30 Juni 2014

#pencermat Kartu Poster dan Ulang Tahun Ke-26



29 April 2011 adalah Kamis, saat saya untuk pertama dan terakhir kalinya datang ke kampus memakai setelan jas. Saya sidang skripsi! Di hari setelah hari ulangtahun saya yang ke-24 itu, saya mendapatkan hadiah yang bukan main berkesannya: kelulusan sidang skripsi yang begitu juga membawa saya ke kelulusan kuliah S1. Nilai skripsinya? aduh, saya nggak mau menyebutnya. Pokoknya saya seneng banget deh. Pokoknya lagi, karena saya sepenuh hati mengerjakan skripsi, saya merasa bahwa skripsi adalah hadiah yang saya dapatkan dari diri saya sendiri. Semacam persembahan untuk hidup saya sendiri. 

Bukan saya yang membuat jadwal skripsi itu menjadi dekat dengan ulangtahun saya. Semua diatur Jurusan. Hanya kebetulan saja. Tapi, karena kebetulan itu saya jadi bertekad setiap saya ulangtahun, saya ingin menghadiahi diri saya sendiri. Asumsinya begini, 'saya' adalah subjek sekaligus objek (the 'i' and the 'me'). Saya menjalani hidup ini, saya juga yang menikmatinya. Jadi, yang paling pantas untuk memberi selamat, syukur, doa, dan hadiah atas perayaan hidup saya ya saya sendiri.   

Ya intinya, setiap ulang tahun saya ingin bikin seneng hidup saya ini dengan sesuatu yang saya bikin sendiri. 

Nah, di tahun ini, saya membuat Kartu Poster. Dari kata majemuk itu, ada tiga kata tunggal: kartu, pos, dan poster. Ya, dalam satu bentuk, tiga hal itulah yang saya buat. Sebenarnya karya ini saya pilih karena ada terlalu banyak ide yang berseliweran minta diwujudkan. Pertama, saya ingin membuat kartu pos agar bisa dikirimkan dan menjadi kenang-kenangan untuk teman-teman. Apalagi beberapa bulan ini saya sudah jarang sekali berkirim kartu pos. Kedua, saya juga kepikiran untuk membuat serial foto lalu diterbitkan. Ketiga, sebulan ke belakang saya sedang sering-sering dirubung hasrat untuk membuat zine/newsletter personal yang isinya gagasan, cerita, atau karya saya.

Sulit sekali memilih ide mana yang mau diwujudkan. Untungnya Tuhan baik. Dia kasih saya bisik. Katanya, "bikin aja semua dalam satu bentuk". Taraa!! Hasilnya, ketiga ide dasar tersebut saya buat dalam satu platform. Jadilah Kartu Poster ini. Sebuah kartu pos yang sekaligus bisa menjadi poster bergambar foto-foto saya dan dibaliknya saya imbuhi satu artikel yang merangkum cita-rasa saya selama setahun kebelakang menjalani usia ke-25. Kartu pos ada, foto ada, newsletter pun ada. Alhamdulillah. 

Kartu Poster ini tentu saya beri tema tapi saya biarkan samar saja. Biar teman-teman yang merasakan dan menebak sendiri makna utuhnya.

Bagian pertama yang saya susun adalah artikel di bagian belakang poster. Tulisan itu merupakan sebuah pengejawantahan asa, rasa, pengalaman serta pembelajaran yang saya dapat selama setahun ke belakang menjalani usia ke-25, sebuah fase yang mempertemukan saya setumpuk padat realita hidup yang cukup mencekam dan satir. Banyak yang menyebut masa-masa tersebut adalah masanya quarter life crisis. (saya akan publish tulisannya di posting berikutnya). 

Soal foto, saya kemudian mengumpulkan foto-foto saya yang kira-kira bernuansa sama dengan isi tulisan di bagian belakang. Kalau dirasa-rasanya sih nuansanya gloomy semua. Hehe. Tapi ya memang begitulah yang sekiranya sesuai dengan yang saya rasakan. Kesemuanya adalah foto lama, bukan foto baru. Bukan pula foto yang saya buat khusus untuk Kartu Poster ini. Lantas soal kartu pos, saya imbuhkan kertas Coronado, kertas favorit saya seukuran kartu pos di bagian poster fotonya. Kertas yang aslinya berukuran A3 itu kemudian dilipat mengikuti bentuk kartu pos yang ada di tengah sehingga menjadi seukuran kartu pos tersebut.  

Karya sudah siap. Dan pasti, saya nggak mau menikmatinya sendiri. "Happiness is real only when shared" begitu kalau kata pepatah. Maka dari pada itulah, saya membuat Kartu Poster ini tak hanya satu, melainkan banyak. Lalu saya kirim-kirimkan ke teman-teman. Pertama, teman-teman yang punya peranan penting dalam hidup saya selama setahun ke belakang--termasuk pacar tentunya. Kedua, teman-teman Card to Post. Ketiga, teman-teman di Instagram, saya sengaja ngupload penawaran. Siapa yang mau akan saya kirimi. 








Ada empat varian gambar Kartu Poster yang saya buat. Jadi, kartu poster ini kalau pertama kali kita terima dalam ukuran kartu pos. Tapi setelah dibuka akan menjadi poster.


Saya menggunaka dua jenis kertas. Kertas HVS untuk bagian posternya. Kertas Coronado di bagian kartu posnya. Saya sengaja memilih kertas bertekstur seperti coronado biar saat dipegang, kita akan merasakan kontur serta tekstur berbeda. Semacam memberikan interaksi lewat kartu pos itu. 

Alhamdulillah, dari 15 kartu poster yang saya kirim, hampir kesemuanya sampai dengan selamat. Ada beberapa yang belum mengabari sih. Tapi ya semoga saja semuanya bener-bener menerima.

Sebagai arsip, saya juga akan menampilkan kesan-kesan para penerima kartu poster ini. Nggak bermaksud riya, sombong, atau membanding-bandingkan. Sungguh. Semoga bisa dinikmati yah:













---
Harusnya tulisan ini dipublis nggak jauh setelah 28 April. Tapi berhubung kemarin lalu saya kerap dirubung rasa malas akhirnya baru sempat saya ceritakan sekarang. Untung ada program #Pencermat jadi saya mau memaksa diri untuk menulis.
---
Sedikit cerita tentang #Pencermat. Ini adalah program yang digagas demi mengembalikan semangat menulis di blog lagi. Karena berbagai alasan super klise imbas keseharian, saya, LodraAndraTito dan Dimas punya keresahan yang sama: kami jadi jarang nulis dan merasa butuh kembali rutin menulis. Alasannya beragam: biar nggak tumpul, agar bisa 'hidup', memenuhi hasrat berbagi dan tentunya, mengalahkan rasa malas.

Satu kali dalam seminggu, kami berkomitmen untuk menulis dan memublisnya di blog masing-masing. Jika ada yang telat atau absen menulis, maka ia wajib mentraktir kami makan. Hehe. Karena kami memilih Jumat sebagai hari terbitnya tulisan, maka program ini pun kami beri nama Pencermat, yang merupakan kependekan dari pencerita Jumat.

Posting ini adalah tulisan keempat. Dan saya sudah telat publis tulisan dua kali. Haha. #pengakuan


21 Juni 2014

#Pencermat: Media Baru adalah Media Personal

Ada banyak definisi, pemahaman serta konsep tentang media baru yang ditawarkan buku dan para ahli media massa. Tapi penjelasan Paul Saffo, si futurist bidang teknologi yang bermarkas di Sillicon Valley, menurut saya yang paling asik. Saya menemukan pembahasan Paul Saffo ini di buku Designing Media  yang ditulis oleh Bill Morridge. Bill mewawancara Paul Saffo lalu memuat hasilnya di bab Here to Stay: tentang media yang bertahan dalam format lama. 

Pertama, Paul bercerita tentang bentuk media yang old-fashion. Sebagai seorang yang memilih menggunakan buku catatan ketimbang iPad untuk menulis temuan serta pemikirannya, Paul berpendapat bahwa notebook  itu lebih mudah di buka, dan langsung menuliskan catatan ketimbang dengan di iPad. Selain lebih fleksibel, ia bisa dengan mudah menggabungkan catatan dalam bentuk gambar atau teks atau malah menempelkan gambar. 

Pengurangan penggunaan kertas, kata Paul, sama persis kejadiannya seperti saat kita tak lagi menggunakan kuda. Semenjak perkembangan mesin, terutama dalam transportasi, kuda tak lagi banyak digunakan masyarakat untuk berpindah tempat. Namun, kuda sampai sekarang tidak punah dan dikesampingkan begitu saja. Begitu pula dengan media lama. Ia hanya akan mengalami perubahan fungsi dan cara penggunaannya. 


Kita sudah melewati jaman media massanya McLuhan selama lebih dari setengah abad dan sekarang dunia ini sedang mengalami revolusi bentuk media yang berbeda dari sebelumnya. Bedanya, pada media lama, seperti televisi, kita hanya bisa menyimak, tidak bisa berpartisipasi. Dengan begitu, bentuk partisipasi kita adalah mengonsumsi. Kita menonton tivi beserta iklannya lalu kita keluar rumah dan membeli produk yang kita lihat iklannya di TV. Sebenarnya kita bisa juga mengirimkan surat pembaca atau ikut beropini di program jajak pendapat tivi. Tapi, biasanya itu penuh filter dari editornya. 

Sementara di era personal media ini, merespon dan berinteraksi justru bukanlah pilihan, tetapi kewajiban. Contohnya saja, untuk menggunakan Google, kita bukan mesti menyimak Google begitu saja, kita harus aktif menggerakkan Google, dengan mengisi kolom pencarian dan memilih tautan mana yang ingin kita baca. 

Kita juga pasti tau apa perbedaan Wikipedia dan buku Encyclopedia. Buku Encyclopedia ditulis oleh sekelompok tim penulis tertentu yang pasti sangat berpengetahuan, semenentara personal media seperti Wikipedia semua orang bisa terlibat dalam penulisan. Ketika kita menemukan informasi dan data baru tentang suatu hal yang sudah dituliskan sebelumnya di Wikipedia, kita bisa mengusulkan penambahan data. Kita juga bisa turut mengoreksi kesalahan penulisan, jika ada. Dan ya, aksi perseorangan itu bisa dikonsumsi siapa pun di dunia. 

 Dari uraian Paul Saffo itu bisa dirangkum bahwa media baru ada dan digerakkan karena adanya interaksi, dan rumus interaksi dalam media baru adalah semakin kecil aksi yang diminta, semakin menimbulkan keinginan untuk berpartisipasi. Dan seperti yang kita tahu partisipasi di dunia maya memang kebanyakan sangat kecil syaratnya: Twitter hanya meminta kita untuk bercecuit tak lebih dari 140 karakter, kita sudah bisa mendukung gerakan kemanusian di halaman Facebook hanya dengan memencet tombol ‘Like’ dan kita bisa membantu meningkatkan popularitas sebuah brand hanya dengan mengklik iklannya. 

Singkatnya, menurut Paul, ada tiga karakteristik pembeda antara media massa dan media personal. Pertama, interaktivitas. Di media massa, kita hanya menyaksikan, sementara di media personal, kita berpartisipasi. Kedua, lokasi. Media massa penempatannya terbatas. Personal media bisa kita genggam kemanapun kita pergi. Dan ketiga, dominasi pelaku. Media massa adalah dominasinya sekelompok kecil yang mempunyai jaringan luas (dan modal banyak), sementara media personal adalah dominasi orang banyak yang berkekuatan (modal) kecil. 

......



Sedikit cerita tentang #Pencermat. Ini adalah program yang digagas demi mengembalikan semangat menulis di blog lagi. Karena berbagai alasan super klise imbas keseharian, saya, LodraAndraTito dan Dimas punya keresahan yang sama: kami jadi jarang nulis dan merasa butuh kembali rutin menulis. Alasannya beragam: biar nggak tumpul, agar bisa 'hidup', memenuhi hasrat berbagi dan tentunya, mengalahkan rasa malas.

Satu kali dalam seminggu, kami berkomitmen untuk menulis dan mempublish-nya di blog masing-masing. Jika ada yang telat atau absen menulis, maka ia wajib mentraktir kami makan. Hehe. Karena kami memilih Jumat sebagai hari terbitnya tulisan, maka program ini pun kami beri nama Pencermat, yang merupakan kependekan dari pencerita Jumat.

13 Juni 2014

#Pencermat: Laki-Laki Tidak Boleh Meminta: Tanda Tanya atau Tanda Seru?


"Laki-laki itu tidak boleh menuntut," tegas Pidi Baiq yang sedang berbicara mengenai novel terbarunya di sebuah acara bedah buku, Dilan. Dia adalah Dilanku Tahun 90an. Lewat novel yang bercerita tentang kisah cinta masa SMA antara laki-laki gagah tetapi nyeleneh bernama Dilan dengan Milea, seorang siswi baru di sekolahnya Dilan itu  Pidi Baiq memang terasa betul ingin turut mengonstruksi karakter cowok ideal, terutama cowok dewasa muda, dalam keseharian. 

Saya suka sekali dengan novel Dilan ini. Saya juga setuju dengan konsep laki-laki ideal yang dikejawantahkan Pidi Baiq pada tokoh Dilan: berjiwa rebel, kritis, cerdas, pembela keadilan, penyayang wanita, dan punya kadar romantisme yang pas sekaligus unik. Tapi kok ucapan Pidi Baiq yang juga merujuk ke tokoh Dilan satu itu terasa janggal yah. Bikin tertegun. Apa iya, laki-laki tidak boleh menuntut? kenapa? apa yang salah jika laki-laki menuntut (wanita)? Masa sih, Pidi Baiq yang melalui tokoh Dilang sekaligus saya anggap memperjuangkan kesetaraan gender itu tetap memelihara pemikiran bahwa laki-laki itu hanya boleh memberi, tak baik jika menerima? 

Kata-kata Pidi Baiq itu mau tak mau mengingatkan saya pada novel Pengakuan Eks Parasit Lajang gubahan Ayu Utami. Di novel yang berisi tentang gagasan serta pengalaman seksualitas Ayu Utami itu ada bagian cerita yang mengandung pemikirian persis seperti pemikiran Pidi Baiq tadi. Dalam suatu scene, tokoh utama yang bernama A (wanita) sedang berbelanja di sebuah supermarket bersama pacarnya, Nik. Di sana, Nik iseng minta dibelikan cokelat oleh A. Tapi A justru memarahi permintaa simpel tersebut. Kata A, laki-laki itu tidak boleh meminta. Perempuan boleh memberi, tapi laki-laki tidak boleh meminta. Sebenernya saya lupa-lupa ingat sih, tapi seingat saya, di scene itu tokoh A serius betul berkata seperti itu. Seperti ungkapan dari hati yang paling dalam. 

Padahal, tokoh A itu diceritakan sangat benci dengan pemarjinalan wanita karena budaya patriarki. Ia juga sebal dengan pengekangan seksualitas wanita, terutama pemikiran bahwa keperawanan wanita harus dijaga sementara keperjakaan pria tidak (setidaknya jarang dipermasalahkan di masyarakat). 

"Ada yang tidak beres dengan nilai-nilai masyarakat. Lelaki dibebani tuntutan tidak proporsional untuk menjadi lebih dari perempuan. Dan perempuan diberi tuntutan tak adil untuk merendahkan diri demi menjaga ego lelaki. Sampai hari ini aku masih mengatakannya: itu sungguh tidak benar dan tidak adil.” tulis Ayu Utami sebagai suara dari tokoh A. Dari situ, yang saya tangkap adalah bahwa tokoh A adalah si pejuang kesetaraan gender. 

Nah, saya bingung. Mengapa bagi si pejuang kesetaraan gender pun masih ada pemikiran bahwa laki-laki tidak boleh meminta dan menuntut kepada wanita. Apakah dengan begitu laki-laki memarjinalkan wanita juga? Atau ini hanyalah pengecualian, bahwa walaupun pria harus menggagap dirinya sejajar dengan wanita, tetapi pria harus terus menjadi si kuat yang bisa terus memberi dan tak boleh membuat wanita berjuang untuk memenuhi keinginannya?  

Kalau begitu, hubungan pria-wanita itu mestinya bersifat satu arah dong? pria mesti mencinta tanpa pamrih. 

Saya masih belum bisa menemukan jawaban yang bisa saya ecamkan. Tapi setidaknya semasih mencari, saya anggap saja tawaran gagasan dari Pidi Baiq dan Ayu Utami itu satu pola dengan rumus mencintai negara dari John F Kennedy: Jangan tanya apa yang negara sudah berikan padamu, tapi tanyalah apa yang sudah kamu berikan untuk negara. (kata negara bisa kita ganti dengan subjek yang kita cinta). Kalau begitu sih, saya setuju, asalkan saya sudah yakin bahwa negara saya itu sudah punya cinta yang sama besar, minimal sebesar cinta saya atasnya. Hehe.

Menurut kalian gimana? ungkapan 'laki-laki tidak boleh meminta' perlu diberi tanda tanya, tanda seru... Hmm atau malah dicoret? 

......
Sedikit cerita tentang #Pencermat. Ini adalah program yang digagas demi mengembalikan semangat menulis di blog lagi. Karena berbagai alasan super klise imbas keseharian, saya, LodraAndraTito dan Dimas punya keresahan yang sama: kami jadi jarang nulis dan merasa butuh kembali rutin menulis. Alasannya beragam: biar nggak tumpul, agar bisa 'hidup', memenuhi hasrat berbagi dan tentunya, mengalahkan rasa malas.

Satu kali dalam seminggu, kami berkomitmen untuk menulis dan mempublish-nya di blog masing-masing. Jika ada yang telat atau absen menulis, maka ia wajib mentraktir kami makan. Hehe. Karena kami memilih Jumat sebagai hari terbitnya tulisan, maka program ini pun kami beri nama Pencermat, yang merupakan kependekan dari pencerita Jumat.


(gambar: huffingtonpost.fr )

06 Juni 2014

#Pencermat: Inikah 4 Alasan Mengapa Judul dengan Angka Lebih Diminati?


Sebenarnya, ada konspirasi macam apa sih antara angka dan media daring? Sejak saya mulai nyemplung di jagad ini menjadi penulis, rasanya angka selalu menjadi kata kunci dalam tiap obrolan kesuksesan media daring.

Pertama, tiap penulis mesti dibebani target capaian artikelnya: jumlah visitor, jumlah komentar, dan ranking website di Alexa setelah artikel itu pamor. Kedua, menyematkan angka dalam judul artikel di media daring itu akan jauh lebih memikat pemirsa. Ya, ternyata untuk mencapai angka keterbacaan yang tinggi, artikel kita juga mesti menggunakan angka!

Kalau diingat-ingat, pertama kali saya mulai menulis untuk media daring itu adalah di 2010, hingga dua tahun setelahnya pun saya hanya dibiasakan untuk menulis judul artikel dengan pola standar: sekadar merangkum tulisan dengan usaha kreatif meracik kata, kalau bisa yang sensasional. Nah, tren judul berangka ini baru saya temui di 2013.

Seorang petinggi kantor saya saat 2013 itu menegaskan dalam sesi rapat. Pada slide presentasi yang bertuliskan Magic Number itu dia berkata, “Kita harus mulai penggunakan angka dalam judul.” Setelahnya, kami tak lagi bersusah payah memikirkan judul yang kreatif. Artikel selalu dibuat dengan gaya ‘poin-poin’, bukan gaya bercerita. Judul dibuat begitu gamblang saja dan langsung menyebut jumlah poin yang kami bahas.

Terbukti, capaian keterbacaan kami meningkat. Seorang blogger yang pernah membandingkan statistik jumlah pembacanya, juga mengaku bahwa ketika ia menggunakan angka dalam judul postingnya, traffic blognya melejit 2,5 hingga 8 kali lebih banyak. Wow!

Angka menjadi trigger netizen untuk mengklik link lalu masuk ke website, membaca artikel, lalu lompat ke artikel-artikel lainnya. Kalau diamati, memang website untuk anak muda lah yang lebih banyak menggunakan strategi judul berangka ini.

Nah, setelah beberapa lama ini menggarap strategi konten dengan judul berangka saya pun mulai tahu kenapa itu bisa mujarab memikat pemirsa:

1. Angka Mengurangi Ketidakpastian

Coba ingat-ingat bagaimana rasanya berhenti dan berdiam menunggu lampu merah saat ini dan dua-tiga tahun lalu. Pasti kita sepakat bahwa berhenti di lampu merah sekarang ini lebih tak membuat kita cemas. Karena dari tampilan hitungan mundurnya kita  jadi tahu berapa lama kita harus menunggu.

Dalam kasus tulisan, judul berangka membuat pembaca mudah memperkirakan apa-apa saja yang akan didapatkan dalam artikel.

2. Bicara Angka Bicara Fakta 

Angka itu bisa didapat dari perhitungan. Perhitungan didapat dari penelitian. Penelitian didapat dari fakta. Bisa jadi karena itulah angka selalu menggugah kita. Tulisan berangka akan membuat kita semakin yakin kalau tulisan itu penting dan akurat. Apalagi kalau angka yang ditampilkan nilainya besar. Efek kejutnya akan meningkat.

3. Mempermudah Pembacaan

Beda media, beda pula habbit-nya. Di media daring, banyak ahli yang berkata bahwa pembaca media daring itu tak suka berlama-lama membaca. Mereka cenderung mencari poin-pon pentingnya saja. Karena itulah, gaya artikel yang langsung menyajikan poin-poin akan lebih dicerna. Dengan sekali skimming saja, pembaca sudah bisa mengetahui inti tulisan.

4. Number is an eye candy

Situs Mediasocialtoday.com bahkan menyebut bahwa “number is brain porn”. Angka selalu bikin otak kita terpikat. Selain angka kerap diasosiakan dengan fakta, angka juga bikin penasaran. Menemukan judul artikel “7 Alasan Bekas Kerokan Itu Trendi” dan “Alasan Bekas Kerokan Itu Trendi” pasti punya efek berbeda. Diluar topiknya yang memang bikin penasaran, judul berangka sih bikin saya jadi lebih penasaran. “Haha. Ada tujuh? Ada-ada aja. Apaan aja tuh?”

grafik persentase pencapaian jumlah viewer berbagai teknik penulisan judul (sumber: bufferapp )

Namun, rasanya penting untuk dicermati juga bahwa walaupun punya daya tarik yang ‘wah’, kita tak bisa terus-terusan menggunakan angka dalam judul artikel. Pertama, konten kita akan sangat monoton. Kedua, kurang melatih kreativitas dalam merangkai kata. Maklum strategi judul berangka itu diikuti dengan penyebutan topik tulisan secara gamblang ditulisan. Biar semakin mudah dicerna pembaca. Ketiga, jika terlalu banyak, kayaknya pembaca kita pun akan memelihara mindset numerical belaka, selalu inget to the point, selalu ingin dimudahkan, dan tak terbiasa dengan tulisan yang sastrawi. Tulisan yang mengutamakan unsur estetika bercerita.

O ya, saya baru kepikiran. Kenapa tren judul berangka ini justru dimulai oleh program TV yah ketimbang media online. Betul kan? Program On The Spot contohnya.

...
Sedikit cerita tentang #Pencermat. Ini adalah program yang digagas demi mengembalikan semangat menulis di blog lagi. Karena berbagai alasan super klise imbas keseharian, saya, Lodra, Andra dan Tito punya keresahan yang sama: kami jadi jarang nulis dan merasa butuh kembali rutin menulis. Alasannya beragam: biar nggak tumpul, agar bisa 'hidup', memenuhi hasrat berbagi dan tentunya, mengalahkan rasa malas.

Satu kali dalam seminggu, kami berkomitmen untuk menulis dan mempublish-nya di blog masing-masing. Jika ada yang telat atau absen menulis, maka ia wajib mentraktir kami makan. Hehe. Karena kami memilih Jumat sebagai hari terbitnya tulisan, maka program ini pun kami beri nama Pencermat, yang merupakan kependekan dari pencerita Jumat.



24 Mei 2014

Pesona Tulisan



Dan seorang dosen saya membuktikan, lewat tulisan ia bisa memesona wanita lalu mengajaknya menikah. 

Saya selalu menaruh apresiasi lebih kepada sesiapun yang menulis. Begitu juga atas dosen. Ketika saya tahu dosen itu menulis, dan tulisannya bagus, maka menghadiri kelasnya bukan lagi sekadar menyimak kuliahnya, tetapi membaca pemikiran serta karakter yang membangun tulisannya itu. Ya bisa jadi ini karena saya juga penulis, jadi tahu betul seperti apa kualitas seseorang yang menulis.

Pernah ada dosen yang sebenarnya saya nggak begitu suka caranya mengajar di kelas, tapi ketika saya dengar kabar bahwa beliau menulis artikel di sebuah majalah dan ternyata tulisannya bagus, maka persepsi saya atas pengajarannya di kelas berubah. Lebih positif.

Di sini, saya mau bercerita tentang dosen yang sering banget menulis untuk kolom Opini di Kompas atau Tempo. Kadang, dia menyebut rubrik  tersebut bukan dengan namanya, melainkan dengan menyebut nomor halamannya. Kompas halaman 7.

Berawal dari mengikuti dan membaca tulisan-tulisan beliau, saya malah jadi gemar membaca rubrik Opini di Kompas. Bahkan, tiap baca Kompas di kantor yang saya baca pertama kali bukan halaman depan, melainkan rubrik Opini tersebut. Tentu, diam-diam saya juga menanti kapan beliau atau dosen-dosen saya di kampus lainnya nongol di rubrik ini.

O ya, perlu di ketahui juga. Dosen satu itu tulisannya sangat menggugah dan berpengaruh. Contoh yang beberapa kali beliau ceritakan adalah tulisannya yang dimuat Kompas sehari sebelum Megawati memberi mandate kepada Jokowi untuk maju jadi Capres. Artinya, sedikit banyak, tulisan beliau yang meman berisi opininya tentang Megawati dan partainya tersebut mempengaruhi keputusan besar yang juga berpengaruh pada politik nasional. Sedaap!!!

Nah, yang paling bikin memukau, dia yang udah rajin banget nulis sejak kuliah ini pernah menjadikan artikel buatannya sebagai ajang pernyataan cinta ke pacarnya (sekarang jadi istri). Kok bisa?

Istrinya sendiri yang bercerita kepada kami, para mahasiswa. Suatu waktu Pak Dosen ini mengajak istrinya untuk masuk ke kelas. Materi saat itu adalah 'media dan politik'. Singkatnya, kami membahas bagaimana peran serta fungsi media dalam dinamika politik dari masa ke masa di Indonesia.

Di akhir kuliah, si istri yang duduk di bagian belakang itu bersuara ikut menambahkan fungsi media. Katanya “Media juga berfungsi untuk menyatakan cinta juga loh.”

“Hah?!” kami bingung. Topik yang dari tadi serius tiba-tiba mengarah ke cinta.

“Tanya sendiri saja ke Bapak!” si istri menjawab.

Kami menengok ke si bapak dosen. Tapi beliau hanya cengegesan.

Akhirnya si istri malah menceritakannya sendiri, “Iya, jadi dulu waktu mau melamar saya dia bikin tulisan dan dimuat di koran. Huruf pertama tiap paragraph yang ada di tulisan itu kalau disusun jadi kata ‘I LOVE YOU’.”

Saya terkesima. Keren! Tiada tara. Memukau. Dahsyat. Loh jinawi. Maha!

Saya membayangkan adegan saat tulisan itu terbit. Si Bapak mesti menghubungi istrinya itu lalu berkata “Kamu udah baca tulisan aku di Kompas? Kalau udah baca sekali lagi deh. Tulisan itu aku buat untuk kamu. Perhatiin awal tiap paragragnya yah.”

Duh. Betapa saya ingin mengistimewakan pacar saya dengan cara sesederhana, implisit tapi memukau begitu juga. Dan tentu berkaitan dengan tulisan.





24 April 2014

Mestakun



Wahai semesta, 

Janganlah kecewakan orang-orang yang sudah menganggap dunia ini akan selalu baik-baik saja.


13 April 2014

Bersiasat dengan Perangkat.


Kita sudah dikuasai smart-phone. Kesehariaan kita dikeliling kabel dan listrik. Kita adalah si gardu listrik berjalan (merujuk ke budaya menenteng power bank). Kita adalah si haus koneksi. Kita adalah si penggenggam dunia. Kita adalah si sungai yang dialiri pesan yang begitu deras, debitnya kencang, volumenya besar dan jenisnya pun beragam: cecuit Twitter, berita, artikel, chat, SMS, email, meme, update status kawan-kawan, dsb. Coba bayangkan jika ada sungai yang dialiri lebih dari dua-tiga zat cair. Jika tak pandai diolah, muara hanya berisi limbah.

“I fear the day when the technology overlaps with our humanity. The world will only have a generation of idiots.”

Mungkin kalian sering juga melihat quote yang banyak sekali menyebar di dunia maya ini. Quote bernuansa kritik ini dihakimi netizen sebagai quote dari Albert Einstein, walau berdasarkan sebuah penelusuran, Kakek Einstein tak pernah mengatakan atau menuliskan kalimat tersebut. Tapi tak apalah, toh, quote ini bagus dan sedikit-banyak membawa kebaikan atau setidaknya menyadarkan kita: bahwa bukan tak mungkin, teknologi yang awalnya dibuat untuk memudahkan serta mencerdaskan kita, berpotensi juga membuat kita bodoh. Karena candu akan gadget, tak lihai menjadi makhluk yang hidup di dua dunia sekaligus, tak pandai mengelola terpaan pesan yang deras mengalir dan urung mengulik teknologi, mencari aplikasi yang tepat digunakan sehari-hari.

Oke. Tulisan melantur terlalu jauh sepertinya. Haha. Betapa saya sedang dirubung kekisruhan akibat gadget. Di posting kali ini saya ingin berbagi rekomendasi tentang aplikasi-aplikasi apa yang saya pasang di smart-phone Android saya. Karena merasa sering dibodohi sama si ponsel pintar ini, saya merasa perlu bersiasat. Mencari perangkat-perangkat yang bisa memudahkan saya untuk selamat membagi diri di dunia maya dan dunia nyata.

Teknologi bisa menjadi candu yang membuat kita take no logic. Karena itu kita perlu bersiasat, agar selamat dan tak tersesat. Sikaat:

1. Aviate 


“The intelligent homescreen that simplifies your phone.” itulah Aviate. Aplikasi theme-launcher ini meringkas kecanggihan Android, dan menjernihkan tampilan. Begitu menjajal Aviate berdasarkan rekomendasi Jodi, kawan saya yang seorang programmer, saya merasa Android saya ini jadi lebih ramah pikiran (sejenis ramah lingkungan gitu. :p )


Andaikan saja rajin sedikit lagi, fungsi Aviate ini akan maksimal. Saya belum optimal memanfaatkan fitur penyesuaian susunan aplikasi pendukung berdasarkan lokasi dan waktu. Padahal dengan begitu, saat pagi hari misalnya, aplikasi-aplikasi yang dimunculkan di atas layar utama adalah aplikasi cuaca, email, dan aplikasi News.

Unduh di sini

2. Dropbox


Dropbox adalah survival kit untuk hidup di budaya terus terhubung ini. Karena nyatanya, kita tak hanya perlu terhubung dengan orang, tetapi juga data pribadi kita. Mempunyai dropbox itu sama rasanya seperti memiliki gudang dan agen distribusi di dunia maya. Jadi, ketika kita membuka cabang koneksi di berbagai perangkat, kita bisa dengan mudah mengakses data-data kita. Saya bisa membuat tulisan di laptop lalu membacanya di hape kalau file dokumennya saya save di dropbox. Guna meng-update Instagram misalnya, saya juga sangat memanfaatkan Dropbox: gambar yang ada di laptop saya pindah kan ke Dropbox, setelah ter-sync saya tinggal export gambar itu saja ke hape. Begitu juga sebaliknya, ketika sehabis memotret dari hape, jika ingin mengeditnya di komputer saya tak lagi tranfer data dengan kabel, tetapi dengan upload via Dropbox. 

Asiknya, Dropbox juga memungkinkan sharing folder dengan orang-orang. Sungguh ini membantu saya yang punya beberapa proyek dengan teman. Jadi, folder di dropbox menjadi markas kami. Seluruh file mesti kami taruh di situ biar bisa diakses teman-teman yang lain juga. Menurut saya, Dropbox adalah aplikasi yang paling signifikan fungsinya di era smartphone ini.

unduh di sini

3. Google Keep




Hidup di network society membuat kita banyak menemukan sekaligus mudah kehilangan. Kita bisa banyak menemukan inspirasi, menemukan acara keren yang asik untuk didatangi, dsb. Tapi seperti anak kecil yang terlepas dari orangtuanya di mall, kita juga mudah hilang! Google Keep membantu kita menjaga temuan-temuan penting, serta hal-hal yang perlu kita lakukan. Google Keep adalah pencatat sekaligus pengingat.

Sebenarnya  ada banyak sekali aplikasi to do list dan reminder di Play Store. Namun, Google Keep adalah yang paling cocok. Pertama, tampilannya simpel. Kedua, catatan to do list kita bisa ditempel di layar utama seperti post it. Cara menset reminder atau alarmnya pun mudah sekali. Ketiga, seperti namanya, aplikasi ini membantu kita meng-keep hal-hal penting lainnya di luar to do list, yaitu notes, foto.

Keempat, Google Keep juga tersedia versi desktopnya. Bisa diakses dengan menggunakan Google Chrome Launcher. Tentunya Google Keep juga bisa sync lintas gadget. Ini yang bikin asik, selama ada Google Keep saya mencatat ide-ide atau menuliskan hasil liputan di sini. Menulis di hape, lalu diteruskan di laptop. Semenjak ada Google Keep, saya melupakan Evernote.

unduh versi Chrome-nya di sini dan versi Androidnya di sini 


4. WhatApp Plus



Saya gagap dalam mencerna banyak informasi dalam waktu yang sama. Begitu juga ketika melihat notifikasi pesan WhatsApp yang masuk. Bisa-bisa lebih dari 100 conversation yang diumumkan di status bar.

Keberadaan messenger semacam WhatsApp ini membuat kita menganggap obrolan massal bisa mudah terjadi. Hasilnya, kelompok-kelompok pun sepakat menjadikan groupchat di Whatsapp sebagai tempat nongkrong. Konsekuensinya adalah chat bisa masuk kapan pun, tak mengenal waktu, dan karena anggota grup banyak, maka jumlah chat yang masuk pun sangat banyak. Sebuah distraksi yang absolut.

Saya menyebut WhatsApp + adalah WhatsApp yang manusiawi. Mengapa? Karena memungkinkan untuk menyembunyikan notifikasi pesan, entah itu dari grup atau dari perseorangan. Dengan begitu kita terlindung dari terpaan chat yang tiba-tiba deras. Distraksi bisa berkurang. Jadi, notifikasi yang dimunculkan hanya dari perseorangan. Selama ini saya menganggap chat dari perseorangan lah yang perlu diprioritaskan.

Permasalahan kedua dari WhatsApp adalah adanya jejak informasi kapan kita sedang online dan kapan terakhir kita membuka WhatsApp. Karena itu, tak jarang kita menerima complain “Last seen-nya baru beberapa menit lalu, kok chat saya sejam lalu belum dibales yah.” Atau “tadi udah writing tapi kok nggak ada balesannya sih.”

Padahal kadang kita butuh waktu untuk mencerna pesan yang masuk dan mempertimbangkan apa balasannya. Tak langsung membalasnya. Nah, WhatsApp "biru" ini memungkinkan kita menyembunyikan jejak online dan last seen kita.

WhatsApp + nggak mungkin kalian temui di Play Store, melainkan mesti di unduh dari sini 

5. Pocket



Begitu banyak temuan konten menarik saat kita sedang berselancar di internet atau di media sosial. Saya perlu bersiasat agar temuan penting dari selancar sekilas di internet bisa saya nikmati dengan utuh, tak hanya baca judulnya, lead, atau sekadar skimming.

Pocket adalah jurusnya. Aplikasi ini membuat kita bisa menyimpan konten dari tautan yang kita temui lalu dibaca kemudian ketika sudah senggang dan dengan tampilan lebih menarik. Sebutlah ini aplikasi penampung bookmark di web.

Selain itu, menurut saya membaca konten di Pocket jauh lebih enak dibanding membacanya di web aslinya. Layoutnya bersih, font-nya pun bikin tulisan lebih enak dibaca. Selain itu kita juga bisa membuat kategorisasi konten dengan sistem tag. Dengan begitu saya pun juga menjadikan Pocket sebagai wadah penampung artikel-artikel yang saya suka dari web.

Biar lebih asik, pasang juga extension Pocket di Chrome. Jadi, ketika menemukan konten menarik kita saat browsing via PC atau laptop, kita bisa melanjutkan atau membacanya lagi di ponsel. Waktu sebelum tidur dan saat sedang di perjalanan (kalau naik angkot) adalah waktu yang biasa saya pakai untuk membuka Pocket.

Pocket untuk Chrome bisa diunduh di sini
Pocket untuk Android bisa diunduh di sini

Tentu saya tak hanya menggunkan lima aplikasi ini di Android saya, tapi lima aplikasi ini lah yang paling terasa manfaatnya.




03 April 2014

Penulis yang baik adalah

Penulis yang tulisannya selesai.
Bukan yang sekadar berkata, "Saya suka menulis." atau "Saya punya ide bagus untuk menulis."

-catatan untuk diri

31 Maret 2014

kebuTUHAN

selalu
ada
Tuhan
di setiap
kebutuhan. 

21 Maret 2014

#Artikel - Mata Eropa si Fotografer Pribumi Pertama


Tak butuh waktu lama untuk fotografi datang ke Indonesia. Tak lebih dari dua tahun setelah dipatenkan, Daguerretype—kamera pertama yang diciptakan oleh seorang Perancis, Louis Daguerre—datang ke Indonesia. Seorang Belanda bernama Jurrian Munich-lah yang membawa kamera pertama kali ke tanah Jawa. Saat itu adalah tahun 1840 ketika Munich ditugaskan untuk melakukan pemotretan flora dan peninggalan bersejarah di Hindia Belanda.

Namun, baru setelah dua puluh tahun sejak kedatangannya, kamera baru benar-benar dioperasikan oleh pribumi, yaitu oleh Kassian Cephas, nama yang pastinya sudah kita banyak kenal sebagai fotografer pribumi pertama. Kassian berusia 20an tahun ketika itu. Sebagai salah satu pekerja di kesultanan ia berkesempatan untuk berlatih fotografi kepada jurufoto pemerintah Hindia Belanda yang ditugaskan di kesultanan Yogyakarta, Simon Willem Camerik.

20 Maret 2014

Long Live Print!

Paper is here to stay. Indeed, paper is hard to compete with precisely because it has so many wonderful qualities: it looks beautiful, with many choices of smoothness, brilliance of white, depth of black, and richness of color. It feels luxurious as you turn a page or sense the bite of the granularity as you scribe or sketch. It's amazingly light and protable and an excellent storage medium. It even smells good--don't you enjoy the smell of new paper and fresh ink as you browse the bookstore? 
Bill Moggridge - Designing Media  
Persis seperti yang saya rasakan ketika menikmati kartu pos yang dikirimkan kawan-kawan.

Persis seperti yang saya rasakan ketika pergi ke percetakan, memilih-milih kertas yang sangat beragam sekali kontur, ketebalan, rasa sentuh, daya serap tinta dan hasil cetaknya, lalu melihat operator mencetak-memotong-menjilid zine hingga akhirnya sampai ke tangan saya.

Saya tak berani berkata bahwa era media cetak tidak akan mati. Yang saya yakin, media cetak akan selalu hidup setidaknya dalam dunia saya.

Saya juga tak berani berkata bahwa penggunaan kertas tidak akan mengurangi jumlah pohon di lingkungan. Yang saya yakin, menggunakan kampanye antikertas untuk mengalihkan media ke elektronik tak membuat media elektronik bisa menjamin kebaikan pada lingkungan.

01 Februari 2014

In Public Babies









-


-


Berkunjung Ke Bandung - Desember 2013



Perlu disyukuri sepertinya, bahwasannya dalam setahun kemarin saya masih diberi kesempatan untuk selalu bisa mengunjungi Bandung, setidaknya sebulan sekali. Betapa pun berubahnya Bandung, kota ini tetap bisa menjadi pelarian. Ah, apa jangan-jangan Bandung memang diciptakan untuk menjadi katarsis bagi penduduk kota panas macam Jakarta. 

Akhir Desember tahun lalu, saya berkunjung ke Bandung. Kali ini bersama keluarga. Lengkap. Sudah sangat jarang kami sekeluarga ini pergi berlibur bersama, apalagi keluar kota, apalagi naik mobil. Tak lama kami singgah, hanya dua hari satu malam kami memBandung. Tapi ternyata di waktu yang singkat itu saya tetap bisa melahap banyak sensasi-sensasi kota ini. 

Saya menjajaki daerah Pasar Baru, berkunjung ke Braga untuk memborong film 35mm yang harganya jauh lebih murah dari harga Jakarta, mengajak adik meninjau ITB agar ia bisa punya harapan untuk kuliah di situ, ikut meramaikan Car Free Day ala Bandung yang semarak itu, dan tetap, di akhir kunjungan, kami sekeluarga bisa berbelanja ke outlet-outlet. Hehehe. 























15 Januari 2014

1501

Nani wo machigatte sore sae mo 
Wakaranainda rolling rolling
Hajime kara mottenai no ni mune ga ikanda
Bokura wa kitto kono saki mo
Kokoro kara matte rolling rolling
Itetsuku jimen wo korogaru youni hashiridashita


© blogrr
Maira Gall