Tuesday, March 22

Mencari Cerpen Eka Kurniawan


Dalam tulisannya Linda Christanty, disebutkan bahwa Eka Kurniawan adalah pembaca majalah HAI, di masa mudanya. Nah, diceritakan, Eka yang sejak saat itu sudah menulis, tak bisa membuat cerpennya lolos dan dimuat HAI. 

Nyatanya, pernah. Barangkali Eka lupa. Dari buku Corat-Coret di Toilet saja, disebutkan ada 3 cerita pendeknya yang pertama kali terbit di majalah HAI.

Cerpen Teman Kencan ini lah salah satunya. Dimuat di HAI edisi 44 tahun 1999. Kala itu, rubrik cerpen HAI kerap diisi oleh penulis terkenal (atau yang kemudian terkenal). Contohnya Golagong dan Hilman

Mengetahui Eka pernah menulis untuk HAI saya ge'er. Merasa dekat. Selain Eka, Dewi Lestari penulis favorit saya juga, pernah menulis untuk HAI. Dan sama kayak Eka, di suatu sesi talk show Dee pernah bilang kalau di masa mudanya cerpennya selalu ditolak majalah. Dia lupa HAI pernah memuat salah satu cerpennya yang kemudian masuk ke Recto Verso

Ini cover-nya. Ya, majalah HAI jadi andalan soal liputan konser. 


Eka Kurniawan, lewat blognya, bilang kalau cerita-cerita di Corat-Coret di Toilet ini lebih sederhana dibanding kumpulan cerita pendek dari penulis seangkatannya (Dua di antaranya adalah Dewi Lestari dan  Linda Christanty), ditulis main-main, dengan teknik yang secara sembrono dicuru dari sana-sini.

Saya heran. Betapapun ditulis main-main begitu, saat pertama baca saya terkesiap serius. Suka! Saya membelinya pada Januari, di toko buku lantai dasar kantor Kompas Gramedia cabang Palmerah. Beli dengan diskon 20% karena saya karyawan. (Ya, kartu karyawan bagi saya lebih sebagai kartu diskon jajan buku ketimbang tanda pengenal. Hihi)

Cerita yang pertama saya baca tentu yang terawal: Peter Pan. Saya baca di jok belakang Gojek yang mengantar saya ke Kebon Jeruk. Di rumah, sepulang kerja saya  baca tiga selanjutnya: Dongeng Sebelum Bercinta (duh, saya suka sekali cerita ini), Corat-coret di Toilet, dan yang terakhir saya baca Teman Kencan. 

Keesokan harinya, di kantor, saya membuka-buka lagi. Lompat ke halaman belakang, membaca tulisan penutup dari penulis. Diceritakanlah riwayat cerpen-cerpen tersebut. Saat itulah saya jadi tahu, ada tiga diantaranya yang pernah dimuat di majalah HAI. Sontak, saya langsung berlari ke meja mas Muluk, ahli arsip majalah HAI.

"Mas, majalah lama datanya udah di komputer kan? bisa di-search? gue pengen liat HAI tahun '90-an."
"Bisa, tapi belum semua sudah ada PDF-nya."

Sungguh saya nggak mengharap sampai ada format PDF-nya. Dibantukan cari bundelnya saja di ruang perpustakaan sudah untung.

Sekarang, sebulan setelahnya saya ditimpa sial. Saya lagi pengen banget lanjut baca lagi buku itu, tapi entah di mana saya menyimpannya. Lupa sama sekali. Saya jadi ingat, ini adalah buku kedua yang hilang sama sekali. Lenyap ke antah berantah. Nggak tau penyebabnya. Buku lainnya adalah buku Everything is Connected bikinan Keri Smith. 

Lebih dari itu, saya pengen baca cerpen-cerpennya Eka lagi.

Akhirnya saya telusuri di internet, ada satu-dua blog yang menyalin cerpen-cerpen Eka yang pernah dimuat di koran. Saya membacanya. Lalu saya juga jadi lompat ke blognya Eka. Saya yakin, semua penggemar Eka pasti bersyukur punya idola yang rajin banget mengeluarkan uneg-uneg kesehariannya di blog. Kita bisa tau buku-buku apa saja yang dibaca Eka dan mengapa dia suka. Dan kita jadi bisa tau, ternyata sastrawan sekelas Eka juga suka jadi baper. 

Tulisan-tulisan Eka bikin saya jadi baper. itu tentu. dan sekarang saya laper. Pengen melahap Corat-coret di Toilet. Tapi, BUKUNYA DIMANA?!! Apa iya saya harus beli lagi? Atau pinjam dengan konsekuensi nggak bisa menandai buku, dan menandatanganinya? tidakkah bisa Google dipakai untuk mencari barang-barang yang lupa disimpan di mana. Huu


Sunday, March 13

Baterai Bisa Habis, Tapi Kebaikan Kita Tidak.


  • "Permisi, mbak. Saya bisa minta tolong nggak. Saya perlu nge-charge hape. Ada charger atau powerbank yang bisa dipinjam? saya perlu ngabarin teman saya."

  • "Mas, itu powerbank yang di-charge punya mas yah? Saya boleh pinjem nggak? Sebentar aja kok. Cuma untuk mesen Gojek"

  • "Eh.. yaah. Hape lo iPhone yah. Tolong pinjemin charger Android dong ke temen di kelas lo. Hape gue mati banget. Yah!" 

  • "Bang, baterai hape saya low banget nih. Nanti langsung ke sini aja yah. Saya pake jaket biru, berkaca mata." 

  • "Lo bisa sampai situ jam berapa? nanti langsung ketemu aja yah. Baterai hape gue low parah." 

  • ... dst. 

Ada yang pernah mengukur seberapa sering hujan turun di 2016 ini? berapa pun itu, saya rasa, jumlahnya masih kalah dengan jumlah kejadian saya kehabisan baterai hape di saat masih membutuhkannya. 

Satu jam sebelum tulisan ini dibuat pun, saya mengalaminya. Di pukul 23.00, saya  menghampiri seorang polisi yang lagi asyik sama hapenya. Di belakangnya saya lihat ada powerbank sedang diisi dayanya.

Ini dia yang gue cari-cari. Dan langsunglah saya meminta izin untuk meminjam charger-nya.

Saya sering bermasalah sama baterai hape. Bukan karena baterainya bocor, melainkan karena dua alasan ini: Pertama, saya males nge-charge. Seharusnya tiap malam itu hape di-charge, tapi karena jarak colokan dan tempat saya tidur jauh, sementara saya selalu megang hape sebelum tidur, alhasil lebih milih untuk nggak di-charge. Di paginya, ya udah sibuk siap-siap untuk kerja. 

Alasan kedua, saya ogah-ogahan bawa charger atau powerbank.  Alasan ini berasal dari prinsip sok iye, yaitu: "kalau baterai hape udah habis ya itu berarti tanda kalau saya udah cukup berkutat sama hape di hari itu." 

Tentu, prinsip itu nggak salah, asalkan alasan pertama saya itu nggak ada. Ya, kan?

...

Di satu sisi, saya sering kesal sendiri ketika hape tiba-tiba mati suri. Gregetan bin panik. Tapi di satu sisi, saya kok malah semacam suka sama sensasinya. Menantang dan bikin senang, karena: 
  • Harus mikir cara irit baterai
  • Berpikir keras mencari dimanakah saya bisa mendapatkan tumpangan listrik dan charger. 
  • Jadi kenalan sama orang yang kemudian meminjamkan charger atau powerbank-nya itu.

Kejadian gini menyadarkan saya. Nyatanya, kita (atau saya) terlalu terkungkung sama pikiran bahwa orang asing yang tiba-tiba menghampiri dan memohon sesuatu, biasanya berujung tindakan yang merugikan (baca: kriminal). Pengalaman saya sering minta tolong sama orang ini membuktikan kalau masyarakat kita ini baik-baik saja. Kita bisa untuk nggak sesungkan dan sekaku itu dengan sesama, walaupun awalnya asing. 

Pun, kita bisa nggak setraksaksional itu. Ketika meminta bantuan, tak melulu kita harus menyediakan sesuatu sebagai bayaran. 

...

Selain numpang nge-charge saya juga pernah beberapa kali minta nebeng ke motor yang lewat saat saya sedang jalan kaki untuk ke depan komplek, atau minjem telpon-SMS ketika hape saya tertinggal. 

Jadi, jangan ragu untuk minta tolong ke orang asing, dan lepaskan kecurigaanmu saat ada orang asing mendatangimu untuk meminta tolong hal-hal kecil sekali pun. 

Barangkali, saya nggak bisa rajin bawa charger tiap saat. Tapi saya selalu bawa helm dua, kok, tiap pergi naik motor. Jadi, kalau ada yang mau tiba-tiba nebeng, jangan ragu! Bayarannya, ditraktir obrolan aja cukup kok. :)






Sunday, March 6

Janji Televisi



Gini ceritanya, suatu hari, saya liputan di sebuah kantor kementerian. Ada narasumber yang perlu saya kejar, dan dia akan mengisi materi di seminar di kantor itu. Nggak banyak media yang meliput, sepantauan saya, hanya ada tiga wartawan. Saya, seorang wartawan TV, dan seorang ibu yang katanya wartawan organisasi penyelenggara seminar tersebut

Narasumber saya datang. Saya pun menghampirinya. Dua wartawan lain tadi ikut juga. Kami mewawancara si pejabat itu secara door stop, sebelum dia masuk ke ruang seminar, dan mengisi materi. Kami bertiga mewawancara barengan

Dan di sinilah menariknya. Saat itu, karena ada wartawan televisi, si narasumber nggak berdiri sendiri di depan kamera. Para petinggi organisasi ikut nempel, berdiri menghadap kamera. Betapapun yang diwawancara cuma satu orang

Sambil konsentrasi memerhatikan jawaban dan menyiapkan pertanyaan, mata saya memerhatikan, jumlah orang yang nempel makin banyak. Tadinya hanya satu, lalu datang dua pria lagi berdiri di belakangnya. Lalu pria muda ikut datang juga, berdiri di samping si bapak. Bahkan, si pria muda ini sempat meminta difotokan dalam pose (seolah) sedang mendampingi pejabat diwawancara televisi. Ya, masuk tivi saja nggak cukup!

Itu belum seberapa mengagetkan dibanding ulah si ibu wartawan organisasi. Ketika wawancara baru berjalan sekitar dua menit, ponsel perekam yang tadinya ia pegang, ia SELIPKAN ke jari-jari tangan saya yang padahal ia tahu bahwa di tangan saya sedang memengang ponsel perekam juga. "nitip ya dek,"katanya singkat dan tak sempat saya jawab

Dalam keheranan campur sebal yang menyeruak memecah konsentrasi saya yang sedang mewawancara, mata saya mengikuti kemana si ibu pergi. Tahukah kamu si ibu melipir dari hadapan narsum menuju rombongan orang-orang yang mendampingi wawancara itu. Dia ikut berpose lalu minta difoto juga oleh temannya

Astaga

Betapa oh betapa, televisi adalah bingkai realita, dan masyarakat kita tahu betul kalau bisa masuk ke dalam siarannya bikin dunia tahu kalau kita ada. kesempatan menciptakan citra lewatnya, adalah cara kita jadi manusia bahagia.

---