![]() |
| Komik oleh Bang Gaber |
12 November 2018
Tentang Menjadi Bapak #2
29 Oktober 2018
Kesepakatan Rrumah #31
"Ini pernikahan, bukan pesta ulang tahun. Jangan kayak anak kecil Nggak boleh maunya asik sendiri, mesti mikirin banyak orang."
30 September 2018
Tentang Menjadi Bapak
Di awal perjalanan, ibu sopir GoCar yang gue tumpangi nggak banyak bicara. Dia cuma sesekali menanyakan hal-hal dasar aja. Tapi begitu tahu tempat gue kerja, bu Siti, sopir itu, menceritakan anaknya yang masih sekolah di SMK Telkom.
"Dia pinter banget mas. Dia udah bisa bikin game. Suka foto-foto mainannya juga. Dia koleksi Lego dari kecil," kata membuka cerita.
Lalu gue minta akun Instagram anaknya yang bernama Galang itu. Semua foto di linimasanya memang sesuai dengan hobi yang diceritakan tadi. Lego, Lego, dan Lego.
"Saya juga koleksi Lego, Bu. Bareng adik saya. Tapi nggak sebanyak punya anak ibu, sih," gue menimpali.
16 September 2018
Bahagia Adalah
![]() |
| Di depan Rima, mamahnya, dan Ayahnya, ada gue yang berdiri, megang mic sambil menenteng rangkaian bunga :) |
Setiap pacar pasti pernah ngegombalin pasangannya, tapi pernahkah kamu ngegombal di depan keluarga besar? Gue baru saja melakukannya. Tepatnya seminggu lalu, 8 September 2018.
Di hadapan keluarga besar gue, di saksikan juga keluarga besar Rima, gue mengutarakan kalimat-kalimat lamaran saya untuk Rima tanpa diwakili.
Tentu gue menulis lebih dulu apa yang gue mau ucapkan. Gue sudah rancang dari jauh-jauh hari. Gue ketik di hape dan gue baca berulang kali kalau lagi di perjalanan motor.
Gue cukup sering menulis surat untuk Rima. Jadinya, kalimat lamaran gue itu pun gue bikin dengan gaya surat gue ke Rima biasanya.
07 Juli 2018
Tanggal Cantik
Hari ini adalah tanggal 7 di bulan 7. Gue baru menyadari bahwa ini adalah tanggal cantik siang tadi.
Jadi, gue dan Rima hari ini punya rencana untuk survei satu tempat resepsi. Sebuah masjid di bilangan Cinere.
Namun, rencananya bertambah di pagi hari. Rima ngajak mampir ke sebuah gedung di Pondok Labu untuk test food sebuah jasa katering yang paling murah yang kami temui.
Jadi, gue dan Rima hari ini punya rencana untuk survei satu tempat resepsi. Sebuah masjid di bilangan Cinere.
Namun, rencananya bertambah di pagi hari. Rima ngajak mampir ke sebuah gedung di Pondok Labu untuk test food sebuah jasa katering yang paling murah yang kami temui.
06 Juli 2018
"Ayat-ayat Cinta, Mah, Lewaat..."
Namanya Ulama A Manan. Ia mengaku sering menjadi guru ngaji dan menolak untuk dibayar. Ngajar ngaji atau dakwah, katanya, harus berdasarkan keikhlasan, sama seperti yang dilakukan Nabi Muhammad. Kalau pun ada yang ngasih imbalan, ia menganggap sebagai hadiah. Adalah salah besar kalau mematok nilai hadiah imbalan tersebut, kata pak Ulama.
Ia punya penghasilan dari berdagang dan jadi sopir ojek. Saya tadi jadi penumpangnya dan karena itu jadi kenalan dengannya, lalu lanjut mendengar kisah hidupnya semenjak ia tahu bahwa saya wartawan.
"Mas suka nulis?" kata bapak yang suka twitteran karena suka politik itu.
"Saya suka baca novel, Pak," saya menjawab.
"Saya punya cerita menarik. Bisa mas jadikan novel kalau mau."
05 Juli 2018
Menceritakan Rencana Nikah Ke Teman Dekat
Gue sempat bercita-cita untuk menyembunyikan rencana pernikahan dan baru memberi tahu orang banyak saat sudah dekat waktunya saja. Pertama, biar surprise. Kedua, biar gue terbebas dari perasaan bahwa gue mesti begini-begitu dalam mempersiapkan pernikahan. gue mau gue dan pasangan bener-bener menjiwai (rencana) pernikahan kami benar-benar dulu sebelum akhirnya orang tahu. Pun, ada resiko kita ketimpa jinx kalau menceritakan rencana.
Tapi menyembunyikan itu susah, ternyata.
Atau lebih tepatnya, menceritakan rencana pernikahan itu ternyata berfaedah. Bikin lebih enteng dan mantep. Asal ke orang yang tepat ceritanya kali ya.
Gue sudah membuktikannya. Satu persatu temen dekat gue ceritain juga akhirnya. Gue cerita ke Dea, Abriani, Jeanett, Hira, Adi dan yang paling seru adalah saat cerita ke temen sebaya, yaitu Tito serta Lodar.
04 Juli 2018
Kesepakatan #64: Menunda Cerita Ke Media Sosial
"Aku punya ide. Kesepakatan kecil, yang menurutku penting."
"Hah. apaan lagi?"
"Setelah nikah, aku nggak mau kita langsung update apapun di media sosial. Cerita-ceritanya kita tunda sampe, hmm, dua minggu setelahnya. Gimana gimana?"
"Ih, emang kenapa sih?"
"Aku nggak mau aja kita pamer kebahagiaan sekilas-sekilas. Kalaupun mau cerita, cerita yang utuh. Dengan ngasih jarak dua minggu, kita punya waktu untuk mengolah momen-momen pernikahan kita dulu."
"Deal"
*ps: Nomor kesepatakan dipilih acak. Bukan sebuah urutan.
"Hah. apaan lagi?"
"Setelah nikah, aku nggak mau kita langsung update apapun di media sosial. Cerita-ceritanya kita tunda sampe, hmm, dua minggu setelahnya. Gimana gimana?"
"Ih, emang kenapa sih?"
"Aku nggak mau aja kita pamer kebahagiaan sekilas-sekilas. Kalaupun mau cerita, cerita yang utuh. Dengan ngasih jarak dua minggu, kita punya waktu untuk mengolah momen-momen pernikahan kita dulu."
"Deal"
*ps: Nomor kesepatakan dipilih acak. Bukan sebuah urutan.
01 Juli 2018
Pengumuman: Gue Botak!
Jelas, itu bukan pengumuman utamanya kecuali kalau kalian memang pengin tahu gimana gue menggunduli kepala ini di sore sebelum malam takbiran kemarin tanpa rencana yang bener-bener matang.
Sekedar info saja, gue terakhir kali botak itu kuliah. Agaknya, momen lebaran pas untuk menjajalnya. Beberapa orang menganggap gue botak demi buang dosa, kembali ke fitri, atau habis umrah. Padahal, gue cuma iseng belaka. Pengen ngerasain suasana baru saja gitu sekalian ngejawab tantangan Rima yang sesekali ia bilang dengan nada gurau.
Tapi, gue juga mengamini anggapan orang-orang tadi itu. Gue menyimpulkan, menggunduli rambut itu adalah tanda bahwa kita masuk fase baru, persis seperti apa yang gue akan lakukan SETELAH LEBARAN.
Setelah lebaran adalah kata yang sering terngiang-ngiang di kepala gue tahun ini. Soalnya, Rima dan keluarganya waktu itu bilang bahwa pertemuan keluarga kami dilakukan setelah lebaran saja. "Momennya pas, suasana silaturahmi."
Pertemuan keluarga ini adalah momen penting. Ya kan, ya dong? Ibarat naik gunung, ngajak nikah itu adalah pos pertama, minta restu ke orang tua itu pos kedua, dan pertemuan keluarga adalah satu pos sebelum pos summit.
Dan pertemuan itu baru saja berlangsung tadi siang.
Gue dan Rima membawa keluarga inti untuk makan siang bareng. Kami pilih tempatnya di sebuah restoran bilangan Ampera. Kami sudah reservasi tempat untuk 15 orang. Keluarga inti Rima 4 orang, keluarga gue ada 10. Namun akhirnya pasukan bertambah 4 karena mamahnya Rima ngajak Kak Riri dan Bang Gian, sepupu Rima.
Kedua pasang orang tua kami set untuk duduk berhadapan. Tanpa perlu dipandu, papah dan ayahnya Rima langsung ngobrol sedari awal salaman. Untungnya, mereka punya latar belakang profesi yang nggakjauh beda. Sama-sama orang proyek kayak si Doel.
Beres bertukar cerita tentang latar belakang keluarga dan pekerjaan, giliran gue mengeluarkan satu per satu kalimat yang sudah gue susun tadi pagi dan sudah disepakati Rima dengan catatan "Bagian kita pertama kali ketemu nggak usah diceritain lah, iuh."
Yang menarik dari pertemuan tadi adalah gimana polah si Akang keponakan gue. Begitu rombongan keluarga Rima datang, Akang ciut. Ia melipir keluar dari meja dan merengek minta orang-orang pergi. Akang malu
Hampir 20 menit Akang rungsing karena kenyamanannya terganggu orang-orang yang ia anggap asing.
Namun, pelan-pelan kegelisahannya mereda. Ia mulai mau diajak gabung lagi walau tetap diam dan meminta hape untuk nonton YouTube.
Nah, setelah beres makan, Rima beraksi. Ia menghampiri Akang, menggendongnya lalu mengajak Sabika (anaknya Kak Riri yang empat tahun) untuk ke halaman belakang. Ternyata, Akang mau!
Sejurus kemudian, ia akrab dengan Sabika. Mereka melihat-lihat kolam, memberi makan ikan dengan nasi sisa, dan main kejar-kejaran seperti nggak ada hari esok.
Melihat polah Akang dan Sabika, gue membayangkan semesta sedang menyiratkan pesan penting.
Lega, deh. :)
28 Juni 2018
Tiga Hari Sebelum Pertemuan Keluarga
Setiap kali ditanya kapan kita mulai serius mempersiapkan nikah, Rima selalu menjawab "Habis lebaran". Dan sekarang, momen itu sudah datang.
Minggu, 1 Juli besok, keluarga gue dan Rima akan bertemu. Perkenalan pertama sebelum pertemuan keluarga yang lebih besar lagi. Kami menyebutnya ini sebagai pertemuan informal.
"Rizki nggak mau kita ketemu keluarga Rima cuma pas di acara lamaran. Rizki pengen kita bisa lebih akrab. Jadi, ada pertemuan informal dulu," kata gue pada mamah papah suatu waktu.
Yang gue maksud lamaran itu adalah pertemuan keluarga besar. Gue dan Rima sepakat nggak pake ritual lamaran atau tunangan.
Nah, di pertemuan keluarga besok itu, topik yang perlu diangkat juga tentang konsep pernikahan dan alur jadwal persiapan serta acara yang perlu dipersiapkan. Agar mantep, gue dan Rima mulai gencar brainstorm dan bertanya sana-sini soal pesta pernikahan.
Gue dan Rima punya harapan untuk bisa bikin pernikahan yang sederhana. Soalnya, kami mencoba mikir jauh. Gue dan Rima akan tinggal di rumah baru yang kosong. Ada rumah tangga yang perlu kami persiapkan untuk hidup bersama.
Kami mulai perencanaan pesta pernikahan dengan menjabarkan konsep pernikahan. Di Excel, kami menuliskan daftar undangan, perkiraan anggaran, rencana pemasukan, pilihan tempat impian, daftar rekomendasi jasa katering dan dekorasi.
Setelahnya, kami coba kunjungi tiga tempat pesta. Tempat pertama adalah sebuah gedung milik TNI AD. Harganya murah, tempatnya besar dan megah, hanya saja kelihatan muram. Tempat kedua adalah aula masjid yang kami cek hanya sambil lalu saja. Nah, di tempat ketiga inilah gue ngerasa cocok banget. Rasanya sama kayak waktu pertama kali ketemu Rima. "Ini dia nih!"
Tempatnya berupa hmm susah dideskripsikan. Di situ ada guest house, ada taman berpohon tinggi, ada pendopo dan pelataran. Areanya luas banget!
Harga sewa tempat semi outdoor itu pun masih dalam jangkauan anggaran. Cuma saja, ada jebakannya. Kami mesti menggunakan jasa katering rekanannya. Kesemuanya mewah. Harganya bisa dua kali lipat dari katering lain.
Lalu gue mikir-mikir, harga katering itu bahkan lebih mahal dari ongkos membeli perabot rumah dan renovasi.
Gue resah.
Sampai tadi siang, sembari nunggu pecel lele dan ayam jadi, gue dan Adi ngobrol soal pernikahan.
"Di, setelah nikah, lo sebegitu mengenangnya nggak pesta pernikahan?" tanya gue
"Nggak sih, Ram. Gue sama Hana juga sempet nyesel, kenapa yah, kami mau segitu banyaknya ngeluarin uang. Padahal lebih butuh biaya untuk ngisi rumah," kata Adi. Hana sekarang hamil sekitar 3 bulan. Beberapa waktu lalu, Adi kerap membicarakan ongkos lahiran yang harganya sama dengan ongkos sewa gedung untuk pernikahan.
Sekali lagi, gue mau bilang. gue dan Rima berencana untuk bikin pesta pernikahan yang sederhana. Tapi agaknya itu susah banget terjadi. Kami tahu orang tua kami juga punya kehendak untuk merayakan momen penting nan sakral anaknya.
Tapi, yah, untuk menikah yang sederhana, yang hanya mengeluarkan uang sedikit saja, mesti jadi harapan. Secara teknis, itu lebih mudah tercapai, kan?
Gue pikir, membuat pesta pernikahan yang wah itu berpotensi bikin kita abai sama esensi nikah sebenernya. Kita sering menganggap bahwa mempersiapkan pernikahan itu sama dengan mempersiapkan pesta. Sementara bahasan tentang penyesuaian diri untuk tinggal bareng, peran-peran dalam rumah tangga, kesiapan punya anak, rencana karier, dll, dibahas sekenanya di perjalanan atau nanti saja sambil bulan madu.
20 Juni 2018
Kesepakatan #23: Nggak Apa-apa Deh Kalau Sekarang Gagal Nikah Sederhana
"Nikah besar-besaran gini mesti berhenti di generasi kita aja ya, kak. Nanti anak-anak kita kalau mau nikah sederhana aja, nggak apa-apa."
17 Maret 2018
Pulang Ke Rumah Yang Sama
Di Minggu pertama kami pacaran, Rima bertanya tentang apakah yang paling membuat gue ingin pacaran sama dia. Gue mencoba mikir panjang, tapi ujung-ujungnya cuma punya jawaban satu kata saja.
"Karena insting, Kak," kata gue. Saat itu gue belum manggil Rima dengan sebutan "neng" sebagaimana sekarang.
Saat kemarin, 11 Februari (Minggu) sore, di rumah Rima, gue akhirnya ngajak Rima nikah pun karena gue ngerasain banget insting yang kuat.
Sebelumnya gue pernah mikir kapan waktu yang tepat untuk ngajak Rima nikah, jawabannya adalah ketika gue ngerasa dapat 'panggilan' untuk melakukannya. Nah, saat itu, insting gue berkata bahwa panggilannya sudah datang dan gue harus menyambutnya.
Yang sudah pasti dalam hidup itu hanyalah masa lalu. Kita sudah mengetahuinya dan nggak akan bisa berubah. Gue rasa, pengalaman-pengalaman kita di masa lalu secara natural melahirkan dan mengembangkan insting untuk kita menghadapi masa sekarang dan masa depan. Itulah mengapa gue memercayainya.
Yang gue katakan pada Rima di ruang tamu rumahnya itu adalah kalimat yang sudah gue rencanakan sebenarnya. Gue sempat menulis surat nggak sampai satu halaman yang isinya tentang ajakan untuk nikah.
"Rima, aku mau kita bisa pulang ke rumah yang sama tiap hari. Apakah kamu mau juga? Aku mau nikah sama kamu," kata gue ujug-ujug.
Dari parasnya, gue lihat Rima nggak siap dengan momen itu. Ya, mo gimana, masa gue mesti bilang dulu sehari sebelumnya, "Rima besok aku mau ngajak kamu nikah, siap-siap yah." Kan, nggak mungkin.
Alhamdulillah, Rima punya keinginan yang sama.
Tangan kami berpegangan erat saat itu, di samping kami, ada foto besar keluarga Rima nempel di tembok. Ayah, Mamah, Tasya adiknya, serta Rima di masa 3 tahun lalu menatap kami dengan senyum. Mochi dan Milo, dua kucing Rima mungkin mendengarnya dan kemudian ngegosipin bersama kucing-kucing komplek lainnya.
Setelah sah menjadi calon istri-suami, obrolan kami saat itu merembet cepat ke hal-hal besar soal pernikahan. Bukti bahwa pikiran-pikiran (dan juga hasrat?) tentangnya sudah numpuk dari lama. Begitu bisa diobrolin, jadi duaar, pecah deras.
Sebelumnya, tuh, tiap kali ngomongin konsep keluarga, pernikahan, atau suami-istri, gue dan seringnya, sih, Rima, memakai perumpaan. "Kalau kamu nikah nanti...", "Gimana coba nanti kalau udah nikah, kamu masih begini sama pasangan kamu nanti?"
Gue sebel banget tiap Rima ngomong gitu. Seolah-olah ia nggak yakin bahwa yang akan gue nikahi adalah dia. Tapi gue maklumi, karena saat itu gue belum memantapkan diri.
Namun sekarang, kami menjadi dua subyeknya.
Tentang mengapa gue cinta sama Rima dan sebaliknya, akan gue ceritakan kemudian.
Begitu juga tentang obrolan-obrolan kami seputar pernikahan, rumah tangga, dan keluarga. Nanti gue ceritakan.
Dan akan banyak cerita-cerita lagi, karena itu gue bikin blog ini. Gue namai RRUMAH karena kami akan pulang bersama ke sini membawa cerita-cerita.
:)
"Karena insting, Kak," kata gue. Saat itu gue belum manggil Rima dengan sebutan "neng" sebagaimana sekarang.
Saat kemarin, 11 Februari (Minggu) sore, di rumah Rima, gue akhirnya ngajak Rima nikah pun karena gue ngerasain banget insting yang kuat.
Sebelumnya gue pernah mikir kapan waktu yang tepat untuk ngajak Rima nikah, jawabannya adalah ketika gue ngerasa dapat 'panggilan' untuk melakukannya. Nah, saat itu, insting gue berkata bahwa panggilannya sudah datang dan gue harus menyambutnya.
Yang sudah pasti dalam hidup itu hanyalah masa lalu. Kita sudah mengetahuinya dan nggak akan bisa berubah. Gue rasa, pengalaman-pengalaman kita di masa lalu secara natural melahirkan dan mengembangkan insting untuk kita menghadapi masa sekarang dan masa depan. Itulah mengapa gue memercayainya.
Yang gue katakan pada Rima di ruang tamu rumahnya itu adalah kalimat yang sudah gue rencanakan sebenarnya. Gue sempat menulis surat nggak sampai satu halaman yang isinya tentang ajakan untuk nikah.
"Rima, aku mau kita bisa pulang ke rumah yang sama tiap hari. Apakah kamu mau juga? Aku mau nikah sama kamu," kata gue ujug-ujug.
Dari parasnya, gue lihat Rima nggak siap dengan momen itu. Ya, mo gimana, masa gue mesti bilang dulu sehari sebelumnya, "Rima besok aku mau ngajak kamu nikah, siap-siap yah." Kan, nggak mungkin.
Alhamdulillah, Rima punya keinginan yang sama.
Tangan kami berpegangan erat saat itu, di samping kami, ada foto besar keluarga Rima nempel di tembok. Ayah, Mamah, Tasya adiknya, serta Rima di masa 3 tahun lalu menatap kami dengan senyum. Mochi dan Milo, dua kucing Rima mungkin mendengarnya dan kemudian ngegosipin bersama kucing-kucing komplek lainnya.
Setelah sah menjadi calon istri-suami, obrolan kami saat itu merembet cepat ke hal-hal besar soal pernikahan. Bukti bahwa pikiran-pikiran (dan juga hasrat?) tentangnya sudah numpuk dari lama. Begitu bisa diobrolin, jadi duaar, pecah deras.
Sebelumnya, tuh, tiap kali ngomongin konsep keluarga, pernikahan, atau suami-istri, gue dan seringnya, sih, Rima, memakai perumpaan. "Kalau kamu nikah nanti...", "Gimana coba nanti kalau udah nikah, kamu masih begini sama pasangan kamu nanti?"
Gue sebel banget tiap Rima ngomong gitu. Seolah-olah ia nggak yakin bahwa yang akan gue nikahi adalah dia. Tapi gue maklumi, karena saat itu gue belum memantapkan diri.
Namun sekarang, kami menjadi dua subyeknya.
Tentang mengapa gue cinta sama Rima dan sebaliknya, akan gue ceritakan kemudian.
Begitu juga tentang obrolan-obrolan kami seputar pernikahan, rumah tangga, dan keluarga. Nanti gue ceritakan.
Dan akan banyak cerita-cerita lagi, karena itu gue bikin blog ini. Gue namai RRUMAH karena kami akan pulang bersama ke sini membawa cerita-cerita.
:)
18 Juli 2017
Menonton The Impossible
Ada empat alasan mengapa saya pengin menonton film ini. Pertama, Tom Holand. Pertama kali tahu film pun dari Tom Holland. Ketika saya sedang mencari tahu tentang film-film Tom, saya menemukan The Impossible sebagai film pertama yang dibintangi Tom sebagai aktor. Sebelumnya, ia sudah pernah terlibat di film sebenarnya, film garapan studio ghibli pula. Cuma aja, di film itu Tom hanya jadi pengisi suara.Saat menonton The Impossible ini, saya membayangkan tokoh Lucas yang diperankannya adalah jelmaan dari Peter Parker muda. Dia tangguh banget sebagai anak kecil, namun ada rapuhnya juga.
"Aku adalah anak yang pemberani, Bu. Tapi sekarang ini aku takut sekali," katanya di tengah-tengah banjir tsunami yang sudah menyeretnya jauh, tak lama setelah ((( akhirnya ))) ia bertemu dengan ibunya.
Kedua, Ewan McGreggor. Ya walau film ini masih berasa menye-menyenya, tapi nggak terlalu gamblang diceritakannya. Si sutradara apik membuat saya "merasa" tanpa perlu "mengetahui" sepenuhnya apa yang terjadi. Udah gitu, di film ini ada Ewan McGreggor! Saya sedang kangen film Beginners yang dia perankan. Tapi saya takut menontonnya. Maklum, di film itu saya akan menemukan dialog "make it easy to end up alone." Kalau kalian main Mobile Legends, maka kalimat itu sama sakitnya seperti serangan dari Karina. Ia selalu menghilang ketika menyerang, tapi dampaknya nyata sekali. Cepat pula ditinjukannya.
Saya pikir, dengan menonton film melankolis lainnya yang menampilkan Ewan McGreggor yang entah gimana parasnya itu melankolik sekali, saya bisa jadi merasa sedikit sensasi film Beginners.
Di film The Impossible, Ewan berperan menjadi si kepala keluarga. Sebelum ombak tsunami menumpasnya, ia sedang berenang bersama dua dari tiga anaknya. Ia adalah ayah yang hmm, lagi-lagi, kuat tapi pecah belah alias rapuh juga.
Semoga kalian belum lupa kalau di tulisan ini saya ingin menyebut empat alasan. Alasan ketiga adalah, karena ini film tentang keluarga. Saya sedang merasa perlu menerpa cerita-cerita tema keluarga agaknya, dengan alasan yang sebaiknya saya nggak sebut di sini. Kalau kalian tetep maksa pengen saya cerita, berarti kalian sama saja seperti anggota keluarga yang "jauh" tapi hobi betul mengajukan pertanyaan seolah merekalah yang menjalani hidupmu. Hhh~
Keempat, ini adalah film tentang bencana. Somehow, saya suka melihat bagaimana cara manusia bertahan diri di ujung hidupnya. Dan melihat apa yang mereka perjuangkan serta apa yang mereka lepas ketika kekuatan mereka sedikit. Ketika dalam bencana, tingkat kesadaran manusia terhadap kematian melonjak drastis. Beda dengan pernikahan, naik haji, naik jabatan, atau lolos seleksi; kematian adalah momen yang pasti terjadi, tapi agaknya tak pernah menjadi pencapaian siapa pun selama sedang hidup. Nah, di saat bencana manusia (kayaknya (aing belum pernah)) memikirkan kematian dua kali lebih sering daripada bernafas.
Di saat bencana pula, Tuhan dan semestanya membanjiri hidup dengan kemungkinan, sederas mungkin. Apakah ada batang pohon yang bisa dipeluk agar tak terbawa tsunami lagi; apakah akan ada Coca Cola yang bisa diminum ketika selamat; apakah anak itu akan bertemu ayahnya lagi; apakah jika turun dari mobil untuk kencing, sopir galak akan meninggalkanmu; semua hanya bisa dijawab dengan "mungkin."
Ada satu adegan yang saya suka dari film ini. Yaitu tentang bagaimana seseorang bisa menahan kematiannya demi memperjuangkan sesuatu. Ia seperti sudah melihat malaikat maut bilang "assalamualaikum", tapi ia berhasil menyuruh si malaikat menunggu di teras dulu, nggak langsung masuk ke dalam rumah lalu menjambret nyawamu.
Begitulah, pemirsa. Manusia hidup akan mati. Tapi manusia yang sudah terlanjur hidup, akan terus menghidupi hidupnya. Semungkin mungkin.
"Aku adalah anak yang pemberani, Bu. Tapi sekarang ini aku takut sekali," katanya di tengah-tengah banjir tsunami yang sudah menyeretnya jauh, tak lama setelah ((( akhirnya ))) ia bertemu dengan ibunya.
Kedua, Ewan McGreggor. Ya walau film ini masih berasa menye-menyenya, tapi nggak terlalu gamblang diceritakannya. Si sutradara apik membuat saya "merasa" tanpa perlu "mengetahui" sepenuhnya apa yang terjadi. Udah gitu, di film ini ada Ewan McGreggor! Saya sedang kangen film Beginners yang dia perankan. Tapi saya takut menontonnya. Maklum, di film itu saya akan menemukan dialog "make it easy to end up alone." Kalau kalian main Mobile Legends, maka kalimat itu sama sakitnya seperti serangan dari Karina. Ia selalu menghilang ketika menyerang, tapi dampaknya nyata sekali. Cepat pula ditinjukannya.
Saya pikir, dengan menonton film melankolis lainnya yang menampilkan Ewan McGreggor yang entah gimana parasnya itu melankolik sekali, saya bisa jadi merasa sedikit sensasi film Beginners.
Di film The Impossible, Ewan berperan menjadi si kepala keluarga. Sebelum ombak tsunami menumpasnya, ia sedang berenang bersama dua dari tiga anaknya. Ia adalah ayah yang hmm, lagi-lagi, kuat tapi pecah belah alias rapuh juga.
Semoga kalian belum lupa kalau di tulisan ini saya ingin menyebut empat alasan. Alasan ketiga adalah, karena ini film tentang keluarga. Saya sedang merasa perlu menerpa cerita-cerita tema keluarga agaknya, dengan alasan yang sebaiknya saya nggak sebut di sini. Kalau kalian tetep maksa pengen saya cerita, berarti kalian sama saja seperti anggota keluarga yang "jauh" tapi hobi betul mengajukan pertanyaan seolah merekalah yang menjalani hidupmu. Hhh~
Keempat, ini adalah film tentang bencana. Somehow, saya suka melihat bagaimana cara manusia bertahan diri di ujung hidupnya. Dan melihat apa yang mereka perjuangkan serta apa yang mereka lepas ketika kekuatan mereka sedikit. Ketika dalam bencana, tingkat kesadaran manusia terhadap kematian melonjak drastis. Beda dengan pernikahan, naik haji, naik jabatan, atau lolos seleksi; kematian adalah momen yang pasti terjadi, tapi agaknya tak pernah menjadi pencapaian siapa pun selama sedang hidup. Nah, di saat bencana manusia (kayaknya (aing belum pernah)) memikirkan kematian dua kali lebih sering daripada bernafas.
Di saat bencana pula, Tuhan dan semestanya membanjiri hidup dengan kemungkinan, sederas mungkin. Apakah ada batang pohon yang bisa dipeluk agar tak terbawa tsunami lagi; apakah akan ada Coca Cola yang bisa diminum ketika selamat; apakah anak itu akan bertemu ayahnya lagi; apakah jika turun dari mobil untuk kencing, sopir galak akan meninggalkanmu; semua hanya bisa dijawab dengan "mungkin."
Ada satu adegan yang saya suka dari film ini. Yaitu tentang bagaimana seseorang bisa menahan kematiannya demi memperjuangkan sesuatu. Ia seperti sudah melihat malaikat maut bilang "assalamualaikum", tapi ia berhasil menyuruh si malaikat menunggu di teras dulu, nggak langsung masuk ke dalam rumah lalu menjambret nyawamu.
Begitulah, pemirsa. Manusia hidup akan mati. Tapi manusia yang sudah terlanjur hidup, akan terus menghidupi hidupnya. Semungkin mungkin.
18 Juni 2017
Yang Tak Lagi Terlewatkan Dari Malang
Perjalanan ini nggak ada di rencana saya. Betul-betul mendadak. Adik saya yang kuliah di Malang sakit. Mamah saya pengin menjenguknya. Karena kami sekeluarga nggak mungkin membiarkan mamah terbang sendiri, akhirnya saya ikut pesan tiket juga. Kebetulan saya sedang dapat shift libur dua hari berturut-turut.
Saya juga sudah sering ke Malang sebenarnya. Selain ke Semeru, saya pernah ke Pulau Sempu saat kuliah dulu, dan tahun lalu juga diminta liputan ke sini. Tapi kunjungan-kunjungan itu nggak membuat saya merasa akrab sama Malang. Itulah juga yang memicu saya untuk berangkat ke sana.
Rencana untuk cabut ke Bromo baru muncul setelah isya. Paska urusan-urusan pengobatan adik saya selesai dan ia terlihat membaik keadaannya. Di perjalanan pulang dari rumah sakit menuju penginapan, adik saya bercerita tentang pengalamannya berkendara motor menuju Bromo. Butuh empat jam perjalanan, katanya. Pun, nggak bisa sembarang motor. Motor matic punya adik saya terhitung renta untuk mendaki jalanan menanjak dan medan berbatu. Jadi, kalau pun saya mau berangkat, pilihan menggunakan motor mesti dicoret.
Saya banyak bertanya.
"Kalau ke Bromonya siang enak nggak sih? atau harus malam?"
"Di sana cuma enak lihat sunrise, yah?"
"Kira-kira ada travel nggak ya, Fal?" tanya saya kepada adik.
Pertanyaan yang nggak mesti dijawab. Soalnya, ya, udah pasti ada. Sekali ketik "Bro.." di kolom pencarian saja Google sudah menampilkan sederetan nama penyedia jasa antar ke Bromo.
Akhirnya saya impulsif mencari jasa travel dan open trip untuk berangkat ke Bromo malam itu juga. Cukup sulit ternyata, soalnya, semua jasa menerima paket rombongan. Kalau cuma sendiri, dihitungnya private tour, harganya di atas Rp 1 juta. Sementara budget saya kan cuma ratusan ribu.
Hingga pukul 20.00, akhirnya saya bertemu jasa travel yang punya teman sedang buka open trip ke Bromo. Biayanya Rp 400 ribu. Saya sanggupi.
"Nanti jam 12 malam, mas, dijemput ya di hotel. Pake jip," katanya lewat WhatsApp.
"Oke, sip."
Sambil menunggu jemputan jip, saya jajan teh jahe ditemani Malala pemberian dari Rima.[/caption]
Saya senang ikut open trip. Kami akan pergi rombongan, bisa saling kenalan, tapi nggak ada ikatan yang membuat kami mesti nempel terus-menerus. Saat di lokasi, ya bisa bebas misah, dan tiba-tiba ngumpul lagi.
![]() |
Sambil menunggu jemputan jip, saya jajan teh jahe ditemani Malala pemberian dari Rima.
|
Peserta open trip kali ini ada lima orang termasuk saya. Dua orang adalah pasangan muda dari Jerman. Dua orang lagi adalah Nura dan Gina, mereka adalah pelancong solo, sama seperti saya.
Kami tiba di basecamp Bromo (Wonokriti) pada pukul 02.30. Demi menunggu waktu sunrise, kami mengudap indomie demi sahur sambil bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Maklum, ada bule.
Sahur pakai Indomie dan kurma. Kedua bule itu bawa bekal pisang dan belimbing. "There is no star fruit and dragon fruit in our country," katanya.
![]() |
Sahur pakai Indomie dan kurma. Kedua bule itu bawa bekal pisang dan belimbing. “There is no star fruit and dragon fruit in our country,” katanya.
|
Saya agak sebal sama warung-warung di sana. Mahal betul menaruh tarif. Untuk memakai toilet saja mesti bayar Rp 5 ribu. Untuk makan Indomeie mesti bayar Rp 20 ribu. Siapa, sih, yang ngajarin kapitalisme sampe ke gunung, gini? hhhhh.
Saya juga nggak suka-suka amat sama sensasi di anjungan Penanjakan 1. Dinginnya minta ampun. Pemandangannya bagus banget, sih. Tapi keramaiannya itu, lho. Saya justru menemukan pemandangan yang suangat memanjakan mata setelah turun dari anjungan.
Matahari mulai terlihat terbit dari anjungan Pananjakan 1 Bromo pada pukul 04.45. Para bule yang berpasangan bisa biasa saja berpelukan, sementara kami yang pribumi cuma bisa iri dan menghangatkan tubuh dengan nyempil di keramaian saja. uhhh
![]() |
| Dari belakang-genic |
Selanjutnya kami menuju Kawah Bromo yang mengharuskan kami berjalan lalu mendaki sekitar satu jam. Lumayan, rasa kangen naik gunung jadi terobati.
Saat melihat gurun pasir dan kuda-kuda saya jadi ingat novel Raden Mandasia. Saya ingat scene Loki Tua, Sungu Lumbu, dan Raden Mandasia berlari-lari dari kejaran prajurit. Sampai-sampai saya memfoto pemandangan di sana yang kayaknya mirip sama cover novel.
![]() |
| (Bukan) Loki Tua, Sungu Lembu, dan Raden Mandasia yang sedang dikejar prajurit Gerbang Agung. |
Ada yang janggal ketika saya sampai di puncak Bromo untuk melihat kawah. Saya keliyengan dan kaki saya sedikit bergetar. Haha. Baru kali itu saya ngeri sama ketinggian. Bahkan, saya sampai takut bergerak dan memutuskan duduk saja. Kalian mesti lihat suasana di sana, tempat jalannya sempit, hanya cukup empat kaki menyamping. Di sebelahnya ya sudah turunan curam. Parahnya lagi, nggak banyak pembatas yang bisa dipakai untuk berpegangan.
![]() |
| Sejak menghadapi gonjang-ganjing di kantor, saya pengen banget jalan-jalan, naik gunung. Rencananya usai lebaran. Tapi ternyata di tengah puasa pun bisa. #bahagiaadalah |
![]() |
| Jangan dulu mendamba Eropa kalau belum keliling Indonesia. |
![]() |
| Ngeeeng |
07 Maret 2017
Menulis Bebas - Lupa
Aku tahu mengapa sekolah hanya mengajarkan kita untuk menghapal tapi untuk urusan melupa, kita mesti otodidak. Karena hilaf adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan. Butuh banyak usaha dan banyak waktu untuk bisa menghapal dengan baik. Tapi untuk melupa? kita hanya butuh sedetik pengabaian agaknya.
Kamu nggak percaya? coba saja tanya ke bakwan angkringan yang walau sudah digoreng tapi kuminta dipanggang lagi. Ia menyaksikan bagaimana seorang pemuda yang selalu luput dari percobaan menepati janji.
Teh jahe beserta puluhan rintik hujan yang tak sengaja masuk ke gelas juga ikut menyaksikan, betapa pemuda itu bahkan sudah menciptakan sebuah sistem untuk bertahan (baca: kabur) dari segala gundah yang menyerang. Kamu tahulah, segala kebaikan yang dilakukan manusia sebenarnya adalah caranya untuk membendung hasrat tercela yang muncul dalam dirinya. Omong-omong, kamu sadar sesuatu nggak? Antara kalimat pertama dan kedua di paragraf ini tidak ada hubungannya. Tapi, toh, tak perlu mesti sudah terikat dalam suatu hubungan dulu, kan, untuk bisa berada dalam satu barisan? Hidup ini belum segitu transaksionalnya kan?
Yang paling parah dari kasus seperti ini adalah ketika kita lupa kalau kita punya bakat menjadi pelupa dan belaga punya sistem pengingat yang jauh lebih canggih dari fitur reminder ponselnya.
Tolong guyur mataku dengan sambal angkringan Kebon Jeruk. Biar aku sadar, walau sudah banyak lagu tentang harapan untuk bisa lupa ingatan, tapi sampai kapanpun takkan keluar fatwa yang menghalalkan profesi pelupa profesional dijadikan cita-cita.
Kamu nggak percaya? coba saja tanya ke bakwan angkringan yang walau sudah digoreng tapi kuminta dipanggang lagi. Ia menyaksikan bagaimana seorang pemuda yang selalu luput dari percobaan menepati janji.
Teh jahe beserta puluhan rintik hujan yang tak sengaja masuk ke gelas juga ikut menyaksikan, betapa pemuda itu bahkan sudah menciptakan sebuah sistem untuk bertahan (baca: kabur) dari segala gundah yang menyerang. Kamu tahulah, segala kebaikan yang dilakukan manusia sebenarnya adalah caranya untuk membendung hasrat tercela yang muncul dalam dirinya. Omong-omong, kamu sadar sesuatu nggak? Antara kalimat pertama dan kedua di paragraf ini tidak ada hubungannya. Tapi, toh, tak perlu mesti sudah terikat dalam suatu hubungan dulu, kan, untuk bisa berada dalam satu barisan? Hidup ini belum segitu transaksionalnya kan?
Yang paling parah dari kasus seperti ini adalah ketika kita lupa kalau kita punya bakat menjadi pelupa dan belaga punya sistem pengingat yang jauh lebih canggih dari fitur reminder ponselnya.
Tolong guyur mataku dengan sambal angkringan Kebon Jeruk. Biar aku sadar, walau sudah banyak lagu tentang harapan untuk bisa lupa ingatan, tapi sampai kapanpun takkan keluar fatwa yang menghalalkan profesi pelupa profesional dijadikan cita-cita.
09 Oktober 2016
Melanglang Buana
Saat menuju bandara Kuala Namu, saya bertemu dengan pak Saleh di shuttle bus. Ia bukan Indonesia, melainkan asli asal Oman. Ia menyapa kami lebih dulu, bukan dengan perkanalan melainkan dengan obrolan. Ia bertanya apa yang saya kerjakan sehari-hari, saya ceritakan bahwa saya wartawan. Lalu saya balik bertanya tentangnya. Ia menjawab satu, saya balas lagi dengan pertanyaan. Saya suka dengan cerita-ceritanya. Di akhir pertemuan, kami baru saling bertukar nama. Saya yang mengajak lebih dulu. Maksud utamanya, biar ambisi yang tiba-tiba muncul itu jadi punya nama jelas: "Saya ingin menjadi penjelajah seperti pak Saleh."
Pak Saleh adalah pria paruh baya. Ia datang ke Medan atas nama liburan. Meski sudah berkeluarga dan mereka bisa dapat jatah terbang gratis dari maskapai penerbangan tempat pak Saleh kerja, ia memilih datang berlibur ke Indonesia sendiri. "Saya selalu menyempatkan liburan," tukasnya dalam Inggris, ketika kami di dalam bus,"setidaknya seminggu dalam setahun. Mengunjungi negara lain."
Ya, dia travelling sendirian, dan ia sudah terbiasa melakukannya. Ia lanjut bercerita sementara saya mengunci satu pertanyaan yang muncul di kepala. Ia bercerita tentang kunjungannya ke Bukit Lawang melihat orangutan, tentang kekecewaannya dengan masyarakat serta pemerintah yang kurang memaksimalkan potensi pariwisatanya; serta sebalnya ia dengan kultus backpacking yang menurutnya nggak menguntungkan industri pariwisata.
"Saya pernah ke Nepal. Di sana banyak backpacking. Mereka maunya gratis terus. Dan seharian lebih sering nyantai sambil mengisap marijuana," kenangnya saya sambut dengan ketawa.
Pendidikan yang Merata(p)
Awal mulanya pendidikan, saya yakin, adalah agar kita bisa mencapai pengetahuan yang sebelumnya hanya dimiliki sebagian orang saja, terutama mereka yang punya kuasa. Sehingga kita semua sama rata: bisa punya modal yang sama dalam membuka peta, melihat dunia yang sebelumnya gelap, menafsir realita, dan menjalani kehidupan.
Kita belajar matematika, agar bisa sama-sama berhitung berapa barang yang kita dapat dengan jumlah uang tertentu. Kita belajar geografi agar sama-sama tahu bahwa ada negara ini, negara itu. Sehingga kita sama-sama punya kesempatan untuk memilih negara mana yang akan kita kunjungi suatu saat nanti, jika mau.
Pendidikan, yang saya yakini, bertujuan agar mengejar mereka yang lebih tau untuk kemudian kita buat kita dan dia jadi sama-sama tahu. Jika kita sama-sama tahu, kita sama rata. Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah. Tak ada hirarki.
Tapi nyatanya, gara-gara pendidikan pula, feodalisme dalam diri kita malah tumbuh. Ketika kita sudah lulus dari strata pendidikan tinggi tertentu, kita gatal ingin membawa gelar kemanapun nama kita ditulis: di KTP, di absen kelas, di undangan nikah, di stiker anggota keluarga yang ditempel kaca mobil. Semacam ada niat untuk mengukuhkan diri bahwa kita sudah lebih tinggi dari yang lain. Kita meluhurkan dua-tiga huruf yang menyusun gelar, tapi lupa membumikan ilmu.
Di ujung masa SMA, kita memang belajar, tapi yang kita tuju bukanlah pemanfaatan ilmu untuk praktek kehidupan bersama, melainkan untuk mengejar nilai setinggi-tingginya, untuk kepentingan kita sendiri, yaitu agar terbukti berprestasi dan diri kita dianggap layak dipertimbangkan untuk masuk universitas yang bergengsi, yang ketika kita masuk ke sana, kita bisa membanggakan kampusnya. Soal kebermanfaatan ilmunya nanti dipikirkan, kalau akan ikut lomba.
Pendidikan jadi mengandung politik. Siapa yang punya uang, bisa dibukakan jalan untuk dapat kursi di universitas tertinggi. Tempat-tempat bimbel nggak pernah sepi. Guru-guru di sekolah berlomba-lomba pulang cepat, agar tidak telat memberi les berfulus pada muridnya yang ingin nilai bagus.
02 Oktober 2016
Taman
Di kamus yang ada di sekolah, kamu adalah sinonim dari taman.
Pantas saja tiap bel selesai sekolah berbunyi
Para anak-rindu berlarian menujumu.
Mereka membawa tugas-tugas,
tapi untuk dilupakan.
"Di sana kami belajar, kok, Bu" kata satu anak rindu pada guru bahasa Indonesia yang sempat menghadang, "Kami belajar menerjemahkan kebahagiaan."
Ketika bermain di sana
mereka juga sering lupa makan.
Tapi tiap pulang, anak-rindu bertambah besar.
Pantas saja tiap bel selesai sekolah berbunyi
Para anak-rindu berlarian menujumu.
Mereka membawa tugas-tugas,
tapi untuk dilupakan.
"Di sana kami belajar, kok, Bu" kata satu anak rindu pada guru bahasa Indonesia yang sempat menghadang, "Kami belajar menerjemahkan kebahagiaan."
Ketika bermain di sana
mereka juga sering lupa makan.
Tapi tiap pulang, anak-rindu bertambah besar.
12 September 2016
Sebelum Amin
Seorang guru bertanya pada muridnya,
"apa yang kau lakukan
untuk meredamkan haru
yang tak keruan,
harap yang parah,
serta gundah yang berbuah?"
"Aku solat malam.
Diiringi lagu-lagu Sigur Ros.
Aku curhat tak kenal ongkos."
"Tidakkah kamu merasa kafir?"
"Aku merasa khusyuk."
"Mereka nasrani."
"Mereka ciptaan Tuhan kita."
"Doamu hanya akan diantar malaikat magang."
"Anak magang paling suka diberi pekerjaan.
barangkali doaku akan lebih banyak difotokopinya.
lalu ditempel di salah tempat: di pintu WC,
di kaca belakang angkot,
atau dijidatnya sendiri.
Banyak yang mengamini."
"Apa isi doamu?"
"Aku berdoa, semoga semua doa dikabul,
kecuali doamu."
"apa yang kau lakukan
untuk meredamkan haru
yang tak keruan,
harap yang parah,
serta gundah yang berbuah?"
"Aku solat malam.
Diiringi lagu-lagu Sigur Ros.
Aku curhat tak kenal ongkos."
"Tidakkah kamu merasa kafir?"
"Aku merasa khusyuk."
"Mereka nasrani."
"Mereka ciptaan Tuhan kita."
"Doamu hanya akan diantar malaikat magang."
"Anak magang paling suka diberi pekerjaan.
barangkali doaku akan lebih banyak difotokopinya.
lalu ditempel di salah tempat: di pintu WC,
di kaca belakang angkot,
atau dijidatnya sendiri.
Banyak yang mengamini."
"Apa isi doamu?"
"Aku berdoa, semoga semua doa dikabul,
kecuali doamu."
Langganan:
Postingan (Atom)














