpos dan hal yang tidak perlu, sehingga kita dapat memanusiakan manusia, bukan sekedar menjadikannya sebagai unsur simbolis pelengkap estetika.
Beberapa bulan lalu, saya menghadiri seminar fotografi yang diisi oleh salah satu pegiat serta pemikir fotografi, Yudhi Soerjoatmodjo, ia mengatakan bahwa foto itu adalah medium dua dimensi. ‘Kehadiran’ atau keterlibatan sang fotografer dalam foto lah yang  menjadi dimensi ketiga yang membuat foto menjadi hidup. Hal ini tidak akan kita dapatkan jika hanya menghabiskan waktu secepat rana menangkap cahaya.

Ketika kita tidak yakin untuk bisa benar-benar merasakan penderitaan, lebih baik simpan kembali kamera kita.

________________________________________
[i] http://www.fotografer.net/isi/anggota/ , diakses  pada 8 Juli 2011.
[ii] Soebijoto, Hertanto. Dari Baju Dinas Sampai Sewa Balita. Kompas.com, Senin, 6 September 2010.  http://megapolitan.kompas.com/read/2010/09/06/09393154/Dari.Baju.Dinas.sampai.Sewa.Bayi. diakses pada 8 Juli 2011
[iii] http://www.marxists.org/glossary/terms/c/o.htm. Diakses pada 8 Juli 2010
[iv] Sontag, Susan. 2003. Regarding The Pain of The Others. United State: Farrar, Straus and Giroux.
[v] Macleod, Scott. Johhannesburg. The Life and Death of Kevin Carter . http://www.time.com/time/magazine/article/0,9171,981431,00.html#ixzz1RS2iSgQ1. Diakses pada 9 Juli 2011
[vi] Barthes, Roland.2010.  Imaji, musik, teks. Yogyakarta: Jalasutra

[vii] Hardiman, Budi. F. 2007. Nafsu Mata Atas Derita.  Jurnal Kalam, 23


---
Tulisan ini dibuat sebagai tugas akhir Workshop Penulisan Kritik Seni Rupa dan Budaya Visual yang diadakan oleh Ruangrupa di tahun 2011. Pertama kali dimuat di situs Jarakpandang.net . Di-pubslish di blog ini atas nama pengarsipan




Thursday, July 14

Bosan di lalu lintas lalu apa? lalu iseng biar seneng.

Siapa yang setuju kalau lalu lintas kota itu membosankan? Saya!!!. Pasti kalian juga merasakan hal itu. Karena saya tau kalau kalian adalah anak-anak muda yang dinamis nan produktif, pastinya mobilitas kalian sangat tinggi. Tul kan?!.

Begitulah lalu lintas, hiruk-piruk. Jalan macetnya kebangetan, padahal udah dilumuri oli. tapi tetep aja masih macet. Orang-orang juga begitu, berubah jadi egois kalau udah ada di atas motor. Yang ada di pikirannya adalah sampe ke tempat tujuan secepat mungkin. Padahal ‘mungkin’ aja nggak cepet-cepet amat. Ahh..

Dari pada termakan oleh kebosanan itu, mending kita nikmatin aja. Nah, saya ada beberapa ide iseng yang bisa menghibur diri  di kala macet. Boleh di coba, boleh enggak. Kalo saya sih, udah beberapa kali nyoba. manjur bikin ngakak dalam hati. haha. Sesungguhnya nahan ketawa itu lebih indah ketimbang menahan rindu. wek.

Wednesday, July 6

mencuci rol film misterius, bertemulah saya dengan foto-foto belasan tahun lalu.

Foto memang memiliki kekuatan yang dahsyat. Ia bisa mematahkan keegosian waktu. Waktu adalah sesuatu yang terus berjalan. Selalu bergerak maju, tidak mungkin mundur, tak pernah berhenti. Waktu selalu menghancurkan apa yang dilewatinya. Kita tidak pernah bisa meraih apa yang sudah ditinggalkan waktu. Tapi fotografi, dengan kekuatannya dapat membekukan waktu. Foto  bisa menghentikan waktu dan kembali ke masa lalu, menghadirkan ulang realita yang sudah ditinggalkan waktu. Bahkan realitas yang kita tidak sadari pernah terjadi.
 
Saya baru saja pulang dari lab foto. Mencuci dan menscan empat rol film. 3 rol diantaranya adalah 3 rol film yang saya temui tercecer di rumah. Di laci tempat barang-barang tidak dipakai lagi dan di kamar si Mamah.
 
Ajaib. Ternyata rol film masih bisa dicuci. Padahal saya yakin ini adalah rol film lama. Fuji Super HG II merk filmnya.Merk yang belum pernah saya liat sebelumnya.
 
Nyengir nggak karuan menjadi reaksi pertama saat saya melihat negatif (klise) foto. Foto-foto ini banyak menampilkan anak kecil. Mungkin adik saya waktu kecil. Tapi ternyata bukan. Melainkan foto-foto saya waktu kecil. Kira-kira umur saya masih tiga atau empat tahun kali ya. Haha.

This is how it _ _ _

video


hufft

Monday, July 4

Mari belajar hidup tanpa rencana!

Pagi tadi saya membaca sebuah artikel mengenai Benyamin Sueb. Artikel tersebut mengulas secara singkat profil dan perjalanan karirnya di jagat kesenian betawi. Ada kutipan yang menarik dari cerita bang Ben disitu. Konon, saat ditanya mengenai apa cita-citanya saat hidup dia menjawab “tergantung kondisi,”. Hmm, membaca tulisan itu mengingatkan saya pada perenungan yang saya lahirkan tiap kali banyak cita-cita saya yang selalu bentrok dengan situasi, tidak sejalan dengan realita. Perenungan saya menghasilkan sebuah pemikiran yang berbau tantangan yaitu untuk hidup tanpa rencana.

Pernyataan ini berdasarkan berbagai macam pengalaman yang saya alami. Mulai dari hal yang remeh hingga yang besar, terlalu berrencana itu tidak baik. Merencanakan liburan misalnya, ini adalah polemik yang kerap terjadi. Berkali-kali saya dan teman saya membuat rencana berlibur. Kita sudah survey tempat menginap, rute dan waktu perjalanan, serta hal-hal yang bisa dilakukan. Tanggal juga sudah ditetapkan. Dua tiga bulan ke depan biasanya.  Tapi saat tanggal mulai mendekat selalu timbul pertanyaan. “Jadi nggak nih?” lalu dijawab “Hm, tau deh, kayaknya jangan sekarang deh. Gue harus ini. Harus itu". Yak, rencana gagal.

Saya pun berkesimpulan bahwa liburan yang spontan itu pasti lebih uhuy. Tidak mesti dadakan banget, sih. Intinya, jangan berrencana dari jauh hari. Ajak temen liburan. Tentukan tujuan. Besok pagi berangkat. Waktu pulang ditentukan kemudian. hal-hal yang mengejutkan pasti banyak ditemukan diperjalanan. Dan pastinya akan lebih gemas untuk diceritakan.