15 September 2015

Nikahan Nyoe-Decky


Saat itu adalah November 2014. Senggaknya ada dua perubahan pada Decky yang saya tangkap. Pertama, Decky jadi rajin solat. Jika biasanya ia selalu bersepatu, saat itu Decky jadi sering bersendal. Agar mudah wudhu jika waktu solat tiba ternyata. Tiap kali Mada, yang lebih dulu jadi rajin solat, turun ke mushola, Decky kerap minta ditunggu. Agar bisa berjamaah

Kedua, Decky yang (sangat) hobi browsing dan menonton film, terutama setelah jam kantor usai--pukul 18.00--jadi sering pulang tenggo. Pokoknya, nggak sampai pukul tujuh, kami sudah mendapat pamit dari Decky. Lepas dari kebiasaan sebelumnya Decky bisa mantengin komputernya sampai batas maksimal waktu ngantor, 21:00. 

Tak lama setelah itu, di kantin sebuah SMA, saat kami berdua turut membantu event kantor, Decky bercerita. "Sabtu ini gue lamaran, Ram," 

Pantes, pikir saya tegas.

Tanpa saya banyak tanya, Decky menghamburkan ceritanya. Dia dan Ayu alias Nyoe sudah pacaran lima tahun. Sejak mereka kuliah di Unpad. Nyoe yang anak tunggal, Decky bontot dari tiga bersaudara. "Apa lagi yang ditunggu gitu. Nikah aja,"kata Decky

13 September 2015

(Toko Terlalu) Tas Selempang Mini



Tas ini saya yang merancang, saya yang beli bahan-bahannya di Cipadu, lalu dijahit oleh adik saya. Awalnya untuk saya pakai sendiri.

Semacem mini totebag yang tali selempangnya lebih panjang, itulah tujuan awalnya. Maklum, saya sering ogah menaruh perintilan di kantong--termasuk ponsel dan dompet, jadi selalu butuh tas kantung kayak gini. Totebag bisa saja, tapi kadang terasa terlalu besar dan sulit ditenteng di bahu.

Hingga akhirnya, iseng memperbanyak jumlah produksi. Siapa tahu ada juga teman yang perlu.





  • Harganya Rp 35.000
  • Detil: Panjang 22 cm // Lebar 28 cm 
  • Menggunakan bahan utama twill yang sudah teruji kuat 
  • Terdapat resleting untuk menjaga barang tidak keluar tas


12 September 2015

Kapten Bebek Hijau karangan Eka Kurniawan



Di kaki bukit, tinggallah Emak Bebek dengan bulu berwarna kuning cermerlang. Tak banyak bebek dilahirkan kuning di dunia ini, mungkin hanya dua atau tiga bebek di satu pegunungan. Dan, di pegunungan itu hanya Emak Bebek yang berwarna kuning. Ia sangat bangga dengan warna bulunya. Lalu, ketika ia bertelur dan telur-telur itu menetas menjadi empat anak bebek, semua anaknya berbulu kuning. Mereka menjadi keluarga bebek paling bahagia di pegunungan tersebut. 

Hingga suatu hari, salah seekor anak bebek memakan buah mogita yang sangat beracun. Beruntung si anak bebek tidak sampai mati karena ia baru memakan buah itu sedikit saja. Rasanya saja tidak enak meskipun penampilannya memang sangat menarik. Emak Bebek lupa mengajarkan anak-anaknya bahwa di bukit itu terlarang bagi mereka untuk makan buah mogita. Itu makanan ular. Walaupun begitu, akibat makan buah tersebut meskipun sedikit saja, bulu si anak bebek berubah menjadi hijau. 

Hijau! Bahkan, para bebek tak pernah tahu ada bebek berwarna hijau di muka bumi ini. Dan, warna itu, seekor bebek pengembara berkata, merupakan warna paling buruk untuk bulu seekor bebek. 

Tentu saja si anak bebek langsung memperoleh julukan yang menyedihkan hati, "Bebek Hijau". 

Meskipun Emak Bebek dan ketiga saudaranya berusaha menghibur, Bebek Hijau menjadi murung. Ia tak mau makan, tak mau main. Bersembunyi saja di dalam sarang. Saudara-saudarnya bahkan harus berbohong bahwa warna hijau juga sebenarnya menarik. 

"Lihat saja, sebagian besar bebek berwarna cokelat menjijikkan. Beberapa putih gading yang membosankan. Ada juga yang hitam, seperti jelaga. Tapi, hijau? Hanya kamu yang berbulu hijau, sebab kamu istimewa. Hijau seperti pasukan perang, sebab kamu Kapten Bebek Hijau. Ya, mulai sekarang namamu Kapten Bebek Hijau." 

Itu tak berhasil membuat Bebek Hijau, maksudnya Kapten Bebek Hijau, terhibur. Bagaimanapun, menjadi bebek satu-satunya yang berwarna hijau tak hanya unik, tapi juga aneh. Ia tahu itu, saudara-saudaranya juga tahu, dan Emak Bebek juga tahu. 

Kapten Bebek Hijau sudah mencoba melunturkan warna hijau dari bulunya. Selama beberapa hari ia berendam di danau kecil tak jauh dari sarang mereka, menggosokkan bulunya ke bebatuan, tapi tak memperlihatkan hasil sama sekali. Malahan jatuh sakit karena itu. Pernah juga ia merontokkan semua bulunya sehingga ia menjadi bebek tanpa bulu, dan butuh beberapa minggu sebelum bulu-bulu baru tumbuh. Ia menjadi kedingingan sehinga Emak Bebek dan ketiga saudaranya harus selalu memeluknya. Ketika bulu-bulu baru mulai tumbuh, warnanya tak kembali seperti sediakala. Bulu-bulunya tetap berwarna hijau. 

Kapten Bebek Hijau semakin sedih. 

Emak Bebek, dengan berat hati akhirnya berkata, "Sebenarnya, ada satu cara untuk membuat bulumu kembali kuning seperti semula. Tapi, kamu harus melalui perjalanan yang sangat berbahaya." 

"Aku akan melakukan apa pun demi kembali menjadi bebek kuning. Aku tak takut apa pun." 

"Ah, ya, benar. Bukankah kamu Kapten Bebek Hijau si pemberani?" 

Emak Bebek pun memberi tahu rahasia tersebut: di puncak bukit, tumbuh kunir raja yang jika ia memakannya, warna bulunya akan kembali menjadi kuning. Tapi, dari kaki bukit ke puncak bukit, banyak pemangsa yang jahat, yang bisa mengancamnya. Emak Bebek tak bisa menemainya karena ia harus menunggui ketiga anaknya yang lain. Sementara jika mereka pergi bersama-sama, sema saja mereka menyerahkan hidup satu keluarga kepada pemangsa jahat.

Kapten Bebek Hijau pun bertekad untuk pergi sendiri ke puncak bukit. 

...

Suatu pagi, berangkatlah Kapten Bebek Hijau menaiki bukit untuk mencari kunir raja. Emak Bebek dan ketiga saudaranya melepas kepergiannya dengan berat hati. Mereka menangis karena tak bisa menemani. Kapten Bebek Hijau mencoba menghibur mereka, berkata bahwa ia akan menjaga diri baik-baik, dan akan kembali ke sarang mereka sebagai bebek kuning sebagaimana sebelumnya. Kembali dengan kemenangan. 

Ia belum pernah bepergian sejauh itu. Maka, ia seusungguhnya tak tahu bahaya semacam apa yang akan mengadangnya. Emak Bebek juga belum pernah bepergian sejauh itu, sehingga Emak Bebek tak bisa memberi tahu bahaya seperti apa yang mungkin terjadi. Mereka hanya  memberi tahu bahaya seperti apa yang mungkin terjadi. Mereka hanya tahu, banyak pemangsa yang jahat dan tidak bersahabat. 

"Berhati-hatilah terhadap serigala, ular, dan rubah. Mereka sangat menyukai daging bebek kecil sepertimu." 

Kapten Bebek Hijau belum pernah melihat serigala, ular, maupun rubah. Tak pernah ada binatang jahat di tempat mereka tinggal selama ini. Walaupun begitu, ia berjanji tak akan berteman dengan binatang-binatang sperti itu. Dan, Emak Bebek mengingatkan, sebaiknya ia tak bertemu dan bercakap-cakap dengan binatang asing mana pun. 

"Terus saja naik ke puncak bukit, cari kunir raja, dan setelah itu segera pulang." 

Kapten Bebek Hijau mengingat dengan baik pesan Emak Bebek. 

Hari pertama perjalannya berlangsung tanpa ada gangguan apa pun. Ia melihat pemandangan yang selama ini tak diketahunya. Ada deretan pohon-pohon bambu yang sangat indah sepanjang tepian sungai. Di kejauhan ia melihat satu air terjun dengan suara yang bergemuruh. Bunga-bunga dahlia liar bermekaran di satu gerombol. Begitu menyenangkannya semua itu hingga Kapten Bebek Hijau ingin menari-nari dan bernyanyi-nyanyi, hingga ia teringat pesan Emak untuk tidak menarik perhatian binatang lain. 

Maka, ia pun harus berjalan secara diam-diam. Dan, ketika malam datang, ia bersembunyi di balik satu bongkah batu. 

Hari kedua, ia bertemu dengan seekor serigala. Ketika ia melihatnya, Kapten Bebek Hijau segera tahu itu seekor serigala. Ia sedang berjalan di setapak ketika di kejauhan dilihatnya seekor binatang berkaki empat dengan moncong panjang dan bulu kelabu. Emak Bebek pernah menggambarkan, serupa itulah serigala. Kapten Bebek Hijau tak sempat bersembunyi, serigala itu telah melihatnya. Emak Bebek sudah mengatakan bahwa sebenarnya serigala tak begitu suka memakan bebek. Mereka lebih suka makan kelinci atau kancil. Namun, jika sedang lapar, serigala bisa memakan apa pun, terutama bebek kecil. Dan, serigala di depannya itu tampak sekali sedang kelaparan. 

Serigala menggeram dan lari ke arahnya. Kapten Bebek Hijau terkejut, melompat ke gerombol bambu dan meringkuk di sana, menggigil. Serigala muncul, menggeram-geram mengelilingi gerombol bambu. Bebek Hijau diam saja, tubuhnya makin menggigil. Ia ingin menangis. Serigala terus berkeliling mencarinya. Kapten Bebek Hijau mulai bingung, kenapa serigala tak juga menangkapnya. Ia persis ada di depan matanya. Namun, serigala terus mencarinya, hingga merasa putus asa, dan segera pergi. 

Kapten Bebek Hijau bingung, tapi sekaligus lega. Ia melihat ke sekelilingnya, dan bertanya-tanya kenapa serigala ak melihatnya. Hingga ia menemukan jawabannya: 

"Ah, bambu-bambu ini sangat hijau, dan tubuhku juga hijau. Serigala tak melihat seekor bebek hijau di tengah batang-batang bambu berwarna hijau." 

Kapten Bebek Hijau pun memutuskan untuk bermalam dan berisitirahat di tengah gerombol bambu. 

...

Perjalanan ke puncak bukit mencari kunir raja ternyata bukanlah perjalanan yang gampang, bukan pula perjalanan cepat yang bisa ditempuh dalam satu-dua hari saja. Dan, benar apa yang dikatakan Emak Bebek, banyak makhluk jahat berkeliaran sepanjang jalan. 

Kapten Bebek Hijau, kini ia sangat bangga dengan namanya, pernah bertemu ular jahat yang hendak memangsanya. Ia sedang  menyeberang sungai, berenang, dan mengayuh dengan sayap mungilnya, ketika dari arah hulu meluncur seekor ular belang. Sangat jelas ular itu meluncur ke arahnya, hendak memangsanya. Kapten Bebek Hijau mempercepat kayuhan sayapnya. Hup, hup, hup.

Gerakannya sangat lambat. Arus sungai yang sedikit kencang agak susah ditaklukkan Kapten Bebek Hijau. Ia mulai cemas. Hari-hariku berakhir di sini, pikirnya. Berakhir di perut seekor ular belang. 

Ia ingin menangis. Jangan cengeng, pikirnya, kamu seekor kapten. Kamu Kapten Bebek Hijau. Kamu akan menjadi satu-satunya bebek yang berhasil menjelajah seorang diri naik dan turun bukit. Ia teringat kepada Emak Bebek dan saudara-saudaranya, dan itu membuatnya tambah ingin menangis. Ayo, Kapten, semangat, Kapten! Kamu pergi ke puncak bukit bukan untuk dimangsa ular belang. Kamu pergi untuk menemukan kunir raja dan pulang dengan kemenangan. 

Saat itulah ia melihat gumpalan lumut hijau melayang-layang di permukaan air. Ia tak punya waktu untuk terus berenang ke tepian. Lagi pula, melompat ke darat tidak berarti ia terbebas dari ancaman ular belang. Ular itu sangat cepat, bisa memangsanya di air maupun di darat. Satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah menyeruak ke tengah gumpalan lumut dan diam di sana, dan itulah yang ia lakukan. 

Ular belang telah sampai di tepian lumut dan terdengar ia bergumam, "Sialan, di mana bebek kecil itu?

Ingin sekali Kapten Bebek Hijau menjawab, Bebek itu tak ada di sini. Ia pergi ke arah hilir. Namun, tentu saja ia tak mengatakannya. Itu akan terdengar sangat bodoh. 

Ular belang terus mencari-carinya, sementara Kapten Bebek Hijau menggigil dengan jantung bergemuruh karena ketakutan. Ular itu sangat dekat dengannya, ia bahkan bisa mencium aroma napasnya yang bau bangkai. 

"Sialan, sialan. Bebek kecil itu menghilang." Kembali terdengar keluhan si ular belang, sebelum akhirnya ia meluncur ke arah hilir bersama arus sungai. Barangkali mencari mangsa yang lebih besar dan lebih enak untuk dimakan, dan lebih mudah untuk ditangkap. 

Untuk kali kesekian, Kapten Bebek Hijau terbebas dari mara bahaya. Hari-hariku belum berakhir, pikirnya. Dan, ia tahu kenapa. 

Sudah agak lama, selama dalam perjalanan itu, Kapten Bebek Hijau menyadari bulunya yang hijau menyelamatkan hidupnya. Ia bisa bersembunyi di gerombolan dededaunan yang hijau, di tengah belukar anak bambu, dan seperti barusan terjadi, di atas gumpalan lumut. Warna hijau tubuhnya menyatu dengan warna hijau dendaunan, dan itu membuat para pemangsa selalu tak berhasil menemukannya. 

Walaupun begitu, ia tetap ingin kembali menjadi bebek kuning. Ia tetap meneruskan perlajanan untuk menemukan kunir raja. Ia menginginkan warna bulunya yang sejati.

Begitulah setelah berhari-hari, Kapten Bebek Hijau akhirnya tiba di puncak bukit. Di sana ada hamparan padang rumput yang luas, dengan rumput yang hijau beriak. Di sana sini, dengan mudah ia menemukan pohon kunir raja. Tanpa menunggu lebih lama, ia mencerabut satu pohon dan memakan ubinya, dan benar apa yang dikatakan Emak Bebek, hanya dalam waktu singkat warna bulunya berubah. Si hijau yang buruk itu perlahan-lahan luntur, seperti lumpur basah, dan warna kuning cemerlangnya muncul. 

Kapten Bebek Hijau girang bukan main. Ia menari-nari dan bernyanyi-nyanyi, di bawah limpahan cahaya matahari yang cerah ceria. 

"Oh, bukan, aku bukan lagi Kapten Bebek Hijau. Aku Kapten Bebek Kuning, yang telah menaklukkan bukit dan akan pulang dengan kemenangan. Aku Kapten Bebek Kuning, aku Kapten Bebek Kuning!" 

Ia terus bernyanyi dan ia terus menari. 

... 

Di angkasa, seekor burung elang sedang sangat lapar. Sudah dua hari ia belum makan. Ia melihat ke bawah, mencari mangsa. Ia hanya melihat hamparan rumput hijau. Di mana-mana hijau. Ia menoleh ke kiri. Padang rumput hijau. Ke kanan. Padang rumput hijau. Hijau yang membosankan. 

Tunggu, pikirnya, apa itu yang berwarna kuning cemerlang? Kuning di tengah hamparan rumput hijau? Warna kunging yang bergerak-gerak riang? Ah, seekor anak bebek. 

Dengan cepat burung elang menukik dan menyambar Kapten Bebek Kuning. Bebek berwarna kuning terkenal karena rasanya yang enak. Akhirnya, aku memperoleh makan siang, pikir burung elang dengan bahagia.




-Tulisan ke-8 30 Hari Bercerita-

=========================================

Cerita pendek karya penulis favorit saya, Eka Kurniawan, ini dimuat dalam buku kumpulan cerpennya, Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi. 

Saya suka sekali dengan isinya. Bikin senyum manis lalu manyun miris. Rasanya tak ada satu pun kata mutiara yang bisa dikutip dari cerita ringan kekanak-kanakan ini, tapi banyak sekali kesan dan pelajaran yang saya temui menjejak pada diri: tentang celakanya memikirkan pikiran orang-orang, tentang zona nyaman-luar nyaman, dan juga tentang takdir yang tak pandang ambisi.

Saya membayangkan, akan asyik sekali jika cerpen ini didongengkan. Ada yang ingin mencoba, kepada adiknya, kawan, atau pacar mungkin. Atau, kepada saya? Ah, dengan sangat senang hati saya mendengarkannya. Di ulang berkali-kali pun saya nggak akan pura-pura tuli. 


nb: tegur saya jika kalian menemukan kesalahan penyalinan tulisan. 
nb 2: cerita-cerita pendek lainnya dalam buku kumcer ini juga asyik untuk ditelisik, lho. Mari dibeli, baca dan dikoleksi. 



09 September 2015

Saatnya Go Home

Di antara mata dan halaman kosong
ada indomie, gosip, humor dan meja ping pong.

Di sela-sela keyboard dan jari-jari bengong
ada fokus yang gelagapan mendekati blong.
Saatnya go home

06 September 2015

Ayam Kuning Asep Coklat



Saya tahu bahwa nama pedagang ayam keliling yang sering mampir ke rumah adalah Asep. Tiap kali dia datang dan bersahut,"Bu, ayam, bu!!!" Mamah mengutus saya, "Ki, itu ada mang Asep. Bilang beli ayamnya delapan potong aja." atau, "Ki bilangin ke mang Asep. Libur dulu. Ayam kemarin masih ada." 

Tapi saya baru tahu kalau mang Asep yang memang bermuka-berlogat Tasik dan selalu berpenampilan bak koboi di film Benyamin ini ternyata bernama panjang Asep Coklat. Suatu hari, setelah memberikan bungkusan ayamnya, ia menyodorkan kartu nama. Tak hanya ingin terkesan gagah dengan tampilan koboinya, mang Asep ingin terkesan profesional ternyata. Sambil menerimanya saya senyum, tanda salut dan respek.

Membaca kartu nama itu, senyum saya makin memanjang menjadi tawa. Seluruh elemen dalam kartu nama itu menarik. Sebagai penanda, satu elemen dan elemen lainnya  unik dan berbenturan citranya.

Kegemasan pertama, ya karena nama Asep Coklatnya itu: gemas karena ingin merevisi. 'Coklat' seharusnya ditulis "Cokelat"; serta gemas karena bertanya-tanya, kenapa Coklat. Dari mana ia dapatkan nama yang berbenturan dengan kesan gagahnya. 

Di bawah nama ia tercantum "Batu Akik". Ah, barang kali dia ingin menunjukkan bahwa ia pegiat (bukan sekadar pehobi) batu akik. Ya, di bawah label usaha Ayam Bumbu Kuning yang kemudian ia terjemahkan sebagai Yellow Chicken itu ia tetap ingin dikenal sebagai pegiat batu akik. Agaknya, itu adalah identitas yang sudah sangat mantap ia perankan dalam kesehariannya. Barangkali juga, ini adalah caranya memperluas relasi. Siapa tahu, pembeli ayamnya punya keluarga yang pegiat batu akik juga. 

Lalu, di kartu nama berwarna tema reggae ini Asep Coklat juga mempertegas bahwa usaha jualan ayamnya adalah usaha halal. Sudah banyak yang tahu kalau ayam adalah halal (kecuali mungkin ayam yang selingkuh dengan babi lalu mengandung anak babi :p ) Tapi barangkali Asep Coklat ingin menunjukkan bahwa ia peduli dengan syarat-syarat kehalalan dalam memotong ayam, dan mungkin juga ia ingin menunjukkan ia ingin menjalin relasi dengan pelanggan muslim.

Sayang saja, ia tak lengkap mencantumkan alamatnya. Di manakah letak persisi Jl H. Jiran Rt 003/001? Mungkin kita tak perlu tahu, karena Asep Coklat, pedagang ayam keliling berpenampilan koboi cum pegiat batu akik ini tak ingin membuat pelanggannya repot. Biar ia saja yang menghampiri Anda. 

Sukses terus, maaaang! 

-Hari ke-7 30 hari bercerita-


26 Agustus 2015

Ikut Wisuda atau Nggak, Yah?


Wisuda Universitas Indonesia ternyata cukup merepotkan. Gimana nggak, wisudanya dibagi menjadi dua sesi. Tak apalah kalau dua sesi itu ada di hari yang sama, lah, ini, ada di dua hari yang berbeda. Jadi, kami, para wisudawan dituntut untuk meluangkan waktu dua hari hanya untuk merayakan kelulusan. Bisa saja kami memilih untuk ikut salah satunya, tapi, apa siap rugi?

Sesi pertama adalah gladi resik, dijadwalkan hari ini, Rabu (26/08). Ya, betul hari kerja! Jangan kira ini adalah gladi resik yang sekadar formalitas, yang tak apa jika tak dihadiri. Nyatanya, nama gladi resik ini hanya embel-embel. Sebenarnya, ini adalah wisuda sesi 1. Pasalnya, ada prosesi penting, yaitu pemanggilan tiap wisudawan untuk naik ke panggung dan bersalaman dengan rektor dan yang paling pentingnya, berfoto dengan rektor.

Sesi keduanya adalah sesi upacara yang bisa dihadiri undangan, dijadwalkan pada Sabtu (29/08). Di sesi ini seperti wisuda pada biasanya. Orangtua hadir, upacara, dan pidato dari rektor. Sudah terasa kan gimana membosankannya?

Saya dilema. Apakah mesti saya ikuti kedua sesinya? inginnya sih ikut salah satunya saja. Apalagi di hari ini, Rabu, saya mesti kerja. Bisa aja sih ijin, tapi saya yakin jika ijin maka saya sendiri yang kemudian akan repot karena waktu menunda pekerjaan.

Dateng aja, Ki. Sayang, lho, foto-foto! Nggak pengen banget punya foto sama rektor untuk dipajang?!

Ah, gue nggak obsesi banget kok punya foto lagi wisuda. Waktu kuliah sebelumnya aja foto wisudanya nggak ada satu pun yang dipajang. Gue biarin aja menumpuk di laci.

Temen-temen pada dateng, lho, nanti. Bahkan mereka aja pada bela-belain cuti. Pasti bakal seru. Foto rame-rame!

Nah, iya. Gue nggak mau kelewatan momen sama temen-temennya sih. Tapi, tetep males, ah, kalau orientasinya cuma untuk  foto-foto.

Lagi pula, nih, yah. Kalau gue foto-foto, nanti bakal muncul kecenderungan gue bakal ikutan publis ke media sosial. Gue masih belum nerima  kalau kami, para akademisi semangat banget mempublis foto-foto saat wisuda, tapi malu-malu, bahkan merasa nggak perlu mempublis karya-karya tulis selama kuliah, termasuk tugas akhirnya. Menampilkan citra, menyembunyikan isi. Hmmm

Ah! Sok idealis. Emangnya kalau nggak ikut wisuda pun lu akan mempublis paper hasil kuliah lo? Tapi, kan, bokap nyokap lo pasti suka, ki. Lagian kan lo udah bayar. Masa nggak ikut semua sesinya, sih. Kan rugi?


Berencana! tapi masih belum, aja. Tunggu waktu yang tepat. Haha. Alesan banget yah?!

Iya, sih. Pasti diomelin sih kalau mamah tau gue nggak ikutan foto. Tapi tapi tapi. kan pas hari Sabtu juga bisa foto-foto. Walau cuma foto di depan danau UI. Nggak apa-apa lah. Yah, yah?!

Ya ya ya. Jadi gimana?! 

Balik ke tujuan awal deh. Gue kan ikut wisuda utamanya karena mamah. Biar kami punya momen untuk merayakan anaknya lulus dari kuliah yang ia bayari. Jadi, ikut yang Sabtu aja deh. Hehe

Tetep usahain aja. Kalau siang nanti bisa melipir ke Depok, maka lakukanlah! 


Deal!...... eh, tapi kan gue nanti ada liputan.


*Tepok jidat. Jidat nyamuk. Patahin toga*



-Tulisan ke-6 30 hari bercerita-

25 Agustus 2015

Berbahasa Inggris


Saya punya dua ratus tiga puluh juta ribu delapan milyar ratus alasan mengapa saya nggak membiasakan diri berbahasa Inggris. Salah satu alasan yang paling sering saya ucapkan--senggaknya pada diri saya sendiri--adalah karena saya lebih ekspresif dengan bahasa Indonesia: saya bisa memainkan kata-katanya, saya lebih bisa mengeksplor kosa kata, saya lebih bisa merangkai kalimatnya. Alasan itu diperkuat karena memang saya bekerja menulis. Terus menerus menulis bahasa Indonesia ya sekalian jadi ajang latihan, kan?

“Buat apa jago bahasa asing, kalau nulis bahasa Indonesia aja nggak gape.” Saya juga kerap berkilah begitu. Apalagi kalau mengingat betapa kita sangat hati-hati dengan grammar ketika berbahasa Inggris, namun selalu abai dengan EYD ketika berbaha Indonesia. Kita hati-hati dengan ketepatan penggunaan was, were; have, had; atau in, on, misalnya; namun bisa dengan sangat enteng menulis ‘dijakarta’ atau ‘di buang’, dan membiarkan kesalahan logika kalimat  “ngambil ATM” begitu saja. Mana boleh (mesin) ATM diambil. Kita bisa dipenjara. Kalau ngambil uang di ATM, itu baru dipersilakan.

Ya, betul, saya terlihat seperti menjadikan kesetiaan bahasa Indonesia (dan penggunaan EYD) sebagai tameng untuk urung berbahasa Inggris

Tuntutan bahasa Inggris adalah konsekuensi dari globalisasi. Apalagi sekarang ini internet sudah jadi pintu kemana saja, bisa membawa kita bertemu siapa saja dari penjuru dunia. Bahasa Inggris adalah modal utama kita untuk nggak merasa asing.

Benar saja, kini muncul kalangan anak-anak yang berbahasa pertama bahasa Inggris. Mereka disekolahkan di tempat yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantarnya. Bahkan sejak TK (atau malah Playgroup?) Di rumah, di acara kumpul keluarga, di taman bermain, atau di mal, mereka cas cis cus berbahasa Inggris.

Tak perlu tepat grammar, yang penting fasih, itu sudah membuat orangtua mereka bangga. Pertama, bangga karena yakin anak-anaknya akan sukses berkiprah di kancah dunia yang serba terbuka ini kelak. Kedua, ya karena anaknya berbahasa Inggris. Elit.

Saya pun kemudian menemukan fakta bahwa ada kalangan remaja yang urung membaca majalah lokal hanya karena majalahnya berbahasa Indonesia. “Lebih terbiasa dengan bahasa Inggris. Kadang suka nggak nangkep sepenuhnya maksud isi tulisan,” kata kawan saya, seorang siswa SMA Internasional.

Pada titik tertentu temuan-temuan itu bikin saya malah nyinyir sama bahasa Inggris dan bikin tambah merasa perlu untuk mendalami bahasa Indonesia saja. Menjadi penjaga bahasa Indonesia. Menjadi pahlawan bahasa Indonesia. Duileh!

Tapi, setelah dipikir-pikir, bukan kemampuan berbahasa Inggrisnya yang perlu saya hindari. Melainkan kesadaran-kesadaran semu yang menggiring saya pada perasaan ekskulif ketika pandai berbahasa Inggris dan kesadaran mantap menganggap bahwa Eropa dan negara-negara barat lainnya adalah panutan sejati. 

Selain itu, saya juga menyadari adanya satu alasan lagi mengapa saya urung berbahasa Inggris. Kalau alasan-alasan di atas terkesan idealis, yang satu ini realistis: saya malas berlatih yang juga beriringan dengan ketakutan (baca: malu) kalau salah grammar. Haha!

Sungguh saya pasti akan merugi membiarkan kemalasan dan ketakutan berlatih ini mengurung saya. Apalagi sekarang ini saya punya cita-cita baru yang mensyaratkan kecakapan berbahasa internasional. Saya perlu belajar, dan tak mungkin saya ikut kursus. Sudah terlalu sering saya menghamburkan uang untuk kursus bahasa Inggris. Kali ini saya memilih jalur otodidak.

Tahukah kamu langkah yang saya untuk membiasakan diri berbahasa Inggris? Sejauh ini sudah dua yang saya coba. Pertama, ikut mengucapakan dialog pada film yang naskahnya bisa say abaca lewat subtitle, dan daftar Postcrossing. Walau hanya lewat kartu pos, saya pasti akan terbiasa berinteraksi dengan orang asing, dengan bahasa Inggris. Semoga harus berhasil

-Hari ke-5 30 Hari Bercerita-

Merekomendasikan kalian untuk  membaca artikel ini: 



15 Agustus 2015

Ada 'Isu' di Dalam 'Tisu'




"Pilih mana: jadi orang yang sakit hati terus atau nggak pernah sakit hati sama sekali?"

"Ahh. Pertanyaan sulit. Hahaha.

"Jawaban gue, gue tulis di tisu, deh."
...
"Ah... Kenapa?"

"Hmm. lebih baik nyoba atau nggak? lebih baik tau atau nggak tau?"

:)


-Hari Ke-4 30 Hari Bercerita-

12 Agustus 2015

Menjadi Manusia 'Bank'

Selasa (13/08) kemarin, saya mewawancara Melanie Subono, musisi, pengusaha cum aktivis. Dia bercerita, gerakan-gerakan yang ia gagas adalah anak dari kegelisahannya yang tak pernah surut mengalir dalam pikirannya. Nah, ada salah satu kegelisahannya yang saya suka banget. Yaitu tentang konsep utang budi yang membudaya dalam kita:

"Kita punya konsep utang budi yang buruk banget. Pada saat orang nolongin lo, mereka akan somehow entah kapan akan ngegali itu. Kalau gue, sih, akan gue bentak 'Lo nolong adalah keputusan lo untuk nolong gue. Gue terima kasih tapi gue nggak berutang'.

Ampe sekarang kalau lo ketemu orang yang ketangkep korup, biasanya bukan karena mereka sendiri. "gue dimintain waktu itu. pernah nolongin, ya gue kerjain."

Sekarang tinggi banget angka penjualan anak atau pernikahan di bawah umur. Coba lo tanya ke bapak mereka. "Itu saya yang ijinin. Nggak enaklah dulu saya pernah dibantu sama keluarga itu." konsep utang budi itu bener-bener menjatuhkan.

Itu konyol banget. Kalau lo merasa berterima kasih ya bilang, 'Thank you.' Tapi kalau lo nolong gue dan suatu hari gue ditagih utang, oh nggak deh. Lo nolong atas keputusan lo. gue pasti nolong lu kalau ada apa-apa. tapi kalau lo nganggepnya sebagai utang dan gue mesti ngerjain hal yang bahkan itu kriminal, untuk nolong lo, nggak deh.

'Mamah kan udah ngasih makan aku. Kamu berutang.'

'Mamah kan emang harus ngasih makan aku, kan, Mah?

Akhirnya jadi lah generasi Wani piro. 'Kalau gue bisa bantu, lo bisa ngasih apa?'"


Terlalu naif kah jika saya menganggap bahwa kita tetap bisa hidup dengan melepas logika transaksional, terutama dalam memberi kebaikan?

Kita memang mencipta bank, tapi haruskah kemudian kita  menjadi manusia bank yaitu dengan menjadikan kebaikan adalah kredit yang bisa menguntungkan di kemudian hari?


- Hari Ke-3 30 Hari Bercerita -

11 Agustus 2015

Konsekuensi Menghilang



Ngerasa sendiri nggak punya temen itu pasti terjadi dalam satu waktu hidupmu. Biasanya, kita menyalahkan semesta yang bikin temen-temen kita itu menjauh dari kita. Ay, kawan saya, pada suatu malam, bercerita tentang pengalaman kehilangan teman-temannya.

"Kenapa orang-orang datang dan pergi gini sih?!" suatu kali, Ay mengeluh kepada kawannya.

"Ini bukan soal mereka datang dan pergi, tapi emang lonya aja yang pergi." Bukannya malah mengasihani, kawannya itu malah bikin Ay menelan pertanyaannya itu.

Nah! Persis seperti yang disebut kawannya Ay, ternyata kehilangan teman itu tak melulu menempatkan kita sebagai objek. Pasalnya, seperti pada kasus Ay, kita kerap juga menjadi subjek yang membuat teman-teman kita hilang dari peredaran keseharian kita: dengan menjauhi atau pindah orbit keseharian misalnya.

Keesokan hari setelah cerita itu, hari ini, sayalah yang dibuat menelan kenyataan bahwa saya telah menyebabkan kehilangan. Saya dinyatakan hilang dari peredaran pertemanan taman Kunang-Kunang. Sukri, kawan saya yang menyatakan hal itu. Tadi pagi. 

"Cuma lu doang, Ki, temen gue yang ilang."

10 Agustus 2015

Memilih Jembatan "Menulis"


Ada yang suka nonton film serial Chibi Maruko Chan? Saya adalah penyuka barunya. Baru satu episode saya menonton, langsung dibuat naksir berat sama cerita Maruko dan dunianya. Apalagi, episode pertamanya itu bercerita tentang penulisan. Seolah semesta mengingatkan saya dengan cara yang paling imutnya, agar saya rajin menulis lagi. Haha!

Ceritanya begini: Maruko dan teman-teman sekelasnya dapat tugas membuat tulisan bertema keluarga. Pak Guru menjelaskan bahwa tulisan tugas itu nantinya akan diseleksi untuk diikutsertakan ke lomba tingkat propinsi selain dapat kesempatan tulisan dimuat di majalah sekolah. 

Maruko senang sekali dengan pengumuman tersebut. Di antara teman-teman sekelasnya, Maruko terlihat jadi satu-satunya siswa yang sumringah banget. 

Tapi kemudian ia merasa minder. Ia sadar, keluarganya yang sederhana itu nggak punya cerita yang bisa jadi  menggugah kalau dituliskan. Beda dengan teman-temannya yang bersama keluarganya bisa sering liburan atau dihadiahi mainan kesukaan di hari ulang tahunnya. 

Maruko tak patah arang. Di rumah, Maruko mengamat-amati tingkah laku tiap anggota keluarganya dan memancing orang tua serta kakeknya untuk mengajaknya jalan-jalan, agar mendapat bahan tulisan. Tentu, tetap tak banyak hal fantastis yang ia tangkap.

06 Juli 2015

Lawan Kata 'Rindu'


Aku perlu tahu, apakah lawan kata  'rindu'
Selama ini aku diserangnya tanpa ba bi bu.

Kutelusuri kamus, nggak ketemu
Aku makin yakin, kata yang melawan 'rindu' cuma ada di kamu

Katakanlah kalau memang benar begitu
Biar kita bertemu  

28 Juni 2015

Menggugu KOMPAS (Minggu)


Hari ini harian Kompas genap berusia 50 tahun. Saya ingin turut merayakannya. Pasalnya, saya sangat suka koran ini. Apalagi Kompas Minggu. Selalu saya tunggu. Membeli Kompas Minggu adalah rutinitas yang saya lakukan sepaket dengan bangun tidur dan sarapan. Persis di seberang rumah ada kios koran. Sangat mudah untuk saya membelinya. Bahkan kadang tanpa keluar pagar, yaitu dengan memanggil penjualnya dan memintanya menyeberang. Saking gampangnya beli koran, saya juga sering ngutang, yaitu ketika tiba-tiba pengin beli koran, tapi dompet ada di kamar, lantai atas.

Kompas sudah 50 tahun, tapi kesadaran untuk membacanya baru muncul pada saya sekitar tiga tahun lalu. Selulus kuliah saya mengikuti workhop penulisan kritik seni rupa di ruangrupa. Para pemateri kerap merekomendasikan rubrik Seni di Kompas Minggu untuk dibaca. Ulasan pameran dan kritik seninya bernas, katanya. Sejak itu saya membiasakan diri membeli Kompas Minggu. Baca Kompas selalu sukses bikin saya nambah wawasan dan nemu inspirasi.

Tentu, akhirnya tak hanya rubrik seni yang saya gugu. Perhatian saya juga menjelajahi sekujur tulisan yang ada di berkas Kompas Minggu. Jika Kompas adalah sekolah maka Kompas Minggu adalah jurusan yang saya pilih. Saya senang duduk menyimak materi-materinya dan diam-diam mempelajari cara penulisan tiap artikelnya.

23 Juni 2015

Cerita Tentang Mimpi


Saya sering bermimpi tentu. Tapi bermimpi yang benar-benar berkesan--entah itu karena buruk, menegangkan, indah atau basah--sehingga membuat saya mencatat mimpi tersebut sebangunnya dari tidur, jumlahnya hanya hitungan jari. Yang paling saya ingat, saya pernah bermimpi saya akan mati dalam hitungan jam. Setelah mimpi itu saya bahkan sampai menset diri untuk siap mati.

Nah, belum lama lalu, saya mengalami mimpi yang tak kalah menegangkannya lagi. Terasa sekali itu nyata. Saya lupa kalau saat itu saya bermimpi.

Begini ceritanya:

16 Juni 2015

"Hidup Juga Butuh Misteri!"

Dua-tiga kawan mengajukan pertanyaan bertema sama pada saya, "Ram, kok lo sekarang anaknya Path banget?!", "Wuih, Kiram tiba-tiba jadi rame di timeline Path gini sekarang."

Intinya, temen-temen--terutama yang di kantor--pada heran. Saya yang nyaris nggak pernah ngoceh  di Path selama satu-dua tahun ke belakang, tiba-tiba giat beredar di timeline. Memang betul, tiap muncul kesan tertentu tentang suatu peristiwa, otak saya lalu merangkai kalimat untuk mengindahkan cerita yang akan saya unggah ke Path. Begitu pula tiap kali muncul ide atau gagasan kecil.

"Biasanya lo kalau ngupdate-ngupdate emang di mana, Ram?" tanya seorang teman.

"Di LINE. Haha!"

Ada teman yang kaget, ada juga yang balik menanggapi. "Oh iya sih, tiap gue buka LINE, pasti ada Kiram."

Kalian pegiat media sosial pasti tahu kalau timeline LINE itu sepi adanya. LINE lebih kerap digunakan sekadar untuk chatting yang lebih ekspresif, karena adanya stiker. Sementara untuk micro blogging, Path yang banyak digunakan.

29 Mei 2015

Kumpulan Doa


Semesta yang memberi 
Pernah kuamini setiap hari
Kini mesti kusimpan di lemari
Kubuat bersembunyi.




26 Mei 2015

Untuk Kepala dan Isinya

Kita perlu memikirkan caranya berhenti berpikir

28 April 2015

Merilis Zine Foto "Ada Harap di Balik Parah"



Kawan, 

Mumpung sekarang adalah 28 April saya mau mengumumkan sesuatu nih

AKAN DIRILIS: 

Kumpulan foto "Ada Harap di Balik Parah"

Pernahkah kamu bertanya, seberapa besarkah ukuran karung sampai banyak anak muda yang merasa sanggup mengarungi samudera kehidupan ini? Mungkin, pertanyaan itu tidak terjawab di zine foto ini. Tetapi melalui 28 foto saya ingin mengajak teman-teman untuk menyimak kisah muda-mudi kayak saya ini mengarungi samudera kehidupan yang penuh gejolak: berhadapan dengan situasi yang parah, membuatnya harus pandai menemukan harap di baliknya. #aww

Akan sangat senang jika ada dari kawan-kawan yang ingin memiliki, menikmati dan mengoleksinya









* Ukuran 14,8cm x 21 cm 
* Dibuat di percetakan digital, bersampul lunak, jilid stepless
* Harga: Rp 65.000

Jika tertarik, isi formulir ini yah. 


Terima kasih, kawan. :D 

#zinefotoAHDBP #visualmemorisk

12 April 2015

KARTU UCAPAN (cerpen dari serial Lupus: Sendal Jepit karangan Hilman)



MENJELANG Hari Valentine Gusur punya kesibukan baru. Setiap hari, sepulang sekolah dia selalu bikin sajak cinta. Kadang-kadang sampe larut malam. Sambil nongkrong di gardu ronda di depan gangnya, sambil menatap sinar bulan, dan sambil sesekali mencomot kue pancong bekal dari engkongnya, lahirlah berbiji-biji sajak cintanya. 

Besoknya Gusur mulai memasarkannya ke teman-teman di sekolah. 

Teman-teman banyak yang bingung. 

“Ini apa, Sur?” tanya Gito. 

“Ini sajak, Gito. Belilah. Murah meriah, kok. Lagi pula ini paten sajakku. Sajak cinta yang pantas kauberikan buat pacarmu di Hari Valentine ini.” 

Gusur memang jagoan berpromosi. Engkongnya dulu kan mantan penjual obat. Buktinya Gito termakan rayuan Gusur. Dan dengan khilaf lalu membeli sajak Gusur. 

Gusur kesenangan sampe rumah. Kemudian bikin sajak lagi. Sampe larut malam. Sampe engkongnya khawatir Gusur sakit. Kalo sakit kasian anak ini. dokter-dokter pada menolak untuk merawatnya. 

Waktu dibawa ke dokter umum, ada dokter umum yang segitu marahnya sama engkongnya Gusur. 

“Bapak menghina saya ya, saya kan bukan dokter hewan!” 

Tragisnya waktu dibawa ke dokter hewan, para dokter hewan pun minta maaf. 

“Wah, maaf sekali, Pak. Bukannya saya menolak. Tapi saya belum pernah menangani dinosaurus.” 

Akhirnya Gusur diobati dengan ramu-ramuan tradisional oleh engkongnya sendiri. Untung sembuh. 

Tapi kalo sakit lagi gimana? Itu makanya engkongnya Gusur ketakutan setengah mati, lalu membujuk-bujuk Gusur supaya lekas tidur. Tapi Gusur menolak dengan alasan demi kemajuan karier. Begitu juga di sekolah. Waktu Lupus secara basa-basi menasihati Gusur agar jangan tidur terlalu malam, eh, Lupus malah diajak kerja sama. 

“Pokoknya asyiklah, Pus, kita bakal mengeruk untung besar. Aku melihat prospek cerah dari usaha ini,” bujuk Gusur segitu semangatnya. 

Lupus cuma diam. Dan bagi Gusur diam berarti setuju. Gusur langsung menyusun pembagian kerja. 

“Aku bertugas bikin sajak, dan kamu ilustrasinya ya, Pus.” 

Lupus manggut-manggut. 

Gusur ternyata punya selera dagang yang lumayan. Kalo lagi kepepet, dia suka jual-jual barang. Tapi kali ini Gusur punya rencana membuat kartu Valentine. Makanya dia ngajak kerja sama Lupus. Soalnya udah berapa lama ini lupus lagi getol-getolnya belajar ngegambar. Eh, nggak dikira bakat gambar lupus lumayan juga. Gambarnya bagus-bagus. Terutama dalam hal menggambar yang rumit-rumit. Misalnya, benang kusut. 

Apa salahnya kalo bakat gambar itu dimanfaatkan oleh Gusur. Apalagi setelah tau maksudnya, Lupus juga kelihatan senang. Wah, pasti bakalan klop deh. Soalnya sajak Gusur butut banget. Jangan ada orang yang ngerti. Abis suka ngaco-ngaco gitu. Sementara cara gambar lupus juga suka seenaknya. Pokoknya lumayan jelek deh. 

Jadilah mereka bekerja sama.

17 Maret 2015

Spesialis Reparasi Tas di Ciledug




Ada banyak sekali jasa permak jahitan di sekitar perumahan. Bentuknya pun beragam, ada yang berupa kios (toko) ada juga yang berkeliling dengan sepeda. Spesialisasinya juga berbeda-beda. Banyaknya, sih, yang spesialis jins, kemeja dan pakaian keseharian lainnya. Banyak juga yang spesialis perrmak atau jahit kebaya dan sefari. Tapi kalau spesialis tas? sedikit sekali 

Nah, asiknya, ternyata jasa permak tas ini ada di dekat rumah saya. Di Ciledug. LIA TAS nama kiosnya. Lokasinya di jalan Raden Fatah. Patokannya, di perempatanbesar Ciledug. Di sekitaran tempat angkot ngetem. 

Setelah tahu keberadaan tukang permak itu dari adik saya yang memang sering berurusan dengan tukang jahit, saya pun ke sana, membawa salah satu tas kesayangan--saya beli waktu kelas 2 SMA--yang rusak resletingnya.

© blogrr
Maira Gall