24 Juni 2013

#6 Menceritakan Cita-Cita


“Dengerin nih, Ki, gue punya cita-cita. Gue pengin pergi ke Amerika.” 

Walau sudah terjadi setahun lalu, tepatnya April 2012, percakapan saya dengan Lodra, seorang kawan, itu masih saya ingat. Saat itu sudah cukup lama kami tak berjumpa. Kalau nggak salah ingat, itu adalah pertemuan pertama kami setelah Lodra lulus kuliah dan lanjut kerja jadi wartawan. 

Lodra punya cita-cita untuk hengkang ke Amerika. Kebetulan ia punya famili di sana. Nantinya, ia berencana melanjutkan sekolah dan menjajal pengalaman bekerja. Alasan kecil lainnya adalah Lodra pengin belajar bahasa Inggris. Dia yakin, satu-satunya cara agar kita bisa fasih lahir batin untuk berkomunikasi dengan bahasa internasional itu adalah dengan tinggal menetap di negara menggunakan bahasa tersebut. 

Saya menyimak dengan seksama “wasiat” Lodra tersebut. Bukan hanya tentang apa yang dicita-citakan Lodra, melainkan juga bagaimana ia menceritakannya.  Seperti biasa, Lodra bercerita dengan santai, topik pembicaraannya memang tinggi, tapi intonasi suaranya tenang. Ia berusaha untuk tetap merendah. 

Saya lupa, entah karena saya memintanya atau atas kesadarannya sendiri, Lodra pun menjelaskan kenapa ia memilih untuk menceritakan cita-citanya itu.

“Nyeritain cita-cita kita itu bikin kita ingat terus sama cita-cita kita itu. Selain itu, semakin banyak yang tau cita-cita kita, semakin banyak yang doain.” Kira-kira begitulah penjelasan Lodra. 

Selang berapa bulan sejak percakapan dengan Lodra itu, saya berkenalan dengan Fertina. Di obrolan panjang pertama kami, Fertina menanyakan apa cita-cita saya. Dengan cukup kewalahan saya menjawab. Hahaha. Ternyata, saking banyak maunya saya jadi bingung apa yang saya cita-citakan.  Bagaimana pun juga, akhirnya saya jawab pertanyaan Fertina itu. 

Agar obrolan lebih interaktif, saya balik bertanya. Pastinya, sebagaimana orang yang bertanya lainnya, Fertina sepertinya sudah menyiapkan jawaban. Dengan mantap dia menjawab, “Gue punya cita-cita yang pengin gue wujudin setelah gue lulus kuliah, sebelum mulai kerja.”

“Ya apa tuh cita-citanya?” 

“Cukup gue sama Tuhan yang tahu. Hahaha” 

Walau cukup gondok tapi saya menghargai jawabannya. Saya yakin, cita-cita itu adalah cita-cita yang besar untuknya. Dan mungkin terlalu besar untuk bisa diceritakan. Untungnya, obrolan panjang itu jadi bibit yang hingga kini selalu membuahkan obrolan-obrolan baru yang seru. Saya pun banyak mengulik Fertina, termasuk sikapnya terhadap cita-cita itu. Suatu kali, saya bertanya apa alasannya urung menceritakan cita-citanya. 

“Gue nggak pengin gue udah diceritain, tapi cita-cita gue itu malah nggak terwujud. Kalau udah cerita, dan gue gagal meraihnya bebannya makin terasa.” Bisa jadi, Fertina adalah penganut teori talk less do more. 

Baik pendapat Lodra ataupun Fertina sama-sama selalu saya ingat, selalu saya pikirkan dan selalu saya jadikan bahan pertimbangan untuk memilih sikap. Kedua pendapat itu berlawanan, tapi keduanya ada benarnya. Tak ada yang salah malah. Lodra menceritakan cita-citanya sebelum ia meraihnya, sementara Fertina akan menceritakan apa cita-citanya ketika ia sudah mencapainya. Alasan kedua pendapat itu sama, agar memotivasi diri mereka untuk giat mewujudkannya. 

Sudah sejak kecil, kita diajarkan untuk punya cita-cita. Tiap kali berjumpa dengan kerabatnya orangtua misalnya, tak jarang hal yang mereka tanyakan setelah nama adalah cita-cita. “Kalau sudah besar pengin jadi apa?” Orangtua kita pun selalu jadi perantara. Segala jenis nama profesi yang punya prospek baik dan bergengsi jadi pilihannya. Saya ingat, saat kecil, orangtua saya memilihkan jawaban ABRI  sebagai cita-cita saya. Saat itu, ya pasti saya nggak tahu persis apa itu ABRI, bagaimana pekerjaannya, dan apa keuntungannya. Yang jelas, punya cita-cita membuat saya merasa hebat, bikin saya mudah mengenalkan diri. “Saya adalah Rizki yang cita-citanya mau jadi ABRI.” Berbeda dengan (mungkin) Rizki yang lain. 

Cita-cita adalah harta karun yang kita buat sendiri, yang kita taruh bukan di langit, melainkan di dalam kehidupan kita sendiri. Sebagaimana harta karun, cita-cita akan membuat begitu berharga, layak untuk diperjuangan dan sayang untuk disiaka-siakan.  Saya menyimpulkan, bagaimanapun caranya, cita-cita memang perlu diceritakan, setidaknya kepada diri kita sendiri, agar kita selalu ingat dan selalu yakin kalau kita punya sesuatu yang sangat berharga dalam diri kita dan kita akan meraihnya. 

Minggu lalu saya bercakap-cakap lagi dengan Lodra, membicarakan lagi tentang cita-cita. Di sela-sela percakapan, saya berkata kepadanya, “jangan cerita-cerita dulu ke teman-teman ya, Dar. Biar gue aja yang cerita sendiri.” 

Dan kali ini cita-cita saya dan Lodra sama. Beberapa hari ke belakang kami bantu membantu mempelajari peta. Beberapa hari ke depan, kami, secara terpisah, akan melakukan perjalanan. Menyusuri dua ratus macam persoalan untuk mencapai cita-cita kami itu. 

Doakan 

17 Juni 2013

#5 Aneka Panik Yang Kemudian Memburam... Hilang




Saya suka sekali kedua lagu Polyester Embassy di album pertamanya ini. Bahkan walau saya nggak begitu mengerti maksud dari liriknya. Ada kerumitan dalam musiknya yang tenang. Ada teriakan dalam vokalnya yang lirih. 

Lagu ninabobok yang akan membuat kita merasa tidur walau mata terbuka. Lagu menye-menye skilfull yang memaklumi ketidakberdayaan, kekalutan, dan penyesalan. 

Ekstasi yang menuntun terbang menjelajahi rimba melankolia, membuat kegundahan malah menjadi adiksi. Ahhhhhh!




10 Juni 2013

#4 Transkrip Wawancara RU Images dan Yudhi Soerjoatmojo

Saya mengenal Yudhi Soerjoatmojo pertama kali yaitu saat mengerjakan skripsi, awal 2011 lalu, saya menemukan artikelnya tentang sejarah perkembangan fotografi di Indonesia dengan tajuk  The Challenge of Space: Photography in Indonesia 1841-1999. Tak disangka, tak lama setelah lulus, sekitar Oktober 2011, Yudhi yang konon sudah lama nggak muncul di dunia fotografi hadir sebagai pembicara di acara gelaran National Geographic. Saya pun menghadirinya. Kalau tak salah ingat, Yudhi berbicara tentang bagaimana fotografi bisa membawa perubahan.  

Menariknya, ternyata setelah sesi seminar selesai Yudhi diwawancara oleh RU Images, kemudian video wawancaranya diunggah di situsnya. Pewawancaranya adalah Rony Zakaria dan Okky Ardya. Saya suka wawancara itu. Pertanyaan dari pewancara begitu matang dan kontekstual. Omongan Yudhi terdengar santai tapi tegas. Bahan pembicaraannya juga banyak sekali, pertanyaan yang singkat pun dijawabnya dengan cerita panjang.  Bayangkan saja, wawancara 20 menititu  ketika saya ketik menjadi tulisan sepanjang tujuh halaman. Tak heran, Yudhi memang pelaku fotografi yang sudah sejak lama giat mengamati (secara kritis) fotografi di Indonesia. Karena saya suka dan butuh wawancara ini, maka saya pun terdorong untuk membuatkan transkripnya. Agar bisa lebih mudah dan lebih cermat disimak. 

Seluruh pernyataan Yudhi penting adanya. Ia berbicara tentang Galeri Fotografi Jurnalistik Antara yang dibangunnya, perkembangan foto jurnalistik, dan yang paling saya suka, tentang pencapaian yang sudah diraih fotografi Indonesia dan tentang apa yang dibutuhkan oleh ekosistem fotografi di sini. 

Transkrip yang saya buat di sini memang jauh dari sempurna. Ada sedikit bagian yang tidak saya catat dengan baik, bahkan ada yang saya tidak tahu. Tapi saya berusaha sebaik mungkin dalam membuatnya. Oia, demi memudahkan, saya melakukan penyesuaian dialog lisan menjadi dialog tulis. Kalau menemukan kejanggalan dan kesalahan, tolong kabari saya yah. 

Nah, sebelum kita baca tulisan ini, mari kita ucapkan terima kasih kepada tim RUImages yang sudah melakukan semua ini. 

Bersama Oscar Motuloh Anda terlibat menjadi tulang punggung Galeri Foto Jurnalistik Antara pada awal-awal pendiriannya pada tahun 90-an. Apa tantangan mengelola sebuah galeri foto di Indonesia saat itu?

Galeri foto jurnalistik Antara merupakan galeri jurnalistik pertama di Indonesia. Tantangannya banyak sekali. Pertama-tama adalah tidak adanya role model bagaimana galeri itu beroperasi dan berfungsi. Seluruhnya—konsep dll.—harus kita bangun dari nol. Selain itu juga bahwa galeri-galeri yang ada saat itu banyak sekali galeri yang bersifat komersial: menjual lukisan—umumnya sih lukisan yah, bahkan patung saat itu masih sangat sedikit sekali dijual: Patung, instalasi. Jadi kami tidak bisa beroperasi seperti mereka. Kami mandatnya adalah nonprofit jadi harus menciptakan cara untuk menciptakan audiens, menciptakan komunitas, menciptakan program. 

04 Juni 2013

#3 Kepada Sapardi

Kayu menjadi abu
Awan menjadi tiada
Semua karena kata yang tak sempat diucapkan dan isyarat yang tak sempat disampaikan. 
Begitukah cinta yang sederhana?


03 Juni 2013

#2 don't hIDE it


Saya punya anggapan, bahwa terkadang kemunculan ide itu bisa menjadi sebuah ancaman. Gagasan itu sampai saya buatkan tulisannya (link). Intinya, kalau kita punya banyak ide tapi nggak punya cukup daya untuk mewujudkannya maka rasanya itu sungguh nggak enak. Seperti diburu-buru orangtua untuk cepat lulus kuliah. Mengancam! 

Suatu saat, dalam sebuah obrolan sederhana dengan guru sekaligus kawan saya, Mas Hikmat Darmawan, gagasan itu saya sampaikan ke beliau secara spontan saat saya melihat folder di komputernya yang berisi ide-ide proyeknya yang sangat banyak itu.

"Gila mas. Banyak banget ide lo. Nggak merasa terancam emangnya? gue suka ngerasa gitu soalnya." 

02 Juni 2013

#1 Tampilan Blog Baru


Dua bulan lalu, tiba-tiba ada kawan yang menghubungi saya. Dia menawari pekerjaan copywriting untuk sebuah produk minuman ion yang sangat tersohor. Jenisnya advertorial untuk di majalah remaja. Tawaran honornya besar bukan main, apalagi kalau dibanding dengan honor menulis advertorial saat kerja di majalah. Tapi, sayang, setelah lewat beberapa proses seleksi, saya tersisih. Katanya, ada penulis yang portofolionya lebih jelas dan mumpuni. 

Saya cukup sedih. Bukan hanya karena tersisih, tetapi juga karena saya sudah punya niat untuk bikin blog yang bisa menampung portofolio tapi saya kerap menundanya. Dari fenomena yang mengandaskan pekerjaan lepas pertama saya sebagai freelancer itu saya pun makin memantapkan diri untuk melakukan modifikasi blog saya ini. Dan beginilah hasilnya…. Mari kita sambut… Blog terlalurisky dengan tampilan baru! Plok plok plok 

22 Mei 2013

Terjal sama ditanjak, Kaki Pegel Bodo Amat: Cerita Bersepeda Ke Curug Cinulang




Coba bayangkan suasana ini: hawa pagi yang begitu sejuk, jalanan yang dikelilingi pemandangan sawah, sungai, berlatar siluet pegunungan serta suasana geliat masyarakat pedesaan memulai harinya. Tak lupa juga suara deburan air terjun yang makin lama makin terdengar saat perjalanan. 

Menggiurkan bukan? Kami pun luluh membayangkannya, ingin mencicipi juga. Karena itulah saya, Fertina dan teman kami Bopeng menuju ke ke  Desa Sindulang, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat untuk mengunjungi dua situs wisatanya: air terjun Cinulang, serta hutan konservasi Kareumbi yang luas nan eksostis. Demi mendapatkan sensasi lebih, kami pun bersepeda, tak peduli bagaimana medan perjalanannya, tak peduli seberapa amatirnya kami. 

16 Mei 2013




07 Mei 2013

Cetak Cukil Menyegarkan Bersama Refreshink




Menjajal medium dan teknik baru dalam berkreasi itu memang menyegarkan ternyata. Siang tadi, saya mencoba membuat cetakan dengan teknik cukil. Komunitas seni grafis asal IKJ bernama Refreshink adalah biang keroknya. Mereka membuka workshop cetak cukil gratis untuk seluruh pengunjung festival seni dan budaya di Universitas Tarumanegara Selasa (7/05) tadi hingga Rabu (8/05). Awalnya, saya ikut cuma karena ingin menghabiskan waktu, tapi, setelah dicicip, ternyata menarik. Karena lagi sindrom Card to Post yang terpilih jadi nominasi di The Bobs Award, saya pun membuat logo Card to Post di karya cukil saya yang pertama itu. 

Untuk membuat cetakan, kita mesti mencukil gambarnya dulu. Media yang digunakan namanya art board, semacam kertas duplex tapi jauh lebih tebal. Pertama, saya membuat rancangannya dulu dengan pensil dan spidol, langsung di atas board tersebut. Setelah selesai, barulah saya berurusan dengan pisau cukilnya. Si anggota Refreshink mengajari saya. Walau bentuk pisaunya seperti pulpen tapi cara kita memegangnya agak beda nih. Pena pisau diposisikan sedikit menidur, disandarkan di punggung tangan di antara jempol dan telunjuk. Nah, sementara punggung tangan mendorong pisau, ujung telunjuk  mengarahkan cukilan pisau. 

13 April 2013

Doa

"Kamu doain aku yah!" 
"Iya, tapi kamu doain aku juga, supaya doaku dikabul."



27 Maret 2013


26 Maret 2013

Tuhan


14 Februari 2013

Hari ke-30: Epilog sekaligus Prolog



"Tak lama lagi aku akan bermain di sebuah konser orkestra."
"Bagaimana perasaanmu?"
"Senang sekali, karena ini adalah mimpiku."
"Oh, berarti tak lama lagi kau juga akan punya mimpi baru."

Kira-kira begitulah percakapan antara Philips, pria berhati dingin dengan Lina, celloist tuna netra dalam film Ganz nah bei dir yang saya tonton di Goethe Haus kemarin.  Kalimat tanggapan Philips tersebut diucapkan dengan datar, tanpa intonasi, dan spontan, bahkan ketika saya mendengarnya, sedikit terasa seperti ejekan.  Philips tak mengapresiasi Lina yang pastinya sedang sibuk berlatih untuk mempersiapkan konser besarnya itu. Serta merta ia malah bilang kalau Lina akan punya mimpi baru setelahnya. 

Walau ucapannya dingin dan singkat, tapi jawaban Philips itu cukup membekas. Baik di hati Lina (terlihat dari ekspresi sedikit kagetnya) dan si gue ini. Philips benar, ketika satu impian besar akan kita selesaikan pencapaiannya, kita harus memikirkan impian apa yang selanjutnya kita raih. 

Posting ini adalah penanda kalau program 30 Hari Bercerita sudah rampung gue ikuti. Walau tersendat dan molor, tetapi gue tetap ingin berusaha menuntaskannya, sampai hari ke-30. Ya, setidaknya, walau nggak bisa strict pada 30 Hari rutin menulis, seenggaknya gue bisa menulis 30 cerita. Dan karena keterlambatan itu pun gue menjadi malu. Malu sama diri sendiri gue sendiri karena nggak konsisten untuk rutin menulis. Serealistis apapun hambatan untuk menulis, ya, gue tetep malu. Kalau kata, Mbak Gina, gue nggak punya sense of urgency. Akibatnya, jadi selalu memaklumi dan menunda-nunda deh. Penyakit!

09 Februari 2013

Hari ke-29 Fertina: 12 Tahun dan Seterusnya di 'Hogwarts'


Sudah sejak kelas 5 SD cewek yang kini berusia 23 tahun ini mulai mengikuti cerita karangan JK Rowling: Membaca dengan seksama setiap novelnya, menonton filmnya, sesekali mengikuti kegiatan di komunitas fans, mengoleksi segala hal yang berhubungan dengan Harry Potter. 

“Harry Potter sebagai buku dan kisah itu adalah saksi perkembangan hidup gue!” ujar Muggle pemilik nama Fertina ini. 

Saya pun takjub. Ternyata seru banget yah hidupnya orang yang punya hasrat dan adiksi besar terhadap cerita fiksi. Semenjak kenal dengan Fertina, saya banyak dilibatkan dengan cerita-cerita serunya tentang Harry Potter. Sejak 12 tahun lalu litulah, Fertina mengumpulkan material-material dari dunia rekaan JK Rowling dan membangun Hogwart-nya sendiri di kesehariannya. Tak hanya kamarnya yang penuh dengan poster bertema Harry Potter, sudah banyak ruang dalam diri dan kehidupannya yang dilekati Harry Potter dan dunianya.

Untuk itulah, di posting kali ini saya mengundang langsung orangnya untuk ngobrol-ngobrol santai dan bersahaja. Biar nggak saya doang yang ketularan. Hahaha. Mari kita, yuk ah! 

Ceritain dong, gimana sih awalnya lo kenal sama Harpot. Apa yang membuatlo tertarik untuk membacanya? Padahal saat mulai membacanya lo masih kelas 5 SD. Anak 5 SD kan nggak suka baca buku tebel-tebel, apalagi saat itu lo masih gendut. :p  

Selamat siang ya, mas Rizki, masnya lancang sekali bawa-bawa masa lalu saya! Justru karena gendut itu, salah satu pengaruh Harpot yang membekas di gue. Jadi dari awal itu gue nggak bisa banyak main di luar rumah, karena rumah gue dulu di pinggir jalan raya dan jauh dari rumah teman-teman. Jadi, deh, larinya ke baca. Masih baca buku-buku fantasi juga sih kebanyakan. 

05 Februari 2013

Hari ke-28: Uang dan Pencapaian




“You see, if you don’t take money they can’t tell you what to do. That’s the key to the whole thing, don’t touch money! It’s the worst thing you can do. 
Money is the cheapest thing. Liberty is the most expensive.”


Terlalu klise memang kalau kita menyatakan diri menolak kebutuhan akan uang sementara konstruksi sosial atas pencapaian hidup sudah begitu kuat terbentuk. Terlalu banyak pesan yang membombardir hasrat kita. Iklan-iklan di media massa, obrolan dengan teman sebaya mengenai pencapaian hidup, imaji hidup enak yang ditampilkan film, serta petuah-petuah orangtua mendominasi pikiran kita.  Semua tuntutan-tuntutan itulah yang akhirnya membuat kita merasa harus mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, bahkan hingga mengesampingkan hasrat dan pencapaian kita yang sesungguhnya. Kita bersusah-susah mengumpulkan uang untuk bisa menganggap kalau kita bisa dengan mudah menghabiskan uang. 

Tak bisa dipungkiri, sedikit banyak, pikiran saya pun terkontaminasi. 

04 Februari 2013

Hari ke-27: Kebiasaan Menulis Keseharian dan Para Penerbitnya


Bagi saya, menulis adalah medium bercerita yang paling asik. Apalagi saya memang nggak pandai berbicara, menulis adalah opsi yang paling tepat. Saat menulis saya nggak berinteraksi secara langsung dengan si komunikan, saya sendirian. itulah mengapa dengan menulis saya lebih lepas berekspresi. 
Kegiatan tulis-menulis (yang bukan menulis pelajaran sekolah atau kuliah pastinya :p ) saya mulai sejak SMA. Intensitas serta kualitasnya pun berprogres. Diawal-awal saya cuma biasa menulis cecoretan sederhana yang tak terstruktur bentuknya, lalu di tahun kedua ketiga kuliah saya mulai berlatih tak cuma menuliskan perasaan saja melainkan juga gagasan dan pengalaman, apalagi saat itu saya berkenalan dengan Multiply dan Blogspot.

Setelah fase itulah saya pun memantapkan diri untuk menjadikan tulisan sebagai medium saya bercerita, baik bercerita untuk khalayak maupun bercerita untuk diri sendiri. Sejak itulah saya merasa yakin kalau menulis tentang keseharian itu penting! Alasannya, menulis membuat saya bisa lebih memahami diri sendiri, untuk menulis kita harus tahu apa yang kita alami dan rasakan. Setiap kata yang keluar seolah menjadi tangga untuk saya turun ke dasar diri dan mendalaminya. Kedua, tulisan itu tidak temporer sifat wujudnya, karena itulah menulis adalah dokumentasi. Rekam jejak kehidupan. Dengan menulis keseharian, kita jadi punya mesin waktu, kita bisa kembali merasakan pengalaman masa lalu di masa sekarang dengan hanya membaca tulisan kita di masa lalu itu. Dan setelah dilakukan, saya pun jadi tahu, bahwa menulis ternyata adalah kebutuhan.  

Nah, tentunya, bagi saya, kesadaran dan semangat menulis itu nggak muncul begitu saja, melainkan tersulut dari cerita dari orang-orang yang rajin menulis, dan tulisan kesehariannya begitu menarik serta menginspirasi. Siapa sajakah mereka? Sekiranya, ada tiga yang percikannya cukup besar dalam mempengaruhi saya untuk menulis. Mereka adalaaah…. 

1. Pidi Baiq 

Perkenalan saya dengan Pidi Baiq terbilang unik. Saat itu saya membeli Drunken Monster dengan pertimbangan bahwa dia adalah lulusan FSRD, anggota band The Panas Dalam dan di bagian kata pengantarnya seorang Dosen Filsafat lah yang menulis. Saat itu saya memang sedang butuh bacaan yang… uhuk… filosofis. Kebutuhan itu pun bukan  tak terpenuhi begitu saja ketika ternyata Drunken Monster ternyata berisi kumpulan cerita keseharian Pidi Baiq seorang. Dominasi humor dalam cerita dirinnya yang memang konyol dan seperti selalu punya pikiran yang autentik ternyata banyak  menyelipkan makna yang mendalam dan filosofis. Pidi Baiq membuat saya memikirkan lagi tentang esensi hidup. 

03 Februari 2013

Hari Ke-26: Sulvi





Sebutlah ini cerita yang gagal. Karena pada awalnya, saya ingin bercerita tentang kosan saya dulu di Jatinangor yang menjadi sanctuary. Tempat yang saya anggap paling nyaman, tenteram, damai, dan disanalah saya bisa maksimal menikmati hidup sebagai diri saya sendiri. Tak hanya asik untuk bersendiri ria, pada kosan bertajuk Pondok Melati inilah sebentuk kenyamanan itu juga terwujud pada persahabatan kami, belasan anak cowok yang tinggal bersama di bawah satu atap selama lima tahun, bahkan lebih.  Semenyebalkan apapun kepemerintahan si bapak kos dan antek-anteknya, Pondok Melati tetaplah rumah bagi saya. 

Tapi tapi tapi… saat sedang mengumpulkan memori tentang suasana kosan, penelusuran saya terhenti pada folder foto bernama Sulvi. Buyarlah semua rencana bernostalgia dan mengagung-agungkan romantisme si kosan saya itu sebagai sanctuary. Cerita jadi berputar arahnya, si Sulvi justru jadi tokoh sentral yang akan dikedepankan dalam posting ini. 

Memang siapakah seonggok Sulvi itu? 

30 Januari 2013

Hari ke-25: Mengulang-ulang ulang tahun


Sebelum cerita dimulai, saya mau kasih tahu, kalau kelakuan saya ini memang nggak salah sih kalau disebut iseng, mendekati norak dan sedikit loser banget. Hehehe. Tapi nggak apa-apalah, untuk kenang-kenangan, kisah ini perlu didokumentasikan. Toh sebenarnya, kelakuan saya ini sekaligus dilakukan untuk penelitian. *pembenaran* hahaha.... 

Berulangtahun itu menyenangkan, itulah mengapa pada 2011 lalu, saya sampai berulang tahun dua kali. Kok bisa? Ya bisa, kesenangan ulangtahun itu ternyata nggak cuma bisa dirasakan setahun sekali, melainkan bisa setiap hari, bahkan. Caranya, ya ubah saja tanggal lahir di biodata Facebook. Serta merta, orang kita akan dianggap sedang berulangtahun. Hehehe… 

Awalnya saya memang iseng, saya ingin ngetes apakah sebenarnya teman-teman saya itu tahu persis kapan tanggal lahir saya. Hahaha. Saat itu, saya mengubah tanggal lahir ke tanggal yang nggak jauh dari hari itu. Misalnya saat ini tanggal 29 Oktober, maka saya menset ulangtahun saya di tanggal 31 Oktober. Dan tarra!! apa yang terjadi, Wall di facebook saya penuh dengan ucapan selamat dari teman-teman. Terbukti, nggak banyak yang tahu kalau sebenarnya saya lahir di bulan April. 

28 Januari 2013

Hari ke-24: 69 Terkutuk


Kemacetan memang sudah pasti membosankan dan menyebalkan. Tapi, lalulintas macet hari ini berbeda, sudah mendekati brengsek dan bedebah, setidaknya bagi saya. Saya yang di sudah menghabiskan waktu dua jam di pagi hari, dua jam di malam hari ditambah bonus naik Metromini yang menipu, mereka nggak ‘narik’ sampe tujuan akhir, bahkan belum ada setengah perjalanan, sang kondektur sudah mengumumkan kalau trayek sudah ‘habis’. Saya dan penumpang lain harus turun. 
               Jadi begini ceritanya, saya naik bis Metromini 69 jurusan Blok M – Ciledug dari terminal Blok M. saat di terminal memang saya mendengar kalau si kenek kerap menyebut-sebut Seskoal—daerah yang nggak  kebayoran lama. Seskoal adalah titik yang memang dilewati rute bus ini. Tanpa menghiraukannya saya pun naik, dan duduk manis di belakang supir sambil mendengarkan lagu.

27 Januari 2013

Hari ke-23: Indie yang Tak Selalu Independen


Ada yang menarik dari term indie yang hidup di budaya kita kini, terutama di kalangan anak muda. Setahu saya—dan ternyata dibenarkan oleh penjelasan dari Wikipedia—indie adalah bentuk pendek dari independence atau independent alias kemandirian. Kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan daya sendiri, tanpa atau minim bantuan dari pihak lain. Tapi, nyatanya, sekarang istilah indie itu sudah bergeser pemaknaannya. Indie selalu merujuk kepada gerakan atau kelompok yang seolah mengandung selera seni tersendiri, bergaya eksentrik, dan pastinya tidak mainstream. Padahal, sebenarnya ada istilah yang merangkum semua ketidakbiasaan dan atau resistensi itu, yaitu alternatif.    

Kira-kira, apakah penyebabnya? 
© blogrr
Maira Gall