memangterlalu
Tampilkan postingan dengan label memangterlalu. Tampilkan semua postingan

18 November 2011

Mencari Ulang Esensi Berkomunikasi Lewat Kartu Pos


Kehadiran media sosial di dekade ini membawa perubahan yang sungguh signifikan pada kehidupan kita. Selayaknya bedol desa, kita semua bertransmigrasi ke dunia maya. Hehe,  nggak sepenuhnya pindah sih,  tapi kita selalu menyempatkan diri  untuk berada di media sosial yang maya itu. Kita seolah menggandakan diri.

Tahun demi tahun kita lewati dengan cara baru bersosialisasi ini. Pak De Marshall McLuhhan, seorang pakar komunikasi, pernah berkata lewat bukunya yang nggak usah kalian tahu lah apa judulnya, saya juga lupa. “Manusia mencipta alat (teknologi), lalu alat itu balik mencipta manusia,”. Awalnya, manusia mencipta media-media sosial ini tapi coba lihat sekarang, yang terjadi adalah media-media sosial itu lah yang membentuk gaya hidup baru manusia.

Konsep telepati antar dua orang yang bagi masyarakat dekade-dekade silam hanya imajinasi, kini nyaris terwujud. 144 karakter status di Twitter seolah menjadi perpanjangan suara hati dan pikiran kita. Bahkan reseptornya bukan hitungan individu lagi melainkan massal. Kita mambawa privasi ke ranah publik. Banyak orang bisa mengetahui apa yang sedang kita pikirkan, dimana kita sedang berada dan apa yang kita sedang lakukan. Pertanyaan-pertanyaan “Hai, kamu lagi apa, dimana sama siapa?” menjadi pertanyaan yang harus dihindari, karena mungkin saja si lawan bicara menjawab “Kan aku udah update di Twitter, pliis deh, kamu nggakfollow aku yah.. Huh dasar, nggak perhatian!”


14 Februari 2011

Analogue Strikes Back: Sesi Foto Untuk MALU #3








click to enlarge!

Film : Kodak Elitchrome
Cam: Nikon f90x

covernew_428_600
Donlot MALU nya di sini

23 Desember 2009

MALU dan Pencapaian Hidup


Im a magazine boy…

Hati saya selalu terenyuh setiap kali bisa menyelesaikan MALU. Rasanya ada satu harapan yang terbebas setiap kali gua bisa nerbitin majalah kecil ini.

Yah sepertinya kalian udah tahu bahwa MALU ialah majalah fotografi yang saya buat bersama Allan, kawan se atap kosan. Awal kami menerbitkan MALU ialah agar bisa mengekspose karya-karya fotografi sendiri, namun kami melihat bahwa kawan-kawan megiat fotografi juga butuh wadah, maka di edisi terbaru ini MALU sudah benar-benar menjadi majalah yang menampilkan beberapa karya fotografer muda.

Mudah-mudahan kalian tahu, dan jika kalian belum tahu berarti saya ingin kalian menjadi tahu, (menjadi temannya tempe,) bahwa untuk bisa menerbitkan majalah sendiri ialah salah satu harapan besar yang mulai saya kukuhkan sejak menginjak kuliah. Berawal dari ketertarikan dengan majalah-majalah indiependen, sejak SMA saya selalu mengumpulkan, hingga sekarang jumlahnya hampir memenuhi lemari. Saya sangat kagum dengan pemikiran, idealism, serta semangat para pembuatnya. Terasa benar ruh nya di dalam tiap eksemplar. Lalu pelan-pelan saya memelihara mimpi untuk bisa menjadi bekerja di suatu majalah lalu menerbitkan majalah sendiri.
© blogrr
Maira Gall