Friday, December 16

Same Street Different Way


Haha. Melihat gambar denah yang saya lampirkan pasti kalian udah bisa nebak saya mau cerita soal apa. Ya, Rabu minggu lalu, 7 November 2011, saya mempunyai sebuah pengalaman yang sedikit absurd.Saya memang sering nyasar dalam menuju ke suatu tempat. Tapi kali ini berbeda rasanya, saya sepenuhnya merasa jalan yang saya lalui benar, tapi tata letak ruang mengecoh saya.

Hari itu sebelum datang ke kantor saya menyempatkan diri untuk mampir ke Harco Manggadua. Tempat servis resmi laptop Dell adalah tujuan utama saya. Karena saya tidak mau menyita banyak waktu, sebelum saya berangkat saya menghapal alamat tempatnya sekenanya dan mencatat nomor telpon tempat tujuan.

Singkat cerita sampailah saya di Harco Mangga Dua. Tanpa basa-basi, saya pun menelpon tempat servis itu. Dan di sini lah semua peristiwa super absurd itu berlangsung.

Sunday, December 11

Parkour: Seni Gerak Yang Kaya Nilai


Far magazine edisi 16, Desember 2011

Berawal dari ikut ayahnya yang seorang pemadam kebakaran latihan melewati halang rintang, David Belle kemudian mengaplikasikan teknik-teknik tersebut di lingkungan sehari-hari di Prancis sana. Dari situ lah, Parkour sebagai seni berpindah tempat yang mengutamakan efisiensi dan efektifitas berkembang. Hingga kini, disiplin ini sudah ditularkan nyaris ke semua negara, termasuk di Indonesia. 
Parkour mulai dikenal Indonesia mulai masuk di tahun 2007. Di tahun pertamanya Malang, Bandung, Yogya, Surabaya dan Jakarta menjadi lima kota pertama yang mulai menggeluti kegiatan Parkour ini. Melalui obrol-obrol lewat forum di dunia maya akhirnya mereka bersatu membentuk Parkour Indonesia. Dari situ lah 17 Juli 2007 pun dimantapkan sebagai hari jadi Parkour Indonesia. Kini, nyaris disetiap kota-kota besar di Indonesia memiliki organisasi parkournya.   

Di Jakarta sendiri, komunitas Parkour-nya dimulai oleh segelintir orang saja. Di antaranya  adalah Fadli dan Daniel. Dari segelintir orang tersebut, kini mereka sudah menarik peminat lebih banyak. Menurut pendataan yang dilakukan pada Mei kemarin, ada sekitar 60 anggota tetap yang tergabung. Kalau dihitung jumlah orang ikut berlatih, Daniel menyatakan jumlahnya bisa lebih dari seribu orang. Menariknya lagi, para anggota ini tidak dibatasi umur dan jenis kelaminnya. Bahkan anak kelas 1 SD pun pernah gabung latihan. 

Ironi Kondisi Pangan di Tanah Surga.

Far Magazine edisi 16, Desember 2011


Di tahun 70-an Koes Plus menciptakan lagu Kolam Susu. Sebuah lagu manis yang bercerita tentang kemakmuran Tanah Air Indonesia. “Orang bilang tanah kita tanah Surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman,” begitulah salah satu bait liriknya. Kini, 30 tahun setelahnya, saya mendengarkan lagu itu. Masih manis terdengar memang, namun, jika bait-bait liriknya  saya hubungkan dengan situasi sekarang kok seperti ada yang mengganjal. Sebutan sebagai negara agraris sepertinya belum lepas dari Indonesia, tapi mengapa isu-isu tentang kelaparan, kekurangan gizi dan kemiskin selalu ramai menjadi berita?

Ketika saya menuliskan ini, belum genap sebulan kita menyudahi bulan Ramadhan. Tak ayal jika nuansa serta memorinya masih lengket hinggap di kesaharian kita. Isu kuliner seolah menjadi selebritis yang kerap dibicarakandi bulan yang katanya penuh berkah itu. Dari mulai makanan sahur, kolak untuk buka puasa, sirup rasa buah, kue lebaran, opor ayam, hingga beras untuk zakat kerap bulak-balik dalam pikiran. Sejumlah ritual makan bersama pun tidak pernah luput mewarnai gaya hidup kita masyarakat perkotaan. Makanan menjadi medium untuk kita berkumpul mengatasnamakan silaturahmi. Buka puasa bersama di restoran mewah, acara sahur on the road, hingga open house  saat lebaran. 

Tuesday, December 6

Indonesia Meleleh





The Proses adalah satu dari empat karya Aditya Novali yang tergabung dalam seri Identifiying Indonesia. Karya ini berupa peta Indonesia yang dibentuk dari logam ditampilkan pada sebuah kotak. Awalnya, di sekujur tubuh Indonesia di situ dibalut oleh lilin merah. Para pengunjung tidak akan menerka bahwa karya ini spesial sampai akhirnya lilin merah itu luntur secara perlahan. Ternyata permukaan 'tubuh' Indonesia itu dipanaskan oleh aliran listrik. Tetes demi tetes lilin meleleh. Ya, Indonesia meleleh. Warna merah yang kita anggap sebagai lambang dari keberanian luntur perlahan dari tubuh negeri ini. Keberanian Indonesia meleleh, tidak kuat  menahan sengatan-sengatan elektris persoalan bangsa yang kian memanas. Ah, semoga kita tidak benar-benar menyerah.