22 Maret 2016

Mencari Cerpen Eka Kurniawan


Dalam tulisannya Linda Christanty, disebutkan bahwa Eka Kurniawan adalah pembaca majalah HAI, di masa mudanya. Nah, diceritakan, Eka yang sejak saat itu sudah menulis, tak bisa membuat cerpennya lolos dan dimuat HAI. 

Nyatanya, pernah. Barangkali Eka lupa. Dari buku Corat-Coret di Toilet saja, disebutkan ada 3 cerita pendeknya yang pertama kali terbit di majalah HAI.

Cerpen Teman Kencan ini lah salah satunya. Dimuat di HAI edisi 44 tahun 1999. Kala itu, rubrik cerpen HAI kerap diisi oleh penulis terkenal (atau yang kemudian terkenal). Contohnya Golagong dan Hilman

Mengetahui Eka pernah menulis untuk HAI saya ge'er. Merasa dekat. Selain Eka, Dewi Lestari penulis favorit saya juga, pernah menulis untuk HAI. Dan sama kayak Eka, di suatu sesi talk show Dee pernah bilang kalau di masa mudanya cerpennya selalu ditolak majalah. Dia lupa HAI pernah memuat salah satu cerpennya yang kemudian masuk ke Recto Verso

Ini cover-nya. Ya, majalah HAI jadi andalan soal liputan konser. 


Eka Kurniawan, lewat blognya, bilang kalau cerita-cerita di Corat-Coret di Toilet ini lebih sederhana dibanding kumpulan cerita pendek dari penulis seangkatannya (Dua di antaranya adalah Dewi Lestari dan  Linda Christanty), ditulis main-main, dengan teknik yang secara sembrono dicuru dari sana-sini.

Saya heran. Betapapun ditulis main-main begitu, saat pertama baca saya terkesiap serius. Suka! Saya membelinya pada Januari, di toko buku lantai dasar kantor Kompas Gramedia cabang Palmerah. Beli dengan diskon 20% karena saya karyawan. (Ya, kartu karyawan bagi saya lebih sebagai kartu diskon jajan buku ketimbang tanda pengenal. Hihi)

Cerita yang pertama saya baca tentu yang terawal: Peter Pan. Saya baca di jok belakang Gojek yang mengantar saya ke Kebon Jeruk. Di rumah, sepulang kerja saya  baca tiga selanjutnya: Dongeng Sebelum Bercinta (duh, saya suka sekali cerita ini), Corat-coret di Toilet, dan yang terakhir saya baca Teman Kencan. 

Keesokan harinya, di kantor, saya membuka-buka lagi. Lompat ke halaman belakang, membaca tulisan penutup dari penulis. Diceritakanlah riwayat cerpen-cerpen tersebut. Saat itulah saya jadi tahu, ada tiga diantaranya yang pernah dimuat di majalah HAI. Sontak, saya langsung berlari ke meja mas Muluk, ahli arsip majalah HAI.

"Mas, majalah lama datanya udah di komputer kan? bisa di-search? gue pengen liat HAI tahun '90-an."
"Bisa, tapi belum semua sudah ada PDF-nya."

Sungguh saya nggak mengharap sampai ada format PDF-nya. Dibantukan cari bundelnya saja di ruang perpustakaan sudah untung.

Sekarang, sebulan setelahnya saya ditimpa sial. Saya lagi pengen banget lanjut baca lagi buku itu, tapi entah di mana saya menyimpannya. Lupa sama sekali. Saya jadi ingat, ini adalah buku kedua yang hilang sama sekali. Lenyap ke antah berantah. Nggak tau penyebabnya. Buku lainnya adalah buku Everything is Connected bikinan Keri Smith. 

Lebih dari itu, saya pengen baca cerpen-cerpennya Eka lagi.

Akhirnya saya telusuri di internet, ada satu-dua blog yang menyalin cerpen-cerpen Eka yang pernah dimuat di koran. Saya membacanya. Lalu saya juga jadi lompat ke blognya Eka. Saya yakin, semua penggemar Eka pasti bersyukur punya idola yang rajin banget mengeluarkan uneg-uneg kesehariannya di blog. Kita bisa tau buku-buku apa saja yang dibaca Eka dan mengapa dia suka. Dan kita jadi bisa tau, ternyata sastrawan sekelas Eka juga suka jadi baper. 

Tulisan-tulisan Eka bikin saya jadi baper. itu tentu. dan sekarang saya laper. Pengen melahap Corat-coret di Toilet. Tapi, BUKUNYA DIMANA?!! Apa iya saya harus beli lagi? Atau pinjam dengan konsekuensi nggak bisa menandai buku, dan menandatanganinya? tidakkah bisa Google dipakai untuk mencari barang-barang yang lupa disimpan di mana. Huu


13 Maret 2016

Baterai Bisa Habis, Tapi Kebaikan Kita Tidak.


  • "Permisi, mbak. Saya bisa minta tolong nggak. Saya perlu nge-charge hape. Ada charger atau powerbank yang bisa dipinjam? saya perlu ngabarin teman saya."

  • "Mas, itu powerbank yang di-charge punya mas yah? Saya boleh pinjem nggak? Sebentar aja kok. Cuma untuk mesen Gojek"

  • "Eh.. yaah. Hape lo iPhone yah. Tolong pinjemin charger Android dong ke temen di kelas lo. Hape gue mati banget. Yah!" 

  • "Bang, baterai hape saya low banget nih. Nanti langsung ke sini aja yah. Saya pake jaket biru, berkaca mata." 

  • "Lo bisa sampai situ jam berapa? nanti langsung ketemu aja yah. Baterai hape gue low parah." 

  • ... dst. 

Ada yang pernah mengukur seberapa sering hujan turun di 2016 ini? berapa pun itu, saya rasa, jumlahnya masih kalah dengan jumlah kejadian saya kehabisan baterai hape di saat masih membutuhkannya. 

Satu jam sebelum tulisan ini dibuat pun, saya mengalaminya. Di pukul 23.00, saya  menghampiri seorang polisi yang lagi asyik sama hapenya. Di belakangnya saya lihat ada powerbank sedang diisi dayanya.

Ini dia yang gue cari-cari. Dan langsunglah saya meminta izin untuk meminjam charger-nya.

Saya sering bermasalah sama baterai hape. Bukan karena baterainya bocor, melainkan karena dua alasan ini: Pertama, saya males nge-charge. Seharusnya tiap malam itu hape di-charge, tapi karena jarak colokan dan tempat saya tidur jauh, sementara saya selalu megang hape sebelum tidur, alhasil lebih milih untuk nggak di-charge. Di paginya, ya udah sibuk siap-siap untuk kerja. 

Alasan kedua, saya ogah-ogahan bawa charger atau powerbank.  Alasan ini berasal dari prinsip sok iye, yaitu: "kalau baterai hape udah habis ya itu berarti tanda kalau saya udah cukup berkutat sama hape di hari itu." 

Tentu, prinsip itu nggak salah, asalkan alasan pertama saya itu nggak ada. Ya, kan?

...

Di satu sisi, saya sering kesal sendiri ketika hape tiba-tiba mati suri. Gregetan bin panik. Tapi di satu sisi, saya kok malah semacam suka sama sensasinya. Menantang dan bikin senang, karena: 
  • Harus mikir cara irit baterai
  • Berpikir keras mencari dimanakah saya bisa mendapatkan tumpangan listrik dan charger. 
  • Jadi kenalan sama orang yang kemudian meminjamkan charger atau powerbank-nya itu.

Kejadian gini menyadarkan saya. Nyatanya, kita (atau saya) terlalu terkungkung sama pikiran bahwa orang asing yang tiba-tiba menghampiri dan memohon sesuatu, biasanya berujung tindakan yang merugikan (baca: kriminal). Pengalaman saya sering minta tolong sama orang ini membuktikan kalau masyarakat kita ini baik-baik saja. Kita bisa untuk nggak sesungkan dan sekaku itu dengan sesama, walaupun awalnya asing. 

Pun, kita bisa nggak setraksaksional itu. Ketika meminta bantuan, tak melulu kita harus menyediakan sesuatu sebagai bayaran. 

...

Selain numpang nge-charge saya juga pernah beberapa kali minta nebeng ke motor yang lewat saat saya sedang jalan kaki untuk ke depan komplek, atau minjem telpon-SMS ketika hape saya tertinggal. 

Jadi, jangan ragu untuk minta tolong ke orang asing, dan lepaskan kecurigaanmu saat ada orang asing mendatangimu untuk meminta tolong hal-hal kecil sekali pun. 

Barangkali, saya nggak bisa rajin bawa charger tiap saat. Tapi saya selalu bawa helm dua, kok, tiap pergi naik motor. Jadi, kalau ada yang mau tiba-tiba nebeng, jangan ragu! Bayarannya, ditraktir obrolan aja cukup kok. :)






06 Maret 2016

Janji Televisi



Gini ceritanya, suatu hari, saya liputan di sebuah kantor kementerian. Ada narasumber yang perlu saya kejar, dan dia akan mengisi materi di seminar di kantor itu. Nggak banyak media yang meliput, sepantauan saya, hanya ada tiga wartawan. Saya, seorang wartawan TV, dan seorang ibu yang katanya wartawan organisasi penyelenggara seminar tersebut

Narasumber saya datang. Saya pun menghampirinya. Dua wartawan lain tadi ikut juga. Kami mewawancara si pejabat itu secara door stop, sebelum dia masuk ke ruang seminar, dan mengisi materi. Kami bertiga mewawancara barengan

Dan di sinilah menariknya. Saat itu, karena ada wartawan televisi, si narasumber nggak berdiri sendiri di depan kamera. Para petinggi organisasi ikut nempel, berdiri menghadap kamera. Betapapun yang diwawancara cuma satu orang

Sambil konsentrasi memerhatikan jawaban dan menyiapkan pertanyaan, mata saya memerhatikan, jumlah orang yang nempel makin banyak. Tadinya hanya satu, lalu datang dua pria lagi berdiri di belakangnya. Lalu pria muda ikut datang juga, berdiri di samping si bapak. Bahkan, si pria muda ini sempat meminta difotokan dalam pose (seolah) sedang mendampingi pejabat diwawancara televisi. Ya, masuk tivi saja nggak cukup!

Itu belum seberapa mengagetkan dibanding ulah si ibu wartawan organisasi. Ketika wawancara baru berjalan sekitar dua menit, ponsel perekam yang tadinya ia pegang, ia SELIPKAN ke jari-jari tangan saya yang padahal ia tahu bahwa di tangan saya sedang memengang ponsel perekam juga. "nitip ya dek,"katanya singkat dan tak sempat saya jawab

Dalam keheranan campur sebal yang menyeruak memecah konsentrasi saya yang sedang mewawancara, mata saya mengikuti kemana si ibu pergi. Tahukah kamu si ibu melipir dari hadapan narsum menuju rombongan orang-orang yang mendampingi wawancara itu. Dia ikut berpose lalu minta difoto juga oleh temannya

Astaga

Betapa oh betapa, televisi adalah bingkai realita, dan masyarakat kita tahu betul kalau bisa masuk ke dalam siarannya bikin dunia tahu kalau kita ada. kesempatan menciptakan citra lewatnya, adalah cara kita jadi manusia bahagia.

---

29 Februari 2016

Kebahagiaan


Kalau benar kebahagiaan bisa diciptakan, 
dimanakah toko yang menjual bahan-bahannya? 

Aku ingin mencipta kamu.

Akan ku buat kamu juga punya kemampuan untuk mencipta, 
sehingga kamu akan pergi juga ke toko bahan-bahan itu, 
lalu mencipta aku. 

Sehingga ketika saling menatap, kita menemukan kebahagiaan. 

Sehingga aku tak lagi perlu mengais-ngais kebahagiaan pada tumpukan waktu yang dibuang oleh keakraban yang berujung canggung; ciuman yang lebih baik tak jadi; dua tangan berhimpitan namun tak bergandengan; dan wajah manis yang tak bisa dicubit. 



(Cerpen) Mencuri Hati


Namaku Yunita, hari ini bekerja shift sore menuju malam. Tak ada yang harus kukerjakan hingga akhirnya pria itu datang. Pria yang kemudian bikin aku pengin membelek dadanya, mencuri hatinya

Pria itu datang diantar polisi dan beberapa pria lain yang mulutnya tak pernah sepi membahas kaitan antara azan magrib, motor, tukang bakso, persimpangan, jalan berlubang, dan kucing nyebrang

Dari cerita polisi, aku tahu kalau pria ini adalah petugas pos. Dari seorang pria yang ikut mengantar, aku tahu kalau pria ini adalah si baik hati dan pekerja ulet. Pernah suatu kali ada berkas tertinggal di tempat fotokopi miliknya, si pria ini mengantarkan, betapapun ia sudah memberi tahu kalau dokumen itu tidak penting.

Tak lama kemudian, datang seorang wanita. Ku dengar ia mencari-cari si pria ini. “Saya istrinya… Saya istrinya,” nada bicaranya resah penuh kebingungan

Sial, dia sudah beristri, pikirku

Lalu istrinya masuk ke ruangan kerjaku. Mengajak bicara suaminya, “Pak, besok si Eneng bagi rapot. Bapak, janji, lho, mau ngajak dia ke toko buku bekas depan sekolah kalau dapet rengking.” Suaminya tak menjawab satu kata pun. Orang-orang pun memanggil-manggil si istri untuk keluar ruangan

Akhirnya tinggallah aku dan si pria di ruangan

Saat itulah aku benar-benar bisa menatapi wajahnya. Pria ini tak tampan, tapi mukanya menyimpan banyak cerita bahagia. Kubuka matanya, duh, ini mata yang banyak melihat senyum, aku percaya

Saat aku ingin membuka kemejanya. Kutemui selembar kartu pos di sakunya, lusuh dan robek di tepi-tepinya. Isi pesannya semanis surat cinta sepasang kekasih yang baru sebulan pacaran. Setelah “salam rindu selalu” kulihat ada nama Yusuf, tertoreh di samping coretan yang menutupi nama di bawahnya. Nama yang sama seperti yang tertulis di atas saku kemejanya

Namaku Yunita. Dokter forensik yang hari ini bekerja shift sore menjelang malam. Aku jatuh cinta pada Yusuf, petugas pos yang tadi kuperiksa mayatnya. Ah, ya, nama kami serasi, Yusuf- Yunita

Yusuf sudah beristri, tapi tak apa, karena hanya aku yang bisa benar-benar mencuri hatinya. Jangan bilang siapa-siapa

26 Februari 2016

(Cerpen) Kartu Pos dari Seberang



Ini hari ketiga Yusuf ke rumah bertembok kuning berpagar kayu yang berhadapan dengan kavling dengan bangunan rumah yang sudah hancur setengah. Ia tetap tak mendapatkan seseorang pun yang keluar pintu dan membalas sapaannya

“Permisi! Pos!” sahut Yusuf

Sudah delapan setengah kali ia menyapa. Yang terakhir tak selesai karena ia dikagetkan sebuah mangga menimpa kepalanya, jatuh dari pohon yang rantingnya melintang di atas pagar

Di hari pertama kunjungan, Yusuf bingung bukan main. Alamat yang dituliskan tak hanya sulit dibaca, tetapi juga tak menampilkan nomor rumah. Nama gang pun baru Yusuf bisa baca setelah minta petunjuk istrinya, dua temannya, dan satu penjaga tempat fotokopi. Selebihnya, pengirim menyebutkan patokan rumah. “Depan rumah kosong, yang ada pohon mangga.” Untuk kiriman satu itu, Yusuf juga menjadi detektif pos

Kartu pos ia masukkan ke saku kemeja. Mangga tadi ia masukkan ke tas

Andai saja Yusuf tidak membaca isi pesan pada kartu pos itu, ia tak akan berusaha sekeras ini mengantar. Tapi Yusuf sudah terlanjur membaca surat telanjang itu, dan membuat Yusuf membayangkan kalau dirinya adalah si penerima pesan manis itu. Bahkan, Yusuf sampai punya ide untuk mengganti nama pengirim dengan nama istrinya, lalu mengalamatkan ke dirinya sendiri. Ia kirim lewat kantor pos lain yang agak jauh dari tempat kerjanya

Pak Gun, penjaga fotokopi tempat Yusuf menanyakan alamat di hari kedua, yang mendapati Yusuf begitu melempar pecinya. “Senyum sendirian aja, lu, Suf. Ajak peci gue, tuh. Kasian dari tadi dia bengong mulu.” Yusuf cengegesan

Di hari kelima Yusuf baru bisa balik ke alamat itu. Di ujung gang Yusuf berhenti, tak seperti biasa kali itu portal mengadang. Yusuf melihat, di rumah tujuannya ramai orang, sampai-sampai ada tenda dan banyak kursi

Di tepi portal ada janur kuning melintang. Yusuf membaca nama yang tertulis di situ. Satu nama persis dengan nama yang ada di kolom alamat kartu pos itu. Yusuf tersenyum

Sementara satu nama lagi, ternyata tak sama seperti nama pengirim kartu, tidak seperi yang Yusuf bayangkan. “Astaga naga,” Yusuf mengelus dadanya

(ilustrasi oleh: Made Wiryawan)
----
Pertama kali ditulis pada 15 Januari 2016 untuk program #30haribercerita

10 Januari 2016

Lupus: Interview With Duran Duran - Hilman (1995)


LUPUS emang udah jarang main ke HAI lagi, sejak bisnis kue maminya berkembang pesat. Ya, soalnya pulang sekolah sebelum si Lups ini sempet ngapa-ngapain, langsung aja disuruh ngaduk-aduk adonan pake mixer. Walhasil waktu untuk main jadi berkurang. Tapi Lupus nggak sedih, soalnya sambil ngaduk adonan, Lupus bisa nyambi ngemil kismis, keju, atau sukur-sukur bisa kebagian kue yang agak gosong. Lumayan, kan, meski agak pait-pait dikit

Nah, siang ini kebetulan si Mami lagi nggak banyak orderan. Jadi, Lupus bisa main-main lagi ke kantor HAI. Tak disangka tak diduga, kedatangan Lupus disambut amat hangat. Ketika lupus buka pintu redaksi, orang redaksi yang udah ngumpul di ruang tunggu, sebangsa si Iis, Rini, Denny, Weda, Dhw, langsung histeris menyambut, "Welcome! Welcome! Welcome, Keanu Reeves!" 

Lupus bengong. Kok, Keanu Reeves? Lupus jadi ngaca di kaca rautan yang ia bawa-bawa dari sekolah. Apa iya mirip? 

Anak-anak redaksi juga bengong. "Kok si Lupus?" 

Oalah, ternyata mereka itu lagi nunggu-nunggu kedatangan Keanu yang rencananya datang bertandang ke redaksi HAI atas undangan HAI. Karena kebetulan Keanu sedang berada di Jakarta dalam rangka mempromosikan Restoran Speed yang buka cabang di Jakarta. Itu restoran rada-rada ajaib juga. Didesain di atas sebuah bus yang berjalan keliling kota. Jadi orang yang makan terguncang-guncang karena busnya ngebut di jalan tol. Walhasil para penjual bubur ayam yang pake mobil di Senayan pada protes karena idenya dicolong Keanu. Tambahan lagi lisensi untuk restoran itu dipegang seorang konglomerat yang bisa dengan enteng menggilas bisnis kecil-kecilan para pedagang kaki lima. Karena para pedagang kecil-kecilan itu kan jelan-jelasan nggak bisa minta proteksi, dengan dalih: menuju pasar bebas! 

Ya, itu latar belakang kedatangan Keanu. 

Makanya kedatagannya pun disambut gegap gempita oleh orang seredaksi. Makanya lagi, ruang tunggu kantor HAI kali itu rada istimewa, dengan hiasan balon di tiap  sudut plus kertas warna-warni yang terjulur dari ujung ke ujung.

Dan anak-anak HAI yang udah buat persiapan mau bikin surprise atas kedatangan bintang besar Amerika itu jadi sebel bercampur gondok ketika yang muncul malah si Lupus. 

Lupus sih cengar-cengir aja. 

“Aduh, pada tega ih nyamain gue sama Keanu," ujar Lupus sambil ngeloyor masuk, diiringi pandangan jutek para redaktur.

"Emang ada angin apa lo datang kemari?" si Iis yang paling senewen nungguin Keanu lantaran udah cita-cita dia nggak bakal kawin dulu sebelum ketemu Keanu, bertanya judes pada Lupus.

"Emang harus ada angin?" tanya Lupus lagi,"Kalo angin kentut mau?" 

Iis langsung menutup idung sambil misuh-misuh. 

Tapi kedatangan Lupus akhirnya benar-benar disambut oleh Iwan, sang wakil Pemred yang langsung nembak, "Pus, lo kan demen Duran Duran, mau nggak wawancara mereka?" 

"Ha?" Lupus bengong ditodong begitu. Bukannya yang mau datang itu Keanu? 

"Iya, kita dapet skedul wawancara dengan mereka di Hong Kong. Kamu mau nggak pergi ke sana? Soalnya si Denny wartawan musik kita itu tuh minder. Nggak tau minder karena bahasa Inggrisnya masih kayak Miki Mos, atau minder karena kalah kece sama Duran Duran!" ujar Iwan lagi seperti membaca keheranan Lupus. 

"Yang bener nih?" 

"Bener. Tapi beli tiket sendiri, ya?" Soalnya jatahnya cuma buat dua orang. Dan itu udah dikuasai Denny sama fotografernya, si Sute... Murah kok, cuma enam ratus dolar. Kamu kan lagi kaya, Pus. Denger-denger bisnis kue nyokap kamu lagi laris manis full kismis..." 

Kata-kata Iwan terakhir soal tiket, udah nggak dipikirin Lupus lagi. Yang penting, ia girang banget punya kesempatan ketemu sama grup yang dulu pernah ia idolakan. Terus terang aja, Lupus mau nanya ke sodara kembarnya, si John Taylor, kok rambut dia sama Lupus bisa samaan. Sama-sama kayak sarang burung. Siapa meniru siapa nih? Hihihi...

Akhirnya, setelah Lupus langsung setuju, ia pun pulang. Mau buru-buru ngebantuin Mami bikin kue. Iya lah ia kan butuh duit buat beli tiket. Ngandeli tabungannya aja mana cukup?

Sekali lagi Lupus melewati ruang tunggu yang tadi dipenuhi orang-orang yang nungguin Keanu. Tapi di ruangan itu kini tinggal Iis seorang, yang masih setia nungguin. Yang lainnya udah pada putus asa gara-gara kecewa berkali-kali. Iya lah, gara-gara mau bikin surprise, setiap ada yang buka pintu langsung disambut meriah dengan yel-yel. Padahal setelah Lupus tadi yang datang makin kagak top. Tukang jualan video yang mau nawain dagangannya, tukang AC yang mau ngebetulin AC kantor, anak kecil yang mau ngirim kuis, dan terakhir yang paling menyebalkan. Mas Kaelan yang membawa gambar hasil separasi

Iis berteriak sewot, "Aduh, Mas Kaelan, biasa-biasanya kan Mas lewat pintu samping. Kok sekarang pake acara lewat pintu utama segala!!!" 

Mas Kaelan cuma cengar-cengir ge-er. Iyalah, tujuh belas tahun kerja di HAI, baru sekali ia disambut begitu hangat. Mas Kaelan yang udah cukup bangkotan itu pun langsung berniat memotong rambut cepak alias krukat model Keanu besoknya. Siapa tau beneran mirip! 

Lupus pun lewat ruang tunggu itu sambil melirik Iis yang setia memegang spanduk kecil bertuliskan: "Keanu, I Love You". 

"Udah, deh, Is. Keanu-nya batal datang....." 

“Kenapa emang?" tanya Iis galak.

"Soalnya ia janjian mau ngeceng di PI Mall bareng gue," ujar Lupus enteng. 

Iis misuh-misuh lagi. "Nggak mungkin! Imposible! Tipu la yaouw!" 

Saat itu Iwan nongol di ruang tunggu. Langsung ngomong ke IIs, "Is, tadi ada telepon dari panitia Restoran Speed, katanya Keanu batal datang ke HAI, karena mau belanja di PI Mall!" 

"Hah?" Iis langsung jatuh lemes. 

Sedang Lupus langsung mengedipkan sebelah matanya, "Apa gue bilang, kan?" 

Lupus ngeloyor pulang. 

===

Ternyata tiket bolak-balik ke Hong Kong itu cukup mahal juga buat kantong Lupus. Enam ratus dolar itu kan kira-kira sejuta seperempat lah. Itu juga karena dapet diskon. Dan dari tabungan Lupus, plus bantu-bantu Mami bikin kue, cuma terkumpul delapan ratus ribu. Masih kurang. Lupus pun nyamperin Boim buat minta bantuan ide. 

"Kalo lo mau, kerja di bengkel abang gue aja, Pus," ujar Boim. 

"Kebetulan liburan ini gue juga mau magang di sana, Biar kalo abang gue pensiun, gue bisa nerusin usahanya!"

Hari pertama Lupus mulai kerja, ternyata di bengkel lagi ada ribut-ribut soal keilangan. Narun, salah seorang montir, sibuk nyari barang-barang. "Busi saya mana? Obeng saya mana? Mana! Mana! Kok pada nggak ada? Kamu yang ngambil, ya, Pus? Ngaku aja deh." 

Lupus sebel baru masuk langsung dituduh begitu. "Enak aja. Baru juga dateng, udah dituduh nyolong."

Tapi belum sempat Lupus ngomel lebih panjang, Sudin, montir yang lain, juga mulai uring-uringan. Dia celingak-celinguk, kemudian ikut-ikutan heboh. "Lho, kok baut saya ilang? Lho, bukan cuma batu, obeng juga ilang?! Lho, busi saya juga lenyap? Ke mana ya?"

Narun jadi kesel. "Jangan ikut-ikutan. Orang kehilngan, kamu ikut keilngan. Ngeledek, ya?" 

"Maap, Run. Saya juga keilangan. Emang ndak banyak, cuma ilang baut dua biji, busi tiga biji, sekring satu lusin, obeng tiga batang, sama...." 

Narun buru-buru membentak. "Segitu nggak banyak? Dasar idiot! Saya ilang obeng lima batang, baut empat lusin, pelek satu gros."

Boim langsung mendekati kedua montir tersebut. Sudah, sudah, nggak usah berantem. Nanti yang ilang akan ketemu kalau dicari. Abang gue juga sering keilangan belakangan hari ini. Tapi... ya itu tadi, abang gue nggak tau siapa yang ngambil. Katanya, kemaren Pak Somse pelanggan kita itu, baut sepedanya ilang." 

"Baut sepeda ilang aja bingung." 

"Lho, baut itu dari emas. Maklum deh, orang Jakarta kan lagi demam sepeda mahal." 

Narun jadi penasaran. "Pokoknya, pencurinya harus kita temukan!"


"Lho, saya nyari baut dan sekrup bukan nyari pencuri, Run," ujar Sudin polos.


"Semua itu ilang karena ada yang nyuri, dasar idiot!" bentak Narun.
Dan sore itu langsung aja Lupus dan Boim niat mau bantuin abangnya mencari tau siapa pencurinya. Lupus dan Boim melangkah dengan cara berjinjit, persis langkah James Bond atau langkah Jim Carry di Ace Ventura lagi jadi detektif. Pakaian mereka seperti layaknya detektif-detektif top di Barat sana. Memakai jaket panjang dan topi pet ala Sherlock Holmes. Lupus mengisap cangklong, sementara Boim mengisap cerutu.


Lupus melangkah dengan mata tertuju ke jalan, sedangkan tangannya memegang kaca pembesar.


"Nah, ini dia. Ini pasti baut yang ilang!" seru Lupus.


Boim memungut baut itu. "Bukah, ah! Baut di bengkel abang gue nggak ada yang mengilat kayak begini!"


"mengilat? lo kira bohlam! ini mengilat karena kena oli, tau!" Lupus kesel.


Dan seharian penyelidikan mereka tak menemukan tanda-tanda siapa dan ke mana barang bengkel yang ilang. 


===


Pagi hari, keadaan bengkel yang bernama "Bongkar Tinggal" itu masih lengang. Seorang gadis seksi penjual kue baskom bernama Leila Lololopoh masuk mengendap-endap. Wajahnya celingak-celinguk, dan matanya mengerling genit. 


"Aha, kayaknya pada belon dateng nih. Ngobyek dulu, aahhh..." Maka, Leila pun membuka baskomnya. Ia mengeluarkan lontong, lalu mengisinya dengan baut. Lalu mengeluarkan kue talam dan mengisinya dengan busi. Lontong yang lain pun diisinya dengan busi.


Jadilah pagi itu Leila Lololopoh memasukkan pernak-pernik bengkel ke dalam dagangannya.


"Kayaknya udah cukup deh. Oh ya, ini harus dipisahkan, biar kagak diembat langganan saya, gitu!" ujar Leila sambil menyisihkan barang dagangannya yang telah diisi macam-macam onderdil. 
Ketika itulah abangnya Boim datang. 

"Pagi, Leila!" sapa abang Boim.

"Pagi, Bang. Wah, saya sudah keduluan dateng nih, Bang. Mau lontong? Rasa kaldu ayam apa rasa bulu ayam?"

"Rasa jengger ayam aja, deh!" 

Abang menerima lontong yang diberikan Leila. Lalu memakannya. Tapi baru menggigit, ia sudah ber-auw menahan sakit. Ketika ia memuntahkan (atawa melepehkan, dalam bahasa Jawa), ternyata bukan cuma lontong yang keluar tapi juga giginya. 

"Busyet! Ini lontong kok alot banget ya, Jeng Leil? Saking alotnya gigi saya patah!" 

Leila mendadak sontak kaget. Matanya melotot. Dan Abang mengeluarkan sesuatu dari dalam lontong. 

"Hah, busi? Jeng Leil, ini isi lontong terbaru, yah?" 

"Ma-ma-maaf, Bang. Pasti itu salah bikin!" 

"Jangan-jangan yang lain juga salah bikin!" 

Abang memanggil Boim dan Lupus yang baru datang. "Boim, cepet sini! Coba lo sama Lupus periksa kue-kue salah bikin ini!" 

Dan di kue-kue yang lain, ditemukan banyak onderdil milik bengkel yang hilang. Leila langsung ditangkap. 

===

Leila memuntir-muntir ujung blusnya dengan mimik ketakutan. Dia duduk di kursi dikelilingi Abang, Narun, Boim, dan Lupus. Sudin nampak belum muncul.
Leila sedang diinterogasi oleh ketiga "penghuni bengkel" Di atas meja Abang, kue-kue sudah terbelah dua, di situ menyembul baut, obeng, dan peralatan bengkel lain. 

"Jadi, selama ini kamu malingnya?" 

Leila mengangguk lemah. 

“ternyata kamu musuh dalam selimut,” maki Nurdin.
Leila jadi sewot. “Abang kira saya tumbula?”

“Kagak usah becanda! Gara-gara kamu, hubungan kami di bengkel jadi suram!” Narun membentak. 

“Ya, ibarat air yang suram-suram kuku!” celetuk Boim 

“Pokoknya, gini aja deh, Jeng Leil. Kenapa kamu kok tega-teganya maling di bengkel kita?” putus si Abang. 

“Sebenernya, saya mau ngemaling di bengkel sodara saya. Tapi… jauh, Bang, di Tegal. Akhirnya saya pilih aja yang terdeket,” ujar Leila santai 

“Dari tadi keteranganmu ngalor-ngidul. Sekarang, jelaskan kenapa kamu mencuri benda-benda di bengkel ini?” Abang jadi nggak sabaran. 

“Sebenernya, bakat itu sudah ada. Tapi sekarang baru tersalurkan, itu karena bapak saya di kampung lagi bikin traktor. Saya nggak bisa ngasih modal duit, jadi… ya saya kirimin bahan-bahanan mentahnya aja. Seperti baut, obeng, busi. Oh ya, kemaren saya sempat nyumpelin baut gede ke kue sus. Tapi… udah dimakan sama si Narun….” 

Narun terkejut. “Hah?!”

Boim cekikikan. “Pantes aja sejak kemaren dia kagak bisa ke belakang. Ada yang nyangkut ternyata.” 

“Jeng Lei, kami kan baik sama kamu. Jadi mulai sekarang, saya mohon jangan sekali-kali lagi mengambil barang-barang yang ada di bengkel. Kecuali kalau dikasih!” ujar Abang.

Leila dengan santai melengos centil. “kalo emang kagak boleh ngambil di sini ya udah.” 

Leila bangkit seraya merapikan roknya. “Saya mau pamit dulu, ah! Kebetulan bapak saya baru ngirim surat, katanya mau bikin rumah.”

“Wah, bagus itu, jadi nggak perlu nyolong baut di sini lagi!”

“Ya, jelas tidak. Saya mau ke gang sebelah, ada yang lagi ngebangung hotel. Kali aja ada papan, paku, atau gembok yang bisa diembat…” 

Leila mengambil baskom dan menarhunya di kepala. Lalu melangkah dengan genit. 

“Pamit dulu, ah. Oh ya, besok mau dibawain lontong rasa apa?” tanya Leila. 

“untuk smentara saya bawa bekel dari rumah aja, Jeng Leil,” ujar Abang. 

Baru juga Leila mau meninggalkan tempat itu, tiba-tiba Sudin datang tergoropoh-gopoh. Mukanya tampak panik. 

“Bang! Abang! Gasywat… Sepeda yang kemarin sudah direparasi, sekarang ilang.” 

Semua kaget. “Ilang?!” 

Bersamaan mereka menatap curiga kepada Leila. 

Leila langsung menggeleng ketakutan. “Sumpah, saya nggak ngambil. Kalo mesin bubut yang ilang kemaren emang saya yang ngambil. Tapi yang sekarang? Sumpah… bukan saya. Padahal entu sepeda udah saya incer dari kemaren. Sumpah deh, biar saya dikutuk jadi Sharon Stone, saya nggak ngambil.”

**

Beberapa saat kemudian, Lupus bener-bener berangkat ke Hong Kong dengan Denny dan Sute. Ya, meski duit buat tiket belum kekumpul, HAI mau nalangin dulu buat ongkosnya. Jadilah Lupus berangkat. Keberangkatan Lupus tentu membuat heboh temen-temennya bangsa Boim, Gusur, Anto, Aji, terutama Fifi Alone. Kebetulan Fifi juga artis kapiran yang penggemar cowok-cowok keren selevel Duran Duran. So pasti doi heboh banget. “Bener, Pus? Lo mau ketemu Duran Duran? Wah, ikke kudu ikut, dong?”

Lupus menggeleng kuat. “Nggak boleh. Nggak ada jatah!”

“Yaaaa,” Fifi kecewa berat. “Boleh ikut dong!” ujar Fifi memohon tapi maksa. 

“Nggak!” ujar Lupus. 

“Sombong!” 

“Iya, Pus. Gue kan juga mo ketemu abang gue, si Simon LeBon… Kalo nggak boleh, bilang deh ada titipan salam dari adiknya, Boim LeBon…,” ujar Boim. 

Cuma Gusur yang nggak seberapa berminat. “Daku sih hanya pesan dim sum asli Hong Kong, Pus. Sama makanan-makanan khas Hong Kong lainnya, bangsa shark fin, bebek panggang dan sejenisnya…”


Berhubung nggak boleh ikut, walhasil Fifi nitip oleh-oleh seabrek-abrek banyaknya. Sampai semaleman ia buat daftar itu. Karena Fifi tau kalo di Hong Kong itu pusat belanja yang murah. Terutama buat merek-merek beken model Mark & Spencer, Esprit, Varsace, sepatu Biblos, atau baju-baju mewah yang kebanyakan di-sale. Barang-barang itu tentu klop dengan keartisan Fifi. 

“Ini ikke juga nitip uangnya. Jangan lupa ya, Pus, sama semua pesanan ikke!”


“apaan nih, Fi?” ujar Lupus kaget. 

“Daftar belanjaan…”  

“APA?” 

“Jangan kaget dulu, Pus. Ikke juga nitip souvenir asli dari Duran Duran. Kaosnya Simon LeBon kek, cincinnya Nick Rhodes kek, atau kalo bisa rambutnya John Taylor, ya?” 

“Gokil ya kamu?” Lupus sewot setengah mati. 

Dan pada hari yang ditentukan, berangkatlah Lupus, Denny, dan Sute ke Hong Kong naik Garuda. Enak lho naik Garuda. Berhubung penumpangnya dikit, bisa pindah-pindah duduk seenaknya. Atau juga ngobrol ngalor-ngidul sama pramugari

Lewat udara, Hong Kong nggak begitu jauh. Cuma beberapa jam lah! Dan tiba di Bandara Hong Kong Internasional, Lupus sempet terpana juga melihat pemandangan di luar. Gila, Hong Kong ini penuh dengan gedung-gedung tingkat. Udah padat banget. Tak ada sisa tanah, semua serba rapat. Landasan udara aja dibangun di atas laut, hingga bau dari pembuangan sungai menyengat tajam

Mendarat di Hong Kong seperti mendarat di kota raksasa. Karena gedung-gedung yang menjulang tinggi. Pramugari sempet nakut-nakutin Lupus, sebelum turun, “Suhu udara di luar dingin banget lho. Kamu harus pake mantel!”

Dan ketika Lupus melangkah keluar, ternyata udaranya biasa-biasa aja. 

Setelah melewati imigrasi, Lupus dan temen-temennya langsung naik taksi ke hotel yang udah dipesan. Hotel itu terletak di kawasan Causeway Bay di Pulau Hong Kong. Sedang bandaranya di Pulau Kowloon, jadi harus lewat terowongan bawah laut Cross Harbour Tunnel, yang menghubungkan kedua pulau tersebut

Setibanya di hotel, Lupus, Denny, dan Sute langsung menuju kamar, diantar oleh pelayan. Waktu mau ngasih tip, Denny udah nyombong ngajak ngomong Inggris, selain melatih lidahnya yang biasanya terlalu kental logat Pasundannya

“Thanks for helping us, here’s some money for you,” ujar Denny mengangsurkan uang dolar Hong Kong yang ditukerin di bandara. 


“Ah, nggak usah ngomong Inggris. Saya juga dari Surabaya, kok!” ujar pelayan itu. Denny kaget. Nggak nyangka ada orang Indonesia di sini. 


Lalu pelayan itu cerita panjang-lebar kalo memang besar di Indonesia. Deny jadi tengsin berat. 


Di kamar hotel, Denny dan Sute langsung istirahat, sedang Lupus disuruh nelepon panitia setempat. 


“Kamu lacak EMI Record, Pus. Tanyain kapan janjian wawancaranya, dan sekalian minta tiket gratis!” 


“kok saya,  Mas Denny?” tanya Lupus. 


“Apa kamu pikir kamu dibawa ke sini untuk piknik? Ayo, kerja!” ujar Denny judes. 


Lupus terpaksa nelepon ke sana-sini, dengan nomor yang udah dicatetin Denny. Dan Denny dan Sute malah sibuk ngurusin acara besok. 


“Besok pagi-pagi kita cari makan, terus belanja di sepanjang Causeway Bay! Siangnya, kita ikutan city tour, ya?” ujar Denny sambil baca-baca brosur. Sute langsung setuju, sedang Lupus cuma geleng-geleng kepala. Heran. Iya, si Denny ini memang suka mengherankan orangnya. Tingkah lakunya nggak bisa ketebak. Yang paling bikin Lupus cekikikan geli ialah waktu si Denny ini—yang mantan seniman freelance itu—tiba-tiba ikut-ikutan eksekutif muda lainnya dengan mengajukan surat permohonan kartu kredit. Ketika dikabulkan oleh pihak bank, ia kegirangan setengah mati mendapatkan kartu kredit Visa. Langsung aja kartu itu, dengan kepolosannya, dilaminasi. Walhasil, waktu mau belanja, kartu kreditnya nggak bisa diotorisasai atau digesrek, berhubung terbungkus plastik. 


Denny jadi bahan ketawaan orang sekantor. 


“Hahaha, masa kartu kredit dilaminasi?” emangnya KTP? “ ujar Daus, temennya, cekakakan dahsyat. 


Ya, itulah Denny. Dan setelah semua hal mengenai rencana interview selesai dikonfirmasi, Lupus pun ikut jalan-jalan di sepanjang Causeway Bay yang di setiap jalan itu toko dan toko melulu. Udara Hong Kong cukup bersih dan dingin, hingga anak-anak muda di jalanannya semua fashionable. Pake baju-baju keren, pakai blaser, rompi, dengan mode-mode mutakhir. Betah banget ngeliatnya. Trotoar dan jembatan penyeberangan kayat catwalk aja. Cuma sayang, penjaga tokonya rata-rata kurang ramah. Dan kebanyakan orang Hong Kong memang kurang ramah, kayaknya. 


Tapi sampai sore, Lupus udah ngeborong banyak oleh-oleh buat Mami, Lulu, dan temen-temennya. Nggak lupa foto-fotoan sama Denny dan Sute. 


Besoknya di hari yang dijanjiin, pagi-pagi Lupus cs udah ke Hotel Mandarin Oriental, tempat Duran Duran menginap di Hong Kong. Lupus udah janjian sama Calvin Wong, wakil dari pemengang lisensi di EMI Record Hong Kong, yang ngejanjiin Lupus bakal ketemu dengan Duran Duran. 


Berhubung mereka belum pada dateng, Lupus dan temen-temennya nungguin di lobi hotel sambil sesekali mencurigai tiap orang yang datang itu Calvin. Setelah lama nunggu, diseling ngecek ke satpam, akhirnya Lupus minum-minum untuk ngilangin gelisah. Grogi juga, bakal ketemu bintang idolanya. Lupus nggak bisa ngebayangin, biasanya dia hanya mendengar lagunya dan nempel-nemplein posternya, kini bisa ketemu orangnya.



Pas Lupus pipis, orang-orang dari EMI dateng. Termasuk Calvin. Lupus makin grogi waktu dikenalin. Ada perasaan aneh melintas, kok ya dia berharap nggak jadi wawancara aja. soalnya Lupus nanti takut nggak bisa ngomong apa-apa. Denny dengan entengnya ngomong begini ke orang-orang EMI, “Ini Lupus, yang nanti mo wawancara….”


"Oya?” orang EMI itu ngeliat Lupus. Agak bengong juga ngeliat waratawannya masih kecil.


Lupus jadi grogi. Aduh, si Denny nggak bertanggung jawab pisan. Pan kita bareng-bareng wawancara. 


“Kamu maunya ketemu siapa? Nick Rhodes, Simon LeBon, atau Warren?” 


“J-john Taylor,” ujar Lupus ragu. 


“Wah, sayang John baru dateng besok, dia ada acara mendadak. Bisa yang lain?” 


Meski sedikit kecewa, Lupus langsung menyebut nama Nick Rhodes. Ya, Nick adalah otak dari Duran Duran. Dulu bareng John Taylor, Nick membentuk Duran Duran di tahun 1978 


Mendengan Lupus minta Nick, Calvin langsung ngomong, “Pilihan yang pas. Dia memang otak Duran Duran. Dia yang paling cerdas!”
Lupus dan anak-anak HAI kemudian dijamin makan di lobi, sambil ngobrol-ngobrol. “Kemana kita jalan-jalan sama Nick. Asyik, tapi tekor juga ngebeliin dia macem-macem… Iya, kita sebagai pihak perekam harus menyervis mereka semaksimal mungkin…” 


Sedang Lupus terus deg-degan nunggu mulainya wawancara. Kayak mau disuntik, rasanya. Ia takut bahasa Inggrisnya yang pas-pasan bakal makin amblas karena grogi. 


Nggak lama, tiba-tiba seorang asing memberitahu kalo Nick sudah siap untuk di-interview. Jantung Lupus langsung berdetak kencang. Lupus dan anak-anak HAI lalu digiring ke ruang business cener hotel tersebut. 


“Ya, berhubung tempatnya darurat, dsini aja, ya? Ujar Calvin. 


Lupus udah nggak bisa ngomong apa-apa lagi. 


Kemudian Calvin pergi menjemput Nick di kamar hotel. Tinggal Lupus dan dua anak HAI. Tanpa Lupus tau, Denny memberi kode kepada Sute, pura-pura mo pipis dulu. 


“Hei, pada ke mana, Mas?” ujar Lupus. 


“Mo pipis dulu nih. Kamu kan udah pipis tadi…. Yuk, sute,” Denny mengajak Sute pergi.



“Eee, ikut dooong!” Lupus buru-buru berdiri.



“Nggak!”seru Sute. “Kamu nunggu Nick di sini!” 


“Hah?”


Sepeninggal Sute dan Denny, Lupus jelas makin ketakutan duduk di ruangan dingin itu. Berkali-kali ia bangun dan duduk sambil ngomel-ngomel, kapan dua makhluk nggak bertanggung jawab itu balik. 


Tiba-tiba muncul seorang bule di ruangan itu. 


Good morning…”


“Waaaa!” Lupus berteriak kaget. 


Tapi bule itu buru-buru digiring ke ruang lain sama manajernya. Ternyata yang muncul si Warren, gitaris Duran Duran yang mau wawancara dengan radio dari Taiwan. Lupus menarik napas lega. Tapi belum lagi abis itu napas diembuskan, tiba-tiba muncul cowok pirang yang kayakny abaru bangun tidur, dengan kaos warna item…. 


“Hai….” 

“Hai….,” Lupus membalas sambil berdidir terpaku. Cowok itu Nick. Langsung menyalami Lupus. Lupus memalas. 

“Nick Rhodes from Duran Duran….” 

“Lupus….” 

“Nice to meet you, Lupus,….”

Lalu Lupus buru-buru ngeluarin majalah HAI yang ada gambar Duran Duran-nya. Nyocokin dengan yang di foto. Idih, persis. Nick lalu melihat majalah yang dibawa Lupus sambil bertanya ini-itu. Karena kecuekannya, suasana jadi cepet akrab.

Saat itu baru Denny dan Sute muncul sambil cengar-cengir bajing. Lupus mendelik sebel. 

“Nick, wawancaranya bisa dimulai?” ujar Lupus 

“Sure!’”

“Langsung aja, ya? Kan nggak banyak tuh grup new wave macam kalian yang bisa bertahan lebih dari satu dekade. Tapi Duran Duran membuktikan dengan suksesnya album terakhir. Apa sih resepnya?"

“Oya. Tentu saja, Pus. Karena kami sangat mencintai musik. Bersama-sama kami yakin akan selalu bisa menciptakan sesuatu yang spesial. Kami ini orang-orang yang sangat sabat, karena kami tau untuk bisa bertahan di bisnis musik itu nggak gampang, dibutuhkan ketekunan dan konsistensi. Kadang di atas, kadang di bawah….”


Dan interview lengkapnya, kamu bisa di halaman akhir, ya. 


Pokoknya interview yang berlangsung kira-kira sejam itu cukup sukses. 


Di akhir wawancara, Lupus sempet ngebangunin Denny yang tertidur di pojokan dengan tendangan kaki. Denny gelagapan. Lalu pura-pura nyimak wawancara, dan bertanya, “Oya Nick, Lupus ini penggemar berat Duran Duran. Liat aja rambutnya nyontek John Taylor punya…”


“Oya?” Nick bebinar matanya.”Wah, nggak nyangka di Indonesia kami punya banyak penggemar….” 


“Ya udah, kami pamit, ya? Salam buat John….” Lupus dan anak-anak HAI pun pamit.


Pas malemnya, kita semua diundang nonton konsernya di Hong Kong Collesium. Sempet juga dijamu di belakang panggung….

--


Sisa satu hari. Berhubung udah sukses wawancara, Lupus, Denny, dan Sute jalan-jalan ke Ocean Park. Sebuah tempat pariwisata yang indah kayak Dufan yang dilengkapi sky-lift. Sky-lift itu mengelilingi tebing dan jadi penghubung arena di dataran rendah dan dataran tinggi. Dari sky-lift itu Lupus bisa ngeliat kota Hong Kong yang indah dari atas. Serasa terbang di antara awan yang bergulung-gulung. Semua permainan, dari jet-coaster yang lebih gawat dari Halilintar di Dufan sampai sejenis komedi putar  yang mengerikan, sempat dicobai Lupus. Hanya Denny yang nggak berminat, karena ia memang agak panakut. Alasannya takut ketinggian, tapi waktu kemaren berangkat naik pesawat, girangnya nggak ketulungan. 


Lupus excited banget. Sampe nggak inget pulang, kalo nggak diteriakin Denny. 


Malamnya, lupus meneruskan belanja keliling-kliling Hong Kong. Kota itu memang full shopping center. Oleh-oleh tas buat Mami, sepatu dan baju buat si Lulu, dan daftar belanjaannya artis kapiran, Fifi Alone, udah lengkap kebeli semua. 


Dan besoknya Lupus udah balik lagi ke Jakarta. Disambut hangat sama Mami dan Lulu yang udah setia nungguin di tikungan jalan Lupus langsung membagi-bagikan oleh-oleh. Dan uangnya udah nggak bersisa sama sekali. Malah harus bayar tiket yang masih ngutang sama HAI. 


Malemnya Lupus jadi nggak bisa tidur. Sibuk nyari akal buat bayar utang tiket sama HAI yang cukup gede itu. Dari mana bisa nyari uang dalam waktu singkat? Mau kerja lagi di bengkel abangnya si Boim males. Nggak bakat. Mau ngapain, ya? 


Menjelang pukul dua, ia masin nggak bisa tidur. Uring-uringan sendiri. Di kamarnya masing-masing, Mami dan Lulu sudah tertidur dengan senyum bahagia, karena kebagian oleh-oleh dari Lupus. Mami dapet tas kulit keren, sedang Lulu dapet baju model paling mutakhir. Sedang Lupus? Lupus malah bingung mikirin duitnya abis.


Ia berjalan keluar kamar. Nyari ide.


Tiba-tiba aja sesuatu melintas di otaknya. Ia berteriak keras, “Yes!”
Besoknya, di sekolah, Lupus langsung aja di kerumunin temen-temennya begitu dateng. Mereka langsung minta diceritain soal pengalaman ketemu Duran Duran. Abis membagikan pesanan oleh-oleh sama anak-anak, Lupus cerita panjang-lebar. Katanya, ia ketemu sama semua anggota Duran Duran, dan sempet menginap di hotel yang sama. Di akhir cerita, dia langsung bongkar muatan. Ia ngeluarin kaos kaki bekas, saputangan, beberapa helai rambut, cincin, kalung, sendok, dan semua yang katanya bekas dipakai Duran Duran. 


“Nah, sekarang kan lagi nge-trend memorabilia… yaitu mengoleksi benda-benda yang pernah dipakai orang-orang terkenal dunia. Nah, ini semua barang-barang yang bekas dipakai Duran Duran. Gue jual murah deh sama kalian. Kalo lo-lo emang fans berat Duran Duran, harus punya barang-barang ini,” ujar Lupus berpromosi. 


“Beneran, Pus? Ini bekas dipakai mereka?” ujar Fifi surprised.

“Bener!”


“Sapu tangan ini bekas siapa?” ujar Fifi sambil mencomot saputangan yang rada-rada dekil. 


“Itu abis dipakai John Taylor. Sama lo gue jual dua pulu lima ribu deh!” 


“Dua puluh lima ribu? Fifi Melotot. “Kok mahal?” 


“Nggak dong. Kan susah ngedapetinnya. Lagian kalo kamu bobo sambil mukanya ditutupin saputangan ini, lo bakal terus nyium bau  John Taylor dan ngimpiin doi….” 


“Bener?”


“Bener!” ujar Lupus mantep. 


Fifi langsung beli. 


“Kalo peniti ini berapa, Pus? “ ujar Meta mengambil sebuah peniti yang rada-rada karatan. 


“O, itu bekas kolornya Simon LeBon. Ya, ambil deh sepuluh ribu…”


“Sepuluh ribu?” Meta melotot. 


“Aduh, segitu kan murah. Inget, lho… celana dalemnya Simon LeBon… kan jarang-jarang….”


Mata mangut-manggut. 


“Yang in apaan?” Poppy mengambil beberapa helai rambut. 


“O, itu rambutnya Nick Rhodes. Buat kamu gratis,pop! Itu saya colong waktu Nick motong rambut di salon hotel…” 


Poppy girang menerima hadiah dari Lupus. Karena di samping beberapa helai rambut itu, Poppy juga dapet oleh-oleh baju yang keren. Poppy emang suka pake baju yang keren-keren. Anak itu belekangan ini makin modis. Rambutnya aja dipotong pendek, dan dikeriting. Katanya ia pengen jadi desainer kalo udah gede nanti. 

Akhirnya Boim, Andi, Anto, Aji, dan semua anak pada berebutan membeli. Lupus jelas panen besar. Modal pergi ke Hong Kong akhirnya kembali. 

Sambil melangkah pulang, Lupus menghitung-hitung dompetnya yang luar biasa gendut kebanyakan duit. Lupus puas. 

Sampai di rumah, ia segera mencari-cari maminya lagi, “Mi, masih ada lagi nggak barang-barang bekas Mami bangsanya peniti, jarum, kancing, gelang, anting, dan lain-lain…?”


Mami nggak pernah ngerti kenapa anak cowoknya belakangan ini getol banget membongkar-bongkar gudang mencari barang-brang bekas… 


Seminggu kemudian, pas Duran Duran konser di Jakarta, Lupus kesampaian dikenalin ke John Taylor oleh Nick Rhodes. Di belakang panggung, Lupus sempet ngobrol sedikit dengan semua anggota Duran Duran. Warren pun masih inget pernah ketemu Lupus di Hong Kong. Jelas para panitia heran melihat Lupus udah begitu ngakrab sama semua anggota Duran Duran. 


“Ntar kalo main ke London, mampir-mampir, ya?” ujar Nick sambil senyum.


Lupus mengangguk semangat. 


Tapi Lupus rada kecewa, karena rambut John Taylor kini udah dipapas abis, nggak mirip lagi sama Lupus. Mungkin John malu, ya, ketauan niru-niru Lupus. Hehehe…

==== 
-
Cerita pendek ini saya salin dan sebar, awalnya gara-gara Zaki cabut dari HAI Oktober lalu. Zaki tadinya adalah wartawan musik. Pernah dikirim ke luar negeri untuk meliput konser. Zaki yang juga baik hati, suka senyum dan digandrungi cewek-cewek untuk diajak curhat ini ngasih kenang-kenangan CD musik ke tiap warga HAI di hari terakhirnya. Koleksi CDnya banyak banget memang, jadi dia punya banyak pilihan untuk memberikan CD menyesuaikan dengan selera tiap temennya. Tadinya, saya pengen ngasih Lupus nomor ini sebagai balasan album D Zeek yang saya terima. Untung aja, buku Lupusnya saat itu sulit ditemukan. Nyempil di mana nggak tau, mungkin nyempil di lemaknya Gusur. Diumpetin sama si Boim atas suruhan Lulu yang kesel diomelin Mami. Tapi, beberapa minggu setelahnya buku ketemu. Niat ngasih buku pun saya ganti dengan niat menyalin cerita ini. 

Alasan keduanya adalah, HAI ulang tahun yang ke-39 pada 6 Januari lalu. Di tahun ini, HAI mengusung tema Live, Dream, Explore! Singkatnya, HAI mau menjadi tempatnya remaja untuk memulai menghidupi mimpi-mimpinya lalu menjelahi segala kemungkinan-kemungkian. Cerita Lupus satu ini cocok menggambarkannya. Gara-gara majalah HAI, Lupus bisa ketemu dan bahkan ngobrol sama idolanya, Duran Duran. Jangan lupa juga kalau Lupus kadang-kadang jadi jelmaan Hilman. 

Konon, sejak dulu, tiap kali wawancara kerja, calon wartawan musik  HAI ditanyai siapa band yang paling pengen diinterview. Jawaban pertanyaan itu jadi indikator seberapa antusias doi sama musik. Selain itu, ya mungkin karena HAI sadar kalau HAI bisa, lho, jadi kendaraan lo untuk ngejar mimpi lo itu, mimpi wawancara idola lo. 

Pokoknya, selamat tahun majalah HAI. Semoga makin akrab menyapa Lupus, Gusur, Lulu, Boim, Poppy, Fifi Alone, cs. lainnya, dan mengajaknya mengeksplor dunia, menghidupi mimpi-mimpi mereka. Hihiy. 



© blogrr
Maira Gall