22 Mei 2013

Terjal sama ditanjak, Kaki Pegel Bodo Amat: Cerita Bersepeda Ke Curug Cinulang




Coba bayangkan suasana ini: hawa pagi yang begitu sejuk, jalanan yang dikelilingi pemandangan sawah, sungai, berlatar siluet pegunungan serta suasana geliat masyarakat pedesaan memulai harinya. Tak lupa juga suara deburan air terjun yang makin lama makin terdengar saat perjalanan. 

Menggiurkan bukan? Kami pun luluh membayangkannya, ingin mencicipi juga. Karena itulah saya, Fertina dan teman kami Bopeng menuju ke ke  Desa Sindulang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat untuk mengunjungi dua situs wisatanya: air terjun Cinulang, serta hutan konservasi Kareumbi yang luas nan eksostis. Demi mendapatkan sensasi lebih, kami pun bersepeda, tak peduli bagaimana medan perjalanannya, tak peduli seberapa amatirnya kami. 

16 Mei 2013




07 Mei 2013

Cetak Cukil Menyegarkan Bersama Refreshink




Menjajal medium dan teknik baru dalam berkreasi itu memang menyegarkan ternyata. Siang tadi, saya mencoba membuat cetakan dengan teknik cukil. Komunitas seni grafis asal IKJ bernama Refreshink adalah biang keroknya. Mereka membuka workshop cetak cukil gratis untuk seluruh pengunjung festival seni dan budaya di Universitas Tarumanegara Selasa (7/05) tadi hingga Rabu (8/05). Awalnya, saya ikut cuma karena ingin menghabiskan waktu, tapi, setelah dicicip, ternyata menarik. Karena lagi sindrom Card to Post yang terpilih jadi nominasi di The Bobs Award, saya pun membuat logo Card to Post di karya cukil saya yang pertama itu. 

Untuk membuat cetakan, kita mesti mencukil gambarnya dulu. Media yang digunakan namanya art board, semacam kertas duplex tapi jauh lebih tebal. Pertama, saya membuat rancangannya dulu dengan pensil dan spidol, langsung di atas board tersebut. Setelah selesai, barulah saya berurusan dengan pisau cukilnya. Si anggota Refreshink mengajari saya. Walau bentuk pisaunya seperti pulpen tapi cara kita memegangnya agak beda nih. Pena pisau diposisikan sedikit menidur, disandarkan di punggung tangan di antara jempol dan telunjuk. Nah, sementara punggung tangan mendorong pisau, ujung telunjuk  mengarahkan cukilan pisau. 

13 April 2013

Doa

"Kamu doain aku yah!" 
"Iya, tapi kamu doain aku juga, supaya doaku dikabul."



27 Maret 2013


26 Maret 2013

Tuhan


14 Februari 2013

Hari ke-30: Epilog sekaligus Prolog



"Tak lama lagi aku akan bermain di sebuah konser orkestra."
"Bagaimana perasaanmu?"
"Senang sekali, karena ini adalah mimpiku."
"Oh, berarti tak lama lagi kau juga akan punya mimpi baru."

Kira-kira begitulah percakapan antara Philips, pria berhati dingin dengan Lina, celloist tuna netra dalam film Ganz nah bei dir yang saya tonton di Goethe Haus kemarin.  Kalimat tanggapan Philips tersebut diucapkan dengan datar, tanpa intonasi, dan spontan, bahkan ketika saya mendengarnya, sedikit terasa seperti ejekan.  Philips tak mengapresiasi Lina yang pastinya sedang sibuk berlatih untuk mempersiapkan konser besarnya itu. Serta merta ia malah bilang kalau Lina akan punya mimpi baru setelahnya. 

Walau ucapannya dingin dan singkat, tapi jawaban Philips itu cukup membekas. Baik di hati Lina (terlihat dari ekspresi sedikit kagetnya) dan si gue ini. Philips benar, ketika satu impian besar akan kita selesaikan pencapaiannya, kita harus memikirkan impian apa yang selanjutnya kita raih. 

Posting ini adalah penanda kalau program 30 Hari Bercerita sudah rampung gue ikuti. Walau tersendat dan molor, tetapi gue tetap ingin berusaha menuntaskannya, sampai hari ke-30. Ya, setidaknya, walau nggak bisa strict pada 30 Hari rutin menulis, seenggaknya gue bisa menulis 30 cerita. Dan karena keterlambatan itu pun gue menjadi malu. Malu sama diri sendiri gue sendiri karena nggak konsisten untuk rutin menulis. Serealistis apapun hambatan untuk menulis, ya, gue tetep malu. Kalau kata, Mbak Gina, gue nggak punya sense of urgency. Akibatnya, jadi selalu memaklumi dan menunda-nunda deh. Penyakit!

09 Februari 2013

Hari ke-29 Fertina: 12 Tahun dan Seterusnya di 'Hogwarts'


Sudah sejak kelas 5 SD cewek yang kini berusia 23 tahun ini mulai mengikuti cerita karangan JK Rowling: Membaca dengan seksama setiap novelnya, menonton filmnya, sesekali mengikuti kegiatan di komunitas fans, mengoleksi segala hal yang berhubungan dengan Harry Potter. 

“Harry Potter sebagai buku dan kisah itu adalah saksi perkembangan hidup gue!” ujar Muggle pemilik nama Fertina ini. 

Saya pun takjub. Ternyata seru banget yah hidupnya orang yang punya hasrat dan adiksi besar terhadap cerita fiksi. Semenjak kenal dengan Fertina, saya banyak dilibatkan dengan cerita-cerita serunya tentang Harry Potter. Sejak 12 tahun lalu litulah, Fertina mengumpulkan material-material dari dunia rekaan JK Rowling dan membangun Hogwart-nya sendiri di kesehariannya. Tak hanya kamarnya yang penuh dengan poster bertema Harry Potter, sudah banyak ruang dalam diri dan kehidupannya yang dilekati Harry Potter dan dunianya.

Untuk itulah, di posting kali ini saya mengundang langsung orangnya untuk ngobrol-ngobrol santai dan bersahaja. Biar nggak saya doang yang ketularan. Hahaha. Mari kita, yuk ah! 

Ceritain dong, gimana sih awalnya lo kenal sama Harpot. Apa yang membuatlo tertarik untuk membacanya? Padahal saat mulai membacanya lo masih kelas 5 SD. Anak 5 SD kan nggak suka baca buku tebel-tebel, apalagi saat itu lo masih gendut. :p  

Selamat siang ya, mas Rizki, masnya lancang sekali bawa-bawa masa lalu saya! Justru karena gendut itu, salah satu pengaruh Harpot yang membekas di gue. Jadi dari awal itu gue nggak bisa banyak main di luar rumah, karena rumah gue dulu di pinggir jalan raya dan jauh dari rumah teman-teman. Jadi, deh, larinya ke baca. Masih baca buku-buku fantasi juga sih kebanyakan. 

05 Februari 2013

Hari ke-28: Uang dan Pencapaian




“You see, if you don’t take money they can’t tell you what to do. That’s the key to the whole thing, don’t touch money! It’s the worst thing you can do. 
Money is the cheapest thing. Liberty is the most expensive.”


Terlalu klise memang kalau kita menyatakan diri menolak kebutuhan akan uang sementara konstruksi sosial atas pencapaian hidup sudah begitu kuat terbentuk. Terlalu banyak pesan yang membombardir hasrat kita. Iklan-iklan di media massa, obrolan dengan teman sebaya mengenai pencapaian hidup, imaji hidup enak yang ditampilkan film, serta petuah-petuah orangtua mendominasi pikiran kita.  Semua tuntutan-tuntutan itulah yang akhirnya membuat kita merasa harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, bahkan hingga mengesampingkan hasrat dan pencapaian kita yang sesungguhnya. Kita bersusah-susah mengumpulkan uang untuk bisa menganggap kalau kita bisa dengan mudah menghabiskan uang. 

Tak bisa dipungkiri, sedikit banyak, pikiran saya pun terkontaminasi. 

04 Februari 2013

Hari ke-27: Kebiasaan Menulis Keseharian dan Para Penerbitnya


Bagi saya, menulis adalah medium bercerita yang paling asik. Apalagi saya memang nggak pandai berbicara, menulis adalah opsi yang paling tepat. Saat menulis saya nggak berinteraksi secara langsung dengan si komunikan, saya sendirian. itulah mengapa dengan menulis saya lebih lepas berekspresi. 
Kegiatan tulis-menulis (yang bukan menulis pelajaran sekolah atau kuliah pastinya :p ) saya mulai sejak SMA. Intensitas serta kualitasnya pun berprogres. Diawal-awal saya cuma biasa menulis cecoretan sederhana yang tak terstruktur bentuknya, lalu di tahun kedua ketiga kuliah saya mulai berlatih tak cuma menuliskan perasaan saja melainkan juga gagasan dan pengalaman, apalagi saat itu saya berkenalan dengan Multiply dan Blogspot.

Setelah fase itulah saya pun memantapkan diri untuk menjadikan tulisan sebagai medium saya bercerita, baik bercerita untuk khalayak maupun bercerita untuk diri sendiri. Sejak itulah saya merasa yakin kalau menulis tentang keseharian itu penting! Alasannya, menulis membuat saya bisa lebih memahami diri sendiri, untuk menulis kita harus tahu apa yang kita alami dan rasakan. Setiap kata yang keluar seolah menjadi tangga untuk saya turun ke dasar diri dan mendalaminya. Kedua, tulisan itu tidak temporer sifat wujudnya, karena itulah menulis adalah dokumentasi. Rekam jejak kehidupan. Dengan menulis keseharian, kita jadi punya mesin waktu, kita bisa kembali merasakan pengalaman masa lalu di masa sekarang dengan hanya membaca tulisan kita di masa lalu itu. Dan setelah dilakukan, saya pun jadi tahu, bahwa menulis ternyata adalah kebutuhan.  

Nah, tentunya, bagi saya, kesadaran dan semangat menulis itu nggak muncul begitu saja, melainkan tersulut dari cerita dari orang-orang yang rajin menulis, dan tulisan kesehariannya begitu menarik serta menginspirasi. Siapa sajakah mereka? Sekiranya, ada tiga yang percikannya cukup besar dalam mempengaruhi saya untuk menulis. Mereka adalaaah…. 

1. Pidi Baiq 

Perkenalan saya dengan Pidi Baiq terbilang unik. Saat itu saya membeli Drunken Monster dengan pertimbangan bahwa dia adalah lulusan FSRD, anggota band The Panas Dalam dan di bagian kata pengantarnya seorang Dosen Filsafat lah yang menulis. Saat itu saya memang sedang butuh bacaan yang… uhuk… filosofis. Kebutuhan itu pun bukan  tak terpenuhi begitu saja ketika ternyata Drunken Monster ternyata berisi kumpulan cerita keseharian Pidi Baiq seorang. Dominasi humor dalam cerita dirinnya yang memang konyol dan seperti selalu punya pikiran yang autentik ternyata banyak  menyelipkan makna yang mendalam dan filosofis. Pidi Baiq membuat saya memikirkan lagi tentang esensi hidup. 

03 Februari 2013

Hari Ke-26: Sulvi





Sebutlah ini cerita yang gagal. Karena pada awalnya, saya ingin bercerita tentang kosan saya dulu di Jatinangor yang menjadi sanctuary. Tempat yang saya anggap paling nyaman, tenteram, damai, dan disanalah saya bisa maksimal menikmati hidup sebagai diri saya sendiri. Tak hanya asik untuk bersendiri ria, pada kosan bertajuk Pondok Melati inilah sebentuk kenyamanan itu juga terwujud pada persahabatan kami, belasan anak cowok yang tinggal bersama di bawah satu atap selama lima tahun, bahkan lebih.  Semenyebalkan apapun kepemerintahan si bapak kos dan antek-anteknya, Pondok Melati tetaplah rumah bagi saya. 

Tapi tapi tapi… saat sedang mengumpulkan memori tentang suasana kosan, penelusuran saya terhenti pada folder foto bernama Sulvi. Buyarlah semua rencana bernostalgia dan mengagung-agungkan romantisme si kosan saya itu sebagai sanctuary. Cerita jadi berputar arahnya, si Sulvi justru jadi tokoh sentral yang akan dikedepankan dalam posting ini. 

Memang siapakah seonggok Sulvi itu? 

30 Januari 2013

Hari ke-25: Mengulang-ulang ulang tahun


Sebelum cerita dimulai, saya mau kasih tahu, kalau kelakuan saya ini memang nggak salah sih kalau disebut iseng, mendekati norak dan sedikit loser banget. Hehehe. Tapi nggak apa-apalah, untuk kenang-kenangan, kisah ini perlu didokumentasikan. Toh sebenarnya, kelakuan saya ini sekaligus dilakukan untuk penelitian. *pembenaran* hahaha.... 

Berulangtahun itu menyenangkan, itulah mengapa pada 2011 lalu, saya sampai berulang tahun dua kali. Kok bisa? Ya bisa, kesenangan ulangtahun itu ternyata nggak cuma bisa dirasakan setahun sekali, melainkan bisa setiap hari, bahkan. Caranya, ya ubah saja tanggal lahir di biodata Facebook. Serta merta, orang kita akan dianggap sedang berulangtahun. Hehehe… 

Awalnya saya memang iseng, saya ingin ngetes apakah sebenarnya teman-teman saya itu tahu persis kapan tanggal lahir saya. Hahaha. Saat itu, saya mengubah tanggal lahir ke tanggal yang nggak jauh dari hari itu. Misalnya saat ini tanggal 29 Oktober, maka saya menset ulangtahun saya di tanggal 31 Oktober. Dan tarra!! apa yang terjadi, Wall di facebook saya penuh dengan ucapan selamat dari teman-teman. Terbukti, nggak banyak yang tahu kalau sebenarnya saya lahir di bulan April. 

28 Januari 2013

Hari ke-24: 69 Terkutuk


Kemacetan memang sudah pasti membosankan dan menyebalkan. Tapi, lalulintas macet hari ini berbeda, sudah mendekati brengsek dan bedebah, setidaknya bagi saya. Saya yang di sudah menghabiskan waktu dua jam di pagi hari, dua jam di malam hari ditambah bonus naik Metromini yang menipu, mereka nggak ‘narik’ sampe tujuan akhir, bahkan belum ada setengah perjalanan, sang kondektur sudah mengumumkan kalau trayek sudah ‘habis’. Saya dan penumpang lain harus turun. 
               Jadi begini ceritanya, saya naik bis Metromini 69 jurusan Blok M – Ciledug dari terminal Blok M. saat di terminal memang saya mendengar kalau si kenek kerap menyebut-sebut Seskoal—daerah yang nggak  kebayoran lama. Seskoal adalah titik yang memang dilewati rute bus ini. Tanpa menghiraukannya saya pun naik, dan duduk manis di belakang supir sambil mendengarkan lagu.

27 Januari 2013

Hari ke-23: Indie yang Tak Selalu Independen


Ada yang menarik dari term indie yang hidup di budaya kita kini, terutama di kalangan anak muda. Setahu saya—dan ternyata dibenarkan oleh penjelasan dari Wikipedia—indie adalah bentuk pendek dari independence atau independent alias kemandirian. Kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan daya sendiri, tanpa atau minim bantuan dari pihak lain. Tapi, nyatanya, sekarang istilah indie itu sudah bergeser pemaknaannya. Indie selalu merujuk kepada gerakan atau kelompok yang seolah mengandung selera seni tersendiri, bergaya eksentrik, dan pastinya tidak mainstream. Padahal, sebenarnya ada istilah yang merangkum semua ketidakbiasaan dan atau resistensi itu, yaitu alternatif.    

Kira-kira, apakah penyebabnya? 

26 Januari 2013

Hari ke-22: Antara Hujan dan Madu Rasa


Minggu lalu, Jakarta dan beberapa kota sekitarnya lagi rajin-rajinnya mandi. Tuhan ingin kota kita bisa bersih. Daki-daki berwujud plastik, botol, dan kekotoran lainnya yang tersembunyi digilas hingga menyeruak tampak.  Selayaknya mandi, kita nyaris tak mungkin melakukan aktifitas lain secara beriringan. Kita tak mungkin mengetik sambil mandi. Kita tak mungkin rapat sambil mandi. Sementara waktu terus berjalan, mobilitas keruangan kita terhenti saat mandi.

Mandi membuat kita basah, dan terlalu lama basah ternyata bisa membuat kita lembek dan lemah. Penyakit pun ikut mewabah. Bukannya ingin tak bersemangat, tapi memang menggerak-gerakkan konstruksi yang lembek bisa saja menghancurkan, malah.

Hujan pada alam juga bisa menimbulkan hujan-hujan yang lain, di antaranya adalah hujan psikologis dan hujan ingus. Hujan psikologis berawal dari permasalahan-permasalahan hidup-seperti tekanan di kantor, atau judul skripsi yang lagi-lagi ditolak-dan memori serta perasaan melankolis yang menguap dari permukaan laut kehidupan menuju langit kejiwaan. Cuaca mood jadi mendung dan tak jarang jadi kelam berpetir. Untuk kita yang punya pawang, bisa saja hanya cuaca mendung itu saja yang terjadi, rintik air yang turun dari awan mata tidak serta-merta turun. Tapi, ketika kita tak punya acara-acara yang superpenting, pawang memang tak dibutuhkan, hujan airmata memang kadang harus dibiarkan turun. 

Hari ke-21: Parade Film Pendek Dunia Maya (Putaran 1)


Walau jumlahnya banyak, tapi mungkin kita sering yang nggak menyadarinya. Di jejaring sosial berbasis video – Youtube, Vimeo, dll - kita bisa menemukan banyak film-film pendek yang menarik. Nggak hanya yang dari luar negeri saja tetapi juga yang lokal punya ada di sana. Ceritanya beragam dan nggak jarang temanya unik. 

Selama setahun ke belakang, saya cukup rajin menelususi film-film tersebut. Nah, lewat posting ini saya mau sajikan beberapa film pilihan untuk kita tonton bersama. Lumayan, untuk mengisi waktu luang yang singkat di sela-sela aktivitas. 

Matikan lampu, pasang headset, dan maksimalkan kecepatan internet!


1. TICK TOCK: Lima menit penuh sensasi 



Apa jadinya kalau kita hanya memiliki waktu lima menit untuk bertahan hidup? Menghubungi orang yang paling kita sayangi pasti jadi yang pertama kita lakukan. Begitu juga lah Emit, cowok yang nggak sengaja menelan pil morfin milik temannya. Emit pun berlari keluar menuju rumah pacarnya sambil menelpon orangtua di rumah untuk minta maaf.

Cerita dari film yang dibuat dengan kamera Canon 5D Mark ini memang sangat sederhana, tapi lewat tangan Ien Chi film ini menjadi sangat keren. Alur yang disajukan mundur, akhir cerita justru ditaruh di awal. Lalu dalam durasi 4 menit 50 detik kita tak henti-henti dibuat untuk menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi pada Emit. Apalagi backsound yang berisi repetisi intens serta bunyi detak jantung yang dipakai di film ini pasti bikin kita semakin tegang. 

Dijamin, menyimaknya sekali pasti nggak cukup. Butuh dua-tiga kali untuk kita bisa benar-benar mengetahui permasalahan yang terjadi dalam film. Seru!

25 Januari 2013

Hari ke-20: Cara Baru Berkereta Api


     Hmmm... kayaknya sih, tulisan ini nggak bakal berguna untuk kalian yang mengonsumsi mobilitas Kereta Api pada intensitas tinggi. Hehehe... tapi nggak apa-apa lah, saya cuma mau share  kesan-kesan saya tentang kereta api sekarang. Soalnya saya nggak cukup sering berkereta api ke luar kota - paling, setahun hanya 1-2 kali PP - jadi tiap kali berkereta api ada saja layanannya yang berubah dan baru saya sadari. Tentunya, sejauh ini, perubahan itu membawa efek yang positif, sih, bagi saya.  Oke, saya akan ulas satu persatu informasinya. 

1. Pemesanan tiket yang lebih praktis
Jangan kira membeli tiket kereta api itu harus lewat loket di stasiun atau di biro-biro perjalanan. Sekarang tiket kereta api bisa kita dapatkan lewat beberapa medium. Untuk yang mobilitasnya tinggi atau males gerak keluar, kita bisa pesan tiket lewat telepon.  Caranya, hubungi nomor (021) 121. dan ikuti langkah-langkahnya. Nggak susah, kok, prosedrunya. Kita hanya perlu menetapkan jadwal keberangkatan dan kelas kereta api yang kita inginkan. Operator akan mencarikannya. Setelahnya, operator akan memberikan kode pembayaran dan kode penukaran tiket. Kedua kode itulah yang perlu kita simpan/catat baik-baik. 

24 Januari 2013

Hari ke-19: Pernikahan Indie dan Artsy ala Putri dan Fikrie




Kenal Putri Fitria? Ah, pasti kalian kenal. Kalau belum, sini saya kenalin. Dia adalah sohib yang pertama saya kenal pada medio 2011. Cewek penulis dan peneliti yang punya bakat besar menjadi seorang mandor. Hehehe…. Tapi ini dalam arti yang positif, lho. Putri andal banget motor penggerak, nggak Cuma bagi dirinya sendiri tetapi juga bagi beberapa gerakan dan organisasi terutama yang erat kaitannya dengan seni, sesuai dengan ketertarikannya. Card to Post tercatat sebagai salah satunya. Kalau ada yang setuju kalau pergerakan Card to Post itu signifikan dan menawan, berarti kalian juga harus setuju kalau Putri Fitria lah yang punya andil besar di situ.  Pokoknya, Putri itu keren.

Lalu apa jadinya kalau cewek tangguh, bersahaja, intelek sekaligus kontemporer ini menikah? Keren dan menakjubkan pastinya. Bukti pertamanya adalah Putri yang sebelumnya sering bercerita kalau dirinya ogah terikat dalam institusi pernikahan ini merencanakan pernikahannya nggak lebih dari setengah tahun. Muammar Fikrie adalah pasangannya.  Nggak berbeda dengan gerakan –gerakan yang dimotorinya, pesta pernikahan Putri dan Fikrie sangatlah keren, otentik dan pastinya, kekinian. Hahaha…

Saya sampai bingung mau mulai bercerita dari mana. Pokoknya, pesta digelar pada 20 Januari 2013 di Rumah Seni Eloprogo yang terletak  di Magelang. Nggak jauh dari Candi Borobudur. Eloprogo memiliki lahan yang superluas dengan tata arsitektur yang artistik. Nah, pesta digelar di bagian belakang Eloprogo.  Sebuah ruang terbuka beralas hamparan rumput, beberapa pohon yang menjulang tinggi, bebatuan, ornamen-ornamen seni dan sungai besar yang berada jauh di bawah lahan lokasi pesta. Konon, sungai tersebut adalah sungai pertemuan Sungai Elo dan Sungai Progo. Filosofi pertemuan yang abadi itu juga dijadikan doa dalam pesta ini. 

22 Januari 2013

Hari Ke-18: Jogyakarta, Jokes a Kata

Nggak panjang jalan pagi itu yang saya tapaki di Jogja, tapi, begitu banyak kata dan tanda yang menghibur saya temui. Jogja memang penuh Jokes, ya.. 
 



21 Januari 2013

Hari ke-17: Membaca Kepribadian lewat Tulisan Tangan



Karena sistem syaraf di otak yang menggerakkan tangan untuk menulis dipengaruhi keadaan psikologis kita, tulisan tangan pun bisa mengungkap banyak tentang kepribadian kita.  

Tulisan adalah salah satu medium kita untuk berkomunikasi. Nah, dari situlah, ketika sudah jadi, tulisan dianggap merepresentasikan diri seseorang. Nggak heran deh, kalau saat kita ingin mengetahui (baca: stalk) seseorang, tulisan seolah jadi jendela untuk mengintip isi hatinya. Tak jarang kita menguntit tweet, membaca blognya, atau menelusuri tulisan-tulisan lainnya yang tersebar di web. Nah, menariknya, dibanding yang berbentuk digital, tulisan tangan seseroang itu ternyata bisa menjadi cara ampuhnya. Asal, kita sudah menguasai ilmu membaca tulisan tangan yang disebut dengan grafologi. 

Ilmu ini pertama kali digagas oleh seorang kebangsaan Perancis bernama Abbe J.H. Michon di tahun 1875. Ia memulai pengelompokan ciri grafis tulisan dan dihubungkan dengan sifat-sifat manusia. 
© blogrr
Maira Gall