 |
| ditulis untuk Nirmana Award, dimuat di Malesbanget.com April 2012, http://mlsbgt.de/JAwLNF |
Gambar ayam jago dengan warna keemasan, lele yang sedang meliukkan tubuhnya, dan seekor bebek. Lalu disekelilingnya terdapat tulisan-tulisan penjelas dari gambar “Pecel Lele, Ayam Goreng, Nasik Uduk dan Tahu Tempe,” Tak jarang juga, nama penjualnya dibubuhi lebih besar sebagai penanda. Jenis hurufnya selalu besar dan warnanya eksentrik, biasanya kemerahan.
Coba visualisasikan kalimat tersebut dalam benak kalian, dan sebut hal apa yang muncul. Pasti gambaran warung tenda dipinggir jalan dengan kursi plastik dan suara gemuruh minyak yang tengah mengepung lele dan ayam yang akan muncul. Ya, itu adalah warung tenda Pecel Lele.
Entah siapa yang memulai, tapi tata spanduk semua warung tenda pecel lele di seluruh penjuru Indonesia selalu begitu bentuknya. Kalau kita amati, spanduk sederhana itu sudah memuat unsur-unsur dalam desain grafis: tipografi dalam bentuk dan warna huruf-huruf; ilustrasi untuk menggambarkan apa yang dijualnya dan layout alias tata letak unsur-unsur tersebut. Walau terlihat terlalu ramai dengan penggunaan banyaknya jenis huruf tapi desain spanduk seperti ini sudah tertanam di benak masyarakat sebagai bagian dari brand pecel lele.
Ini adalah bukti bahwa desain grafis itu tidak melulu dilakukan oleh para pekerja di perusahaan kreatif saja, tetapi juga oleh semua orang termasuk kita. Untuk bisa menemukan karya-karya desain pun kita tidak mesti mencarinya di situs-situs dan majalah yang seni dan desain. Cukup lihat sekeliling, kita akan dengan mudah menemukannya.