29 November 2011

Selamat Ulangtahun Pak Raden

"Terima kasih untuk ucapannya. Saya tersanjung. Terharu karena masih ada yang ingat sama saya," Ucap Bapak itu kepada kerabatnya lewat telepon. Mendengar ucapan itu, saya pun ikut terharu. Bagaimana tidak, orang yang pada dekade 90an menjadi idola anak-anak seantero Indonesia kini harus merasa tidak banyak yang mengingatnya. Walau saya sadar ungkapan itu hanyalah buah dari pribadinya yang low profile, tapi saya jadi tersentuh, saya malu, saya  termasuk orang yang melupakannya

Dulu, tiap Minggu pagi, program TV gubahannya menjadi tontonan nomor satu yang paling dinanti-nanti tiap anak. Aksi mendongeng sambil menggambarnya pun selalu sukses menyirap perhatian kami, para anak-anak di era 80' dan 90an. Ya, beliau adalah sosok yang selalu tampil dengan kumis tebal, blankon, busana beskap lengkap dan suara berat. Beliau adalah orang dibalik kisah kehidupan yang asri dari Unyil, Usro, Cuplis, Pa Ogah,  dll.  Beliau adalah Drs. Suyadi atau lebih kita kenal dengan nama panggungnya, Pak Raden. 

18 November 2011

Mencari Ulang Esensi Berkomunikasi Lewat Kartu Pos


Kehadiran media sosial di dekade ini membawa perubahan yang sungguh signifikan pada kehidupan kita. Selayaknya bedol desa, kita semua bertransmigrasi ke dunia maya. Hehe,  nggak sepenuhnya pindah sih,  tapi kita selalu menyempatkan diri  untuk berada di media sosial yang maya itu. Kita seolah menggandakan diri.

Tahun demi tahun kita lewati dengan cara baru bersosialisasi ini. Pak De Marshall McLuhhan, seorang pakar komunikasi, pernah berkata lewat bukunya yang nggak usah kalian tahu lah apa judulnya, saya juga lupa. “Manusia mencipta alat (teknologi), lalu alat itu balik mencipta manusia,”. Awalnya, manusia mencipta media-media sosial ini tapi coba lihat sekarang, yang terjadi adalah media-media sosial itu lah yang membentuk gaya hidup baru manusia.

Konsep telepati antar dua orang yang bagi masyarakat dekade-dekade silam hanya imajinasi, kini nyaris terwujud. 144 karakter status di Twitter seolah menjadi perpanjangan suara hati dan pikiran kita. Bahkan reseptornya bukan hitungan individu lagi melainkan massal. Kita mambawa privasi ke ranah publik. Banyak orang bisa mengetahui apa yang sedang kita pikirkan, dimana kita sedang berada dan apa yang kita sedang lakukan. Pertanyaan-pertanyaan “Hai, kamu lagi apa, dimana sama siapa?” menjadi pertanyaan yang harus dihindari, karena mungkin saja si lawan bicara menjawab “Kan aku udah update di Twitter, pliis deh, kamu nggakfollow aku yah.. Huh dasar, nggak perhatian!”


11 November 2011

Ikhlas Melepas


02 November 2011

Pepatah terlalurisky - Jadi DIRI Sendiri


21 Oktober 2011

Idola





Halah, sampe bingung gini mau mulai ceritanya dari mana. Pokoknya ini lah dia, tokoh fotografi Indonesia idola saya, Firman Ichsan. Dia adalah penulis dan pegiat kajian fotografi serta kurator foto. Kini beliau menjabat sebagai ketua Dewan Kesenian Jakarta. Tadi saya bertemu dengan dia di Galeri Salihara dalam acara pembukaan sekaligus launching buku Indonesia: A Suprise. 

Walau nggak banyak, saya cukup senang baca tulisan dia yang tentang fotografi, dari mulai artikel atau esai sampai catatan kuratorial atau kata pengantar buku fotografi. Bahasa yang digunakan ramah dan tidak ngejelimet.  Pun kajiannya selalu kaya dan edukatif

Singkat cerita, saya nekat minta tolong teman untuk memfoto saya dan dia. Saya menyalami tangannya, sambil menyapa "Permisi Pak, saya boleh foto bareng nggak, saya suka baca tulisan-tulisan Bapak," Sebenernya prosesi foto itu saya jadikan sebagai teaser aja. Intinya mah saya mau coba ngobrol-ngobrol sama dia.

20 Oktober 2011

Ke Bandung Ku Kan Kembali

Kunjungan terakhir saya ke Bandung pada awal Oktober kemarin mengoleh-olehkan sebuah pikiran yang selalu saja minta diladenin: Saya mau tinggal di Bandung lagi! Pokoknya, entah ini cuma lagi labil aja atau beneran kepingin,  sekarang ini saya sering merencanakan untuk tinggal di Bandung lagi. .. 

Saya banyak menemukan hal-hal yang menarik di Bandung. Bandung nggak terlalu luas kayak Jakarta. Asal tempat tinggal kita tepat, maka ke mana-mana jadi gampang. Pun lalu lintasnya nggak terlalu macet. Angkutan umum masih menjadi pilihan banyak penduduk. Udaranya yang adem juga jadi salah satu faktor utama yang menarik saya. Saya percaya salah satu faktor yang mempengaruhi termperatur emosi kita adalah iklim lingkungannya. haha. Liat aja tuh di Jakarta, orang-orang di Jalanan pada nyureng-nyureng semua matanya karena kepanasan, udah gitu, udara panas bikin semua orang jadi ngeluh mulu. Fiuh.

Ke Bandung Ku Kembali




19 Oktober 2011

Keisengan Tuhan

Tuhan memang suka iseng. Entah kenapa. Mentang-mentang Dia Tuhan. Dia bisa melakukan segalanya, bisa mengetahui segalanya, dan Dia adalah penguasa alam ini, Dia adalah entitas yang Maha paling deh pokoknya. Jadi, kalau pun Dia iseng, keisengan itu nggak bisa disebut sebagai kesalahan. Itu adalah hak Tuhan yang paling istimewa.

Tuhan memang iseng. Apalagi Dia punya malaikat yang bisa diutus ke bumi dengan wujud apa pun. Dia menyuruh kita beriman kepadaNya, walau Dia Maha Gaib. termasuk mengimani bahwa apa pun hal pemberianNya adalah selalu berujung berkah.

Salah satu keisengan Tuhan ialah Dia sering sekali mengirimi kita bingkisan yang misterius. Pun mendadak. Malaikat yang mewujud dalam bentuk keseharian kita diutus menjadi aktor-aktor yang memainkan skenarioNya dalam proses penerimaan bingkisan itu.

09 Oktober 2011

Berkecamuk dalam Tenang

Ada suatu waktu ketika kita merasa diri sudah terlalu penuh. Perasaan gundah imbas perjalanan aktivitas sehari-hari, pikiran tentang misteri masa depan, serta hal-hal kalut lainnya bertumpuk, berjejal di dalam. Ketika saat itu datang maka hal yang paling tepat untuk dilakukan adalah membuka ruang untuk dunia luar. Membersihkan ventilasi pikiran yang sudah terlalu berdebu, sehingga respirasi udara menjadi lancar adanya. Atau sekalian kita berlari berhamburan keluar. 

Melalui EP yang bertajuk Room For The Outside ini, Lipstik Lipsing menawarkan pertunjukan musikal yang siap membuat penontonnya tenang sekaligus berkecamuk. Sebuah ironi dalam penyembuhan diri.  Menutup mata sepertinya akan menjadi pilihan selain memasang pandangan kosong, membiarkan diri hidup dalam dunia di dalam alam pikiran. Gelap namun bisa saja penuh warna, tergantung bagaimana imajinasi.

05 Oktober 2011

Galau Berjamaah bersama Polyester Embassy

Malam minggu pertama milik bulan Oktober (1/10) didaulat sebagai hari bagi para jemaah Polyester Embassy untuk bersenandung bersama di Dago Tea House, Bandung dalam acara konser tunggal mereka yang diberi tajuk “Silent Yellow Ensemble”.


#Artikel - Kereta Api Indonesia: Melaju (Pelan) Melintasi Zaman

Far magazine edisi 15, Oktober 2011


Alat Transportasi sepanjang masa. Sepertinya istilah itu cocok diberikan kepada kereta api. Bagaimana tidak, kereta api bukan saja memobilasi manusia dan barang, tetapi juga membawa peradabadan bangsa. Begitu banyak sejarah dan kenangan yang tersimpan di setiap lajunya. Awalnya, kereta api menjadi alat transportasi yang utama masyarakat Indonesia, namun kini, lajunya pelan. Dibanding transportasi darat lainnya, kereta api dianaktirikan. 

Dari penjajah untuk penjajah.

Penemuan kereta api terjadi di awal tahun 1815, di Inggris. Penemuan mesin uap oleh James Watt lah yang mendasari terciptanya kereta api ini. 30 tahun setelah itu, barulah kereta api masuk ke Indonesia. Pembangunan kereta api di Indonesia adalah cikal bakal pemerintah Hindia Belanda.   Adalah Kolonel Jhr. Van Der Wijk, orang pertama yang mengusulkan gagasan ini di tahun 15 Agustus 1840. Tentu saja, motif awalnya adalah untuk kepentingan penjajahan. Saat itu Belanda menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel), sehingga hasil bumi semakin meningkat.  Kereta akan menjadi solusi bagi Belanda untuk mengangkut hasil bumi tersebut ke pelabuhan untuk kemudian di ekspor ke Eropa. Selain itu, kereta api membawa keuntungan di bidang pertahanan. 

30 September 2011

Berlama-lama di Kebayoran Lama

click to enlarge

21 September 2011

“Tunjukkan Lah Saya Jalan Yang Seru!”

Ini sangat sering terjadi. Saya kesasar di perjalanan. Tapi ada beberapa hal sih yang menyebabkan semua ini bisa terjadi. Pertama, karena memang saya ingin mencoba jalan baru. Kedua karena tidak sengaja. Yang sering terjadi adalah gabungan dari keduanya, saya memilih untuk mencoba jalan baru lalu tidak sengaja tersasar. haha. 

Sebelumnya, perlu dicatat juga kalau sebenarnya memori saya tentang rute ke tempat-tempat yang jarang saya kunjungi memang rada payah. Apalagi untuk menuju tempat-tempat di kawasan yang memiliki suasana yang nyaris sama di setiap jalannya. Daerah Menteng dan daerah Pasar Baru, Bandung, misalnya. Ditambah lagi kalau tempat yang saya tuju itu berada di jalan satu arah. Beuh. Hampir selalu pasti, saya butuh satu-dua kali untuk muter-muter. Menuju ke Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, contohnya. Walau saya sudah beberapa kali ke situ sejak SMA. Sampai sekarang saya nggak pernah menuju ke situ dengan jalan yang sama. Selalu beda-beda karena lupa.  haha… 

16 September 2011

Plat Nomor dan Kepedulian

Ada hal yang sedikit berbeda dengan perjalanan pergi-pulang kantor dua hari ini. Beberapa kali ada pengendara motor  yang menyapa saya. Kami tidak saling mengenal. Dia hanyalah orang yang sempat berada di belakang saya. Lalu, entah memang sengaja mengejar menghampiri saya atau memang dia jalan lebih cepat, pokoknya si pengendara motor itu menyapa saya. Dan siapa lah yang tidak senang kalau ada yang menyapa di jalan. 

Awalnya saya kaget, apalagi orang yang pertama menyapa saya cukup terburu-buru, dia menyapa dengan bahasa tangan, pun sambil nyalip saya. Jadi saya nggak ngerti maksud sapaan dia. Beberapa kilometer setelah sapaan pertama, ada satu lagi pengendara motor yang menghampiri saya. Kali ini dia lebih jelas, saya pun jadi tahu gerangan apa yang membuat orang tadi menyapa saya, yaitu plat nomor belakang motor saya sudah mau lepas dari tempatnya. Bautnya yang seharusnya ada dua tinggal satu. Jadilah ia seperti tubuh yang bergelantung di tebing dengan hanya satu tangan.

Tapi untungnya saya tahu kalau ternyata si baut yang satunya lagi itu cukup kencang, jadi saya anggap dia bisa mempertahankan plat motor itu. Ditambah rasa malas untuk mencarikan baut, saya pun membiarkan keadaan itu. Bahkan sampai dua hari. Dasar Rizki..

15 September 2011

PuiSkip

Bener-bener gatau mau ngapain.
Bener-bener udah seharian, dua harian bahkan.
Udah dijabarkan semua jadwal, tetep aja kelabakan.

“Mana dulu”,
“yang ini dulu saja, sepertinya menarik.”,
“oke.”
“mm, ga deh, yang ini aja dulu, sebentar kok.”

Lalu lupa, lupa yang berlarut-larut.
Berlarut-larut dalam lupa.

“Oh iya, tadi kan lagi itu”
“mmm oke, lanjut”
“Setel lagu ini dulu ah”

Lagu sendu, lagu rindu, lagu bingar, lagu liar, lagu riang, lagu hampa.


Lagu berlalu-lalu, lalu berlagu-lagu, hingga lupa waktu, hingga waktu berlalu.

Sedikit teriakan kecil, Sedikit termenung, sedikit bingung.

Pergi kecewa, kecewa lalu pergi, pergi berlalu, lari keluar pintu.

Padahal tadi lagi itu, tiba-tiba mau ini diitukan, yang begini mau dibegitukan, yang disini mau dikesanakan, diseperti inikan. Jadilah semua dikesampingkan.

Bener-bener ga tau mau ngapain.
Bener-bener udah seharian, dua harian bahkan.
Udah dijabarkan semua penyesalan, tetap aja GA TAU MAU NGAPAIN.

08 September 2011

Mengusut Dunia Absurd @Rindut

Perkenalkan, ini dia salah satu akun twitter favorit saya, @Rindut. Ah, untung saja kamu itu akun twitter bukan akun tansi atau akun punktur. Jadi saya semakin suka. Pokoknya ni yah, hampir tiap kali papasan sama @rindut di timeline, saya berhenti sejenak, trus menyempatkan diri untuk mampir ke halaman profilnya, membaca twit-twitnya dan kadang tanpa disangka saya sudah sampe ke halaman 17 (versi m..tweete.net). Haha.

   Saya yakin saya bukan lah satu-satunya orang yang suka ngakak tapi bingung mau ngakak gaya apa, ketika membaca twit-twit dari si kakak pemilik nama asli Rina Dwi Utami ini. Twit-twitnya kak @Rindut ini apa adanya banget, saya sedikit curiga kalau-kalau dia punya alat penghubung antara twitter dan suara hati.

Selain itu, membaca twit @rindut ini, kita akan merasa seperti sedang ngobrol hadap-hadapan, batas-batas antara dunia maya dan nyata jadi bias, dia seolah nyata di dunia maya. Apalagi di beberapa twit dia sering mengakhirinya dengan sebuah tanda keterangan misalnya, *matiin mic turun panggung, atau *joget di koridor. Membacanya, kita pasti membayangkan Rindut seolah hidup dan bergerak-gerak di dalam linimasa twitter itu. Pokoknya baca twitnya dia sekaligus kita diajak ber-theater of mind. Haha..

Dan walau pun followernya sudah segambreng, dia tetep aja lah begitu. Tetep menjadi apa adanya. Menceritakan keseharian dengan caranya sendiri dengan cara yang sederhana. Tapi liat hasilnya, banyak orang yang ikut menikmatinya.

Ah, betapa kita terlalu susah payah mencoba jadi istimewa padahal menjadi sederhana dan apa adanya itu lebih mengasyikkan. .

 Nah, beruntungnya, email saya dibales sama si kakak ini. Beberapa pertanyaan pun saya ajukan. Haha. Silahkan disimak..


31 Agustus 2011

Lemari Baru

Sudah berapa minggu ini kamar saya di rumah penuh dengan barang –barang pindahan dari kamar kosan. Kamar saya yang berukuran 3,5x 3,5 m ini hanya tersisa ruang kosong seperempatnya saja. Nggak cuma bikin penuh, tapi juga bikin kamar berantakan. Sebutan kapal pecah sepertinya masih kurang, ‘kota sehabis tsunami’ mungkin sedikit lebih tepat untuk mendeskripsikan keadaan di sini. Seperti sampah yang terbawa ombak dan terhempas di pantai, barang-barang di kamar saya berserakan begitu saja.
Saya merasakan jelas sebuah ironi dalam berpindah. Ada duka dan cita yang lengket tidak bisa dipisahkan, seperti dua sisi  uang kepingan. Di satu sisi perpindahan ini adalah sesuatu yang patut dibanggakan,  saya berpindah karena saya telah menyelesaikan satu misi besar. Satu jenjang tantangan hidup sudah saya lewati. Akhir  Mei kemarin, saya diwisuda. Itu artinya dengan resmi saya dinyatakan lulus dari segala macam urusan kuliah.    Misi di bidang akademi selesai. Hmm, setidaknya saya sudah sampai ke tingkatan dasar dan yang paling umum. Saya akhirnya mendapat gelar sarjana. Bapak, ibu, kakak, adik, semua terlihat senang, memberi selamat. Lalu, seperti halnya  sekolah, ketika kita berhasil menyelasaikan suatu tingkat, kita berhak untuk naik kelas. Hore!!

Upacara wisuda tadi itu sekaligus menjadi aba-aba untuk saya segera hengkang dari tanah pasundan (Bandung-Jatinangor tepatnya). Di saat bersamaan, bapak kos juga mengingatkan kalau sewa kos saya jatuh tempo pada Agustus 2011. Semakin tegas lah perpindahan ini pasti terjadi. Tapi tunggu dulu, di antara Mei menuju  Agustus ada 30 hari milik bulan Juni dan 31 hari milik bulan Juli. Saya punya waktu  dua bulan  hingga saya  kamar kos yang sudah saya huni lima tahun itu benar-benar bukan atas nama saya lagi. Oke, saya manfaatkan rentang waktu itu dengan berpuas-puas main di sana, sambil sedikit menyicil pindahan barang. Kata sedikit di sini perlu ditekankan. Karena begitu lah adanya. Sebenarnya bisa saja saya pindahan dalam satu waktu. Tapi saya memilih untuk pelan-pelan saja. Tidak sekaligus semua barang langsung saya bawa ke rumah.

29 Agustus 2011

Jakarta 29/08/2011



click to enlarge!


16 Agustus 2011

personal quote - life is a game


14 Agustus 2011

Quote - "Cinta itu indah, Minke..."


© blogrr
Maira Gall