"Saya percaya bahwa dalam hidup ini, tidak ada yang namanya kebenaran sejati, yang ada hanyalah kepercayaan dan keyakinan, sementara kebenaran sejati hanyalah Tuhan yang memiliki dan mengetahuinya"
Karena alasan akademis yang terus molor, Desember kemaren saya memutuskan untuk pura-pura lupa kalau saya suka sekali motret, apalagi saat itu (masih sampe sekarang) saya sedang norak-noraknya dengan fotografi analog. Sampe akhirnya rol dengan canister putih ini datang ke rumah membuat hati berbinar dan semangat untuk motret (lagi) terbakar. halah
Semua kamera saya taro di lemari, bahkan tiap bagian dari kamera digital saya simpan di dua tempat berbeda, bodi kamera dan lensa ada di Ciledug, sementara chargernya ada di Jatinangor. Jadi kalau pun saya kebelet banget mau motret cuma bisa sebentar, sampe baterenya habis. haha. Begitu juga dengan kamera analog, kebetulan saat itu lagi nggak punya stok film untuk motret dan rasa depresi karena selalu gagal develop film pun mendukung gerakang mogok motret itu. Kegiatan fotografis saya hanya sebatas main-main ke flickr dan sesekali ngupload stok poto lama.
Hiatus terus berlanjut sampai akhirnya seorang kawan flickr yang sungguh keterlaluan baiknya memberikan empat rol film BW merk Ilford Delta 400. Menurut pengamatan saya dan kemudian dibenarkan oleh pengakuannya, Beliau adalah seorang kapten sebuah penerbangan di Qatar sana, Yoi coy, dia seorang pilot. Om Unggul namanya. Asli Indonesia. Punya istri cakep yang namanya mbak Utie. Mbak utie juga aktif berlalu lalang di flickr. Selain bekerja sebagai pilot, Om okem satu ini adalah aktivis fotografi analog yang suka motret di jalanan. Dia udah gape banget lah sama proses produksi foto dengan medium film, mulai dari motret sampe pencuciannya.
Om Unggul emang apal betul kalo saya sering gagal nyuci film, saya sering mengeluhkan hal itu di flickr sana. Hehehe. Dengan kehadiran film ini saya ketuk palu untuk berhenti dari vakum, dan kembali berfotografi analog ria, dengan santai tapinya. Karena ini pilm mahal n susah didapat udah pasti saya jadi teliti dan hati-hati mencucinya, sampe-sampe saya beli developer yang lebih layak dibanding developer 10ribuan. Tentunya, si Om juga mbimbing saya via YM selama proses pencucian. uhuy.
om Unggul adalah satu dari teman flickr yang ga kalah asik-asik dan baik hati. Menarik rasanya bisa mengamati pertemanan virtual ini, anonim dan tak tesentuh. Walau pun saya jarang terlibat langsung, saya bisa mengamati betapa mereka sudah sangat akrab. saling bertukar kenang-kenangan dan kopi darat sepertinya udah jadi ritual untuk menghangatkan persahabatan. sungguuh uhhh!!
Terima tengkyu Om, smoga suatu saat nanti gua bisa mbales kebaikanmu, kalao gua ga bisa Yaa pasti Tuhan lah yang menggantikan. haha..
Oiya, ini beberapa hasil fotonya. Ya, cuma ada beberapa, karena setengah rolnya kebakar gara-gara saya teledor.. Selain itu, hasil cuciannya atau materingnya masih salah sepertinya. Semoga ini cuma terjadi di rol pertama.
Nama Pinkgirlgowild memang sudah tidak asing lagi bagi para penikmat dan pegiat disain, ilustrasi dan street art (setidaknya begitu lah saya mengenal dia). Tapi bagi pecinta sastra seperti novel atau pun cerpen? Sepertinya tidak. Itu lah yang bikin saya penasaran, sebelumnya Oomleo menerbitkan buku yang isinya cerita-cerita konyol dan absurdnya, dari situ saya pikir bahwa tulisan para ilustrator itu pasti unik.
Gambar cover, judul, dan penulisnya menjadi daya tarik utama bagi saya saat memutuskan membelanjakan Buku yang tipis nan sederhana ini dengan uang jajan yang baru saja dikirim. Apalagi setelah saya tahu bahwa sang penulis terinspirasi dari hal yang saya sukai juga, hal yang sangat sepele sebenarnya, yaitu tulisan di belakang truk. Tulisan-tulisan di belakang truk itu memang sangat unik, curhatan masyarakat kelas bawah yang sangat lugas namun dikemas dengan diksi dan susunan kata yang menggelitik. Contonya, ‘Kutunggu Jandamu’, ‘Doa Ibu’, ‘Janda seperti Perawan’ dan banyak lagi. Dari sekian banyak truk yang menampilkan slogan dibelakangnya, kalimat yang dipilih oleh Pinkgirlgowild ialah ‘Utamakan Istri Muda’.
Saya tahu bahwa setelah saya selesai menulis ini saya bakal nyesel dan nggak nyangka kalau saya sudah sebegitu melankolisnya sampai-sampai hal kayak gini aja harus ditulis apalagi dipublish. Tapi benar-benar aneh rasanya dengan keadaan saya saat ini, saya cemas, kesal dan panik gara-gara skripsi. Padahal jauh sebelum saya memutuskan untuk mulai mengerjakannya, saya merasa sudah berhasil menanamkan sugesti bahwa skripsi itu bukan hal menakutkan, adalah berlebihan jika seseorang terlalu memikirkannya, apalagi sampe stres.
Setiap ada kawan yang mengeluh dan bercerita tentang pengalaman orang atau pengalaman dia dalam pengerjaan skripsi yang bikin stress saya selalu nggak mau percaya, bagi saya dia terlalu berlebihan, dan dia udah teracuni stigmanya oleh pendapat orang-orang. Selain itu, saya juga menanam persepsi bahwa pengerjaan skripsi itu nggak semestinya menyita seluruh keseharian kita. Jadi kita bisa melakukan aktivitas (bekerja, berkarya, atau berorganisasi) beriringan dengan skripsi.
Jika dibandingkan dengan pengalaman PKL jadi reporter, kayaknya skripsi nggak jauh beda dengan menulis sebuah artikel. Kita mengangkat isu yang temanya disesuaikan dengan program studi kita, lalu kita bahas itu secara mendalam dengan wawancara orang-orang yang terkait dan browsing-browsing info lain untuk nambah wawasan. Nah, bukannya skripsi juga seperti itu, cari masalah atau isu yang ingin dikaji, lalu dibahas. Bahkan masalahnya disesuaikan dengan keinginan dan kesanggupan kita, nggak seperti di media. Selain itu, jika berorientasi pada kuantitas, penulisan skripsi bisa dengan mudahnya mencapai puluhan halaman karena spasinya 2, pun marginnya diperluas lagi. Sumber datanya kita dapet dari wawancara juga, bahkan jumlah orang yang harus diwawancara kadang lebih sedikit dengan saat ngebuat berita/artikel. Nah, kenapa bikin artikel/berita aja paling lama hanya seminggu, mengapa skripsi lama banget. Yang membuat skripsi dan artikel itu berbeda ialah metodologi dan teori. Dalam penulisan skripsi semua itu harus di bahas secara rinci. Padahal sebenernya dalam penulisan artikel biasa kita juga menggunakan metode tertentu tapi rasanya nggak sampe harus mesti dibahas dan tidak mengikat atau kaku..
Sebenernya gua bukan anak yang suka banget sama musik, gua nggak ngikutin perkembangan musik dan gua juga nggak begitu tau lagu-lagu apa yang sedang dan sudah ngehip. Tapi bagi gua musik itu ialah salah satu temen untuk meramaikan susasan dan paling pas un mendampingi tiap suasana hati yang berubah-ubah. Musik jadi temen untuk kita mengekpresikan perasaan.
Nah, Berikut ini sejumlah lagu yang tanpa gua sadari tercatat sebagai lagu yang paling sering di putar di music player gua. Dan ternyata yang menduduki posisi lima besar itu datang dari musik yang cenderung melankolis, gloomy, dan sentimentil. Hadoohhh ketauan deh aslinya. haha. Tapi di luar itu gua juga masih suka denger lagu-lagu lama jaman SMA, macem blink182, the Ataris haha. bahkan tercatat juga lagu soundtrack dari serial kartun Hunter x Hunter. haha. Itu asik coy lagunya. penuh motivasi.
1. I Spell It Nature - Ducks Fly Together
Beneran kaget pas liat lagu ini ada di urutan pertama, walau pun gua sering ngeplay tapi kayaknya frekuensinya nggak banyak. I Spell It Nature itu adalah band indie yang beraliran postrock, gua nemu lagu-lagu mereka ini di forum postrocknya Kaskus. Yang gua suka dari lagu ini itu beatnya yang membawa hawa yang sentimentil, penuh pergolakan jiwa (halah), Sering gua dengerin kalau lagi kusut.
2. Sigur Ros - Untitled #3
musik minimalis tapi fantastis. Sepanjang lagu kita hanya disuguhkan repetisi suara piano yang diiringi biola yang mengisi penuh suasana. Pelan-pelan kita diajak untuk menyelami diri, hingga di akhir lagu, ketika kita sudah merasa sampai ke puncak penyelaman musik pun naik oktaf. sungguh terlalu
3. Polyester Embassy - Blur
Band asal Bandung ini emang punya warna musik yang khas dan asik banget pren. Banyak orang bilang sih, musik mereka beraliran shoegaze, tapi persetan lah dengan aliran. Gua suka lagu ini baik dari musiknya mau pun liriknya. salah satu potongan lirik yang paling ngena: "I'm Blind, but you cry for me, it's real fake you and me," ah, betapa dunia ini penuh kepalsuan. haha.
4. Death Cab For Cutie - What Sarah Said.
Another galau song lah ini mah.. haha.. pertama kali gua jatuh cinta sama lagu ini tuh gara-gara intro pianonya.. Melting. Kalau liat dari videoklipnya sih kayaknya ni lagu bercerita tentang kegalauan seseorang yang sangat mendalam, sampai orang yang paling dekat dengannya pun nggak bisa mengobati. Uhhhh
5. Afterklang - Step Aside.
Rada berbeda dengan yang lain, band asal Swedi yang anggotanya banyak ini mengedepankan unsur elektronik dalam musiknya.
6. The Milo - Stetoskop
7. I Spell It Nature - of, relating to, or resembling a collosus
8. Laura - We Are Mapping Your Dream
9. Weezer - Memories
10. Blink182 - Another Girl Another Planet
11. Dashboard Confessional - Belle of The Boulevard
12. Weezer - Trainwreck
13. Efek Rumah kaca -
14. TOE - I Do Still Wrong
15. Weezer - Smart Girls
16. Angel and Airwaves - It Hurts
17. The Ataris - So Long Astoria
18. The Beatles - Ticket To Ride
19. Blink182 - Man overboard
20. Soundtrack Hunter x Hunter - Selamat Pagi
21. blink182 - Stockholm Syndrome
22. Everlasting Love - Club8
23. Laura - Every light
24. Weezer - Where's My Sex
25. The Academy Is - Summer Hair Forever Young
this is a set of tools and ingredients for cook some photographs. And, you know what, one month is quite hard for me to escape from photography. Now, i'm back. haha. So, let's cooking!!
setuju nggak kalau orang bernama Kindi itu sangat langka? Saya setuju, dan karena itu lah saya memotret ini. inilah peristiwa ketika seseorang bernama Kindi berkenalan dengan seseorang yanng ternyata bernama Kindi. "Ah sugan teh becanda" begitulah ungkap si Kindi yang orang Bandung itu saat si Kindi satunya menyebutkan namanya ketika bersalaman. haha Kedua orang ini tidak baru saja berkenalan sebelum foto ini diambil. Salah satu Kindi di foto ini adalah teman saya, yang manakah dia? Ini kami sedang di Pasar Seni yang ITB banget itu.. Sedang merehatkan kaki yang bingung mau dibawa kemana lagi, lalu duduk bersama teman-temannya kindi yang sebelumnya tidak kami kenal itu. Kami kenalan entah karena apa.
basically I enjoy every sentence that danced in their performances in these books, but when watching it is a necessity make all times to read it close to boredome. but, thanks God, through a thesis, you bring me with these books. A ticket to travel to the jungles of knowledge, a place to kill my questions of life, places to see life as something meaningful. hmm, I like it.
picture taken with Ricoh Gx1+Kodak Ektachrome, Yummy
05 Desember 2010
dan masih selalu tersesat ketika melepaskan mata berkelana dalam belantara visual bernama fotogafi itu.
dan suatu saat akan saya sempatkan hidup ini untuk benar-benar menikmati ketersesatan itu.
Sudah 40 tahun lebih Chaing Kamera berkutat di dunia kamera. Dari zaman kamera masih full manual hingga teknologi digital berdifusi, Chaing Kamera setia mendampingi serta merawat perkembangannya. Sebuah ruang ukuran 4x4 yang menempel dengan rumahnya disulap menjadi sebuah 'bengkel" kamera. Letaknya di Jalan Kebon Kacan no 105, persis disebelah mushola. Sulit dipercaya memang kalau disebuah kawasan pemukinan yang bersembunyi di belakang Jakarta terdapat sebuah tempat reparasi kamera. Apalagi bagi kita yang hanya terbiasa dengan tempat-tempat servis kamera yang terletak di kawasan perdagangan.
Chaing adalah nama panggilan si pendiri tempat ini. Sayang, saya lupa nanya siapa nanya aslinya. Kini, Chaing sudah meninggal dan perjuangannya dilanjutkan oleh adik-adiknya. Pak Dedi bersama seorang asistennya lah yang sekarang mengambil alih, sebelum beliau ada dua kakaknya yang menanganinya. Menurut pak Dedi bisnis ini udah dimulai sejak tahun 73. Wuih.
Beberapa hari yang lalu saya menyempatkan diri ke sana dengan niat mereparasi FM2 yang saya beli di Bandung dengan keadaan lightmeter mati. Sebenernya saya udah males benerin kamera ini, udah 2 tempat servis kamera saya samperin, tapi mereka semua angkat tangan. Tapi setelah menemukan Chaing Kamera sering dibicarakan di forum-forum maka saya coba menelponya. Ternyata mereka bilang kalo masih bisa dibenerin. Maka berangkatlah saya.
Dengan mengaku kalau saya ini datang dari Bandung cuma untuk ke Chaing, maka akhirnya Pak Dedi langsung menangani kamera saya. haha. Padahal sebelumnya saya disuruh balik tiga hari lagi. Selama pak Dedi sibuk mengoperasi kamera, saya pun sibuk moto-motoin dia dan ruangannya dengan kamera hape. Kalau diliat, cara dia menangani kamera memang beda dengan tempat-tempat servis lainnya. Doi kayaknya udah paham betul seluk-beluk kamera dari segala macam jenis.Selain itu, dia pengerjaannya rapih dan teliti sob. Oiya, ada yang lucu dari perkakasnya, saya ngeliat ada sebuah boneka karet yang ditojos dengan sebuah batang berlubang dan itulah blowernya. Untuk ngezoom benda-benda kecil di kamera pun dia make lensa yang dibalik sebagai kaca pembesarnya. haha. Keren.!
Tapi sayang seribu sayang, kamera saya terlalu rusak untuk disembuhkan. Butuh donasi sparepart/kanibalan dari kamera lain katanya. Ya nggak apa-apa lah.
Adalah rasa heran yang datang ketika Kara, seorang kawan yang saat itu akan menikah (sekarang sudah), meminta saya buatin foto pre-wednya. Entah lah apa yang membuatnya begitu yakin dengan saya. Walau rada nggak mungkin, tapi akhirnya saya terima juga tawaran itu. Tapi jangan salah, saya memilih untuk berada di balik layar aja. Saya menyadari kalo kemampuan teknis saya dalam fotografi sangatlah minim, apalagi untuk sesi pemotretan model. Oleh karena itu, saya meminta seorang kawan yang saya kenal saat PKL di HAI, dialah Konny. Saat di HAI dia menjabat sebagai fotografer. Sementara saya ditemani Ajeng menyusun matang-matang konsep dan editingnya. Beberapa web penyedia jasa Wedding Organizer seperti Greenweddingshoes menjadi inspirasi kami.
Karena saat pacaran mereka menganut sistem LDR alias long distance relatonship (Kara di Jakarta, Faz kerja di Australia). Maka konsep itulah yang minta dihadirkan. Tapi nggak semua shots bertema itu, ada beberapa foto yang ceritanya hepi-hepi aja. heheh..
Kesan saya selama pemotretan: ternyata unik juga yah mengarahkan gaya pasangan yang jarang ketemu. Haha. Maunya becanda mulu.
Semoga foto-foto ini setidaknya bisa jadi hadiah pernikahan kalian. Harapan gua, semoga pernikahan kalian bisa juga jadi inspirasi bagi anak-anak muda lainnya. Diem-diem gua banyak belajar dari kalian.. hehhe..