18 Juni 2017

Yang Tak Lagi Terlewatkan Dari Malang



Saya pernah ke Semeru, dan karena itu saya melewati juga jalur yang dilewati para pelancong yang menaruh Bromo pada tujuannya. Tapi sampai 11 Juni 2017 saya belum pernah mengunjungi pegunungan mungil yang pemandangannya banyak betul didamba orang tersebut.

Perjalanan ini nggak ada di rencana saya. Betul-betul mendadak. Adik saya yang kuliah di Malang sakit. Mamah saya pengin menjenguknya. Karena kami sekeluarga nggak mungkin membiarkan mamah terbang sendiri, akhirnya saya ikut pesan tiket juga. Kebetulan saya sedang dapat shift libur dua hari berturut-turut.

Saya juga sudah sering ke Malang sebenarnya. Selain ke Semeru, saya pernah ke Pulau Sempu saat kuliah dulu, dan tahun lalu juga diminta liputan ke sini. Tapi kunjungan-kunjungan itu nggak membuat saya merasa akrab sama Malang. Itulah juga yang memicu saya untuk berangkat ke sana.

Rencana untuk cabut ke Bromo baru muncul setelah isya. Paska urusan-urusan pengobatan adik saya selesai dan ia terlihat membaik keadaannya. Di perjalanan pulang dari rumah sakit menuju penginapan, adik saya bercerita tentang pengalamannya berkendara motor menuju Bromo. Butuh empat jam perjalanan, katanya. Pun, nggak bisa sembarang motor. Motor matic punya adik saya terhitung renta untuk mendaki jalanan menanjak dan medan berbatu. Jadi, kalau pun saya mau berangkat, pilihan menggunakan motor mesti dicoret.

Saya banyak bertanya.

"Kalau ke Bromonya siang enak nggak sih? atau harus malam?"
"Di sana cuma enak lihat sunrise, yah?"
"Kira-kira ada travel nggak ya, Fal?" tanya saya kepada adik.


Pertanyaan yang nggak mesti dijawab. Soalnya, ya, udah pasti ada. Sekali ketik "Bro.." di kolom pencarian saja Google sudah menampilkan sederetan nama penyedia jasa antar ke Bromo.

Akhirnya saya impulsif mencari jasa travel dan open trip untuk berangkat ke Bromo malam itu juga. Cukup sulit ternyata, soalnya, semua jasa menerima paket rombongan. Kalau cuma sendiri, dihitungnya private tour, harganya di atas Rp 1 juta. Sementara budget saya kan cuma ratusan ribu.

Hingga pukul 20.00, akhirnya saya bertemu jasa travel yang punya teman sedang buka open trip ke Bromo. Biayanya Rp 400 ribu. Saya sanggupi.

"Nanti jam 12 malam, mas, dijemput ya di hotel. Pake jip," katanya lewat WhatsApp.

"Oke, sip."

Sambil menunggu jemputan jip, saya jajan teh jahe ditemani Malala pemberian dari Rima.[/caption]
Saya senang ikut open trip. Kami akan pergi rombongan, bisa saling kenalan, tapi nggak ada ikatan yang membuat kami mesti nempel terus-menerus. Saat di lokasi, ya bisa bebas misah, dan tiba-tiba ngumpul lagi.

Sambil menunggu jemputan jip, saya jajan teh jahe ditemani Malala pemberian dari Rima.
Saya senang ikut open trip. Kami akan pergi rombongan, bisa saling kenalan, tapi nggak ada ikatan yang membuat kami mesti nempel terus-menerus. Saat di lokasi, ya bisa bebas misah, dan tiba-tiba ngumpul lagi.

Peserta open trip kali ini ada lima orang termasuk saya. Dua orang adalah pasangan muda dari Jerman. Dua orang lagi adalah Nura dan Gina, mereka adalah pelancong solo, sama seperti saya.
Kami tiba di basecamp Bromo (Wonokriti) pada pukul 02.30. Demi menunggu waktu sunrise, kami mengudap indomie demi sahur sambil bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Maklum, ada bule.

Sahur pakai Indomie dan kurma. Kedua bule itu bawa bekal pisang dan belimbing. "There is no star fruit and dragon fruit in our country," katanya.

Sahur pakai Indomie dan kurma. Kedua bule itu bawa bekal pisang dan belimbing. “There is no star fruit and dragon fruit in our country,” katanya.

Saya agak sebal sama warung-warung di sana. Mahal betul menaruh tarif. Untuk memakai toilet saja mesti bayar Rp 5 ribu. Untuk makan Indomeie mesti bayar Rp 20 ribu. Siapa, sih, yang ngajarin kapitalisme sampe ke gunung, gini? hhhhh.

Saya juga nggak suka-suka amat sama sensasi di anjungan Penanjakan 1. Dinginnya minta ampun. Pemandangannya bagus banget, sih. Tapi keramaiannya itu, lho. Saya justru menemukan pemandangan yang suangat memanjakan mata setelah turun dari anjungan.

Matahari mulai terlihat terbit dari anjungan Pananjakan 1 Bromo pada pukul 04.45. Para bule yang berpasangan bisa biasa saja berpelukan, sementara kami yang pribumi cuma bisa iri dan menghangatkan tubuh dengan nyempil di keramaian saja. uhhh




Matahari mulai terlihat terbit dari anjungan Pananjakan 1 Bromo pada pukul 04.45. Para bule yang berpasangan bisa biasa saja berpelukan, sementara kami yang pribumi cuma bisa iri dan menghangatkan tubuh dengan nyempil di keramaian saja. hhhh  
Dari belakang-genic


Selanjutnya kami menuju Kawah Bromo yang mengharuskan kami berjalan lalu mendaki sekitar satu jam. Lumayan, rasa kangen naik gunung jadi terobati.

Saat melihat gurun pasir dan kuda-kuda saya jadi ingat novel Raden Mandasia. Saya ingat scene Loki Tua, Sungu Lumbu, dan Raden Mandasia berlari-lari dari kejaran prajurit. Sampai-sampai saya memfoto pemandangan di sana yang kayaknya mirip sama cover novel.

(Bukan) Loki Tua, Sungu Lembu, dan Raden Mandasia yang sedang dikejar prajurit Gerbang Agung.  

Ada yang janggal ketika saya sampai di puncak Bromo untuk melihat kawah. Saya keliyengan dan kaki saya sedikit bergetar. Haha. Baru kali itu saya ngeri sama ketinggian. Bahkan, saya sampai takut bergerak dan memutuskan duduk saja. Kalian mesti lihat suasana di sana, tempat jalannya sempit, hanya cukup empat kaki menyamping. Di sebelahnya ya sudah turunan curam. Parahnya lagi, nggak banyak pembatas yang bisa dipakai untuk berpegangan.

Sejak menghadapi gonjang-ganjing di kantor, saya pengen banget jalan-jalan, naik gunung. Rencananya usai lebaran. Tapi ternyata di tengah puasa pun bisa. #bahagiaadalah  

Jangan dulu mendamba Eropa kalau belum keliling Indonesia.  
Kami nggak berhenti di spot yang diberi nama Pasir Berbisik yang biasa dipakai untuk berfoto itu. Pikir kami, suasananya masih sama dengan pelataran gunung Bromo tadi. Jadi, kami minta langsung lanjut saja perjalananya. Baru di bukit Teletubies kami mampir dan berfoto-foto. Saya suka pemandangannya. Mengingatkan saya pada pemandangan alam bebas di New Zealand yang saya lihat dari internet. Suatu saat saya mesti ke sana dan mengirim kartu pos untuk siapapun dengan pesan "Indonesia tetap yang juara."

Ngeeeng
Bia dan Mari adalah pasangan, mereka datang dari Jerman. Sebelum ke Bromo mereka sudah ke Gunung Merapi dan Pulau Karimun Jawa. Sepulang dari Bromo ini mereka terbang ke Lombok untuk mendaki Rinjani. Lalu terbang ke Srilangka. Sebelahnya adalah Nura, awak kapal pesiar yang sedang libur. Berangkat dari Cirebon dan akan melanjutkan perjalanannya ke Bali setelah ini. Yang berkerudung merah adalah Nura. Mahasiswa. Berangkat dari Pati. Menyengajakan ke Bromo saat puasa. "Mumpung lagi dapet," katanya. Sementara yang paling ujung adalah.... si yang paling udah kehausan tapi nggak bisa minum.




24 April 2017

Pindah

 

blog ini tak akan lagi aktif. Saya pindah ke halaman baru. Mari berkunjung. :)

07 Maret 2017

Menulis Bebas - Lupa

Aku tahu mengapa sekolah hanya mengajarkan kita untuk menghapal tapi untuk urusan melupa, kita mesti otodidak. Karena hilaf adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan. Butuh banyak usaha dan banyak waktu untuk bisa menghapal dengan baik. Tapi untuk melupa? kita hanya butuh sedetik pengabaian agaknya.

Kamu nggak percaya? coba saja tanya ke bakwan angkringan yang walau sudah digoreng tapi kuminta dipanggang lagi. Ia menyaksikan bagaimana seorang pemuda yang selalu luput dari percobaan menepati janji.

Teh jahe beserta puluhan rintik hujan yang tak sengaja masuk ke gelas juga ikut menyaksikan, betapa pemuda itu bahkan sudah menciptakan sebuah sistem untuk bertahan (baca: kabur) dari segala gundah yang menyerang. Kamu tahulah, segala kebaikan yang dilakukan manusia sebenarnya adalah caranya untuk membendung hasrat tercela yang muncul dalam dirinya. Omong-omong, kamu sadar sesuatu nggak? Antara kalimat pertama dan kedua di paragraf ini tidak ada hubungannya. Tapi, toh, tak perlu mesti sudah terikat dalam suatu hubungan dulu, kan, untuk bisa berada dalam satu barisan? Hidup ini belum segitu transaksionalnya kan?

Yang paling parah dari kasus seperti ini adalah ketika kita lupa kalau kita punya bakat menjadi pelupa dan belaga punya sistem pengingat yang jauh lebih canggih dari fitur reminder ponselnya.

Tolong guyur mataku dengan sambal angkringan Kebon Jeruk. Biar aku sadar, walau sudah banyak lagu tentang harapan untuk bisa lupa ingatan, tapi sampai kapanpun takkan keluar fatwa yang menghalalkan profesi pelupa profesional dijadikan cita-cita.






09 Oktober 2016

Melanglang Buana

Saat menuju bandara Kuala Namu, saya bertemu dengan pak Saleh di shuttle bus. Ia bukan Indonesia, melainkan asli asal Oman. Ia menyapa kami lebih dulu, bukan dengan perkanalan melainkan dengan obrolan. Ia bertanya apa yang saya kerjakan sehari-hari, saya ceritakan bahwa saya wartawan. Lalu saya balik bertanya tentangnya. Ia menjawab satu, saya balas lagi dengan pertanyaan. Saya suka dengan cerita-ceritanya. Di akhir pertemuan, kami baru saling bertukar nama. Saya yang mengajak lebih dulu. Maksud utamanya, biar ambisi yang tiba-tiba muncul itu jadi punya nama jelas: "Saya ingin menjadi penjelajah seperti pak Saleh."

Pak Saleh adalah pria paruh baya. Ia datang ke Medan atas nama liburan. Meski sudah berkeluarga dan mereka bisa dapat jatah terbang gratis dari maskapai penerbangan tempat pak Saleh kerja, ia memilih datang berlibur ke Indonesia sendiri.  "Saya selalu menyempatkan liburan," tukasnya dalam Inggris, ketika kami di dalam bus,"setidaknya seminggu dalam setahun. Mengunjungi negara lain."

Ya, dia travelling sendirian, dan ia sudah terbiasa melakukannya. Ia lanjut bercerita  sementara saya mengunci satu pertanyaan yang muncul di kepala. Ia bercerita tentang kunjungannya ke Bukit Lawang melihat orangutan, tentang kekecewaannya dengan masyarakat serta pemerintah yang kurang memaksimalkan potensi pariwisatanya; serta sebalnya ia dengan kultus backpacking yang menurutnya nggak menguntungkan industri pariwisata.

"Saya pernah ke Nepal. Di sana banyak backpacking. Mereka maunya gratis terus. Dan seharian lebih sering nyantai sambil mengisap marijuana," kenangnya saya sambut dengan ketawa.

Pendidikan yang Merata(p)

Awal mulanya pendidikan, saya yakin, adalah agar kita bisa mencapai pengetahuan yang sebelumnya hanya dimiliki sebagian orang saja, terutama mereka yang punya kuasa. Sehingga kita semua sama rata: bisa punya modal yang sama dalam membuka peta, melihat dunia yang sebelumnya gelap, menafsir realita, dan menjalani kehidupan.
Kita belajar matematika, agar bisa sama-sama berhitung berapa barang yang kita dapat dengan jumlah uang tertentu. Kita belajar geografi agar sama-sama tahu bahwa ada negara ini, negara itu. Sehingga kita sama-sama punya kesempatan untuk memilih negara mana yang akan kita kunjungi suatu saat nanti, jika mau.
Pendidikan, yang saya yakini, bertujuan agar mengejar mereka yang lebih tau untuk kemudian kita buat kita dan dia jadi sama-sama tahu. Jika kita sama-sama tahu, kita sama rata. Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah. Tak ada hirarki.

Tapi nyatanya, gara-gara pendidikan pula, feodalisme dalam diri kita malah tumbuh. Ketika kita sudah lulus dari strata pendidikan tinggi tertentu, kita gatal ingin membawa gelar kemanapun nama kita ditulis: di KTP, di absen kelas, di undangan nikah, di stiker anggota keluarga yang ditempel kaca mobil. Semacam ada niat untuk mengukuhkan diri bahwa kita sudah lebih tinggi dari yang lain. Kita meluhurkan dua-tiga huruf yang menyusun gelar, tapi lupa membumikan ilmu.
Di ujung masa SMA, kita memang belajar, tapi yang kita tuju bukanlah pemanfaatan ilmu untuk praktek kehidupan bersama, melainkan untuk mengejar nilai setinggi-tingginya, untuk kepentingan kita sendiri, yaitu agar terbukti berprestasi dan diri kita dianggap layak dipertimbangkan untuk masuk universitas yang bergengsi, yang ketika kita masuk ke sana, kita bisa membanggakan kampusnya. Soal kebermanfaatan ilmunya nanti dipikirkan, kalau akan ikut lomba.
Pendidikan jadi mengandung politik. Siapa yang punya uang, bisa dibukakan jalan untuk dapat kursi di universitas tertinggi. Tempat-tempat bimbel nggak pernah sepi. Guru-guru di sekolah berlomba-lomba pulang cepat, agar tidak telat memberi les berfulus pada muridnya  yang ingin nilai bagus.

02 Oktober 2016

Taman

Di kamus yang ada di sekolah, kamu adalah sinonim dari taman.
Pantas saja tiap bel selesai sekolah berbunyi
Para anak-rindu berlarian menujumu.

Mereka membawa tugas-tugas,
tapi untuk dilupakan.

"Di sana kami belajar, kok, Bu" kata satu anak rindu pada guru bahasa Indonesia yang sempat menghadang, "Kami belajar menerjemahkan kebahagiaan."

Ketika bermain di sana
mereka juga sering lupa makan.
Tapi tiap pulang, anak-rindu bertambah besar.

12 September 2016

Sebelum Amin

Seorang guru bertanya pada muridnya,
"apa yang kau lakukan
untuk meredamkan haru
yang tak keruan,
harap yang parah,
serta gundah yang berbuah?"

"Aku solat malam.
Diiringi lagu-lagu Sigur Ros.
Aku curhat tak kenal ongkos."

"Tidakkah kamu merasa kafir?"

"Aku merasa khusyuk."

"Mereka nasrani."

"Mereka ciptaan Tuhan kita."

"Doamu hanya akan diantar malaikat magang."

"Anak magang paling suka diberi pekerjaan.
barangkali doaku akan lebih banyak difotokopinya.
lalu ditempel di salah tempat: di pintu WC,
di kaca belakang angkot,
atau dijidatnya sendiri.
Banyak yang mengamini."

"Apa isi doamu?"

"Aku berdoa, semoga semua doa dikabul,
kecuali doamu."

21 Agustus 2016

Kapan Terakhir Kali Lo Ngerasa Puas?

"Kemarin. Gue, kan, naik gunung. Terus pas di puncak foto lagi ngadep belakang. Pas turun gunung, gue post ke Instagram. Yang nge-like banyak banget! Sampe kakeknya mantan gue juga nge-like juga."
"Beberapa hari lalu bos gue mengumumkan penulis yang paling banyak bikin artikel untuk Web. Nggak ada yang tau kalau si bos ngitungin jumlah artikel yang kami tulis. Dan ternyata gue yang paling banyak. Lebih banyak empat artikel dari yang temen yang gue kira rajin malah. Terus si bos ngasih hadiah gitu di depan temen-temen gue." 
"Setelah seharian hunting Pokemon di Dufan, akhirnya gue menemukan Pikachu bercula satu. Puas banget. Rasanya pengen nyantumin prestasi gue itu di curicullum vitae, deh." 
"Sepulang dari Thailand minggu lalu. Jadinya, gue udah traveling ke semua negara Asean." 
"Momen ketika gue ngeliat buku karangan gue ada di rak best seller tanpa nyogok toko buku sepeser pun." 
"Kemaren artis yang gue wawancara ngepost artikel gue di IGnya. Sampai mention gue segala. Tau dari mana ya dia akun gue. Emang gue seterkenal itu?"

Apa yang terjadi kalau dalam kurun waktu yang lama, ternyata kamu belum pernah merasakan puas sekalipun? Betapapun kamu sudah mengingat-ingat dengan baik segala momen yang terjadi, tetap saja nggak menemukan sesuatu yang sudah bikin kamu puas. 

Kamu perlu melakukan sesuatu. Puas itu bukan hanya ketika hasrat kita terpenuhi dengan baik, bahkan, puas itu adalah kebutuhan. Percayalah.

Jika dalam kurun dua tahun--apalagi jika umurmu 25--kamu belum melakukan sesuatu yang bikin puas lahir batin, maka ada dua kemungkinan yang terjadi pada hidupmu. Pertama, kamu depresi. Kamu terlalu berusaha untuk memuaskan dirimu sendiri, tapi gagal selalu. Kegagalan yang menumpuk adalah makanan sehat yang bikin depresi tumbuh berkembang. Depresi bisa menjadi tumbuh menjadi pohon lebat yang membayangimu. Menghalangimu. Membuat nelangsamu mengakar sehingga kamu nggak bisa bergerak.

Kedua, kamu terbiasa dengan hidup yang biasa. Nasib akan memvonismu untuk menjalani hidup yang biasa. Kamu tetap bisa bahagia--toh, kita bisa bahagia dari hal-hal yang sederhana--tapi kamu nggak bisa merasa puas. Nggak ada yang salah dengan hidup biasa. Tapi, nggak ada yang biasa dengan hidup yang salah. Sekali lagi, percayalah. 


Jadi, lakukan sesuatu. Terus. Sampai ketika kamu menceritakan apa yang kamu lakukan itu, kamu nggak bisa membedakan kapan kamu riya, kapan kamu bangga. Kamu selalu ingin menceritakan apa yang kamu lakukan itu. 


20 Agustus 2016

Kata Wasit

Kamu bertarung tanpa memenangkan apa-apa. 
Kamu malah menumbangkan ketakutan-ketakutan 
yang bergentanyangan di luar gelanggang, 
lalu mengusir penonton 


sementara lawanmu pulang. 

14 Agustus 2016

Memilih Warna Topi Saat Menulis


"Tugas jurnalis adalah menafsir fakta," kata St Kartono, pengamat media cum guru cum ahli bahasa Indonesia, di pelatihan jurnalistik dasar dari kantor yang saya ikuti minggu lalu.

Sebenarnya, bukan jurnalis saja yang menafsir fakta, melainkan seluruh kreator (kita juga bisa menganggap bahwa semua manusia adalah kreator. Senggaknya kreator pemikiran mereka sendiri).  Segala yang dialami kreator dalam realitasnya diracik dalam pikirannya lalu dituangkan menjadi sebuah karya yang dikonsumsi orang banyak.  Bukan begitu?

Namun, jurnalis dan fakta itu sudah seperti presiden dan negara. Memang itulah alasan mereka ada.  Jurnalis hadir di sebuah tempat, mengumpulkan fakta, lalu membeberkannya lewat tulisan.

Proses pembeberan fakta menjadi tulisan itu adalah proses tafsir.

Nyatanya, menafsirkan fakta itu butuh keahlian khusus. Butuh wawasan yang luas dan kreativitas. Itulah mengapa menulis jadi menantang (untuk nggak menyebut susah dan menyeramkan). Miskin wawasan bikin tulisan nggak bergizi, miskin ide bikin tulisan kita hambar ya mentok-mentok cuma jadi kayak transkrip wawancara atau catatan kronologis suatu peristiwa saja.

Lalu bagaimana cara agar kita bisa mengembangkan ide tulisan?

Mas "Rio" Junior Respati menawarkan jawabannya di kelas Pengembangan Gagasan kemarin. Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah dengan memetakan pikiran (mindmapping). Jabarkan poin-poin penting dan khas dari data yang kita dapat. Dari situ ide-ide akan muncul.

"Tapi ide yang pertama muncul itu harus kita buang. Karena pasti ide itu terlalu umum. Nggak menarik," tegas mas Rio.

Misalnya, ketika ingin menulis hasil wawancara sebuah band punk religius, ide yang pertama muncul adalah menuliskan kontradiksinya profil band tersebut. Percayalah, ide pertamamu itu pasti muncul juga di pikiran penulis-penulis di media lain yang mewawancara band tersebut.

Kiat kedua adalah dengan adu gagasan (brainstorming). Itulah mengapa rapat redaksi, atau senggaknya rapat dengan teman satu desk perlu. Untuk adu gagasan. Bukan cari gagasan mana yang dimenangkan, melainkan untuk memperkaya sudut pandang, sehingga bisa menemukan ide terbaik untuk mengemas tulisan.

"Adu gagasan bukan untuk menguji ide, tetapi mengembangkannya," kata mantan redaktur pelaksana majalah HAI itu. Ya, jadi jangan bawa ide yang masih mentah (belum kuat datanya) ke arena adu gagasan, ya kak. We need voice, not noise. 

Selain itu, ada cara lain yang bisa membantu kita mengarahkan ide tulisan, yaitu dengan memilih warna topi dari teori Six Thinking Hat gagasan Edward de Bono, seorang psikolog dari Malta. Sebenernya, teori ini dikhususkan untuk mengarahkan proses pengambilan keputusan dan penentuan sikap dalam suatu kelompok. Namun, menurut mas Rio, teori ini cocok untuk mengarahkan proses berpikir kreatif dalam menulis. Saya sepakat.

Ada enam warna topi yang bisa kita pakai. Masing-masing memengaruhi yang ingin kita tuangkan dari kepala kita ke sudut pandang tertentu.

White hat. Dengan bertopi putih, yang ada di kepala kita adalah fakta bersih. Tulisan yang kita hasilkan berisi kumpulan data dan informasi saja. Lempeng alias straight. Pertanyaan yang kita jawab adalah: informasi apa yang kita punya, informasi apa yang belum utuh, dan informasi apa yang sebaiknya kita punya.

Yellow hat. Saat memakai topi ini, pikiran kita secerah kuning. Kita mengeksplor hal positif dari subyek atau obyek yang kita kaji. Ketika menulis artikel profil misalnya, dengan bertopi kuning, kita akan menceritakan kehebatan dan sisi baiknya saja. Tanpa kritik apalagi cela.  "Segala sesuatu pasti ada hikmahnya" begitulah slogan topi pikiran ini.

Black hat. Kita akan membuat tulisan kritik. Kita mengamati fenomena dengan picik. Skeptis mencari kesalahan. Namun, seluruh kritik itu berdasarkan data dan logika yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam kampanye, black campaign, toh, dipersilakan. Mengungkap fakta negatif bisa membantu khalayak untuk menentukan sikap kan?  Kritik alias nyinyir itu gampang dan menyenangkan (guilty pleasure, isn't it?). Karena itu perlu diperhatikan, terlalu banyak menggunakan topi ini bikin kreativitas kita juga takut sama kenyinyiran itu.

Blue hat. Pikiran kita menjadi langit yang bisa melihat banyak pikiran-pikiran lain. Ya, dengan blue hat kita merangkum opini-opini dan data-data dari sumber-sumber lain. Lalu merumuskannya menjadi satu tulisan utuh. Saya menduga, blue hat dipakai tepat dipakai ketika kita menulis artikel dari hasil kurasi artikel-artikel lainnya.

Green hat. Data-data yang kita kumpulkan kita racik dalam pikiran. Lalu di tulisan, kita mengusulkan sebuah ide baru. "Dengan green hat, kita beropini dan menawarkan ide baru," kata mas Rio. Kreativitas sangat berperan di teknik ini.

Red hat. Kita menumpahkan perasaan dan emosi pada tulisan. Marah-marah, sebal, sedih, overexcited, atau merasa nihil, bisa disampaikan. Bukankah terkadang kita perlu membuka perasaan kita seada-adanya? Dengan topi merah, kita tak perlu meminta maaf untuk mencurahkan perasaan.

Topi mana yang perlu kita pakai? Menurut saya, sih, semuanya bisa dipakai, dan perlu kita coba pakai satu per satu.

Kesimpulannya, menulis--menafsirkan fakta--itu tak cuma butuh data dan ide saja ternyata, tetapi juga tujuan. Semoga kiat-kiat di atas bisa membantu kita menulis sampai selesai. Nggak buntu bahkan sebelum memulai.
















09 Agustus 2016

Menulis Bebas (3) - Yang Melintas Sembari Bermotor

1.
Kamu tahu nggak kenapa sih bisa sampai ada profesi pemikir? Sering kali aku temui di tulisan esai, tokoh yang dikutip disebut sebagai pemikir. Misalnya, "Yusuf, seorang pemikir dari desa Sukaminggir, bilang bahwa..."

Bukankah kita semua ini adalah pemikir. Maksudku, memangnya ada manusia yang tidak berpikir? Apa yang lantas membuat ada satu orang yang malah dilabeli secara khusus sebagai pemikir? Kalau pun mau begitu, berarti di kemudian akan ada seseorang yang akan disebut sebagai penapas. Wah menarik sekali. “Rizki, seorang penapas dari Padepokan Lenteng Agung, berpendapat bahwa…”

Barangkali, mereka yang secara khusus disebut sebagai pemikir adalah mereka yang pemikirannya mumpuni. Kualitas pengalaman dan pengetahuannya, membuat proses berpikirnya jadi menghasilkan suatu pemikiran yang kredibel.

Nah, untuk mencapai kualitas pemikiran yang seperti itu, berarti orang-orang itu mesti suka berpikir dong? Tapi mengapa aku belum pernah menemukan ada orang yang ketika mengisi formulir biodata menulis bahwa hobinya adalah berpikir.

Mungkin itu beresiko mengundang tanya, dan mereka malas diserang oleh tatapan yang menunjukkan kalau seseorang itu memikirkan mereka dalam-dalam. Semacam terancam. Karena apa? Karena mereka juga memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang pikiran mereka. Ujung-ujungnya, mereka diserang sama pikiran mereka sendiri.

Begitu juga dengan budayawan. Kalau sekedar dilihat dari katanya saja—terlepas dari arti Wikipedia—budayawan tuh kayak berarti orang yang berbudaya. Tapi, apa iya orang yang berbudaya itu hanya segelintir saja? Bukannya kita semua punya budaya khas masing-masing?

Abaikan.

2.

Minggu kemarin, menteri pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan rencana peraturan baru: dia mau bikin aturan yang mengharuskan siswa berada seharian di sekolah. Konon, cuma untuk siswa sekolah dasar dan SMP saja.

Temen-temeku  yang masih SMA kesal mendengar berita itu. Apalagi, pak menteri bilang kalau anak muda zaman sekarang itu bermental lembek. Nggak ada uraian data tentang penilaiannya atas anak muda itu bikin mereka makin tersinggung.

Apa kaitan mental lembek dengan berada seharian di sekolah? Jangan-jangan kegiatan selama seharian di sekolah nanti adalah kegiatan yang membuat mental anak menjadi sekeras sol sepatu lars. Semoga “jangan-jangan” ini hanya angan-angan.

3.

Menurutlu apa yang akan terjadi kalau semua buka 24 jam?

Coba bayangkan kalau sekolah buka 24 jam, dan tanpa ada aturan bahwa siswa harus berada sehari penuh di sekolah. Akankah kita tetap merasa terancam, atau malah kita girang?

Apa yang membuat sebuah toko buka 24 jam? Ya karena kebutuhan akan makanan (atau jajanan) bisa datang kapan saja, termasuk saat dini hari atau jelang subuh.

Nah, akankah kita sampai pada keadaan ketika kebutuhan akan bimbingan pendidikan bisa datang kapan saja? Coba bayangkan ada temanmu yang tiba-tiba minta diantar ke sekolah pada pukul 2 pagi, hanya karena tiba-tiba butuh belajar sejarah terbentuknya dunia ke guru geografi demi bisa menjelaskan arti mimpinya.

Hmm…

4.

 Seorang menteri perhubungan pernah bilang begini: “Lebih baik nggak berangkat daripada nggak bisa pulang.”

Terlepas dari kenyataan bahwa ucapan tersebut keluar demi membatasi jumlah pemudik, mengurangi tingkat kemacetan dan menekan angka kecelakaan, tapi bagiku ucapan itu menyinggung. Coba saja suruh para penggila traveling baca kalimat itu.

Kurang lebih, ucapan itu senada dengan: “Lebih baik nggak pacaran daripada nggak bisa move on di kemudian hari”

Wahai pak menteri perhubungan, kok kamu malah menghambat hubungan terbina. Biarlah risiko yang ada ditanggung masing-masing pelakunya saja.

Coba bapak baca nih ucapan Jean Marais kepada Minke: "cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mengikutinya."

Gimana?

5.

Apapun yang keluar dari mulut kita adalah pendapat kita. Tapi mengapa kita sering memulai pendapat dengan kata “menurutku”, atau “menurut pandangan saya”?

Tiap kali ada yang berpendapat dengan “menurutku” di awal kalimat, aku bisa menduga bahwa ia sungkan dengan pendapatnya itu. Semacam meminta pemakluman, bahwa apa yang terucap hanya sesuatu yang sangat subyektif. Nggak ada dasar konsep, logika, atau bukti teruji yang mewakili banyak pihak. Semacam, “nggak tau yah, itu menurut gue aja sih. Hehe,” gitu.

28 Juli 2016

Kucing Dimakan Kota

Pagiku tadi rusak,
Aku menyaksikan langsung kucing tertabrak.
Ingin menyebrang jalan raya,
kucing itu melompat tanpa kuda-kuda.

Baru satu lompatan ia mundur.
Namun nyalinya belum kendur,
Ia menyebrang lagi.
Kali itu berlari, tanpa lihat kanan kiri.
Motor-motor juga berlari kencang,
tanpa lihat atas bawah.

Kucing di kota beda dengan kucing di hutan.

Kucing kota bisa ikut makan daging sapi, kerbau, atau ikan laut.
Kucing hutan mana bisa.
Tapi kucing kota sering digilas bebek.
Kucing hutan mana mungkin.

Kucing hutan dan kucing kota punya permintaan yang sama.
Mereka butuh menteri yang khusus mengurus satwa

Kucing hutan tak ingin diciduk lalu dipaksa bekerja
jadi kucing penghibur keluarga,
Kucing hutan tak ingin juga ketika nyawanya pergi,
jasadnya diawetkan, dipajang di museum negara.

Kucing kota menuntut pemerataan pembagian Kaskin,
Whiskas untuk kucing miskin.
Kucing kota juga ingin memohon pendidikan menyeberang,
agar ketika ada yang nyawanya terusir di jalan, mayatnya yang gepeng nggak jadi tontonan.












08 Juli 2016

Maja Nowadays



There are always awesomeness from my home town. I’m still surprise how Maja, village in Lebak, Banten--i assume as a remote area--will be a public town in near future. 

In these past two years, the infrastructur development is so rapid. The train station wasn't proper, now, it’s become huge and neat.  The market in front of it also , so people could easily go by. 


With the commuter line, we can directly go to Tanah Abang from maja. It only take one hour and half trip. Maja become accesible

My Dad now more often go to Maja by  train. From my house in Ciledug, he drive to Jombang Staion, Tangerang Selatan. He parked the car there, and he took the train. 

He enthusiastically told his siblings that facility. That’s why since two years ago, we could experienced  homecoming trip (mudik) like others family, by train. Usually we go by car. Though it only a short trip, it brings a new experiences especially for the kids. 

Last year, we're set a  parking lot in  front yard of Abah(my grandpa)’s house which located only 100 meter from the station. Its helped people who commute daily to Jakarta by train. “The parking lot name should be Maja Maju,” i suggested to my family. 

But now, the parking lot business went down. Since the train station is also set a spacious parking lot with low price. 

There also a news that Lion Air company gonna build an airport in 1.700 Ha area here. But then, The ministry of transportation don’t give their agreement. 

Last, try to “google” Maja. There are numbers of news about a cheap new house sold here. It’s only IDR 100 million for sure. Unfortunately, that’s last year news. Now, the house are sold in around IDR 500 million. Better luck next time, friends.

04 Juli 2016

Notifikasi Kentut Stroberi Gila

Seperti Brown yang dicium Conny saat James membanting gelas,
Seperti event credite gratis di LINE

Kamu bagaikan suara kentut yang tiba-tiba datang dan meninggalkan ampas,

"Mana kentutku?" tanyanya
"Ampasmu bau" celetuknya

Bau kentutmu hilang ditelan bau hujan, 
Suara "tut"-nya pun ditiban suara azan, 
Bisa kah kita kentut sekali lagi?

Di ruang gelap itu, di mana kentut kita menjadi satu. Aku merindukannya, sangat merindukannya,

Namun sayang sekali, kentut itu hanyalah kentut biasa, tidak seperti kentut sebelum-sebelumnya,
yang selalu meninggalkan aroma stroberi hangat yang menyelemuti semua orang di seluruh ruangan ini

Di mana kentut-kentut ku yang seperti sebelum-sebelumnya?
Di mana kalian oh, para pengentut menyimpannya?

"Penguntit mengambilnya!" teriak Brown. 

Kepada rumput yang sedang berdansa, Conny mengadu. 
Polisi sudah mencari-carinya hingga ke ujung Bekasi, 
tak satu pun ditemukan penguntit yang menggunakan suara kentut sebagai tone notifikasi.

"Ternyata hanya sebuah notifikasi," James meletakkan gelasnya kembali.

lagi, dilihatnya Brown yang dicium Conny. Kali ini banyak polisi, para pengentut tidak pernah menjadi seorang penguntit. James hanya terbakar api cemburu dan tenggelam dalam khayalan fana. Semua tidak nyata.

Namun tiba-tiba semua hal tidak menjadi khayalan dan fana, kejadian ini benar-benar terjadi,
Suara kentut dan aroma hangat yang menyelimuti para polisi, semakin memeluk erat

"KENTUT INI BEREVOLUSI, TOLONG!!!" Kata salah satu pemilik Pokemon yang badannya diselimuti oleh kentut.

Tak satu pun ada yang menolongnya,
Tak satu pun ada yang membantunya, hingga sekaliber Pokemon pun takut dibuatnya.

Oh, kentut gila. Berhentilah 
Oh, kentut ia. 
Akuilah!

Akuilah semua keampasanmu!
Akuilah semua kebusukanmu!
Akuilah semua
penguntitmu!

Bekerja dengan siapa saja dalam merusak aroma stroberi itu?

---

Puisi ini dibuat secara berantai pada Senin dini hari menjelang sahur oleh gue (28), Fahni (16), Fadel (18), dan Nabyl (17) pada sebuah group chat LINE setelah membaca blognya Mario (15) dan disimak oleh Andara (16) di sela-sela permainan DOTA2nya. 

22 Juni 2016

Layang-layang

Di depanku entah ada apa
mataku nyangkut di meja. 

Pikiranku bersayap.
Mulutku bernyanyi, telingaku tak mendengarnya. 

Dan masih saja ada yang iseng bertanya, "Jika yang menangis adalah hati, apakah air yang dikeluarkannya tetap disebut air mata?"

Dua sendok Yogyakarta dua sendok Banda Neira
diaduk pada air Jakarta: porak poranda.

Gelas yang penuh kekosongan itu kuangkat.

Bersulang,
kita ambruk. 

Penonton berdiri dan bertepuk dada. 


11 Juni 2016

Penemuan Penting


Karena kelewat sering membuka URL itu, tiap kali berusaha membuka Twitter, maka address bar di peramban laptop ini akan mengantar saya pada akun yang menempel satu twit di "pintunya". Katanya:
"Not all who wander are lost." 
Terjemahan bebasnya, mereka yang pergi belum tentu hilang.

Semester pertama 2016 masih menjadi masa kehilangan bagi saya ternyata. Membuat saya jadi terbiasa menganggap segala sesuatu yang sudah nggak pada tempat seharusnya, pasti lenyap.

Kartu ATM saya nggak ada di dompet. Saya anggap hilang. Lalu, ketika ingin mengurus penggantiannya ke Bank, syarat terpenting kedua setelah KTP, yaitu buku tabungan, nggak ada di laci tempat saya biasa menaruh seluruh buku bank. Oke, sepasang kakak-adik perbankan itu hilang.

Ketika flash disk biru saya nggak ada di saku tas saat saya membutuhkannya, saya udah punya firasat kalau benda kesayangan saya itu akan hilang. Saya mencoba mencari dengan kepasrahan, di saku jaket nggak ada, di percetakan yang terakhir saya kunjungi pun ternyata nggak tertinggal. Ya sudah, saya nyatakan hilang.

Kalian pasti tahu bahwa wireless mouse itu seperti laut tanpa garam jika kehilangan konektornya. celakanya, benda superkecil itu nggak menempel di laptop sebagaimana biasanya. Saya mencoba mencari ke tiap selipan di kamar, nggak ketemu. Baiklah, saya harus beli mouse baru.

Saya juga punya--duh yang satu ini agak bikin baper bin sebel--dua buku yang belum sempat saya baca tuntas tapi saya nggak bisa menemukannya lagi di mana-mana.  Dia nggak menampakkan diri barang sehuruf pun di rak buku ruang tengah, rak buku kamar, di tas-tas yang biasa pakai, maupun di meja kantor. Ahhh, harus banget kehilangan lagi nih?, pikir saya. Fine!. 

Dan kita sama-sama tahu, tak seperti di jagad digital, kita tak bisa menggunakan mesin pencarian untuk menemukan barang-barang yang hilang di dunia nyata ini.


Bertahun-tahun sekolah, kita hanya diajarkan untuk fasih menghapal dan mengingat. Sementara untuk melupakan, adakah gurunya? Karena itu, saya perlu membiasakan diri untuk enteng terhadap kehilangan, dimulai dari kehilangan-kehilangan kecil itu.

Nyatanya, nasib berkata lain. Tuhan memang iseng. Satu per satu benda yang saya anggap sudah minggat pergi angkat kaki dari kehidupan saya yang fana ini malah menampakkan diri.

Flash disk biru saya ditemukan, nyelip di saku jaket lainnya. Konektor mouse saya ternyata ada di meja ruang tengah, tertimbun taplak dan benda-benda lainnya. Entah siapa yang bikin dia ada di situ. Lalu, kedua buku saya juga, buku pertama ternyata nyempil dijepit dua buku di bagian bawah rak, buku kedua ditemukan ada di meja kerja teman saya, tertutup kertas-kertas. Kayaknya saya pernah bawa-bawa buku itu ke sana saat baca, lalu meninggalkannya.  O ya, buku tabungan dan ATM pun akhirnya tetap bisa digantikan yang baru oleh bank dengan mudah

Betapa oh betapa. Kehilangan-kehilangan itu, ketika saya sudah siap menerima, saya malah menemukannya.

:)


03 Juni 2016

Setiap Malam


Kita saling menjadi 

abcdefghijklmnopqrstuvwxy

yang mengantar sampai

Zzz....

Setiap malam, 

setiap hari.

30 Mei 2016

Dari Dalam Halte Transkjakarta




Kenapa mesti membatasi diri,
padahal kamu menebar pesona dan kamu sadar banyak orang tergoda.

Kenapa hanya singgah di sedikit perhentian,
padahal orang datang dari mana-mana mengejarmu untuk berkenalan.

Kenapa masih menyediakan ruang di bawah,
padahal yang kau luhurkan adalah yang di atas.

Dasar bus tingkat!

23 Mei 2016

Ada Bayi di Rumah (2)


Tapi kali ini si bayi sudah beda rumah dengan saya. Ia ikut ibu dan bapaknya pindah ke rumah baru. Rumah saya kini menjadi kampung halaman, yang hanya ia akan dikunjungi satu-dua minggu sekali. 

"Ini udah hari ke-20 tinggal di sini. Nggak terasa yah," kata ibunya, kakak saya. Ia mencatat baik tanggal ternyata. 

Pun, si bayi ini sudah bukan bayi lagi. Usianya sudah satu tahun setengah. Udah lihai berjalan, udah bisa makan banyak cemilan (terutama kerupuk, tahu, buah, biskuit, dan coki-coki),  udah bisa nunjuk-nunjukin arah ketika lagi digendong, udah bisa selalu milih Yakult yang ada di kulkas berkaca kalau diajak ke warung depan rumah, udah bisa salam cium tangan, udah bisa diminta kecup dengan bilang,"sun dulu dong", udah bisa membedakan orang berdasarkan namanya, udah bisa joged-joged kalau disetel lagu anak, dan udah bisa minta nyalain laptop kalau lagi pengen nonton Youtube. Dan yang paling penting, sekarang ini parasnya berubah, apalagi setelah potong rambut, jadi nggak keliatan kayak bayi. Dia udah termasuk golongan balita dewasa kayaknya. Haha.

lagi asik nonton video musik anak di Youtube

Siang tadi adalah kali pertama saya main ke rumah barunya itu.  Nggak jauh dari rumah sih sebenernya. Cuma butuh 40 menit paling lama. Tapi tetap saja, dia dan saya nggak ada di rumah yang sama. Saya, mamah, papah, dan adik udah nggak bisa melihat dan merasakan kehadirannya tiap saat. Paling-paling cuma dari update grup WhatsApp keluarga. Kakak cukup rajin memberitakan kegiatan anaknya. 

"Nih, lihat. Si Akang punya temen baru," kata kakak suatu hari. Setelahnya ia mengirim foto si akang lagi melakukan sesuatu dengan seorang anak cowok lainnya. Anak tetangga sepertinya. 

Itu kabar baik! Dia punya teman. Di perumahan kakak yang cluster itu, memang banyak orang tua muda. Jadi, si akang punya beberapa teman sepantaran. "Makin lucu. Kalau siang bobo, kalau sore main dia," kata kakak lagi. Saat masih tinggal di rumah saya, jam tidurnya adalah pukul 8-10 pagi. Jam mainnya berubah.



"Akang lagi mandorin kerja bakti nih," kali ini kakak ipar saya nyahut di grup. Setelahnya ada foto akang lagi berdiri di depan sekumpulan ibu-ibu yang memegang sapu dan perkakas 


O ya, Akang adalah nama panggilan si bayi ini. Panggilan untuk kakak laki-laki dalam bahasa Sunda. Oke, karena udah dikenalin, maka selanjutnya si bayi saya sebut si Akang aja yah. 

Awalnya, saya ragu kalau si Akang akan betah di rumah barunya. Takut kesepian. Kalau di rumah saya kan, pagi bisa main sama neneknya, siang kalau bosen bisa minta digendong kakeknya. Sore hingga malam bisa diajak becanda lagi oleh om dan tantenya. Tapi ternyata di rumah barunya, ia lebih seru berkembangnya. 

Bagaimana pun, kejadian ini bikin nggak enak kami yang di rumah. Bikin kangen mulu. Mamah dan papah suka memanggil-manggil nama Akang tiap pagi sebagaimana biasa. Tiap malam juga, "manah nih si Akang. Malam ini tidur di kamar Enin yah," kata Mamah tidak kepada siapa-siapa. Biasanya mamah selalu ngajak main Akang sepulang kerja. Adik saya nggak kalah, dia sering banget minta dikirimin foto si Akang di grup WA. 

Rumah jadi berasa sepinya. Kalau seharusnya dihuni oleh 8 orang, kini hanya sisa 4. Selain kakak, kakak ipar dan si akang, yang nggak di rumah lagi adalah adik bungsu saya. Ia kuliah di luar kota. 



Betapa oh betapa, yah. Anak kecil bisa bikin keluarga jadi "besar"...


 :D 

--

Cerita Ada Bayi Di Rumah sebelumnya bisa di baca di link ini <- font="" klik="">





13 Mei 2016

Menulis Bebas


Dari sebuah buku yang judulnya lebih baik saya rahasiakan, saya membaca bahwa free writing itu bisa bermanfaat untuk kita reverie, alias melamun, alias meladeni pikiran kita sendiri. Ya, kadang, meladeni pikiran kita sendiri itu perlu kan? Daripada memikirkan pikiran orang lain melulu, apalagi memikirkan pikiran orang lain tentang pikiran kita. Ruwet jadinya!

Karena itulah saya sekarang, di posting yang tersayang ini, ingin mencoba melakukannya. Menulis tanpa berpura-pura, menulis benar-benar apa yang muncul di kepala.

Nah, lho. Apa saja tuh yang ada di kepala?!

Sekarang ini musik Barefood yang judulnya Deep and Crush lagi memutar, asalnya dari Youtube. Iya, saya doyan dengerin musik dari Youtube. Soalnya, dari satu lagu, kita bisa diantarkan ke lagu baru lainnya sesuai rekomendasi dari Youtube. Dari situ, suka nemu lagu-lagu baru yang seru. Tapi, sekalinya nemu lagu yang seru, saya suka banget mengulang-ulang. Nah, seminggu ini saya lagi suka banget mengulang-ulang lagu Barefood, yang judulnya Truth. Mau denger? Cari sendiri aja di Youtube. Eh, tapi, cari  berdua juga boleh kok.

Ngomong-ngomong soal mengulang-ulang suatu hal, saya jadi ingat bahasan tentang penggolongan kepribadian, katanya saya adalah INFP, salah satu cirinya adalah sangat memedulikan gimana bedanya rasa ketimbang bedanya pengalaman. Mirip sih, saya emang doyan mengulang-ulang sesuatu. Walaupun pengalamannya sama, pasti rasanya beda.  Contohnya, saya suka dateng ke tempat yang sama berkali-kali. Hasilnya, saya jadi punya tempat favorit. Salah satunya adalah bangku penonton lapangan sepak bola di GOR Sumantri, Kuningan. Ngobrol tentang ini-itu sambil ngeliatin orang joging, atau main bola tuh bukan main relaxing-nya. Pun, orang-orang yang ada di sana nggak peduli apakah seluruh yang ada di bangku penonton itu benar-benar menyaksikan pertandingan atau memang punya hajatnya sendiri, termasuk hajat untuk bengong, ngomongin hal-hal yang mungkin kalau lampu sorot bisa denger pun dia bakal kebingungan, atau ya hajat untuk sekedar ngamatin aja siapa-siapa aja yang joging: mereka pakai baju apa, gimana kecepatan lari mereka, dan menebak kira-kira apakah tujuan mereka lari? Sekedar untuk membuat sepatu lari yang dibelinya dengan harga lebih dari Rp 700 ribu itu jadi bener-bener berguna? Atau memang pengin lari atas nama kebugaran.


Saya juga pernah ke lapangan bola ini sendiri, sepulang liputan kalau nggak salah. Kebetulan liputan di Epicentrum, dan sebelum pulang mampir dulu ke sini. bengong. Memfoto apa yang ada di depan mata, lalu mengirimkan foto itu ke seorang kawan yang saat itu sedang pergi solo traveling. Saat itu minggu keduanya pergi, kalau tak salah ingat.   “Curang,” balasnya. Dia lupa, dia lebih curang. Dia pergi tanpa  mau memberi tahu siapapun ke tempat mana saja ia pergi.

Barang kali tiap individu memang punya haknya untuk menghilang dari realitas yang hampir selalu pasti ia temui tiap hari, menjalani realitasnya yang baru sama sekali. Tiap orang punya haknya untuk sendiri. pun, tiap orang perlu mempunyai kemampuan untuk sendiri. ini penting, soalnya, sekarang ini kita selalu menegasikan kesendirian. Dari buku yang lebih baik saya tidak sebutkan judulnya itu pun disebutkan kalau masyarakat kita ini emang selalu menganggap mereka yang suka asik sendiiri itu, “sad, mad, or bad”.  Hal ini sangat aneh. Kok bisa, di era di mana kita mengembor-gemborkan semangat untuk percaya diri, dan menjadi diri sendiri, tapi kita masih heran sama orang-orang yang suka asik sendiri, sama orang-orang yang memilih untuk menjadi pribadi yang khas, yang eksentrik.

Udah gitu, di era “aku pacaran maka aku ada” ini, orang yang memilih untuk hidup tunggal tanpa pasangan itu perlu dikasihani. Udah gitu (lagi), di era ketika kreatifitas dan daya cipta itu dijunjung tinggi sekali, tetapi kita masih saja suka menganjurkan untuk menjauhi keadaan yang sebenernya dibutuhkan untuk menghasilkan ide kreatif: kesunyian (solitude). 

Kalian boleh percaya, boleh juga tidak. Boleh setuju, boleh juga tidak setuju. Boleh pesan roti bakar lalu panjang mendebat, atau siapin uang parkir, ambil jaket, masukin hape ke kantong dan kendarai motor kalian pergi dari sini. Terserah.

Terserah… terserah… terserah… Kipas angin pun akan tetap berputar kalau kalian pergi. Asalkan kabelnya kalian cabut dari colokan. Komputer di depan mata saya ini juga akan tetap menyala asalkan kalian tidak dengan cepat menekan tombol CTRL + ALT + DEL sekaligus, terus menekan tuts “U” sebagai jalan pintas untuk langsung meng-SHUT DOWN komputer ini. Saya yakin, kalian tidak sejahat itu.


Kalian tak boleh sejahat itu. sejahat Rangga yang meninggalkan Cinta yang kemudian tiba-tiba muncul kembali, lalu membuat Cinta menjadi jahat sama Trian, tunangannya. Sungguh rumit, menyelesaikan kejahatan dengan kejahatan! Dan pagi tadi saya mendapatkan info tentang angka penonton film AADC? 2 ini. Tercengang! Gawat, sudah ada 3 juta orang yang belajar cara-cara jahat untuk meninggalkan orang. Dan sudah ada tiga juta orang yang jadi tahu gimana mudahnya meninggalkan kekasih mereka demi mengejar mantan legendarisnya. Hati-hati dengan hati, gaes!

Sekarang pukul 21:25, lagu Jingga yang Tentang Aku baru saja selesai mengalir dari headset ke kuping, berganti lagu Bernyanyi Menunggu yang dimainkan Rumah Sakit

Saya masih di kantor yang namanya terdiri dari tiga huruf. Saya lagi dapet giliran piket jadi proofreader atau disebut satgas kalau di sini. Kenapa satgas, bisa jadi karena tugasnya adalah menjaga (baca: memastikan) kalau artikel yang sedang di layout terus lanjut difinalisiasi oleh para desainer benar sebenar-benarnya. Nggak ada saltik alias salah ketik, nggak ada logika kalimat yang ngaco, nggak ada salah judul, nggak ada salah foto, nggak ada salah nama. Tiap minggu ada dua petugas satgas. Tapi sudah dijaga dua orang pun masih aja suka salah, lho. Pernah, nama Tatjana Saphira tertulisnya Tatjana Spahira. Pernah juga di artikel profil kami salah memuat foto. Seharusnya foto si A, eh malah foto si  B yang ditampilkan.

Ah.. kok jadi ngomongin kerjaa. Tapi tak apalah, sekalian aja dituliskan. Minggu-minggu belakangan ini saya agak kerepotan membagi peran. Harusnya fokus memerankan diri sebagai seorang pekerja kantoran sebaik-baiknya: sudah merampungkan artikel sejak awal minggu, sudah menghubungi narasumber sejak minggu sebelumnya, dan sudah selesai menulis artikel sebelum tenggat. Tapi, gimana dong, saya ingin juga menjadi diri saya sendiri seutuh-utuhnya. Saya pengin ngerjain ini-itu yang tiba-tiba muncul di kepala dan itu sama sekali nggak ada hubungannya sama kantor, bahkan nggak ada urusannya sama sekali sama penghasilan. Keisengan yang rewel sekali minta diseriusi

Oke. Cukup. 


Saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimat-kalimat berima. Semoga bisa. Begini, sudah hampir seribu kata tumpah belepotan di atas kertas maya. Masih banyak ini dan itu yang berkeliaran di kepala. Tapi, tak apalah, mereka-mereka itu adalah kawan saya. Sementara kamu, dimana? masih perlu saya sapa, atau mau juga diajak duduk di bangku lapangan bola?
© blogrr
Maira Gall