01 Februari 2014

Berkunjung Ke Bandung - Desember 2013



Perlu disyukuri sepertinya, bahwasannya dalam setahun kemarin saya masih diberi kesempatan untuk selalu bisa mengunjungi Bandung, setidaknya sebulan sekali. Betapa pun berubahnya Bandung, kota ini tetap bisa menjadi pelarian. Ah, apa jangan-jangan Bandung memang diciptakan untuk menjadi katarsis bagi penduduk kota panas macam Jakarta. 

Akhir Desember tahun lalu, saya berkunjung ke Bandung. Kali ini bersama keluarga. Lengkap. Sudah sangat jarang kami sekeluarga ini pergi berlibur bersama, apalagi keluar kota, apalagi naik mobil. Tak lama kami singgah, hanya dua hari satu malam kami memBandung. Tapi ternyata di waktu yang singkat itu saya tetap bisa melahap banyak sensasi-sensasi kota ini. 

Saya menjajaki daerah Pasar Baru, berkunjung ke Braga untuk memborong film 35mm yang harganya jauh lebih murah dari harga Jakarta, mengajak adik meninjau ITB agar ia bisa punya harapan untuk kuliah di situ, ikut meramaikan Car Free Day ala Bandung yang semarak itu, dan tetap, di akhir kunjungan, kami sekeluarga bisa berbelanja ke outlet-outlet. Hehehe. 























15 Januari 2014

1501

Nani wo machigatte sore sae mo 
Wakaranainda rolling rolling
Hajime kara mottenai no ni mune ga ikanda
Bokura wa kitto kono saki mo
Kokoro kara matte rolling rolling
Itetsuku jimen wo korogaru youni hashiridashita


09 Januari 2014

Menyapa Ragunan (2)



Melanjuti posting sebelumnya. Bedanya, foto-foto di sini menggunakan digital.







Menyapa Ragunan


Bersama geng The Future of The Past, saya menggelar Analog's Day Out. Kami mengajak temen-teman lain untuk membawa main kamera analognya untuk melahap momen-momen yang menarik di suatu tempat. Di kali pertama itu,  Kebun binatang Ragunan adalah tempat yang kami pilih. 

Saya cukup suka motret di kebun binatang. Banyak sekali yang bisa didapat. Selain foto-foto hewan dan pepohonan di sana, saya juga senang mengamati para pengunjungnya. Ya, emang dasar aja saya suka mengamati orang kalau lagi di ruang publik. Walau begitu, di sesi foto kali ini, saya lebih banyak motret hewannya sih. Entah gimana chemistry-nya tapi tonal warna foto film itu cocok banget yah untuk foto hewan dan pepohonan. Ada nuansa tersendiri yang dihadirkan. 

Selamat enjoy. :D



















05 Januari 2014

How Slow Can You Go


Mengapakah kita  manusia ini begitu terobsesi dengan kecepatan? Semua hal selalu ingin disegerakan. Lambat, pelan, dan berhenti serta merta jadi negatif konotasinya.  Beginikah yang diinginkan modernitas? Tak cukuplah semua orang dibuat punya hasrat tanpa batas, pemenuhannya pun mesti juga dibuat ringkas.

Teknologi menjadi anak kesayangan jaman ini. Teknologi dibuat untuk selalu muncul di tengah kerumunan keluhan kita atas hidup dan hasrat kita untuk bercepat-cepat. Lucunya, jaman dan teknologi ini agaknya jadi seperti ayam dan telur. Mana yang duluan lahir dan siapa yang membentuk kehidupan jadi terasa rancu.

We shape our tools, and thereafter our tools shape us.” begitu kalau kata John Culkin, merujuk atas pemikiran koleganya, Marshall McLuhan. 

Manusia mencipta teknologi, kemudian teknologi itu balik menciptakan budaya manusia. Dan kita sama-sama tahu, pencapaian yang selalu ada di tiap teknologi adalah kecepatan. Manusia mencipta kamera untuk mempercepat penggambaran realitas yang sebelumnya harus dilukis. Manusia mencipta kereta, mobil, dan pesawat untuk mempercepat perjalanan. Meringkas jarak. Manusia menciptakan media, ponsel, internet untuk mempercepat proses kita untuk mempercepat proses komunikasi. 

Ah internet. Rasanya inovasi satu ini yang paling merajai peradaban manusia sekarang ini. Dalam pidato kebudayaan yang digelar oleh Dewan Kesenian Jakarta, Karlina Supeli sebagai pembicara juga menyinggung soal budaya internet hari ini. Saya sungguh tertohok membacanya. Rasanya, beliau menuliskan bagian itu merujuk ke saya seorang. Menurutnya, budaya dari teknologi digital yang ditandai dengan hasrat untuk selalu cepat-cepat terhubung--bahkan dengan banyak orang sekaligus--hasrat untuk cepat-cepat berkomentar dan  kecenderungan untuk selalu bercepat-cepat berbagi rasa, gagasan serta pengalaman itu membawa kita ke situasi paradox.

“Sementara kita kita menyadari bahwa masalah-masalah yang mendera semkain membutuhkan pemikiran yang mendalam, kita menciptakan budaya berkomunikasi yang justru mengurangi waktu kita untuk berpikir tanpa tersela. Di bawah godaan untuk bersegera melontar komentar,  kita tidak lagi punya cukup waktu untuk memikirkan problem-problem yang rumit,” begitulah yang diucapkan beliau.
          
Dalam 15 menit saja, kita bisa kedapatan lebih dari 100 angka notifikasi pesan masuk di ponsel. Entah itu dari Groupchat, Akun email yang pastinya tak hanya satu yang kita daftarkan, serta aplikasi-aplikasi sosial media yang selalu menggedik kita tiap kali ada update yang tak jarang remeh. Kita tak ingin ketinggalan, kita ingin tahu banyak tapi apa yang akhirnya terjadi? saya tak tahu apakah kalian merasakan hal yang sama, tetapi saya sering kali merasa bingung harus mendahulukan pesan yang mana, pesan saya baca seadanya dan saya respon hanya dengan kepekaan atau insting, tak jarang tanpa pemikiran yang mendalam. Kita jadi patuh terhadap notifikasi., Yang nyata--yang sedang saya kerjakan--bisa dijeda tiap kali ada pesan maya alias digital.  Kita kebanjiran pesan, baru saja kita membaca berita tentang kecelakaan kereta sekian detik kemudian rasa iba kita digantikan tawa setelah tweet akun lawak berada di atas tweet berita kecelakaan kereta tersebut.  

“Hasrat untuk segera berkomentar atau menyimak komentar orang lain tentang kita,” lanjut beliau, “menjadikan kita mahkluk yang pauseable, bisa dijeda, seperti tape atau video recorder.” Ah, dampak yang menurut saya mengenaskan yang saya rasakan adalah saya juga jadi mudah meladeni hasrat yang baru tebersit, persis seperti ketika saya  sedang membaca artikel di internet dan menemukan link lalu saya mengklik open in new tab. Ada begitu banyak bookmark dalam pikiran saya dan kesemuanya belum habis saya cerna isinya. Kebiasaan multitasking dan sulit fokus ini pun membuat saya senang memilih pekerjaan keenam ketika saya memiliki lima pekerjaan yang perlu diselesaikan.

Belum lagi soal karier dan pencapaian hidup. Saya merasa selalu diburu-buru sekali oleh sesuatu yang kadang ilusif. Saya yang baru memulai karier ini mudah sekali gelisah. Apalagi sekarang ini kita seperti diharuskan untuk memajang perkembangan hidupnya di linimasa sosialmedia (baca: di linimasa pikiran orang lain). "astaga, dia udah naik lagi jabatannya.", "dia ganti kamera lagi yah?", "wah, dia setahun ini udah jalan-jalan ke luar negeri berapa kali yah? asik bener." "Keren, tulisan dia udah di muat di media besar. Gue kapan?","Tahun ini gue harus bisa nyicil mobil, tahun depan cari-cari rumah sambil hunting gedung untuk resepsi." Apapun caption yang menyertainya, setiap cerita itu kadang senada bunyinya, "my life is better than yours. Go get it too. Quickly" Selanjutnya kita akan menjadi iri, merasa harus buru-buru mencapai hidup yang sama dengan temen-teman kita itu. Kita jadi ingin punya rumput yang setidaknya setara hijaunya dengan rumput tetangga padahal awalnya kita ingin membuat kolam berenang di halaman rumah kita. 

si kapitalisme juga ikut-ikutan mendukung pencapain kolektif kita itu. Dia selalu datang sok jadi pahlawan. Kita mau apa? pengen cepet-cepet punya smartphone yang bisa membuat hidup terasa indah dan mudah? ada program cicilan 0 %. Pengin punya rumah sendiri tapi nggak kuat bayar DPnya? Pantengin terus aja billboard-billboard di pinggir jalan, dia bakal ngasih buaian beli tanpa DP, atau cicilan 1 juta tapi bertahun-tahun. Apalagi? Pengin memakai baju-baju trendi merk global tapi ? semangat enterpreneur sudah disusupkan ke anak-anak muda yang ngaku kreatif nasionalis. Nilai-nilai nasionalis dan dukungan terhadap produk lokal bisa membuat kita mengabaikan harga produknya yang padahal sama aja kayak produk internasional.  Pokoknya apapun yang kita inginkan? kapitalisme akan selalu membantu kita untuk bisa memilikinya dengan cepat. Dia juga membantu kita untuk merencanakan keuangan kita. Betapa seringnya di saat tanggal gajian datang yang terpikirkan oleh kita adalah menyisihkan uang untuk berbelanja.  Hasilnya, jadi banyak sekali yang ingin kita capai. Hasrat terus memiliki kadang membuat kita lupa apa yang sebenarnya kita butuhkan. 

Time is money. Karena uang adalah pencapaian utama kita, dan uang pun menjadi alat untuk mendapatkan pencapaian-pencapaian lainnya kita juga jadi percaya dengan petuah itu. Kita harus bisa bekerja cepat. Media-media menargetkan  tiap wartawannya untuk mendapatkan minimal tujuh berita, agensi iklan mendorong tim kreatifnya untuk bisa menyelesaikan naskah iklan dalam satu malam dan besok paginya sudah bisa di-pitching lagi ke klien. Penerbit mendorong penulisnya untuk bisa menyelesaikan naskah tak lebih dari sebulan. Semua dilakukan agar kita semakin banyak mendapat uang dan tidak kalah cepat dengan pesaing. Padahal kita sama-sama tahulah bagaimana hasilnya pekerjaan yang dibuat buru-buru.

Betapa gagapnya saya menghadapi hidup bercepat-cepat ini, ternyata. 2013 saya terlambat karena ingin bercepat-cepat. tak ada salah seharusnya soal kecepatan asalkan kita punya kapasitas mesin yang kuat dan sabuk pengaman yang ketat. Nyatanya, saya masih gagap menghadapi hidup yang bercepat-cepat ini. Banyak yang terlambat saya dapat di 2013 karena saya ingin bercepat-cepat. Saya seperti pendaki yang  kalau sekadar yang penting cepat pencapai puncak lalu turun lagi tanpa mengkhayati pemandangannya dan menikmati obrolan-obrolan bersama kawan lainnya. 

Kepada tahun 2014 ini saya ingin membisikkan tantangan dalam berrevolusi "how slow you can go?"

26 Desember 2013

Kata Tarot Tentang Saya

Sekarang saya pacaran sama seorang tarot reader. Hahaha. Jangan salah mengerti dulu, saya nggak berganti pacar. Pacar saya tetap dan akan selalu yang itu tuh. Cuma saja, sekarang si pacar saya itu bertambah kemampuannya, sejak mengikuti sebuah workshop tarot secara gratis, Fertina pun jadi senang mengasah kemampuannya membaca kartu tarot. Kini, ia juga ikut serta tiap kali komunitas tarot buka lapak di sebuah acara.

Sebelumnya, saya tak pernah menjajal dibacakan tarot. Tapi, sejak Fertina bisa baca tarot maka saya pun jadi makin penasaran pengin nyobain juga. Akhirnya, ketika Fertina main ke rumah. Dia pun mengeluarkan kartu tarot kesayangannya, lalu memberikannya ke saya untuk dikocok.

Tara! tiga kartu yang saya pilih dari hasil kocokan saya itu bener-bener sesuai dengan apa yang terjadi pada semesta kehidupan saya. Nggak nyangka bisa sebegitu akuratnya. Inilah tiga kartu yang saya pilih.


27 November 2013

Nggak Karuan

Sampai-sampai sulit sekali mengeluarkan satupun dari penampungan
Karena sudah terlalu banyak wujud yang berjejalan.
Nggak karu-karuan.

Maafkan saya, wahai semesta pikiran.


25 November 2013

Perihal Kreatifitas

"Kreatifitas itu sederhana, keinginan menjadi kerenlah yang membuatnya menjadi rumit," Pidi Baiq

Saya sebal menghadapi kenyataan bahwa  kreatifitas itu menjadi sia-sia kalau kita tak punya kemampuan manajemen dan apalah itu yang disebut sense of bussiness. Katanya, hasil kreasi kita akan nggak akan bisa bertahan lama kalau nggak dilengkapi dengan dua unsur itu.

Saya juga sebal sama tren start up, yang selalu mengajak semua orang untuk jadi pengusaha. Segala bentuk kreatifitas itu harus menjadi bisnis, harus bisa mendapatkan iklan, menggaet investor dan harus bersaing dengan usaha yang lain.Kita harus bisa membuat orang mengeluarkan uang untuk kita. Dan tak dipedulikan apalah jadinya kalau semua orang jadi pengusaha, tak ada yang ingin jadi pekerja biasa. 

Terus, saya juga sebal mengetahui bahwa kreatif dan nyeni itu punya kecenderungan yang beda. Kreatif berarti ide kita komersil, nyeni berarti ide kita nyeleneh, personal sekali dan cenderung butuh usaha lebih untuk dimengerti. Padahal keduanya merupakan bentuk gagasan, hasrat untuk berekspresi, dan daya untuk mencipta.

Apapula itu creativepreneur? kenapa tiba-tiba pelaku kreatif seolah harus mengubah identitasnya menjadi itu? biar lebih profesional? biar terlihat punya motivasi kuat di bidang bisnis? biar keren kalau ditanya sama mamah-papahnya?. 

Siapa pula itu yang membuat seolah-olah orang-orang kreatif yang tak pandai bicara, tak lihai presentasi di depan umum, selalu gugup jika ditanya orang yang tak diakrabi, tidak bisa berhasil? 

dan yang paling menyebalkan adalah ketika kini, saya merasa perlu mempelajari hal-hal yang saya sebali itu untuk melengkapi kreatifitas.

Yasudahlah. 

07 November 2013



25 Oktober 2013

Kembali Membuat Zine



“Yah, dia narsis. Baca-baca tulisan sendiri,” celetuk Tojon serta-merta ketika melihat saya cengengesan membaca zine The Future of The Past yang baru terbit. Saya menerima celetukan si Tojon itu, bahkan mengamini. Saat itu saya memang narsis, tak bisa dipungkiri. Walau merasa geli sendiri karena nggak bisa nutupin euoforia itu, tapi saya mencoba cuek, saya pengen menikmatinya. Saya senang banget bisa membuat lagi tulisan tentang fotografi terus tulisan itu dilayout dengan gaya desain yang ciamik dan yang paling bikin greget, tulisan itu dicetak!

Kalau diingat-ingat, selepas kerja di majalah awal tahun 2013, tulisan saya di zine itu adalah tulisan pertama yang tercetak di majalan tahun ini. Jadi wajarlah ya saya seneng sampe narsis dan norak gitu. haha. Maklum, sepanjang tahun 2013 saya lebih banyak menulis untuk publikasi online, seperti blog ini, blog Card to Post dan di media online hepi-hepi tempat saya dan Tojon bekerja sekarang. 

The Future of The Past adalah zine yang mengulas secara khusus fotografi analog dan scene pehobinya.  Ide pembuatan zine ini muncul dari Renaldy FK (Enad), Astrid Prasetianti dan Irindya. Ketiganya adalah pegiat fotografi analog. Dan entah kebetulan atau disengaja, ketiganya adalah hasil didikan Universitas Binus. Haha. Sebelum tim ini terbentuk kami adalah kawanan yang saling menjaring pertemanan lewat media sosial. Jarang sekali bertatap muka langsung. 

Saya merasa beruntung bisa diajak menjadi bagian dari tim. Semua bermula pada kisaran Juni lalu, saat itu saya baru masuk di kantor saya sekarang ini. Saya diterima kerja atas rekomendasi Enad yang juga bekerja di situ. Nah, setelah beberapa minggu akrab berkawan, Enad yang emang maniak fotografi analog dan gila proyek itu menawarkan saya untuk gabung ke tim zine ini. 

Seperti orang haus yang ditawari es kelapa, saya pun langsung merebut ajakan Enad dan menenguknya bulat-bulat. Saya emang lagi kangen-kangennya bikin majalah. Udah lama banget hasrat saya untuk memproduksi media sendiri (bukan miliki perusahaan besar dan saya hanya jadi pekerja kecilnya saja) Beberapa waktu sebelum ajakan Enad, saya sempat berusaha untuk menerbitkan lagi zine Memang Terlalu, tapi tak kunjung ada hasilnya. 

Kelompok OK


Saya yakin kalau kekuatan sebuah media alternatif itu tak hanya pada soal konten yang bisa merangkul khalayak komunitas saja tetapi juga pada tim yang passionate terhadap kajian medianya dan memiliki loyalitas tinggi untuk memenuhi kebutuhan tiap pos di siklus produksi dan distribusinya. Nah, mengenai hal itu, sebagai anak terakhir yang diadopsi untuk masuk ke keluarga ini, saya merasa tim TFoTP yang sudah ada itu pun solid. (maaf, saya narsis lagi ternyata). Tiap anggota memang doyan banget sama fotografi analog dan punya kemampuan masing-masing yang emang dibutuhin.

Soal desain dan ilustrasi, Astrid Prasetianti yang kini bekerja di studio desain ternama punya selera yang khas. Desainnya yang (menurut saya) mengutamakan simplisitas selalu sedap dilihat.  Enad, jam terbangnya berkecimpung di persilatan foto analog Indonesia bikin dia kenal banget sama scene-nya. selain itu bakat bisnisnya juga ngebantu pengembangan zine banget. Terus, Irin juga andal mengurusi administrasi dan segala tetek bengek urusan paskaproduksi, ditambah lagi, Irin, yang masih jadi mahasiswa DKV ini juga bisa menjamah khalayak dari kalangan mahasiswa. Komplit deh. Bagaimana dengan saya? Entah bisa menambah kesolidan atau nggak, semoga saja pengalaman saya menulis dan ngurusin editorial selama ini bisa membantu pengerjaan. :p

Mencetak zine, Mencetak Mimpi



Dan saya merasakan betul, bahwa kesamaan hasrat dan tekad itu ternyata adalah modal kuat dalam menjalankan media. Di tambah lagi, tiap anggota memang punya pengalamanan menerbitkan produk-produk indie sebelumnya. Jadi, sejak awal meeting, alur brainstorm kami mengalir lancar. Penentuan nama majalah, perencanaan konten, serta strategi promosi dan penyebaran kami bisa diskusikan pelan-pelan tapi pasti.

Sebagai pemuda yang terikat dengan institusi untuk mencari uang bulanan, proses kerja kami utamanya dilakukan di tempat masing-masing. Sesekali rapat di kafe sesuai jam kantor. Tapi, komunikasi harian dilakukan di ruang rapat virtual alias GroupChat di WhatsApp (yeah, terima kasih Whatsapp). Satu-satunya markas tetap kami adalah shared folder di Dropbox, tempat kami menyimpan file-file. Oya, untungnya, kantor saya dan Enad (sangat) santai dan membebaskan karyawannya untuk melakukan aktivitas yang nggak berhubungan dengan kantor sekalipun. Sebagian aktifitas, seperti packaging dan menyimpanan buku, dilakukan saya dan Enad di kantor. 

Selain ngurusin editorial, saya juga banyak nyemplung ke urusan pencetakan buku. Bagian kerja ini saya emban tanpa diutus, bisa jadi, karena sebelumnya saya emang biasa cetak-mencetak kartu pos. Tapi saya senang berurusan dengan produksi ini. Walau sering dibuat kesal oleh pelayanannya, tapi saya suka main ke percetakan. Percetakan itu seperti pos tempat segala gagasan dan karya yang digital nan maya dikonversi menjadi sesuatu yang nyata, berwujud dan jadi!. Percetakan itu rumah bersalin yang melahirkan karya-karya yang sudah bikin dalam rahim-rahim kreatif si induk. 

Seperti yang sudah diceritakan, Astrid itu memiliki selera yang khas dan tinggi. Jadi, ia pun ingin hasil jadinya zine ini sedikit premium. Kami ingin memakai kertas fancy tebal bertekstur untuk halaman sampul dan kertas lembut berserat untuk  bagian isinya dan memakai jilid jahit untuk menyatukan buku. Sayang aja, di edisi pertama ini kami baru bisa mewujudkan beberapanya. 

Soal konten, edisi nomor wahid ini memang belum maksimal. Jumlah halamannya hanya 48. Kalau dipikir-pikir pun, kita hanya akan butuh waktu dua puluh menit untuk melahap habis konten zine ini. Daftar isinya adalah interview fotografer analog terpilih, rubrik photostory, rubrik showcase foto kiriman pembaca, artikel semi-feature, dan rubrik tips n trick. Jadi, total hanya empat rubrik. Well, saya dan pastinya tim lain, berharap semoga aja konten-konten itu bisa dinikmati dan berkesan di hati pembaca. Hehe.




Di edisi pertama ini kami memasang tema Wanderland yang kurang lebih isinya tentang pengembaraan. Ada Michelle Liando yang nyumbang foto-fotonya berkelana ke Skandinavia, ada Yttria yang kami wawancara, dan sejumlah foto bertema perjalanan lainnya di rubrik Tons of Tones. Soal artikel, saya menulis artikel tentang alasan fotografi analog diminati, dan Enad menulis rubrik Tips n Trik. 

Satu lagi yang bikin saya senang. Edisi ini laris manis. Di hari pertama rilis, 6 Oktober lalu, 50 eksemplar yang kami siapkan habis terpesan begitu saja hanya dalam waktu tiga jam. Kami hanya menggunakan instagram dan Facebook untuk mempromosikan. Keputusan kami untuk membatasi jumlah cetak pun harus direvisi, dua minggu setelah rilis kami mencetak 30 eksemplar lagi. Tak lebih dari sehari, semua pun habis terpesan lagi. 

Fenomena itu bikin saya seneng sekaligus bingung. Saya sempat pesimis, saya kira nggak banyak orang yang rela membeli zine yang bahkan mereka belum tau isinya seperti apa, apalagi harga yang kami patok cukup tinggi, Rp 72.000. Padahal, kalau saya jadi outsider, saya akan mikir dua kali untuk beli zine yang harganya setinggi itu. Hehe. Bisa jadi, ini karena selalu ada keinginan massa untuk bisa mengonsumsi media alternatif, apalagi sejak fotografi digital berjaya, dan tiba-tiba scene foto analog Indonesia hidup lagi, baru kali ini muncul zine yang ngebahas fotografi analog secara khusus (CMIIW)

Oya, sebelum menutup tulisan ini, saya juga mau ikut berterima kasih sama Imagery Bags yang mau repot-repot support kami dengan menghibahkan 25 totebag bertuliskan nama zine ini untuk dibagi-bagikan ke 25 pembeli pertama zine. Sedikit-banyak pasti itu ngedongkrak penjualan. Hehe.

Nah, setelah majalah terbit, apresiasi pun satu per satu muncul. Ada yang memuji ada juga yang mengkritik. Semoga di edisi berikutnya, saya dan temen-temen bisa belajar lagi untuk mewacanakan fotografi Indonesia dengan lebih baik. 

Sejak dulu saya senang bermedia, beberapa waktu belakang ini hasrat itu sedikit terpendam, zine ini pun sekaligus menjadi the future of the past hasrat saya itu. Yes, semoga kedepannya saya terus diberi kesempatan untuk bekerja membuat media. 




Terima kasih semua-mua-mua-muanya. 

15 Oktober 2013

viel Glück, F



Besok, Fertina sidang skripsi. Saya ikut deg-degan. Ada haru dan cemas. Tapi dua hal itu cuma pembungkus kado yang isinya rasa seneng yang gede banget.

05 Oktober 2013

Lima Pekerjaan Enam Kemauan


Saya memiliki lima pekerjaan,
tapi saya memulainya dari pekerjaan yang keenam.

Di malam hari saya kalut, tak ada satu pun pekerjaan yang bisa diselesaikan. Sebagai bayarannya, saya pun berjanji akan menuntaskan seluruh pekerjaan yang harusnya selesai hari itu, setelah tidur. 

Besoknya, sebangun tidur, saya malah mengerjakan hal yang sama sekali baru. 

Serunya hidup ini. :D 


23 Agustus 2013

Memikirkan Pikiran


Setelah saya sadari, saya adalah tipe orang pemikir. Bukan pemikir macam filsuf begitu sih. Saya sering banget memikirkan sesuatu secara mendalam dan saya sendiri nggak nyadar kenapa bisa-bisanya saya mikir sejauh itu. Misalnya saja, ketika melihat iklan bergambar Nadia Hutagalung di billboard, yang saya pikirkan bukan lagi sosok Nadia Hutagalung yang cakep banget itu. Tetapi mikirin gimana perlakukan suaminya ke dia, apakah si Nadia nyaman kalau kecantikannya itu dikonsumsi massa. Lalu biasanya wanita cantik itu senang dipuja tapi mengapa ogah kalau digoda? Soalnya, udah pasti kan semua cowok suka wanita cantik. Terus apakah wanita cantik seperti Nadia Hutagalung itu merasa dirinya cantik. Pokoknya panjang deh, dan pikiran itu timbul begitu saja ketika saya sedang naik motor. 

Tapi itu cuma contoh kecilnya saja. Saya juga mikirin kira-kira berapa kali bulak-balikkah angkutan umum dalam sehari, mikirin apa alasan orang memilih baju yang dipakainya, mikirin sifat-sifat orang yang saya temui, mikirin nanti beli rumah yang seperti apa, di mana, barang apa dulu yang akan dibeli dan gimana cara bayarnya, ketika memikirkan apa yang akan saya lakukan saya juga memikirkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi dan bagaimana saya harus menghadapinya. 

Nah, dari sekian banyak pikiran yang ada itu ada satu yang kadang cukup mengganggu saya, yaitu memikirkan pikiran orang lain tentang saya. Jadi, ketika saya akan melakukan sesuatu terutama sesuatu yang besar) saya akan coba mikirin kira-kira apa yang bakal orang-orang pikirin tentang saya kalau melakukan sesuatu itu. Ribet kan?! Misalnya gini, ketika saya membuat tulisan (termasuk tulisan ini pastinya) saya memikirkan bagaimanakah kira-kira reaksi orang-orang.

Contoh besarnya adalah kemarin, ketika ingin memutuskan ingin kuliah lagi. Salah satu pertimbangan saya adalah bagaimanakah reaksi/komentar orang-orang kalau tahu saya kuliah lagi. Saya mikirin gimana pikiran teman saya yang intelek tapi nggak kuliah, teman saya yang berpikir kuliah tidak penting, dan teman saya yang ingin kuliah lagi tapi terbentur urusan dana. Saya nggak mau orang salah kira dengan maksud saya berkuliah. Saya menceritakan ini ke pacar saya dan ia memarahi saya. Haha.

Nah, sesiapa saja yang pikiriannya saya pikirkan juga adalah mereka yang sering ngomentarin, ngegosip atau mencela orang. Tentunya orang-orang itu punya karakter pikiran yang berbeda. Tambah runyamlah persoalan.

Gambar di atas itu adalah sebuah karya dari Nisrinah yang dikirimkan kepada saya. Nisrinah adalah kawan baru yang saya kenal lewat kartu pos. Kami tak pernah berinteraksi sebelumnya, hanya saja secara  kebetulan, quote yang disebut Nisrinah di karyanya itu begitu pas bagi saya. Mungkin Nisrinah pernah atau sedang mengalami hal yang sama

"When you start to think about what everybody think about you, you'll start losing yourself"
Sebenarnya pikiran-pikiran itu adalah wajar adanya, asal kita tak begitu saja hanyut dan meladeninya. Kalau itu sudah terjadi, saya jadi bingung mau gimana dan nggak jarang jadinya malah nggak ngapa-ngapain. Haha. Nah, saat kita sedang berkarya, menulis, menggambar atau apa pun tapi kita terlalu memikirkan respon orang-orang, maka yang terjadi adalah seperti yang disebut Nisrinah, kita bakal kehilangan karakter diri kita dan berkarya hanya untuk mengikuti selera atau pikiran orang-orang. Sungguh tidak enaklah situasi seperti itu.

Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan mewawancara Dwika Putra, seorang musisi yang populer di jagad dunia maya. Ia banyak sekali berkarya, pun bidangnya beragam. selain bermusik, dia juga sering stand up comedian, menulis buku, memotret dan bekerja harian. Dwika bercerita bahwa ia juga sempat mengalami krisis kepercayaan diri dan terpengaruh sama keraguan teman-temannya saat akan merilis album pertamanya. Dwika butuh lima bulan setelah materinya siap untuk rekaman karena ia harus menyakinkan dirinya dulu. Lalu, apakah yang akhirnya membuat Dwika kemudian mantap melakukannya?

do something to express. not to impress

Begitu katanya.

--------------------------


Sekedar cerita, ini adalah paket kirimannya Nisrina lainya. :D Keren yah?!

© blogrr
Maira Gall