26 Agustus 2015

Ikut Wisuda atau Nggak, Yah?


Wisuda Universitas Indonesia ternyata cukup merepotkan. Gimana nggak, wisudanya dibagi menjadi dua sesi. Tak apalah kalau dua sesi itu ada di hari yang sama, lah, ini, ada di dua hari yang berbeda. Jadi, kami, para wisudawan dituntut untuk meluangkan waktu dua hari hanya untuk merayakan kelulusan. Bisa saja kami memilih untuk ikut salah satunya, tapi, apa siap rugi?

Sesi pertama adalah gladi resik, dijadwalkan hari ini, Rabu (26/08). Ya, betul hari kerja! Jangan kira ini adalah gladi resik yang sekadar formalitas, yang tak apa jika tak dihadiri. Nyatanya, nama gladi resik ini hanya embel-embel. Sebenarnya, ini adalah wisuda sesi 1. Pasalnya, ada prosesi penting, yaitu pemanggilan tiap wisudawan untuk naik ke panggung dan bersalaman dengan rektor dan yang paling pentingnya, berfoto dengan rektor.

Sesi keduanya adalah sesi upacara yang bisa dihadiri undangan, dijadwalkan pada Sabtu (29/08). Di sesi ini seperti wisuda pada biasanya. Orangtua hadir, upacara, dan pidato dari rektor. Sudah terasa kan gimana membosankannya?

Saya dilema. Apakah mesti saya ikuti kedua sesinya? inginnya sih ikut salah satunya saja. Apalagi di hari ini, Rabu, saya mesti kerja. Bisa aja sih ijin, tapi saya yakin jika ijin maka saya sendiri yang kemudian akan repot karena waktu menunda pekerjaan.

Dateng aja, Ki. Sayang, lho, foto-foto! Nggak pengen banget punya foto sama rektor untuk dipajang?!

Ah, gue nggak obsesi banget kok punya foto lagi wisuda. Waktu kuliah sebelumnya aja foto wisudanya nggak ada satu pun yang dipajang. Gue biarin aja menumpuk di laci.

Temen-temen pada dateng, lho, nanti. Bahkan mereka aja pada bela-belain cuti. Pasti bakal seru. Foto rame-rame!

Nah, iya. Gue nggak mau kelewatan momen sama temen-temennya sih. Tapi, tetep males, ah, kalau orientasinya cuma untuk  foto-foto.

Lagi pula, nih, yah. Kalau gue foto-foto, nanti bakal muncul kecenderungan gue bakal ikutan publis ke media sosial. Gue masih belum nerima  kalau kami, para akademisi semangat banget mempublis foto-foto saat wisuda, tapi malu-malu, bahkan merasa nggak perlu mempublis karya-karya tulis selama kuliah, termasuk tugas akhirnya. Menampilkan citra, menyembunyikan isi. Hmmm

Ah! Sok idealis. Emangnya kalau nggak ikut wisuda pun lu akan mempublis paper hasil kuliah lo? Tapi, kan, bokap nyokap lo pasti suka, ki. Lagian kan lo udah bayar. Masa nggak ikut semua sesinya, sih. Kan rugi?


Berencana! tapi masih belum, aja. Tunggu waktu yang tepat. Haha. Alesan banget yah?!

Iya, sih. Pasti diomelin sih kalau mamah tau gue nggak ikutan foto. Tapi tapi tapi. kan pas hari Sabtu juga bisa foto-foto. Walau cuma foto di depan danau UI. Nggak apa-apa lah. Yah, yah?!

Ya ya ya. Jadi gimana?! 

Balik ke tujuan awal deh. Gue kan ikut wisuda utamanya karena mamah. Biar kami punya momen untuk merayakan anaknya lulus dari kuliah yang ia bayari. Jadi, ikut yang Sabtu aja deh. Hehe

Tetep usahain aja. Kalau siang nanti bisa melipir ke Depok, maka lakukanlah! 


Deal!...... eh, tapi kan gue nanti ada liputan.


*Tepok jidat. Jidat nyamuk. Patahin toga*



-Tulisan ke-6 30 hari bercerita-

25 Agustus 2015

Berbahasa Inggris


Saya punya dua ratus tiga puluh juta ribu delapan milyar ratus alasan mengapa saya nggak membiasakan diri berbahasa Inggris. Salah satu alasan yang paling sering saya ucapkan--senggaknya pada diri saya sendiri--adalah karena saya lebih ekspresif dengan bahasa Indonesia: saya bisa memainkan kata-katanya, saya lebih bisa mengeksplor kosa kata, saya lebih bisa merangkai kalimatnya. Alasan itu diperkuat karena memang saya bekerja menulis. Terus menerus menulis bahasa Indonesia ya sekalian jadi ajang latihan, kan?

“Buat apa jago bahasa asing, kalau nulis bahasa Indonesia aja nggak gape.” Saya juga kerap berkilah begitu. Apalagi kalau mengingat betapa kita sangat hati-hati dengan grammar ketika berbahasa Inggris, namun selalu abai dengan EYD ketika berbaha Indonesia. Kita hati-hati dengan ketepatan penggunaan was, were; have, had; atau in, on, misalnya; namun bisa dengan sangat enteng menulis ‘dijakarta’ atau ‘di buang’, dan membiarkan kesalahan logika kalimat  “ngambil ATM” begitu saja. Mana boleh (mesin) ATM diambil. Kita bisa dipenjara. Kalau ngambil uang di ATM, itu baru dipersilakan.

Ya, betul, saya terlihat seperti menjadikan kesetiaan bahasa Indonesia (dan penggunaan EYD) sebagai tameng untuk urung berbahasa Inggris

Tuntutan bahasa Inggris adalah konsekuensi dari globalisasi. Apalagi sekarang ini internet sudah jadi pintu kemana saja, bisa membawa kita bertemu siapa saja dari penjuru dunia. Bahasa Inggris adalah modal utama kita untuk nggak merasa asing.

Benar saja, kini muncul kalangan anak-anak yang berbahasa pertama bahasa Inggris. Mereka disekolahkan di tempat yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Bahkan sejak TK (atau malah Playgroup?) Di rumah, di acara kumpul keluarga, di taman bermain, atau di mal, mereka cas cis cus berbahasa Inggris.

Tak perlu tepat grammar, yang penting fasih, itu sudah membuat orangtua mereka bangga. Pertama, bangga karena yakin anak-anaknya akan sukses berkiprah di kancah dunia yang serba terbuka ini kelak. Kedua, ya karena anaknya berbahasa Inggris. Elit.

Saya pun kemudian menemukan fakta bahwa ada kalangan remaja yang urung membaca majalah lokal hanya karena majalahnya berbahasa Indonesia. “Lebih terbiasa dengan bahasa Inggris. Kadang suka nggak nangkep sepenuhnya maksud isi tulisan,” kata kawan saya, seorang siswa SMA Internasional.

Pada titik tertentu temuan-temuan itu bikin saya malah nyinyir sama bahasa Inggris dan bikin tambah merasa perlu untuk mendalami bahasa Indonesia saja. Menjadi penjaga bahasa Indonesia. Menjadi pahlawan bahasa Indonesia. Duileh!

Tapi, setelah dipikir-pikir, bukan kemampuan berbahasa Inggrisnya yang perlu saya hindari. Melainkan kesadaran-kesadaran semu yang menggiring saya pada perasaan ekskulif ketika pandai berbahasa Inggris dan kesadaran mantap menganggap bahwa Eropa dan negara-negara barat lainnya adalah panutan sejati. 

Selain itu, saya juga menyadari adanya satu alasan lagi mengapa saya urung berbahasa Inggris. Kalau alasan-alasan di atas terkesan idealis, yang satu ini realistis: saya malas berlatih yang juga beriringan dengan ketakutan (baca: malu) kalau salah grammar. Haha!

Sungguh saya pasti akan merugi membiarkan kemalasan dan ketakutan berlatih ini mengurung saya. Apalagi sekarang ini saya punya cita-cita baru yang mensyaratkan kecakapan berbahasa internasional. Saya perlu belajar, dan tak mungkin saya ikut kursus. Sudah terlalu sering saya menghamburkan uang untuk kursus bahasa Inggris. Kali ini saya memilih jalur otodidak.

Tahukah kamu langkah yang saya untuk membiasakan diri berbahasa Inggris? Sejauh ini sudah dua yang saya coba. Pertama, ikut mengucapakan dialog pada film yang naskahnya bisa say abaca lewat subtitle, dan daftar Postcrossing. Walau hanya lewat kartu pos, saya pasti akan terbiasa berinteraksi dengan orang asing, dengan bahasa Inggris. Semoga harus berhasil

-Hari ke-5 30 Hari Bercerita-

Merekomendasikan kalian untuk  membaca artikel ini: 



15 Agustus 2015

Ada 'Isu' di Dalam 'Tisu'




"Pilih mana: jadi orang yang sakit hati terus atau nggak pernah sakit hati sama sekali?"

"Ahh. Pertanyaan sulit. Hahaha.

"Jawaban gue, gue tulis di tisu, deh."
...
"Ah... Kenapa?"

"Hmm. lebih baik nyoba atau nggak? lebih baik tau atau nggak tau?"

:)


-Hari Ke-4 30 Hari Bercerita-

12 Agustus 2015

Menjadi Manusia 'Bank'

Selasa (13/08) kemarin, saya mewawancara Melanie Subono, musisi, pengusaha cum aktivis. Dia bercerita, gerakan-gerakan yang ia gagas adalah anak dari kegelisahannya yang tak pernah surut mengalir dalam pikirannya. Nah, ada salah satu kegelisahannya yang saya suka banget. Yaitu tentang konsep utang budi yang membudaya dalam kita:

"Kita punya konsep utang budi yang buruk banget. Pada saat orang nolongin lo, mereka akan somehow entah kapan akan ngegali itu. Kalau gue, sih, akan gue bentak 'Lo nolong adalah keputusan lo untuk nolong gue. Gue terima kasih tapi gue nggak berutang'.

Ampe sekarang kalau lo ketemu orang yang ketangkep korup, biasanya bukan karena mereka sendiri. "gue dimintain waktu itu. pernah nolongin, ya gue kerjain."

Sekarang tinggi banget angka penjualan anak atau pernikahan di bawah umur. Coba lo tanya ke bapak mereka. "Itu saya yang ijinin. Nggak enaklah dulu saya pernah dibantu sama keluarga itu." konsep utang budi itu bener-bener menjatuhkan.

Itu konyol banget. Kalau lo merasa berterima kasih ya bilang, 'Thank you.' Tapi kalau lo nolong gue dan suatu hari gue ditagih utang, oh nggak deh. Lo nolong atas keputusan lo. gue pasti nolong lu kalau ada apa-apa. tapi kalau lo nganggepnya sebagai utang dan gue mesti ngerjain hal yang bahkan itu kriminal, untuk nolong lo, nggak deh.

'Mamah kan udah ngasih makan aku. Kamu berutang.'

'Mamah kan emang harus ngasih makan aku, kan, Mah?

Akhirnya jadi lah generasi Wani piro. 'Kalau gue bisa bantu, lo bisa ngasih apa?'"


Terlalu naif kah jika saya menganggap bahwa kita tetap bisa hidup dengan melepas logika transaksional, terutama dalam memberi kebaikan?

Kita memang mencipta bank, tapi haruskah kemudian kita  menjadi manusia bank yaitu dengan menjadikan kebaikan adalah kredit yang bisa menguntungkan di kemudian hari?


- Hari Ke-3 30 Hari Bercerita -

11 Agustus 2015

Konsekuensi Menghilang



Ngerasa sendiri nggak punya temen itu pasti terjadi dalam satu waktu hidupmu. Biasanya, kita menyalahkan semesta yang bikin temen-temen kita itu menjauh dari kita. Ay, kawan saya, pada suatu malam, bercerita tentang pengalaman kehilangan teman-temannya.

"Kenapa orang-orang datang dan pergi gini sih?!" suatu kali, Ay mengeluh kepada kawannya.

"Ini bukan soal mereka datang dan pergi, tapi emang lonya aja yang pergi." Bukannya malah mengasihani, kawannya itu malah bikin Ay menelan pertanyaannya itu.

Nah! Persis seperti yang disebut kawannya Ay, ternyata kehilangan teman itu tak melulu menempatkan kita sebagai objek. Pasalnya, seperti pada kasus Ay, kita kerap juga menjadi subjek yang membuat teman-teman kita hilang dari peredaran keseharian kita: dengan menjauhi atau pindah orbit keseharian misalnya.

Keesokan hari setelah cerita itu, hari ini, sayalah yang dibuat menelan kenyataan bahwa saya telah menyebabkan kehilangan. Saya dinyatakan hilang dari peredaran pertemanan taman Kunang-Kunang. Sukri, kawan saya yang menyatakan hal itu. Tadi pagi. 

"Cuma lu doang, Ki, temen gue yang ilang."

10 Agustus 2015

Memilih Jembatan "Menulis"


Ada yang suka nonton film serial Chibi Maruko Chan? Saya adalah penyuka barunya. Baru satu episode saya menonton, langsung dibuat naksir berat sama cerita Maruko dan dunianya. Apalagi, episode pertamanya itu bercerita tentang penulisan. Seolah semesta mengingatkan saya dengan cara yang paling imutnya, agar saya rajin menulis lagi. Haha!

Ceritanya begini: Maruko dan teman-teman sekelasnya dapat tugas membuat tulisan bertema keluarga. Pak Guru menjelaskan bahwa tulisan tugas itu nantinya akan diseleksi untuk diikutsertakan ke lomba tingkat propinsi selain dapat kesempatan tulisan dimuat di majalah sekolah. 

Maruko senang sekali dengan pengumuman tersebut. Di antara teman-teman sekelasnya, Maruko terlihat jadi satu-satunya siswa yang sumringah banget. 

Tapi kemudian ia merasa minder. Ia sadar, keluarganya yang sederhana itu nggak punya cerita yang bisa jadi  menggugah kalau dituliskan. Beda dengan teman-temannya yang bersama keluarganya bisa sering liburan atau dihadiahi mainan kesukaan di hari ulang tahunnya. 

Maruko tak patah arang. Di rumah, Maruko mengamat-amati tingkah laku tiap anggota keluarganya dan memancing orang tua serta kakeknya untuk mengajaknya jalan-jalan, agar mendapat bahan tulisan. Tentu, tetap tak banyak hal fantastis yang ia tangkap.

06 Juli 2015

Lawan Kata 'Rindu'


Aku perlu tahu, apakah lawan kata  'rindu'
Selama ini aku diserangnya tanpa ba bi bu.

Kutelusuri kamus, nggak ketemu
Aku makin yakin, kata yang melawan 'rindu' cuma ada di kamu

Katakanlah kalau memang benar begitu
Biar kita bertemu  

28 Juni 2015

Menggugu KOMPAS (Minggu)


Hari ini harian Kompas genap berusia 50 tahun. Saya ingin turut merayakannya. Pasalnya, saya sangat suka koran ini. Apalagi Kompas Minggu. Selalu saya tunggu. Membeli Kompas Minggu adalah rutinitas yang saya lakukan sepaket dengan bangun tidur dan sarapan. Persis di seberang rumah ada kios koran. Sangat mudah untuk saya membelinya. Bahkan kadang tanpa keluar pagar, yaitu dengan memanggil penjualnya dan memintanya menyeberang. Saking gampangnya beli koran, saya juga sering ngutang, yaitu ketika tiba-tiba pengin beli koran, tapi dompet ada di kamar, lantai atas.

Kompas sudah 50 tahun, tapi kesadaran untuk membacanya baru muncul pada saya sekitar tiga tahun lalu. Selulus kuliah saya mengikuti workhop penulisan kritik seni rupa di ruangrupa. Para pemateri kerap merekomendasikan rubrik Seni di Kompas Minggu untuk dibaca. Ulasan pameran dan kritik seninya bernas, katanya. Sejak itu saya membiasakan diri membeli Kompas Minggu. Baca Kompas selalu sukses bikin saya nambah wawasan dan nemu inspirasi.

Tentu, akhirnya tak hanya rubrik seni yang saya gugu. Perhatian saya juga menjelajahi sekujur tulisan yang ada di berkas Kompas Minggu. Jika Kompas adalah sekolah maka Kompas Minggu adalah jurusan yang saya pilih. Saya senang duduk menyimak materi-materinya dan diam-diam mempelajari cara penulisan tiap artikelnya.

23 Juni 2015

Cerita Tentang Mimpi


Saya sering bermimpi tentu. Tapi bermimpi yang benar-benar berkesan--entah itu karena buruk, menegangkan, indah atau basah--sehingga membuat saya mencatat mimpi tersebut sebangunnya dari tidur, jumlahnya hanya hitungan jari. Yang paling saya ingat, saya pernah bermimpi saya akan mati dalam hitungan jam. Setelah mimpi itu saya bahkan sampai menset diri untuk siap mati.

Nah, belum lama lalu, saya mengalami mimpi yang tak kalah menegangkannya lagi. Terasa sekali itu nyata. Saya lupa kalau saat itu saya bermimpi.

Begini ceritanya:

16 Juni 2015

"Hidup Juga Butuh Misteri!"

Dua-tiga kawan mengajukan pertanyaan bertema sama pada saya, "Ram, kok lo sekarang anaknya Path banget?!", "Wuih, Kiram tiba-tiba jadi rame di timeline Path gini sekarang."

Intinya, temen-temen--terutama yang di kantor--pada heran. Saya yang nyaris nggak pernah ngoceh  di Path selama satu-dua tahun ke belakang, tiba-tiba giat beredar di timeline. Memang betul, tiap muncul kesan tertentu tentang suatu peristiwa, otak saya lalu merangkai kalimat untuk mengindahkan cerita yang akan saya unggah ke Path. Begitu pula tiap kali muncul ide atau gagasan kecil.

"Biasanya lo kalau ngupdate-ngupdate emang di mana, Ram?" tanya seorang teman.

"Di LINE. Haha!"

Ada teman yang kaget, ada juga yang balik menanggapi. "Oh iya sih, tiap gue buka LINE, pasti ada Kiram."

Kalian pegiat media sosial pasti tahu kalau timeline LINE itu sepi adanya. LINE lebih kerap digunakan sekadar untuk chatting yang lebih ekspresif, karena adanya stiker. Sementara untuk micro blogging, Path yang banyak digunakan.

29 Mei 2015

Kumpulan Doa


Semesta yang memberi 
Pernah kuamini setiap hari
Kini mesti kusimpan di lemari
Kubuat bersembunyi.




26 Mei 2015

Untuk Kepala dan Isinya

Kita perlu memikirkan caranya berhenti berpikir

28 April 2015

Merilis Zine Foto "Ada Harap di Balik Parah"



Kawan, 

Mumpung sekarang adalah 28 April saya mau mengumumkan sesuatu nih

AKAN DIRILIS: 

Kumpulan foto "Ada Harap di Balik Parah"

Pernahkah kamu bertanya, seberapa besarkah ukuran karung sampai banyak anak muda yang merasa sanggup mengarungi samudera kehidupan ini? Mungkin, pertanyaan itu tidak terjawab di zine foto ini. Tetapi melalui 28 foto saya ingin mengajak teman-teman untuk menyimak kisah muda-mudi kayak saya ini mengarungi samudera kehidupan yang penuh gejolak: berhadapan dengan situasi yang parah, membuatnya harus pandai menemukan harap di baliknya. #aww

Akan sangat senang jika ada dari kawan-kawan yang ingin memiliki, menikmati dan mengoleksinya









* Ukuran 14,8cm x 21 cm 
* Dibuat di percetakan digital, bersampul lunak, jilid stepless
* Harga: Rp 65.000

Jika tertarik, isi formulir ini yah. 


Terima kasih, kawan. :D 

#zinefotoAHDBP #visualmemorisk

12 April 2015

KARTU UCAPAN (cerpen dari serial Lupus: Sendal Jepit karangan Hilman)



MENJELANG Hari Valentine Gusur punya kesibukan baru. Setiap hari, sepulang sekolah dia selalu bikin sajak cinta. Kadang-kadang sampe larut malam. Sambil nongkrong di gardu ronda di depan gangnya, sambil menatap sinar bulan, dan sambil sesekali mencomot kue pancong bekal dari engkongnya, lahirlah berbiji-biji sajak cintanya. 

Besoknya Gusur mulai memasarkannya ke teman-teman di sekolah. 

Teman-teman banyak yang bingung. 

“Ini apa, Sur?” tanya Gito. 

“Ini sajak, Gito. Belilah. Murah meriah, kok. Lagi pula ini paten sajakku. Sajak cinta yang pantas kauberikan buat pacarmu di Hari Valentine ini.” 

Gusur memang jagoan berpromosi. Engkongnya dulu kan mantan penjual obat. Buktinya Gito termakan rayuan Gusur. Dan dengan khilaf lalu membeli sajak Gusur. 

Gusur kesenangan sampe rumah. Kemudian bikin sajak lagi. Sampe larut malam. Sampe engkongnya khawatir Gusur sakit. Kalo sakit kasian anak ini. dokter-dokter pada menolak untuk merawatnya. 

Waktu dibawa ke dokter umum, ada dokter umum yang segitu marahnya sama engkongnya Gusur. 

“Bapak menghina saya ya, saya kan bukan dokter hewan!” 

Tragisnya waktu dibawa ke dokter hewan, para dokter hewan pun minta maaf. 

“Wah, maaf sekali, Pak. Bukannya saya menolak. Tapi saya belum pernah menangani dinosaurus.” 

Akhirnya Gusur diobati dengan ramu-ramuan tradisional oleh engkongnya sendiri. Untung sembuh. 

Tapi kalo sakit lagi gimana? Itu makanya engkongnya Gusur ketakutan setengah mati, lalu membujuk-bujuk Gusur supaya lekas tidur. Tapi Gusur menolak dengan alasan demi kemajuan karier. Begitu juga di sekolah. Waktu Lupus secara basa-basi menasihati Gusur agar jangan tidur terlalu malam, eh, Lupus malah diajak kerja sama. 

“Pokoknya asyiklah, Pus, kita bakal mengeruk untung besar. Aku melihat prospek cerah dari usaha ini,” bujuk Gusur segitu semangatnya. 

Lupus cuma diam. Dan bagi Gusur diam berarti setuju. Gusur langsung menyusun pembagian kerja. 

“Aku bertugas bikin sajak, dan kamu ilustrasinya ya, Pus.” 

Lupus manggut-manggut. 

Gusur ternyata punya selera dagang yang lumayan. Kalo lagi kepepet, dia suka jual-jual barang. Tapi kali ini Gusur punya rencana membuat kartu Valentine. Makanya dia ngajak kerja sama Lupus. Soalnya udah berapa lama ini lupus lagi getol-getolnya belajar ngegambar. Eh, nggak dikira bakat gambar lupus lumayan juga. Gambarnya bagus-bagus. Terutama dalam hal menggambar yang rumit-rumit. Misalnya, benang kusut. 

Apa salahnya kalo bakat gambar itu dimanfaatkan oleh Gusur. Apalagi setelah tau maksudnya, Lupus juga kelihatan senang. Wah, pasti bakalan klop deh. Soalnya sajak Gusur butut banget. Jangan ada orang yang ngerti. Abis suka ngaco-ngaco gitu. Sementara cara gambar lupus juga suka seenaknya. Pokoknya lumayan jelek deh. 

Jadilah mereka bekerja sama.

17 Maret 2015

Spesialis Reparasi Tas di Ciledug




Ada banyak sekali jasa permak jahitan di sekitar perumahan. Bentuknya pun beragam, ada yang berupa kios (toko) ada juga yang berkeliling dengan sepeda. Spesialisasinya juga berbeda-beda. Banyaknya, sih, yang spesialis jins, kemeja dan pakaian keseharian lainnya. Banyak juga yang spesialis perrmak atau jahit kebaya dan sefari. Tapi kalau spesialis tas? sedikit sekali 

Nah, asiknya, ternyata jasa permak tas ini ada di dekat rumah saya. Di Ciledug. LIA TAS nama kiosnya. Lokasinya di jalan Raden Fatah. Patokannya, di perempatanbesar Ciledug. Di sekitaran tempat angkot ngetem. 

Setelah tahu keberadaan tukang permak itu dari adik saya yang memang sering berurusan dengan tukang jahit, saya pun ke sana, membawa salah satu tas kesayangan--saya beli waktu kelas 2 SMA--yang rusak resletingnya.

22 Februari 2015

Setahun di Provoke!



Februari ini saya genap setahun menulis untuk Provoke!, majalah yang proses menulis untuknya memacu saya untuk menjadi tengil walau pun merasa ‘kecil’, agar bisa meracik pengalaman kolektif menjadi tulisan kreatif, nyelipin makna dalam kemasan jenaka, dan memercik pemikiran kritis dengan seruan manis tanpa sinis.

Awalnya terasa gampang, lama-lama jadi menantang

Katanya, Provoke! harus ditulis dengan tanda seru. Semoga saja, apa yang udah saya lakukan seenggaknya bisa jadi titik yang menopang tanda serunya Provoke!

Semangat dulu, ah.

20 Februari 2015

Setelah Membaca Novel-Novel Okky Madasari

Pasung Jiwa adalah buku Okky yang baru saja selesai saya baca. 


Membaca bukunya Okky Madasari itu selalu seru. Tragedi yang mendera para tokoh tak disangka-sangka alurnya, dan seringnya, ekstrim dari yang saya duga. Duh.

Kadang, saya merasa sebal sama Okky, betapa teganya ia menyeret para tokoh ke tragedi begitu mendalam dan menyiksa. Padahal, hampir semua tokohnya adalah mereka yang terpinggirkan: entah itu karena keluguan, keadaan ekonomi, kepercayaan yang berbeda dari mayoritas, dan ketakberdayaan melawan kekuasaan serta belenggu semu tapi kuat yang tercipta dari lingkungan sosialnya. Mereka butuh pertolongan.

Saya juga sebal kepada Okky, yang sesekali harapan diberikan pada tokohnya, tapi belum lama diajak terbang, para tokoh sudah ditenggelamkan lagi pada permasalahan. 

Tapi saya tahu bahwa kesebalan saya itu tak perlu dikasihani. Saya memang perlu dibuat sebal. Saya harus sebal dan kalau bisa, benci dan terpercik hasrat untuk berontak. Mungkin, itulah yang diharapkan Okky. Pasalnya, tragedi ekstrim yang dialami para tokoh itu begitu nyata, dan memang benar-benar terjadi, dialami oleh beberapa manusia-manusia yang ada di Indonesia ini. Beritanya pun sering saya saksikan di media. Mungkin, karena berita media terlalu riuh, saya pun jadi acuh tak acuh. Tapi, Okky, melalui novel-novel fiksi tapi fakta yang dikemas dengan cerita narasi yang sangat apik ini, memberikan saya pengalaman sastrawi terhadap tragedi-tragedi itu. Saya jadi merasa akrab dengan para tokoh yang menjadi korban, bahkan saya bisa mengenalnya hingga suara hatinya. Ketika mereka geram, saya pun geram. Ketika mereka sedih, saya pun sedih. Ketika mereka tertindas dan berani merencanakan perlawanan, saya pun ikut berani menjadi pasukannya. 

Novel-novel Okky, kerap berakhir kurang menyenangkan. Sekalipun happy ending, kisah bahagia di akhir ceritanya dibuat singkat dan cenderung buram.

Sekali lagi, barangkali, itu maunya Okky, yaitu agar saya seusai membaca bukunya, jadi melanjutkan harapan para tokohnya dan memperjuangkannya dengan modal keberanian dan kegigihan yang mereka warisi dari cerita. 

Tiap kali rampung membaca novel Okky, pertanyaan (baca: perenungan) dalam kepala saya pun dimulai: sudah seberapa besarkah pengabdian saya terhadap kemanusiaan. Huhu. Maafkan saya, semesta.

berkesempatan menyapa mbak Okky dan minta foto bareng setelah menyaksikan talkshow-nya di acara Peluncuran ID Writers 29 Januari lalu di Goethe Haus.  Di sana, saya juga minta tanda tangannya ke tiga bukunya yang saya punya saat itu. Komentar mbak Okky, "berarti kamu tinggal Pasung Jiwa nih yang belum baca." Sekarang saya sudah membacanya, mbak. Hehe. Di belakang kami, ada poster bergambar mbak Okky dan Pramoedya Ananta Toer. Momen ini juga bikin saya ingin melanjutkan baca Tetralogi Buru-nya Pram. Bersamaan dengan pembelian buku Pasung Jiwa, saya juga memesan Jejak Langkah, akan saya baca bulan ini juga. Terima kasih, para penulis hebat Indonesia, atas inspirasinya. 




25 Januari 2015

Menjadi Fotografer Konflik


Terhadap foto-foto konflik: ada yang acuh, ada juga yang pesimis. Di film ini, seorang fotografer konflik mencoba melawan pesimisme itu sambil menghadapi pertempuran hatinya sendiri.

Di tulisan ini saya ingin menceritakan kesan saya atas film A Thousand Times Goodnight. Disutradarai dan ditulis oleh Eric Poppe, diperankan oleh Julliete Binoche. Rilis pada 2013 lalu.

Alkisah, seorang pewarta foto wanita, Rebecca, memiliki renjana terhadap peliputan di daerah konflik. Demi mendapatkan foto yang kuat berkesan ia siap masuk ke area yang sangat berbahaya sekalipun. 

Ketika di Kabul, Afganistan, ia mengikuti prosesi perencanaan hingga peledakan bom bunuh diri oleh seorang warga perempuan setempat. Ia terus memotret hingga akhirnya bom pun diledakkan. Walau sudah menghindar beberapa meter dari si pelaku, kena juga ia imbasnya. Rebecca terluka hingga tak sadarkan diri.

Ia pun dipulangkan ke rumah. Awalnya sambutan keluarga terkesan ramah. Tapi, tak lama ia tahu bahwa anak dan suaminya menyimpan marah.

22 Januari 2015

Target Yang Melampaui Hasil

Lernen hat nicht immer ein Ziel, Aber immer ein Ergebnis
Ini adalah kartu pos yang dikirimkan Fertina. Saya terima minggu lalu. Munchner Volkschochschule adalah nama tempat Fertina kursus bahasa di Munchen sana.

Intinya, pepatah itu bilang kalau belajar itu bukan soal target, melainkan hasil.

Sesaat setelah menerima kartu pos ini saya kirim pesan ke Fertina, "quote di kartu posnya menohok!"

Kenapa menohok?

Ya karena bikin saya tersindir. Dalam proses belajar yang saya sedang jalani ini, saya belum menghasilkan sesuatu yang berarti. Paper tugas pun akhirnya cuma jadi tugas, saya nggak membuatnya jadi layak untuk dipublis. Masa iya, akhirnya, nanti, hasil kuliah yang saya bangga untuk dipublis hanyalah foto wisudaan? nggak mau!

Mari kita lihat. Akankah, mulai sekarang seorang Rizki akan jadi giat?

"SEMANGAT!"


18 Januari 2015

Ada Bayi Di Rumah


Tahun 2014 adalah tahunnya 'rumah sakit' bagi keluarga kami. Di awal tahun mamah sering sekali bolak-balik rumah sakit untuk mengantar nenek berobat. Walaupun nggak sering ikut, tapi cerita mamah membuat saya  merasakan betul suasana rumah sakit. Nenek akhirnya meninggal. Kami semua berkabung. Sejak itu, kami sudah nggak punya lagi nenek maupun kakek. Rumahnya di Serang sana yang kerap kami kunjungi kehilangan jiwa. Ia hanya menjadi bangunan belaka, yang ditumbuhi kenangan di halamannya. 

Lantas, beberapa bulan setelahnya, giliran om saya yang mendekam lama di rumah sakit. Om saya ini punya penyakit kambuhan, cukup sering dia harus dirawat inap. Tapi, yang kemarin itu ternyata menjadi kunjungan ke rumah sakitnya yang terakhir. Om saya itu tutup usia Oktober kemarin. 

Paduan antara 'rumah' + 'sakit' selalu menghasilkan 'kematian' saat itu. Di rumah pun, sering sekali kami kedatangan kucing sakit yang kemudian mati. Saya yang selalu menguburnya.Pernah tiba-tiba di dekat pagar rumah ada mayat kucing dewasa, ia seperti dibuang oleh seseorang. Soalnya, tak lama sebelumnya saya melewati pagar tak ada apa-apa. Pernah juga ada anak kucing yang tiba-tiba datang ke rumah, kakinya luka parah. Tulangnya terlihat. Saya mencoba merawatnya. Tapi tak lama, ia meninggal juga. Yang terakhir adalah anak dari kucing rumah. Ia sakit, lalu sekarat. Nggak bisa bergerak selama empat hari. Saya coba rawat, bahkan sampai dibawa ke dokter. Tapi, di hari ketiga perawatan ia mati. Saya menggali kubur lagi.

Hingga akhirnya, semesta ini membuktikan, bahwa paduan 'rumah' dan 'sakit' bisa juga membuat kami bersuka. Lepas dari duka. November lalu, kakak saya dirawat inap di rumah sakit. Bukan karena penyakit tapi, melainkan karena ia melahirkan. Kami semua berkunjung lagi ke rumah sakit, kali ini bukan untuk menjemput jenazah, tapi untuk menjemput anugerah.

© blogrr
Maira Gall