"Aku punya ide. Kesepakatan kecil, yang menurutku penting."
"Hah. apaan lagi?"
"Setelah nikah, aku nggak mau kita langsung update apapun di media sosial. Cerita-ceritanya kita tunda sampe, hmm, dua minggu setelahnya. Gimana gimana?"
"Ih, emang kenapa sih?"
"Aku nggak mau aja kita pamer kebahagiaan sekilas-sekilas. Kalaupun mau cerita, cerita yang utuh. Dengan ngasih jarak dua minggu, kita punya waktu untuk mengolah momen-momen pernikahan kita dulu."
"Deal"
*ps: Nomor kesepatakan dipilih acak. Bukan sebuah urutan.
01 Juli 2018
Pengumuman: Gue Botak!
Jelas, itu bukan pengumuman utamanya kecuali kalau kalian memang pengin tahu gimana gue menggunduli kepala ini di sore sebelum malam takbiran kemarin tanpa rencana yang bener-bener matang.
Sekedar info saja, gue terakhir kali botak itu kuliah. Agaknya, momen lebaran pas untuk menjajalnya. Beberapa orang menganggap gue botak demi buang dosa, kembali ke fitri, atau habis umrah. Padahal, gue cuma iseng belaka. Pengen ngerasain suasana baru saja gitu sekalian ngejawab tantangan Rima yang sesekali ia bilang dengan nada gurau.
Tapi, gue juga mengamini anggapan orang-orang tadi itu. Gue menyimpulkan, menggunduli rambut itu adalah tanda bahwa kita masuk fase baru, persis seperti apa yang gue akan lakukan SETELAH LEBARAN.
Setelah lebaran adalah kata yang sering terngiang-ngiang di kepala gue tahun ini. Soalnya, Rima dan keluarganya waktu itu bilang bahwa pertemuan keluarga kami dilakukan setelah lebaran saja. "Momennya pas, suasana silaturahmi."
Pertemuan keluarga ini adalah momen penting. Ya kan, ya dong? Ibarat naik gunung, ngajak nikah itu adalah pos pertama, minta restu ke orang tua itu pos kedua, dan pertemuan keluarga adalah satu pos sebelum pos summit.
Dan pertemuan itu baru saja berlangsung tadi siang.
Gue dan Rima membawa keluarga inti untuk makan siang bareng. Kami pilih tempatnya di sebuah restoran bilangan Ampera. Kami sudah reservasi tempat untuk 15 orang. Keluarga inti Rima 4 orang, keluarga gue ada 10. Namun akhirnya pasukan bertambah 4 karena mamahnya Rima ngajak Kak Riri dan Bang Gian, sepupu Rima.
Kedua pasang orang tua kami set untuk duduk berhadapan. Tanpa perlu dipandu, papah dan ayahnya Rima langsung ngobrol sedari awal salaman. Untungnya, mereka punya latar belakang profesi yang nggakjauh beda. Sama-sama orang proyek kayak si Doel.
Beres bertukar cerita tentang latar belakang keluarga dan pekerjaan, giliran gue mengeluarkan satu per satu kalimat yang sudah gue susun tadi pagi dan sudah disepakati Rima dengan catatan "Bagian kita pertama kali ketemu nggak usah diceritain lah, iuh."
Yang menarik dari pertemuan tadi adalah gimana polah si Akang keponakan gue. Begitu rombongan keluarga Rima datang, Akang ciut. Ia melipir keluar dari meja dan merengek minta orang-orang pergi. Akang malu
Hampir 20 menit Akang rungsing karena kenyamanannya terganggu orang-orang yang ia anggap asing.
Namun, pelan-pelan kegelisahannya mereda. Ia mulai mau diajak gabung lagi walau tetap diam dan meminta hape untuk nonton YouTube.
Nah, setelah beres makan, Rima beraksi. Ia menghampiri Akang, menggendongnya lalu mengajak Sabika (anaknya Kak Riri yang empat tahun) untuk ke halaman belakang. Ternyata, Akang mau!
Sejurus kemudian, ia akrab dengan Sabika. Mereka melihat-lihat kolam, memberi makan ikan dengan nasi sisa, dan main kejar-kejaran seperti nggak ada hari esok.
Melihat polah Akang dan Sabika, gue membayangkan semesta sedang menyiratkan pesan penting.
Lega, deh. :)
28 Juni 2018
Tiga Hari Sebelum Pertemuan Keluarga
Setiap kali ditanya kapan kita mulai serius mempersiapkan nikah, Rima selalu menjawab "Habis lebaran". Dan sekarang, momen itu sudah datang.
Minggu, 1 Juli besok, keluarga gue dan Rima akan bertemu. Perkenalan pertama sebelum pertemuan keluarga yang lebih besar lagi. Kami menyebutnya ini sebagai pertemuan informal.
"Rizki nggak mau kita ketemu keluarga Rima cuma pas di acara lamaran. Rizki pengen kita bisa lebih akrab. Jadi, ada pertemuan informal dulu," kata gue pada mamah papah suatu waktu.
Yang gue maksud lamaran itu adalah pertemuan keluarga besar. Gue dan Rima sepakat nggak pake ritual lamaran atau tunangan.
Nah, di pertemuan keluarga besok itu, topik yang perlu diangkat juga tentang konsep pernikahan dan alur jadwal persiapan serta acara yang perlu dipersiapkan. Agar mantep, gue dan Rima mulai gencar brainstorm dan bertanya sana-sini soal pesta pernikahan.
Gue dan Rima punya harapan untuk bisa bikin pernikahan yang sederhana. Soalnya, kami mencoba mikir jauh. Gue dan Rima akan tinggal di rumah baru yang kosong. Ada rumah tangga yang perlu kami persiapkan untuk hidup bersama.
Kami mulai perencanaan pesta pernikahan dengan menjabarkan konsep pernikahan. Di Excel, kami menuliskan daftar undangan, perkiraan anggaran, rencana pemasukan, pilihan tempat impian, daftar rekomendasi jasa katering dan dekorasi.
Setelahnya, kami coba kunjungi tiga tempat pesta. Tempat pertama adalah sebuah gedung milik TNI AD. Harganya murah, tempatnya besar dan megah, hanya saja kelihatan muram. Tempat kedua adalah aula masjid yang kami cek hanya sambil lalu saja. Nah, di tempat ketiga inilah gue ngerasa cocok banget. Rasanya sama kayak waktu pertama kali ketemu Rima. "Ini dia nih!"
Tempatnya berupa hmm susah dideskripsikan. Di situ ada guest house, ada taman berpohon tinggi, ada pendopo dan pelataran. Areanya luas banget!
Harga sewa tempat semi outdoor itu pun masih dalam jangkauan anggaran. Cuma saja, ada jebakannya. Kami mesti menggunakan jasa katering rekanannya. Kesemuanya mewah. Harganya bisa dua kali lipat dari katering lain.
Lalu gue mikir-mikir, harga katering itu bahkan lebih mahal dari ongkos membeli perabot rumah dan renovasi.
Gue resah.
Sampai tadi siang, sembari nunggu pecel lele dan ayam jadi, gue dan Adi ngobrol soal pernikahan.
"Di, setelah nikah, lo sebegitu mengenangnya nggak pesta pernikahan?" tanya gue
"Nggak sih, Ram. Gue sama Hana juga sempet nyesel, kenapa yah, kami mau segitu banyaknya ngeluarin uang. Padahal lebih butuh biaya untuk ngisi rumah," kata Adi. Hana sekarang hamil sekitar 3 bulan. Beberapa waktu lalu, Adi kerap membicarakan ongkos lahiran yang harganya sama dengan ongkos sewa gedung untuk pernikahan.
Sekali lagi, gue mau bilang. gue dan Rima berencana untuk bikin pesta pernikahan yang sederhana. Tapi agaknya itu susah banget terjadi. Kami tahu orang tua kami juga punya kehendak untuk merayakan momen penting nan sakral anaknya.
Tapi, yah, untuk menikah yang sederhana, yang hanya mengeluarkan uang sedikit saja, mesti jadi harapan. Secara teknis, itu lebih mudah tercapai, kan?
Gue pikir, membuat pesta pernikahan yang wah itu berpotensi bikin kita abai sama esensi nikah sebenernya. Kita sering menganggap bahwa mempersiapkan pernikahan itu sama dengan mempersiapkan pesta. Sementara bahasan tentang penyesuaian diri untuk tinggal bareng, peran-peran dalam rumah tangga, kesiapan punya anak, rencana karier, dll, dibahas sekenanya di perjalanan atau nanti saja sambil bulan madu.
20 Juni 2018
Kesepakatan #23: Nggak Apa-apa Deh Kalau Sekarang Gagal Nikah Sederhana
"Nikah besar-besaran gini mesti berhenti di generasi kita aja ya, kak. Nanti anak-anak kita kalau mau nikah sederhana aja, nggak apa-apa."
17 Maret 2018
Pulang Ke Rumah Yang Sama
Di Minggu pertama kami pacaran, Rima bertanya tentang apakah yang paling membuat gue ingin pacaran sama dia. Gue mencoba mikir panjang, tapi ujung-ujungnya cuma punya jawaban satu kata saja.
"Karena insting, Kak," kata gue. Saat itu gue belum manggil Rima dengan sebutan "neng" sebagaimana sekarang.
Saat kemarin, 11 Februari (Minggu) sore, di rumah Rima, gue akhirnya ngajak Rima nikah pun karena gue ngerasain banget insting yang kuat.
Sebelumnya gue pernah mikir kapan waktu yang tepat untuk ngajak Rima nikah, jawabannya adalah ketika gue ngerasa dapat 'panggilan' untuk melakukannya. Nah, saat itu, insting gue berkata bahwa panggilannya sudah datang dan gue harus menyambutnya.
Yang sudah pasti dalam hidup itu hanyalah masa lalu. Kita sudah mengetahuinya dan nggak akan bisa berubah. Gue rasa, pengalaman-pengalaman kita di masa lalu secara natural melahirkan dan mengembangkan insting untuk kita menghadapi masa sekarang dan masa depan. Itulah mengapa gue memercayainya.
Yang gue katakan pada Rima di ruang tamu rumahnya itu adalah kalimat yang sudah gue rencanakan sebenarnya. Gue sempat menulis surat nggak sampai satu halaman yang isinya tentang ajakan untuk nikah.
"Rima, aku mau kita bisa pulang ke rumah yang sama tiap hari. Apakah kamu mau juga? Aku mau nikah sama kamu," kata gue ujug-ujug.
Dari parasnya, gue lihat Rima nggak siap dengan momen itu. Ya, mo gimana, masa gue mesti bilang dulu sehari sebelumnya, "Rima besok aku mau ngajak kamu nikah, siap-siap yah." Kan, nggak mungkin.
Alhamdulillah, Rima punya keinginan yang sama.
Tangan kami berpegangan erat saat itu, di samping kami, ada foto besar keluarga Rima nempel di tembok. Ayah, Mamah, Tasya adiknya, serta Rima di masa 3 tahun lalu menatap kami dengan senyum. Mochi dan Milo, dua kucing Rima mungkin mendengarnya dan kemudian ngegosipin bersama kucing-kucing komplek lainnya.
Setelah sah menjadi calon istri-suami, obrolan kami saat itu merembet cepat ke hal-hal besar soal pernikahan. Bukti bahwa pikiran-pikiran (dan juga hasrat?) tentangnya sudah numpuk dari lama. Begitu bisa diobrolin, jadi duaar, pecah deras.
Sebelumnya, tuh, tiap kali ngomongin konsep keluarga, pernikahan, atau suami-istri, gue dan seringnya, sih, Rima, memakai perumpaan. "Kalau kamu nikah nanti...", "Gimana coba nanti kalau udah nikah, kamu masih begini sama pasangan kamu nanti?"
Gue sebel banget tiap Rima ngomong gitu. Seolah-olah ia nggak yakin bahwa yang akan gue nikahi adalah dia. Tapi gue maklumi, karena saat itu gue belum memantapkan diri.
Namun sekarang, kami menjadi dua subyeknya.
Tentang mengapa gue cinta sama Rima dan sebaliknya, akan gue ceritakan kemudian.
Begitu juga tentang obrolan-obrolan kami seputar pernikahan, rumah tangga, dan keluarga. Nanti gue ceritakan.
Dan akan banyak cerita-cerita lagi, karena itu gue bikin blog ini. Gue namai RRUMAH karena kami akan pulang bersama ke sini membawa cerita-cerita.
:)
"Karena insting, Kak," kata gue. Saat itu gue belum manggil Rima dengan sebutan "neng" sebagaimana sekarang.
Saat kemarin, 11 Februari (Minggu) sore, di rumah Rima, gue akhirnya ngajak Rima nikah pun karena gue ngerasain banget insting yang kuat.
Sebelumnya gue pernah mikir kapan waktu yang tepat untuk ngajak Rima nikah, jawabannya adalah ketika gue ngerasa dapat 'panggilan' untuk melakukannya. Nah, saat itu, insting gue berkata bahwa panggilannya sudah datang dan gue harus menyambutnya.
Yang sudah pasti dalam hidup itu hanyalah masa lalu. Kita sudah mengetahuinya dan nggak akan bisa berubah. Gue rasa, pengalaman-pengalaman kita di masa lalu secara natural melahirkan dan mengembangkan insting untuk kita menghadapi masa sekarang dan masa depan. Itulah mengapa gue memercayainya.
Yang gue katakan pada Rima di ruang tamu rumahnya itu adalah kalimat yang sudah gue rencanakan sebenarnya. Gue sempat menulis surat nggak sampai satu halaman yang isinya tentang ajakan untuk nikah.
"Rima, aku mau kita bisa pulang ke rumah yang sama tiap hari. Apakah kamu mau juga? Aku mau nikah sama kamu," kata gue ujug-ujug.
Dari parasnya, gue lihat Rima nggak siap dengan momen itu. Ya, mo gimana, masa gue mesti bilang dulu sehari sebelumnya, "Rima besok aku mau ngajak kamu nikah, siap-siap yah." Kan, nggak mungkin.
Alhamdulillah, Rima punya keinginan yang sama.
Tangan kami berpegangan erat saat itu, di samping kami, ada foto besar keluarga Rima nempel di tembok. Ayah, Mamah, Tasya adiknya, serta Rima di masa 3 tahun lalu menatap kami dengan senyum. Mochi dan Milo, dua kucing Rima mungkin mendengarnya dan kemudian ngegosipin bersama kucing-kucing komplek lainnya.
Setelah sah menjadi calon istri-suami, obrolan kami saat itu merembet cepat ke hal-hal besar soal pernikahan. Bukti bahwa pikiran-pikiran (dan juga hasrat?) tentangnya sudah numpuk dari lama. Begitu bisa diobrolin, jadi duaar, pecah deras.
Sebelumnya, tuh, tiap kali ngomongin konsep keluarga, pernikahan, atau suami-istri, gue dan seringnya, sih, Rima, memakai perumpaan. "Kalau kamu nikah nanti...", "Gimana coba nanti kalau udah nikah, kamu masih begini sama pasangan kamu nanti?"
Gue sebel banget tiap Rima ngomong gitu. Seolah-olah ia nggak yakin bahwa yang akan gue nikahi adalah dia. Tapi gue maklumi, karena saat itu gue belum memantapkan diri.
Namun sekarang, kami menjadi dua subyeknya.
Tentang mengapa gue cinta sama Rima dan sebaliknya, akan gue ceritakan kemudian.
Begitu juga tentang obrolan-obrolan kami seputar pernikahan, rumah tangga, dan keluarga. Nanti gue ceritakan.
Dan akan banyak cerita-cerita lagi, karena itu gue bikin blog ini. Gue namai RRUMAH karena kami akan pulang bersama ke sini membawa cerita-cerita.
:)
18 Juli 2017
Menonton The Impossible
Ada empat alasan mengapa saya pengin menonton film ini. Pertama, Tom Holand. Pertama kali tahu film pun dari Tom Holland. Ketika saya sedang mencari tahu tentang film-film Tom, saya menemukan The Impossible sebagai film pertama yang dibintangi Tom sebagai aktor. Sebelumnya, ia sudah pernah terlibat di film sebenarnya, film garapan studio ghibli pula. Cuma aja, di film itu Tom hanya jadi pengisi suara.Saat menonton The Impossible ini, saya membayangkan tokoh Lucas yang diperankannya adalah jelmaan dari Peter Parker muda. Dia tangguh banget sebagai anak kecil, namun ada rapuhnya juga.
"Aku adalah anak yang pemberani, Bu. Tapi sekarang ini aku takut sekali," katanya di tengah-tengah banjir tsunami yang sudah menyeretnya jauh, tak lama setelah ((( akhirnya ))) ia bertemu dengan ibunya.
Kedua, Ewan McGreggor. Ya walau film ini masih berasa menye-menyenya, tapi nggak terlalu gamblang diceritakannya. Si sutradara apik membuat saya "merasa" tanpa perlu "mengetahui" sepenuhnya apa yang terjadi. Udah gitu, di film ini ada Ewan McGreggor! Saya sedang kangen film Beginners yang dia perankan. Tapi saya takut menontonnya. Maklum, di film itu saya akan menemukan dialog "make it easy to end up alone." Kalau kalian main Mobile Legends, maka kalimat itu sama sakitnya seperti serangan dari Karina. Ia selalu menghilang ketika menyerang, tapi dampaknya nyata sekali. Cepat pula ditinjukannya.
Saya pikir, dengan menonton film melankolis lainnya yang menampilkan Ewan McGreggor yang entah gimana parasnya itu melankolik sekali, saya bisa jadi merasa sedikit sensasi film Beginners.
Di film The Impossible, Ewan berperan menjadi si kepala keluarga. Sebelum ombak tsunami menumpasnya, ia sedang berenang bersama dua dari tiga anaknya. Ia adalah ayah yang hmm, lagi-lagi, kuat tapi pecah belah alias rapuh juga.
Semoga kalian belum lupa kalau di tulisan ini saya ingin menyebut empat alasan. Alasan ketiga adalah, karena ini film tentang keluarga. Saya sedang merasa perlu menerpa cerita-cerita tema keluarga agaknya, dengan alasan yang sebaiknya saya nggak sebut di sini. Kalau kalian tetep maksa pengen saya cerita, berarti kalian sama saja seperti anggota keluarga yang "jauh" tapi hobi betul mengajukan pertanyaan seolah merekalah yang menjalani hidupmu. Hhh~
Keempat, ini adalah film tentang bencana. Somehow, saya suka melihat bagaimana cara manusia bertahan diri di ujung hidupnya. Dan melihat apa yang mereka perjuangkan serta apa yang mereka lepas ketika kekuatan mereka sedikit. Ketika dalam bencana, tingkat kesadaran manusia terhadap kematian melonjak drastis. Beda dengan pernikahan, naik haji, naik jabatan, atau lolos seleksi; kematian adalah momen yang pasti terjadi, tapi agaknya tak pernah menjadi pencapaian siapa pun selama sedang hidup. Nah, di saat bencana manusia (kayaknya (aing belum pernah)) memikirkan kematian dua kali lebih sering daripada bernafas.
Di saat bencana pula, Tuhan dan semestanya membanjiri hidup dengan kemungkinan, sederas mungkin. Apakah ada batang pohon yang bisa dipeluk agar tak terbawa tsunami lagi; apakah akan ada Coca Cola yang bisa diminum ketika selamat; apakah anak itu akan bertemu ayahnya lagi; apakah jika turun dari mobil untuk kencing, sopir galak akan meninggalkanmu; semua hanya bisa dijawab dengan "mungkin."
Ada satu adegan yang saya suka dari film ini. Yaitu tentang bagaimana seseorang bisa menahan kematiannya demi memperjuangkan sesuatu. Ia seperti sudah melihat malaikat maut bilang "assalamualaikum", tapi ia berhasil menyuruh si malaikat menunggu di teras dulu, nggak langsung masuk ke dalam rumah lalu menjambret nyawamu.
Begitulah, pemirsa. Manusia hidup akan mati. Tapi manusia yang sudah terlanjur hidup, akan terus menghidupi hidupnya. Semungkin mungkin.
"Aku adalah anak yang pemberani, Bu. Tapi sekarang ini aku takut sekali," katanya di tengah-tengah banjir tsunami yang sudah menyeretnya jauh, tak lama setelah ((( akhirnya ))) ia bertemu dengan ibunya.
Kedua, Ewan McGreggor. Ya walau film ini masih berasa menye-menyenya, tapi nggak terlalu gamblang diceritakannya. Si sutradara apik membuat saya "merasa" tanpa perlu "mengetahui" sepenuhnya apa yang terjadi. Udah gitu, di film ini ada Ewan McGreggor! Saya sedang kangen film Beginners yang dia perankan. Tapi saya takut menontonnya. Maklum, di film itu saya akan menemukan dialog "make it easy to end up alone." Kalau kalian main Mobile Legends, maka kalimat itu sama sakitnya seperti serangan dari Karina. Ia selalu menghilang ketika menyerang, tapi dampaknya nyata sekali. Cepat pula ditinjukannya.
Saya pikir, dengan menonton film melankolis lainnya yang menampilkan Ewan McGreggor yang entah gimana parasnya itu melankolik sekali, saya bisa jadi merasa sedikit sensasi film Beginners.
Di film The Impossible, Ewan berperan menjadi si kepala keluarga. Sebelum ombak tsunami menumpasnya, ia sedang berenang bersama dua dari tiga anaknya. Ia adalah ayah yang hmm, lagi-lagi, kuat tapi pecah belah alias rapuh juga.
Semoga kalian belum lupa kalau di tulisan ini saya ingin menyebut empat alasan. Alasan ketiga adalah, karena ini film tentang keluarga. Saya sedang merasa perlu menerpa cerita-cerita tema keluarga agaknya, dengan alasan yang sebaiknya saya nggak sebut di sini. Kalau kalian tetep maksa pengen saya cerita, berarti kalian sama saja seperti anggota keluarga yang "jauh" tapi hobi betul mengajukan pertanyaan seolah merekalah yang menjalani hidupmu. Hhh~
Keempat, ini adalah film tentang bencana. Somehow, saya suka melihat bagaimana cara manusia bertahan diri di ujung hidupnya. Dan melihat apa yang mereka perjuangkan serta apa yang mereka lepas ketika kekuatan mereka sedikit. Ketika dalam bencana, tingkat kesadaran manusia terhadap kematian melonjak drastis. Beda dengan pernikahan, naik haji, naik jabatan, atau lolos seleksi; kematian adalah momen yang pasti terjadi, tapi agaknya tak pernah menjadi pencapaian siapa pun selama sedang hidup. Nah, di saat bencana manusia (kayaknya (aing belum pernah)) memikirkan kematian dua kali lebih sering daripada bernafas.
Di saat bencana pula, Tuhan dan semestanya membanjiri hidup dengan kemungkinan, sederas mungkin. Apakah ada batang pohon yang bisa dipeluk agar tak terbawa tsunami lagi; apakah akan ada Coca Cola yang bisa diminum ketika selamat; apakah anak itu akan bertemu ayahnya lagi; apakah jika turun dari mobil untuk kencing, sopir galak akan meninggalkanmu; semua hanya bisa dijawab dengan "mungkin."
Ada satu adegan yang saya suka dari film ini. Yaitu tentang bagaimana seseorang bisa menahan kematiannya demi memperjuangkan sesuatu. Ia seperti sudah melihat malaikat maut bilang "assalamualaikum", tapi ia berhasil menyuruh si malaikat menunggu di teras dulu, nggak langsung masuk ke dalam rumah lalu menjambret nyawamu.
Begitulah, pemirsa. Manusia hidup akan mati. Tapi manusia yang sudah terlanjur hidup, akan terus menghidupi hidupnya. Semungkin mungkin.
18 Juni 2017
Yang Tak Lagi Terlewatkan Dari Malang
Perjalanan ini nggak ada di rencana saya. Betul-betul mendadak. Adik saya yang kuliah di Malang sakit. Mamah saya pengin menjenguknya. Karena kami sekeluarga nggak mungkin membiarkan mamah terbang sendiri, akhirnya saya ikut pesan tiket juga. Kebetulan saya sedang dapat shift libur dua hari berturut-turut.
Saya juga sudah sering ke Malang sebenarnya. Selain ke Semeru, saya pernah ke Pulau Sempu saat kuliah dulu, dan tahun lalu juga diminta liputan ke sini. Tapi kunjungan-kunjungan itu nggak membuat saya merasa akrab sama Malang. Itulah juga yang memicu saya untuk berangkat ke sana.
Rencana untuk cabut ke Bromo baru muncul setelah isya. Paska urusan-urusan pengobatan adik saya selesai dan ia terlihat membaik keadaannya. Di perjalanan pulang dari rumah sakit menuju penginapan, adik saya bercerita tentang pengalamannya berkendara motor menuju Bromo. Butuh empat jam perjalanan, katanya. Pun, nggak bisa sembarang motor. Motor matic punya adik saya terhitung renta untuk mendaki jalanan menanjak dan medan berbatu. Jadi, kalau pun saya mau berangkat, pilihan menggunakan motor mesti dicoret.
Saya banyak bertanya.
"Kalau ke Bromonya siang enak nggak sih? atau harus malam?"
"Di sana cuma enak lihat sunrise, yah?"
"Kira-kira ada travel nggak ya, Fal?" tanya saya kepada adik.
Pertanyaan yang nggak mesti dijawab. Soalnya, ya, udah pasti ada. Sekali ketik "Bro.." di kolom pencarian saja Google sudah menampilkan sederetan nama penyedia jasa antar ke Bromo.
Akhirnya saya impulsif mencari jasa travel dan open trip untuk berangkat ke Bromo malam itu juga. Cukup sulit ternyata, soalnya, semua jasa menerima paket rombongan. Kalau cuma sendiri, dihitungnya private tour, harganya di atas Rp 1 juta. Sementara budget saya kan cuma ratusan ribu.
Hingga pukul 20.00, akhirnya saya bertemu jasa travel yang punya teman sedang buka open trip ke Bromo. Biayanya Rp 400 ribu. Saya sanggupi.
"Nanti jam 12 malam, mas, dijemput ya di hotel. Pake jip," katanya lewat WhatsApp.
"Oke, sip."
Sambil menunggu jemputan jip, saya jajan teh jahe ditemani Malala pemberian dari Rima.[/caption]
Saya senang ikut open trip. Kami akan pergi rombongan, bisa saling kenalan, tapi nggak ada ikatan yang membuat kami mesti nempel terus-menerus. Saat di lokasi, ya bisa bebas misah, dan tiba-tiba ngumpul lagi.
![]() |
Sambil menunggu jemputan jip, saya jajan teh jahe ditemani Malala pemberian dari Rima.
|
Peserta open trip kali ini ada lima orang termasuk saya. Dua orang adalah pasangan muda dari Jerman. Dua orang lagi adalah Nura dan Gina, mereka adalah pelancong solo, sama seperti saya.
Kami tiba di basecamp Bromo (Wonokriti) pada pukul 02.30. Demi menunggu waktu sunrise, kami mengudap indomie demi sahur sambil bercakap-cakap dalam bahasa Inggris. Maklum, ada bule.
Sahur pakai Indomie dan kurma. Kedua bule itu bawa bekal pisang dan belimbing. "There is no star fruit and dragon fruit in our country," katanya.
![]() |
Sahur pakai Indomie dan kurma. Kedua bule itu bawa bekal pisang dan belimbing. “There is no star fruit and dragon fruit in our country,” katanya.
|
Saya agak sebal sama warung-warung di sana. Mahal betul menaruh tarif. Untuk memakai toilet saja mesti bayar Rp 5 ribu. Untuk makan Indomeie mesti bayar Rp 20 ribu. Siapa, sih, yang ngajarin kapitalisme sampe ke gunung, gini? hhhhh.
Saya juga nggak suka-suka amat sama sensasi di anjungan Penanjakan 1. Dinginnya minta ampun. Pemandangannya bagus banget, sih. Tapi keramaiannya itu, lho. Saya justru menemukan pemandangan yang suangat memanjakan mata setelah turun dari anjungan.
Matahari mulai terlihat terbit dari anjungan Pananjakan 1 Bromo pada pukul 04.45. Para bule yang berpasangan bisa biasa saja berpelukan, sementara kami yang pribumi cuma bisa iri dan menghangatkan tubuh dengan nyempil di keramaian saja. uhhh
![]() |
| Dari belakang-genic |
Selanjutnya kami menuju Kawah Bromo yang mengharuskan kami berjalan lalu mendaki sekitar satu jam. Lumayan, rasa kangen naik gunung jadi terobati.
Saat melihat gurun pasir dan kuda-kuda saya jadi ingat novel Raden Mandasia. Saya ingat scene Loki Tua, Sungu Lumbu, dan Raden Mandasia berlari-lari dari kejaran prajurit. Sampai-sampai saya memfoto pemandangan di sana yang kayaknya mirip sama cover novel.
![]() |
| (Bukan) Loki Tua, Sungu Lembu, dan Raden Mandasia yang sedang dikejar prajurit Gerbang Agung. |
Ada yang janggal ketika saya sampai di puncak Bromo untuk melihat kawah. Saya keliyengan dan kaki saya sedikit bergetar. Haha. Baru kali itu saya ngeri sama ketinggian. Bahkan, saya sampai takut bergerak dan memutuskan duduk saja. Kalian mesti lihat suasana di sana, tempat jalannya sempit, hanya cukup empat kaki menyamping. Di sebelahnya ya sudah turunan curam. Parahnya lagi, nggak banyak pembatas yang bisa dipakai untuk berpegangan.
![]() |
| Sejak menghadapi gonjang-ganjing di kantor, saya pengen banget jalan-jalan, naik gunung. Rencananya usai lebaran. Tapi ternyata di tengah puasa pun bisa. #bahagiaadalah |
![]() |
| Jangan dulu mendamba Eropa kalau belum keliling Indonesia. |
![]() |
| Ngeeeng |
07 Maret 2017
Menulis Bebas - Lupa
Aku tahu mengapa sekolah hanya mengajarkan kita untuk menghapal tapi untuk urusan melupa, kita mesti otodidak. Karena hilaf adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan. Butuh banyak usaha dan banyak waktu untuk bisa menghapal dengan baik. Tapi untuk melupa? kita hanya butuh sedetik pengabaian agaknya.
Kamu nggak percaya? coba saja tanya ke bakwan angkringan yang walau sudah digoreng tapi kuminta dipanggang lagi. Ia menyaksikan bagaimana seorang pemuda yang selalu luput dari percobaan menepati janji.
Teh jahe beserta puluhan rintik hujan yang tak sengaja masuk ke gelas juga ikut menyaksikan, betapa pemuda itu bahkan sudah menciptakan sebuah sistem untuk bertahan (baca: kabur) dari segala gundah yang menyerang. Kamu tahulah, segala kebaikan yang dilakukan manusia sebenarnya adalah caranya untuk membendung hasrat tercela yang muncul dalam dirinya. Omong-omong, kamu sadar sesuatu nggak? Antara kalimat pertama dan kedua di paragraf ini tidak ada hubungannya. Tapi, toh, tak perlu mesti sudah terikat dalam suatu hubungan dulu, kan, untuk bisa berada dalam satu barisan? Hidup ini belum segitu transaksionalnya kan?
Yang paling parah dari kasus seperti ini adalah ketika kita lupa kalau kita punya bakat menjadi pelupa dan belaga punya sistem pengingat yang jauh lebih canggih dari fitur reminder ponselnya.
Tolong guyur mataku dengan sambal angkringan Kebon Jeruk. Biar aku sadar, walau sudah banyak lagu tentang harapan untuk bisa lupa ingatan, tapi sampai kapanpun takkan keluar fatwa yang menghalalkan profesi pelupa profesional dijadikan cita-cita.
Kamu nggak percaya? coba saja tanya ke bakwan angkringan yang walau sudah digoreng tapi kuminta dipanggang lagi. Ia menyaksikan bagaimana seorang pemuda yang selalu luput dari percobaan menepati janji.
Teh jahe beserta puluhan rintik hujan yang tak sengaja masuk ke gelas juga ikut menyaksikan, betapa pemuda itu bahkan sudah menciptakan sebuah sistem untuk bertahan (baca: kabur) dari segala gundah yang menyerang. Kamu tahulah, segala kebaikan yang dilakukan manusia sebenarnya adalah caranya untuk membendung hasrat tercela yang muncul dalam dirinya. Omong-omong, kamu sadar sesuatu nggak? Antara kalimat pertama dan kedua di paragraf ini tidak ada hubungannya. Tapi, toh, tak perlu mesti sudah terikat dalam suatu hubungan dulu, kan, untuk bisa berada dalam satu barisan? Hidup ini belum segitu transaksionalnya kan?
Yang paling parah dari kasus seperti ini adalah ketika kita lupa kalau kita punya bakat menjadi pelupa dan belaga punya sistem pengingat yang jauh lebih canggih dari fitur reminder ponselnya.
Tolong guyur mataku dengan sambal angkringan Kebon Jeruk. Biar aku sadar, walau sudah banyak lagu tentang harapan untuk bisa lupa ingatan, tapi sampai kapanpun takkan keluar fatwa yang menghalalkan profesi pelupa profesional dijadikan cita-cita.
09 Oktober 2016
Melanglang Buana
Saat menuju bandara Kuala Namu, saya bertemu dengan pak Saleh di shuttle bus. Ia bukan Indonesia, melainkan asli asal Oman. Ia menyapa kami lebih dulu, bukan dengan perkanalan melainkan dengan obrolan. Ia bertanya apa yang saya kerjakan sehari-hari, saya ceritakan bahwa saya wartawan. Lalu saya balik bertanya tentangnya. Ia menjawab satu, saya balas lagi dengan pertanyaan. Saya suka dengan cerita-ceritanya. Di akhir pertemuan, kami baru saling bertukar nama. Saya yang mengajak lebih dulu. Maksud utamanya, biar ambisi yang tiba-tiba muncul itu jadi punya nama jelas: "Saya ingin menjadi penjelajah seperti pak Saleh."
Pak Saleh adalah pria paruh baya. Ia datang ke Medan atas nama liburan. Meski sudah berkeluarga dan mereka bisa dapat jatah terbang gratis dari maskapai penerbangan tempat pak Saleh kerja, ia memilih datang berlibur ke Indonesia sendiri. "Saya selalu menyempatkan liburan," tukasnya dalam Inggris, ketika kami di dalam bus,"setidaknya seminggu dalam setahun. Mengunjungi negara lain."
Ya, dia travelling sendirian, dan ia sudah terbiasa melakukannya. Ia lanjut bercerita sementara saya mengunci satu pertanyaan yang muncul di kepala. Ia bercerita tentang kunjungannya ke Bukit Lawang melihat orangutan, tentang kekecewaannya dengan masyarakat serta pemerintah yang kurang memaksimalkan potensi pariwisatanya; serta sebalnya ia dengan kultus backpacking yang menurutnya nggak menguntungkan industri pariwisata.
"Saya pernah ke Nepal. Di sana banyak backpacking. Mereka maunya gratis terus. Dan seharian lebih sering nyantai sambil mengisap marijuana," kenangnya saya sambut dengan ketawa.
Pendidikan yang Merata(p)
Awal mulanya pendidikan, saya yakin, adalah agar kita bisa mencapai pengetahuan yang sebelumnya hanya dimiliki sebagian orang saja, terutama mereka yang punya kuasa. Sehingga kita semua sama rata: bisa punya modal yang sama dalam membuka peta, melihat dunia yang sebelumnya gelap, menafsir realita, dan menjalani kehidupan.
Kita belajar matematika, agar bisa sama-sama berhitung berapa barang yang kita dapat dengan jumlah uang tertentu. Kita belajar geografi agar sama-sama tahu bahwa ada negara ini, negara itu. Sehingga kita sama-sama punya kesempatan untuk memilih negara mana yang akan kita kunjungi suatu saat nanti, jika mau.
Pendidikan, yang saya yakini, bertujuan agar mengejar mereka yang lebih tau untuk kemudian kita buat kita dan dia jadi sama-sama tahu. Jika kita sama-sama tahu, kita sama rata. Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah. Tak ada hirarki.
Tapi nyatanya, gara-gara pendidikan pula, feodalisme dalam diri kita malah tumbuh. Ketika kita sudah lulus dari strata pendidikan tinggi tertentu, kita gatal ingin membawa gelar kemanapun nama kita ditulis: di KTP, di absen kelas, di undangan nikah, di stiker anggota keluarga yang ditempel kaca mobil. Semacam ada niat untuk mengukuhkan diri bahwa kita sudah lebih tinggi dari yang lain. Kita meluhurkan dua-tiga huruf yang menyusun gelar, tapi lupa membumikan ilmu.
Di ujung masa SMA, kita memang belajar, tapi yang kita tuju bukanlah pemanfaatan ilmu untuk praktek kehidupan bersama, melainkan untuk mengejar nilai setinggi-tingginya, untuk kepentingan kita sendiri, yaitu agar terbukti berprestasi dan diri kita dianggap layak dipertimbangkan untuk masuk universitas yang bergengsi, yang ketika kita masuk ke sana, kita bisa membanggakan kampusnya. Soal kebermanfaatan ilmunya nanti dipikirkan, kalau akan ikut lomba.
Pendidikan jadi mengandung politik. Siapa yang punya uang, bisa dibukakan jalan untuk dapat kursi di universitas tertinggi. Tempat-tempat bimbel nggak pernah sepi. Guru-guru di sekolah berlomba-lomba pulang cepat, agar tidak telat memberi les berfulus pada muridnya yang ingin nilai bagus.
02 Oktober 2016
Taman
Di kamus yang ada di sekolah, kamu adalah sinonim dari taman.
Pantas saja tiap bel selesai sekolah berbunyi
Para anak-rindu berlarian menujumu.
Mereka membawa tugas-tugas,
tapi untuk dilupakan.
"Di sana kami belajar, kok, Bu" kata satu anak rindu pada guru bahasa Indonesia yang sempat menghadang, "Kami belajar menerjemahkan kebahagiaan."
Ketika bermain di sana
mereka juga sering lupa makan.
Tapi tiap pulang, anak-rindu bertambah besar.
Pantas saja tiap bel selesai sekolah berbunyi
Para anak-rindu berlarian menujumu.
Mereka membawa tugas-tugas,
tapi untuk dilupakan.
"Di sana kami belajar, kok, Bu" kata satu anak rindu pada guru bahasa Indonesia yang sempat menghadang, "Kami belajar menerjemahkan kebahagiaan."
Ketika bermain di sana
mereka juga sering lupa makan.
Tapi tiap pulang, anak-rindu bertambah besar.
12 September 2016
Sebelum Amin
Seorang guru bertanya pada muridnya,
"apa yang kau lakukan
untuk meredamkan haru
yang tak keruan,
harap yang parah,
serta gundah yang berbuah?"
"Aku solat malam.
Diiringi lagu-lagu Sigur Ros.
Aku curhat tak kenal ongkos."
"Tidakkah kamu merasa kafir?"
"Aku merasa khusyuk."
"Mereka nasrani."
"Mereka ciptaan Tuhan kita."
"Doamu hanya akan diantar malaikat magang."
"Anak magang paling suka diberi pekerjaan.
barangkali doaku akan lebih banyak difotokopinya.
lalu ditempel di salah tempat: di pintu WC,
di kaca belakang angkot,
atau dijidatnya sendiri.
Banyak yang mengamini."
"Apa isi doamu?"
"Aku berdoa, semoga semua doa dikabul,
kecuali doamu."
"apa yang kau lakukan
untuk meredamkan haru
yang tak keruan,
harap yang parah,
serta gundah yang berbuah?"
"Aku solat malam.
Diiringi lagu-lagu Sigur Ros.
Aku curhat tak kenal ongkos."
"Tidakkah kamu merasa kafir?"
"Aku merasa khusyuk."
"Mereka nasrani."
"Mereka ciptaan Tuhan kita."
"Doamu hanya akan diantar malaikat magang."
"Anak magang paling suka diberi pekerjaan.
barangkali doaku akan lebih banyak difotokopinya.
lalu ditempel di salah tempat: di pintu WC,
di kaca belakang angkot,
atau dijidatnya sendiri.
Banyak yang mengamini."
"Apa isi doamu?"
"Aku berdoa, semoga semua doa dikabul,
kecuali doamu."
21 Agustus 2016
Kapan Terakhir Kali Lo Ngerasa Puas?
"Kemarin. Gue, kan, naik gunung. Terus pas di puncak foto lagi ngadep belakang. Pas turun gunung, gue post ke Instagram. Yang nge-like banyak banget! Sampe kakeknya mantan gue juga nge-like juga."
"Beberapa hari lalu bos gue mengumumkan penulis yang paling banyak bikin artikel untuk Web. Nggak ada yang tau kalau si bos ngitungin jumlah artikel yang kami tulis. Dan ternyata gue yang paling banyak. Lebih banyak empat artikel dari yang temen yang gue kira rajin malah. Terus si bos ngasih hadiah gitu di depan temen-temen gue."
"Setelah seharian hunting Pokemon di Dufan, akhirnya gue menemukan Pikachu bercula satu. Puas banget. Rasanya pengen nyantumin prestasi gue itu di curicullum vitae, deh."
"Sepulang dari Thailand minggu lalu. Jadinya, gue udah traveling ke semua negara Asean."
"Momen ketika gue ngeliat buku karangan gue ada di rak best seller tanpa nyogok toko buku sepeser pun."
"Kemaren artis yang gue wawancara ngepost artikel gue di IGnya. Sampai mention gue segala. Tau dari mana ya dia akun gue. Emang gue seterkenal itu?"
Apa yang terjadi kalau dalam kurun waktu yang lama, ternyata kamu belum pernah merasakan puas sekalipun? Betapapun kamu sudah mengingat-ingat dengan baik segala momen yang terjadi, tetap saja nggak menemukan sesuatu yang sudah bikin kamu puas.
Kamu perlu melakukan sesuatu. Puas itu bukan hanya ketika hasrat kita terpenuhi dengan baik, bahkan, puas itu adalah kebutuhan. Percayalah.
Jika dalam kurun dua tahun--apalagi jika umurmu 25--kamu belum melakukan sesuatu yang bikin puas lahir batin, maka ada dua kemungkinan yang terjadi pada hidupmu. Pertama, kamu depresi. Kamu terlalu berusaha untuk memuaskan dirimu sendiri, tapi gagal selalu. Kegagalan yang menumpuk adalah makanan sehat yang bikin depresi tumbuh berkembang. Depresi bisa menjadi tumbuh menjadi pohon lebat yang membayangimu. Menghalangimu. Membuat nelangsamu mengakar sehingga kamu nggak bisa bergerak.
Kedua, kamu terbiasa dengan hidup yang biasa. Nasib akan memvonismu untuk menjalani hidup yang biasa. Kamu tetap bisa bahagia--toh, kita bisa bahagia dari hal-hal yang sederhana--tapi kamu nggak bisa merasa puas. Nggak ada yang salah dengan hidup biasa. Tapi, nggak ada yang biasa dengan hidup yang salah. Sekali lagi, percayalah.
Jadi, lakukan sesuatu. Terus. Sampai ketika kamu menceritakan apa yang kamu lakukan itu, kamu nggak bisa membedakan kapan kamu riya, kapan kamu bangga. Kamu selalu ingin menceritakan apa yang kamu lakukan itu.
20 Agustus 2016
Kata Wasit
Kamu bertarung tanpa memenangkan apa-apa.
Kamu malah menumbangkan ketakutan-ketakutan
yang bergentanyangan di luar gelanggang,
yang bergentanyangan di luar gelanggang,
lalu mengusir penonton
sementara lawanmu pulang.
14 Agustus 2016
Memilih Warna Topi Saat Menulis
"Tugas jurnalis adalah menafsir fakta," kata St Kartono, pengamat media cum guru cum ahli bahasa Indonesia, di pelatihan jurnalistik dasar dari kantor yang saya ikuti minggu lalu.
Sebenarnya, bukan jurnalis saja yang menafsir fakta, melainkan seluruh kreator (kita juga bisa menganggap bahwa semua manusia adalah kreator. Senggaknya kreator pemikiran mereka sendiri). Segala yang dialami kreator dalam realitasnya diracik dalam pikirannya lalu dituangkan menjadi sebuah karya yang dikonsumsi orang banyak. Bukan begitu?
Namun, jurnalis dan fakta itu sudah seperti presiden dan negara. Memang itulah alasan mereka ada. Jurnalis hadir di sebuah tempat, mengumpulkan fakta, lalu membeberkannya lewat tulisan.
Proses pembeberan fakta menjadi tulisan itu adalah proses tafsir.
Nyatanya, menafsirkan fakta itu butuh keahlian khusus. Butuh wawasan yang luas dan kreativitas. Itulah mengapa menulis jadi menantang (untuk nggak menyebut susah dan menyeramkan). Miskin wawasan bikin tulisan nggak bergizi, miskin ide bikin tulisan kita hambar ya mentok-mentok cuma jadi kayak transkrip wawancara atau catatan kronologis suatu peristiwa saja.
Lalu bagaimana cara agar kita bisa mengembangkan ide tulisan?
Mas "Rio" Junior Respati menawarkan jawabannya di kelas Pengembangan Gagasan kemarin. Hal pertama yang bisa kita lakukan adalah dengan memetakan pikiran (mindmapping). Jabarkan poin-poin penting dan khas dari data yang kita dapat. Dari situ ide-ide akan muncul.
"Tapi ide yang pertama muncul itu harus kita buang. Karena pasti ide itu terlalu umum. Nggak menarik," tegas mas Rio.
Misalnya, ketika ingin menulis hasil wawancara sebuah band punk religius, ide yang pertama muncul adalah menuliskan kontradiksinya profil band tersebut. Percayalah, ide pertamamu itu pasti muncul juga di pikiran penulis-penulis di media lain yang mewawancara band tersebut.
Kiat kedua adalah dengan adu gagasan (brainstorming). Itulah mengapa rapat redaksi, atau senggaknya rapat dengan teman satu desk perlu. Untuk adu gagasan. Bukan cari gagasan mana yang dimenangkan, melainkan untuk memperkaya sudut pandang, sehingga bisa menemukan ide terbaik untuk mengemas tulisan.
"Adu gagasan bukan untuk menguji ide, tetapi mengembangkannya," kata mantan redaktur pelaksana majalah HAI itu. Ya, jadi jangan bawa ide yang masih mentah (belum kuat datanya) ke arena adu gagasan, ya kak. We need voice, not noise.
Selain itu, ada cara lain yang bisa membantu kita mengarahkan ide tulisan, yaitu dengan memilih warna topi dari teori Six Thinking Hat gagasan Edward de Bono, seorang psikolog dari Malta. Sebenernya, teori ini dikhususkan untuk mengarahkan proses pengambilan keputusan dan penentuan sikap dalam suatu kelompok. Namun, menurut mas Rio, teori ini cocok untuk mengarahkan proses berpikir kreatif dalam menulis. Saya sepakat.
Ada enam warna topi yang bisa kita pakai. Masing-masing memengaruhi yang ingin kita tuangkan dari kepala kita ke sudut pandang tertentu.
White hat. Dengan bertopi putih, yang ada di kepala kita adalah fakta bersih. Tulisan yang kita hasilkan berisi kumpulan data dan informasi saja. Lempeng alias straight. Pertanyaan yang kita jawab adalah: informasi apa yang kita punya, informasi apa yang belum utuh, dan informasi apa yang sebaiknya kita punya.
Yellow hat. Saat memakai topi ini, pikiran kita secerah kuning. Kita mengeksplor hal positif dari subyek atau obyek yang kita kaji. Ketika menulis artikel profil misalnya, dengan bertopi kuning, kita akan menceritakan kehebatan dan sisi baiknya saja. Tanpa kritik apalagi cela. "Segala sesuatu pasti ada hikmahnya" begitulah slogan topi pikiran ini.
Black hat. Kita akan membuat tulisan kritik. Kita mengamati fenomena dengan picik. Skeptis mencari kesalahan. Namun, seluruh kritik itu berdasarkan data dan logika yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam kampanye, black campaign, toh, dipersilakan. Mengungkap fakta negatif bisa membantu khalayak untuk menentukan sikap kan? Kritik alias nyinyir itu gampang dan menyenangkan (guilty pleasure, isn't it?). Karena itu perlu diperhatikan, terlalu banyak menggunakan topi ini bikin kreativitas kita juga takut sama kenyinyiran itu.
Blue hat. Pikiran kita menjadi langit yang bisa melihat banyak pikiran-pikiran lain. Ya, dengan blue hat kita merangkum opini-opini dan data-data dari sumber-sumber lain. Lalu merumuskannya menjadi satu tulisan utuh. Saya menduga, blue hat dipakai tepat dipakai ketika kita menulis artikel dari hasil kurasi artikel-artikel lainnya.
Green hat. Data-data yang kita kumpulkan kita racik dalam pikiran. Lalu di tulisan, kita mengusulkan sebuah ide baru. "Dengan green hat, kita beropini dan menawarkan ide baru," kata mas Rio. Kreativitas sangat berperan di teknik ini.
Red hat. Kita menumpahkan perasaan dan emosi pada tulisan. Marah-marah, sebal, sedih, overexcited, atau merasa nihil, bisa disampaikan. Bukankah terkadang kita perlu membuka perasaan kita seada-adanya? Dengan topi merah, kita tak perlu meminta maaf untuk mencurahkan perasaan.
Topi mana yang perlu kita pakai? Menurut saya, sih, semuanya bisa dipakai, dan perlu kita coba pakai satu per satu.
Kesimpulannya, menulis--menafsirkan fakta--itu tak cuma butuh data dan ide saja ternyata, tetapi juga tujuan. Semoga kiat-kiat di atas bisa membantu kita menulis sampai selesai. Nggak buntu bahkan sebelum memulai.
09 Agustus 2016
Menulis Bebas (3) - Yang Melintas Sembari Bermotor
1.
Kamu tahu nggak kenapa sih bisa sampai ada profesi pemikir? Sering kali aku temui di tulisan esai, tokoh yang dikutip disebut sebagai pemikir. Misalnya, "Yusuf, seorang pemikir dari desa Sukaminggir, bilang bahwa..."
Bukankah kita semua ini adalah pemikir. Maksudku, memangnya ada manusia yang tidak berpikir? Apa yang lantas membuat ada satu orang yang malah dilabeli secara khusus sebagai pemikir? Kalau pun mau begitu, berarti di kemudian akan ada seseorang yang akan disebut sebagai penapas. Wah menarik sekali. “Rizki, seorang penapas dari Padepokan Lenteng Agung, berpendapat bahwa…”
Barangkali, mereka yang secara khusus disebut sebagai pemikir adalah mereka yang pemikirannya mumpuni. Kualitas pengalaman dan pengetahuannya, membuat proses berpikirnya jadi menghasilkan suatu pemikiran yang kredibel.
Nah, untuk mencapai kualitas pemikiran yang seperti itu, berarti orang-orang itu mesti suka berpikir dong? Tapi mengapa aku belum pernah menemukan ada orang yang ketika mengisi formulir biodata menulis bahwa hobinya adalah berpikir.
Mungkin itu beresiko mengundang tanya, dan mereka malas diserang oleh tatapan yang menunjukkan kalau seseorang itu memikirkan mereka dalam-dalam. Semacam terancam. Karena apa? Karena mereka juga memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang pikiran mereka. Ujung-ujungnya, mereka diserang sama pikiran mereka sendiri.
Begitu juga dengan budayawan. Kalau sekedar dilihat dari katanya saja—terlepas dari arti Wikipedia—budayawan tuh kayak berarti orang yang berbudaya. Tapi, apa iya orang yang berbudaya itu hanya segelintir saja? Bukannya kita semua punya budaya khas masing-masing?
Abaikan.
2.
Minggu kemarin, menteri pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan rencana peraturan baru: dia mau bikin aturan yang mengharuskan siswa berada seharian di sekolah. Konon, cuma untuk siswa sekolah dasar dan SMP saja.
Temen-temeku yang masih SMA kesal mendengar berita itu. Apalagi, pak menteri bilang kalau anak muda zaman sekarang itu bermental lembek. Nggak ada uraian data tentang penilaiannya atas anak muda itu bikin mereka makin tersinggung.
Apa kaitan mental lembek dengan berada seharian di sekolah? Jangan-jangan kegiatan selama seharian di sekolah nanti adalah kegiatan yang membuat mental anak menjadi sekeras sol sepatu lars. Semoga “jangan-jangan” ini hanya angan-angan.
3.
Menurutlu apa yang akan terjadi kalau semua buka 24 jam?
Coba bayangkan kalau sekolah buka 24 jam, dan tanpa ada aturan bahwa siswa harus berada sehari penuh di sekolah. Akankah kita tetap merasa terancam, atau malah kita girang?
Apa yang membuat sebuah toko buka 24 jam? Ya karena kebutuhan akan makanan (atau jajanan) bisa datang kapan saja, termasuk saat dini hari atau jelang subuh.
Nah, akankah kita sampai pada keadaan ketika kebutuhan akan bimbingan pendidikan bisa datang kapan saja? Coba bayangkan ada temanmu yang tiba-tiba minta diantar ke sekolah pada pukul 2 pagi, hanya karena tiba-tiba butuh belajar sejarah terbentuknya dunia ke guru geografi demi bisa menjelaskan arti mimpinya.
Hmm…
4.
Seorang menteri perhubungan pernah bilang begini: “Lebih baik nggak berangkat daripada nggak bisa pulang.”
Terlepas dari kenyataan bahwa ucapan tersebut keluar demi membatasi jumlah pemudik, mengurangi tingkat kemacetan dan menekan angka kecelakaan, tapi bagiku ucapan itu menyinggung. Coba saja suruh para penggila traveling baca kalimat itu.
Kurang lebih, ucapan itu senada dengan: “Lebih baik nggak pacaran daripada nggak bisa move on di kemudian hari”
Wahai pak menteri perhubungan, kok kamu malah menghambat hubungan terbina. Biarlah risiko yang ada ditanggung masing-masing pelakunya saja.
Coba bapak baca nih ucapan Jean Marais kepada Minke: "cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mengikutinya."
Gimana?
5.
Apapun yang keluar dari mulut kita adalah pendapat kita. Tapi mengapa kita sering memulai pendapat dengan kata “menurutku”, atau “menurut pandangan saya”?
Tiap kali ada yang berpendapat dengan “menurutku” di awal kalimat, aku bisa menduga bahwa ia sungkan dengan pendapatnya itu. Semacam meminta pemakluman, bahwa apa yang terucap hanya sesuatu yang sangat subyektif. Nggak ada dasar konsep, logika, atau bukti teruji yang mewakili banyak pihak. Semacam, “nggak tau yah, itu menurut gue aja sih. Hehe,” gitu.
Kamu tahu nggak kenapa sih bisa sampai ada profesi pemikir? Sering kali aku temui di tulisan esai, tokoh yang dikutip disebut sebagai pemikir. Misalnya, "Yusuf, seorang pemikir dari desa Sukaminggir, bilang bahwa..."
Bukankah kita semua ini adalah pemikir. Maksudku, memangnya ada manusia yang tidak berpikir? Apa yang lantas membuat ada satu orang yang malah dilabeli secara khusus sebagai pemikir? Kalau pun mau begitu, berarti di kemudian akan ada seseorang yang akan disebut sebagai penapas. Wah menarik sekali. “Rizki, seorang penapas dari Padepokan Lenteng Agung, berpendapat bahwa…”
Barangkali, mereka yang secara khusus disebut sebagai pemikir adalah mereka yang pemikirannya mumpuni. Kualitas pengalaman dan pengetahuannya, membuat proses berpikirnya jadi menghasilkan suatu pemikiran yang kredibel.
Nah, untuk mencapai kualitas pemikiran yang seperti itu, berarti orang-orang itu mesti suka berpikir dong? Tapi mengapa aku belum pernah menemukan ada orang yang ketika mengisi formulir biodata menulis bahwa hobinya adalah berpikir.
Mungkin itu beresiko mengundang tanya, dan mereka malas diserang oleh tatapan yang menunjukkan kalau seseorang itu memikirkan mereka dalam-dalam. Semacam terancam. Karena apa? Karena mereka juga memikirkan apa yang dipikirkan orang lain tentang pikiran mereka. Ujung-ujungnya, mereka diserang sama pikiran mereka sendiri.
Begitu juga dengan budayawan. Kalau sekedar dilihat dari katanya saja—terlepas dari arti Wikipedia—budayawan tuh kayak berarti orang yang berbudaya. Tapi, apa iya orang yang berbudaya itu hanya segelintir saja? Bukannya kita semua punya budaya khas masing-masing?
Abaikan.
2.
Minggu kemarin, menteri pendidikan dan kebudayaan mengeluarkan rencana peraturan baru: dia mau bikin aturan yang mengharuskan siswa berada seharian di sekolah. Konon, cuma untuk siswa sekolah dasar dan SMP saja.
Temen-temeku yang masih SMA kesal mendengar berita itu. Apalagi, pak menteri bilang kalau anak muda zaman sekarang itu bermental lembek. Nggak ada uraian data tentang penilaiannya atas anak muda itu bikin mereka makin tersinggung.
Apa kaitan mental lembek dengan berada seharian di sekolah? Jangan-jangan kegiatan selama seharian di sekolah nanti adalah kegiatan yang membuat mental anak menjadi sekeras sol sepatu lars. Semoga “jangan-jangan” ini hanya angan-angan.
3.
Menurutlu apa yang akan terjadi kalau semua buka 24 jam?
Coba bayangkan kalau sekolah buka 24 jam, dan tanpa ada aturan bahwa siswa harus berada sehari penuh di sekolah. Akankah kita tetap merasa terancam, atau malah kita girang?
Apa yang membuat sebuah toko buka 24 jam? Ya karena kebutuhan akan makanan (atau jajanan) bisa datang kapan saja, termasuk saat dini hari atau jelang subuh.
Nah, akankah kita sampai pada keadaan ketika kebutuhan akan bimbingan pendidikan bisa datang kapan saja? Coba bayangkan ada temanmu yang tiba-tiba minta diantar ke sekolah pada pukul 2 pagi, hanya karena tiba-tiba butuh belajar sejarah terbentuknya dunia ke guru geografi demi bisa menjelaskan arti mimpinya.
Hmm…
4.
Seorang menteri perhubungan pernah bilang begini: “Lebih baik nggak berangkat daripada nggak bisa pulang.”
Terlepas dari kenyataan bahwa ucapan tersebut keluar demi membatasi jumlah pemudik, mengurangi tingkat kemacetan dan menekan angka kecelakaan, tapi bagiku ucapan itu menyinggung. Coba saja suruh para penggila traveling baca kalimat itu.
Kurang lebih, ucapan itu senada dengan: “Lebih baik nggak pacaran daripada nggak bisa move on di kemudian hari”
Wahai pak menteri perhubungan, kok kamu malah menghambat hubungan terbina. Biarlah risiko yang ada ditanggung masing-masing pelakunya saja.
Coba bapak baca nih ucapan Jean Marais kepada Minke: "cinta itu indah, Minke, juga kebinasaan yang mengikutinya."
Gimana?
5.
Apapun yang keluar dari mulut kita adalah pendapat kita. Tapi mengapa kita sering memulai pendapat dengan kata “menurutku”, atau “menurut pandangan saya”?
Tiap kali ada yang berpendapat dengan “menurutku” di awal kalimat, aku bisa menduga bahwa ia sungkan dengan pendapatnya itu. Semacam meminta pemakluman, bahwa apa yang terucap hanya sesuatu yang sangat subyektif. Nggak ada dasar konsep, logika, atau bukti teruji yang mewakili banyak pihak. Semacam, “nggak tau yah, itu menurut gue aja sih. Hehe,” gitu.
28 Juli 2016
Kucing Dimakan Kota
Pagiku tadi rusak,
Aku menyaksikan langsung kucing tertabrak.
Ingin menyebrang jalan raya,
kucing itu melompat tanpa kuda-kuda.
Baru satu lompatan ia mundur.
Namun nyalinya belum kendur,
Ia menyebrang lagi.
Kali itu berlari, tanpa lihat kanan kiri.
Motor-motor juga berlari kencang,
tanpa lihat atas bawah.
Kucing di kota beda dengan kucing di hutan.
Kucing kota bisa ikut makan daging sapi, kerbau, atau ikan laut.
Kucing hutan mana bisa.
Tapi kucing kota sering digilas bebek.
Kucing hutan mana mungkin.
Kucing hutan dan kucing kota punya permintaan yang sama.
Mereka butuh menteri yang khusus mengurus satwa
Kucing hutan tak ingin diciduk lalu dipaksa bekerja
jadi kucing penghibur keluarga,
Kucing hutan tak ingin juga ketika nyawanya pergi,
jasadnya diawetkan, dipajang di museum negara.
Kucing kota menuntut pemerataan pembagian Kaskin,
Whiskas untuk kucing miskin.
Kucing kota juga ingin memohon pendidikan menyeberang,
agar ketika ada yang nyawanya terusir di jalan, mayatnya yang gepeng nggak jadi tontonan.
Aku menyaksikan langsung kucing tertabrak.
Ingin menyebrang jalan raya,
kucing itu melompat tanpa kuda-kuda.
Baru satu lompatan ia mundur.
Namun nyalinya belum kendur,
Ia menyebrang lagi.
Kali itu berlari, tanpa lihat kanan kiri.
Motor-motor juga berlari kencang,
tanpa lihat atas bawah.
Kucing di kota beda dengan kucing di hutan.
Kucing kota bisa ikut makan daging sapi, kerbau, atau ikan laut.
Kucing hutan mana bisa.
Tapi kucing kota sering digilas bebek.
Kucing hutan mana mungkin.
Kucing hutan dan kucing kota punya permintaan yang sama.
Mereka butuh menteri yang khusus mengurus satwa
Kucing hutan tak ingin diciduk lalu dipaksa bekerja
jadi kucing penghibur keluarga,
Kucing hutan tak ingin juga ketika nyawanya pergi,
jasadnya diawetkan, dipajang di museum negara.
Kucing kota menuntut pemerataan pembagian Kaskin,
Whiskas untuk kucing miskin.
Kucing kota juga ingin memohon pendidikan menyeberang,
agar ketika ada yang nyawanya terusir di jalan, mayatnya yang gepeng nggak jadi tontonan.
08 Juli 2016
Maja Nowadays
There are always awesomeness from my home town. I’m still surprise how Maja, village in Lebak, Banten--i assume as a remote area--will be a public town in near future.
In these past two years, the infrastructur development is so rapid. The train station wasn't proper, now, it’s become huge and neat. The market in front of it also , so people could easily go by.
With the commuter line, we can directly go to Tanah Abang from maja. It only take one hour and half trip. Maja become accesible
My Dad now more often go to Maja by train. From my house in Ciledug, he drive to Jombang Staion, Tangerang Selatan. He parked the car there, and he took the train.
He enthusiastically told his siblings that facility. That’s why since two years ago, we could experienced homecoming trip (mudik) like others family, by train. Usually we go by car. Though it only a short trip, it brings a new experiences especially for the kids.
Last year, we're set a parking lot in front yard of Abah(my grandpa)’s house which located only 100 meter from the station. Its helped people who commute daily to Jakarta by train. “The parking lot name should be Maja Maju,” i suggested to my family.
But now, the parking lot business went down. Since the train station is also set a spacious parking lot with low price.
There also a news that Lion Air company gonna build an airport in 1.700 Ha area here. But then, The ministry of transportation don’t give their agreement.
Last, try to “google” Maja. There are numbers of news about a cheap new house sold here. It’s only IDR 100 million for sure. Unfortunately, that’s last year news. Now, the house are sold in around IDR 500 million. Better luck next time, friends.
04 Juli 2016
Notifikasi Kentut Stroberi Gila
Seperti Brown yang dicium Conny saat James membanting gelas,
Seperti event credite gratis di LINE
Kamu bagaikan suara kentut yang tiba-tiba datang dan meninggalkan ampas,
"Mana kentutku?" tanyanya
"Ampasmu bau" celetuknya
Bau kentutmu hilang ditelan bau hujan,
Seperti event credite gratis di LINE
Kamu bagaikan suara kentut yang tiba-tiba datang dan meninggalkan ampas,
"Mana kentutku?" tanyanya
"Ampasmu bau" celetuknya
Bau kentutmu hilang ditelan bau hujan,
Suara "tut"-nya pun ditiban suara azan,
Bisa kah kita kentut sekali lagi?
Di ruang gelap itu, di mana kentut kita menjadi satu. Aku merindukannya, sangat merindukannya,
Namun sayang sekali, kentut itu hanyalah kentut biasa, tidak seperti kentut sebelum-sebelumnya,
Namun sayang sekali, kentut itu hanyalah kentut biasa, tidak seperti kentut sebelum-sebelumnya,
yang selalu meninggalkan aroma stroberi hangat yang menyelemuti semua orang di seluruh ruangan ini
Di mana kentut-kentut ku yang seperti sebelum-sebelumnya?
Di mana kentut-kentut ku yang seperti sebelum-sebelumnya?
Di mana kalian oh, para pengentut menyimpannya?
"Penguntit mengambilnya!" teriak Brown.
Kepada rumput yang sedang berdansa, Conny mengadu.
"Penguntit mengambilnya!" teriak Brown.
Kepada rumput yang sedang berdansa, Conny mengadu.
Polisi sudah mencari-carinya hingga ke ujung Bekasi,
tak satu pun ditemukan penguntit yang menggunakan suara kentut sebagai tone notifikasi.
"Ternyata hanya sebuah notifikasi," James meletakkan gelasnya kembali.
lagi, dilihatnya Brown yang dicium Conny. Kali ini banyak polisi, para pengentut tidak pernah menjadi seorang penguntit. James hanya terbakar api cemburu dan tenggelam dalam khayalan fana. Semua tidak nyata.
Namun tiba-tiba semua hal tidak menjadi khayalan dan fana, kejadian ini benar-benar terjadi,
Suara kentut dan aroma hangat yang menyelimuti para polisi, semakin memeluk erat
"KENTUT INI BEREVOLUSI, TOLONG!!!" Kata salah satu pemilik Pokemon yang badannya diselimuti oleh kentut.
Tak satu pun ada yang menolongnya,
Tak satu pun ada yang membantunya, hingga sekaliber Pokemon pun takut dibuatnya.
Oh, kentut gila. Berhentilah
Oh, kentut ia.
Akuilah!
Akuilah semua keampasanmu!
Akuilah semua kebusukanmu!
Akuilah semua
penguntitmu!
Bekerja dengan siapa saja dalam merusak aroma stroberi itu?
---
Puisi ini dibuat secara berantai pada Senin dini hari menjelang sahur oleh gue (28), Fahni (16), Fadel (18), dan Nabyl (17) pada sebuah group chat LINE setelah membaca blognya Mario (15) dan disimak oleh Andara (16) di sela-sela permainan DOTA2nya.
Langganan:
Postingan (Atom)












